Advertisement
loading...

 

MODUL PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI

SUB BIDANG METODOLOGI PELATIHAN KERJA

 

 

MERANCANG MEDIA PEMBELAJARAN

DALAM BENTUK MEDIA CETAK

PLK.MP02.006.01

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BUKU INFORMASI

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DEPARTEMEN TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI R.I.

DIREKTORAT JENDERAL PEMBINAAN PELATIHAN DAN PRODUKTIVITAS

Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 51 Lt. 6.A Jakarta Selatan

 

KATA PENGANTAR

 

Dalam rangka mewujudkan pelatihan kerja yang efektif dan efesien dalam rangka meningkatkan kualitas dan produktivitas tenaga kerja diperlukan suatu sistem pelatihan yang sama. Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 31 tentang Sistem Pelatihan Kerja Nasional yang mengamanatkan bahwa pelatihan kerja berbasis kompetensi.

Dalam rangka menerapkan pelatihan berbasis kompetensi tersebut diperlukan adanya standar kompetensi kerja sebagai acuan yang diuraikan lebih rinci ke dalam program, kurikulum dan silabus serta modul pelatihan.

Untuk memenuhi salah satu komponen dalam proses pelatihan tersebut maka disusunlah modul pelatihan berbasis kompetensi Merancang Media Pembelajaran dalam Bentuk Media Cetak yang mengacu pada Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) Sektor Jasa Kemasyarakatan, Sosial, Budaya dan Perorangan Sub Sektor jasa Kegiatan Lainnya Bidang Jasa Lainnya Sub Bidang Metodologi Pelatihan Kerja yang telah ditetapkan dengan Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi R.I. Nomor KEP.140/MEN/VI/2008.

Modul pelatihan berbasis kompetensi ini, terdiri dari 3 buku yaitu Buku Informasi, Buku Kerja dan Buku Penilaian. Ketiga buku tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh, dimana buku yang satu dengan yang lainnya saling mengisi dan melengkapi, sehingga dapat digunakan untuk membantu pelatih dan peserta pelatihan untuk saling berinteraksi.

Demikian modul pelatihan berbasis kompetensi ini kami susun, semoga bermanfaat untuk menunjang proses pelaksanaan pelatihan di lembaga pelatihan kerja.

 

Jakarta,     Desember 2009


DAFTAR ISI

 

 

KATA PENGANTAR —————————————————————————   1

DAFTAR ISI ———————————————————————————–   2

BAB I    STANDAR KOMPETENSI KERJA NASIONAL (SKKNI) DAN SILABUS PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI (PBK) —————————————————————-   4

  1. Standar Kompetensi Kerja Nasional (SKKNI) ——————————-   4
  2. Unit Kompetensi Prasyarat —————————————————-   8
  3. Silabus Pelatihan Berbasis Kompetensi (PBK) ——————————-   9

BAB II   MERANCANG MEDIA PEMBELAJARAN DALAM BENTUK MEDIA CETAK—— 15

  1. Latar Belakang ——————————————————————  15
  2. Tujuan —————————————————————————  15
  3. Ruang Lingkup ——————————————————————  16
  4. Pengertian Istilah ————————————————————–  16
  5. Diagram Alir Unjuk Kerja Pencapaian Kompetensi ————————-  16
  6. Materi Pelatihan Merancang Media Pembelajaran dalam bentuk Media Cetak  17
    1. Mengenali media pembelajaran untuk membuat media cetak ———  17

a. Media pembelajaran —————————————————-  17

b. Jenis-jenis media pembelajaran —————————————  18

c. Jenis-jenis media cetak ————————————————-  20

d. Kelebihan dan kelemahan media cetak ——————————-  22

e. Fungsi media pembelajaran dalam bentuk media cetak ————  23

  1. Merancang media pembelajaran dalam bentuk media cetak ———-  36
  2. Membuat / mengadopsi media media pembelajaran dalam bentuk media cetak    39
  3. Meyakinkan kepada pihak-pihak yang terkait tentang pembuatan materi pembelajaran dalam bentuk media cetak ——————————-  40
    1. Teknik Presentasi ——————————————————-  40
    2. Teknik Negosiasi ——————————————————-  40

 

 

BAB III SUMBER-SUMBER YANG DIPERLUKAN UNTUK PENCAPAIAN KOMPETENSI —–

  1. Sumber-sumber Perpustakaan ————————————————  43

1. Daftar Pustaka —————————————————————  43

2. Buku Referensi —————————————————————  43

  1. Daftar Peralatan/Mesin dan Bahan ——————————————  43
  2. Daftar Peralatan/Mesin————————————————— 43
  3. Daftar Bahan————————————————————— 43

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

STANDAR KOMPETENSI KERJA NASIONAL (SKKNI)

DAN SILABUS PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI (PBK)

 

  1. A.       STANDAR KOMPETENSI KERJA NASIONAL (SKKNI)
  2. KODE UNIT
: PLK.MPO2.006.01
  1. JUDUL UNIT
: Merancang Media Pembelajaran dalam Bentuk Media Cetak
  1. DESKRIPSI UNIT
: Unit ini merupakan kompetensi yang berhubungan dengan pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja dalam Merancang media pembelajaran dalam bentuk media cetak.

 

ELEMEN KOMPETENSI

KRITERIA UNJUK KERJA

  1. Mengenali  media pembelajaran untuk membuat media cetak
1.1  Media cetak yang tersedia diidentifikasi sesuai dengan fungsi dan kelengkapannya

1.2  Media cetak yang akan digunakan dipilih berdasarkan tujuan dari materi pembelajaran

  1. Merancang media pembelajaran dalam bentuk media cetak
2.1  Materi pembelajaran ditetapkan sesuai dengan tujuan pembelajaran

2.2  Materi pembelajaran dirancang dalam bentuk media cetak

  1. Membuat/mengadopsi media pembelajaran dalam bentuk media cetak
3.1  Materi pembelajaran dipilih sesuai substansi yang mewakili keseluruhan materi (must know)

3.2  Materi yang telah dipilih dibuat/diadopsi dalam bentuk media cetak

  1. Meyakinkan kepada pihak-pihak yang terkait tentang pembuatan materi pembelajaran dalam bentuk media cetak
4.1  Presentasi dan negosiasi mengenai pentingnya pembuatan media cetak sebagai learning aid dilakukan kepada pihak-pihak yang berkepentingan

4.2  Pihak-pihak yang terkait dalam pembuatan media cetak  diyakinkan

 

 

  1. 4.      Batasan Variabel:
    1. Batasan konteks:

Unit ini berlaku untuk mengenali  media pembelajaran untuk membuat media cetak, merancang media pembelajaran dalam bentuk media cetak,  membuat/mengadopsi media pembelajaran dalam bentuk media cetak, serta meyakinkan kepada pihak-pihak yang terkait tentang pembuatan materi pembelajaran dalam bentuk media cetak yang digunakan untuk merancang media pembelajaran dalam bentuk media cetak pada bidang metodologi pelatihan.

  1. Perlengkapan (alat dan bahan) untuk merancang pembuatan sarana pendukung pembelajaran mencakup :

1)   Proposal.

2)   Media presentasi.

3)   Buku literatur/referensi.

4)   Alat tulis kantor.

  1. Tugas pekerjaan untuk Merancang media pembelajaran dalam bentuk media cetak sebagai bagian dari program pelatihan meliputi :

1)   Memilih media cetak yang akan digunakan berdasarkan tujuan dan materi pembelajaran.

2)   Menetapkan materi pembelajaran sesuai dengan tujuan pembelajaran.

3)   Merancang materi pembelajaran dalam bentuk media cetak.

4)   Membuat/mengadopsi materi yang telah dipilih dalam bentuk media cetak.

5)   Melakukan presentasi dan negosiasi mengenai pentingnya pembuatan media cetak sebagai learning aid dilakukan kepada pihak-pihak yang berkepentingan.

6)   Meyakinkan pihak-pihak yang terkait dalam pembuatan media cetak .

  1. Peraturan untuk Merancang media pembelajaran dalam bentuk media cetak sebagai bagian dari program pelatihan adalah :

1)   Pedoman pembuatan sarana pembelajaran.

2)   Pedoman pelatihan berbasis kompetensi.

 

  1. PANDUAN PENILAIAN:
    1. Penjelasan prosedur penilaian :

Alat, bahan, dan tempat penilaian serta unit kompetensi yang harus dikuasai sebelumnya yang diperlukan sebelum menguasai unit kompetensi ini dengan unit-unit kompetensi yang terkait :

1)   PLK.MP02.002.01 Menentukan tujuan, prasyarat dan materi pelatihan.

2)   PLK.MP02.003.01 Merancang strategi dan penilaian pembelajaran.

  1. Kondisi Penilaian:

1)   Kondisi penilaian merupakan aspek dalam penilaian yang sangat berpengaruh atas tercapainya kompetensi tersebut yang terkait dengan mengenali  media pembelajaran untuk membuat media cetak, merancang media pembelajaran dalam bentuk media cetak, membuat/mengadopsi media pembelajaran dalam bentuk media cetak, serta meyakinkan kepada pihak-pihak yang terkait tentang pembuatan materi pembelajaran dalam bentuk media cetak yang digunakan untuk merancang media pembelajaran dalam bentuk media cetak sebagai bagian dari program pelatihan.

2)   Penilaian dapat dilakukan dengan cara : lisan, tertulis, demonstrasi/praktik.

3)   Penilaian dapat dilaksanakan secara : simulasi di workshop dan atau di tempat kerja.

