Menu

silahkan mendownload free

Sep
18
2012
by : 1. Posted in : blog

Bab 4
Hasil Budaya Praaksara di Indonesia

Menganalisis berdasarkan tipologi hasil budaya Praaksara Indonesia termasuk yang berada di lingkungan terdekat

Peta Konsep

Kehidupan manusia masa lampau tidak terlepas dari tingkat peradabannya. Tingkat peradaban manusia membawa akibat kehidupannya terpecah menjadi dua babakan yang dikenal dengan istilah zaman pra aksara dan zaman aksara. zaman Praaksara atau prasejarah berarti zaman sebelum ada peninggalan tertulis. Sedangkan zaman aksara atau zaman sejarah adalah suatu zaman di mana bangsa tersebut telah meninggalkan tulisan.
Demikian juga kita bangsa Indonesia yang secara utuh memiliki dua zaman tersebut. Seperti halnya bangsa-bangsa lain di dunia, di Indonesia pun penyelidikan zaman Praaksara atau prasejarah lebih banyak dilakukan dengan menganalisis peninggalan-peninggalannya dengan penuh ketelitian. Pada bab ini kita akan mempelajari hasil-hasil budaya masyarakat Praaksara di Indonesia berdasarkan tipologi. Apa tipologi itu? Tipologi adalah cara penentuan umur benda berdasarkan bentuknya. Makin sederhana bentuknya maka umur benda tersebut diperkirakan makin tua. Apa saja hasil kebudayaan atau peninggalan-peninggalan masyarakat Praaksara di Indonesia berdasarkan tipologi ini? Berikut ini akan dijelaskan secara lengkap.

A. Zaman Batu
Pada zaman Batu Tua, alat-alat budaya yang ditemukan terbuat dari batu yang dibuat dengan sangat kasar serta sederhana. Cara pembuatannya hanya dibentur-benturkan antara batu yang satu dengan lainnya sehingga menyerupai kapak dan dipergunakan sebagai alat. Alat-alat budaya dari zaman Batu ini banyak ditemukan di daerah Pulau Jawa. Berdasarkan tempat penemuannya maka kebudayaan zaman Batu Tua secara garis besar dibagi menjadi dua kebudayaan, yaitu kebudayaan Pacitan dan kebudayaan Ngandong.
1. Zaman Batu Tua (Palaeolithikum)
Disebut zaman batu tua karena alat-alat kebudayaan yang dihasilkan masih sangat kasar. Kebudayaan Paleolitikum di Indonesia ditemukan di daerah Pacitan dan Ngandong, maka sering disebut Kebudayaan Pacitan dan Kebudayaan Ngandong.
a. Kebudayaan Pacitan
Alat-alat kebudayaan Pacitan ditemukan oleh Von Koenigswald pada tahun 1935. Alat-alat tersebut berbentuk kapak, yakni kapak perimbas (chooper), karena tidak memakai tangkai maka disebut kapak genggam. Alat kebudayaan Pacitan diperkirakan dari lapisan Pleistosen Tengah (lapisan Trinil); sedangkan pendukung kebudayaan tersebut ialah Pithecantropus erectus. Kapak genggam selain ditemukan di Pacitan juga ditemukan di Sukabumi dan Ciamis (Jawa Barat), Parigi dan Gombong (Jawa Tengah), Bengkulu dan Lahat (Sumatra Selatan), Awangbangkal (Kalimantan Selatan), Cabenge (Sulawesi Selatan), Flores, dan Timor.
Selain kapak genggam, juga dikenal jenis lain, yakni alat serpih (flake). Alat serpih ini digunakan untuk menguliti binatang buruan, mengiris daging dan memotong ubi-ubian (seperti pisau pada masa sekarang). Alat ini banyak ditemukan di Jawa, Sulawesi Selatan, Sumatra Selatan, dan Timor.
b. Kebudayaan Ngandong
Di sekitar daerah Ngandong dan Sidorejo (dekat Ngawi, Jawa Timur) ditemukan alat-alat dari tulang selain kapak-kapak genggam dari batu. Alat-alat Kebudayaan Ngandong ditemukan oleh Von Koenigswald pada tahun 1941 berupa alat-alat dari tulang (semacam alat penusuk/belati), dan tanduk rusa di Gua Sampung, Ponorogo, Jawa Timur. Kegunaan alat-alat ini untuk menorek ubi dan keladi dari dalam tanah. Selain itu, ada ujung tombak dengan gigi-gigi pada sisinya, yang dipergunakan untuk menangkap ikan. Jenis alat ini ditemukan di lapisan Pleistosen Atas, sedangkan pendukung kebudayaan Ngandong adalah Homo soloensis dan Homo wajakensis.
Di Ngandong juga ditemukan alat-alat kecil yang dinamakan “Flakes”, yang terbuat dari batu indah, seperti kalsedon. Demikian pula di Cabange, Sulawesi Selatan banyak ditemukan flakes.
Dari hasil temuan yang menghasilkan ribuan alat paleolitikum tersebut, dapat diketahui sedikit tentang penggunaannya, demikian pula tentang penghidupannya. Alat-alat itu digunakan untuk berburu, menangkap ikan dan mengumpulkan keladi, ubi, buah-buahan dan lain-lain. Alat-alat tersebut jelas tidak dapat dipergunakan untuk bercocok tanam. Maka kesimpulan kita ialah bahwa penghidupan manusia paleolitikum adalah mengembara dari satu tempat ke tempat lain. Mereka tidak bertempat tinggal menetap, melainkan berpindah-pindah tergantung kepada binatang-binatang buruannya dan hasil-hasil tanah di sekitarnya. Cara penghidupan mengumpulkan makanan sebagaimana terdapatnya di alam dinamakan “food gathering”.

2. Zaman Batu Madya (Mesolitikum)
Pada zaman Batu Madya, alat-alat batu dari zaman Batu Tua masih terus digunakan dan telah mendapat pengaruh dari wilayah Asia daratan. Bahkan, alat-alat tulang dan flake dari zaman Batu Tua memegang peranan penting pada zaman Batu Madya. Manusia pada zaman ini juga telah mampu membuat gerabah yang dibuat dari tanah liat yang dibakar. Salah satu ciri khas zaman Batu Madya adalah ditemukannya kjokkenmoddinger dan abris sous roche. Peninggalan zaman ini, ditemukan di sekitar pantai, tepi sungai, dan danau.
a. Kjokkenmoddinger
Kjokkenmoddinger adalah suatu istilah yang berasal dari bahasa Denmark (kjokken= dapur, modding= sampah), secara harfiah diartikan sampah-sampah dapur. Kjokkenmoddinger banyak ditemukan di daerah tepi pantai. Adanya kjokkenmoddinger menunjukkan telah adanya penduduk pantai yang tinggal dalam rumah-rumah yang bertonggak. Dalam kenyataan Kjokkenmoddinger adalah timbunan atau tumpukan kulit kerang dan siput yang mencapai ketinggian ± 7 meter dan sudah membatu atau menjadi fosil. Kjokkenmoddinger ditemukan di sepanjang pantai timur Sumatra yakni antara Langsa dan Medan. Dari bekas-bekas penemuan tersebut menunjukkan bahwa manusia purba yang hidup pada zaman ini sudah menetap. Tahun 1925 Dr. P.V. Van Stein Callenfels melakukan penelitian di bukit kerang tersebut dan hasilnya banyak menemukan kapak genggam yang ternyata berbeda dengan chopper (kapak genggam Palaeolithikum).
Ditemukannya kjokkenmoddinger menunjukkan manusia praaksara hidupnya tergantung dari hasil-hasil laut, seperti siput dan kerang. cara memakan siput itu dengan dipatahkan ujungnya, kemudian dihisap isi bagian kepalanya. Kulit-kulit siput itu tidak dimakan dan dibuang. Kulit-kulit siput dan kerang yang dibuang itu menumpuk selama ratusan atau ribuan tahun dan menjadi bukit kerang (kjokkenmoddinger).

