Menu
Pasang iklan SEO disini Murah, 300.000/6 Bulan dan dapatkan Trafik setiap harinya

Merancang Strategi Dan Penilaian Pembelajaran PLK.MP02.003.01

Dec
12
2014
by : Bupeko. Posted in : blog

 

MODUL PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI

SUBSEKTOR METODOLOGI PELATIHAN KERJA

 

 

MERANCANG STRATEGI

DAN PENILAIAN PEMBELAJARAN

PLK.MP02.003.01

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BUKU INFORMASI

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DEPARTEMEN TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI R.I.

DIREKTORAT JENDERAL PEMBINAAN PELATIHAN DAN PRODUKTIVITAS

Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 51 Lt. 6.A Jakarta Selatan

 

KATA PENGANTAR

 

Dalam rangka mewujudkan pelatihan kerja yang efektif dan efesien dalam rangka meningkatkan kualitas dan produktivitas tenaga kerja diperlukan suatu sistem pelatihan yang sama. Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 31 tentang Sistem Pelatihan Kerja Nasional yang mengamanatkan bahwa pelatihan kerja berbasis kompetensi.

Dalam rangka menerapkan pelatihan berbasis kompetensi tersebut diperlukan adanya standar kompetensi kerja sebagai acuan yang diuraikan lebih rinci ke dalam program, kurikulum dan silabus serta modul pelatihan.

Untuk memenuhi salah satu komponen dalam proses pelatihan tersebut maka disusunlah modul pelatihan berbasis kompetensi “Merancang Strategi dan Penilaian Pembelajaran yang mengacu pada Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) Sektor Jasa Kemasyarakatan, Sosial, Budaya dan Perorangan Sub Sektor jasa Kegiatan Lainnya Bidang Jasa Lainnya Sub Bidang Metodologi Pelatihan Kerja yang telah ditetapkan dengan Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi R.I. Nomor KEP.140/MEN/VI/2008.

Modul pelatihan berbasis kompetensi ini, terdiri dari 3 buku yaitu Buku Informasi, Buku Kerja dan Buku Penilaian. Ketiga buku tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh, dimana buku yang satu dengan yang lainnya saling mengisi dan melengkapi, sehingga dapat digunakan untuk membantu pelatih dan peserta pelatihan untuk saling berinteraksi.

Demikian modul pelatihan berbasis kompetensi ini kami susun, semoga bermanfaat untuk menunjang proses pelaksanaan pelatihan di lembaga pelatihan kerja.

Jakarta,     Desember 2009


DAFTAR ISI

 

 

KATA PENGANTAR ——————————————————————————————–   1

DAFTAR ISI —————————————————————————————————–   2

BAB I    STANDAR KOMPETENSI KERJA NASIONAL INDONESIA (SKKNI) DAN SILABUS PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI (PBK) —————————————————————-   3

  1. Standar Kompetensi Kerja Nasional (SKKNI) —————————————-   3
  2. Unit Kompetensi Prasyarat —————————————————————-   6
  3. Silabus Pelatihan Berbasis Kompetensi (PBK) —————————————-   7

BAB II   MATERI PELATIHAN MERANCANG STRATEGI DAN PENILAIAN PEMBELAJARAN- 10

  1. Latar Belakang ——————————————————————————–  10
  2. Tujuan ——————————————————————————————-  10
  3. Ruang Lingkup ——————————————————————————–  11
  4. Pengertian Istilah —————————————————————————–  11
  5. Diagram Alir Unjuk Kerja Pencapaian Kompetensi ———————————-  14
  6. Materi Pelatihan pelatihan merancang strategi dan penilaian pembelajaran— 14
    1. Menentukan urutan materi pembelajaran——————————– 14
    2. Menganalisis gaya belajar peserta pelatihan  dan menentukan pendekatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran
    3.  Merancang situasi pembelajaran yang akan dikembangkan dan memperkirakan waktu yang dibutuhkan
    4. Memilih metode dan media pembelajaran yang akan digunakan
    5. Merancang penilaian formatif dan sumatif yang digunakan

G. Penyusunan laporan……………………………………………………………….

BAB III SUMBER-SUMBER YANG DIPERLUKAN UNTUK PENCAPAIAN KOMPETENSI ——

  1. Sumber-sumber Perpustakaan ———————————————————–  40

1. Daftar Pustaka —————————————————————————-  40

2. Buku Referensi —————————————————————————-  40

  1. Daftar Peralatan/Mesin dan Bahan ——————————————————  41
    1. Daftar Peralatan/Mesin————————————————————— 41
    2. Daftar Bahan—————————————————————————- 41

 

 

 

BAB I

STANDAR KOMPETENSI KERJA NASIONAL (SKKNI)

DAN SILABUS PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI (PBK)

 

  1. A.           STANDAR KOMPETENSI KERJA NASIONAL (SKKNI)

 

KODE UNIT : PLK.MP02.003.01
JUDUL UNIT : Merancang Strategi dan Penilaian Pembelajaran.
DESKRIPSI UNIT : Unit ini merupakan kompetensi yang berhubungan dengan pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja dalam Merancang strategi dan penilaian pembelajaran.

 

 

ELEMEN KOMPETENSI

KRITERIA UNJUK KERJA

  1. Menentukan urutan materi pembelajaran
1.1.   Materi pelatihan diidentifikasi sesuai kebutuhan Pelatihan

1.2.   Materi Pelatihan disusun dan diurutkan sesuai dengan tahapan pembelajaran

  1. Menganalisis gaya belajar peserta pelatihan  dan menentukan pendekatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran
2.1    Gaya belajar peserta pelatihan secara perorangan dan kelompok diidentifikasi

2.2    Gaya belajar peserta Pelatihan secara perorangan dan kelompok dianalisis

2.3    Pendekatan penyampaian materi sesuai dengan tujuan pembelajaran diaplikasikan.

  1. Merancang situasi pembelajaran yang akan dikembangkan dan memperkirakan waktu yang dibutuhkan
3.1  Situasi pembelajaran diidentifikasi dan  dilaksanakan

3.2  Pengembangan situasi pembelajaran dirancang dan dilaksanakan

3.3  Waktu yang dibutuhkan dirancang untuk menyelesaikan sesi tiap unit kompetensi

  1. Memilih metode dan media pembelajaran yang akan digunakan
4.1. Metode pelatihan dipilih dengan menyesuaikan urutan materi.

4.2. Media pembelajaran dipilih dengan menyesuaikan  topik materi pembelajaran

  1. Merancang penilaian formatif dan sumatif yang digunakan
5.1. Materi penilaian formatif dirancang sesuai dengan pencapaian materi ajar

5.2. Materi penilaian sumatif dirancang sesuai dengan pencapaian materi ajar

 

BATASAN VARIABEL

  1. Konteks variabel :

Unit ini berlaku untuk menentukan urutan materi pembelajaran, menganalisis gaya belajar peserta pelatihan, menentukan pendekatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran, merancang situasi pembelajaran yang akan dikembangkan dan memperkirakan waktu yang dibutuhkan,  dan memilih metode dan media pembelajaran yang akan digunakan, serta merancang penilaian formatif dan sumatif yang digunakan yang digunakan untuk merancang strategi dan penilaian pembelajaran pada bidang metodologi pelatihan.

 

  1. Perlengkapan untuk menentukan tujuan, prasyarat dan materi pelatihan mencakup :

2.1     Format program pelatihan.

2.2     Jenis media pembelajaran.

2.3     Jenis penilaian pembelajaran.

2.4     Buku referensi/literatur.

2.5     Alat tulis kantor.

 

  1. Tugas pekerjaan untuk merancang strategi dan penilaian pembelajaran sebagai bagian dari program pelatihan meliputi :

3.1     Menyusun dan mengurutkan materi pelatihan sesuai dengan tahapan pembelajaran.

3.2     Menganalisis gaya belajar peserta pelatihan secara perorangan dan kelompok.

3.3     Mengaplikasikan pendekatan penyampaian materi sesuai dengan tujuan pembelajaran.

3.4     Merancang dan melaksanakan pengembangan situasi pembelajaran

3.5     Merancang waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan sesi tiap unit kompetensi.

3.6     Memilih media pembelajaran dengan menyesuaikan  topik materi pembelajaran.

3.7     Merancang materi penilaian formatif sesuai dengan pencapaian materi ajar.

3.8     Merancang materi penilaian sumatif sesuai dengan pencapaian materi ajar.

 

  1. Peraturan untuk Merancang strategi dan penilaian pembelajaran sebagai bagian dari program pelatihan adalah :

4.1     Pedoman penyusunan program pelatihan berbasis kompetensi.

4.2     Pedoman penyusunan lesson plan/session plan.

 

 

PANDUAN PENILAIAN :

  1. Penjelasan prosedur penilaian :

Alat, bahan dan tempat penilaian serta unit kompetensi yang harus dikuasai sebelumnya yang diperlukan sebelum menguasai unit kompetensi ini dengan unit-unit kompetensi yang terkait :

1.1     PLK.MP01.003.01      Mengidentifikasi dan menganalisis standar kompetensi.

1.2     PLK.MP02.001.01      Memilih sumber daya pelatihan untuk penyusunan program pelatihan

  1. Kondisi Penilaian :

2.1.    Kondisi penilaian merupakan aspek dalam penilaian yang sangat berpengaruh atas tercapainya kompetensi tersebut yang terkait dengan menentukan urutan materi pembelajaran, menganalisis gaya belajar peserta pelatihan dan menentukan pendekatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran , merancang situasi pembelajaran yang akan dikembangkan dan memperkirakan waktu yang dibutuhkan,  serta memilih metode dan media pembelajaran yang digunakan untuk merancang strategi dan penilaian pembelajaran sebagai bagian dari program pelatihan.

2.2.    Penilaian dapat dilakukan dengan cara : lisan, tertulis, demonstrasi/praktik.

2.3.    Penilaian dapat dilaksanakan secara : simulasi di workshop dan atau di tempat kerja.

  1. Pengetahuan yang dibutuhkan :

Pengetahuan yang dibutuhkan untuk mendukung unit kompetensi ini sebagai berikut :

3.1     Identifikasi materi pelatihan sesuai kebutuhan pelatihan.

3.2     Identifikasi gaya belajar peserta pelatihan secara perorangan dan kelompok.

3.3     Identifikasi situasi pembelajaran.

3.4     Identifikasi jenis metode pembelajaran.

3.5     Identifikasi jenis media pembelajaran.

 

  1. Keterampilan yang dibutuhkan :

Keterampilan yang dibutuhkan untuk mendukung unit kompetensi ini sebagai berikut :

4.1     Menyusun dan mengurutkan materi pelatihan sesuai dengan tahapan pembelajaran.

4.2     Menganalisis gaya belajar peserta pelatihan secara perorangan dan kelompok.

4.3     Mengaplikasikan pendekatan penyampaian materi sesuai dengan tujuan pembelajaran.

4.4     Merancang dan melaksanakan pengembangan situasi pembelajaran.

4.5     Merancang waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan sesi tiap unit kompetensi.

4.6     Memilih media pembelajaran dengan menyesuaikan  topik materi pembelajaran.

4.7     Merancang materi penilaian formatif sesuai dengan pencapaian materi ajar.

4.8     Merancang materi penilaian sumatif sesuai dengan pencapaian materi ajar.

 

  1. Aspek Kritis :

Aspek kritis  yang merupakan kondisi kerja untuk diperhatikan dalam mendukung unit kompetensi ini, sebagai berikut :

5.1     Perbedaan persepsi.

5.2     SDP yang variatif.

5.3     Program pelatihan yang standar.

 

 

KOMPETENSI KUNCI

 

NO

Kompetensi Kunci

Tingkat

1

Mengumpulkan, menganalisis dan mengorganisasikan informasi

1

2

Mengkomunikasikan informasi dan ide-ide

2

3

Merencanakan dan mengorganisasikan kegiatan

2

4

Bekerjasama dengan orang lain dan kelompok

2

5

Menggunakan gagasan secara teknis dan matematis

2

6

Pemecahan masalah

3

7

Penggunaan teknologi

2

 

 

 

 

  1. B.           UNIT KOMPETENSI PRASYARAT

 

Sebelum mengikuti pelatihan unit kompetensi Merancang Strategi dan Penilaian Pembelajaran. ini peserta harus sudah kompeten untuk unit kompetensi sebagai berikut:

 

1.3         PLK.MP01.003.01      Mengidentifikasi dan menganalisis standar kompetensi.

1.4                                                         PLK.MP02.001.01      Memilih sumber daya pelatihan untuk penyusunan program pelatihan

 

  1. C.  SILABUS PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI (PBK)

Judul Unit Kompetensi                        :     Merancang Strategi dan Penilaian Pembelajaran.

Kode Unit Kompetensi                        :     PLK.MP02.003.01

Deskripsi Unit Kompetensi                  :     Unit ini merupakan kompetensi yang berhubungan dengan pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja dalam Merancang Strategi dan Penilaian Pembelajaran

Prakiraan Waktu Pelatihan                  :     50 jampel @ 45 menit

Tabel Silabus Unit Kompetensi             :

ELEMEN KOMPETENSI

KRITERIA

UNJUK KERJA

INDIKATOR

UNJUK KERJA

MATERI PELATIHAN

JAM PELATIHAN

Pengetahuan

Keterampilan

Sikap

Penge-tahuan

Kete-rampilan

  1. Menentukan urutan materi pembelajaran
1.1 Materi pelatihan diidentifikasi sesuai dengan kebutuhan pelatihan

 

 

 

 

 

1.2 Materi pelatihan disusun dan diurutkan sesuai dengan tahapan pembelajaran

 

– Dapat menjelaskan hirarkhi materi pelatihan

– Dapat menjelaskan cara mengidentifikasi materi pelatihan

– Mampu mengidentifikasi materi pelatihan sesuai dengan kebutuhan pelatihan

– Harus teliti, cermat, berpikir evaluatif, dan konsisten

 

– Dapat menjelaskan hirarkhi dan prinsip belajar

– Mampu Menetapkan susunan dan urutan materi pelatihan sesuai dengan tahapan pembelajaran dan hirarkhi materi pelatihan

Harus teliti, cermat, berpikir evaluatif, dan konsisten

 

– Hirarkhi materi pelatihan

– Cara mengidentifikasi materi pelatihan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

– Hirarkhi belajar

– Prinsip belajar

– Mengidentifikasi materi pelatihan sesuai dengan kebutuhan pelatihan

 

 

 

 

 

 

 

– Menetapkan susunan dan urutan materi pelatihan sesuai dengan tahapan pembelajaran dan hirarkhi materi pelatihan

– Teliti;

– Cermat;

– Berfikir evaluatif;

– Konsisten

 

 

 

 

 

 

 

 

– Teliti;

– Cermat;

– Berfikir evaluatif;

Konsisten

 

 

2

6

 

ELEMEN KOMPETENSI

KRITERIA

UNJUK KERJA

INDIKATOR

UNJUK KERJA

MATERI PELATIHAN

JAM PELATIHAN

Pengetahuan

Keterampilan

Sikap

Penge-tahuan

Kete-rampilan

  1. Menganalisis gaya belajar peserta pelatihan dan menentukan pendekatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran
2.1  Gaya belajar peserta secara perseorangan dan kelompok diidentifikasi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2.2  Gaya belajar peserta secara perorangan dan kelompok dianalisis

– Dapat menjelaskan adult learning

– Dapat menyebutkan dan menjelaskan macam-macam gaya belajar beserta untung ruginya

– Dapat menyebutkan dan menjelaskan hal-hal yang harus disiapkan dalam setiap gaya belajar

– Mampu mengidentifikasi Mengidentifikasi gaya belajar peserta secara perseorangan dan kelompok

– Harus teliti, cermat, berpikir analitis dan evaluatif, serta konsisten

– Dapat menjelaskan teknik menganalisis gaya belajar

– Mampu menganalisis gaya belajar peserta pelatihan

– Harus teliti, cermat, berpikir analitis dan evaluatif, serta konsisten

– Adult learning

– Macam-macam gaya belajar beserta untung ruginya

– Hal-hal yang harus disiapkan dalam

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

– Teknik mengalisis gaya belajar setiap gaya belajar

– Mengidentifikasi gaya belajar peserta secara perseorangan dan kelompok

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

– Menganalisis gaya belajar peserta

–

– Teliti;

– Cermat;

– Berfikir analitis;

– Berfikir evaluatif;

– Konsisten

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

– Teliti;

– Cermat;

– Berfikir analitis;

– Berfikir evaluatif;

Konsisten

4

8

 

 

ELEMEN KOMPETENSI

KRITERIA

UNJUK KERJA

INDIKATOR

UNJUK KERJA

MATERI PELATIHAN

JAM PELATIHAN

Pengetahuan

Keterampilan

Sikap

Penge-tahuan

Kete-rampilan

  2.3  Pendekatan penyampaian materi sesuai dengan tujuan pembelajaran diaplikasikan – Dapat menjelaskan faktor yang menentukan gaya pembelajaran

– Mampu mengaplikasikan pendekatan penyampaian materi sesuai dengan tujuan pembelajaran

– Harus teliti, cermat, berpikir analitis dan evaluatif, serta konsisten

– Faktor yang menentukan gaya pembelajaran – Mengaplikasikan pendekatan penyampaian materi sesuai dengan tujuan pembelajaran – Teliti;

– Cermat;

– Berfikir analitis;

– Berfikir evaluatif;

– Konsisten;

  1. Merancang situasi pembelajaran yang akan dikembangkan dan memperkirakan waktu yang dibutuhkan
3.1  Situasi pembelajaran diidentifikasi dan dilaksanakan – Dapat menjelaskan cara analisis waktu kerja dan waktu belajar

– Mampu merancang situasi pembelajaran

– Harus teliti, cermat, berpikir analitis, sintesis, evaluatif, dan teratur

– Cara analisis waktu kerja dan waktu belajar – Merancang  situasi pembelajaran – Teliti;

– Cermat;

– Berfikir analitis;

– Berfikir sintesis;

– Berfikir evaluatif;

– Berfikir teratur

3

6

3.2  Pengembangan situasi pembelajaran dirancang dan dilaksanakan – Dapat menjelaskan teori belajar dan faktor yang mempengaruhi

– Mampu merancang dan melaksanakan pengembangan situasi pembelajaran

– Harus teliti, cermat, berpikir analitis, sintesis

– Teori belajar dan faktor yang mempengaruhi – Merancang dan melaksanakan pengem-bangan situasi pembelajaran – Teliti;

– Cermat;

– Berfikir analitis;

– Berfikir sintesis

  3.3  Waktu yang dibutuhkan dirancang untuk menyelesaikan sesi tiap unit kompetensi – Dapat menjelaskan cara mengidentifikasi tujuan, materi, metoda, media dan penilaian dalam pembelajaran

– Mampu merancang Waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan sesi pembelajaran sesuai Session plan

– Harus teliti, cermat, berpikir analitis, sintesis

– Cara mengidentifikasi tujuan, materi, metoda, media dan penilaian dalam pembelajaran – Merancang waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan sesi pembelajaran sesuai Session plan – Teliti;

– Cermat;

– Berfikir analitis;

– Berfikir sintesis

  1. Memilih metoda dan  media pembelajaran yang akan digunakan
4.1  Metoda pembelajaran dipilih dengan menyesuaikan urutan materi – Dapat menyebutkan dan menjelaskan jenis-jenis metoda pembelajaran

– Dapat menyebutkan dan menjelaskan faktor-faktor dalam memilih dan menetapkan metoda pembelajaran

– Mampu memilih metoda pembelajaran sesuai dengan urutan materi

– Harus teliti, cermat, berpikir evaluatif dan teratur

– Jenis-jenis metoda pembelajaran dalam peruntukannya

– Faktor-faktor dalam memilih dan menetapkan metoda pembelajaran

– Memilih metoda pembelajaran sesuai dengan urutan materi – Teliti;

– Cermat;

– Berfikir evaluatif;

– Berfikir teratur

3

6

  4.2  Media pembelajaran dipilih dengan menyesuaikan topik materi pembelajaran – Dapat menyebutkan jenis-jenis media pembelajaran

– Mampu memilih media pembelajaran sesuai dengan topik materi pembelajaran

– Jenis-jenis media pembelajaran dalam peruntukannya – Memilih media pembelajaran sesuai dengan topik materi pembelajaran – Teliti;

– Cermat;

– Berfikir evaluatif;

– Berfikir teratur

    – Harus teliti, cermat, berpikir evaluatif dan teratur      

  1. Merancang penilaian penilaian formatif dan sumatif yang digunakan                                       Merancang penilaian penilaian formatif dan sumatif yang digunakan
5.1  Materi penilaian formatif dirancang sesuai dengan pencapaian materi ajar – Dapat menjelaskan cara menilai perkembangan kompetensi peserta pelatihan

– Dapat menjelaskan jenis dan fungsi penilaian

– Mampu menetapkan bentuk  dan jenis materi penilaian formatif dan sumatif

– Harus teliti, cermat, berpikir evaluatif dan teratur

– Cara menilai perkembangan kompetensi peserta pelatihan

– Jenis Penilaian

– Fungsi penilaian

– Menetapkan bentuk  dan jenis materi penilaian formatif dan sumatif – Teliti;

– Cermat;

– Berfikir evaluatif;

– Berfikir teratur

3

9

  5.2  Materi penilaian sumatif dirancang sesuai dengan pencapaian materi ajar – Dapat menjelaskan cara mendisain penilaian pembelajaran

– Dapat menjelaskan prinsip dan syarat penilaian pembelajaran

– Mampu merancang materi penilaian formatif dan sumatif

– Harus teliti, cermat, berpikir evaluatif dan teratur, jujur, obyektif, dan konsisten

 

– Cara mendisain penilaian pembelajaran

– Prinsip dan syarat penilaian pembelajaran

– Merancang materi penilaian formatif dan sumatif – Teliti;

– Cermat;

– Berfikir evaluatif;

– Berfikir teratur

– Jujur;

– Obyektif;

– konsisten

 

 

 

BAB II

MATERI PELATIHAN

MERANCANG STRATEGI DAN PENILAIAN PEMBELAJARAN

 

 

 

  1. A.   Latar Belakang

Keberhasilan program pelatihan pada dasarnya adalah upaya upaya dalam menyampaikan materi pembelajaran atau strategi yang ditempuh dalam penyampaian materi pembelajaran. disamping itru alat uji/instrumen penilaiana juga terkait dalam menyusun strategi penilaian hasil pembelajaran

strategi pembelajaran berkaitan dengan tujuan pelatihan, materi pembelajaran, pemilihan metoda dan media yang digunakan sedangkan strategi penilaian hasil pembelajaran berkaitan dengan tujuan pelatihan, materi pembelajaran dan pemilihan instrumen penilaian yang digunakan

Oleh sebab itu strategi pembelajaran dan penilaian perlu dirancang sedemikian rupa agar tujuan pelatihan sekaligus kebutuhan pelatihan dapat terpenuhi.

 

  1. B.   Tujuan

Tujuan modul merancangstrategi dan penilaian pembelajaran adalah untuk memberi pengetahuan, ketrampilan dan sikap tentang penentuan urutan materi pembelajaran. Analisis gaya belajar peserta Pelatihan perseorangan dan kelompok memperkirakan waktu pembelajaran, memilih metoda dan media pembelajaran serta merancang instrumen penilaianformatis dan sumatif.

 

  1. Ruang Lingkup

Ruang lingkup kegiatan dalam mengevaluasi hasil program pelatihan dalam unit kompetensi ini meliputi kegiatan persiapan, pelaksanaan dalam penentuan urutan materi pembelajaran. Analisis gaya belajar peserta Pelatihan perseorangan dan kelompok memperkirakan waktu pembelajaran, memilih metoda dan media pembelajaran serta merancang instrumen penilaian formatif dan sumatif

 

 

 

  1. D.   Pengertian-pengertian
    1. Profesi

Profesi adalah suatu bidang pekerjaan yang menuntut sikap, pengetahuan serta keterampilan/keahlian kerja tertentu yang diperoleh dari proses pendidikan, pelatihan serta pengalaman kerja atau penguasaan sekumpulan kompetensi tertentu yang dituntut oleh suatu pekerjaan/jabatan.

  1. Standardisasi

Standardisasi adalah proses merumuskan, menetapkan serta menerapkan suatu standar tertentu.

  1. Pelatihan

Pelatihan adalah proses pembelajaran yang dilaksanakan untuk mencapai suatu kompetensi tertentu di mana materi, metode dan fasilitas pelatihan serta lingkungan belajar yang ada terfokus kepada pencapaian unjuk kerja pada kompetensi yang dipelajari.

  1. Kompetensi

Kompetensi adalah kemampuan seseorang untuk menunjukkan aspek sikap, pengetahuan dan keterampilan serta penerapan dari ketiga aspek tersebut di tempat kerja untuk mencapai unjuk kerja yang ditetapkan.

  1. Standar Kompetensi

Standar kompetensi adalah standar yang ditampilkan dalam istilah-istilah hasil serta memiliki format standar yang terdiri atas judul unit, deskripsi unit, elemen.

  1. Menganalisis

Menganalisis adalah menyelidiki dengan menguraikan bagian-bagiannya.

  1. Mengidentifikasi

Mengidentifikasi adalah menentukan atau menetapkan identitas orang, benda, dsb.

  1. Kebutuhan pelatihan

Kebutuhan pelatihan adalah kesenjangan antara kompetensi yang dipersyaratkan oleh suatu jabatan dengan kompetensi yang dimiliki calon peserta pelatihan.

 

 

  1. Program Pelatihan

Program pelatihan adalah suatu rumusan tertulis yang memuat secara sistematis tentang pemaketan unit-unit kompetensi sesuai dengan area kompetensi jabatan pada area pekerjaan sebagai acuan dalam penyelenggaraan Pelatihan Berbasis Kompetensi.

  1. Pelatihan Kerja

Pelatihan kerja adalah keseluruhan kegiatan untuk memberi, memperoleh, meningkatkan serta mengembangkan kompetensi kerja, produktivitas, disiplin, sikap dan etos kerja pada tingkat keterampilan dan keahlian tertentu sesuai dengan jenjang dan kualifikasi kompentensi/jabatan/ pekerjaan serta spesifikasi pekerjaan.

  1. Pelatihan Berbasis Kompetensi (yang selanjutnya disebut PBK)

PBK adalah proses pelatihan yang dilaksanakan untuk mencapai suatu kompetensi tertentu dimana materi, metode dan fasilitas pelatihan serta lingkungan pelatihan yang ada terfokus kepada pencapaian unjuk kerja.

  1. Lembaga Pelatihan Kerja (LPK)

Lembaga Pelatihan Kerja yang selanjutnya disebut LPK adalah suatu lembaga pemerintah/swasta/badan hukum atau perorangan untuk tempat diselenggarakannya proses pelatihan kerja bagi peserta pelatihan.

  1. Peserta Pelatihan

Peserta pelatihan adalah angkatan kerja yang telah memenuhi persyaratan teknis dan administrasi untuk mengikuti pelatihan tertentu dengan program pelatihan berbasis kompetensi.

  1. Instruktur

Instruktur adalah seseorang yang berfungsi sebagai fasilitator, pelatih, pembimbing teknis, supervisor yang bertugas untuk menyampaikan materi pelatihan kepada peserta pelatihan di LPK atau di tempat kerja selama proses pelatihan.

  1. Present Performance

Present performance atau kompetensi saat ini adalah pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dimiliki tenaga kerja saat ini.

 

  1. Formasi Lapangan Pekerjaan

Formasi lapangan pekerjaan adalah kesempatan/lowongan pekerjaan yang tersedia pada lapangan pekerjaan.

 

E. Diagram Alir

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

F. MERANCANG STRATEGI DAN PENILAIAN PEMBELAJARAN

 

1. Menentukan urutan materi praktek belajar mengajar (PBM)

a. pengetahuan

1)   Hirarkhi materi pelatihan

2)   Cara mengidentifikasi materi pelatihan

3)   Hirarkhi belajar

Dalam mempelajari suatu hal tertentu diperlukan pengetahuan yang sudah dikuasai sebelumnya agar memudahkan proses pembelajaran berikutnya. Sebagai contoh konkrit misalnya peserta akan menghitung luas suatu area yang berbentuk empat persegi panjang maka peserta harus mempuyai pengetahuan tentang panjang, lebar, keliling dan rumus tentang luas empat persegi panjang

Hirarki belajar adalah urutan sekuaensial dalam memahami pengetahuan dan ketrampilan, dengan demikian isi dan materi pembelajaran harus didasarkan pada hirarki belajar agar instruktur dapat mngajukan materi secara terstruktur dan pesrta dapat menyerap materi lebih focus dan bertahap sesuai dengan daya serap dan kemampuan fikir.

4)   Prinsip belajar

Secara umum urutan materi dalam proses pembelajaran harus dimulai dari materi yang mudah meningkat pada materi yang sedang baru menuju pada pembelajaran dengan materi yang sukar.

1. Deduktif

Cara berpikir dengan melakukan pemahaman dari hal hal yang bersifat khusus menjadi hal yang bersifat umum seperti memahami hal yang kecil sebagai bagian dari suatu sistem yang lebih besar.

2. Induktif

Cara berfikir dengan melakukan pemahaman dari hal-hal yang bersifat umum menjadi hal-hal yang bersifat khusus seperti menjadi kesimpulan sementara yang dapat dijadikan pedoman kebenaran secara ilmiah.

3. Daya Serap

Kemampuan peserta pelatihan untukmenyerap pengetahuan dari sumber ajar sering disebut sebagai daya serap

Menurut shelter, seseorang akan menyerap masukan melalui panca indra manusia mempunyai presentase respon yang berbeda, presentase tersebut menunjukkan tingkat pengetahuan yang akan disimpan dalam memori otak manusia, yaitu:

- Masukan yang diserap indera PENDENGAR akan terserap sebanyak 20 ℅ dari seluruh obyek yang dipaparkan

- Masukan yang diserap indera PENGLIHAT akan terserap sebanyak 30 ℅ dari seluruh obyek yang dipaparkan

- Masukan yang diserap indera PENDENGAR+PENGLIHAT akan terserap sebanyak 50  ℅ dari seluruh obyek yang dipaparkan

- Masukan yang diserap indera PENDENGAR+PENGLIHAT+DISKUSI akan terserap  sebanyak 70 ℅ dari seluruh obyek yang dipaparkan

- Masukan yang diserap indera PENDENGAR+PENGLIHAT+DISKUSI kemudian di aplikasikan langsung melakukan praktek maka materi akan terserap sebanyak 90 ℅ dari seluruh obyek yang dipaparkan

Peserta dapat memperolh pengetahuan dan ketrampilan secara lebih sempurna dengan cara memperbanyak praktek yang dapatdilakukan ditempat pelatihan maupun ditempat kerja. Selanjutnya peserta akan melengkapi dan mengembangkan setelah mempunyai pengalaman melaksanakan tugas tersebut terus menerus menjadi pengalaman kerja.

Agar dapat membuat urutan materi yang diajarkan seorang instruktur harus memahami beberapa hal seperti: ciri dan isi pelajaran, prinsip pemilihan isi materi, taksonomo bloom mengenai kecakapan belajar dari peserta.

Mendasarkan pada analisis jabatan untuk kebutuhan pelatihan dapat diperoleh berbagai jenis ketrampilan dan pengetahuan yang dapat dikembangkan melalui pelatihan dengan merancang program pelatihanberupa mteri materi pelatiha yang beorientasi pada jabatan kerja.

Materi pelatihan harus dirancang menurut prinsip prinsip belajar dengan urutan yang tepat yaitu :

  • Dari materi yang mudah menuju materi yang mempunya tingkat kesulitan yang tinggi
  • Dari materi yang bersifat “harus yang dikuasai/must know” menuju materi yang bersifat “sebaiknya diketahui/nice to know”
  • Dari materi yang sederhana menuju materi yang kompleks
  • Dari materi yang nyata menuju materi yang abstrak
  • Dari materi yang menyeluruh menuju materi yang rinci sehingga dapat diambil kesimpulan

Must know  : Pengetahuaan atau keterampilan yang wajib dikuasai untuk mampu menyelesaikan pekerjaan dengan benar, tepat, aman dan prosedural.

Should know : Pengetahuaan atau keterampilan yang bila dikuasai dapat membantu menyelesaikan pekerjaan tertentu dengan lebih cepat dan lebih baik.

Nice to know : Pengetahuaan atau keterampilan yang bila dikuasaai akan memperluas pengertian tentang pekerjaan, namun pengaruhnya tidak begitu banyak dalam penyelesaian pekerjaan.

 

Memilih isi dan materi pelajaran dapat dilakukan berdasarkan : Prioritas, waktu, nilai belajar, fasilitasnya, frekuensi penggunaan, kemungkinan digunakan dan karena kekhususannya.

b. Ketrampilan

1) Mengidentifikasi materi pelatihan sesuai dengan kebutuhan pelatihan

2) Menetapkan susunan dan urutan materi pelatihan sesuai dengan tahapan pembelajaran dan hirarkhi materi pelatihan

c. Sikap

1) Mengidentifikasi materi pelatihan sesuai dengan kebutuhan pelatihan harus dilakukan secara teliti, cermat, berfikir evaluatif dan konsisten

2) Menetapkan susunan dan urutan materi pelatihan sesuai dengan tahapan pembelajaran dan hirarkhi materi pelatihan harus dilakukan secara teliti, cermat, berfikir evaluatif dan konsisten.

 

2. Menganalisis gaya  belajar peserta pelatihan dan menentukan pendekatan pembelajaran untuk untuk mencapai tujuan pembelajaran

a. Pengetahuan

1)   Adult learning

Andragogik/Adult Learning

Andragogi adalah suatu model proses pembelajaran peserta pelatihan orang dewasa. Proses pembelajaran dapat terjadi dengan baik apabila metode dan teknik pembelajaran melibatkan peserta pelatihan. Keterlibatan ego peserta pelatihan adalah kunci keberhasilan pendidikan orang dewasa. Untuk itu sumber belajar hendaknya mampu membantu peserta pelatihan untuk :

  1. Mengidentifikasi kebutuhan
  2. Merumuskan tujuan belajar
  3. Memikul tanggung jawab dalam perencanaan dan penyusunan pengalaman belajar, dan
  4. Mengevaluasi kegiatan belajar

Dengan demikian setiap sumber belajar harus melibatkan partisipasi peserta sebanyak mungkin dalam kegiatan proses pembelajaran.

Menurut pandangan andragogi setiap peserta pelatihan mampu membantu peserta pelatihan dalam :

  1. Menciptakan suasana yang kondusif untuk belajar melalui kerjasama dalam merencanakan
  2. Menemukan kebutuhan belajar
  3. Merumuskan tujuan dan materi yang dapat memenuhi kebutuhan belajar
  4. Merancang pola belajar dalam sejumlah pengalaman belajar untuk peserta pelatihan
  5. Melaksanakan kegiatan belajar dengan menggunakan metode, teknik dan sarana belajar yang tepat
  6. Menilai kegiatan belajar serta mendiagnosis kembali kebutuhan belajar.

 

Orang dewasa mempunyai konsep diri

Orang dewasa memandang dirinya memiliki kemampuan untuk membuat keputusan tentang sesuatu dengan menghadapi segala resiko keputusannya, serta mengatur hidupnya secara mandiri. Harga diri adalah penting bagi setiap orang dewasa. Setiap orang dewasa memerlukan perilaku yang bersifat menghargai dalam hal pengambilan keputusan yang menyangkut diri dan kebutuhannya. Sikap yang terkesan menggurui cenderung akan ditanggapi negatif baik secara ekplisit maupun implisit. Mereka cenderung akan menghindar, menolak dan merasa tersinggung apabila diperlakukan seperti anak-anak. Mereka akan menolak situasi belajar yang kondisinya bertentangan dengan konsep dirinya sebagai individu yang mandiri. Sebaliknya jika mereka diperlakukan dengan penuh penghargaan dalam situasi belajar maka mereka akan melibatkan diri sepenuhnya dalam proses belajar tersebut. Karakteristik orang dewasa ini memberikan implikasi praktis dalam proses belajar-membelajarkan. Mereka perlu dilibatkan secara penuh dalam mendiagnosis kebutuhan belajar dan dalam merancang kegiatan belajarnya. Kegiatan belajar hendaknya bercorak partisipatif. Peserta pelatihan berfungsi sebagai pembimbing, fasilitator dan nara sumber.

Orang dewasa mempunyai akumulasi pengalaman

Setiap orang dewasa mempunyai pengalaman yang berbeda-beda sebagai akibat perbedaan latar belakang kehidupan pada masa sebelumnya. Makin lama ia hidup makin bertambah pula pengalaman yang ia miliki, dan makin berbeda pula pengalamannya dari pengalaman orang lain. Pengalaman orang dewasa mencakup antara lain pengalaman situasi, interaksi dan pengalaman diri. Pengalaman situasi merupakan sederetan situasi dimasa lalu yang diperoleh dan dapat digunakan untuk merespon situasi masa kini. Pengalaman interaksi menunjukkan pertambahan kemahiran orang dewasa dalam melihat dirinya sendiri dari sisi pandangan orang lain.

Pengalaman diri adalah kemahiran orang dewasa dalam memadukan kesadaran melihat dirinya dari sisi pandangan orang lain pada masa kini dengan berbagai situasi pada masa lalu. Dalam kegiatan belajar, orang dewasa mampu berpartisipasi berdasarkan pengalamannya. Mereka dapat menjadi sumber yang kaya untuk belajar. Belajar sesuatu yang baru bagi mereka mempunyai kecenderungan mengambil makna dari pengalamannya yang lama. Implikasi praktis dalam proses pembelajaran orang dewasa adalah bahwa mereka perlu dilibatkan untuk berperan sebagai nara sumber. Pengenalan konsep-konsep baru dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari akan lebih tepat apabila dijelaskan melalui pengalaman mereka sendiri (experiential learning).

 

Orang dewasa mempunyai masa kesiapan untuk belajar

Masa kesiapan belajar orang dewasa seirama dengan adanya peran sosial yang mereka tampilkan. Peran ini akan berubah sejalan dengan perubahan usianya. Kesiapan orang dewasa akan ikut berubah pula, apabila ia telah siap melakukan peran sebagai orang petani, maka tugas pertamanya adalah memperoleh pekerjaan dalam bidang pertanian. Pada saat telah siap untuk belajar sesuatu yang berkaitan dengan tugas pekerjaaannya, walaupun dia belum siap untuk belajar peran sosial lainnya. Dengan demikian implikasi praktis dalam proses pembelajaran disusun berdasarkan urutan tugas perkembangan perannya, bukan berdasarkan urutan logik mata pelajaran. Penyesuaian materi dan kegiatan belajar dengan kebutuhan belajar yang relevan dengan tugas perkembangan peranan orang dewasa perlu diutamakan.

 

Orang dewasa mempunyai pandangan untuk segera menerapkan hasil belajarnya.

Orang dewasa berpartisipasi dalam kegiatan belajar karena ia merespon sesuatu yang sedang dirasakan dalam kehidupannya.

Ia senantiasa berorientasi pada kenyataan. Oleh karena itu kegiatan membelajarkan orang dewasa perlu menekankan pada peningkatan kemampuannya untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupannya. Implikasi dalam proses pembelajaran adalah adanya program belajar yang berorientasi pada pemecahan masalah. Pengalaman belajar dirancang berdasarkan masalah yang dihadapi oleh orang dewasa.

 

Orang dewasa itu dapat belajar

Thorndike mengemukakan bahwa kemampuan belajar pada manusia akan menurun perlahan-lahan setelah mencapai usia 20 tahun. Namun studi Lorge mengungkapkan bahwa penurunan kemampuan itu hanya dalam kecepatan belajarnya, bukan dalam intensitas intelektualnya. Hasil penelitian lainnya menunjukkan bahwa dasar kemampuan untuk belajar pada manusia tetap ada sepanjang hayatnya. Apabila orang dewasa tidak menampilkan kemampuan belajar yang sebenarnya maka hal itu mungkin disebabkan oleh adanya perubahan-perubahan faktor fisiologik, seperti menurunnya pendengaran, penglihatan, atau tenaga sehingga kemampuan fisik orang dewasa akan mempengaruhi kecepatan belajarnya. Implikasi terhadap proses pembelajaran adalah bahwa sumber belajar yang dapat mendorong dan membantu orang dewasa untuk belajar sesuai dengan langkah yang mereka inginkan dan mereka tetapkan sendiri.

 

Belajar merupakan proses yang terjadi dalam diri orang dewasa

Setiap peserta pelatihan akan mengontrol langsung proses belajarnya sendiri dengan melibatkan semua potensi dirinya, termasuk potensi intelektual, emosi dan fisiknya. Belajar mengarah pada proses pemenuhan kebutuhan dan pencapaian tujuan. Ia merasakan adanya kebutuhan untuk belajar dan melihat tujuan pribadinya akan tercapai melalui interaksi antara diri dengan lingkungannya. Kualitas belajar akan dipengaruhi oleh kuantitas dan kualitas interaksi dengan lingkungannya. Dengan demikian seni melatih orang dewasa merupakan upaya mengelola lingkungan dan interaksi dalam proses belajar. Implikasi dalam proses pembelajaran perlu menggunakan metode dan teknik yang melibatkan peserta pelatihan secara intensif didalam mendiagnosis kebutuhan belajar, merumuskan tujuan, merangsang dan melaksanakan kegiatan serta menilai proses, hasil dan dampak belajarnya.

 

 

 

Perbedaan kondisi belajar memerlukan prinsip membelajarkan yang berbeda pula

 

Dalam proses pembelajaran orang dewasa ditemukan adanya kondisi belajar tertentu yang terungkap melalui transaksi. Hal ini dirasakan sesuai dengan kebutuhan dan linkungan belajar yang menyenangkan. Peserta pelatihan memandang tujuan belajar sebagai tujuan dirinya sendiri dan berpartisipasi dalam perencanaan dan pelaksanaan belajar. Proses belajar memanfaatkan pengalaman peserta pelatihan, dan merasakan kemajuan yang dicapai sesuai tujuan belajarnya. Kondisi ini berkaitan dengan prinsip pembelajaran orang dewasa.

Keberhasilan proses pembelajaran orang dewasa akan ditentukan oleh keterlibatan kedirian (ego) dalam tahap-tahap sebagai berikut :

1. menciptakan iklim belajar yang cocok

2. menciptakan situasi perencanaan partisipatif

3. mendiagnosis kebutuhan belajar

4. merumuskan tujuan belajar

5. merancang kegiatan belajar

6. melaksanakan kegiatan belajar

7. menilai proses dan perolehan dalam memenuhi kebutuhan belajar.

Kegiatan ini dilakukan dengan bimbingan sumber belajar yang berfungsi sebagai fasilitator dan nara sumber. Secara singkat orang dewasa belajar dengan baik jika :

  • pelatih memandu dan bukan mendikte proses belajar
  • lingkungan belajar harus bebas dan netral. Orang dewasa sering kali menolak informasi baru apabila mereka merasa terancam, dimanipulasi atau dikritik
  • mereka merasa bukan orang yang paling lemah

2)   Macam-macam gaya belajar beserta untung ruginya

 

gaya belajar peserta pelatihan secara peorangan

Keunikan Individu
Pada prinsipnya, tidak ada dua individu yang memiliki kecerdasan sama. Suatu individu mengaku belajar lebih baik dengan satu cara tertentu, sebagian yang lain mengaku bisa belajar dengan cara yang lain pula. Setiap orang memiliki gaya belajar yang unik. Tidak ada suatu gaya belajar yang lebih baik atau lebih buruk daripada gaya belajar yang lain. Tidak ada individu yang berbakat atau tidak berbakat. Setiap individu secara potensial pasti berbakat tetapi ia mewujud dengan cara yang berbeda-beda. Tidak ada individu yang pintar, individu yang bodoh. Ada individu yang cerdas secara logika-matematika, namun ada juga individu yang cerdas di bidang kesenian. Pandangan-pandangan baru yang bertolak dari teori Howard Gardner mengenai inteligensi ini telah membangkitkan gerakan baru pembelajaran, antara lain dalam hal melayani keberbedaan gaya belajar pebelajar. Suatu cara pandang baru inilah yang mengakui ke-unik-an setiap individu manusia.

Gaya Belajar: Temuan Riset

Beberapa penelitian yang mengungkap tentang gaya belajar seorang pebelajar dalam proses pembelajaran telah dilakukan para ahli adalah sebagai berikut:

a. Penelitian di Amerika Serikat yang dilakukan oleh Profesor Ken dan Rita Dunn dari Universitas St. John, di Jamaica, New York, dan para pakar Pemrograman Neuro-Linguistik seperti, Richard Bandler, John Grinder, dan Michael Grinder, telah mengidentifikasi tiga gaya belajar dan komunikasi yang berbeda: a) Visual. Belajar melalui melihat sesuatu. Kita suka melihat gambar atau diagram. Kita suka pertunjukan, peragaan atau menyaksikan video; b) Auditori. Belajar melalui mendengar sesuatu. Kita suka mendengarkan kaset audio, ceramah-kuliah, diskusi, debat dan instruksi (perintah) verbal; dan c) Kinestetik. Belajar melalui aktivitas fisik dan keterlibatan langsung. Kita suka “menangani”, bergerak, menyentuh dan merasakan/mengalami sendiri. (Rose & Nicholl, 2002:130).

b. Grinder dalam penelitiannya menyatakan bahwa dari setiap 30 siswa, 22 di antaranya rata-rata dapat belajar secara efektif selama gurunya menghadirkan kegiatan belajar yang berkombinasi antara visual, auditorial, dan kinestetik. Namun 8 siswa sisanya sedemikian menyukai salah satu bentuk pengajaran dibanding dua lainnya sehingga mereka mesti berupaya keras untuk memahami pelajaran bila tidak ada kecermatan dalam menyajikan pelajaran sesuai dengan cara yang mereka sukai. Untuk memenuhi kebutuhan ini, pengajaran harus bersifat multisensori dan penuh dengan variasi. (Silberman, 2006:28).

c. Lynn O’Brien, Direktur Studi Diagnostik Spesifik Rickville, Maryland, melakukan studi yang dilakukan lebih dari 5.000 siswa di Amerika Serikat, Hongkong, dan Jepang, kelas 5 hingga 12. Hasil studi yang diperoleh menunjukkan kecenderungan belajar berikut: Visual sebanyak 29%, Auditori sebanyak 34%, dan Kinestetik sebanyak 37%. Namun, pada saat mereka mencapai usia dewasa, kelebihsukaan pada gaya belajar visual ternyata lebih mendominasi, menurut tersebut. (Rose & Nicholl, 2002:131).

d. Hudson melakukan penelitian gaya kognitif kepada para pebelajar di London yang menemukan bahwa 30% subjek penelitian memiliki gaya konvergen, 30% memiliki gaya divergen, dan 40% memiliki gaya campuran divergen-konvergen. Hudson juga menemukan bahwa para pebelajar dari domain seni, termasuk desain, cenderung bergaya divergen, sementara itu para pebelajar dari domain sains cenderung bergaya konvergen. Ia menunjukkan bahwa para pebelajar dari domain seni cenderung lebih bebas menggunakan imajinasi mereka mengenai kegunaan-kegunaan berbeda dari suatu objek tertentu karena mereka merasa tidak terikat untuk bersikap praktis. Sebaliknya, para pebelajar domain sains lebih cenderung memikirkan kegunaan yang benar dari suatu objek serta terhambat untuk melakukan saran yang tidak praktis. (Pranata, 2002:20).

Keberhasilan proses pembelajaran antara lain ditentukan oleh kemampuan dan gaya kognitif guru sebagai penyampai pesan pengetahuan matematika serta kemampuan gaya dan koginitif siswa sebagai penerima pesan pengetahuan matematika. Selama proses interaksi seorang guru harus mengondisikan siswa-siswi yang memiliki perbedaan dalam cara memperoleh, menyimpan, dan menerapkan pengetahuan yang diperoleh. Bobbi DePorter dan Mike Hernacki (2007) dalam buku Quantum Learning memaparkan 3 (tiga) modalitas belajar seseorang yaitu: “modalitas visual, auditori atau kinestetik (V-A-K). Walaupun masing-masing dari kita belajar dengan menggunakan ketiga modalitas ini pada tahapan tertentu, kebanyakan orang lebih cenderung pada salah satu di antara ketiganya”

(b). gaya belajar peserta pelatihan secara kelompok

Agar dapat berlangsung secara optimal dan tercipta cooperative learning, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembentukan kelompok belajar, khususnya kelompok belajar yang terstruktur. “Pembentukan kelompok harus benar-benar dilihat keragamannya. Baik dari nilai akademisnya, jenis kelamin, bahkan agama dan budaya,” tutur wanita yang juga berkecimpung di Pusat Konseling Layanan Psikologi ini. Selain itu, masing-masing anggota kelompok hendaknya memberikan andil serta saling bekerja sama.

Lain lagi dengan belajar kelompok yang tidak terstruktur. Belajar kelompok yang seperti ini dipengaruhi oleh gaya belajar masing-masing anggotanya. Ada yang gaya belajarnya dengan melihat (visual), mendengarkan (auditori), membaca dan menulis (read&write), serta melakukan dengan gerak (kinestetik).

Biasanya yang menyukai belajar kelompok adalah mereka yang gaya belajarnya auditori, karena kebanyakan kegiatan belajar kelompok adalah diskusi yang berarti mereka banyak mendengarkan orang lain,” kata. Namun, tidak menutup kemungkinan bagi yang memiliki gaya belajar lain untuk bisa sukses dengan belajar kelompok. Salah satu caranya dengan variasi kegiatan dalam belajar kelompok itu, misalnya dengan membuat eksperimen dari hal-hal yang dipelajari. “Lagipula pada dasarnya tidak ada seorang pun yang hanya memiliki satu gaya belajar. Kebanyakan orang memiliki gabungan dari beberapa gaya belajar,” tambahnya.

Ada beberapa kelebihan belajar dengan kelompok dibandingkan belajar secara individual. “Bagi yang kemampuan akademisnya kurang, belajar kelompok berarti ada teman yang bisa membantu. Sedangkan mereka yang kemampuan akademisnya baik, bisa semakin meningkatkan kemampuannya,” jelas wanita yang mengenakan jilbab ini. Selain itu, dengan belajar kelompok, kita juga belajar bersosialisasi, berinteraksi dengan orang lain, mengutarakan pendapat, menyelesaikan konflik dengan teman, serta berpikir dengan sudut pandang yang berbeda. Ide yang kita punya pun bisa menjadi lebih baik setelah mendapat tambahan pendapat dari orang lain.

Namun bukan berarti belajar kelompok tidak ada halangannya. Paling sering terjadi adalah halangan yang berupa keinginan untuk mengobrol bersama teman pada waktu belajar kelompok. Banyak waktu yang terbuang karena bercerita, mengobrol, ataupun curhat. “Yang penting adalah kedisiplinan diri masing-masing,” nasehatnya. Kita perlu membagi kapan waktu untuk benar-benar belajar dan kapan waktunya mengobrol. Jadi, untuk mewujudkan belajar kelompok yang efektif, kita pun harus belajar mendisiplinkan diri.(ice, not)

3)   Hal-hal yang harus disiapkan dalam mengindentifikasi gaya belajar

 

4)   Teknik mengalisis gaya belajar setiap gaya belajar

5)   Faktor yang menentukan gaya pembelajaran

b. keterampilan

1)   Mengidentifikasi gaya belajar peserta secara perseorangan dan kelompok

2)   Menganalisis gaya belajar peserta

3)   Mengaplikasikan pendekatan penyampaian materi sesuai dengan tujuan pembelajaran

 

c. Sikap

1)   Mengidentifikasi gaya belajar peserta secara perseorangan dan kelompok harus dilakukan secara teliti

2)   Menganalisis gaya belajar peserta harus dilakukan dengan berfikir analitis

3)   Mengaplikasikan pendekatan penyampaian materi sesuai dengan tujuan pembelajaran harus dilakukan secara konsisten

 

3. Merancang situasi pembelajaran yang akan dikembangkan dan memperkirakan waktu yang dibutuhkan

a.pengetahuan

1)   Cara analisis waktu kerja dan waktu belajar

2)   Teori belajar dan faktor yang mempengaruhi

3)   Cara mengidentifikasi tujuan, materi, metoda, media dan penilaian dalam pembelajaran

b. keterampilan

1)   Merancang  situasi pembelajaran

2)   Merancang dan melaksanakan pengem-bangan situasi pembelajaran

3)   Merancang waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan sesi pembelajaran sesuai Session plan

c. Sikap

1)   Merancang  situasi pembelajaran harus dilakukan dengan cermat

2)   Merancang dan melaksanakan pengembangan situasi pembelajaran harus dilakukan dengan teliti

3)   Merancang waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan sesi pembelajaran sesuai Session plan harus dilakukan secara berfikir analitis

4. Memilih metode dan media pembelajaran yang akan digunakan

a. Pengetahuan

1)   Jenis-jenis metoda pembelajaran dalam peruntukannya

memilih metode pelatihan sesuai dengan urutan materi pembelajaran

(a) metode pelatihan

Metoda Pelatihan adalah prosedur atau menyajikan materi pelatihan agar peserta Pelatihan dengan efektif dan efisien.

(b). kriteria pemilihan metode

Macam-macam metoda melatih

Metoda Pelatihan yang dapat digunakan dalam proses Pelatihan terdapat banyak sekali jenis dan ragamnya, namun kunci pokok yang harus diyakini oleh instruktur adalah anda harus menguasai metoda itu agar pelaksanaan Pelatihan dapat berlangsung dengan baik dan mencapai tujuan dengan efektif.

Terdapat berbagai macam metoda pelatihan yang dapat digunakan instruktur pelatihan untuk melakukan transfer pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja kepada peserta pelatihan, namun secara garis besar dapat dikelompokkan dan 2 (dua) kelompok sebagai berikut:

Berpusat pada instruktur diantaranya:

1. Ceramah

2. Shop talk

3. Demonstrasi

Berpusat pada peserta diantaranya :

1.Tanya jawab

2. Praktik

3. Diskusi/role playing

4. Drilling

Selain hal-hal diatas masih terdapat banyak sekali metoda Pelatihan yang dapat digunakan dalam proses Pelatihan, misalnya : metoda outbound, metoda quantum learning dan lain sebagainya.

 

Metoda Pelatihan apapun sebenarnya dapat digunakan asal sesuai dengan faktor-faktor pemilihan metoda.

1. Metoda Ceramah

Metoda ini digunakan bersamaan dengan metoda tanya jawab, tahap awal sebagai elaborasi, instruktur menguraikan tentang substansi pokok yang terkandung dalam setiap materi Pelatihan, kemudian peserta mengajukan pertanyaan dan mengemukakan pendapatnya sesuai dengan topik yang sedang dibahas, selanjutnya instruktur menjawab pertanyaan dan mengomentari pendapat. Alat bantu yang dapat digunakan sangat bervariasi sesuai dengan ketersediaan dan kemampuan instruktur dalam mengoperasikan alat bantu tersebut, minimal menggunakan OHP (Overhead Projector dengan OHT/Overhead Transparancies). Namun bila tidak ads OHP sebaiknya tetap menggunakan alat bantu lain yang tersedia sepanjang dapat mendukung pencapaian tujuan belajar.

Metoda ceramah mempunyai manfaat, Kelebihan dan Kelemahan sebagai berikut :

a. Penggunaan

1)     Menjelaskan Pengetahuan

2)     Menjelaskan Prosedur

3)     Membuat korelasi antara bends dengan kata-kata

 

b. Kelebihan

1)    Indera yang dilibatkan lebih dari satu

2)         Dapat meningkat interaksi

3)         Dapat memelihara minat peserta

 

c. Kelemahan

1)        Memerlukan perencanaan clan persiapan

2)        Memerlukan lebih banyak fasilitas/slat bantu

  1. Metoda Shop Talk

Metoda pelatihan dengan cars menyajikan informasi melalui visualisasi benda-benda Kerja atau ilustrasi miniatur/mock-up kepada peserta pelatihan, sehingga penjelasan verbal dari instruktur menjadi muclah dimengerti. Metoda ini umumnya diberikan didalam workshop namun bisa juga diberikan di ruang kelas clan biasanya dilanjutkan dengan demonstrasi.

  1. Metoda Demonstrasi

Metoda untuk menyampaikan informasi secara langsung sesuai dengan prosedur atau langkah yang sebenarnya. Instruktur menjelaskan spa yang dilakukan, bagaimana melakukan, mengapa dilakukan, bila clan dimana dilakukan. Penggunaan metoda ini biasanya dikombinasikan dengan metoda lain seperti ceramah atau sholp talk.

a. Penggunaan

1)     Untuk pemelajaran yang mengedepankan ranch psikomotorik clan afektif

2)     Memvisualkan langkah clan proses

3)     Memperjelas hubungan antar unit/bagian bends.

b. Kelebihan

1)      Melibatkan lebih banyak indera

2)      Mempertinggi efisiensi waktu Pelatihan

3)      Meningkatkan partisipasi peserta

c. Kelemahan

1)      Perlu persiapan fasilitas clan peralatan

2)      Jumlah peserta yang terlibat terbatas.

4. Metoda Diskusi

Metoda pendalaman informasi dengan memanfaatkan respon peserta pelatihan terhadap suatu topik tertentu. Peran instruktur terbatas pada pemilihan topik, mengawasi diskusi dan menjaga agar diskusi tetap pada materi serta instruktur merangsang partisipasi peserta secara merata.

Pelaksanaan diskusi bisa dengan diskusi kelompok atau diskusi kelas, demikian pula dari sisi hasil, diskusi digunakan sebagai pendalaman materi atau untuk mengambil kesimpulan tertentu.

a. Penggunaan

1) Untuk memperdalam informasi yang diperoleh dari instruktur

2)         Untuk pelatihan memecahkan masalah

3) Mengembangkan cara berpikir.

b. Kelebihan

1)     Partisipasi clan Interaksi peserta tinggi

2)     Peserta dapat mengembangkan kemampuan menyampaikan pendapat dan berlatih sabar untuk mendengarkan pendapat orang lain

3)     Ticlak memerlukan sumber khusus.

c. Kelemahan

1)       Jumlah peserta yang terlibat terbatas.

2)       Waktu yang diperlukan relatif lama.

3)       Perlu pengetahuan moderasi.

5. Metoda bermain peran (Role Playing)

Metoda ini merupakan cara untuk mendalami informasi berupa pengetahuan atau keterampilan yang disertai sikap dengan cara memperagakan sesuatu sebagaimana hal sebenarnya, misalnya : berperan menjadi moderator maka berlatih menjadi moderator, peran sebagai guru clan murid, berperan sebagai pewawancara dan responder yang diwawancara. Metoda ini umumnya dipakai pada pelatihan soft skill seperti Pelatihan manajemen, Metodologi pelatihan/pencliclikan atau lainnya. Jadi kurang tepat digunakan untuk pelatihan hard sklii seperti pelatihan dibidang teknik ataupun productin training.

Contoh konkrit :

Bidang          : Bahasa lnggris.

 

Materi : Percakapan antara Konsultan dengan Klien dalam bahasa Inggris.

Peraga : Konsultan dan Klien.

6. Metoda Praktik

Metoda praktik adalah metoda untuk menyampaikan informasi yang berupa pengetahuan atau keterampilan dengan cara melakukan pekerjaan yang langsung berhubungan dengan benda kerja nyata atau melatih keterampilan teknis, seperti praktik mesin, listrik ataupun pelatihan tatalaksana rumah tangga.

Penggunaan metoda ini sangat bergantung pada fasilitas ruang, mesin,alat kerja clan bahan praktik yang tersedia dalam jumlah yang mencukupi kebutuhan disertai kemampuan instruktur untuk membimbing clan melatih peserta pelatihan dengan sikap kerja yang sempurna.

Metoda praktik dapat dilakukan berulang-ulang sampai peserta Pelatihan mampu melakukan sendiri dengan benar clan selamat sesuai dengan keselamatan clan kesehatan kerja.

Penggunaan metoda Pelatihan pada dasarnya merupakan hal pokok dalam penyampaian materi pada suatu Pelatihan, jadi jangan sekali-kali berpikiran bahwa penyampaian materi tanpa pengetahuan metodologi dapat berjalan dengan baik, efektif dan efisien. Hal yang lebih penting dari metoda Pelatihan adalah kesiapan instruktur didalam melakukan transfer of knowledge dengan cara mempersiapkan diri atas materi yang akan diajarkan dan penguasaan keterampilan instruktur terhadap materi paktik serta keterampilan berkomunikasi dengan siswa.Selain itu untuk menjadi instruktur yang baik harus menghayati filosofi why to teach tidak hanya how to teach saja.

2)   Faktor-faktor dalam memilih dan menetapkan metoda pembelajaran

Faktor-faktor dalam memilih metoda:

Penggunaan metoda Pelatihan oleh seorang instruktur harus ditetapkan melalui proses dan pertimbangan yang matang, proses penetapan dapat dimulai dari identifikasi metoda apa yang dikuasai oleh instruktur kemudian kondisi kelasnya

Seperti apa termasuk gaya belajar para peserta pelatihannya. Sedangkan

Pertimbangan dalam memilih metoda dapat dianalisis berdasarkan:

a. Tujuan belajar

b. Materi pelatihan

c. Jumlah peserta dan luas ruangan

d. Tingkat kemampuan peserta (level peserta)

e. Fasilitas yang tersedia

f.  Waktu (durasi dan timing)

g. Panca indera apa saja yang hendak dilibatkan

 

3)   Jenis-jenis media pembelajaran dalam peruntukannya

media pembelajaran/pelatihan

Media instruksional merupakan Alat Bantu yang berupa Audio, Visual ataupun Multi media yang banyak digunakan sebagai sarana didalam pertemuan atau pengajaran/pelatihan yang menggunakan ceramah untuk menyampaikan pesan atau pelajaran.

Alat Bantu seperti ini di lingkungkan pendidikan dan pelatihan sering disebut sebagai AVA atau Audio Visual Aid. Menurut Leslie J.Briggs dalam bukunya the Physical mean of conveying instructional content, dinyatakan bahwa Media Instruksional merupakan sarana yang dipakai untuk menyampaikan informasi pemelajaran.

Definisi Media Instrulksional/Pembelajaran

Media merupakan Alat bantu untuk menyampaikan pesan tertentu dari pemberi pesan kepada penerima pesan balk berupa cetakan, audio, visual maupun gabungan dari ketiganya.

Menurut : Hotma B.Pasaribu dan Agus Rahardi :

Media Instruksional adalah : Setiap sarana atau mekanisme yang digunakan untuk mengkomunikasikan informasi atau pesan kepada satu peserta Pelatihan atau lebih, sehingga dapat diterima dan dipahami secara efektif dan efisien.

Dengan demikian media instruksional atau yang disebut pula sebagai media pemelajaran dapat didefinisikan sebagai : Alat Bantu didalam kegiatan Pelatihan atau proses pemelajaran untuk memperjelas makna pesan yang disampaikan sehingga tujuan Pelatihan dapat dicapai dengan efektif.

 

(b). kriteria pemilihan media

Macam-macam alat peraga sebagai media pemelajaran:

Dalam Buku Alat Peraga Pelatihan (ML.2), yang disusun oleh Drs. Nahesson N. Tarigan dan kawan-kawan (Depnaker RI, 1987) dijelaskan bahwa secara umum alat peraga pemelajaran dapat dibedakan dalam berbagai macam seperti berikut :

  1. Bahan Cetakan
  2. Papan Display
  3. Peta Dan Chart
  4. Gambar Mati Yang Diproyeksikan
  5. Gambar Hidup Yang Diproyeksikan
  6. Tiga Dimensi
  7. Suara Yang Direkam

Namun sesuai dengan perkembangan teknologi, maka kini terdapat media yang berbasis komputer atau dikenal sebagai Multimedia yang dapat dimanfaatkan sebagai media pemelajaran interaktif.

Macam-macam alat peraga seperti diatas dapat dirinci sebagai berikut :

a. Bahan cetakan meliputi

  • Text books
  • Lesson plan
  • Modul
  • Learning Package
  • Learning guide
  • Buku manual
  • Buku referensi

 

 

b. Papan Display meliputi :

  • Papan Tulis (Whiteboard atau blackboard)
  • Papan temple/display
  • Banner

 

 

c. Chart meliput

  • Peta
  • Peta lipat (flip chart)
  • Flow chart :

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

d. Gambar mati yang diproyeksikan meliputi :

  • Over head projector
  • Slide
  • Film strip
  • Epidiascope

e. Gambar hidup yang diproyeksikan meliputi :

  • Film
  • Video compact disk (VCD)
  • Digital Video Disk (DVD)

f. Tiga dimensi meliputi:

  • Model (tiruan seukuran aslinya)
    • Mock up (Benda asli atau benda tiruan yang dipotong sebagian untuk memperlihakan keadaan yang terdapat didalamnya)
    • Miniatur (tiruan benda dalam skala yang lebik kecil daripada benda aslinya)
    • Maket (tiruan benda dengan lingkungan sekitarnya)

g. Suara yang direkam meliputi :

  • Dialog
  • Sandiwara

h. Multi media meliputi:

Yaitu alat bantu pelatihan yang berbasis komputer (computerized) bahkan ada yang dapat digunakan secara interaktif, diantaranya :

  • Alat bantu presentasi (Power point)
  • CAI (computer Aided Instruction)
  • Wahana tiruan (Simulator )
  • Wahana Maya (Virtual Aided)

Dalam proses pemelajaran dengan system CBT (Competence Based Training) dikenal istilah Sumber pemelajaran (Learning Resources) yang meliputi : Hardcopy, Softcopy dan Resources persons. Hardcopy dan Softcopy dikenal dengan istilah Teachware, sedangkan Resources persons termasuk guru, instruktur/pelatih.

Bila disandingkan dengan bahasan diatas maka yang termasuk Hardcopy adalah : Bahan cetakan, Papan display dan Peta dan chart .

Sedangkan yang termasuk Softcopy adalah Gambar mati yang diproyeksikan, Gambar hidup yang diproyeksikan, Tiga dimensi, Suara yang direkam dan Multimedia serta wahana maya seperti portal internet.

 

(c). cara memilih media

Faktor yang harus diperhatikan dalam memilih media pembelajaran Penggunaan media pemelajaran dalam pelatihan harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang melingkupi proses pemelajaran itu sendiri. Secara mendasar faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam pemilihan media pemelajaran /alat peraga adalah

  1. Tujuan belajar
  2. Tingkat kompleksitas materi pelajaran
  3. Indera yang dilibatkan
  4. Kemampuan siswa
  5. Metoda pelatihan
  6. Kemampuan instruktur
  7. Ketersediaan alat/fasilitas pelatihan

 

Hambatan yang mungkin dihadapi (Kondisi administratif dan ekonomi)

Untuk memahami konstelasi media pelatihan dan metoda pelatihan dalam konteks keseluruhan proses pemelajaran dapat diperiksa diagram pemilihan media/metoda pemelajaran.

 

 

Terdapat banyak hal yang harus dipertimbangkan dalam memilih media/metoda dan penentuannya agar proses pemelajaran dapat berlangsung secara efektif, sebagaimana terlihat dalam diagram diatas, namun yang jelas harus dipertimbangkan adalan melihat dari sisi instruktur dan dari sisi peserta pelatihan itu sendiri.

Penggunaan alat bantu pelatihan /media pembelajaran :

1. Perbedaan istilah dalam penggunaan :

  • AVA yang digunakan oleh instruktur disebut sebagai teaching aids
  • AVA yang digunakan oleh peserta disebut learning aids
  • AVA yang digunakan dalam Pelatihan disebut training aids

2. Alasan penggunaan AVA :

  • Untuk menarik perhatian peserta terhadap materi
  • Untuk memperjelas pengetahuan
    • Memberi pemahaman isi suara dan gambaran visual terhadap suatu obyek.

5. Teknik penggunaan AVA yang paling sering dipakai

Penggunaan AVA memerlukan keterampilan yang harus dikuasai oleh seorang instruktur, karena bilamana AVA digunakan secara sembarangan akan berakibat fatal yaitu tidak berfungsi dengan balk sehingga justru bisa menghambat proses pemelajaran/pelatihan.

A. Teknik penqqunaan white board :

1.    Biasakan menulis dengan huruf balok atau huruf latin dengan jelas

  • Besar huruf (font) dapat dilihat dari kursi paling belakang.
  • Spasi renggang.
  1. Saat menulis tidak membelakangi siswa
  2. Biasakan menulis cepat
  3. Jangan menulis sambil menjelaskan (kecuali menjelaskan rumus)
  4. Jangan menghapus tulisan dengan tangan
  5. Sebaiknya menulis dengan variasi warna spidol
  6. Biasakan menghapus white board saat selesai mengajar

 

Teknik penqqunaan OHP

Cara mengoperasikan OHP

  1. 1.    Siapkan OHT (transparan)
  2. Letakkan OHT diatas kaca Fresnel
  3. Hidupkan OHP (tekan tombol power), kemudian jelaskan materi.
  4. Matikan OHP, bila selesai menjelaskan materi
  5. Selalu memeriksa fungsi kipas pendingin
    1. Pada saat memberi penjelasan rinci atas tayangan OHT dengan OHP posisi berdiri instruktur jangan sampai menghalangi pandangan ke layar.
    2. Saat menjelaskan materi tulisan di whiteboard, jangan menyalakan OHP.

 

Penggunaan OHT

  1. Tunjukkan objek yang dijelaskan sedikit demi sedikit (dengan cars ditutup sebagian).
  2. Gunakan alat bantu untuk menunjukkan objek yang dijelaskan

a. Penunjukkan di layar dengan memakai Laser pointer

b. Penunjukkan di OHT -.

1)      Dengan memakai Ballpoint stick

2)      dengan alat penunjuk lain/tiruan

c. Hindari:

1)      Menunjuk di OHP dengan jari

2)      Menunjuk objek di layar/scree

3)      Mondar-mandir yang mengganggu reflektor ke layar

b. Keterampilan

1)   Memilih metoda pembelajaran sesuai dengan urutan materi

2)   Memilih media pembelajaran sesuai dengan topik materi pembelajaran

c. Sikap

3)   Memilih metoda pembelajaran sesuai dengan urutan materi harus dilakukan secara teliti

4)   Memilih media pembelajaran sesuai dengan topik materi pembelajaran harus dilakukan dengan teratur

5. Merancang penilaian formatif dan sumatif yang digunakan

a. Pengetahuan

1)   Cara menilai perkembangan kompetensi peserta pelatihan

EVALUASI HASIL PEMbELAJARAN

TUJUAN :

Muara akhir suatu pelatihan adalan kemampuan peserta menguasai materi sesuai dengan unit kompetensi yang dipelajari. Oleh karena itu dilakukan evaluasi Pelatihan/asesmen hasil pemelajaran atau uji pembelajaran/Asesmen dalam pelatihan yang bertujuan :

 

  • Untuk mengukur kemampuan peserta, sebelum/sesudah proses pemelajaran
  • Untuk mengetahui kemampuan peserta pada akhir pelatihan
  • Untuk meneliti masalah/kesulitan peserta dalam mengikuti pelatihan
  • Untuk mendapatkan bukti bahwa peserta Pelatihan telah mendemonstrasi kan kemampuannya sesuai dengan standar kompetensi.

(c). Cara merancang instrumen penilaian formatif.

(1). Sistem kaitan anatara tujuan khusus pembelajaran dengan instrumen penilaian (aktifitas, kondisi, standar).

(2). Pilih instrument penilaian.

(3). Integrasikan perbedaan instrumen penilaian yang digunakan

merancang materi/ intrumen penilaian sumatif sesuai dengan pencapaian materi pembelajaran.

(a) jenis-jenis instrument pengukur instrument penilaian

Jenis jenis instrument penilaian

Materi uji pembelajaran lebih dikenal dengan istilah soal atau adakalanya disebut juga sebagai instrumen uji, namun pada dasarnya merupakan alat untuk mengukur kemampuan peserta pelatihan didalam menguasai materi unit kompetensi yang dipelajari. Dalam konteks Uji Kompetensi materi uji dikenal dengan istilah assesment Tools yang berfungsi untuk mengukur kemampuan seseorang dalam menguasai unit kompetensi dalam bidang pekerjaannya.

Secara umum jenis materi uji didesain untuk mengukur kemampuan seseorang dalam ranah Keterampilan (Skill), Pengetahuan (Knowledge) dan Sikap kerja (Attitude). Namun dalam psikologi Pelatihan (dan juga psikologi pendidikan) pengertian yang sama dikenal dengan istilah ranah Psychomotoric=skill, ranah Cognetive=Knowledge dan ranah Affective=Attitude.

Konstelasi jenis materi uji dikaitkan dengan ranah tujuan yang hendak dicapai dapat diperiksa dalam diagram evaluasi.

 

 

Diagram evaluasi

 

 

2. APLIKASI BENTUK SOAL TEORI

a. Bentuk MULTIPLE CHOICE =

1)  Cocok untuk mengukur : pengertian, perkiraan.

2)    Untuk mengenali materi yang telah dipelajari secara komprehensif

b. Bentuk TRUE – FALLS = cocok untuk tes instruksional dalam memajukan perhatian dan memperkenalkan materi pelajaran khususnya materi yang hanya ada 2 (dua) pilihan saja.

c. Bentuk MATCHING = cocok untuk mengenali hubungan, membuat  gabungan, memberi nama dan identifikasi materi pelajaran

d. Bentuk RECALL = cocok untuk mengukur daya ingat peserta terhadap
materi yang telah diajarkan

e. Bentuk COMPLETE = cocok untuk mengukur kemampuan melengkapi esensi materi pelajaran yang telah dipelajari.

f. Bentuk IDENTIFIKASI = cocok untuk mengukur formasi yangmenyangkut siapa, apa, kapan, dimana serta mengenali kesalahan pads gambar, simbol, bagan, hitungan maupun penggunaan rumus.

9.   Bentuk ESSAY = cocok untuk mengukur kemampuan membandingkan, menjelaskan sebab-akibat, menjelaskan cara yang harus ditempuh dengan uraian lengkap dan komprehensif.

Pada dasarnya semua bentuk seperti diatas adalah balk selama digunakan sesuai dengan peruntukannya. Pada umumnya instruktur mendesain materi uji pembelajaran dengan cara memilih bentuk soal yang mudah dibuat saja tanpa mempertimbangkan banyak aspek.

 

 

CARA MENILAI SOAL TEORI :

Untuk mengolah data uji hasil pemelajaran dapat digunakan acuan sebagai berikut :

 

Untuk mendalami lebih lanjut mengenai evaluasi hasil belajar, dapat dibaca dalam buku Metoda Pendidikan, karangan Prof. Drs. Winamo Surachmad.

 

 

 

 

Merancang Materi Uji

PEDOMAN MENGKONSTRUKSI SOAL TEST

Dalam membuat materi uji pemelajaran atau yang selama ini dikenal sebagai soal, maka harus tunduk pada patokan yang telah ada untuk menjamin validitas dan reliabilitasnya. Perlu diklarifikasi bahwa dalam CBT, prosedur pengumpulan bukti seorang peserta Pelatihan yang akan dinyatakan kompeten dalam menguasai materi pemelajaran tidak harus dilakukan melalui uji teori, namun masih banyak metoda lainnya sebagaimana dijelaskan dalam diagram evaluasi yang tersaji pada halaman 34 diatas.

Selain itu dalam mengkonstruksi materi uji pembalajaran harus tetap berpedoman pada tujuan yang hendak dicapai dari sisi kognitifnya, yaitu = ranch pengertian, pe ph L. gatan (mengingat), analisis, sintesis dan sebagainya.

 

INSTRUMENT PENILAIAN PEMELAJARAN TEORI

SOAL TEST : BENAR —SALAH (TRUE —FALLS)

  1. Statement atau pernyataan yang dikemukakan hanya mengandung satu konsep
  2. Soal dibuat dengan menggunakan kalimat yang sederhana dan sependek mungkin
  3. Hindari penggunaan kalimat negatif ganda.
  4. Jangan menggunakan statement atau pernyataan yang sama dengan kalimat didalam referensi / buku diktat / modul.
  5. Contoh bentuk perintah :

Berilah tanda silang pada huruf B bila pernyataan benar dan huruf S bia pernyataan salah.

 

6. Contoh bentuk soal :

1)    Warna Bendera Indonesia yang berarti berani adalah merah ( B — S )

2)    Dalam memotong plat baja dengan las oxitelyn terdapat ketentuan bahwa posisi nozzle dengan steel plate harus membentuk sudut siku atau 90 derajat ( B — S )

 

SOAL TEST : PILIHAN GANDA (MULTIPLE CHOICE = MC)

  1. Tiap soal (item) harus terdiri atas satu pokok masalah
  2. Soal dibuat dengan menggunakan kalimat yang sederhana dan sependek mungkin
  3. Pilihan jawaban / option dibuat sesingkat mungkin, keterangan yang panjang sebaiknya diletakkan pada pernyataan
  4. Opsi (option) yang muncul sedapat mungkin mempunyai hubungan gramatikal yang benar dan relevan dengan pernyataan
  5. Hindari penggunaan opsi yang menyatakan: semuanya benar, atau a dan b benar; dan sejenisnya
    1. Sebaiknya satu soal tidak tergantung pada soal lain
    2. Jumlah opsi sebaiknya 4 dan maksimal 5 pilihan dengan teknik ” twice approximation” yaitu ada 2 opsi jawaban yang mirip dan satu diantaranya yang paling benar.
      1. Urutan jawaban yang benar dari seluruh soal agar dibuat tidak teratur untuk menghindari tebakan
      2. Setiap soal hendaknya berisikan pernyataan / informasi seperlunya sebelum menanyakan jawabannya
        1. Contoh bentuk perintah :

Berilah tanda silang pada altematif jawaban a,b,c atau d sebagai jawaban yang paling tepat atas pernyataan berikut.

 

SOAL TEST : MATCHING (MENJODOHKAN)

  1. Topik materi uji yang dikemukakan dengan menggunakan bentuk matching ini sebaiknya yang sejenis, tingkat perbedaannya tidak terlalu mencolok untuk menghindari cara menjawab yang gambling atau hanya menebak.
  2. Usahakan jumlah jawaban lebih banyak dari pada jumlah soalnya agar tidak mudah ditebak (menurut beberapa pakar pendidikan di department education, MIT-USA, jumlah pilihan jawaban dalam mendesain soal bentuk matching adalah jumlah soal + 10 %).
  3. Jangan membuat satu nomor soal yang ditulis bersambung ke halaman berikutnya, karena hal demikian dapat membingungkan peserta .
  4. Contoh petunjuk pengerjaannya :

Jodohkan pernyataan disebelah kiri dengan pilihan jawaban disebelah kanan dengan hanya menuliskan huruf nomor jawaban

SOAL TEST : MELENGKAPI (COMPLETION)

  1. Pernyataan / statement yang dikemukakan hanya mengandung satu kemungkinan jawaban yang benar.
  2. Jangan menggunakan statement atau pernyataan yang sama dengan kalimat didalam referensi/buku/diktat/modul.
  3. Ruang jawaban atau titik-titik yang disediakan harus sama panjang dan cukup untuk menuliskan jawabannya. Titik-titik yang tidak sama panjang seolah memberi petunjuk tentang panjang jawaban yang dikehendaki.
  4. Soal/materi uji dibuat dalam kalimat pernyataan bukan dalam bentuk pertanyaan
  5. Satu soal diperkenankan mempunyai titik-titik isian lebih dari satu, yang berada di tengah atau diakhir pernyataan atau keduanya.
  6. Contoh petunjuk pengerjaannya :

Isilah titik-titik pada pernyataan dibawah ini dengan tepat

7. Contoh bentuk soal :

Ditinjau dari langkah kompresi, motor dapat dibedakan menjadi……………………….

dan ……………………….

SOAL TEST : SHORT ANSWER

1. Soal short answer dapat dibuat dengan kalimat pernyataan maupun kalimat pertanyaan, asalkan substansi soal mudah dimengerti oleh peserta

2. Soal dibuat dalam kalimat yang ringkas

3. Jawaban soal dapat diminta dalam bentuk kalimat atau gambar/simbol.

4. Tititk-titik isian ditempatkan pada akhir kalimat

5. Contoh petunjuk pengerjaannya :

Jawablah dengan ringkas dan jelas soal dibawah ini

6. Contoh bentuk soal :

Pembibitan tumbuhan dengan sistem silang disebut ………………….

SOAL TEST : ESSAY

  1. Soal essay dibuat dengan kalimat sederhana clan sependek mungkin agar esensi soal mudah dipahami oleh peserta
  2. Setiap soal tidak memiliki ketergantungan dengan soal lain, misalnya           dari

soal 3 diatas…….. “, hinclari hal yang demikian.

3. Bilamana jawaban yang diminta lebih dari satu, tentukan dengan tegas berapa jumlah jawaban yang diminta,

Misalnya : Tulis clan jelaskan 6 klausul dari 8 klausul yang terdapat pada ISO 9000:2000′

  1. Contoh petunjuk pengerjaannya

Jawablah dengan ringkas dan jelas soal dibawah ini

 

INSTRUMENT PENILAIAN PRAKTIK

Untuk mengukur kemampuan psikomotorik peserta Pelatihan, harus didesain tugas-tugas/ pekerjaan yang clapat diukur clan mencerminkan pelaksanaan Kriteria Unjuk kerja yang diinginkan pads Stanclar Kompetensi, meliputi

1. Persiapan Kerja

2. Proses Keria

  1. Operation Plan / Langkah Kerja
  2. Keterampilan menggunakan clan merawat mesin clan peralatan
  3. Keterampilan menerapkan rumus, axioms, ketentuan ukuran.
  4. Keterampilan melaksanakan Kerja
  5. Keselamatan Kerja
  6. Kecepatan clan ketepatan dalam menyelesaikan pekerjaan.

3. Hasil Keria

  1. Spesifikasi
  2. Fungsi
  3. Penampilan
  4. Data

4. Menutup Pekerjaan

  1. Merapikan slat kerja
  2. Untuk lebih mendalam mengenai cara menguji sesuai teknik asesmen dalam CBT, disilahkan mempelajari Assessment Tools pada teknik Assessment atau menanya­kan kepada Instruktur/fasilitator)

    Membersihkan tempat clan fasilitas kerja

 

 

 

2)    Jenis Penilaian

 

DEFINISI :

Evaluasi adalah alat pengukur kondisi (awal, proses, akhir) suatu kegiatan pada kurun waktu tertentu.

Sementara pengertian Asesmen yang digunakan dalam konteks Pelatihan pada dasarnya juga merupakan bentuk evaluasi hasil pemelajaran selama peserta Pelatihan mengikuti Pelatihan di lembaga diktat profesi/ Lemabaga pelatihan kerja .

Bahwa metoda evaluasi mengikuti pola atau metoda yang dikembangkan sesuai asesmen yang digunakan dalam Pelatihan Berbasis Kompetensi (Competence Based Training =CBT) atau dalam Uji Kompetensi, hat itu tidak menjadi masalah selama tujuan Pelatihan tercapai.

Materi Uji pemelajaran tidak lain merupakan materi atau soal yang digunakan untuk mengukur kemampuan peserta Pelatihan dalam menguasai materi pemelajaran sekaligus sebagai alat untuk membuktikan kemampuan peserta Pelatihan sesuai dengan standar kompetensi.

  1. 1.      MANFAAT EVALUASI:

Manfaat evaluasi atau asesmen dapat digunakan untuk kepentingan sebagai berikut :

  1. Administrasi
  2. Pengawasan dan Kendall

Perbaikan dan Pengembangan (Metoda, Materi, Ava, Ruangan, Fasilitas,    Kurikulum dan lainnya).

 

MACAM-MACAM EVALUASI .

Menurut Kirkpatrick model, evaluasi pelatihan dapat dibedakan dalam empat tingkatan yaitu :

  1. 1.    Tingkatan Reaksi (Reaction Level)
  2. 2.    Tingkatan Pemelajaran (Learning Level)
    1. 3.    Tingkatan Perilaku atau perubahan keterampilan (Behavior or skill change Level)
    2. 4.    Tingkatan Dampak atau organisasi (Outcome or organizational Level)

Dalam kaitannya dengan unit kompetensi Merancang Strategi Pemelajaran dan Mated Uji Pemelajaran maka didalam buku ini lebih menyoroti mengenai evaluasi pelatihan pada tingkatan Pemelajaran (Learning Level) atau yang dalam bahasa pelatihan dikenal dengan istilah evaluasi hasil Belajar. Secara spesifik dalam pembahasan kali ini menggunakan istilah uji pembelajaran atau asesmen dalam pelatihan sebagai padanan dari pengertian evaluasi hasil belajar.

 

3)   Fungsi penilaian

4)   Cara mendisain penilaian pembelajaran

5)   Prinsip dan syarat penilaian pembelajaran

 

b. Keterampilan

1)   Menetapkan bentuk  dan jenis materi penilaian formatif dan sumatif

2)   Merancang materi penilaian formatif dan sumatif

 

c. Sikap

1)   Menetapkan bentuk  dan jenis materi penilaian formatif dan sumatif harus dilakukan dengan berfikir evaluatif

2)   Merancang materi penilaian formatif dan sumatif harus dilakukan dengan obyektif dan konsisten

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


BAB III

SUMBER-SUMBER LAIN

YANG DIPERLUKAN UNTUK PENCAPAIAN KOMPETENSI 

 

 

  1. A.      SUMBER-SUMBER PERPUSTAKAAN

 

  1. Daftar Pustaka

 

  1. Buku Referensi

 

 

  1. B.      DAFTAR PERALATAN/MESIN DAN BAHAN     

 

  1. Daftar Peralatan/Mesin

 

No.

Nama Peralatan/Mesin

Keterangan

1.1 Laptop Untuk di ruang teori
2 Peralatan game (meteran kayu lipat, bangku kecil, pentagon) Untuk setiap peserta

 

  1. Daftar Bahan

 

No.

Nama Bahan

Keterangan

1

-    Buku Kerja Setiap peserta

2

-    Balon Setiap peserta

3

-    Isolasi kertas besar Setiap peserta

4

-    Spidol besar Setiap peserta

5

-    Modul (buku informasi, buku penilaian) Setiap peserta

6

-    Materi test Setiap peserta

7

-    Kertas HVS A4 Setiap peserta

 

 

TIM PENYUSUN

 

No.

Nama

Institusi

Keterangan

Bambang Purwoprasetyo Asosiasi Instruktur Metodologi Pelatihan (AIMP)  
Robert B. Sitorus Asosiasi Instruktur Metodologi Pelatihan (AIMP)  
Rubito Asosiasi Instruktur Metodologi Pelatihan (AIMP)  
Ali Darokah BBPLKDN Bandung  
Annoordin BBPLKDN Bandung  
Herwadi BBPLKDN Bandung  
Rahmat Sudjali Badan Nasional Sertifikasi Profesi  
Darma Setiawan Badan Nasional Sertifikasi Profesi  
Sjahruddin Kaliky BBLKI Serang  
  1. 10.
Bambang Trianto BBLKI Serang  
  1. 11.
Muh. Yasir BBPLKLN Cevest Bekasi  
  1. 12.
Karyaman BBPLKLN Cevest Bekasi  
  1. 13.
Subandi Dit. Stankomproglat  
  1. 14.
Bayu Priantoko Dit. Stankomproglat  
  1. 15.
Atiek Chrisnarini Biro Hukum Depnakertrans  
  1. 16.
Senggono BLK Pasar Rebo  

 

Testimoni

artikel lainnya Merancang Strategi Dan Penilaian Pembelajaran PLK.MP02.003.01



bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
Sunday 18 March 2012 | blog

membuat account facebook BAB IV Peradaban Awal Indonesia dan Dunia A. Kompetensi Inti (KI) : KI.…

Friday 12 December 2014 | blog

  MODUL PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SUB BIDANG METODOLOGI PELATIHAN KERJA     MENENTUKAN TUJUAN, PRASYARAT, DAN…

Sunday 30 November 2014 | blog

Name Tags: Roommates place these tags on the backs of their chairs so that callers know…

Thursday 21 May 2015 | blog

  MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI            …