  1. Pengetahuan yang dibutuhkan :

Pengetahuan yang dibutuhkan untuk mendukung unit kompetensi ini sebagai berikut :

1)   Media cetak yang akan digunakan dipilih berdasarkan tujuan dan materi pembelajaran.

2)   Materi pembelajaran dipilih sesuai substansi yang mewakili keseluruhan materi (must know).

  1. Keterampilan yang dibutuhkan :

Keterampilan yang dibutuhkan untuk mendukung unit kompetensi ini sebagai berikut :

1)   Memilih media cetak yang akan digunakan berdasarkan tujuan dan materi pembelajaran.

2)   Menetapkan materi pembelajaran sesuai dengan tujuan pembelajaran.

3)   Merancang materi pembelajaran dalam bentuk media cetak.

4)   Membuat/mengadopsi materi yang telah dipilih dalam bentuk media cetak.

5)   Melakukan presentasi dan negosiasi mengenai pentingnya pembuatan media cetak sebagai learning aid dilakukan kepada pihak-pihak yang berkepentingan.

6)   Meyakinkan pihak-pihak yang terkait dalam pembuatan media cetak.

  1. Aspek Kritis:

Aspek kritis  yang merupakan kondisi kerja yang harus diperhatikan dalam mendukung unit kompetensi ini, sebagai berikut:

1)   Ketersediaan bahan pembuatan media pembelajaran dalam bentuk media cetak.

2)   Perbedaan persepsi dalam mendisain media cetak.

3)   Kompetensi CBT dalam merancang learning material.

 

  1. KOMPETENSI KUNCI

No

Kompetensi Kunci Dalam Unit ini

Tingkat

1 Mengumpulkan, menganalisa dan mengorganisasikan informasi

2

2 Mengkomunikasikan informasi dan ide-ide

2

3 Merencanakan dan mengorganisasikan kegiatan

2

4 Bekerjasama dengan orang lain dan kelompok

2

5 Menggunakan gagasan secara matematis dan teknis

2

6 Pemecahan masalah

3

7 Penggunaan teknologi

2

 

 

 

 

  1. B.       UNIT KOMPETENSI PRASYARAT

Sebelum mengikuti pelatihan unit kompetensi Merancang Media Pembelajaran dalam Bentuk Media Cetak ini peserta harus sudah kompeten untuk unit kompetensi sebagai berikut :

- PLK.MP02.002.01   Menentukan tujuan, prasyarat dan materi pelatihan.

- PLK.MP02.003.01   Merancang strategi dan penilaian pembelajaran

 

 

 

  1. C.       SILABUS PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI (PBK)

Judul Unit Kompetensi             :    Merancang Media Pembelajaran dalam Bentuk Media Cetak

Kode Unit Kompetensi             :    PLK.MP02.006.01

Deskripsi Unit Kompetensi        :    Unit ini merupakan kompetensi yang berhubungan dengan pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja dalam Merancang media pembelajaran dalam bentuk media cetak.

Perkiraan Waktu Pelatihan        :    70 Jp @ 45 Menit

Tabel Silabus Unit Kompetensi  :

 

ELEMEN KOMPETENSI

KRITERIA

UNJUK KERJA

INDIKATOR

UNJUK KERJA

MATERI PELATIHAN

PERKIRAAN

WAKTU PELATIHAN

Pengetahuan

Keterampilan

Sikap

Penge-tahuan

Kete-rampilan

  1. Mengenali media pembelajaran untuk membuat media cetak
1.1  Media cetak yang tersedia diidentifikasi sesuai dengan fungsi dan kelengkapan-nya – Dapat menyatakan pengertian media pembelajaran

– Dapat menyebutkan dan menjelaskan jenis-jenis media pembelajaran

– Dapat menyebutkan dan menjelaskan jenis-jenis media cetak

– Dapat menjelaskan kelebihan dan kelemahan media cetak

– Dapat menjelaskan fungsi media pembelajaran dalam bentuk media cetak

– Mampu mengidentifikasi media cetak sesuai dengan fungsi dan kelengkapannya

– Harus berpikir evaluatif, cermat dan teliti

– Pengertian Media Pembelajaran

– Jenis-jenis Media Pembelajaran

– Jenis-jenis media cetak

– Kelebihan dan kelemahan media cetak

– Fungsi Media Pembelajaran dalam Bentuk Media Cetak

– Mengidentifikasi media cetak sesuai dengan fungsi dan kelengkapannya – Cermat

– Teliti

– Berpikir evaluatir

4

8

  1.2  Media cetak yang akan digunakan dipilih berdasarkan tujuan dan materi pebelajaran – Dapat menyebutkan dan menjelaskan faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam memilih media cetak

– Mampu memilih media cetak yang akan digunakan berdasarkan tujuan dan materi pembelajaran

– Harus cermat dan teliti

– Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam memilih Media Cetak :

-   Kesesuaian dengan tujuan, materi pembelajaran, karakteristik siswa, jenis rangsangan belajar, biaya, waktu, ketersediaan dan ketepatgunaan (konteks penggunaan) serta mutu teknis)

– Memilih media cetak yang akan digunakan berdasarkan tujuan dan materi pembelajaran – Cermat

– Teliti

   
  1. Merancang media pembelajaran dalam bentuk media cetak
2.1  Materi pembelajaran ditetapkan sesuai dengan tujuan pembelajaran – Dapat menjelaskan cara menetapkan materi pembelajaran dalam bentuk media cetak

– Mampu menetapkan materi pembelajaran dalam bentuk media cetak

– Harus cermat, teliti, dan taat asas

– Cara menetapkan materi pembelajaran dalam bentuk media cetak – Menetapkan materi pembelajaran sesuai dengan tujuan pembelajaran – Cermat

– Teliti

– Taat asas

4

8

  2.2  Materi pembelajaran dirancang dalam bentuk media cetak – Dapat menyebutkan dan menjelaskan faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam perancangan media cetak

– Mampu merancang materi pembelajaran dalam bentuk media cetak

– Harus cermat, teliti, dan kreatif

– Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam perancangan media cetak :

(Kemampuan dalam menyajikan bahasa tulisan disesuaikan dengan peserta didik, gambar, foto, diagram, symbol, ukuran (size) besar atau kecil, warna (color) hitam-putih atau berwarna, kesesuaian tulisan dengan gambar/foto/grafik)

– Merancang materi pembelajaran dalam bentuk media cetak – Cermat

– Teliti

– Kreatif

   
      – Prosedur Perancangan media pembelajaran dalam bentuk media cetak.

– Perencanaan (Memilih sistem produksi, gambar sesuai isi materi, warna, kata-kata agar lebih mudah dimengerti, menggunakan simbol-simbol, font (huruf) dan pertimbangan perencanaan menyangkut hasil, anggaran, waktu dan penyaluran (distribus) serta form dasar perencanaan media cetak mulai dari memilih system produksi sampai pertimbangan perencanaan ).

– Pembuatan Media pembelajaran dalam bentuk media cetak (Menulis headline/judul, bodycopy/isi berupa teks, gambar, symbol dll)

   
  1. Membuat/ mengadopsi media pembelajaran dalam bentuk media
3.1  Materi pembelajaran dipilih sesuai substansi yang mewakili keseluruhan materi (must know) – Dapat menjelaskan pertimbangan-pertimbangan dalam memilih materi pembelajaran agar sesuai dengan substansi yang mewakili keseluruhan materi

– Mampu memilih materi pembelajaran sesuai substansi yang mewakili keseluruhan materi

– harus cermat, teliti, dan kreatif

– Pertimbangan-pertimbangan dalam memilih materi pembelajaran agar sesuai dengan substansi yang mewakili keseluruhan materi – Memilih materi pembelajaran sesuai substansi yang mewakili keseluruhan materi – Cermat

– Teliti

– kreatif

3

23

  3.2  Materi yang telah dipilih dibuat/ diadopsi dalam bentuk media cetak – Dapat menjelaskan pertimbangan-pertimbangan dalam membuat/mengadopsi materi dalam bentuk media cetak

– Mampu membuat/ mengadopsi media pembelajaran dalam bentuk media cetak

– Harus cermat, teliti, dan kreatif

– Pertimbangan-pertimbangan dalam membuat/mengadopsi materi dalam bentuk media cetak – Membuat/mengadopsi media pembelajaran dalam bentuk media cetak – Cermat

– Teliti

– Kreatif

   
  1. Menyakinkan kepada pihak-pihak yang terkait tentang pembuatan materi pembelajaran dalam bentuk media cetak
4.1  Presentasi dan negosiasi mengenai pentingnya pembuatan media cetak sebagai learning aid dilakukan kepada pihak-pihak yang berkepentingan – Dapat menjelaskan teknik presentasi

– Dapat menjelaskan teknik negosiasi

– Mampu Mempresenta- sikan dan menegosiasikan pentingnya pembuatan media cetak sebagai learning aid kepada pihak-pihak terkait

– Harus berpikir teratur, empati, dan sopan

– Teknik presentasi

– Teknik negosiasi

– Mempresentasikan dan menegosiasikan pentingnya pembuatan media cetak sebagai learning aid kepada pihak-pihak terkait – Berpikir teratur

– Empati

– Sopan

4

16

  4.2  Pihak-pihak yang terkait dalam pembuatan media cetak diyakinkan – Dapat menjelaskan teknik komunikasi persuasif

– Mampu Menyakinkan pihak-pihak terkait untuk membuat media cetak

– Harus berpikir teratur, empati, dan sopan

– Teknik komunikasi persuasif – Menyakinkan pihak-pihak terkait untuk membuat media cetak – Berpikir teratur

– Empati

– Sopan

   

 

 

 

 

BAB II

MERANCANG MEDIA PEMBELAJARAN DALAM BENTUK MEDIA CETAK

 

 

  1. A.      Latar Belakang

Mengajar atau melatih merupakan sistem lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran terdapat komponen-komponen yang saling mempengaruhi, yaitu komponen tujuan pembelajaran yang ingin dicapai, materi yang diajarkan, instruktur dan siswa yang harus memainkan peran masing-masing, serta sarana dan prasarana pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran.