b. Abris Sous Roche
Abris Sous Roche adalah gua-gua yang dijadikan tempat tinggal manusia purba pada zaman Mesolithikum dan berfungsi sebagai tempat perlindungan dari cuaca dan binatang buas. Penyelidikan pertama pada Abris Sous Roche dilakukan oleh Dr. Van Stein Callenfels tahun 1928-1931 di Gua Lawa dekat Sampung, Ponorogo, Jawa Timur. Alat-alat yang ditemukan pada goa tersebut antara lain alat-alat dari batu seperti ujung panah, flakes, batu pipisan, kapak yang sudah diasah dan berasal dari zaman Mesolithikum, serta alat-alat dari tulang dan tanduk rusa. Di antara alat-alat kehidupan yang ditemukan ternyata yang paling banyak adalah alat dari tulang sehingga oleh para arkeolog disebut sebagai Sampung Bone Culture / kebudayaan tulang dari Sampung. Karena goa di Sampung tidak ditemukan Pebble ataupun kapak pendek yang merupakan inti dari kebudayaan Mesolithikum.
Selain di Sampung, Abris Sous Roche juga ditemukan di daerah Besuki dan Bojonegoro Jawa Timur. Penelitian terhadap gua di Besuki dan Bojonegoro ini dilakukan oleh Van Heekeren. Di Sulawesi Selatan juga banyak ditemukan Abris Sous Roche terutama di daerah Lomoncong yaitu gua Leang Patae yang di dalamnya ditemukan flakes, ujung mata panah yang sisi-sisinya bergerigi dan pebble. Di goa tersebut didiami oleh suku Toala, sehingga oleh tokoh peneliti Fritz Sarasin dan Paul Sarasin, suku Toala yang sampai sekarang masih ada dianggap sebagai keturunan langsung penduduk Sulawesi Selatan zaman prasejarah. Untuk itu kebudayaan Abris Sous Roche di Lomoncong disebut kebudayaan Toala.
Kebudayaan Toala tersebut merupakan kebudayaan Mesolithikum yang berlangsung sekitar tahun 3000 sampai 1000 SM. Selain di Jawa Timur dan Sulawesi Selatan, Abris Sous Roche juga ditemukan di daerah Timor dan Rote. Penelitian terhadap goa tersebut dilakukan oleh Alfred Buhler yang di dalamnya ditemukan flakes dan ujung mata panah yang terbuat dari batu indah.

3. Zaman Batu Muda (Neolithikum)
Kebudayaan Neolitikum adalah kebudayaan batu baru, ciri-cirinya alat-alatnya sudah dibuat dengan baik, diasah (diupam) dan halus. Masa ini merupakan masa bercocok tanam di Indonesia yang bersamaan dengan berkembangnya kemahiran mengasah (mengupam) alat-alat batu serta mulai dikenalnya teknologi pembuatan tembikar. Dengan demikian, masa ini telah membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia, yakni perubahan dari kehidupan food gathering menjadi food producing.
Perkembangan kebudayaan pada zaman Batu Muda sudah sangat maju dibandingkan dengan masa sebelumnya. Hal ini disebabkan adanya migrasi secara bergelombang bangsa Proto Melayu dari wilayah Yunan di Cina Selatan ke wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Para pendatang tersebut membawa kebudayaan kapak persegi dan kapak lonjong serta menyebarkannya ke daerah-daerah yang dituju. Kedua kebudayaan itu akhirnya menjadi ciri khas kebudayaan Neolithikum. Menurut R. Soekmono, kebudayaan Neolithikum menjadi dasar kebudayaan Indonesia sekarang.
Berdasarkan peralatan yang ditemukan maka kebudayaan pada zaman Neolithikum dibedakan atas kebudayaan kapak persegi dan kebudayaan kapak lonjong. Penamaan ini diberikan oleh Heine Gelderen berdasarkan kepada penampang yang berbentuk persegi panjang dan lonjong.
a. Kebudayaan Kapak Persegi
Kebudayaan kapak persegi berasal dari Asia daratan yang menyebar ke Indonesia melalui jalur barat, yaitu Malaka, Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Nusa tenggara.
Kapak persegi kebanyakan terbuat dari batu api yang keras atau kalsedon, bentuknya persegi panjang atau trapesium. Ada berbagai ukuran, yang besar ialah beliung atau cangkul untuk mengerjakan sawah, sedangkan yang kecil ialah tarah untuk mengerjakan kayu. Pemakaiannya tidak lagi digenggam, melainkan telah menggunakan tangkai kayu sehingga memberikan kekuatan yang lebih besar.
Daerah penemuan kapak persegi pada umumnya di Indonesia bagian barat, seperti di Lahat, Palembang, Bogor, Sukabumi, Kerawang, Tasikmalaya, dan Pacitan. Sebab, penyebaran kapak persegi dari daratan Asia ke Indonesia melalui jalur barat (Sumatra–Jawa–Bali–Nusa Tenggara–Sulawesi). Adapun pusat pembuatannya antara lain di Lahat, Palembang, Bogor, Sukabumi, Tasikmalaya, dan Pacitan. Jenis lain dari kapak persegi yang ada di daratan Asia (Jepang, Filipina), tetapi tidak ada di Indonesia ialah kapak pahu.
b. Kebudayaan Kapak Lonjong
Kapak ini disebut kapak lonjong karena garis penampang memperlihatkan sebuah bidang yang berbentuk lonjong. Bentuk kapaknya sendiri bundar telor. Ujungnya yang agak lancip ditempatkan di tangkai dan di ujung lainnya yang bulat diasah hingga tajam. Ukurannya ada yang berukuran besar dan kecil. Ukuran yang besar disebut dengan walzeinbeil dan ukuran kecil disebut kleinbeil. Kebudayaan kapak lonjong disebut pula kebudayaan Neolitihikum Papua karena jenis kapak ini banyak ditemukan di Papua (Irian). Selain di Papua, jenis kapak ini ditemukan pula di daerah lainnya yaitu di Seram, Gorong, Tanimbar, Leti, Minahasa dan Serawak.
Berdasarkan tempat ditemukannya kapak lonjong ini, dapat disimpulkan bahwa penyebaran alat ini dari timur, yaitu dari daratan Asia ke Jepang, Formosa, Filipina, Minahasa terus ke timur.

