Menu
Pasang iklan SEO disini Murah, 300.000/6 Bulan dan dapatkan Trafik setiap harinya

REVISI PERUBAHAN

Oct
15
2015
by : Bupeko. Posted in : blog

8 November 2004

Kepada :

PT. AKSARA SOLOPOS

JL. Adi Sucipto

Surakarta

————

Up. Yth. Ibu Muryanti Seyandari

Hal : Revisi Jadwal iklan Pulau

Dengan hormat,

Berikut ini kami sampaikan perubahan jadwal tayang iklan PT. INDOSOLO MOTOR GEMILANG

Ukuran : 3 kolom x 100mm

Jenis iklan : Pulau / kreatif

Jadwal Tayang : 9,22,27,29 November 2004

4,6,11,13,18,20,27 Desember 2004

Demikian kami sampaikan, atas perhatian dan kerjasamanya kami ucapkan terima kasih.

Hormat kami,

PT. TECMA MITRATAMA ADVERTINDO

Sonny Sumantri, SH

Media Manager

PENGUMUMAN

DIBERITAHUKAN KEPADA

SELURUH ANGGOTA KOPERASI MAHASISWA UNS

BAHWA PEMBAYARAN SIMPANAN WAJIB DILAKUKAN

SETAHUN DUA KALI (PER SEMESTER) SEBESAR Rp 6.000,-

BAGI ANGGOTA YANG TIDAK MEMBAYAR SIMPANAN WAJIB SELAMA 2 KALI BERTURUT TURUT

DIANGGAP MENGUNDURKAN DIRI

(Terkena RASIONALISASI)

Surakarta, 15 Juli 2006

Ketua Umum KOPMA UNS

Sugimin

BI0000783

AKTIVITAS MENONTON NEWS DOT COM TERHADAP KESADARAN POLITIK MAHASISWA

(Studi Korelasi Tentang Aktivitas Menonton Acara News Dot Com Di Metro TV Terhadap Kesadaran Politik Mahasiswa Jurusan Komunikasi FISIP UNS)

SKRIPSI

Disusun untuk memenuhi persyaratan memperoleh gelar Sarjana Sosial

pada Jurusan Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik

Universitas Sebelas Maret

Oleh :

JALU RAHADI

NIM. D 1205545

JURUSAN KOMUNIKASI NON REGULER

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2007

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Media menjadi alat komunikasi yang sangat efektif untuk mengontrol jalannya roda pemerintahan dengan pelbagai permasalahannya. Selain itu media mampu memberikan pengaruh yang sangat signifikan terhadap nilai-nilai yang berlaku dimasyarakat.

Media telah menjadi sumber dominan bukan saja bagi individu untuk memperoleh gambaran dan citra ralitas sosial, tetapi juga bagi masyarakat dan kelompok secara kolektif; media menyuguhkan nilai-nilai dan penilaian normatif yang dibaurkan dengan berita dan hiburan.1

Program media massa dalam pembuatannya tergantung pada hal yang bersifat situasional, serta mengikuti kecenderungan prilaku manusia. Latar belakang kebudayaan, kepercayaan, sejarah sampai sisi-sisi kemanusiaan.

Komunikasi tidak dapat melepaskan diri dari kehidupan masyarakat (Bangsa) secara keseluruhan, maka komunikasi massa pun amat dipengaruhi oleh kebudayaan dan peristiwa sejarah.

Termasuk hal-hal yang yang berkaitan dengan perpolitikan. Dalam kehidupan bernegara politik tidak akan bisa lepas dari ikatan individual maupun kelompok. Politik dalam sebuah media selalu menjadi tema hangat setiap hari dan dekat dengan kehidupan masyarakat.

Peristiwa politik, keputusan politik, evaluasi kinerja politik maupun peristiwa besar yang menyangkut kehidupan pemerintahan adalah sesuatu yang penting. Karena menyakut kehidupan rakyat banyak, untuk itu diperlukan proses dan hasil yang baik dalam aktifitasnya. Dengan pertimbangan tersebut maka perlu adanya sebuah kritik. Kritik politik akan menjadikan politik berjalan dinamis menuju kearah pemerintahan yang lebih sehat.

Kegiatan kepemerintahan dan kenegaraan yang sehat tidak bisa lepas dari peran para pemuda terutama mahasiswa. Mahasiswa telah bertindak sebagai pionir perubahan dan generasi penerus bangsa sejak masa sebelum pra kemerdekaan sampai saat ini.

Bukti-bukti telah menunjukkan bahwa perubahan yang terjadi sejak 1908 dengan Organisasi Budi Oetomo kemudian Sumpah Pemuda tahun 1928 yang dipelopori oleh mahasiswa mampu mengukir sejarah perjuangan bangsa. Hingga peristiwa hacurnya masa Rezim Orde Baru 32 tahun pemerintahan Presiden Suharto pada Mei 1998. Dan sekarang di era reformasi permaslahan bangsa juga masih banyak dan menunggu untuk segera diselesaiakan

Banyaknya permasalahan yang melanda bangsa saat ini seharusnya mampu mengobarkan semangat para mahasiswa untuk secara pro aktif memberikan kontribusi yang riil bagi bangsa. Tidak sekedar berprestasi dibangku kuliah saja namun mampu menjadi motor perubahan dimasyarakat, tidak sekedar berdemo dan menuntut keadilan, pemberantasan korupsi, kolusi dan nepotisme namun memulai untuk tidak membudayakan hal tersebut dari lingkungan yang paling kecil, tidak sekedar penampilan luar yang bagus namun pengetahuan dan sikap tanggap akan permasalahan yang mestinya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari mahasiswa.

Bagi mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP UNS media televisi bukan benda asing lagi. Dunia komunikasi dalam televisi menjadi pelengkap teori-teori yang telah didapatkan dibangku kuliah. Bentuk-bentuk komunikasi bertema politik akan semakin memperkaya wawasan dan menumbuhkan kesadaran.

