Advertisement
loading...

Prof.DR. Nani Tuloli, dkk. 2003. Dialog buday, wahana Pelestarian dan Pengembangan Kebudayaan Bangsa. Jakarta: CV. Mitra Sari.

Proses perubahan dapat mengarah kearah positif juga negative. Inovasi budaya kearah positif harus didukung, dan perubahan kea rah negative haruslah diwaspadai. Ini semua terkait dengan bagaimana upaya kita melestarikan dan memanfaatkan warisan budaya.

Advertisement

Kroeber Berry 1999:34) “budaya adalah keseluruhan kompleks yang terdiri dari atas pengetahuan, keyakinan,seni, moral, hokum, adat kebiasaan dan kapabilitas lain. Serta kebiasaan apa saja yang diperoleh seorang manusia sebagai anggota suatu masyarakat.

Linton “budaya berarti keseluruhan bawaan social umat manusia.Herkovitz budaya adalah bagaian buatan manusia yang berasal dari lingkungan manusia. 2

……

Semua kerangka berpikir tentang konsep budaya diatas, rupanya tertampung dalam apa yang disebut oleh Koentjoroningrat tiga wujud budaya. Ketiga wujud budaya itu meliputi:

  1. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai norma-norma, peraturan dan sebagainya, yaitu tata kelakuan atau adat istiadat . fungsinya adalah mengatur, megendalikan, mengarahkan kelakuan.
  2. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat, seperti upacara-upacara, ritual, kegiata kemasyarakatan yang berpola.
  3. Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasi karya manusia, seperti bangunan, pakaian, sipta seni, alat-alat, hiasan dll.

(Koentjoroningrat, 1993:5) …3

Untuk melestarikan dan memanfaatkan warisan budaya, kita perlu melihat bagaimana keterkaitan pembangunan dengan budaya.kebudayaan bukanlah sesuatu yang berada diluar pembangunan, bukan unsure eksternal, melainkan unsure internal yang menetnukan makna dan arah kemana pembangunan itu dijalankan. Dengan kata lain budaya suatu strategi bagaimana merencanakan dan menentukan langkah-langkah untuk mencapai tujuan (Djojonegoro, 1998:364). Ini berarti perlu dilihat warisan budaya yang mempunyai potensi mendukung pembangunan. Dengan demikian dapat diketahui wujud budaya yang perlu dilestarikan dan bagaimana cara memanfaatkannya.

Dalam perjalanan pewarisan budaya, baik nasional maupun daerah, nilai-nilai dan adat istiadat itu selalu mengalami perubahan-perubahan. Perjalanan perkembangan kebudayaan dan  masyarakat dalam sejarahnya tidak pernah tertutup dari persinggungan dengan budaya-budaya lain. Melalui perkembangan komunikasi global, seolah-olah antarbudaya kini sudah menjadi tanpa batas. Sebagai akibatnya orientasi adapt istiadat untuk bertindak tidak lagi tunggal dari budaya asli (daerah), tetapi sudah mengalami proses pembelahan kedalam sub-sub variasi (Nani Tulali.2003:5).

Adat dan tradisi dalah sebuah konsepsi yang dianggap bernilai, dalam suatu komunitas tertentu pada zamannya. Selain berupa niali konsepsi itu juga berwujud suatu cara, poal tindakan, dan struktur social, adat dan tradisi acapkali diyakini sebagai representasi komitmen moral para anggota komunitas  pendukungnya untuk hidup bersama secara damai dan berbudi.sebgai komitmen moral yang diyakini bernilai, maka menjadi kewajiban bagi setiap anggota untuk memelihara, melestarikan, dan memaknainya dengan cara yang paling baik menurut ukuran nilai mereka. Banyaknya cara yang tersedia untuk memaknai tradisi itu, mebuka peluang adanya polarisasi cara, sehingga dapat dan atau telah menimbulkan bias tehadap fungsi utama tradisi, yaitu memelihara komitmen moral untuk hidup bersama secara damai dan berubudi.35

Isu pelestarian nilai-nilai budaya sangat bergantung kepada potensi individual sebagai pendukung/pelaku kebudayaan. Semakain kondusif potensi individual maka semakin berkelanjutan eksistensi kebudayaan (cultural sustainability). Kebudayaan bukan suatu entintas abstrak tanpa pijakan, tetapi sangat berpijak pada kondisi pendukungnya. Oleh karena itu, strategi untuk menganalisis kebudayaan dari paradigma pelaku kebudayaan menjadi sangat penting diaplikasikan. 172

 

Reinterpretasi adat dan tradisi

Secara implisit telah dikemukakan bahwa modernisasi memeperkenalkan nilai baru dalam lingkungan tradisi diasumsikan dibentuk atas dasar setting agraris, yaknikomunal, religius-magis,setempat dan konkrit, maka modernisasi dan globalisasi dibentuk atas dasar individualistic, berorientasi prestasi, menghargai waktu, terukur, sekuler, mobilitas tinggi dan konsepsional atau abstratif. Karena itu, setiap tradisi senantiasa mengalamiproses diferensiasi sosial-stuktural serta suatu generalisasi nilai, norma, dan makna yang menyertainya. Dalam hubungan kebudayaan, pergesaran itu telah memberi kontribusi terhadap pengetahuan sebagai satuan budaya. Setiap orang yang telah tersentuh sistem pengetahuannya  oleh nilai-nilai baru, akan mencoba memberi makna baru bagi tatanan yang ada sebelumnya, tidak terkecuali hal-hal yang bersifat normatif seperti tersurat dalam peraturan adapt dan tradisi.