4. Zaman Batu Besar (Megalitikum)
Zaman Megalitikum bukanlah suatu zaman yang berkembang tersendiri, melainkan suatu hasil budaya yang timbul pada zaman Neolitikum dan berkembang pesat pada zaman logam. Setiap bangunan yang diciptakan oleh masyarakat tentu memiliki fungsi.
Kebudayaan Megalitikum ialah kebudayaan yang terutama menghasilkan bangunan-bangunan monumental yang terbuat dari batu besar. Tujuan pembangunan bangunan-bangunan monumental tersebut adalah sebagai sarana pemujaan terhadap roh nenek moyang. Kebudayaan zaman Batu Besar ini berlangsung dari zaman Batu baru sampai dengan zaman Perunggu. Pada zaman ini manusia sudah mengenal sistem kepercayaan. Pada zaman ini batu-batu tidak dikerjakan secara halus, hanya diratakan secara kasar saja untuk mendapat bentuk yang diperlukan. Adapun bangunan-bangunan batu pada masa Megalitikum yaitu sebagai berikut.
a. Mehir
Menhir adalah batu tunggal (monolith) yang berasal dari periode Neolitikum (6000/4000 SM-2000 SM) yang berdiri tegak di atas tanah. Istilah menhir diambil dari bahasa Keltik dari kata men (batu) dan hir (panjang). Menhir biasanya didirikan secara tunggal atau berkelompok sejajar di atas tanah. Diperkirakan benda prasejarah ini didirikan oleh manusia prasejarah untuk melambangkan phallus, yakni simbol kesuburan untuk bumi. Menhir adalah batu yang serupa dengan dolmen dan cromlech, merupakan batuan dari periode Neolitikum yang umum ditemukan di Perancis, Inggris, Irlandia, Spanyol dan Italia. Batu-batu ini dinamakan juga megalith (batu besar) dikarenakan ukurannya. Mega dalam bahasa Yunani artinya besar dan lith berarti batu. Para arkeolog mempercayai bahwa situs ini digunakan untuk tujuan religius dan memiliki makna simbolis sebagai sarana penyembahan arwah nenek moyang.
b. Dolmen
Dolmen adalah meja batu tempat meletakkan sesaji yang dipersembahkan kepada roh nenek moyang. Di bawah dolmen biasanya sering ditemukan kubur batu. Dolmen yang merupakan tempat pemujaan misalnya ditemukan di Telagamukmin, Sumberjaya, Lampung Barat. Dolmen yang mempunyai panjang 325 cm, lebar 145 cm, tinggi 115 cm ini disangga oleh beberapa batu besar dan kecil. Hasil penggalian tidak menunjukkan adanya sisa-sisa penguburan. Benda-benda yang ditemukan di antaranya adalah manik-manik dan gerabah.

c. Sarkofagus
Sarkofagus atau keranda yang terbuat dari batu. Bentuknya menyerupai lesung dari batu utuh yang diberi tutup. Daerah tempat ditemukannya sarkofagus adalah Bali. Menurut kepercayaan masyarakat Bali Sarkofagus memiliki kekuatan magis atau gaib. Berdasarkan pendapat para ahli bahwa sarkofagus dikenal masyarakat Bali sejak zaman logam. Sarkofagus paling banyak ditemukan di daerah Bali. Sarkofagus seperti juga dolmen adalah sebagai peti mayat dari batu. Di dalamnya ditemukan tulang-tulang manusia bersama dengan bekal kuburnya periuk-periuk, beliung persegi, perhiasan dari perunggu dan besi. Di Bali sarkofagus dianggap sebagai benda keramat. Sarkofagus adalah peti mayat dari batu (batu padas) berbentuk seperti lesung yang tertutup.
Sarkofagus di Bali pada umumnya berukuran kecil (antara 80-140 cm) dan ada pula beberapa yang berukuran besar yaitu lebih dari 2 meter. Berdasarkan penelitiannya yang dilakukan Soejono sejak tahun 1960, dapat dipastikan bahwa sarkofagus di Bali berkembang pada masa manusia sudah mengenal bahan logam, mengingat benda-benda bekal kuburnya yang terdapat di dalamnya kebanyakan dibuat dari perunggu.

d. Peti kubur batu
Peti kubur adalah peti mayat yang terbuat dari batu-batu besar. Kubur batu dibuat dari lempengan atau papan batu yang disusun persegi empat berbentuk peti mayat yang dilengkapi dengan alas dan bidang atasnya juga berasal dari papan batu.
Selain Pagaralam dan Lahat, daerah penemuan peti kubur adalah Cepari Kuningan, Cirebon (Jawa Barat), Wonosari (Yogyakarta), dan Cepu (Jawa Timur). Di dalam kubur batu tersebut juga ditemukan rangka manusia yang sudah rusak, alat-alat perunggu dan besi, serta manik-manik. Dari penjelasan tentang peti kubur, tentu dapat ketahui persamaan antara peti kubur dan sarkofagus, yang keduanya merupakan tempat menyimpan mayat disertai bekal kuburnya.
e. Punden berundak
Punden berundak merupakan contoh struktur tertua buatan manusia yang tersisa di Indonesia, beberapa dari struktur tersebut beranggal lebih dari 2000 tahun yang lalu. Punden berundak bukan merupakan “bangunan” tetapi merupakan pengubahan bentang-lahan atau undak-undakan yang memotong lereng bukit, seperti tangga raksasa. Bahan utamanya tanah, bahan pembantunya batu; menghadap ke anak tangga tegak, lorong melapisi jalan setapak, tangga, dan monolit tegak. fungsi dari punden berundak itu sendiri adalah sebagai tempat pemujaan terhadap roh nenek moyang yang telah meninggal.
Punden Berundak pada zaman megalitik selalu bertingkat tiga yang mempunyai makna tersendiri. Tingkat pertama melambangkan kehidupan saat masih dikandungan ibu, tingkat kedua melambangkan kehidupan didunia dan tingkat ketiga melambangkan kehidupan setelah meninggal. Sebagai budaya asli buatan nenek moyang Indonesia, punden berundak tetap dipertahankan keberadaanya oleh nenek moyang kita. Meskipun saat agama Hindu-Budha datang membawa paham ke-Tuhanan yang berbeda, punden berundak masih tetap digunakan dalam pembangunan tempat ibadah berupa candi seperti Candi Borobudur. Hal inilah yang membuat candi-candi di Indonesia memiliki ciri khas yang unik.
Punden berundak bukan hanya bertahan dengan akulturasi bersama candi tapi juga berakulturisasi dengan bangunan tempat ibadah umat Islam yaitu masjid. Bagian punden berundak pada masjid sering tidak kita sadari karena hanya dianggap sebagai tangga bertingkat. Namun, jika diperhatikan tangga bertingkat yang mengelilingi masjid tersebut berbentuk punden berundak. Dapat dikatakan masjid dibangun diatas punden berundak atau punden berundak sebagai alas dari masjid.
Bangunan punden berundak selain berakulturasi dengan tempat ibadah seperti candi dan masjid juga digunakan pada bangunan modern seperti pada Monumen Nasional (monas) dan Tugu Pergerakan Kemerdekaan. Pada Monas bagian punden berundak (berupa tangga mengelilingi Monas) terletak dibawah cawan. Sedangkan pada Tugu Pergerakan Kemerdekaan, punden berundak terletak pada bagian bawah lingga. Masih banyak lagi bangunan-bangunan yang menggunakan punden berundak selain dari yang disebutkan di atas. Hal ini membuktikan bahwa arsitektur karya nenek moyang Indonesia pada zaman megalitikum masih dapat eksis hingga sekarang tanpa menghilangkan bentuk aslinya.
f. Arca Batu
Arca/patung-patung dari batu yang berbentuk binatang atau manusia. Bentuk binatang yang digambarkan adalah gajah, kerbau, harimau dan moyet. Sedangkan bentuk arca manusia yang ditemukan bersifat dinamis. Maksudnya, wujudnya manusia dengan penampilan yang dinamis seperti arca batu gajah. Arca batu gajah adalah patung besar dengan gambaran seseorang yang sedang menunggang binatang yang diburu. Arca tersebut ditemukan di daerah Pasemah (Sumatera Selatan). Daerah-daerah lain sebagai tempat penemuan arca batu antara lain Lampung, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