Tumbuhnya kesadaran diawali dengan adanya stimulus maka kaitannya dengan komunikasi politik, acara diskusi politik dalam media televisi bisa menjadi salah satu stimulus bagi tumbuhnya kesadaran politik tersebut. Menurut teori stimulus-Response (S-R) proses tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:2

Diskusi politik ditelevisi sebagai bentuk kritik politik dan pembelajaran politik yang dikemas dengan format penuh guyonan dan lawakan menjadikan politik sebuah tema yang menarik dan tidak membosankan. Selain sebagai sarana pendidikan politik juga sebagai sarana hiburan. Menurut Ronald E.Rice dan Charles K.Atkin Proses pengkomunikasian tema-tema politik tersebut menggunakan pendekatan Education–Entertaintment atau dikenal eduentertainment.

Education – entertaintment or sometemes called eduentertaintmen, conciusly mixes theories of social modeling (providing role model for behavior and attitudes), parasocial interaction (getting the audience personally involved in the characters and content), and exepectancy value (combining perceived social norms with beliefs about the source’s normative expectations concering those norms) with commercial entertainment values, media personalities and, and wide-scale distributuion.3

Education – entertaintment atau seringkali disingkat eduentertaintmen adalah Teori model social yang sengaja dibaurkan ( prilaku dan sikap), interaksi sosial (isi dan karakter kepribadian penonton yang ruwet) dan nilai harapan (kombinasi norma sosial dengan kepercayaan tentang sumber normatif norma tersebut) Dengan nilai hiburan komersial, kepribadian media, dan dengan skala distribusi yang luas.

Melalui hiburan atau infotainment pesan-pesan komunikasi politik yang disampaikan oleh media akan lebih mengena hal tersebut disebabkan media mampu menyedot perhatian banyak penonton dari berbagai kalangan dengan berbagai latar belakang yang berbeda tentang nilai-nilai norma dan kepercayaan yang berlaku didalalam masyarakat.

Acara News Dot Com yang ditayangkan di stasiun Metro TV merupakan acara di TV yang menyajikan bentuk diskusi politik dalam format parodi. Pesan-pesan politik yang disampaikan disajikan dengan cara unik namun tetap dengan tujuan yang jelas.

Inti parodi politik dalam buku-buku teks komunikasi politik ada dua hal. Satu, jabatan publik tidaklah sakral. Ia merupakan amanah yang dibangun dari kontrak sosial, dan sangat fungsional! Dua, setiap janji atau mimpi yang dijual dalam kampanye, harus kita catat dan mesti ditagih setiap hari.

Maka tidak sekedar kelucuan dan banyolan yang ditonjolkan dalam acara News Dot Com ini namun di sinilah peran parodi politik sebagai sendi demokrasi dalam konteks kebebasan berekspresi, mencatat dan menagih janji (mengutip data & fakta) serta menjadi indikator popularitas dan keyakinan pejabat di mata rakyat.4

B. Rumusan Masalah

Dalam penelitian ini dapat dirumuskan suatu permasalahan sebagai berikut:

Adakah hubungan antara aktifitas menonton acara NEWS DOT COM di Metro TV terhadap kesadaran politik dikalangan mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi FISIP UNS?

C. Batasan Masalah

Untuk mempermudah pembahasan maka penelitian ini memiliki batasan masalah sebagai berikut :

1. Acara yang diteliti adalah NEWS DOT COM yang ditayangkan di Metro TV.

2. Mahasiswa yang diteliti adalah mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi FISIP UNS.

D. Tujuan Penelitian

Dari rumusan masalah tersebut, maka penelitian ini memiliki tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara aktifitas menonton acara televisi NEWS DOT COM di Metro TV terhadap kesadaran politik dikalangan mahasiswa jurusan Komunikasi FISIP UNS.

E. Manfaat penelitian

1. Manfaat teoritis

a. Mengetahui peran media dalam menyampaikan pesan-pesan yang menumbuhkan kesadaran politik.

b. Mengetahui perbedaan respon khalayak dari pengemasan acara dengan cara berbeda.

2. Manfaat praktis

a. Mengetahui pengaruh Acara NEWS DOT COM terhadap kesadaran politik mahasiswa.

b. Mengetahui tingkat antusiasme mahasiswa terhadap acara yang bermuatan politik dan hiburan.

F. Hipotesis

Ada hubungan yang lemah antara aktifitas menonton News Dot Com di Metro TV dengan kesadaran politik mahasiswa FISIP UNS.

G. TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI

Komunikasi adalah hubungan dan interaksi yang terjadi antara dua orang pihak atau lebih. Interaksi itu terjadi karena sesorang menyampaikan pesan-pesan dalam bentuk lambang-lambang tertentu yang diterima oleh pihak lain yang menjadi sasarannya, sehingga sedikit banyak mempengaruhi sikap dan perilaku pihak dimaksud.

Komunikasi adalah proses interaksi sosial yang digunakan orang untuk menyusun makna yang merupakan citra mereka mengenai dunia (yang berdasarkan itu mereka bertindak) dan untuk bertukar citra itu melalui simbol-simbol.5

Sedangkan proses itu sendiri adalah arus perubahan, dan ketidaktepatan dalam hubungan kegiatan terhadap satu sama lain. Sebagai proses, maka komunikasi tidak memiliki titik bertolak, tiada hentinya. Ia meliputi interpretasi sosial, pertukaran sosial, dan politik.

Komunikasi politik yaitu kegiatan komunikasi yang dianggap komunikasi politik berdasarkan konsekuensi-konsekuensinya (aktual maupun potensial) yang mengatur perbuatan manusia didalam kondisi konflik.

Selain itu komunikasi politik dapat diartikan sebagai sebuah proses komunikasi yang melibatkan pesan-pesan politik dan aktor-aktor politik dalam setiap kegiatan kemasyarakatan.