Pembelajaran adalah suatu proses terjadinya interaksi antara peserta pelatihan dan instruktur dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran, yang berlangsung dalam suatu lokasi tertentu dalam jangka satuan waktu tertentu pula.

Agar proses pembelajaran dapat bejalan dengan lancar, maka instruktur harus menyiapkan media pembelajaran yang akan digunakan untuk melaksanakan tugasnya dalam membantu siswa belajar sehingga siswa dapat belajar dengan mudah dan bersemangat. Media cetak sebagai salah satu media pembelajaran harus dipilih sesuai dengan tujuan dan materi pelatihan yang akan diberikan. Untuk itulah materi pelatihan ”merencanakan media pembelajaran dalam bentuk media cetak’ ini diperlukan

 

  1. B.      Tujuan

Tujuan dari buku informasi ”merancang media pembelajaran dalam bentuk media cetak” ini adalah untuk memberikan informasi bagi  pengguna modul   bagaimana mengenali media pembelajaran untuk membuat media cetak, merancang media pembelajaran dalam bentuk media cetak, membuat media pembelajaran dalam bentuk media cetak, dan  meyakinkan kepada pihak terkait tentang pembuatan media cetak.

 

 

 

 

  1. C.      Ruang Lingkup

Ruang lingkup buku informasi modul  merancang media pembelajaran dalam bentuk media cetak mencakup informasi tentang pengertian media pembelajaran, jenis-jenis media pembelajaran, jenis-jenis media cetak, kelebihan dan kekurangan media cetak, fungsi media cetak, cara memilih media cetak berdasarkan tujuan dan materi pembelajaran serta merancang materi pembelajaran dalam bentuk media cetak

 

  1. D.     Pengertian-pengertian
    1. Kompetensi kerja adalah kemampuan kerja setiap individu yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja yang sesuai dengan standar yang ditetapkan.
    2. Media pembelajaran

 

  1. E.     

    Mulai

    Selesai

    Mengenali media pembelajaran untuk membuat media cetak

    Merancang media pembelajaran dalam bentuk media cetak

    Membuat/ Mengadopsi media pembelajaran dalam bentuk media cetak

     

    Meyakinkan kepada pihak terkait tentang pembuatan materi pembelajaran dalam bentuk medai cetak

    Diagram Alir

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. F.      MATERI PELATIHAN MERANCANG MEDIA PEMBELAJARAN DALAM BENTUK MEDIA CETAK
    1. Mengenali media pembelajaran untuk membuat media cetak

Sebelum merancang media pembelajaran dalam bentuk media cetak, perlu dibahas dulu pengetahuan tentang media pembelajaran dan media cetak.

Pengetahuan yang diperlukan dalam mengindentifikasi dan memilih media pembelajaran untuk membuat media cetak. (sesuaikaan dng kuk)

  1. Media pembelajaran

Kata media berasal dari bahasa Latin medio? Dalam bahasa Latin media diartikan sebagai antara. Media merupakan bentuk jamak dari medium yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Secara khusus kata tersebut dapat diartikan sebagai alat komunikasi yang digunakan untuk membawa informasi dari satu sumber kepada penerima. Dikaitkan dengan pembelajaran, media diartikan sebagai alat komunikasi yang digunakan dalam proses pembelajaran untuk membawa informasi berupa materi ajar dari instruktur kepada peserta pelatihan sehingga peserta pelatihan menjadi lebih tertarik untuk mengikuti kegiatan pembelajaran.

Satu hal yang perlu diingat bahwa peranan media tidak akan efektif apabila penggunaannya tidak sejalan dengan isi dan tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan. Secanggih apa pun media tersebut tidak dapat dikatakan menunjang pembelajaran apabila keberadaannya menyimpang dari isi dan tujuan pembelajarannya.

Materi pengajaran dan pembelajaran dapat dikategorikan sebagai sumber yang mendukung tercapainya tujuan pembelajaran tertentu.

Ketika mengacu pada ragam media dan/atau materi pengajaran dan pembelajaran serta teknologi yang saat ini tersedia, tergantung pada konteksnya, ada banyak jenis yang dapat digunakan, mulai dari yang paling konvensional seperti misalnya buku dan manual sampai kepada  video, CD dan DVD. Secara umum dari segi media teknologi seperti misalnya proyektor, TV,  CD-Rom dll dimasukkan dalam satu kategori, sedangkan materi pembelajaran mencakup panduan, artikel, studi kasus, manual, dll.

Di samping terminologi yang digunakan, perlu ditekankan bahwa materi pembelajaran masa kini, selain berguna sebagai penyampai informasi, juga dikembangkan dengan tujuan untuk mengorganisir proses pembelajaran itu sendiri. Materi pembelajaran oleh karenanya juga memberikan dukungan dan panduan bagi peserta.

Hal ini berarti bahwa terdapat kecenderungan pada media-media ini untuk memasukkan kegiatan pedagogi dari fasilitasi sebagai bagian dari materi. Oleh karenanya media cetak ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana penyampaian informasi ‘teknis’ ataupun teoritis, namun juga memberikan dukungan selama proses pembelajaran. Hal ini dicapai melalui berbagai ‘mekanisme’ yang berbeda, seperti misalnya pertanyaan yang mengundang refleksi, kegiatan singkat, penilaian diri-sendiri, saran-saran untuk mengumpulkan dan/atau menghasilkan bukti (pembelajaran). Oleh karenanya dalam proses pembelajaran peran dari media cetak secara signifikan lebih luas dibandingkan dengan peranannya dalam pelatihan yang bersifat konvensional.

  1. Jenis-jenis media pembelajaran

Media pembelajaran cukup banyak macamnya, Raharjo (1991) menyatakan bahwa ada media yang hanya dapat dimanfaatkan bila ada alat untuk menampilkanya. Ada pula yang penggunaannya tergantung pada hadirnya seorang guru, tutor atau pembimbing (teacher independent). Media yang tidak harus tergantung pada hadirnya instruktur lazim tersebut media instruksional dan bersifat “Self Contained”, maknanya: informasi belajar, contoh, tugas dan latihan serta umpan balik yang diperlakukan telah diprogramkan secara terintegrasi.

Dalam bukunya yang berjudul “Ilmu Pendidikan”, Sudirman N (1991) membagi media pembelajaran sebagai berikut :

1)    Dilihat dari jenisnya, media dibagi ke dalam :

a)    Media Auditif, yaitu media yang hanya mengandalkan kemampuan suara saja, seperti radio, cassette recorder.

b)   Media Visual, yaitu media yang hanya mengandalkan indera penglihatan. Media visual ini ada yang menampilkan gambar diam ataupun gambar bergerak.

c)    Media AudioVisual, yaitu media yang mempynyai unsure suara dan unsure gambar. Jenis media ini mempunyai kemampuan yang lebih baik karena meliputi kedua jenis media yang pertama dan kedua. Media audiovisual ini dapat dibagi lagi ke dalam (a) audiovisual diam dan (b) audiovisual gerak.

2)    Dilihat dari daya liputnya, media dibagi ke dalam :

a)    Media yang mempunyai daya liput yang luas dan serentak.

b)   Media yang mempunyai daya liput yang terbatas oleh ruangan dan tempat, yaitu media yang dalam penggunaannya membutuhkan ruang dan tempat yang khusus.

c)    Media untuk pengajaran individual seperti modul berprogram dan pengajaran melalui computer.

3)    Dilihat dari bahan dan pembuatannya, media dibagi ke dalam :

a)    Media yang sederhana, yaitu media yang bahan dasarnya mudah diperoleh dan harganya murah, cara pembuatannya mudah dan penggunaannya yang tidak sulit

b)   Media yang kompleks, yaitu media yang bahan dan alat pembuatannya sulit diperoleh serta mahal harganya, sulit membuatnya dan penggunaannya memerlukan keterampilan yang memadai.

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan pentingnya media dalam proses pembelajaran. Media pembelajaran merupakan alat bantu yang dapat mempermudah proses penerimaan materi pelajaran yang disampaikan dan sudah barang tentu akan mempermudah pencapaian keberhasilan tujuan pembelajaran. Hal ini dikarenakan perserta akan lebih termotivasi dalam mempelajari materi bahasan.

Namun walau bagaimanapun, sebaik apapun media pembelajaran yang digunakan, tetap mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing, dan tidak bisa menggantikan peran pelatih seutuhnya. Artinya, media tanpa pelatih adalah suatu hal yang mustahil dapat meningkatkan kualitas pembelajaran, dan peranan pelatih masih tetap diperlukan sekalipun media telah merangkum semua bahan pembelajaran yang diperlukan peserta.

 

  1. Jenis-jenis media cetak

Secara historis, istilah media cetak muncul setelah ditemukannya alat pencetak oleh Johan Gutenberg pada tahun 1456. Kemudian dalam bidang percetakan berkembanglah produk alat pencetak yang semakin modern dan efektif penggunaannya.

 

Jenis-jenis media cetak yang disarikan di sini adalah:

  1. Buku pelajaran

Buku pelajaran sering disebut buku teks adalah suatu penyajian dalam bentuk bahan cetakan secara logis dan sistematis tentang suatu cabang ilmu pengetahuan atau bidang studi tertentu.

  1. Surat kabar dan majalah

Surat kabar dan majalah adalah media komunikasi masa dalam bentuk cetak yang tidak perlu diragukan lagi peranan dan pengaruhnya terhadap masyarakat pembaca pada umumnya. Ditinjau dari segi isinya, surat kabar atau majalah dapat dibedakan menjadi surat kabar dan majalah umum dan surat kabar dan majalah sekolah.

  1. Ensiklopedi

Ensiklopedi atau kamus besar yang memuat berbagai peristilahan ilmu pengetahuan terbaru akan menjadi sumber belajar yang cukup penting bagi peserta. Ensiklopedi merupakan sumber bacaan penunjang. Tugas instruktur adalah memberikan motivasi dan petunjuk yang tepat kepada peserta agar para siwa menggunakan ensiklopedi sebagai bacaan penunjang pelajaran.

  1. Buku suplemen

Buku suplemen dapat berfungsi sebagai bahan pengayaan bagi peserta, baik yang berhubungan dengan pelajaran maupun yang tidak. Buku suplemen dapat menambah bekal kepada peserta untuk memantapkan aspek-aspek kepribadiannya. Yang termasuk buku suplemen adalah karya fiksi dan non fiksi.

 

  1. Pengajaran berprogram (modul).

Pengajaran berprogram adalah salah satu sistem penyampaian pengajaran dengan media cetak yang memungkinkan peserta belajar secara individual sesuai dengan kemampuan dan kesempatan belajarnya serta memperoleh hasil sesuai dengan kemampuannya juga. Menurut jenisnya, pengajaran berprogram dibedakan atas dua, yaitu program linier dan program bercabang. Dalam program linier, kegiatan dibagi menurut langkah-langkah, dan pada setiap halaman terdiri dari beberapa langkah. Pada setiap langkah ada bagian yang harus diisi oleh peserta sebagai test. Penjelasan dan pertanyaan yang terdapat pada setiap langkah dibuat sedemikian rupa sehingga memberi peluang kepada peserta untuk menjawab secara benar. Di akhir program diadakan test untuk menilai keberhasilan pencapaian tujuan program. Program bercabang juga dibagi-bagi menjadi langkah-langkah tertentu, tetapi tiap halaman hanya mengandung satu langkah baik penjelasan maupun pertanyaan.

Media cetak yang digunakan pada pengajaran berprogram ini terdiri dari tiga buku yaitu :

  1. buku informasi berisi tentang informasi apa saja yang perlu diketahui sesuai dengan unit kompetensi yang dipilih,
  2. buku kerja berisi pertanyaan teori dan tugas praktek yang perlu dilakukan untuk mecapai hasil sesuai dengan unit kompetensi yang dipilih dan
  3. buku penilaian berisi soal-soal teori dan praktek yang harus diselesaikan peserta untuk menguji penguasaan materi sesuai dengan tujuan pembelajaran.

 

 

 

  1. Kelebihan dan kelemahan media cetak

Sebagai media pembelajaran, jenis media cetak memiliki keuntungan dan kekurangan tersendiri. Keuntungan media cetak ialah:

  1. Availability. Media cetak tersedia dalam beragam topic dan format
  2. Flexibility. Media cetak mudah diadaptasi untuk beragam tujuan dan dapat digunakan dala berbagai kondisi.
  3. Portability. Media cetak mudah dibawa dari satu tempat ke tempat lain dan tidak membutuhkan sumber arus listrik
  4. User friendly. Media cetak mudah digunakan tidak memerlukan usaha khusus.
  5. Economical. Media cetak relative murah untuk diproduksi atau dibeli serta dapat digunakan kembali sewaktu-waktu.

Sedangkan kekurangan media cetak ialah :

  1. Reading level. Salah satu masalah yang dihadapi dalam penggunaan media cetak ialah tingkat kemampuan membaca siswa/peserta pelatihan yang beragam. Beberapa siswa/peserta pelatihan yang bukan pembaca atau memiliki hambatan dalam membaca mengalami masalah ini.
  2. Prior knowledge. Biasanya media cetak dalam bentuk buku teks ditulis untuk pembaca umum. Bagi pembaca yang memiliki hambatan dalam pengetahuan awal/prasyarat menjad akan mengalami kesulitan dalam memahami bacaan.
  3. Memorization. Beberapa instruktur sering meminta siswa/peserta pelatihan untuk mengingat banyak fakta dan definisi. Praktek ini menyebabkan media cetak sebagai alat bantu menghafal belaka.
  4. Vocabulary. Beberapa buku teks menggunakan banyak terminology kata dan konsep yang sulit dipahami dan kurangnya penjelasan.
  5. One-way presentation. Sebagian besar media cetak kurang interaktif sehingga bersifat passive.

 

 

 

Anderson (1994) menguraikan kelebihan dan kelemahan media cetak sebagai berikut:

Kelebihan

  1. Materi pelajaran dapat dirancang sedemikian rupa sehingga mampu memenuhi kebutuhan siswa/peserta pelatihan, baik yang cepat maupun yang lamban membaca dan memahami.
  2. Di samping dapat mengulangi materi dalam media cetak, siswa/peserta pelatihan akan mengikuti urutan pikiran secara logis.
  3. Perpaduan teks dan gambar dapat memperlancar pemahaman informasi yang disajikan dalam dua format verbal dan visual.
  4. Khusus pada teks terprogram siswa/peserta pelatihan akan berinteraksi dengan aktif karena harus memberi respon terhadap pertanyaan/latihan yang disusun.
  5. Dapat direproduksi dengan ekonomis dan didistribusikan dengan mudah (ekonomis/ecomomical)

Kelemahan :

  1. Sulit menampilkan gerak dalam halaman media cetakan.
  2. Biaya pencetakan akan mahal apabila ingin menampilkan ilustrasi, gambar atau foto.
  3. Proses pencetakan media yang memakan waktu yang lama.
  4. Menimbulkan kebosanan pada siswa/peserta pelatihan.
  5. Media cetak hanya lebih banyak menekankan pada pelajaran yang bersifat kognitif, jarang menekankan pada emosi dan sikap.
  6. Jika tidak dirawat dengan baik akan mudah rusak atau hilang.
  7. Fungsi media pembelajaran dalam bentuk media cetak

Media pembelajaran dalam bentuk media cetak adalah sebagai berikut :

  1. Memperjelas dan mempermudah penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat  verbal.
  2. Mengatasi keterbatasan waktu, ruang, dan daya indera, baik siswa atau peserta diklat maupun guru/instruktur.
  3. Dapat digunakan secara tepat dan bervariasi, seperti :
  4. Meningkatkan motivasi dan gairah belajar bagi siswa atau peserta diklat;
  5. Mengembangkan kemampuan peserta didik dalam berinteraksi langsung dengan lingkungan dan sumber belajar lainnya,
  6. memungkinkan siswa atau peserta diklat belajar mandiri sesuai kemampuan dan minatnya.
  7. Memungkinkan siswa atau peserta diklat dapat mengukur atau mengevaluasi sendiri hasil belajarnya.

 

Keterampilan yang diperlukan dalam mengindentifikasi dan memilih media pembelajaran untuk membuat media cetak.

Hal-hal yang perlu diperhatikan waktu mengidentifikasi dan memilih media pembelajaran untuk membuat media cetak yaitu:

-      Jenis media yang akan digunakan

-      Kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta

-      Potensi peserta

-      Tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spritual peserta

-      Manfaat bagi peserta

-      Aktualitas, kedalaman, dan keluasan materi pembelajaran;

-      Relevansi dengan kebutuhan peserta dan tuntutan lingkungan

 

Sikap Kerja yang harus dilakukan waktu mengindentifikasi dan memilih media pembelajaran untuk membuat media cetak.

Waktu melakukan kegiatan mengindentifikasi dan memilih media pembelajaran untuk membuat media cetak harus teliti, cermat, dan untuk seluruh kegiatan tersebut harus taat asas terhadap ketentuan yang sudah ditetapkan termasuk memastikan prosedur standar.

 

 

 

 

  1. Merancang media pembelajaran dalam bentuk media cetak

Pengetahuan yang diperlukan dalam merancang media pembelajaran dalam bentuk media cetak.

Satu unit kompetensi menjadi acuan dalam penyusunan modul pelatihan. Akan tetapi untuk alasan-alasan metodologis maka dianggap lebih tepat untuk membuat sebuah modul dengan dua unit atau lebih, atau mengerjakan satu unit kompetensi untuk lebih dari satu modul. Hal ini dapat juga terjadi misalnya sehubungan dengan kompetensi-kompetensi yang saling berpotongan atau transversal.

Salah satu alasan  mendasar dari pendekatan berbasis kompetensi ialah mengidentifikasi kompetensi berdasarkan realita di dunia kerja dan bukan di dunia pelatihan. Dari sudut pandang program pelatihan, aspek-aspek pelatihan yang tidak dimasukkan dalam unit kompetensi perlu diikut sertakan.

Oleh sebab  itu harus dianalisis alternatif berbeda yang mungkin diambil dengan memperhatikan seluruh faktor yang mengintervensi ketika struktur modular dari suatu tawaran pelatihan mulai didefinisikan. Lihat bagan berbagai pilihan yang berbeda:

 

Unit kompetensi

Modul pelatihan

Unit kompetensi

 

Unit kompetensi

Modul pelatihan

Pembelajaran lainnya

 

Unit kompetensi

Modul pelatihan

Bagian dari suatu unit (elemen)

Modul pelatihan

Perlu ditekankan bahwa banyaknya modul akan berkaitan langsung dengan tingkat fleksibilitas yang akan dicapai dalam suatu program pelatihan. Hal ini berarti bahwa karena tiap modul terkait dengan suatu unit kompetensi, dan karena terdapat kemungkinan untuk membangun kisaran yang luas dari perjalanan pembelajaran dan masa studi, kita akan menemukan diri kita dihadapkan pada suatu program yang amat fleksibel, seperti misalnya program Trining Of Trainer (TOT) berbasis kompetensi.

Suatu modul pelatihan berbasis kompetensi merupakan suatu unit pembelajaran dan dianggap sebagai mikro kurikulum yang bertujuan agar peserta pelatihan dapat mencapai unjuk kerja yang efektif sehubungan dengan kompetensi tertentu.

Tiap modul pelatihan merupakan unit yang independen sejauh modul ini memungkinkan penyampaian dan penilaian terhadap kemampuan tertentu di akhir proses pembelajaran namun pada saat yang bersamaan juga dapat diintegrasikan ke dalam sistem pembelajaran yang lebih besar dan lebih kompleks.

Dalam hal ini, setelah merencanakan segi operasional pekerjaan ini, suatu analisis poin rujukan (unit dan elemen kompetensi) juga perlu dilakukan dalam dua dimensi utama:

hubungan dan artikulasi (keterkaitan) dengan program secara keseluruhan, dan

struktur dan hubungan internal dengan rancangan modul secara umum serta komponen-komponennya.

Dalam mengambil keputusan mengenai fitur-fitur struktural, fungsional dan formal (secara umum, fitur struktural mengacu kepada apa saja yang akan dimasukkan ke dalam materi dan bagaimana pengorganisasian unit modular tersebut; aspek fungsional mengacu kepada mengapa suatu komponen dimasukkan ke dalam materi dan aspek formal mengacu kepada bagaimana materi tersebut disajikan) dari sebuah unit pembelajaran, kita harus mempertimbangkan populasi target kita dan kita juga harus memikirkan tentang tipe kompetensi apa yang akan dikembangkan serta fungsi apa yang akan dipenuhi oleh materi yang kita buat.

Unit-unit pembelajaran modular berbasis kompetensi harus memenuhi fungsi-fungsi berikut ini :

  • memberikan penjelasan mengenai tujuan umum dan tujuan khusus sesuai dengan uraian elemen kompetensi;
  • menentukan bukti-bukti pembelajaran yang didasarkan pada kerangka rujukan;
  • mendorong dilakukannya penilaian diri sendiri selama proses belajar berlangsung;
  • mendorong dan memungkinkan dilakukannya penerapan pembelajaran;
  • mengorganisasikan jenis2 materi yang berbeda-beda yang dibutuhkan dalam pencapaian kompetensi;
  • memotivasi dan mempertahankan ketertarikan peserta;
  • menekankan ide-ide kunci dan mengklarifikasi konsep-konsep yang rumit;
  • menawarkan contoh-contoh dan solusi-solusi terbuka yang dapat membuat kontekstualisasi pengetahuan menjadi lebih mudah untuk diterapkan ke dalam situasi nyata yang dialami oleh masing-masing peserta didik;
  • menyediakan alternatif-alternatif untuk mengakomodasi kebutuhan dan ketertarikan individual;
  • menyediakan mekanisme untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan atau keraguan maupun kebingungan yang mungkin muncul;
  • mengantisipasi kesulitan-kesulitan atau kesalahan-kesalahan yang sering terjadi.

Aspek-aspek apa saja yang perlu kita perhatikan ?

Kita memang perlu memfokuskan diri dalam mengidentifikasi muatan dan kegiatan-kegiatan yang paling penting dalam usaha kita mewujudkan tujuan yang sudah ditentukan. Namun kita juga harus memperhatikan fitur-fitur yang merupakan kunci terwujudnya motivasi, ketertarikan dan pemahaman; dengan kata lain, kita perlu juga berfokus pada manajemen peserta dan memastikan bahwa peserta benar-benar belajar sesuatu.

Karena alasan-alasan di atas, aspek-aspek yang perlu kita perhatikan dalam penyusunan modul :

  1. 1.    Aspek formal

Materi haruslah menarik untuk dilihat dan baik format maupun tata letaknya (layout) haruslah membuat peserta merasa terdorong untuk menggunakannya.

Materi sebaiknya janganlah terlalu ‘berat’ dan juga tidak membingungkan. Perhatikanlah jarak spasi antar paragraf. Kalimat-kalimat juga jangan terlalu panjang. Dengan kata lain, tampilannya haruslah tampak cukup lega dan tidak terlalu penuh.

Sampul depan haruslah menarik perhatian (eye-catching), formatnya mudah dimengerti, dengan tampilan yang seimbang. Warna, tipografi, gambar dan grafik haruslah memenuhi tujuan materi, yaitu pengembangan kompetensi; tetapi juga harus mampu menarik perhatian peserta didik (misalnya sesuai dengan kesukaan seorang remaja, atau dalam kasus lain, orang dewasa).

Ilustrasi, grafik, tabel dan gambar tidak hanya mendukung atau memfasilitasi pemahaman teks yang diberikan, tetapi juga, tergantung kepada bagaimana cara menggunakannya tentu, dapat menggantikan atau bahkan memberikan pengertian yang lebih jelas jika dibandingkan dengan teks yang mengikutinya.

  1. 2.    Ukuran dan Cakupan Unit

Salah satu hal kunci yang perlu dipertimbangkan saat mengembangkan materi adalah ukuran dan cakupan unit terkait dengan waktu dan beban belajar peserta. Kita perlu mempertimbangkan bahwa pada umumnya peserta adalah orang-orang yang belajar sambil bekerja atau sibuk menjalani segi kehidupannya yang lain. Ini berarti belajar adalah sebuah kesibukan tambahan di atas aktivitas sehari-hari mereka.

Agar proses pembelajaran dapat berkelanjutan, kita perlu mempertimbangkan kira-kira pada kenyataannya berapa lama rata-rata waktu yang dibutuhkan seorang peserta untuk membaca dan belajar. Untuk memperkirakan besarnya cakupan materi, bisa digunakan perhitungan yang dilakukan oleh Garcia Areito sebagaimana dijabarkan di bawah ini:

  1. Satu jam pelajaran tatap muka di kelas (dengan materi yang bukan sains) sebanding dengan materi sepanjang 15-18 halaman (A4) dengan spasi 1.5 (kira-kira 300 kata per halaman). Secara keseluruhan (termasuk tujuan, kegiatan, daftar pustaka, dll.) bisa kita estimasi kira-kira dibutuhkan materi sepanjang 20 halaman untuk setiap satu jam pelajaran tatap muka.
  2. Seorang pembaca dewasa dapat membaca antara 200 sampai dengan 300 kata per menitnya, namun buku cetak atau materi belajar biasanya dibaca dengan lebih lambat. Berdasarkan perhitungan yang sudah dilakukan seorang pembaca dewasa biasanya mampu membaca rata-rata 50 kata per menitnya untuk materi belajar yang rumit. Untuk materi yang lebih ringan, seorang pembaca dewasa mampu membaca sampai dengan 100 kata per menitnya, jika mereka hanya membaca tanpa melakukan aktivitas lain di saat yang bersamaan.

Sekali lagi kita perlu menganalisis karakteristik spesifik dari populasi target kita: kebiasaan dan kemampuan membaca mereka, kebiasaan belajar mereka, tingkat kesulitan yang memungkinkan, dukungan belajar yang dibutuhkan, kemudian sesuaikanlah perhitungan tadi dengan karakteristik-karakteristik tersebut.

Secara umum, penting adanya untuk memastikan bahwa setiap unit pembelajaran modular mengandung sebuah target pembelajaran yang memungkinkan peserta untuk merasa bahwa mereka berhasil mencapai suatu hasil nyata saat mereka menyelesaikan unit tersebut (tentunya sejalan dengan tujuan khusus yang sudah ditetapkan). Unit pembelajaran modular juga harus dapat membuat peserta merasa bahwa ia dapat menilai dirinya sendiri terkait dengan pencapaian yang diraihnya dan juga memungkinkan peserta ‘beristirahat’ di antara satu unit modular ke unit modular berikutnya. Karenanya saat mengembangkan unit pembelajaran, kita perlu memastikan bahwa baik ukuran maupun cakupan dari unit tersebut mempertimbangkan faktor-faktor yang sudah disebutkan di atas. Kita juga perlu memperkirakan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mempelajari unit tersebut dan juga waktu yang dibutuhkan untuk melakukan kegiatan yang digariskan di dalam unit.

  1. 3.    Gaya komunikasi dan penggunaan bahasa

Materi pembelajaran mandiri haruslah memiliki gaya komunikasi yang personal dan kolokial (gaya bahasa percakapan) dengan peserta. Menggunakan kosakata yang informal atau yang umum digunakan;  yang cocok dengan si pembaca – yang tentunya lugas, akurat dan mengalir – akan memudahkan peserta didik mengalami kemajuan dengan lebih cepat dan juga membuat mereka merasa lebih nyaman dalam memahami dan menerapkan muatan.

Penting sifatnya bahwa materi dalam bentuk teks tidaklah terlalu padat. Setiap paragraf hanya perlu mengembangkan satu atau dua ide utama yang terkait satu sama lainnya. Paragraf dan kalimat yang terlalu panjang perlu dihindari karena hal tersebut dapat membuat pesan menjadi susah untuk dimengerti.