Dalam pengalihan itu, terjadi proses destrukturisasi, restrukturisasi, dan strukturasi secara silih berganti. Mekanisme itu, sering pula disebut peningkatan adaptasi (adaptive upgrading) atau adaptasi dengan modifikasi (adaptive modification) melalui proses pemahaman dan penafsiran kea rah abstraksi yang berlaku umum. Usaha penyesuaian itu mengandung arti ganda, yaitu manusia berusaha menyesuaikan kehidupannya dengan lingkungan. Sebaliknya, manusia berusaha pula lingkungan dengan keinginan dan tujuan mereka.

Mengingat lingkungan yang diadaptasi manusia terus berubah, maka dalam upaya adaptasi itu manusia terus mengikuti, mengamati, dan menginterpretasikan berbagai gejala dan perubahan yang terjadi dalam lingkungan secara dinamis. Jika manusia meganggap cara penyesuaian yang dilakukan sbelumnnya sebagaimana tersirat dalam adapt tradisi kurang relevan, cara itu akan diganti dengan cara yang dianggap lebih cocok, setelah melalui mekanisme pemahaman dan sosialisasi.35-36.

Masuknya budaya barat yang sejak era 1980-an disebut Emha Ainun Nadjib sebagai gejala Westernisasi itu adlah keniscayaan. Hal ini terkait dengan kesepakatan teknologi. Faktor ini pun merupakan keniscayaan, tidak dapat ditolak, dan tidak terbantah. Semua orang pun sadar, enolakan terhadapa kemajuan adalah sebuah kekonyolan. 117

Revitalisasi budaya

Tidak ada pilihan lagi bagi bangsa dan Negara (state) ini dalam menangkal pilihan pengaruh negatif yang muncul dalam derasnya proses globalisasi di tengah makin lenturnya kekuatan budaya lokal sekarang. Hanya ada dua kunci yang harus dimiliki untuk tetap eksis sebagai warga dunia. Pertama, harus menjadi karakter yang berkualitas dalam pengertian memliki kepekaan budaya yang tinggi (high culture sensitivity) dan jati diri bangsa yang kukuh (strong nasional identity).

Dengan sifat dinamis kebudayaan, tidak dapat dilakukan penolakan terhadap budaya luar sekalipun nilai yang diberikan kepada “anasir baru” itu adalah negative. Selain itu, ada pandangan bahwa niali budaya di semua belahan dunia bersifat universal. Dua antropolog, F. Kluckholm dan Strodtbeck pada tahun 1961 telah menyusun satu yag menjadi tingkat orientasi dari semua system budaya di dunia. Salah satu kerangkannya adalah hakekat pembawaan hidup manusia seperti berbuat jahat, biasa atau kombinasi jahat dan baik. Ada pula konsep antropolgi, yaitu tahap kenisbian kebudayaan (culture relativition). Aliran ini memandang bahwa kebudayaan tidak ada yang baik dan tidak ada yang buruk. Semua tergantung dari cara orang atau kelompok orang memandangnya. Sekalipun nalai budaya itu bersifat universal.125. beberapa pandangan yang tidak dapat diserap dan diterima begitu saja dalam masyarakat Indonesia. Karena,budaya dalam pengertian harafiah—juga ada pengikat lain (juga bagaian dari budaya), seperti agama, etika dan moral. Seperti hidup bersama sebelum menikah, bukanlah persoalan di Barat. Di Indonesia hal ini tidak dapat di berlakukan. Ingat bagaimana perilaku seks bebas “dideklarasikan” di Indonesia lewat sekte anak-anak Tuhan (Children of God) pada awal 1980-an? Ini merupakan salah satu alasan betapa pentingnya filterisasi budaya yang masuk.

Cara terbaik yang harus dilakukan untuk menjadikan manusia Indonesia sebagai karakter yang berkualitas dengan budaya yang tinggi dan jati diri budaya kukuh, tidak  cukup dengan upaya melestarikan budaya berikut nilai-nilainya. Sudah saatnya melakukan revitalisasi budaya. Menjadikan budaya sebagai bagian (pembangunan) yang penting ini dapat dilakukan dengan mengangkat kembali nilai-nilai yang tumbuh dari pelaksanaan adat istiadat masyarakat yang nyaris hilangitu. Hal ini penting dilakukan mengingat, seperti kata Koentjoroningrat (1982), adat adalah sistem nilai budaya, pandangan hidup, dan ideologi.

126

Tawaran langkah yang dapat ditempuh dalam mempertahankan, melestarikan, mengembangkan dan memajukan kebudayaan itu telah diberikan S. Budisantoso hampir dua dasawarsa lalu. Langkah-langkah itu meliputi :

  1. Mendeskripsikan secara menyeluruh keragaman kebudayaan menjadi etnografi.
  2. Memeriksa kesamaan, dan perbedaan dalam rangkaian pengembangan kebudayaan nasional.
  3. Menyusun pola kebudayaan yang dapat mengungkapkan keberagaman dan keseragaman kebudayaan serta persebaran.
  4. Memahami pola interaksi social antar pemangku kebudayaan yang berlainan dalam masyarakat Indonesia.

Testimoni

Advertisement
  1. Toko Kain Batik Cap Terbaik di Solo
  2. Toko Baju Batik Terbaik di Solo
  3. Aneka Kain Batik dengan Harga Murah
  4. Baju Batik Sarimbit Terbaik
  5. Dapatkan Kain Batik Berkualitas dengan Diskon 25%
  6. Aneka Baju Batik Seragam Kantor
  7. Pembuatan Seragam Batik Berlogo
slideseragambatik
Filed under : blog,