Unsur komunikasi politik ada lima yaitu satu aktor atau partisipan, kedua lambang-lambang pesan, ketiga saluran, empat efek dan kelima sistem politik didalam mana komunikasi politik berlangsung.

Senada dengan yang diungkapkan oleh Harold Laswel, untuk melukiskan suatu tindakan komunikasi maka perlu menjawab lima pertanyaan berikut, yaitu:6

1. Siapa

2. Mengatakan apa

3. Dengan saluran apa

4. Kepada siapa

5. Dengan akibat apa.

Pembicaraan soal politik merupakan bagian dari komunikasi politik. Tentang siapa aktor politiknya, dia mengatakan apa, dengan saluran apa, kepada siapa pendapatnya, serta bagaimana nanti dampaknya bagi sistem politik yang ada. Tindakan pembicaraan tersebut disebut dengan beropini atau berpendapat.

Opini adalah tindakan mengungkapkan apa yang dipercayai, dinilai, dan diharapkan seseorang dari obyek-obyek dan situasi tertentu.7 Tindakan itu bisa merupakan pemberian suara, pernyataan verbal, dokumentasi tertulis, atau bahkan diam. Atau mengungkapkan mana pada hal yang bersangkutan.

Proses opini adalah hubungan atau kaitan antara (1) kepercayaan, nilai, dan usul yang dikemukakan oleh perseorangan didepan umum. Dan (2) kebijakan yang dibuat oleh pejabat terpilih dalam mengatur perbuatan sosial dalam dalam situasi konflik, yakni dalam politik.

Dalam prosesnya ada tiga tahapan:

Pertama kontruksi personal, yaitu tahap dimana individu mengamati segala sesuatu, mengintrepetasikannya, dan menyusun makna obyek-obyek politik secara sendiri-sendiri dan subyektif.

Kedua konstruksi sosial, yaitu tahap menyatakan opini pribadi didepan umum. Ada tiga bentuk satu pemberian dan penerimaan opini pribadi dalam kelompok sosial yang menghasilkan opini kelompok. Dua jika orang mengungkapkan pandangannya bukan melalui kelompok organisasi melainkan melalui kebebasan pribadi yang relatif didalam tempat pemberian suara, surat kepada anggota kongres, tanggapan opini pembuat poll, dsb. Maka pilihan yang dibuat dalam keadaan tersendiri dan terpisah satu sama lain ini membentuk opini rakyat.

Ketiga rakyat/ opini masa pada umumnya merupakan ungkapan pandangan yang baur dan tak terorganisasi, yang sering disimbolikkan sebagai budaya, konsensus, dan apa yang oleh para politikus dengan fasih disebut ” opini publik”

Konstruksi politik, yaitu tahap yang menghubungkan opini publik, opini rakyat, dan opini masa dengan kegiatan para pejabat publik ( eksekutif, legislator, dan hakim) yang sama-sama bertanggung jawab atas pemrakasaan, perumusan, penerimaan, penerapan, pengintepratasian, dan penilaian kebijakan.

Maka sebagaimana kepada politik, komunikasi juga merupakan kunci kepada opini publik. Setelah semuanya beres, proses politik dan opini adalah aspek-aspek dan tahap-tahap komunikasi. Oleh sebab itu, cocok sekali untuk menggunakan perspektif komunikasi dalam mempelajari opini publik.8

Kritik adalah Kecaman atau tanggapan, kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan baik buruk terhadap suatu hasil karya, pendapat, dan sebagainya.9

Kritik dalam politik berarti bentuk kritik tentang hal-hal yang memiliki sangkut paut dunia politik.

Kritik sebagai bagian dari komunikasi bisa menjadi sarana bertukar informasi, membangun pengetahuan, meluruskan pemahaman ataupun hanya sekedar permainan saja yang tidak memiliki tujuan yang jelas, seperti hiburan.

Dalam ilmu komunikasi ada sebuah teori yang dikenal dengan teori informasi yang menyebutkan bahwa orang mengikuti komunikasi adalah untuk mencapai tujuan tertentu, yaitu untuk bertukar informasi dan mengurangi ketidak pastian.10

Teori informasi, seperti dikemukakan oleh Stepshon, melukiskan derita berkomunikasi, berkomunikasi agar lebih berpengetahuan, berpendidikan, untuk memecahkan masalah, dan sebagainya.

Sebaliknya ada teori permainan, seperti yang dirumuskan oleh psikolog Wiliam Stephson, berargumentasi bahwa kita kita berkomunikasi hanyalah demi kesenangan yang kita peroleh dari tindakan itu sendiri. Permainan adalah kegiatan yang dilakukan orang untuk kesenangan, bukan untuk menyelesaikan sesuatu seperti bekerja.

Teori Permainan diturunkan dari gagasan kesenangan berkomunikasi, kegembiraan yang diperoleh orang dari mengobrol tanpa mengharapkan apa pun daripadanya, hiburan menonton televisi tanpa tujuan, atau kepuasan dalam membaca komik atau sebuah kolom tulisan

Menurut Stephenson politik dari titik pandang publik dilihatnya sebagai permainan: ” para diplomat dan politikus melakukan pekerjaanya; publik hanya mempunyai sesuatu yang diberikan kepada politik untuk dibicarakan, untuk memberi kesenangan berkomunikasi kepada mereka”

Ilmuan politik Murray Edelman, dalam membedakan semantik dan estetik informasi, mengemukakan bahwa akibat-akibat komunikasi politik massa adalah terutama permainan. Informasi politik semantik itu berfaidah; ia dirancang untuk memajukan suatu kepentingan, agar seorang kandidat terpilih, untuk mencapai kebijakan. Apalagi, ia disajikan dengan cara yang logis, dengan gaya yang dipertimbangkan dengan cermat.