g. Waruga
Waruga adalah kubur atau makam leluhur orang Minahasa yang terbuat dari batu dan terdiri dari dua bagian. Bagian atas berbentuk segitiga seperti bubungan rumah dan bagian bawah berbentuk kotak yang bagian tengahnya ada ruang.

Kegiatan Individu
Apakah hasil kebudayaan zaman Megalitikum ini sampai sekarang masih ada yang menggunakannya? Sebut dan jelaskan suku-suku bangsa di Indonesia yang masih melestarikan budaya Megalitikum!

B. Zaman Logam
Pada zaman logam, manusia sudah dapat membuat peralatan dari logam yang ternyata lebih kuat dan mudah dikerjakan daripada batu. Bahan logam harus dilebur dahulu sebelum dipakai sebagai bahan pembuatan peralatan manusia. Oleh karena itu, pada zaman logam, kebudayaan manusia mestinya lebih tinggi daripada zaman batu.
Zaman Logam terbagi atas zaman Tembaga, zaman Perunggu, dan zaman Besi.
1. Zaman Tembaga
Zaman Tembaga merupakan awal manusia mengenal peralatan dari logam. Pada zaman ini, orang menggunakan tembaga sebagai bahan pembuatan alat-alatnya. Bangsa Indonesia tidak mengenal zaman tembaga ini. Bangsa Indonesia langsung memasuki zaman Perunggu dan zaman Besi. Zaman tembaga di wilayah Asia Tenggara berkembang di Kamboja, Vietnam, Thailand, dan Semenanjung Malaka.
2. Zaman Perunggu
Pada zaman ini, orang telah mendapatkan logam campuran yang lebih keras dari tembaga untuk pembuatan alat-alatnya, yaitu perunggu. Logam perunggu merupakan hasil pencampuran tembaga dan timah. Benda-benda yang dihasilkan dari perunggu, antara lain bejana, nekara, kapak corong, perhiasan, dan arca perunggu.
a. Nekara
Nekara adalah semacam berumbung dari perunggu yang berpinggang di bagian tengahnya dan sisi atasnya tertutup, mirip dengan dandang yang ditelungkupkan. Nekara banyak ditemukan di Sumatra, Jawa, Bali, Pulau Sangean dekat Sumbawa, Rote, Leti, Selayar, dan Kepulauan Kei.
Pada umumnya nekara dianggap barang suci. Nekara hanya dipergunakan waktu upacara-upacara saja, sebagaimana dapat dilihat dari hiasan-hiasan yang tertera di dindingnya, seperti garis-garis lurus dan bengkok, pilin-pilin, dan gambar-gambar geometri lainnya. Selain itu, terdapat pula gambar-gambar binatang (burung, gajah, merak, kuda, rusa, dan lain-lain), rumah, perahu, dan pemandangan-pemandangan seperti lukisan orang-orang berburu, orang-orang melakukan tari upacara dengan kepalanya dihiasi daun-daunan serta bulu-bulu burung.
Pada nekara di Sangean ada gambar orang menunggang kuda beserta dengan pengiringnya, keduanya memakai pakaian Tatar. Gambar-gambar orang Tatar itu memberi petunjuk akan adanya hubungan dengan daerah Tiongkok. Bahkan dari penyelidikan dapat diketahui dalam zaman Perunggu memang ada hubungan langsung dari Tiongkok. Pengaruh-pengaruh dari zaman itu sampai kini masih nyata pada seni hias suku bangsa Dayak dan Ngada (Flores).
Nekara dari Selayar dan Kepulauan Kei dihiasi dengan gambar-gambar merak dan harimau, semuanya binatang yang tidak ada di bagian timur Indonesia. Hal ini dapat disimpulkan bahwa nekara-nekara itu dari lain tempat asalnya, ialah bagian barat Indonesia atau Benua Asia. Ini juga menjelaskan bahwa persebaran nekara-nekara di Indonesia dimulai dari barat ke timur.