Salah satu strategi komunikasi yang efektif dalam memfasilitasi dan memastikan tercapainya pemahaman atas ide utama dalam teks adalah dengan cara menyajikan ide-ide tersebut dalam bentuk yang berbeda-beda. Misalnya dengan menggunakan analogi, contoh, perumpamaan, perbandingan, gambar, dll. Bisa juga dengan menggunakan pengalaman peserta sendiri atau mengacu kepada pengetahuan yang sudah mereka miliki.

Demikian pula halnya dengan pertanyaan atau situasi pemecahan masalah (problem-solving), kedua hal tersebut memungkinkan peserta didik untuk secara aktif memproses informasi yang diterima.

Bahasa kolokial juga memungkinkan terjadinya interaksi antara pembaca dan materi – sebagai contoh:

  • Berhentilah sebentar dan pikirkan tentang pengalaman Anda sendiri … Apa yang Anda alami ketika … ?
  • Jika Anda menghadapi situasi yang serupa dengan studi kasus di atas, bagaimana Anda akan bereaksi?
  • Ini adalah pendapat para spesialis. Anda setuju dengan pandangan ini? Jika tidak, jelaskan mengapa.
  • Pernyataan yang mana dari dua pernyataan berikut yang Anda rasa lebih cocok dengan situasi Anda?

Selain itu, bisa juga dilakukan hal berikut: judul, sub-judul atau penanda antar bagian-bagian teks materi mengambil bentuk sebuah kalimat tanya, misalnya:

Apa pendapat Anda mengenai ini?

Aspek-aspek apa saja yang perlu kita perhatikan?

Fungsi apa yang perlu dipenuhi oleh sebuah unit pembelajaran?

Apa saja tujuan modular pada tingkat unit pembelajaran?

Penting sifatnya menggunakan teks sebagai kendaraan yang memfasilitasi pembelajaran. Karenanya perlu ada perhatian khusus untuk memastikan bahwa teks mudah dibaca dan dipahami oleh pembacanya. Beberapa penulis mengidentifikasi beberapa faktor yang dapat dipakai sebagai ukuran kemudahan sebuah teks untuk dibaca dan dipahami, yaitu: kenyamanan membaca (panjang kata dan frase), menarik untuk dibaca (kata-kata dan frase yang personal atau yang berbicara langsung kepada si pembaca), tingkat presisi (ketepatan) dan kepadatan ide.

Ini bukan berarti bahwa kita harus berlebihan dalam menggunakan bahasa yang populer. Ini juga bukan berarti bahwa kita harus berlebihan dalam menurunkan tingkat kompleksitas materi; melainkan kita harus berusaha untuk membuat teks yang tidak terlalu berat, kohesif, cocok dengan tingkat karakteristik kelompok target, interaktif dan mampu memotivasi pembacanya.

 

  1. 4.    Mainstraming perspektif jenis kelamin (gender)

Sepanjang modul ini kita telah membicarakan pentingnya mempertimbangkan karakteristik populasi target dan juga pentingnya memastikan bahwa rancangan dan pengembangan materi disesuaikan dengan karakteristik tersebut. Tentunya pertimbangan karakteristik tadi juga mencakupi pertimbangan atas dimensi gender. Namun pada kenyataannya, dipilihnya pendekatan yang ‘relevan’ tidak selalu berarti bahwa perspektif gender ini sudah dipenuhi.

Di satu sisi, memastikan bahwa pendekatan gender sudah dilakukan seringkali hanya diwujudkan dalam bentuk penggunaan bahasa yang inklusif. Tentunya ini memang perlu, tetapi belum cukup.

Untuk mengoptimalkan dan meningkatkan kesempatan dan pengetahuan seseorang, kita harus awas agar bisa mengidentifkasi dan memvisualisasi, dalam fase-fase yang berbeda, perbedaan, ketidaksetaraan, peran, stereotipi, dll. dengan mempertimbangkan pengalaman, kebutuhan dan karakteristik spesifik laki-laki dan perempuan dalam suatu konteks tertentu.

Mainstreaming perspektif gender dalam mengembangkan materi pembelajaran berarti:

  • melihat laki-laki dan perempuan sebagai dua makhluk yang setara, yang tercerminkan dalam penggunaan bahasa dan gambar serta tercerminkan juga dalam pemilihan materi;
  • mengedepankan contoh-contoh dan studi kasus yang menceritakan keduanya, laki-laki dan perempuan, atau juga studi kasus akan situasi-situasi yang berbeda-beda;
  • mempertimbangkan khususnya partisipasi dan interaksi antar mereka, sambil mengidentifikasi stereotipi-stereotipi yang mungkin ada atau pendiskriminasian selama aktivitas belajar dan kerja profesional.

 

Keterampilan yang dibutuhkan dalam merancang media pembelajaran dalam bentuk media cetak.

Hal-hal yang perlu diperhatikan pada saat merancang media pembelajaran adalah :

  1. 1.    Materi pembelajaran
  • Harus sesuai dengan unit kompetensi yang dibutuhkan
  • Harus sesuai dengan tujuan pembelajaran
  1. 2.    Bahasa
  • Ejaan dan tata bahasa yang dipakai.
  • Gunakan kosakata yang paling sesuai dengan target populasi dan dengan materi yang akan mereka pelajari.
  • Gunakan kata-kata yang: singkat, spesifik, bermakna, biasa digunakan oleh peserta, dipakai dalam percakapan sehari-hari, merupakan indikator tindakan, memiliki arti yang konsisten.
  • Hindari kata-kata yang tidak perlu dan sulit dimengerti.
  • Definisikan istilah baru dan kirimkan kepada peserta didik sebuah daftar kosakata (glossary) sehingga mereka tahu bahwa kata-kata yang tercakup dalam daftar akan digunakan dalam proses belajar mereka.
  • Pastikan kalimat selalu: singkat, terstruktur dan memiliki keterkaitan satu sama lainnya.
  • Jangan masukkan terlalu banyak informasi dalam satu kalimat. Pecah-pecahlah ke dalam beberapa kalimat agar lebih mudah diserap.
  • Gunakan kata kerja dalam kalimat aktif.
  • Pastikan adanya kesepakatan tata bahasa (gender, angka, kalimat, dll.).
  • Penggunakan kata ganti orang sangat disarankan.
  • Hindari penggunaan verbal noun (dalam Bahasa Inggris: kata benda yang dibentuk dari kata kerja).
  • Hindari penggunaan kata-kata atau frase yang berdiri sendiri dan di luar konteks.
  • Gunakan penomoran sesering mungkin untuk persyaratan, karakteristik, instruksi.
  • Hindari penggunaan kata, frase atau kalimat negatif ganda.
  1. 3.    Struktur internal teks
  • Pecah-pecah teks ke dalam bagian-bagian, posisi dan ide dasar sebanyak yang dibutuhkan.
  • Pastikan teks disusun mengikuti urutan yang selogis mungkin. Pertahankan pula hubungan antara frase-frase dan paragraf-paragraf yang berbeda-beda.
  • Pastikan adanya keterpaduan lingusitik (bahasa) dalam teks.
  • Kaitkan konsep baru dengan konsep-konsep yang sudah dipelajari sebelumnya.
  • Nyatakan dengan jelas ide-ide utama yang ada.
  1. 4.    Tipografi, tanda-tanda dan fitur-fitur tambahan
  • Teks yang baik adalah teks yang dapat membantu pembacanya mengidentifikasi ide kunci yang disampaikan.
  • Tanpa memakainya secara berlebihan, gunakanlah teknik menggunakan fitur-fitur tambahan untuk menyoroti hal-hal penting (ukuran dan ketebalan huruf, huruf besar, penebalan huruf (bold), pemiringan huruf (italic), penggaris bawahan, warna, bayangan, dll.).
  • Penggunaan ikon dan gambar dapat mengindikasikan kepada peserta didik apa yang perlu ia lakukan berikutnya: menulis, membaca, memberikan jawaban, menonton video, menggunakan internet, dll.
  • Ingatkan kembali apa pentingnya artikel atau tulisan yang sudah pernah muncul sebelumnya.
  • Gunakan penanda atau indikator untuk mengurutkan ide-ide yang sedang disajikan.
  • Ingatkan kembali hal-hal yang sudah dijelaskan sebelumnya dengan menggunakan hubungan sebab akibat. Penggunaan hubungan yang bertolak belakang akan mempersiapkan peserta didik untuk menghadapi hal-hal yang tidak terduga.
  • Ukuran huruf yang dipakai di bagian badan (body) teks tidak boleh lebih kecil dari 8 poin.
  • Gunakan spasi antar baris yang membuat tampilan tampak lega.
  • Pastikan panjang teks tidak terlalu panjang namun juga tidak terlalu pendek.
  • Sediakan ruang kosong di kiri dan kanan halaman dan juga di antara judul-judul yang berbeda agar peserta didik dapat menuliskan catatan singkat jika mereka butuh.
  1. 5.    Judul dan pengorganisasian
  • Gunakan judul dan heading untuk memisahkan topik atau subyek yang satu dengan yang lainnya.
  • Urutkanlah bagian-bagian yang ada berdasarkan tingkat kepentingannya.
  • Berikan petunjuk-petunjuk untuk membantu ingatan.
  • Gunakan pengorganisasian internal: heading, kotak, tabel, diagram, rangkuman, catatan sisi, dll.
  1. 6.    Kepadatan teks dan gaya literatur
  • Sama halnya dengan kalimat, jangan gunakan paragraf yang terlalu panjang, rumit dan abstrak.
  • Gunakan perumpamaan, analogi, pengulangan dan perbandingan seperlunya.
  • Gunakan gaya penulisan yang terbuka, personal dan akrab tanpa menyederhanakan muatan secara berlebihan.
  • Mintalah jawaban dari peserta didik dengan menggunakan pertanyaan, latihan dan penerapan pembelajaran yang tersebar sepanjang teks.
  • Bangkitkan motivasi secara terus-menerus.
  • Pilihlah contoh yang mendukung dan contoh yang berlawanan dengan hati-hati agar dapat menstimulasi imajinasi dan mengklarifikasi ide.
  1. 7.    Ilustrasi dan gambar
  • Ilustrasi dan gambar yang digunakan dengan tepat lebih baik dari kata-kata.
  • Lengkapi teks dengan ilustrasi, tabel, grafik, kotak, diagram, peta, gambar dan foto.
  • Ingatlah bahwa ilustrasi ini harus jelas, menarik, eye-catching, enak dilihat dan mudah dimengerti.
  • Gunakan catatan kaki yang mengandung penjelasan pada setiap ilustrasi.
  • Jelaskan dan klarifikasikanlah hal-hal rumit dan tambahkanlah informasi yang sesuai.
  • Pastikan bahwa ilustrasi ini dekat kaitannya dengan teks yang sesuai dan keterkaitan tersebut mudah dilihat.
  • Hindari aspek-aspek yang hanya berfungsi sebagai dekorasi saja.
  • Jangan lupa gunakan semacam penomoran atas ilustrasi-ilustrasi ini sehingga mudah diidentifkasi.

Sikap Kerja yang harus dilakukan waktu merancang media pembelajaran dalam bentuk media cetak.

Waktu melakukan kegiatan merancang media pembelajaran dalam bentuk media cetak harus teliti, cermat, dan untuk seluruh kegiatan tersebut harus taat asas terhadap ketentuan yang sudah ditetapkan termasuk memastikan prosedur standar.

 

  1. Membuat/mengadopsi media pembelajaran dalam bentuk media cetak

Pengetahuan yang diperlukan dalam membuat/mengadopsi media pembelajaran dalam bentuk media cetak

Para penyelenggara pelatihan dalam beberapa hal seringkali mengadopsi berbagai opsi terkait dengan materi pembelajaran sejalan dengan kebutuhan dan kemungkinan yang dimiliki.

Oleh karenanya bisa saja terjadi bahwa materi yang digunakan adalah materi yang memang telah tersedia, terlepas dari apakah modul memang dirancang atau tidak dirancang untuk kompetensi; bahwa materi tersebut diadaptasi dari konteks lainnya; atau bahwa materi tersebut dibuat secara khusus untuk suatu program tertentu, dan bahkan untuk tiap bidang dari suatu program.

Untuk dapat meletakkan batasan pada apa yang akan kita pelajari di sini, dalam dokumen ini kita akan mengacu pada pengembangan dan pembuatan suatu modul pembelajaran yang merespon suatu unit kompetensi, terlepas dari area fungsionalnya.

Sepanjang proses pengembangan materi pembelajaran, tahap-tahapan pembuatan materi ini harus dipertimbangkan. Secara umum kita dapat membagi prosesnya menjadi dua tahap: satu tahap pengorganisasian dan satu tahap proses pembuatan.

Tahap pengorganisasian mendahului tahap pembuatan, dan di sinilah perlu adanya kesepakatan atas hal-hal yang menjadi dasar untuk menjalankan proses pembuatan secara keseluruhan, seperti misalnya integrasi tim dan pembagian tanggung jawab.

 

Saat mengembangkan unit pembelajaran, kita tentunya sudah memprofilkan serangkaian panduan dan rekomendasi mengenai fitur-fitur yang menurut kita seharusnya dimiliki oleh modul berbasis kompetensi. Tujuan kita adalah untuk menghasilkan materi pembelajaran yang dapat mengembangkan dan memunculkan kompetensi serta mendorong proses belajar yang mandiri dan dikelola sendiri oleh peserta didik. Untuk mencapai tujuan tersebut ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam mengadopsi materi dalam bentuk media cetak yaitu :

1.     Mutakhir (up-to-date) dan relevan. Materi haruslah didasarkan pada kompetensi yang teridentifkasi sebagai kebutuhan atau persyaratan dunia kerja, baik saat ini maupun untuk masa yang akan datang (potensial). Karenanya materi haruslah dengan mudah dapat dimutakhirkan/diperbarui secara terus-menerus.

  1.                    2.     Sesuai. Ini berarti diadaptasikan kepada konteks organisasional dan sosio-institusional serta dicocokkan kepada karakteristik populasi target. Kita juga harus memperhatikan pengalaman mereka, tingkat dan gaya belajar serta besarnya dedikasi yang dibutuhkan.
  2.                    3.     Integral. Materi haruslah dikembangkan secara integral terhadap semua fitur yang terkandung dalam unit kompetensi (sebagai poin rujukan) dan di saat yang sama memberikan jawaban secara integral atas kebutuhan peserta, memotivasi mereka, memandu dan mendukung mereka dalam proses pembelajaran mereka.
  3.                    4.     Terintegrasi. Sebuah modul janganlah hanya merupakan kumpulan saja dari unit-unit pembelajaran yang ada. Modul juga bukanlah sekedar hasil penjumlahan dari materi-materi yang terkait dengan kecakapan dan pengetahuan yang berbeda yang membentuk suatu kompetensi. Kinerja yang kompeten terlahir dari kombinasi kompleks dari apa yang sudah dipelajari untuk menyelesaikan satu situasi tertentu di dunia kerja.  Tema dan maksud utama dalam penstrukturan materi haruslah dipilih untuk menciptakan integrasi ini.

 

 

  1.                    5.     Terbuka dan fleksibel. Materi yang mengundang refleksi dan keterlibatan peserta, yang mendorong kreativitas dan keingintahuan, yang dapat diadaptasi ke dalam konteks, laju, waktu dan ruang pembelajaran yang berbeda.
  2.                    6.     Koheren. Harus ada keterkaitan antara materi dengan unit kompetensi dan uraiannya. Demikian pula harus ada keterkaitan antara materi dengan tujuan, muatan dan kegiatan belajar. Serta perlu pula dipastikannya keterhubungan antara variabel-variabel yang berbeda dalam proses belajar.
  3.                    7.     Interaktif. Materi yang menstimulasi dan memastikan adanya dialog dengan peserta, mendorong dan menarik keterlibatan aktif mereka.
  4.                    8.     Dapat dialihkan (transferable). Usahakanlah agar materi mampu memfasilitasi alih pembelajaran (transfer of learning) dengan cara yang retroaktif (mengkonsolidasi pembelajaran sebelumnya dan mengorganisasikan pengetahuan yang sebenarnya ada namun tidak muncul kepermukaan) dan proaktif (memfasilitasi pembelajaran di masa yang akan datang), secara vertikal (mengaitkan pembelajaran antar tingkatan yang berbeda) dan horizontal (menghubungkan dengan pembelajaran lain pada tingkatan yang sama). Namun yang paling penting, materi memfasilitasi pembelajaran yang memungkinkan dilakukannya alih hasil belajar ke dalam situasi pekerjaan aktual – jadi bukan hanya sekedar mampu menerapkan pengetahuan saja.
  5.                    9.     Efektif. Materi memfasilitasi pencapaian kompetensi dan pengelolaan proses belajar oleh peserta.
  6.                 10.     Efisien. Investasi belajar yang dilakukan sebanding dengan hasilnya.

Jika kita merasa bahwa sekedar memastikan bahwa karakteristik-karakteristik umum di atas dipertimbangkan dalam pengembangan materi tidak selalu menjamin tercapainya hasil yang baik, maka kita harus menganalisis kualitas spesifik apa yang dapat berkontribusi ke dalam pencapaian hasil baik yang kita inginkan.

Dengan kata lain, kita harus melakukan evaluasi atas kualitas materi untuk mencari tahu apa yang membuat peserta berpikir, menyimpulkan, berlatih, menerapkan dan, singkatnya, mencapai kompetensi yang diinginkan.

Keterampilan yang dibutuhkan pada saat membuat/mengadopsi media pembelajaran dalam bentuk media cetak.

Perlu diketahui bahwa media pembelajaran dalam bentuk media cetak ini terdiri dari tiga buku yaitu buku informasi, buku kerja dan buku penilaian. Ketiga buku ini harus relevan, konsisten dan adequecy (sesuai) dengan unit kompetensi serta dapat diukur apakah peserta kompeten atau belum kompeten.

Sikap Kerja yang harus dilakukan waktu membuat/mengadopsi media pembelajaran untuk membuat media cetak.

Waktu melakukan kegiatan mengindentifikasi dan memilih media pembelajaran untuk membuat media cetak harus teliti, cermat, dan untuk seluruh kegiatan tersebut harus taat asas terhadap ketentuan yang sudah ditetapkan termasuk memastikan prosedur standar.

 

  1. Meyakinkan kepada pihak-pihak yang terkait tentang pembuatan materi pembelajaran dalam bentuk media cetak

Pengetahuan yang dibutuhkan pada saat meyakinkan pihak-pihak yang terkait tentang pembuatan materi pelajaran dalam bentuk media cetak.

Sebelum modul dipublikasikan atau disirkulasikan (dalam bentuk yang relevan), terlebih dahulu harus dibuat prototipe modul yang kemudian dievaluasi secara ‘external’ – yaitu: dicermati oleh orang-orang yang tidak terkait dengan proses produksi.