Namun informasi estetit tidak mempunyai tujuan yang tegas; ia menyenangkan orang-orang yang menerimanya, tetapi diluar kesenangan yang subyektif ini ia tidak memajukan keputusan, kebijakan, kepentingan, maupun tujuan.

Pendek kata, informasi estetik, seperti permainan, menciptakan keadaan citra yang menggairahkan fikiran, dapat menyenangkan barangkali, bahkan mengejutkan. sebagian besar dari komunikasi politik

Penyampaian komunikasi politik tersebut dilakukan dengan menggunakan saluran-saluran komunikasi melalui media elektronik seperti televisi, radio, internet, hp dll dan juga media cetak seperti koran, majalah, buletin.

Saluran komunikasi adalah alat serta sarana yang memudahkan penyampaian pesan.11 Dengan saluran komunikasi tersebut maka pesan-pesan yang disampaikan akan mampu mempengaruhi audiens.

Setidaknya ada empat pengaruh media dalam politik bagi masyarakat yaitu (a) Penambahan informasi, (b) Kognitif, (c) Perilaku memilih, (d) Sistem politik.12

Penambahan informasi hampir sebagian besar orang dewasa menyatakan bahwa mereka mendapatkan hampir seluruh informasi tentang berbagai peristiwa dunia maupun nasional dari media massa. Secara umum, studi telah menunjukkan bahwa masyarakat yang banyak mengkonsumsi media biasanya memiliki pengetahuan yang lebih baik dan aktual daripada yang tidak atau kurang memanfaatkan media. Namun hal ini lebih berlaku untuk media cetak ketimbang televisi.

Kelemahan media televisi ada pada kecenderungannya untuk lebih menyorot hal-hal yang ‘menghebohkan’, seperti huru-hara saat demonstrasi, reaksi elemen masyarakat terhadap kandidat tertentu, dan sebagainya. Kecenderungan ini akhirnya mengabaikan substansi isu politik itu sendiri. Fenomena ini, jauh-jauh hari telah ditegaskan oleh Patterson & McClure (1976, dalam Oskamp & Schultz,1998), “Network news may be fascinating. It may be highly entertaining. But it simply not informed.”

(jaringan berita mungkin sangat menarik/mempesona. Itu mungkin hiburan tingkat tinggi. Tapi itu bukan pemberitahuan yang mudah.)

Selain itu, media televisi juga memiliki kapasitas terbatas untuk menghadirkan ulasan-ulasan yang mendalam, berbeda dengan media cetak yang bisa menampilkan berbagai tulisan sehingga pembaca bisa menyimaknya berkali-kali, bahkan berhenti sejenak untuk merenung atau diskusi dengan pembaca lain tanpa khawatir artikel tersebut akan ‘hilang’. Bandingkan dengan televisi, pemirsa tidak bisa ‘menghentikan’ tayangan untuk memberi waktu otaknya berpikir apalagi merenung. Meski demikian, tidak berarti televisi tidak pernah memberikan kontribusi dalam pemilihan umum. Buktinya di Amerika, dalam suatu studi tahun 1992 telah menunjukkan bahwa tayangan debat Clinton – Bush – Perrot, telah meningkatkan informasi tentang kandidat dan pandangan atau prinsip-prinsip yang dianut bagi para pemilih dalam pemilu tersebut.

Efek Kognitif media memiliki kemampuan untuk ‘mengatur’ masyarakat, not what to think, but what to think about. Penjelasan pada kalimat yang ‘indah’ ini ialah media cenderung mengarahkan masyarakat memikirkan hal-hal yang tersaji dalam menunya, bukan apa yang sebenarnya terjadi di sekitar masyarakat itu sendiri. Saat media A berbicara tentang Inul, merembet pada media lain, masyarakat pun ikut terlena didalamnya. Masalah kebanjiran yang menjadi langganan Jakarta pun tidak lagi terlalu mengusik, hingga tiba saat kondisi riil musibah itu.

Perhatian masyarakat cenderung lebih dipengaruhi gambaran media daripada situasi nyata dunia. Contoh lain, semakin banyak media yang mengusung dan mengemas berita kriminal, masyarakat mungkin saja menjadi yakin bahwa ada suatu gelombang kejahatan, tanpa perlu lagi memastikan atau mencari tahu informasi sebenarnya apakah kejahatan memang meningkat, menurun atau konstan. Oleh karena itulah, materi dalam media dapat menentukan ‘agenda publik’, yaitu suatu topik yang menjadi perhatian atau minat masyarakat serta mencoba untuk direspon.

Perilaku memilih secara luas, media lebih cenderung menguatkan tujuan-tujuan yang ada dalam pemungutan suara daripada merubahnya. Seperti telah disinggung diawal bahwa peran utama media dalam suatu pemilihan umum ialah menfokuskan perhatian masyarakat pada kampanye yang sedang berlangsung serta berbagai informasi seputar kandidat dan isu politik lainnya. Walaupun mungkin tidak memberi dampak langsung untuk merubah perolehan jumlah suara, namun media tetap mampu mempengaruhi banyaknya suara yang terjaring dalam suatu pemilu.

Menurut Noelle-Newman (1984,1992, dalam Oskamp & Schulz,1998), secara implisit, masyarakat membuat suatu penilaian terhadap pihak maupun cara yang ditempuh untuk memenangkan pemilihan, atau isu-isu panas yang diperdebatkan. Penilaian personal yang dipengaruhi kuat oleh media ini diam-diam bisa berdampak pada pengurangan jumlah suara bagi pihak yang kalah. Ulasan dini seputar pemilu atau laporan berdasarkan survei secara random dapat memperkuat penilaian masyarakat, terutama tentang siapakah yang akan menjadi pemenang dan mendorong terbentuknya ‘spiral silence’ diantara pihak yang merasa kalah atau menjadi pecundang.

Jadi, jangan terlalu yakin jika poling-poling sms di berbagai stasiun televisi tidak memiliki dampak apa-apa, setidaknya besarnya angka poling pada pihak A, akan mengusik atau menciutkan hati pihak B, atau lainnya. Masyarakat yang mengidolakan atau akan memilih capres-cawapres C misalnya, ‘mau nggak mau dipaksa untuk ‘meringis’ tatkala melihat jagonya berada di urutan buncit dalam poling sms, meski hampir semua percaya bahwa itu bukan representasi masyarakat Indonesia.

Efek dalam sistem politik televisi telah merubah wajah seluruh sistem politik secara luas dengan pesat. Media ini tidak hanya mempengaruhi politik dengan fokus tayangan, kristalisasi atau menggoyang opini publik, namun secara luas berdampak pada para politisi yang memiliki otoritas dalam memutuskan kebijakan publik.

Media, dengan publisitas, pemasangan iklan dan ulasan beritanya, juga memiliki kemampuan yang kuat untuk secara langsung mempengaruhi meningkatnya jumlah dana dalam suatu kampanye politik. Begitu penting dan besarnya peran berita atau ulasan-ulasan media dalam suatu pemilihan umum, maka baik staf maupun kandidat politik sebenarnya telah menjadi media itu sendiri.

Kontrol Masyarakat begitu besar pengaruh dan peran media dalam perpolitikan, hendaknya dimanfaatkan secara bijaksana. Terkadang seorang tokoh atau pihak tertentu yang masih bermasalah di masa silam atau kini nampak begitu kemilau dan tiba-tiba bersih sehingga masyarakat pun lengah dengan kepahitan yang pernah ada. Terus berputar pada masa lampau juga tidak akan mencerahkan bangsa ini, namun melupakan masa lalu juga bukan syarat bagi perbaikan diri, terlebih suatu bangsa.

Kontrol masyarakat untuk selalu melihat segala sesuatu dengan proposional, kritis dan obyektif sangatlah diperlukan. Hendaknya media juga mendorong masyarakat untuk melakukan critical control, sehingga terjalin kerjasama yang benar-benar secara positif membawa manfaat dan kontribusi bagi kedua belah pihak: pihak media massa dan terutama, pihak masyarakat

Media televisi adalah sarana komunikasi berupa televisi. Media televisi dapat digunakan untuk sarana aktivitas poitik. Dengan kelebihannya media televisi mampu menyampaikan pesan-pesan politik dengan lebih jelas, hal ini disebabkan televisi tidak hanya menyuguhkan suara namun juga dengan gambar.

Efek media penyiaran sangat ‘ampuh’ terhadap perubahan perilaku khalayak. Sifatnya yang audio-visual mudah membangun atau menyubversi imajinasi khalayak, sehingga proses imitasi dan belajar sosial khalayak lebih efektif. Tak heran bila banyak ahli komunikasi menempatkan media penyiaran sebagai ‘orang tua baru’ bagi anak-anak, bahkan ada yang menyebutnya sebagai ‘tuhan baru’.13

Terpaan-terpaan media yang bertubi-tubi akan mempengaruhi perasaan-peraaaan politik audiens. Misalnya sosok Megawati, Gus Dur atau SBY yang semakin sering tampil akan semakin dekat dengan simpatisannya. Perasaan-perasaan politik tersebutlah yang memicu timbulnya kesadaran politik.

Kesadaran politik adalah kesatuan keadaan diri yang terkendali dengan baik yang meliputi pengetahuan, sikap serta prilaku.

kesadaran politik meliputi 3 aspek yaitu:

1. Aspek kognitif adalah hal-hal yang berhubungan dengan ingatan, hasil belajar, pengetahuan dan kemampuan intelektual.

2. Aspek afektif adalah hal-hal yang menyangkut hasil belajar dengan sikap, penilaian, perasaan dan minat atau keinginan.

3. Aspek behavioral (psikomotorik) adalah hasil belajar yang berhubungan dengan ketrampilan gerak/fisik yang ditunjang oleh kemampuan praktis.

Lingkup kesadaran dan unsur-unsurnya ditentukan oleh keyakinan dan pemahaman yang baik akan pemasalahan. Kesadaran tidak hanya sebatas kesadaran misi namun juga pada kesadaran gerakan:14

Dibawah ini merupakan skema untuk memperjelas kesadaran politik:

Kesadaran Misi Pandangan Induvidu terhadap risalah dan dunia internasional (kesadaran permanen)

Kesadaran gerakan Pandangan individu terhadap organisasinya, hubungan dengan orang lain, dan perannya (kesadaran permanen dan fleksibel)

Kesadaran problematika Politik Pandangan dan pemahaman individu terhadap problematika regional, nasional, internasional yang berpengaruh terhadap negara (kesadaran fleksibel berdasarkan pandangan permanen)

Kesadaran sikap Politik Kesadaran individu akan substansi sekitar sikap politik (kesadaran politik sesuai jenis peristiwa)

Untuk mengetahui kesadaran politik mahasiswa maka indikatornya dapat dilihat melalui:

Pertama, Pemahaman mahasiswa mengenai konsep pendidikan politik sangat beragam, dan berdasar daya nalarnya sendiri, serta nilai-nilai kehidupan dan sistem keyakinan yang dianut secara operasional ditunjukkan dalam aktivitas berorganisasi dan pergerakan sosial. Pemahaman itu terfokus pada persoalan yang menyentuh kehidupan banyak orang dan bersifat problematis.

Kedua, Profil perilaku politik mahasiswa tercermin dari kompetensi mereka dalam keorganisasian, kepemimpinan dan pergerakan sosial. Potensi itu berkembang diwujudkan dalam interaksi dan komunikasi sosial diantara mahasiswa dan tokoh-tokoh pimpinan nasional dalam bentuk: forum diskusi, latihan kepemimpinan, persidangan/musyawarah mahasiswa, rapat dengar pendapat; pernyataan sikap, orasi dan unjuk rasa yang melibatkan massa.

Ketiga, Komunikasi dan interaksi antara mahasiswa baik dalam organisasi intra maupun ekstra universitas, secara formal maupun informal, membina kesadaran berpolitik dan membangun opini publik, serta melahirkan kepekaan, kepedulian, dan keterlibatan (partisipasi) mereka terhadap problema sosial yang dihadapi dalam kehidupan kemasyarakatan, kelembagaan, dan kenegaraan.

H. Definisi Konsepsional dan Operasional

1. Devinisi Konsepsional

Devinisi Konsepsional digunakan untuk menghindari perbedaan variabel penelitian yang akan diuji, antara konsep peneliti dan konsep pembaca, yaitu antara lain:

a. Aktivitas menonton acara News Dot Com di Metro TV.

Kata aktifitas berakar dari kata bahasa Inggris yaitu Activity yang berarti kegiatan, kesibukan.

Menonton menurut kamus besar bahasa indonesia berakar dari kata tonton, menonton berati Melihat (Pertunjukan, Gambar Hidup, Dsb).15

Jadi menonton adalah memperhatikan suatu obyek dengan lebih seksama.

Acara News Dot Com merupakan salah satu acara di Metro TV yang berbentuk dialog interaktif untuk membahas suatu permasalahan bangsa yang dikemas dengan model semi lawakan. Acara ini ditayangkan setiap hari senin pukul 21.30-23.00 WIB dan diulang kembali pada hari senin pukul 13.00 dengan frekuensi 4 kali tayang dalam satu bulan.

Dengan demikian maka aktifitas menonton News Dot Com merupakan kegiatan mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP UNS setiap hari Minggu pukul 21.30-23.00 WIB atau hari senin pukul 13.00 WIB.

b. Kesadaran politik

Kesadaran merupakan kesatuan keadaan diri yang terkendali dengan baik yang meliputi pengetahuan, sikap serta prilaku. Sebuah bentuk akhir dari pemahaman yang diperoleh melalui pembelajaran dan sikap, sebagai bagian dari proses komunikasi.

Kesadaran politik berarti bentuk kesadaran yang berkaitan dengan hal-hal berkitan dengan politik.

c. Terpaan media massa lain

Terpaan media massa lain adalah terpaan media selain acara News Dot Com, yang diterima oleh audiens. Yang merupakan bentuk kontrol dari variabel dependen yang diharapkan muncul.

Dalam hal ini mahasiswa tidak dibatasi media massa apa yang nantinya menjadi pilihan mahasiswa dan nantinya akan diberi pertanyaan dengan jawaban bebas.

2. Devinisi Operasional

Merupakan petunjuk tentang bagaimana suatu variabel diukur. Dengan memberi devinisi operasional akan memberikan gambaran tentang batasan secara operasional terhadap variabel-variabel penelitian sebagai berikut:

a. Aktifitas menonton acara televisi News Dot Com di Metro TV

variabel ini meliputi:

1. Motivasi Mahasiswa dalam menonton acara, dengan kategori:

- Untuk menambah pengetahuan dan informasi berita politik.

- Untuk sekedar mendapat informasi saja.

- Untuk mengisi waktu luang atau mencari hiburan.

2. Frekuensi penggunaan media yaitu frekuensi menonton acara News Dot Com Di metro TV, yang merupakan tingkat keseringan/intensitas dalam menonton acara tersebut dalam 1 bulan yang dibagi atas 4 x penayangan, dengan kategori sebagai berikut:

- Tinggi ( apabila menonton acara 4 x dalam 1 bulan).

- Sedang ( apabila menonton acara 2-3 x dalam 1 bulan).

- Rendah ( apabila menonton acara 1 x dalam 1 bulan).

3. Intensitas penonton dalam penggunaan media, dengan kategori:

- Menonton dengan menggunakan waktu khusus.

- Menonton dengan menggunakan waktu luang.

- Menonton bila butuh saja.

4. Volume merupakan jumlah jam siaran serta kepastian yang dipergunakan oleh mahasiswa dalam setiap kali penayangan acara dengan kategori sebagai berikut:

- Tinggi sampai dengan 60 menit/tayang.

- Sedang sampai dengan 30 menit/tayang.

- Rendah sampai dengan 10 menit/tayang.

5. Tingkat perhatian dari mahasiswa pada saat menonton acara dengan kategori:

- Menonton tanpa diselingi aktivitas yang lain.

- Menonton dengan diselingi aktivitas yang lain.

- Menonton sepintas saja.

6. Perbandingan antara Volume tayangan dan kedalaman isu politik tersebut dibahas dengan kategori:

- Sebanding.

- Kurang sebanding.

- Tidak sebanding.

7. Tingkat keikutsertaan mahasiswa dalam menonton acara News Dot Com di Metro TV, dengan kategori:

- Selalu mengikuti dengan tuntas.

- Kadang-kadang mengikuti dengan tuntas.

- Tidak pernah mengikuti dengan tuntas.

8. Tingkat ketergantungan mahasiswa dalam menonton acara News Dot Com di Metro TV, sebagai sumber informasi dari isu yang dibahas, dengan kategori:

1. Tahu informasi tentang isu hanya dari acara News Dot Com

2. Tahu informasi tentang isu sebagian dari news dot com dan sebagian dari media lain

3. tahu informasi isu tidak dari news dot com

b. Kesadaran politik merupakan bentuk dari aktifitas mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi FISIP UNS dalam memberikan respon balik terhadap isu politik yang dibahas pada acara News Dot Com di Metro TV. variabel ini meliputi:

1. Pengetahuan mahasiswa terhadap isu yang sedang dibahas, dengan kategori:

- Tahu dengan baik

- Sekedar tahu

- Tidak tahu sama sekali

2. Tingkat pemahaman mahasiswa terhadap isu yang dibahas, dengan kategori:

- Paham dengan baik

- Cukup paham

- Tidak paham

3. Tanggapan responden terhadap isu yang dibahas, dengan kategori:

- Menanggapi dengan antusias

- Menanggapi dengan biasa saja

- Tidak menanggapi sama sekali

Variabel ini meliputi hasil pemahaman dan tanggapan pada saat responden menonton tayangan acara News Dot Com di Metro TV, pada:

1. Edisi Minggu 29 April 2007 atau 30 April 2007 tentang Tradisi kekerasan di IPDN,

2. Edisi Minggu 6 Mei 2007 atau 7 Mei 2007 tentang resufel kabinet

3. Edisi Minggu 13 Mei 2007 atau 14 Mei 2007 tentang lumpur Lapindo, tragedi Mei 1998,

4. Edisi Minggu 20 Mei 2007 atau 21 Mei 2007 tentang Hak Interpelasi DPR,

Dalam hal ini kategori sadar diukur dengan hasil jawaban yang menjawab pilihan (A) karena pada jawaban tersebut menunjukkan jawaban atau fakta yang muncul sebagai hasil dari pembahasan materi acara selama berlangsung. Apabila menjawab (B) dianggap kurang sadar sebab bukan dari hasil materi tersebut dan atau tidak paham dengan materi, jawaban (C) tidak sadar sama sekali sebab cenderung bertentangan dengan pembahasan acara.

c. Terpaan Media Lain

Terpaan media masa lain merupakan variabel kontrol terhadap munculnya kesadaran, dimana selain responden menononton acara News Dot Com responden juga menonton acara yang lain sebagai bagian dari referensi info politiknya.

Dalam variabel kontrol ini responden diberi dua model pertanyaan. Pertama pertanyaan yang jawabannya terikat dan pertanyaan yang jawabannya bebas:

Dengan kategori sebagai berikut:

1. Akses berita lebih dari satu media

- Ya, selalu mengakases

- Kadang kadang

- Tidak

2. Pencarian informasi politik dari media massa lain

- Ya, selalu mengakases

- Kadang kadang

- Tidak

3. Akses informasi politik pada media cetak?

- Ya, selalu mengakases

Kalau ya, sebutkan:

1. Surat kabar :…………………………….

2. Majalah :…………………………….

3. Lainnya :……………………………

- Kadang kadang

- Tidak

4. Akses informasi politik pada media elektronik?

- Ya, selalu mengakases

Kalau ya, sebutkan:

1. Stasiun TV dan Acaranya :…………………………….

2. Radio :…………………………….

3. Internet :……………………………

- Kadang kadang

- Tidak

Hubungan antar variabel tersebut dapat ditulis dalam diagram sebagai berikut:

Diagram konstruksi variabel

I. METODOLOGI PENELITIAN

1. Jenis penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah Explanatori Reseach (penelitian penjelasan), yaitu penelitian yang menyoroti tentang hubungan variabel-variabel penelitian dan menguji hipotesa yang telah dirumuskan, walaupun uraian tersebut mengandung diskripsi tetapi fokusnya terletak pada penjelasan hubungan antar variabel.

2. Teknik penelitian

Menggunakan teknik penelitian survey, yaitu upaya mendapatkan informasi dari responden dengan menggunakan kuisioner. Pada penelitian ini sampel dibatasi, dimana informasi yang dikumpulkan dari berbagai populasi untuk mewakili secara keseluruhan.

3. Lokasi penelitian

Responden yang diteliti merupakan mahasiswa jurusan Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik UNS, jadi lokasi penelitian adalah FISIP UNS.

4. Metode sampling

Metode sampling adalah metode pemilihan yang memberikan kesempatan yang sama pada setiap unsur populasi untuk terpilih sebagai sampel. Dengan pemilihan akan diambil 10% dari populasi yang ada dengan pembulatan.16

Secara teknis cara yang digunakan untuk mengambil sampel adalah dengan memilih secara acak nama-nama calon responden dari daftar nama yang dikumpulkan dalam satu wadah. Daftar nama-nama terpilih secara acak tersebutlah yang nantinya akan menjadi responden.

5. Metode pengumpulan data

1. Data kuisioner, yaitu data yang diperoleh langsung melalui pembagian kuisioner, atau data primer.

2. Referensi pustaka, yaitu data yang diperoleh melalui buku-buku pustaka atau data skunder.

6. Metode pengujian Hipotesis dan Analisa data

Setelah data terkumpul dengan lengkap maka tahap selanjutnya adalah menganalisa data tersebut dengan menggunakan analisa data kuantitatif, dimana data yang terkumpul tadi diolah dengan cara coding, interpretating dan analiting. Untuk mengetahui hubungan antar variabel dalam penelitian ini maka perlu dicari koifisien korelasi antar variabel yang diteliti tersebut.

Karena penelitian ini dilakukan dengan Skala Ordinal maka uji statistik menggunakan metode Jenjang Kendall:17

dengan rumus sebagai berikut:

Dimana

Keterangan:

= Koifisien korelasi tata Jenjang Kendall

S = Jumlah riil

N = Jumlah sampel

t = Jumlah pengamatan kembar dalam masing masing kelompok kembaran dalam variabel

Setelah jumlah (dibaca Tao) diperoleh maka tahap selanjutnya adalah menentukan taraf signifikasinya. Karena jumlah sampel dalam penelitian ini lebih dari 10, maka untuk menguji taraf signifikasi terhadap yang diperoleh dilakukan dengan mencari nilai Z terlebih dahulu. Nilai Z tersebut bisa dicari dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

Selanjutnya nilai Z tersebut diujikan, untuk mengetahui taraf signifikasi dari dua fariabel yang dikorelasikan.

Selain untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan yang signifikan antara variabel independen dan fariabel dependen, juga dapat mengukur pengaruh variabel kontrol terhadap hubungan tersebut. Untuk mengetahui pengaruhnya tersebut maka langkah yang diambil adalah dengan membandingkan antara koifisien korelasi tata Jenjang Kendall pada hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen yang melibatkan variabel kontrol ( XY) dengan koifisien korelasi tata Jenjang Kendall pada hubungan antar kedua variabel tersebut tanpa melibatkan variabel kontrol.

Untuk mencari nilai XY. Z digunakan rumus korelasi parsial tata Jenjang Kendall sebagai berikut:18

Bila pada perbandingan antara nilai dengan terdapat perbedaan yang cukup berarti, maka bisa dikatakan bahwa variabel kontrol tersebut berpengaruh terhadap hubungan antar variabel independen (X) dengan variabel dependen (Y). selanjutnya pengaruh tersebut dibedakan menjadi dua yaitu:

• Bila nilai > nilai

Atau nilai hubungan antara aktivitas menonton acara News Dot Com dengan kesadaran politik mahasiswa lebih besar dari nilai hubungan antar aktivitas menonton acara News Dot Com dengan kesadaran politik mahasiswa depengaruhi oleh tayangan media yang lain. Berarti variabel kontrol cenderung lemah dan hal ini berpengaruh memperkuat hubungan yang terjadi antara variabel X (aktivitas menonton acara) dengan variabel Y (kesadaran politik Mahasiswa)

• Bila nilai < nilai Atau nilai hubungan antara aktivitas menonton acara News Dot Com dengan kesadaran politik mahasiswa lebih kecil dari nilai hubungan antar aktivitas menonton acara NEWS DOT COM dengan kesadaran politik mahasiswa dipengaruhi oleh tayangan media yang lain. Berarti variabel kontrol cenderung kuat dan hal ini berpengaruh memperlemah hubungan yang terjadi antara variabel X (aktivitas menonton acara) dengan variabel Y (kesadaran politik Mahasiswa) J. Tahap dan Prosedur Penelitian Tahapan-tahapan dalam penelitian ini meliputi : 1. Tahap I Disebut tahap persiapan. Pada tahap ini seluruh bahan dan peralatan yang dibutuhkan dalam penelitian dipersiapkan terlebih dahulu agar penelitian dapat berjalan dengan lancar. 2. Tahap II Disebut tahap penelitian lapangan dan literatur karena penelitian langsung dilakukan dengan survai lapangan dan pencarian literatur-literatur teori yang yang melandasi penelitian ini. 3. Tahap III Tahap ini disebut tahap pengolahan data sebab semua data yang diperoleh diolah dari survai lapangan, literatur dikumpulkan kemudian diolah dan dianalisa. 4. Tahap IV Pada tahap ini disebut tahap penyimpulan sebab dari hasil data yang telah diolah dan dianalisa disimpulkan. Diagram alir penelitian Daftar Pustaka - Abdul mu’iz Ruslan, DR. Ustman. Pendidikan Politik Ikhwan, Era Intermedia, 2000 - Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia Balai Pustaka, th 1988. - Djamaluddin Malik, Dedy. Carut Marut Dunia Penyiara, http://republika.co.id/koran_detail.asp?id=234256&kat_id=16 - Jenning Bryant & Dollf Zilmann, Media Effect, Advantages In Theory And Reseach, Laurence Erlbaum associates, publisher, London, 2002 - Marbun, B.N, S.H. Kamus Politik, Putaka Sinar Harapan, 2005 - McQuail, Denis. Teori Komunikasi Massa, suatu pengantar, Erlangga, 1996 - Nimmo, Dan. Komunikasi Politik, Komunikator-Pesan Dan Media, Rosda Karya, 1993 - Pitaloka, RR. Ardiningtiyas, S.Psi http://www.psikologiums.net/modules.php?name=News&new_topic=4aziz - Roslan, Rosady. Metode Penelitian Public relation dan Komunikasi, Rajawali Pers.2006 - Siegel, Sidney. Staistik Non Parametric Untuk penelitian Sosial, Gramedia Jakarta - www.republikmimpi.com home page 1 DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL PROGRAM S-1 NON REGULER FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl. Ir. Sutami No. 36A Kentingan Surakarta 57126 ________________________________________ PENGAJUAN JUDUL SKRIPSI Yang bertanda tangan dibawah ini kami, Mahasiswa : Nama : budi prihono NIM : D 1205514 Jurusan : Ilmu Komunikasi Nama P.A : Drs. Haryanto, M.Lib Alamat Mahasiswa : Ds. Melikan RT.1/8 kel. Palur Kec. Mojolaban Kab. Sukoharjo 57554 Pada hari ini …… Selasa ……Tanggal…… 6 Maret 2007 MENGAJUKAN JUDUL SKRIPSI ” KOMUNIKASI ORGANISASI DI KOPERASI MAHASISWA UNIVERSITAS NEGERI SEBELAS MARET SURAKARTA ” (Studi Strategi Komunikasi Organisasi Di Koperasi Mahasiswa Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta Dalam Meningkatkan Pelayanan Kepada Anggota Di Universitas Sebelas Maret Surakarta) Demikian, harap menjadikan periksa. Surakarta, 6 Maret 2007 Hormat kami, (Budi Prihono) NIM.: D 1205514 Pembimbing : *) 1. 2. *) di isi oleh petugas

Testimoni

artikel lainnya REVISI PERUBAHAN



bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
Monday 18 May 2015 | blog

  MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR TELEMATIKA SUB SEKTOR PROGRAMMER KOMPUTER   MEMBUAT PROGRAM APLIKASI MICROSOFT…

Monday 23 March 2015 | blog

    MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI          …

Sunday 9 August 2015 | blog

    MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI          …

Tuesday 18 September 2012 | blog

Bab 4 Hasil Budaya Praaksara di Indonesia Menganalisis berdasarkan tipologi hasil budaya Praaksara Indonesia termasuk yang…