b. Moko
Moko adalah nekara bentuknya lebih kecil dan ramping. Moko banyak ditemukan di Pulau Alor. Umumnya bentuk moko di Alor tergolong nekara tipe pejeng dengan bentuk dasarnya lonjong seperti gendang berbagai ukuran. Moko berbentuk seperti drum dengan diameter 40 – 60 sentimeter dan tingginya 80 – 100 sentimeter, memiliki 4 telinga yang berfungsi sebagai pegangan. Pola hiasnya beragam tergantung zaman pembuatannya, bila diperhatikan seksama bentuknya mirip dengan benda-benda perunggu di Pulau Jawa pada masa Kerajaan Majapahit.
Banyak suku tradisional di Pulau Alor percaya bahwa Moko berasal dari tanah dan hanya dimiliki para bangsawan karena nilainya sangat tinggi. Moko dahulu ternyata sempat berfungsi sebagai alat tukar ekonomi masyarakat pulau ini, bahkan sempat menyebabkan inflasi pada masa pemerintahan Hindia Belanda dan penguasa pun membuat sistem baru dengan membatasi peredaran Moko di Pulau Alor. Di beberapa suku tradisional di Pulau Alor, moko juga digunakan sebagai gendang untuk mengiringi tarian adat. Biasanya alat musik gong dan moko dimainkan untuk mengiringi tari-tarian tradisional seperti tarian lego-lego.Selain sebagai alat musik tradisional, moko juga berfungsi sebagai peralatan belis atau mas kawin. Dalam tradisi pernikahan masyarakat Alor, moko digunakan sebagai alat pembayaran belis atau mas kawin seorang laki-laki kepada calon istrinya, itu karena moko dipercaya dapat mengikat pernikahan. Hingga kini, adat menjadikan moko sebagai mahar masih terus berlangsung. Suku di Alor yang masih menetapkan mas kawin dengan moko adalah suku Darang (Raja), Tawaka, Kalondama, Kawali, dan Balomasali. Tinggi rendahnya status sosial dinilai oleh banyaknya moko yang disanggupi saat membayar mas kawin. Apabila pihak keluarga pria tidak memiliki Moko maka mereka harus meminjam moko kepada tetua adat. Peminjaman ini pun tidaklah gratis karena pihak keluarga pria harus menggantinya dengan sejumlah uang yang cukup besar. Sulit memisahkan peran moko dan belis dalam kehidupan masyarakat Alor terutama dalam perkawinan. Fungsi moko di Alor hampir mirip dengan gading di Flores Timur.
c. Kapak Corong
Kapak corong adalah kapak yang terbuat dari perunggu yang bagian atasnya berbentuk corong. Kapak corong disebut juga kapak sepatu karena bentuk corongnya dipakai untuk tempat tangkai kayu yang bentuknya meniku seperti bentuk kaki. Kapak corong banyak ditemukan di Sumatra Selatan, Jawa, Bali, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Pulau Selayar, dan daerah sekitar Danau Sentani, Papua.
Jenis kapak corog bermacam-macam. Ada yang kecil dan bersahaja, ada yang besar dan memakai hiasan, ada yang pendek lebar, ada yang bulat, dan ada yang panjang satu sisinya. Kapak corong yang panjang satu sisinya disebut candrasa. Tidak semua kapak tersebut digunakan sebagai perkakas, tetapi ada juga yang digunakan sebagai tanda kebesaran.
d. Patung-Patung Perunggu
Patung perunggu yang ditemukan di Indonesia mempunyai bentuk yang bermacam-macam, seperti bentuk orang atau hewan. Patung yang berbentuk orang antara lain berupa penari yang bergaya dinamis. Patung-patung ini ada yang berpakaian, ada pula yang tanpa pakaian. Pakaiannya berupa cawat, kadang-kadang badannya diberi penutup dada yang berbentuk pilin. Kedua kaki dan tangannya memakai gelang dan lehernya diberi kalung, sedangkan hiasan telingganganya berbentuk pilin. Boneka-boneka ini memiliki lingkaran di atas kepalanya sebagai tempat kaitan untuk menggantungkannya. Bentuk mukanya berbeda-beda, kadang-kadang seperti topeng yang digambarkan dengan bentuk muka lebar, mata besar, serta hidung dan mulut yang besar juga, dan ada juga yang bermuka monyong. Sikapnya berlain-lainan, ada yang bersikap lurus atau melompat dengan tangan ditarik ke belakang, ke samping atau ke depan. Semua gerakan ini seakan-akan menunjukkan babak-babak sebuah tarian.
Beberapa patung di antaranya berupa sepasang penari yang dihubungkan pada sebelah lengan, muka dan telinga, serta lingkaran di atas kepala. Patung-patung tersebut ditemukan di Bangkinang (Riau), dan gayanya memperlihatkan persamaan-persamaan dengan zaman besi awal di Kaukasia.
Sebuah patung yang berbentuk hewan ditemukan di Limbangan (Bogor). Patung yang menggambarkan seekor kerbau ini berukuran panjang 10,9 cm dan tinggi 7,2 cm. Kaki kiri depan dan ujung tanduk kiri telah hilang. Sebuah patung lain yang ditemukan di tempat yang sama menggambarkan seekor kerbau yang sedang berbaring (beristirahat).
Arca-arca perunggu berbentuk manusia dalam keadaan berdiri dengan sikap bertolak pinggang dengan kedua tangan di paha ditemukan di Bogor. Pakaiannya berupa celana yang panjangnya sampai ke lutut, dengan pola hiasan garis yang memanjang; pita (ikat pinggang) yang lebar disilangkan di muka, sedangkan di bagian belakang diikatkan. Lehernya memakai kalung manik-manik yang besar, dan kepalanya memakai destar berpola garis-garis. Telinganya panjang dan tangannya besar-besar. Ada beberapa orang yang digambarkan sedang naik kuda jantan. Keempat kaki kuda berada di atas sebuah landasan persegi empat dengan pipa-pipa kecil di setiap sudut untuk menempatkan roda. Kedua ini mempunyai surai panjang dan kaku (berdiri) serta ekor yang pendek. Telinganya panjang dan tegak, di lehernya digantungkan sebuah lingkaran. Di atas punggung tidak terdapat pelana dan sanggurdi, yang ada hanya alas duduk yang diikatkan pada perut kuda.
Seseorang yang digambarkan duduk di atas punggung kuda hanya menggunakan celana dengan ikat pinggang yang besar. Tangan kanan memegang tombak, sedangkan tangan kirinya memegang sebuah kapak. Patung lain menggambarkan orang yang menggunakan tutup kepala berupa topi yang lebar dengan bagian tengah seperti pagoda. Kaki kiri terulur ke depan, sedangkan kaki kanannya hilang. Juga ada patung manusia yang digambarkan sedang memegang panah, sedangkan busurnya tergantung pada bahu kuda. Arca-arca ini ditemukan di Lumajang (Jawa Timur) dan Palembang (Sumatra Selatan).
Patung perempuan sedang menenun sambil menyusui anaknya, ditemukan di Larantuka, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur.

e. Perhiasan Perunggu
Gelang dan cincin perunggu pada umumnya tanpa hiasan, tetapi ada juga yang dihias dengan pola geometris atau pola bintang. Bentuk-bentuk yang kecil mungkin hanya dipergunakan sebagai alat penukar dan benda pusaka. Gelang yang mempunyai hiasan pada umumnya besar dan tebal. Pola hias pada gelang-gelang ini berupa pola-pola tumpal, garis, tangga, dan duri ikan. Pola hias lain adalah spiral yang disusun membentuk kerucut. Mata cincin yang berbentuk seekor kambing jantan (ibex) ditemukan di Kedu, Jawa Tengah. Bentuknya mirip dengan bentuk hewan dari gaya seni Ordos (Mongolia). Gelang dan cincin perunggu ini ditemukan hampir di semua daerah perkembangan budaya perunggu di Indonesia.
f. Senjata dan Benda-Benda Perunggu Lainnya
Berikut ini beberapa jenis senjata dan benda-benda perunggu lain selain yang disebutkan di atas.
1) Ujung tombak berbentuk daun dengan tajaman pada kedua sisinya, terutama ditemukan di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.
2) Belati ditemukan di Prajekan (Jawa Timur) dan Bajawa (Flores). Belati dari Prajekan bermata besi sedangkan gagangnya dibuat dari perunggu.
3) Mata pancing ditemukan di Gilimanuk (Bali) dan Plawangan (Jawa Tengah).
4) Ikat pinggang berpola geometris berupa lingkaran tangen ditemukan di Prajekan (Jawa Timur).
5) Penutup lengan ditemukan di sekitar Danau Kerinci (Sumatra Barat) dan Tamanbali (Bali).
6) Sejenis benda gantungan (bandul) atau mata kalung berbentuk manusia stilistis dengan ujung-ujung kedua lengan yang cembung di samping bertemu dengan ujung-ujung kaki yang melengkung ke atas. Bandul ini ditemukan di daerah Bogor.
7) Silinder-silinder kecil dari perunggu yang merupakan bagian dari kalung, masing-masing berukuran panjang 2,3 cm dengan garis tengah 1,1 cm. Di tiap ujung silinder terdapat bentuk kepala kuda, burung, atau kijang. Benda-benda ini ditemukan di Malang (Jawa Timur).
8) Kelintingan (bel) kecil dari perunggu berbentuk kerucut dengan celah di sisinya, dan sebuah ala pencabut janggut yang sederhana berbentuk huruf U. Keduanya ditemukan di dalam sarkofagus di Bali.

3. Zaman Besi
Zaman Besi adalah zaman ketika manusia telah dapat melebur bijih-bijih besi menjadi alat-alat yang diperlukan. Teknik peleburan besi lebih sulit dari teknik peleburan tembaga maupun perunggu sebab melebur besi membutuhkan panas yang sangat tinggi, yaitu ±3500°C. Zaman logam di Indonesia di dominasi oleh alat-alat dari perunggu sehingga zaman logam juga disebut zaman perunggu.
Benda-benda yang ditemukan pada masa ini tidak begitu banyak karena mungkin alat-alat tersebut telah berkarat sehingga hancur. Alat-alat tersebut antara lain kapak, sabit, pisau, cangkul, pedang, tongkat, dan tembilang. Daerah ditemukan alat-alat ini adalah Bogor, Wanasari, Ponorogo, dan Besuki. Zaman besi menandakan zaman terakhir dari zaman Praaksara.
Jenis benda besi dapat digolongkan sebagai alat keperluan sehari-hari dan senjata. Sebagian temuan berupa fragmen yang sukar ditentukan macam bendanya dan sebagian lagi memperlihatkan bentuk yang belum jelas fungsinya.
Benda besi yang banyak ditemukan berupa benda-benda berikut ini.
a. Mata kapak atau sejenis beliung yang dikaitkan secara melintang pada tangkai kayu (petel, bahasa Jawa). Alat ini ditemukan dalam kubur peti batu di daerah Gunung Kidul (Yogyakarta) berguna untuk menara batu padas.
b. Alat bermata panjang dan gepeng yang mungkin digunakan untuk merapatkan kain tenunan. Bentuk mata alatnya persegi panjang yang melebar pada sisi ujungnya. Pada pangkal mata terdapat bagian yang runcing untuk dimasukkan dalam tangkai kayu. Benda ini ditemukan dalam kubur peti batu di Gunung Kidul dan Tuban, dalam sebuah kubur gundukan (tumulus) di Ngrambe (Madiun, Jawa Timur), dan di sekitar Punung (Pacitan).
c. Mata pisau dalam berbagai ukuran.
d. Mata sabit yang berbentuk melingkar.
e. Mata tembilang atau tajak.
f. Mata alat penyiang rumput.
g. Mata pedang yang antara lain ditemukan pada rangka dalam peti batu di Kajardua (Gunung Kidul).
h. Mata tombak.
i. Gelang besi, antara lain ditemukan di daerah Banyumas dan Punung.

Untuk membuat peralatan dari logam dibutuhkan teknik khusus. Teknik pembuatan alat yang terbuat dari logam ada dua cara, yaitu sebagai berikut.
1. Teknik bivalve.
Teknik ini dilakukan dengan cara menggunakan cetakan-cetakan batu yang dapat dipergunakan berulang kali. Cetakan terdiri atas dua bagian yang diikat. Ke dalam rongga dalam cetakan dituangkan bijih besi yang sudah cair. Kemudian cetakan itu dibuka setelah logamnya mengering.
2. Teknik a cire perdue.
Proses pencetakan cara ini yaitu dengan membuat model benda dari lilin. Model benda dari lilin ini kemudian ditutup dengan tanah liat sampai tidak terlihat bentuknya. Setelah tertutup seluruhnya dengan menyisakan lubang kecil di ujungnya, tanah liat itu dibakar. Lilin akan mencair dan keluar dari lubang yang telah dibuat. Karena lilin mencair, tanah liat itu berongga. Bentuk rongga itu akan sama persis dengan bentuk lilin yang telah cair. Tanah liat yang berongga kemudian diisi dengan cairan logam melalui lobang kecil. Setelah cairan logam dingin, cetakan tanah liat dipecah. Keluarlah bentuk benda mirip dengan model benda yang terbuat dari lilin tadi.

Kegiatan Kelompok
Di daratan Pulau Alor berdiam beberapa suku tradisional Flores dengan adat-istiadat yang tidak banyak berubah sejak zaman batu. Bahkan, moko yang ada di Pulau Alor sampai sekarang masih digunakan. Carilah informasi tentang adat istiadat dan penggunaan moko di suku-suku tradisional Flores tersebut!

UJI KOMPETENSI
A. Silanglah salah satu jawaban yang benar!
1. Bangunan batu yang berupa tiang atau tugu batu tunggal yang didirikan untuk menghormati roh nenek moyang disebut ….
a. menhir
b. punden berundak
c. kubur batu
d. dolmen
e. sarkofagus
2. Hasil kebudayaan perunggu yang digunakan untuk alat bunyi-bunyian atau memanggil hujan adalah ….
a. moko
b. peble
c. nekara
d. candrasa
e. bejana perunggu
3. Kebudayaan sampah kerang yang ditemukan di pesisir pantai disebut….
a. Abris sous roche
b. Kjokken Moddinger
c. Rock Shelter
d. Hands Courte
e. Primus interpares
4. Alat kehidupan yang masih kasar buatannya dan digunakan pada zaman batu tua dan batu madya adalah….
a. kapak persegi
b. kapak lonjong
c. kapak genggam
d. kapak corong
e. kapak perunggu
5. Bangunan yang merupakan cikal bakal dibuatnya candi adalah….
a. menhir
b. dolmen
c. nekara
d. sarkofagus
e. punden berundak
6. Pada zaman logam, manusia sudah mampu mengolah dan melebur logam. Kepandaian ini diperoleh setelah adanya pendatang baru, yaitu…
a. Kaukasoid
b. Papua-Melanesia
c. Weddoid
d. Proto melayu
e. Deutro Melayu
7. Pebble culture banyak ditemukan di …. .
a. Sumatra Timur
b. Toala
c. Pacitan
d. Timor
e. Ponorogo
8. Perkembangan zaman Prasejarah berdasarkan perkembangan kebudayaan terdiri atas ….
a. zaman Logam dan zaman Perunggu
b. zaman Batu dan zaman Logam
c. zaman Batu dan zaman Besi
d. zaman Batu dan zaman Perunggu
e. zaman Batu dan zaman Tembaga
9. Di bawah ini adalah nama alat-alat hasil peninggalan zaman Megalithikum, kecuali….
a. menhir
b. dolmen
c. sarkofagus
d. punden berundak
e. moko
10. Di Indonesia zaman Logam lebih dikenal sebagai zaman Perunggu sebab ….
a. barang dari perunggu lebih murah
b. barang dari perunggu lebih indah
c. barang dari perunggu yang banyak ditemukan
d. barang dari perunggu lebih laris
e. barang dari perunggu yang banyak digunakan untuk upacara adat
11. Perubahan pola mendapatkan makanan secara drastis dari food gathering ke food producing terjadi pada ….
a. zaman Paleolitikum
b. zaman Mesolitikum
c. zaman Megalitikum
d. zaman Neolitikum
e. zaman Perunggu
12. Pada zaman Mesolitikum manusia sudah mampu membuat wadah dari tanah liat yang dibakar, yang disebut ….
a. candrasa
b. gerabah
c. moko
d. nekara
e. pebble
13. Teknik pembuatan alat-alat dari logam yang disebut a cire perdue adalah teknik pembuatan logam menggunakan bahan ….
a. alat celup
b. cetakan lilin
c. cetakan bakar
d. bahan setangkap
e. tanah liat
14. Salah satu hasil budaya Megalitikum ialah sarkofagus, yakni suatu alat untuk ….
a. menumbuk padi-padian
b. menutup rumah gua
c. pemujaan arwah nenek moyang
d. meletakkan mayat
e. perhiasan rumah
15. Bangunan batu yang berupa meja batu yang berkakikan menhir yang berfungsi sebagai tempat sesaji atau pemujaan kepada roh nenek moyang disebut ….
a. punden berundak-undak
b. sarkofagus
c. dolmen
d. menhir
e. arca
16. Mata panah, mata pisau, tombak, gelang-gelang besi merupakan alat peninggalan pada zaman ….
a. Paleolitikum
b. Mesolitikum
c. Neolitikum
d. Megalitikum
e. Logam
17. Termasuk alat-alat dari kebudayaan logam adalah ….
a. chopper
b. dolmen
c. nekara
d. kapak lonjong
e. menhir
18. Pada zaman Perunggu Indonesia, ditemukan alat yang bernama candrasa yaitu ….
a. kapak sepatu
b. kapak persegi
c. kapak lonjong
d. kapak kecil
e. kapak corong
19. Hasil kebudayaan pada zaman Neolitikum yang berupa alat dari batu adalah ….
a. moko dan dolmen
b. kapak persegi dan kapak lonjong
c. nekara dan candrasa
d. kapak pendek dan chopper
e. menhir dan sarkofagus
20. Berikut ini adalah peninggalan-peninggalan kebudayaan pada masa lampau:
(1) Menhir, suatu bentuk tugu batu tempat memuja dan mendatangkan roh nenek moyang
(2) Dolmen, sebuah meja batu tempat sesaji
(3) Keranda, peti jenazah terbuat dari batu
(4) Kubur batu
(5) Punden berundak-undak, bangunan suci tempat pemujaan yang terbuat dari batu dan bertingkat-tingkat
Hasil-hasil terpenting kebudayaan ini merupakan peninggalan pada ….
a. zaman Paleolitikum
b. zaman Mesolitikum
c. zaman Neolitikum
d. zaman Perunggu
e. zaman Megalithikum
21. Abris Sous Rouche adalah ….
a. sampah-sampah dapur yang terdiri dari kulit kerang
b. gua-gua tempat tinggal manusia purba Zaman Mesolitikum
c. sisa-sisa makanan yang terdiri dari tylang belulang ikan
d. ceruk batu karang sebagai tempat tinggal pada Zaman Paleolitikum
e. Gua tempat tinggal zaman Mesolitikum berupa ceruk-ceruk batu karang
22. Perhatikan nama-nama daerah di bawah ini!
(1) Sampung
(2) Lamoncong
(3) Pacitan
(4) Besuki
(5) Bondowoso
Dari nama-nama daerah tersebut di atas, yang merupakan daerah tempat ditemukannya Abris Sous Roche adalah ….
a. 1, 2, 3
b. 1, 2, 4
c. 1, 2, 5
d. 2, 3, 4
e. 3, 4, 5
23. Nekara terbesar terdapat di daerah ….
a. Langsa, Aceh
b. Melolo, Sumba
c. Kuningan, Jakarta
d. Bondowoso, Jawa Timur
e. Pejeng, Bali
24. Kebudayaan Indonesia pada masa perunggu dipengaruhi oleh kebudayaan ….
a. India
b. Mesir
c. Dongson
d. Bascon-Hoabinh
e. Yunani
25. Di daerah Ngandong ditemukan alat-alat yang terbuat dari tulang atau tanduk rusa yang dipergunakan untuk ….
a. membuat lubang hidung
b. alat pemukul binatang buas
c. pemotong daging hasil buruan
d. sebagai penggaruk bagian tubuh
e. pengorek tanah untuk mencari tumbuh-tumbuhan

B. Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan benar!
1. Mengapa disebut zaman Batu?
Disebut zaman Batu karena peralatan hidup yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari yang ditemukan berasal dari batu.
2. Mengapa disebut zaman Logam dan apakah saat itu pemakaian peralatan dari batu juga telah hilang?
Tidak, hanya karena dominasi peralatan yang digunakan pada saat itu telah terbuat dari logam sehingga disebut zaman logam. Bahkan, peralatan dari batu sampai sekarang masih ada yang tetap lestari digunakan.
3. Pada zaman Neolitikum terjadi revolusi besar dalam kehidupan manusia, terutama dalam hal cara manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Jelaskan pernyataan tersebut!
Pada zaman Neolitikum dikatakan terjadi revolusi besar dalam kehidupan manusia terutama dalam hal cara memenuhi kebutuhan hidupnya. Pada zaman ini manusia mengalami perubahan pesat cara hidup untuk memenuhi kebutuhannya dari cara food gathering menjadi food producing, yaitu dengan cara bercocok tanam dan memelihara ternak.
4. Sebutkan ciri-ciri kehidupan zaman Batu Baru atau Neolitikum!
Ciri-ciri kehidupan zaman Batu Baru, antara lain sudah hidup menetap, makanan sudah dihasilkan sendiri dan telah diolah (food producing), hidup dari hasil bercocok tanam. Adapun peralatan hidupnya berupa kapak lonjong dan kapak persegi.
5. Bagaimana penjelasan teknik pengecoran dengan dengan cara cire a perdue?
Benda yang dicetak dibuat dari lilin atau sejenisnya, kemudian dibungkus dengan tanah liat yang diberi lubang. Selanjutnya, dibakar sehingga lilin meleleh. Rongga bekas lilin tersebut diisi dengan cairan perunggu, sesudah dingin perunggu membeku, tanah liat dibuang sehingga jadilah barang yang dicetak.

Pengayaan
Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan benar!
1. Sebutkan peninggalan-peninggalan kebudayaan pada zaman Megalitikum!
Menhir, waruga, dolmen, kubur batu, punden berundak, kubur batu (Jawaban siswa)
2. Zaman Paleolitikum adalah zaman di mana peralatan manusia purba dibuat dari batu yang masih kasar. Jelaskan ciri-ciri kehidupan manusia purba zaman Paleolitikum!
Ciri-ciri kehidupan manusia purba zaman Paleolitikum adalah hidup berkelompok dan berpindah-pindah (nomaden) serta mengandalkan makanan dari alam dengan cara mengumpulkan (food gathering) serta berburu binatang.
3. Sebutkan hasil kebudayaan Pacitan!
Hasil kebudayaan Pacitan berupa kapak genggam, kapak perimbas, kapak penetak, pahat genggam, dan flake (alat serpih).
4. Jelaskan teknik bivalve dalam mencetak logam!
Teknik bivalve, yaitu cetakan yang terdiri dari dua bagian, kemudian diikat dan ke dalam rongga dalam cetakan itu dituangkan perunggu cair. Cetakan tersebut kemudian dilepas dan jadilah barang yang dicetak.
5. Pada zaman mesolithikum terdapat kebudayaan kjokkenmoddinger dan kebudayaan abris sous roche. Coba kalian analisis kedua kebudayaan tersebut, dan uraikan corak kehidupan pada masa itu!
a. Corak kehidupan pada masa kebudayaan Kjokkenmoddinger adalah hidup menetap di pantai, mencari makanan dengan mengumpulkan ikan dan kerang, sudah mengenal sistem kepercayaan.
b. Corak kehidupan pada masa kebudayaan abris sous roche adalah hidup menetap sementara di gua-gua, mencari makanan dengan berburu mengumpulkan hasil hutan, dan sudah mengenal kesenian.
6. Zaman Paleolitikum adalah zaman di mana peralatan manusia purba dibuat dari batu yang masih kasar. Jelaskan ciri-ciri kehidupan manusia purba zaman Paleolitikum!
Ciri-ciri kehidupan manusia purba zaman Paleolitikum adalah hidup berkelompok dan berpindah-pindah (nomaden) serta mengandalkan makanan dari alam dengan cara mengumpulkan (food gathering) serta berburu binatang.
7. Sebutkan hasil kebudayaan Pacitan!
Hasil kebudayaan Pacitan berupa kapak genggam, kapak perimbas, kapak penetak, pahat genggam, dan flake (alat serpih).
8. Sebutkan peralatan pada zaman Neolitikum!
Kapak persegi dan kapak lonjong.
9. Sebutkan hasil akulturasi punden berundak dengan bangunan lain!
Akulturasi punden berundak antara lain dapat dilihat pada masjid, monumen nasional, candi, Tugu Pergerakan Kemerdekaan.
10. Sebutkan benda-benda dari besi yang ditemukan pada zaman Besi!
a. Mata kapak atau sejenis beliung yang dikaitkan secara melintang pada tangkai kayu (petel, bahasa Jawa).
b. Alat bermata panjang dan gepeng yang mungkin digunakan untuk merapatkan kain tenunan.
c. Mata pisau dalam berbagai ukuran.
d. Mata sabit yang berbentuk melingkar.
e. Mata tembilang atau tajak.
f. Mata alat penyiang rumput.
g. Mata pedang yang antara lain ditemukan pada rangka dalam peti batu di Kajardua (Gunung Kidul).
h. Mata tombak.
i. Gelang besi, antara lain ditemukan di daerah Banyumas dan Punung.

Pengayaan
Zaman Logam terbagi menjadi tiga yaitu zaman Tembaga, zaman Perunggu, dan zaman Besi. Indonesia tidak pernah mengalami zaman Tembaga dan langsung mengalami zaman Perunggu. Jelaskan menurut pendapat Anda, mengapa Indonesia tidak mengalami zaman Tembaga? Negara mana saja yang mengalami zaman Tembaga? Sebut dan jelaskan!

Pendidikan Anti Korupsi
Korupsi merupakan tindakan yang tercela. Tindakan yang berbau korupsi banyak terjadi di sekitar kita, seperti membayar pungutan yang tidak jelas ketika kita mengurus surat-surat (SIM, KTP, KK), menyogok agar bisa lulus PNS, curang terhadap timbangan, dan membolos sekolah. Tindakan-tindakan ini tentu saja sangat merugikan diri sendiri dan orang lain. Untuk itu, sikap jujur dan amanah harus kita pegang erat-erat agar kita tidak terjerumus dalam tindakan korupsi.

Kepribadian Anak Bangsa
Tuhan menganugerahi kemampuan berpikir dan memberikan perasaan nalar pada setiap manusia. Dengan kemampuan tersebut, manusia bisa membuat alat-alat kebudayaan yang berguna di masanya. Mereka dengan tekun membuat alat-alat sederhana dari benda-benda di sekitarnya. Kreativitas pun muncul untuk memenuhi kebutuhan mereka.

A cire perdue : suatu teknik percetakan dengan membuat cetakan model benda dari lilin
Abris Sous Rosche : tempat yang berupa gua-gua yang menyerupai ceruk-ceruk di dalam batu karang yang cukup untuk memberikan perlindungan dari hujan dan panas.
budaya Ngandong : alat-alat yang terbuat dari tanduk, tulang, dan dari ikan yang banyak ditemukan di daerah Ngandong
budaya Pacitan : alat-alat dari batu dari zaman prasejarah yang banyak ditemukan di daerah Pacitan, Jawa Timur
kjokenmodinger : Sampah dapur berupa tumpukan kulit kerang.

artikel lainnya silahkan mendownload free

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
Saturday 13 December 2014 | blog

  MODUL PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SUB BIDANG METODOLOGI PELATIHAN KERJA       MEMVALIDASI PROGRAM PELATIHAN…

Tuesday 16 June 2015 | blog

Lampiran 2   Kegiatan di Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan PTK Yogyakarta Kegiatan Melukis     Melukis…

Wednesday 13 August 2014 | blog

SASARAN KERJA PEGAWAI NO I. PEJABAT PENILAI NO II. PEGAWAI NEGERI SIPIL YANG DINILAI 1 Nama…

Saturday 17 January 2015 | blog

LAPORAN JUMLAH PESERTA PKH, Pada hari ini Sabtu tanggal dua puluh dua Desember Tahun Dua Ribu…