Disarankan untuk mencoba materi sampai dua kali revisi melalui dua evaluasi formatif external. Umumnya, evaluasi yang pertama adalah konsultasi dengan ahli, sementara yang kedua merupakan uji coba.

Media pembelajaran dalam bentuk media cetak yang telah disusun tidak diperuntukkan bagi instruktur yang menyusun materi tersebut, tetapi dapat digunakan oleh semua kalangan. Oleh karena itu seharusnya media cetak tersebut dapat diyakinkan kepada semua pihak yang terkait.

 

 

Untuk meyakinkan kepada pihak yang terkait ada dua teknik yang perlu dikuasai yaitu :

  1. Teknik Presentasi

Memberikan presentasi saat ini sudah merupakan bagian yang penting dalam kehidupan seorang instruktur. Keterampilan yang tinggi dalam hal ini akan menjadi aset utama bagi seseorang yang sedang meniti jalur karirnya.

Presentasi merupakan alat komunikasi tangguh dalam usaha untuk menyampaikan laporan atau keterangan mengenai apa saja yang merupakan tanggung jawab seseorang, baik itu merupakan barang ataupun jasa.
Presentasi juga dapat digunakan untuk menunjukkan kemampuan, karena dari cara seseorang memberikan presentasi dapat dinilai seberapa jauh ia menguasai bidang yang dikelola.

  1. Teknik Negosiasi

Teknik negosiasi memungkinkan kita mendapatkan suatu hasil negosiasi yang baik maka selain mengetahui tipe orang yang akan kita temui. Kita juga harus paham akan tahap – tahap dalam melakukan negosiasi. Tahap yang paling penting untuk melancarkan negosiasi adalah persiapan.

Persiapan ini bisa dimulai dengan tempat negosiasi dilaksanakan. Negosiasi bisa dilakukan di tempat yang santai atau formal. Tentunya jika kita bernegosiasi pada tempat – tempat tertentu ada kelebihan dan kekurangannya. Ketika kita bernegosiasi di tempat santai maka kita bisa lebih leluasa menjelaskan segala hal kepada pelanggan. Namun kita tidak bisa berharap keputusan dapat dibuat cepat. Sebaliknya jika kita bertemu dengan klien di tempat yang formal maka penjelasan kita pun akan terkesan formal dan penjelasan kita tidak bisa sedetil mungkin. Namun demikian keputusan yang diambil bisa lebih cepat dilakukan.

Teknik negosiasi mengutamakan pemilihan  tempat, dan waktu. Seperti jam, hari, fluktuasi bisnis dan cash flow (mengetahui kebiasaan bisnis pihak lain untuk mengetahui cash flow mereka). Jika kita mengabaikan faktor waktu ini, maka keputusan yang diambil akan lebih lama. Dampak lebih besar adalah penyia – nyian waktu dan energi.

Untuk memperkuat isu yang akan kita angkat dalam suatu negosiasi maka kita harus mendapatkan informasi yang akurat.

Batasan wewenang juga harus kita siapkan. Maka itu sebelumnya kita harus berdiskusi dulu dengan atasan kita terkait dengan batasan – batasan apa saja yang harus kita patuhi.

Informasi akurat mengenai pihak yang akan kita ajak negosiasi juga menjadi bahan yang penting untuk kita ketahui sebelum kita bernegosiasi dengan mereka. Ini nantinya dapat menentukan proses dan hasil dari negosiasi. Apakah opininya positif atau negatif ? Ini bisa kita pakai saat menghadapi mereka dalam bernegosiasi.

Dalam negosiasi juga sebaiknya kita memberitahukan diawal mengenai apa yang akan kita lakukan dan bicarakan dalam negosiasi. Serta apa yang dapat mereka terima dari negosiasi ini, begitu juga sebaliknya. Apa yang bisa kita dapatkan dari negosiasi ini.

Terakhir adalah tujuan kerja. Setelah semua negosiasi selesai dilakukan dan ada kesepakatan, maka waktunya untuk membuat rencana kerja. Jika rencana kerja juga sudah dibuat, maka tinggal melaksanakan rencana tersebut.

 

Keterampilan yang dibutuhkan pada saat meyakinkan pihak-pihak yang terkait tentang pembuatan materi pelajaran dalam bentuk media cetak.

Pada dasarnya, hal-hal yang perlu diperhatikan pada saat melakukan presentasi/negosiasi modul ini perlu melibatkan:

¦ Pakar pedagogi (desainer, pelatih master, manager)

¦ Pakar materi ini (teknisi dan pekerja dari sektor produktif terkait)

¦ Instruktur yang melaksanakan pelatihan.

Dalam beberapa hal, presentasi/negosiasi dibatasi pada konsultasi dengan para kolega yang tidak terlibat dalam pembuatan materi tersebut tapi dapat memberi masukan kepada kita tentang konten khusus dan aspek metodologis.

Sikap yang dibutuhkan pada saat meyakinkan pihak-pihak yang terkait tentang pembuatan materi pelajaran dalam bentuk media cetak.

Waktu melakukan kegiatan untuk meyakinkan pihak-pihak yang terkait tentang pembuatan materi pelajaran dalam bentuk media cetak harus teliti, cermat, dan untuk seluruh kegiatan tersebut kita berusaha meyakinkan pihak-pihak yang terkait dengan bahasa yang sopan dan tidak memaksakan kehendak kita, tetapi berusaha meminta perbaikan agar materi yang dibuat lebih sempurna.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


BAB III

SUMBER-SUMBER LAIN

YANG DIPERLUKAN UNTUK PENCAPAIAN KOMPETENSI

 

  1. A.     SUMBER-SUMBER PERPUSTAKAAN
    1. 1.     Daftar Pustaka
      1. 1.    John D. Latuheru 2002. Media Pembelajaran Dalam Proses Belajar – Mengajar Masa Kini,  Makassar State University Pers
      2. 2.    Sihkabuden. 1994. Klasifikasi dan karakteristik media instruksional sederhana. Malang:FIP IKIP Malang.
      3. International Training Centre of the ILO –First edition 2004. Modul C (Design and Develop Competency Based Learning Module. Turin (Italy)

 

  1. 2.     Buku Referensi
    1. Criticos, C. 1996. Media selection. Plomp, T., & Ely, D. P. (Eds.): International Encyclopedia of Educational Technology, 2nd edition. New York: Elsevier Science, Inc.
    2. Dole, J. A. & Sinatra, G. M. 1998. Reconceptualizing change in the cognitive construction of knowledge. Educational Psichologist, 33(2/3), 109-128.
    3. Heinich, R., Molenda, M., Russell, J. D., & Smaldino, S.E. 2002. Instructional media and technology for learning, 7th edition. New Jersey: Prentice Hall, Inc.
    4. Moedjiono. 1981. Media pendidikan III: Cara pembukaan media pendidikan. Jakarta: P3G. Depdikbud.
    5. Sadiman, A.S. 1986. Media pendidikan: pengeratian, pengembangan, dan pemanfaatannya. Jakarta: Cv. Rajawali.
    6. Wallington, C.J. 1996. Media production: production of still media. Plomp, T., & Ely, D.P. (Eds.): International Encyclopedia of Educational Technology, 2nd edition.New York: Elsevier Science, Inc.

 

  1. B.     DAFTAR PERALATAN/MESIN DAN BAHAN     
    1. Daftar Peralatan/Mesin

 

No. Nama Peralatan/Mesin Keterangan
Laptop, infocus, laserpointer Untuk di ruang teori
Laptop Untuk setiap peserta
Fasilitas internet Untuk mencari referensi
Printer  
Hechmachine (stapler/penjepret) 24 dan 10  
Pelubang kertas  
Penjepit kertas ukuran kecil dan sedang  
Standar chart dan kelengkapannya  

 

  1. Daftar Bahan

 

No. Nama Bahan Keterangan
Modul Pelatihan (buku informasi, buku kerja, buku penilaian) Setiap peserta
Buku referensi, manual book dll Setiap peserta
Kertas bergaris Setiap peserta
Kertas HVS A4 Setiap peserta
Spidol whiteboard Setiap peserta
Spidol marker Setiap peserta
CD (writer dan CD-R) Setiap peserta
Kertas chart (flip chart) Setiap peserta
Tinta printer Setiap peserta
  1. 10.
ATK siswa Setiap peserta

 

 

TIM PENYUSUN

 

 

No.

Nama

Institusi

Keterangan

Bambang Purwoprasetyo Asosiasi Instruktur Metodologi Pelatihan (AIMP)  
Robert B. Sitorus Asosiasi Instruktur Metodologi Pelatihan (AIMP)  
Rubito Asosiasi Instruktur Metodologi Pelatihan (AIMP)  
Ali Darokah BBPLKDN Bandung  
Annoordin BBPLKDN Bandung  
Herwadi BBPLKDN Bandung  
Rahmat Sudjali Badan Nasional Sertifikasi Profesi  
Darma Setiawan Badan Nasional Sertifikasi Profesi  
Sjahruddin Kaliky BBLKI Serang  
  1. 10.
Bambang Trianto BBLKI Serang  
  1. 11.
Muh. Yasir BBPLKLN Cevest Bekasi  
  1. 12.
Karyaman BBPLKLN Cevest Bekasi  
  1. 13.
Subandi Dit. Stankomproglat  
  1. 14.
Bayu Priantoko Dit. Stankomproglat  
  1. 15.
Atiek Chrisnarini Biro Hukum Depnakertrans  
  1. 16.
Senggono BLK Pasar Rebo  

 

 

Testimoni

Filed under : blog, tags: