Advertisement
loading...

Alkisah, pada suatu hari datanglah Utusan Tuhan yang ditugaskan untuk mengambil nyawa seorang lelaki setengah baya, sebut saja Suto. Berkatalah Utusan itu kepadanya :”Kedatangan-Ku atas nama Tuhan untuk mengambil nyawamu, untuk diserahkan kembali kepada-Nya. Bagaimana, apakah engkau sudah siap?” Suto terkejut setelah mengetahui siapa yang datang. Wajahnya pucat pasi. Kemudian dengan terbata-bata, diapun menjawab : “Wahai Utusan yang bijaksana, sebenarnya hamba siap dipanggil kapan saja. Namun tidakkah Paduka bisa melihat keadaan hamba? Anak-anak masih kecil, hidup hamba juga masih serba kekurangan. Apa yang bisa saya tinggalkan kepada mereka? Masih banyak tugas yang belum hamba selesaikan. Kiranya Paduka mengerti keadaan hamba.” “Artinya bahwa sesungguhnya engkau belum siap untuk berangkat sekarang, bukan?” Tanya Sang Utusan. “Begitulah Paduka. Tolong sampaikan kepada Tuhan, hamba siap dipanggil apabila semua tugas sudah hamba laksanakan dengan baik. Dan hamba juga yakin bahwa Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang. Dia pasti tahu apa yang menjadi permohonan hamba-Nya.” Suto coba menawar. “Baiklah kalau begitu. Aku akan coba sampaiakan kepada Tuhan tentang keberatanmu itu. Semoga permohonanmu dikabulkan Tuhan..” “Satu lagi permohonan hamba, tolong sampaikan kepada-Nya ; jika saatnya hamba sudah dekat untuk dipanggil, tolong kirimkan kembali utusan kepada hamba, agar hamba dapat mempersiapkan diri.” Suto kembali mengajukan keberatannya. Waktu terus berjalan. Hari menjadi mingu. Minggu ke bulan. Bulan ke tahun. Tak terasa duapuluh tahun sudah semenjak kedatangan Utusan itu, Sutopun tak pernah ingat lagi apa yang dia alami dan pernah dia janjikan. Hingga pada hari itu Sang Utusan kembali datang. “Aku datang kembali untuk melaksanakan tugas dari Tuhan, yaitu mengembalikanhidupmu kepada-Nya. Bagaimana, apakah engkau sudah benar-benar siap sekarang?” Tanya Sang Utusan, terdengar oleh Suto bagaikan petir di siang hari. Dengan muka merah padam dan gemetaran, Suto berusaha menjawab ;” Maaf Paduka. Bukannya hamba belum siap. Tapi bukankah sebelumnya sudah hamba katakan, supaya jauh-jauh hari memberi tahukan kepada hamba, sehingga hamba benar-benar siap.” Ketahuilah : “ Selagi hamba masih di dunia, Tuhan sudah memberi isyarat kepada para hamba semua bahwa mereka akan dipanggil pulang ke hadirat Tuhan, yaitu akan meninggal dunia(mati). Adapaun isyarat itu bermacam-macam, seperti : kisutnya kulit, ketika masih muda gemuk, semakin tua semakin susut(sakit-sakitan), berkurangnya kekuatan, ketika muda kuat, setelah tua menjadi lemah, kadang-kadang jompo, berkurangnya pendengaran dan penglihatan, pikun, serba kurang, putihnya rambut(beruban), dan sabagainya.” Sasangka Jati, Bab Sangkan Paran hal 131. Itulah sebenarnya UtusanTuhan Yang Lain, yang tidak pernah kauperhatikan. Sang Utusan kembali menjelaskan. Itu semua disebabkan oleh : “Karena keasikanmu akan barang-barang yang kaucintai yang tampak dalam pandangan itu, menyebabkan engkau pisah daripada-Ku.” Sabda Khusus Peringatan 8 alenia 10. “Pada hakikatnya, bukan harta benda atau barang-barang duniamu, seperti kekayaan, kedudukan, kesejahteraan dan sebagainya itu, yang menyebabkan engkau lupa kepada-Ku, melainkan cintamu atau melekatnya hatimu pada barang-barang duniawi itulah yang menjadi aling-aling yang menutupi hal-hal yang benar(haq)” Sabda Khusus Peringatan 1 alenia 11. “Engkau sekalian boleh berupaya mencari harta benda sebanyak-banyaknya, asal jangan sampai membelenggu hatimu dan membuat silau penglihatanmu.” Olah Rasa Di Dalam Rasa, Bab Goda Kasar hal 69 cet 2000. (GEMATI Edisi Februari 2010). OH,…TERNYATA BUKAN KATANYA Belakangan ini organisasi kita tercinta, Pangestu tengah gencar mengadakan konsolidasi berupa pelatihan-pelatihan, baik di pusat maupun daerah. Juga yang masih sangat hangat adalah sarasehan seluruh ketua cabang Pangestu seluruh nusantara yang diadakan di Bali. Tujuan utama dari kegiatan-kegiatan tersebut adalah untuk meningkatkan kwalitas dan kwantitas warga Pangestu, sebagai calon siswa dan siswa Sang Guru Sejati. Adapun materi yang dibahas, biasanya tidak terlepas dari ; bagaimana agar tugas kita meyebarluaskan ajaran Sang Guru Sejati, dapat berhasil, sesuai dengan yang kita harapkan. Banyak persiapan-persiapan lahir, seperti menyiapkan materi, mempelajari buku wajib dan sebagainya. Namun tak kalah penting, adalah persiapan batin sebagai pelaksanaan ajaran Sang Guru Sejati. Yang penulis maksud adalah ; sudahkah kita benar-benar melaksanakan ajaran yang kita pelajari? Secara kasat mata, kita juga akan dapat merasakan penyampaian ajaran yang benar-benar dihayati(karena telat dilaksanakan sebelumnya), dengan penyampaian yang hanya berdasarkan teori(maaf : dibaca lelamisan). Untuk lebih jelasnya, kita perhatikan kalimat berikut ; 1. Ternyata makan cabe dapat membuat perut jadi mulas dan sakit. 2. Katanya makan cabe dapat membuat perut jadi mulas dan sakit. Contoh berikutnya ; 1. Ternyata mewakili tugas Sang Guru Sejati akan dicukupi kebutuhan kita. 2. Katanya mewakili tugas Sang Guru Sejati akan dicukupi kebutuhan kita. Hanya dengan perbedaan di awal kalimat ; ternyata dan katanya , sangat jelas arah masing-masing kalimat. Kalimat nomor 1, menyatakan bahwa sang penyampai kalimat benar-benar telah mengalami atau membuktikan. Adapun kalimat nomor 2, menyatakan bahwa yang bersangkutan bukanlah orang yang mengalaminya sendiri, melainkan baru sampai pada tahap mendengar atau membaca. Dalam penyampaiannyapun berbeda tekanan kalimatnya. Maksud yang ingin penulis sampaikan adalah selain persiapan lahir di atas, persiapan batin juga sangat penting. Artinya bahwa hendaknya kita melaksanakan terlebih dahulu ajaran yang akan kita ajarkan kepada orang lain. Sabda Khusus Peringatan 12 alenia 3 : “Artinya, seseorang memberikan ajaran harus sudah merasakan ajaran yang sudah diajarkannya kepada orang lain”. Seringkali kita mengikuti olah rasa dengan suasana yang tidak kita harapkan. Seperti bosan mendengar pengisinya hanya seperti orang membaca, tanpa ada kata-kata menyentuh yang mampu memotivasi kita untuk melaksanakannya. Kenyataan seperti ini terjadi karena sang pengisi, meskipun warga senior, tetapi sedang tidak disertai pepadang karena belum melaksanakan ajaran yang tengah disampaikan. Kekuatan sugesti itu tidak bisa ia tampilkan. Seorang petani akan berbeda dalam menjelaskan cara bercocok tanam dengan mahasiswa pertanian. Orang akan lebih mudah memahami apa yang disampaikan oleh sang petani, karena telah praktek langsung, dibandingkan mahasiswa jurusan pertanian yang baru sampai pada tahap teori. Dalam Arsip Sarjana Budi Santosa, Pak Mantri juga menjelaskan bahwa ; Sasangka Jati adalah buku praktikum, bukan buku teori. Jadi sebagus apapun ajaran Sang Guru Sejati, jika tidak kita amalkan dan kita sebarluaskan, semua itu hanya akan menjadi kalimat-kalimat indah yang menghiasi buku. Karena itu, marilah kita temukan kesunyataan yang terkandung dalam ajaran, sebagai bekal agar kita mempunyai kekuatan dasar untuk menyebarluaskan ajaran-Nya. Sabda Khusus Peringatan 19 alenia 8 :”Sesungguhnya Aku telah memberi wejangan dan ajaran yang juga sudah diperingati, namun apabila tidak kaurasa-rasakan dan tidak kaubabarkan dalam tindakan(laku), itu berarti engkau tidak ingin menerima atau memetik keadaan yang kau cita-citakan.” Selanjutnya terserah kepada kita semua, apakah kita hanya akan berdiri saja di tepi kolam, atau menyeburkan diri menikmati beningnya air? Apakah kita hanya ingin memandang indahnya ajaran yang adiluhung ini, tanpa berniat ingin membagi/menularkan keindahan ini kepada yang lain? Jika kita ingin menikmati indahnya kolam dan beningnya air. Jika kita ingin membagi pepadang ini kepada yang lain, mari bekali diri kita dengan melaksanakan ajaran agar kita dapat menyaksikan kesunyataan yang dijanjikan Sang Sabda kepada kita semua. Sungguh, ternyata…memang bukan katanya…!! UNTUNG CUMA MIMPI Beberapa waktu lalu, warga Pangestu Samarinda bersama-sama menghadiri olah rasa gabungan Korda Kalimantan, yang bertempat di Cabang Balikpapan. Rombongan itu mencarter sebuah bus dengan muatan kurang lebih 30 orang. Saat dalam perjalanan, terjadi pembicaraan yang lumayan serius dari para warga. Yu Gunem : Oleh-oleh dari Banjarmasin saat olah rasa bulan lalu, Mas Jois(Bp. Basuki Hardjoyo), tentang siapkah kita apabila sewaktu-waktu dipanggil menghadap Tuhan? Mursid : Nah itulah pertanyaan yang tidak boleh dianggap enteng. Pertanyaan itu memang sangatlah akrab di telinga para warga Pangestu, namun untuk menjawabnya tidaklah sesederhana itu. Sebelum menjawab alangkah baiknya, jika kita meneliti bagaimana level penyiswaan kita kepada Sang Guru Sejati, sungguh-sungguh atau hanya lelamisan. Yu Gunem : Tepat sekali Mas Mursid. Seperti dalam Arsip sarjana Budi santosa disebutkan bahwa ; semakin besar usaha kita, maka semakin besar pula hasilnya. (Sulur yang dari tadi asik menikmati pemandangan di kanan kiri jalan Bukit Soeharto, mulai tertarik dan ikut nimbrung dalam pembicaraan itu) Sulur : Saudara-saudara, kematian itu boleh saja merupakan hal yang sangat menakutkan bagi mereka yang belum mengenal ajaran Sang Guru Sejati. Tetapi bagi kita yang sedang belajar menyiswa ini, ketakutan seperti itu sangatlah tidak beralasan. Mengapa? Pertama ; kematian itu pasti datangnya, sebagai Hukum Angger-angger Langgeng. Kedua ; dalam Sabda Khusus Peringatan 16 alenia 14 dijelaskan, supaya kita bersiap-siap untuk mati, mati yang berarti hidup abadi Ketiga ; mati merupakan sarana bagi kita untuk bertemu dengan kekasih kita yang sejati, yaitu Tuhan yang maha tunggal. Yu Gunem : Hebat. Ternyata adik kita yang satu ini, sudah banyak kemajuan. Kita harus bersyukur bahwa Pangestu tetap masih punya pemuda yang bisa diandalkan. Kalu begitu biar saya usulkan kepada pengurus agar mulai belajar mengisi olah rasa . Mursid : Saya juga merasa bersyukur atas kemajuanmu Sulur. Dulu kamu selalu cengengesan, begitu ikut ceramah sama Mbah Tris, kamajuannya lumayan bagus. Oke bulan depan saya jadwalkan mengisi olah rasa pemuda, gimana? Sulur : Insyaallah saya siap, nyuwun pengestunya semua ya…!!! Begitulah suasana olah rasa kecil saat itu menjadi sangat regeng. Apalagi mendengar Sulur yang kadang sering rebut eyel-eyelan dengan Mursid, menambah guyubnya antar warga. Namun pembicaraan itu, makin lama makin sepi dan tak terdengar lagi. Karena perjalanan memakan waktu 3 jam, sebagian warga ada yang tertidur seperti Sulur dan Yu Gunem. Ada yang ngobrol tapi tidak keras, ada juga yang membaca buku wajib atau Dwija Wara. Sampai pada suatu saat, sopir bus rombongan itu tak sempat menghindari lubang jalan yang cukup besar. Gubbbrrraak. Dan terdengar salah seorang penumpang berteriak. “Ampuuuunn Oh alhamdulillah. Untung Cuma mimpi.” (Rupanya Sulur terbangun dari mimpi) Yu Gunem : Ada apa Sulur. Mimpi ya? Sulur : Iya Mbakyu. Ini gara-gara tadi malam nonton film action. Saya mimpi dikejar-kejar orang bersenjata dan ingin membunuhku. Mursid : Lho tadi bukankah baru kamu sampaikan supaya kita jangan yakut mati. Bukannya kematian itu merupakan sarana kita bertemu dengan kekasih kita yang sejati? Ha ha.. Sulur : Ya tadi kalau aku gak keburu kebangun, penjahat yang mengejarku pasti kuhadapi sampai titik darah penghabisan. Satria utama kuwi wedi wirang wani mati… (Sulur dengan muka merah padam mencoba membela diri) Oooh, jadi cuma mimpi to? Kata seluruh penumpang hamper bersamaan… (GEMATI Edisi Februari 2010) ikel HARAPAN ITU MASIH ADA “Saya tidak akan mencalonkan lagi untuk periode yang kedua. Saya sudah tua, waktunya untuk mendekat kepada Tuhan. Dan di Pangestu inilah tempat yang tepat untuk mengarah kesana, karena ajarannya sangat bagus. Jika semua orang menjadi warga Pangestu, insyaallah tak akan ada demo, kita semua hidup rukun, damai dan tidak akan ada perpecahan. Selagi masih menjabat, saya akan mengajak jajaran staf saya agar menjadi warga Pangestu. Untuk itu, saya yang akan mulai duluan mejadi warga Pangestu.” Itulah kata sambutan dari wakil walikota Balikpapan ; DR Heru Bambang, dan disambut riuh tepuk tangan para peserta olah rasa yang hadir. Acara yang diisi oleh pengurus Pangestu Pusat ; Bapak Panggah Susanto, diadakan di aula rumah dinas wakil walikota Balikpapan. Pada saat itu juga diadakan pelantikan sembilan orang warga baru. Selanjutnya wakil walikota juga mempersilakan kepada para wargaPangestu, untuk melaksanakan kegiatan organisasi di aula rumah dinasnya. Ditambahkan juga, jika pagi pihak rumah tangga rumah dinas wakil walikota akan menyediakan camilan makanan ringan, adapun siang dan malam akan disediakan makan nasi. Di hadapan kurang lebih seratus duapuluh orang, Bp Panggah Susanto mengatakan, di tengah kesibukan yang padat, namun dia tetap lebih mengutamakan tugas dari Sang Guru Sejati. Seperti dikutip bahwa sehari sebelum bertugas dari Korea dan Beijing bersama rombongan kepresidenan. Rasa lelah itu terobati saat menyaksikan antusiasme warga Pangestu Korda Kalimantan, dan juga angin segar dari wakil walikota, DR Heru Bambang yang menyatakan mendukung perkembangan Pangestu di Kalimantan berikut kesediaannya untuk menjadi warga Pangestu. Bp. Panggah juga menyampaikan, bahwa keberadaan beliau seperti sekarang ini tidak pernah terlepas dari usaha menyiswa dan mendekat kepada Sang Guru Sejati. Sampai pada jabatan sebagai Dirjend Perindag yang sekarang diembannya, tidak pernah dikejar dan dibayangkan sebelumnya. Semua mengalir seperti air. Inilah yang membuat beliau untuk memposisikan Pangestu adalah yang nomor satu dalam hidupnya, adapun untuk karir tak ada ambisi apapun, semua biarlah diserahkan kepada kebijaksanaan Sang Guru Sejati. Kembali kepada keberhasilan Pangestu Balikpapan, semua ini tidak terlepas dari usaha keras para pengurus dan warganya di bawah kepemimpinan Bp Supardi. Beliau merupakan seorang pengayom yang bertangan dingin dan low profile, dimana dari kalangan pedagang kaki lima, tukang bangunan, tukang becak, sopir angkot sampai pejabat mengenalnya. Dan saat saya tanya beliau tentang tips menyebarkan ajaran Sang Guru Sejati, beliau menyatakan bahwa ; yang harus diubah terlebih dahulu adalah diri kita sendiri. Apakah kita telah melaksanakan ajaran yang akan disampaikan taau hanya lelamisan. Dan satu lagi yang tak kalah penting adalah pahami benar-benar tentang Tripurusa. Satuhu .

Testimoni

Advertisement
Advertisement
  1. Toko Kain Batik Cap Terbaik di Solo
  2. Toko Baju Batik Terbaik di Solo
  3. Aneka Kain Batik dengan Harga Murah
  4. Baju Batik Sarimbit Terbaik
  5. Dapatkan Kain Batik Berkualitas dengan Diskon 25%
  6. Aneka Baju Batik Seragam Kantor
  7. Pembuatan Seragam Batik Berlogo
slideseragambatik
Filed under : blog, tags: