Menu

MERANCANG DAN MENCIPTAKAN LINGKUNGAN PEMBELAJARAN YANG KONDUSIF PLK.MP02.007.01

Oct
23
2014
by : 1. Posted in : blog

 

MODUL PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI

SUB BIDANG METODOLOGI PELATIHAN KERJA

 

 

MERANCANG DAN MENCIPTAKAN LINGKUNGAN PEMBELAJARAN

YANG KONDUSIF

PLK.MP02.007.01

 

 

 

 

 

 

 

                        BUKU INFORMASI                       

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DEPARTEMEN TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI R.I.

DIREKTORAT JENDERAL PEMBINAAN PELATIHAN DAN PRODUKTIVITAS

Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 51 Lt. 6.A Jakarta Selatan

 



KATA PENGANTAR

 

Dalam rangka mewujudkan pelatihan kerja yang efektif dan efesien dalam rangka meningkatkan kualitas dan produktivitas tenaga kerja diperlukan suatu sistem pelatihan yang sama. Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 31 tentang Sistem Pelatihan Kerja Nasional yang mengamanatkan bahwa pelatihan kerja berbasis kompetensi.

Dalam rangka menerapkan pelatihan berbasis kompetensi tersebut diperlukan adanya standar kompetensi kerja sebagai acuan yang diuraikan lebih rinci ke dalam program, kurikulum dan silabus serta modul pelatihan.

Untuk memenuhi salah satu komponen dalam proses pelatihan tersebut maka disusunlah modul pelatihan berbasis kompetensi “Merancang Dan Menciptakan Lingkungan Pembelajaran Yang Kondusif yang mengacu pada Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) Sektor Jasa Kemasyarakatan, Sosial, Budaya dan Perorangan Sub Sektor jasa Kegiatan Lainnya Bidang Jasa Lainnya Sub Bidang Metodologi Pelatihan Kerja yang telah ditetapkan dengan Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi R.I. Nomor KEP.140/MEN/VI/2008.

Modul pelatihan berbasis kompetensi ini, terdiri dari 3 buku yaitu Buku Informasi, Buku Kerja dan Buku Penilaian. Ketiga buku tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh, dimana buku yang satu dengan yang lainnya saling mengisi dan melengkapi, sehingga dapat digunakan untuk membantu pelatih dan peserta pelatihan untuk saling berinteraksi.

Demikian modul pelatihan berbasis kompetensi ini kami susun, semoga bermanfaat untuk menunjang proses pelaksanaan pelatihan di lembaga pelatihan kerja.

Jakarta,     Desember 2009

Direktur

Standardisasi Kompetensi

dan Program Pelatihan

Drs. Djoko Mulyanto, MM

NIP. 19540125 197903 1 002


DAFTAR ISI

 

 

KATA PENGANTAR ——————————————————————————–  1

DAFTAR ISI —————————————————————————————-  2

BAB I    STANDAR KOMPETENSI KERJA NASIONAL (SKKNI) DAN SILABUS PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI (PBK) ——————————————————–              4

  1. Standar Kompetensi Kerja Nasional (SKKNI) ———————————–   4
  2. Unit Kompetensi Prasyarat ——————————————————–  7
  3. Silabus Pelatihan Berbasis Kompetensi (PBK) ———————————-   7

BAB II MERANCANG DAN MENCIPTAKAN LINGKUNGAN PEMBELAJARAN YANG KONDUSIF ——————————————————————————–                                 9

  1. Latar Belakang ———————————————————————- 9
  2. Tujuan ——————————————————————————- 10
  3. Ruang Lingkup ———————————————————————- 10
  4. Pengertian Istilah ——————————————————————- 11
  5. Diagram Alir Unjuk Kerja Pencapaian Kompetensi —————————- 13

F. Materi Pelatihan Merancang dan Menciptakan Lingkungan   Pembelajaran yang Kondusif ———————————————————————–                         14

  1. Menganalisis dan Merancang Lingkungan Pembelajaran —————- 14
    1. Pengertian Psikologi  —————————————————-  14
    2. Obyek psikologi ———————————————————-  14
    3. Macam-macam psikologi————————————————- 15
    4. Psikologi Pelatihan——————————————————– 15
    5. Ruang lingkup Psikologi Pelatihan ————————————–  16
    6. Perbedaan individu ——————————————————-  18
    7. Intelegensi ——————————————————————- 19
    8. Menciptakan dan meyakinkan  kepada pihak-pihak yang terkait  tentang lingkungan pembelajaran yang kondusif ———————————–                 22
      1. Keragaman individu——————————————————— 22
      2. Kaitan perilaku dan kecakapan —————————————— 23
      3. Keragaman individu dan prestasi belajar ——————————- 24
      4. Kesiapan berlatih ——————————————————— 25
      5. Motivasi ———————————————————————- 31
      6. Apa belajar itu ? ———————————————————– 34
      7. Persoalan pokok dalam belajar ——————————————- 36
      8. Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar —————————– 37

i. Peranan dan tanggungjawab instruktur dalam membantu siswa mencapai tujuan ————————————————————                                  39

  1. Pelaporan ——————————————————————— 42

BAB III SUMBER-SUMBER YANG DIPERLUKAN UNTUK PENCAPAIAN KOMPETENSI

  1. Sumber-sumber Perpustakaan ————————————————– 44

1. Daftar Pustaka —————————————————————– 44

2. Buku Referensi —————————————————————– 44

  1. Daftar Peralatan/Mesin dan Bahan ——————————————— 45
  2. Daftar Peralatan/Mesin ——————————————————- 45

2.  Daftar Bahan ——————————————————————- 45

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

STANDAR KOMPETENSI KERJA NASIONAL (SKKNI)

DAN SILABUS PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI (PBK)

 

  1. A.       STANDAR KOMPETENSI KERJA NASIONAL (SKKNI)
  2. KODE UNIT

:

PLK.MP02.007.01
  1. JUDUL UNIT

:

Merancang Dan Menciptakan Lingkungan Pembelajaran Yang Kondusif
  1. DESKRIPSI UNIT

:

Unit ini merupakan kompetensi yang berhubungan dengan pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja dalam merancang dan menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif.

 

    ELEMEN

KOMPETENSI

KRITERIA UNJUK KERJA

(PERFORMANCE CRITERIA)

 

1.  Menganalisis lingkungan

pembelajaran

 

 

1.1.  Lingkungan pembelajaran di analisis

 

2.  Merancang lingkungan

pembelajaran

 

 

2.1. Dirancang lingkungan pembelajaran yang tepat dan sesuai

 

3.  Menciptakan lingkungan

pembelajaran yang

kondusif

 

 

3.1. Diciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif sesuai dengan azas-azas psikologi belajar.

 

4. Meyakinkan  kepada pihak-pihak yang terkait tentang lingkungan pembelajaran yang kondusif

 

 

4.1. Diyakinkan pihak-pihak yang terkait tentang lingkungan pembelajaran yang kondusif

 

 

 

 

 

 

  1. 4.      Batasan Variabel:

Unit ini bermaksud memberikan pengetahuan, sikap kerja serta ketrampilan  yang berhubungan dengan  merancang dan menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif.

Sasarannya adalah segala macam pekerjaaan yang berhubungan dengan merancang dan menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif.

Penekanan dari unit ini adalah pengetahuan  tentang merancang dan menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif  yang tepat dan sesuai dengan kondisi pada saat berlangsungnya proses belaja- mengajar/kepelatihan

Pelatihan dapat dilaksanakan di tempat Pelatihan atau di tempat lain  yang relevan dengan persyaratan.

Maksimal 1 peserta untuk melakukan kegiatan merancang dan menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif.

 

  • Tersedia sumber-sumber belajar dan bahan-bahan untuk penyusunan dan pembuatan merancang dan menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif.
  • Tersedia alat-alat untuk mencoba hasil penyusunan dan pembuatan merancang dan menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif.
  • Permasalahan keselamatan dan kesehatan kerja yang perlu diperhatikan.
  • Penggunaan peralatan yang sesuai dengan pekerjaan yang dilaksanakan.
  • Lingkungan kerja yang sehat dan aman dengan ventilasi dan pencahayaan yang memadai.  Mengetahui cara bekerja yang aman dengan peralatan tulis menulis serta menggambar dengan Komputer.

 

  1. PANDUAN PENILAIAN:
    1. Penjelasan prosedur penilaian :

Alat, bahan, dan tempat penilaian serta unit kompetensi yang harus dikuasai sebelumnya yang mungkin diperlukan sebelum menguasai unit kompetensi ini dengan unit-unit kompetensi yang terkait :

1)   tidak ada.

  1. Kondisi Penilaian:

Unit ini harus dinilai pada waktu kerja atau pada pelatihan. Penilaian harus mencakup demontrasi praktis ditambah bermacam metode untuk menilai pengetahuan dasar. Fokus khusus dari unit ini akan bergantung pada Proses Pembelajaran/Kepelatihan.

1. Subjek ini idealnya diajarkan menggunakan sebuah lingkungan teori/praktik terintegrasi.

2. Penekanan pada aplikasi praktis.

  1. Penilaian dapat dilaksanakan secara : simulasi di workshop dan/atau di tempat kerja.
  2. Aspek Kritis:

Aspek kritis  yang merupakan kondisi kerja yang harus diperhatikan dalam mendukung unit kompetensi ini sebagai berikut:

1)   Perbedaan persepsi dalam menerjemahkan kebijakan daerah.

2)   Kompetensi SDM yang variatif.

3)   Keterbatasan data mengenai sumber daya pelatihan di suatu daerah.

  1. KOMPETENSI KUNCI

Tingkat

Karakteristik

1

Melakukan tugas-tugas rutin berdasarkan prosedur yang baku dan tunduk pada pemeriksaan kemajuannya oleh supervisor.

2

Melakukan tugas-tugas yang Iebih luas dan lebih kompleks dengan peningkatan kemampuan untuk pekerjaan yang dilakukan secara otonom. Supervisor melakukan pengecekan-pengecekan atas penyelesaian pekerjaan.

3

Melakukan aktifitas-aktifitas yang kompleks dan non-rutin, yang diatur sendiri dan bertanggung jawab atas pekerjaan orang lain.

 

 

Tingkat Kemampuan yang Harus Ditunjukkan dalam Menguasai  Kompetensi ini

 

 

NO

KOMPETENSI KUNCI DALAM UNIT INI

TINGKAT

1

Mengumpulkan,mengorganisir dan menganalisa informasi

1

2

Mengkomunikasikan ide-ide dan informasi

3

3

Merencanakan dan mengorganisir aktifitas-aktifitas

3

4

Bekerja dengan orang lain dan kelompok

3

5

Menggunakan ide-ide dan tehnik matematika

3

6

Memecahkan masalah

3

7

Menggunakan teknologi

3

 

 

  1. B.       UNIT KOMPETENSI PRASYARAT

Sebelum mengikuti pelatihan unit kompetensi Merancang dan Menciptakan Lingkungan Pembelajaran yang Kondusif ini peserta harus sudah kompeten untuk unit kompetensi sebagai berikut:

- Tidak ada.

 

 

  1. C.       SILABUS PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI (PBK)

 

Judul Unit Kompetensi             :    Merancang Dan Menciptakan Lingkungan Pembelajaran Yang Kondusif

Kode Unit Kompetensi             :    PLK.MP02.007.01

Deskripsi Unit Kompetensi        :    Unit ini merupakan kompetensi yang berhubungan dengan pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja dalam merancang dan menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif.

Prakiraan Waktu Pelatihan        :    24 JP @ 45 Menit

Tabel Silabus Unit Kompetensi  :

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Modul Pelatihan Berbasis Kompetensi

Sub-Sektor Metodologi Pelatihan Kerja

Prosedur Instruksional

Matriks : Perubahan perilaku pada siswa

Informasi verbal

Kecakapan Intelektual

Kecakapan Kognitif

Kecakapan Motorik

Sikap

 

1.Motivasi menyadarkan

akan tujuan belajar

  • Memberitahukan pengetahuan apa yang akan diperoleh dan kegunaannya
  • Memberikan contoh yang relevan
  • Memberitahukan kecakapan yang akan diperoleh
  • Memberikan contoh tentang prestasi nanti.
  • Mendorong untuk melibatkan diri dan berpikir keras
  • Contoh berpikir efisien
  • Mendemonstrasi mengenai kecakapan yang akan diperoleh
  • Demonstrasi tentang perilaku yang tepat
 

2.Mengarahkan

perhatian

  • Menunjukkan kata-kata kunci
  • Memberikan judul
  • Menyuruh mengamati suatu benda
  • Menunjukkan persamaan/perbedaan dari benda tersebut
  • Menyuruh mengamati secara cermat dan mencari unsure-unsur pokok
  • Menunjukkan berbagai sub kecakapan
  • Menunjukkan prosedur yang harus di ikuti
  • Menonjolkan perilaku tertentu dan efeknya
 

3.Membantu dalam

pengolahan

  • Mengetengahkan makna dari factor yang dipelajari
  • Petunjuk tentang cara menghafal pedoman kata

 

  • Membahas apa yang sama dan apa yang beda
  • Merumuskan isi konsep
  • Menggunakan gambar sebagai ilustrasi
  • Membantu merumuskan
  • Menjelaskan engapa harus begini, sambil ber demonstrasi
  • Mengatur waktu dan cara untuk berlatih
  • Menjelaskan engapa dibuat begini
  • Memberi informasi tambahan & merumuska inti  sikap

 

 

Prosedur Instruksional

Matriks : Perubahan perilaku pada siswa

Informasi verbal

Kecakapan Intelektual

Kecakapan Kognitif

Kecakapan Motorik

Sikap

 

4.Membantu menggali

dari ingatan

  • Mengajukan pertanyaan yang terarah. Menghubungkan fakta lama dengan yang baru

 

 

  • Mengajukan pertanyaan yang terarah
  • Menghubungkan konsep dan kaidah yang sudah dipahami dengan konsep/kaidah yang baru.

 

  • Menyajikan masalah yang sama atau baru

 

  • Mengulangi latihan dengan mentaati prosedur membantu pentempurnaan gerak

 

  • Bertanya mengapa perilaku sebaiknya begini, kapan orang harus bersikap begitu.
 

5.Mendampingi siswa

selama memberikan

presentasi

  • Memperhatikan dengan seksama perumusan verbal yang diberikan

 

  • Mengikuti presentasi yang diberikan dan menjawab pertanyaan tentang cara memberikan presentasi
  • Mengikuti uraian tentang pemecahan yang telah ditemukan
  • Mengamati keseluruhan rangkaian gerak
  • Mengamati perilaku berulang kali
 

6. Memberikan feedback

  • Memberikan komentar tentang tepatnya presentasi.

 

  • Memberi konfirmasi tentang tepatnya presentasi
  • Memberiklan pandangan tentang originalitas pemecahan yang ditemukan
  • Memberi komentar mengenai keluwesan gerakan
  • Mengomentari tentang kewajaran sikap yang tercermin dari perilaku

 

 

 

Judul Modul: Merancang Dan Menciptakan Lingkungan Pembelajaran Yang Kondusif

Buku Informasi                                                                                Versi: 2009

Halaman: 8 dari  46


Modul Pelatihan Berbasis Kompetensi

Sub-Sektor Metodologi Pelatihan Kerja

Kode Modul

PLK.MP02.007.01

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Judul Modul: Merancang Dan Menciptakan Lingkungan Pembelajaran Yang Kondusif

Buku Informasi                                                                              Versi: 2009

Halaman: 9 dari  46

 

BAB II

MERANCANG DAN MENCIPTAKAN LINGKUNGAN PEMBELAJARAN YANG KONDUSIF

 

 

  1. A.      Latar Belakang

Unit ini bermaksud memberikan pengetahuan, sikap kerja serta ketrampilan  yang berhubungan dengan  merancang dan menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif.

Sasarannya adalah segala macam pekerjaaan yang berhubungan dengan merancang dan menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif.

Penekanan dari unit ini adalah pengetahuan  tentang merancang dan menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif  yang tepat dan sesuai dengan kondisi pada saat berlangsungnya proses belaja- mengajar/kepelatihan

Pelatihan dapat dilaksanakan di tempat Pelatihan atau di tempat lain  yang relevan dengan persyaratan.

Maximal 1 peserta untuk melakukan kegiatan merancang dan menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif.

 

  • Tersedia sumber-sumber belajar dan bahan-bahan untuk penyusunan dan pembuatan merancang dan menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif.
  • Tersedia alat-alat untuk mencoba hasil penyusunan dan pembuatan merancang dan menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif.
  • Permasalahan keselamatan dan kesehatan kerja yang perlu diperhatikan.
  • Penggunaan peralatan yang sesuai dengan pekerjaan yang dilaksanakan.

 

Pembinaan kualitas dan produktivitas tenaga kerja sangat ditentukan oleh keberhasilan pembinaan jalur pendidikan formal, pelatihan kerja, dan pengembangan di tempat kerja. Secara makro terdapat empat sasaran kegiatan pelatihan kerja yang dicanangkan sejak digulirkannya reformasi pelatihan pada tahun 1994/1995:

  • Meningkatkan kualitas angkatan kerja agar mampu menciptakan dan mendukung perluasan lapangan kerja dan penanggulangan pengangguran;
    • Meningkatkan produktivitas tenaga kerja;
    • Mendukung program penempatan tenaga kerja ke luar negeri;
    • Mendukung program penggantian tenaga kerja asing pendatang.

Berkenaan dengan empat sasaran kegiatan pelatihan kerja tersebut di atas maka perancangan dan menciptakan kondisi lingkungan pembelajaran yang kondusif diarahkan ke empat sasaran tersebut.

 

  1. B.      Tujuan

Maximal 1 peserta untuk melakukan kegiatan merancang dan menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif.

 

  1. Tersedia sumber-sumber belajar dan bahan-bahan untuk penyusunan dan pembuatan merancang dan menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif.
  2. Tersedia alat-alat untuk mencoba hasil penyusunan dan pembuatan merancang dan menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif.
  3. Permasalahan keselamatan dan kesehatan kerja yang perlu diperhatikan.
  4. Penggunaan peralatan yang sesuai dengan pekerjaan yang dilaksanakan.
  5. Lingkungan kerja yang sehat dan aman dengan ventilasi dan pencahayaan yang memadai.  Mengetahui cara bekerja yang aman dengan peralatan tulis menulis serta menggambar dengan Komputer.

 

  1. C.      Ruang Lingkup

Ruang lingkup kegiatan merancang dan menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif dalam unit kompetensi ini meliputi kegiatan motivasi menyadarkan akan tujuan belajar, mengarahkan perhatian, membantu dalam pengolahan, membantu menggali dari ingatan, mendampingi siswa selama memberikan presentasi, dan memberikan feedback sehingga terciptalah lingkungan pembelajaran yang kondusif.

 

 

  1. D.     Pengertian-pengertian
    1. Profesi

Profesi adalah suatu bidang pekerjaan yang menuntut sikap, pengetahuan serta keterampilan/keahlian kerja tertentu yang diperoleh dari proses pendidikan, pelatihan serta pengalaman kerja atau penguasaan sekumpulan kompetensi tertentu yang dituntut oleh suatu pekerjaan/jabatan.

  1. Standardisasi

Standardisasi adalah proses merumuskan, menetapkan serta menerapkan suatu standar tertentu.

  1. Pelatihan

Pelatihan adalah proses pembelajaran yang dilaksanakan untuk mencapai suatu kompetensi tertentu di mana materi, metode dan fasilitas pelatihan serta lingkungan belajar yang ada terfokus kepada pencapaian unjuk kerja pada kompetensi yang dipelajari.

  1. Kompetensi

Kompetensi adalah kemampuan seseorang untuk menunjukkan aspek sikap, pengetahuan dan keterampilan serta penerapan dari ketiga aspek tersebut di tempat kerja untuk mencapai unjuk kerja yang ditetapkan.

  1. Standar Kompetensi

Standar kompetensi adalah standar yang ditampilkan dalam istilah-istilah hasil serta memiliki format standar yang terdiri atas judul unit, deskripsi unit, elemen.

  1. Menganalisis

Menganalisis adalah menyelidiki dengan menguraikan bagian-bagiannya.

  1. Mengidentifikasi

Mengidentifikasi adalah menentukan atau menetapkan identitas orang, benda, dsb.

  1. Kebutuhan pelatihan

Kebutuhan pelatihan adalah kesenjangan antara kompetensi yang dipersyaratkan oleh suatu jabatan dengan kompetensi yang dimiliki calon peserta pelatihan.

  1. Program Pelatihan

Program pelatihan adalah suatu rumusan tertulis yang memuat secara sistematis tentang pemaketan unit-unit kompetensi sesuai dengan area kompetensi jabatan pada area pekerjaan sebagai acuan dalam penyelenggaraan Pelatihan Berbasis Kompetensi.

  1. Pelatihan Kerja

Pelatihan kerja adalah keseluruhan kegiatan untuk memberi, memperoleh, meningkatkan serta mengembangkan kompetensi kerja, produktivitas, disiplin, sikap dan etos kerja pada tingkat keterampilan dan keahlian tertentu sesuai dengan jenjang dan kualifikasi kompentensi/jabatan/ pekerjaan serta spesifikasi pekerjaan.

  1. Pelatihan Berbasis Kompetensi (yang selanjutnya disebut PBK)

PBK adalah proses pelatihan yang dilaksanakan untuk mencapai suatu kompetensi tertentu dimana materi, metode dan fasilitas pelatihan serta lingkungan pelatihan yang ada terfokus kepada pencapaian unjuk kerja.

  1. Lembaga Pelatihan Kerja (LPK)

Lembaga Pelatihan Kerja yang selanjutnya disebut LPK adalah suatu lembaga pemerintah/swasta/badan hukum atau perorangan untuk tempat diselenggarakannya proses pelatihan kerja bagi peserta pelatihan.

  1. Peserta Pelatihan

Peserta pelatihan adalah angkatan kerja yang telah memenuhi persyaratan teknis dan administrasi untuk mengikuti pelatihan tertentu dengan program pelatihan berbasis kompetensi.

  1. Instruktur

Instruktur adalah seseorang yang berfungsi sebagai fasilitator, pelatih, pembimbing teknis, supervisor yang bertugas untuk menyampaikan materi pelatihan kepada peserta pelatihan di LPK atau di tempat kerja selama proses pelatihan.

  1. Kualifikasi jabatan

Kualifikasi jabatan adalah pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dipersyaratkan jabatan (job performance requirements) yang diperoleh dari analisis jabatan.

  1. Analisis jabatan

Analisis jabatan adalah proses pengumpulan fakta, data, dan keterangan pekerjaan, mengolahnya dan menyajikan dalam bentuk gambaran jabatan yang tersusun secara sistematis, akurat, dan jelas.

  1. Present Performance

Present performance atau kompetensi saat ini adalah pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dimiliki tenaga kerja saat ini.

  1. Formasi Lapangan Pekerjaan

Formasi lapangan pekerjaan adalah kesempatan/lowongan pekerjaan yang tersedia pada lapangan pekerjaan.

  1. Kebijaksanaan Daerah

Kebijaksanaan atau kebijakan daerah adalah rangkaian konsep dan asas yang menjadi garis besar dan dasar rencana dalam pelaksanaan suatu pekerjaan, kepemimpinan, dan cara bertindak tata pemerintahan daerah.

  1. Tenaga Kerja Sukarela

Tenaga kerja sukarela adalah tenaga kerja yang bekerja atas kehendak sendiri, bukan suatu kewajiban.

 

  1. E.      Diagram Alir

 

 

 

  1. F.      Materi Pelatihan Merancang Dan Menciptakan Lingkungan Pembelajaran Yang Kondusif

 

1. Menganalisis dan Merancang Lingkungan Pembelajaran

 

Pengetahuan yang diperlukan dalam Menganalisis dan Merancang Lingkungan Pembelajaran.

 

a. Pengertian Psikologi

Menurut arti kata, Psikologi sering diterjemahkan sebagai Ilmu Jiwa. Yaitu dari kata Psyche yang berarti  “Jiwa“ dan Logos yang berarti “Ilmu“.

Yang hendak diselidiki oleh Psikologi ialah : segala sesuatu yang dpat memberikan jawaban tentang apa sebenarnya manusia itu, mengapa ia berbuat demikian, apa yang medorongnya berbuat demikian, apa maksud  dan tujuannya ia berbuat demikian.

 

Crow & Crow, dalam bukunya berjudul Educational Psychology  memberikan batasan tentang psikologi sebagai berikut : Psychologi is the study of human behavior and human relationship    

 

A.Q. Sartain, dalam bukunya : Psychology, Understanding of Human of Behavior  memberikan batasan : Psychology is the Scientific Study of the Bahavior of Living Organism, with Special Attention Given to Huiman Behavior. (terjemahan bebas: Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku organisme yang hidup, terutama tingkah laku manusia)

Dengan perkataan lain :

 ” Psikologi ialah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia, yaitu interaksi menusia dengan dunia sekitarnya “

 

b. Obyek psikologi

 

Karena sifat-sifat manusia yang sangat komplek dan unik, maka obyek psikologi biasanya dibedakan menjadi 2 macam :

1. Obyek Material : Obyek material adalah obyek yang dipandang secara keseluruhan  dalam hal ini adalah manusia.

 

  1. Obyek Formal  :  Dalam hal ini obyek formal dari psikologi berbeda-beda menurut  perubahan zaman dan pandangan para ahli.

a.  Pada zaman Yunani kuno, yang menjadi 0byek adalah: hakekat jiwa

b.  Pada masa Descrates, obyek formal adalah : gejala-gejala kesadaran

c.  Pada permulaan abad ke20 yaitu pada akhior Behaviorisme yang timbul di  Amerika, obyeknya dalah tingkah laku manusia yang tampak (lahiriah)

d. Sedangkan menurut psiokologi yang dipelopori oleh S.Freud, obyeknya adalah : gejala-gejala ketidak sadaran manusia.

 

 

c.  Macam-Macam Psikologi

 

Psikologi berkembang, sehingga kini timbul bermacam-macam Psikologi.

Pada umumnya Psikologi dibagi menjadi dua golongan :

1.    Psikologi Metafisika

     Yang menyelidiki jiwa seperti yang dilakukan oleh Plato dan Aristoteles

2.    Psikologi Empiris

Yang menyelidiki gejala-gejala kejiwaan dan tingkah laku manusia dengan menggunakan pengamatan (observasi), percobaan atau eksperimen dan pengumpulan berbagai macam data yang ada hubungannya dengan gejala-gejala kejiwaan manusia.

 

Psikologi Empiris, dibagi lagi atas :

a. Psikologi Umum : Yang menyelidiki/mempelajari gejala-gejala kejiwaan pada  umumnya.

b. Psikologi Khusus : yang menyelidiki gejala-gejala kejiwaan manusia menurut aspek  tertentu sesuai dengan pandangan serta tujuannya.

Yang termasuk dalam psikologi khusus, diantaranya :

  • Psikologi Perkembangan
  • Psikologi Pewmuda/remaja
  • Psikologi Sosial
  • Psikologi Pelatihan atau Psikologi Pendidikan yang untuk pembahasan selanjutnya disebut Psikologi pelatihan saja.

 

d. Psikologi Pelatihan

 

Bila kita berpendapat bahwa psikologi adalah suatu ilmu yang berusaha menyelidiki semua aspek kepribadian dan tingkah laku manusia, baik yang bersifat jasmanian maupun rohaniah, baik secara teoritis maupuin dengan melihat kegunaannya di dalam praktik sehari-hari, baik secara individual maupun dalam hubungannya dengan  manusia lain dan lingkungannya. Mungkin kita akan mengatakan bahawa Psikologi Pelatihan sebenarnya sudah termasuk didalam Psikologi serta tidak perlu dipisahkan menjadi suatu disiplin ilmu tersendiri.

 

Sejalan dengan  dengan  perkembangan ilmu dan teknologi serta kebutuhan manusia yang semakin kompleks, kini banyak disiplin ilmu yang berkembang dan terpecah menjadi beberapa cabang disiplin  ilmu yang akhirnya berdiri sendiri. Demikian pula halnya Psikologi Pelatihan menjadi ilmu yang berdiri sendiri pecahan dari Psikologi.

 

Crow & Crow, menyatakan bahawa Psikologi Pelatihan merupakan suatu ilmu yang berusaha menjelaskan masalah-masalah belajar/berlatih yang dialami individu, terutama yang menyangkut kondisi-kondisi yang mempengaruhinya.

 

 

 

Dengan Perkataaan lain :

Psikologi pelatihan adalah ilmu yang mempelajari pertumbuhan dan perkembangan manusia baik fisik maupun mental yang sangat erat hubungannya dengan masalah pelatihan terutama yang mempengaruhi proses dan keberhasilan belajar/berlatih.

 

Manfaat mempelajari Psikologi Pelatihan :

Psikologi Pelatihan sangat bermanfaat untuk melakukan suatu kegiatan mendidik dan melatih, karena Psikologi merupakan ilmu yang berusaha memahami manusia dengan tujuannya untuk dapat memanfaatkan ilmu tersebut lebih tepat, guna mencapai keberhasilan dalam proses belajar/berlatih.

 

e. Ruang lingkup Psikologi Pelatihan

 

Kalau ditanyakan Psikologi Pelatihan itu mencakup apa saja, maka akan diperoleh jawaban yang bermacam-macam dan mungkin saja satu dengan lainnya berbeda.

 

Pendapat para ahli mengenai ruang lingkup Psikologi Pelatihan

 

Rudolf Pintner , dalam bukunya : Educational Psychology menyatakan : Psikologi Pendidikan merupakan ilmu yang memusatkan pada penemuan dan aplikasi prinsip-prinsip dan teknik-teknik psikologi kedlam pelatihan, sehingga ruang lingkupnya menjadi topik-topik Psikologi yang erat hubungannya dengan pelatihan.

 

Crow & Crow , Mengemukakan : Psikologi Pelatihan sebagai ilmu terapan (applied science) yang berusaha untuk menerapkan masalah belajar menurut prinsip-prinsip dan fakta-fakta tingkah laku manusia telah ditentukan secara ilmiah.

Sesuai dengan hal tersebut, Ruang Lingkup Psikologi Pelatihan :

  1. Sampai sejauh mana faktor-faktor pembawaan dan lingkungan berpengaruh terhadap proses belajar dan mengajar
  2. Sifat-sifat dari proses belajar dan mengajar
  3. Hubungan antara tingkat kematangan dengan kesiapan belajar dan mengajar
  4. Signifikansi pendidikan trhadap perbedaan-perbedaan individual dalam kecepatan dan keterbatasan belajar dan mengajar
  5. Perubahan-perubahan jiwa yang terjadi selama proses belajar dan mengajar
  6. Hubungan antara prosedur-prosedur melatih dengan hasil berlatih.
  7. Teknik-teknik yang sangat efektif bagi penilaian kemajuan dalam berlatih
  8. Pengaruh/akibat relatif dari pelatihan formal dibandingkan dengan pengalaman berlatih yang insidental dan informasi terhadap suatu individu.
  9. Nilai/manfaat sikap ilmiah terhadap pelatihan bagi personil lembaga pelatihan
  10. Akibat/pengaruh psikologis yang ditimbulkan oleh kondisi-kondisi sosiologis terhadap sikap peserta pelatihan.

 

Good and Brophy, dalam bukunya yang berjudul : Educational Psychology, a Realistic Approach , berdasarkan hasil-hasil penelitian dan disertai contoh-contoh yang diperoleh dari praktik kehidupan di lembaga pelatihan/pendidikan, mengemukakan Psikologi Pelatihan dapat diuraikan menjadi 6 bagian, sebagai berikut :

Bagian 1 : Menguraikan tentang psikologi dalam hubungannya dengan tugas pelatih/guru
Bagian 2 : Manajemen kelas, yang mencakup :

  • Perkembangan anak
  • Kepemimpinan dan dinamika kelompok
  • Psikologi eksperimental
  • Hasil-hasil manajemen kelas
  • Mengurangi masalah-masalah manajemen yang efektif
Bagian 3 : Menguraikan masalah belajar, yang meliputi :

  • Pengertian tentang belajar
  • Prinsip-prinsip umum belajar
  • Model-model dan desain instruksional
  • Prinsip-prinsip pelatihan
Bagian 4 : Pertumbuhan, perkembangan dan pelatihan

  • Prinsip-prinsip perkembangan psikologi
  • Perkembangan fisik
  • Aplikasi  prinsip-prinsip perkembangan
Bagian 5 : Mengenai motivasi

  • Pengertian motivasi
  • Pengertian Stimulus dan Respon
  • Teori Kognitif dari Motivasi
  • Aplikasi Motivasi
Bagian 6 : Prinsip-prinsip evaluasi dan pengukuran

  • Macam-macam tes
  • Cara-cara menyusun essay dan tes obyektif
  • Performance test
  • Prosedur penilaian
  • Monitoring kemajuan peserta diklat
  • Rehabilitas dan validitas tes
  • Penggunaan statistik dalam mengolah hasil tes

 

Dari uraian yang telah dibahas, nyatalah bahwa ruang lingkup pembahasan yang tercakup dalam psikologi pelatihan adalah sangat luas. Namun kenyataannya untuk keperluan praktis perlu disesuaikan dengan program pelatihan, sedangkan ruang lingkupnya masih    dibagi dalam beberapa mata pelatihan, modul dan sub modul.

Oleh karena itu masih harus dapat dibedakan pengertian psikologi pelatihan sebagai disiplin ilmu dengan psikologi pelatihan sebagai suatu mata pelatihan atau sebagai modul.

 

Keterampilan yang dilakukan waktu menganalisis dan merancang lingkungan pembelajaran perlu memperhatikan hal-hal apa yang harus dilakukan.

 

f.   Perbedaan Individu

Perbedaan dalam bakat

 

Sifat khas yang bersumber pada bakat, besar peranannya dalam proses pelatihan dan sangat ideal apabila kita dapat memberikan itu sesuai dengan bakat peserta pelatihan.

Untuk itu di dalam pelatihan si pelatih harus seawal mungkin mengenal bakat-bakat siswanya.

Banyak definisi yang mengartikan apakah bakat itu, ada yang mendefinisikan bahwa bakat adalah kemampuan individu, performace individu dan lain sebagainya.

 

Jika dititik beratkan kepada pelatihan, apa yang dilakukan individu dari segi performance, setelah dia mendapatkan pelatihan dan dikaitkan dengan pendapat Woodworth dan Marquis bahwa bakat mempunyai tiga arti, yaitu :

  1. Achievment yang merupakan actual ability, yang dapat diukur langsung dengan tes tertentu
  2. Capacity yangmerupakan potential ability, dapat diukur secara tidak langsung denga melalui pengukuran terhadap kecakapan individu dimana kecakapan berkembang dengan perpaduan antara dasar dan pelatihan yang intensif dan pengalaman.
  3. Aptitude, kualitas yang hanya dapat diukur dengan tes khusus yang sengaya dibuat untuk itu.

 

Dari definisi-definisi para ahli tersebut dapat dibuat suatu rumusan bahawa bakat adalah proses atau gejala tingkah laku seseorang denga dimensi-dimensi tertentu, antara lain :

1.  Individu melakukan sesuatu

2. Apa yang dilakukan merupakan sebab tertentu dan mempunyai hasil tertentu

3.  Individu melakukan sesuatu dengan cara tertentu

 

Untuk dapat melakukan tingkah laku di atas harus mempunyai tiga aspek yaitu

1.     Aspek tindakan (Performance atau act )

2.     Aspek sebab akibat ( A person causes a result)

3.     Aspek ekspresif

 

Menurut Guilford ( dikutip dari Psikologi Pendidikan oleh Sumadi Suryabrata, BA, Drs, Ma, Ed.S, PhD) bakat mencakup dimensi pokok :

 

1. Dimensi perseptual, kemampuan mengadakan persepsi dengan faktor-faktor : Kepekaan indera, perhatianb, orientasi ruang, orientasi waktu, luasnya persepsi dan kecepatan persepsi.

2. Dimensi psikomotor yang mencakup 6 faktor : faktor kekuatan, faktor impuls, faktor kecepatan gerak, ketelitian/ketepatan (kecepatan statis dan dinamis), faktor koordinasi dan faktor keluwesan (flexibility)

3.   Dimensi intelektual, meliputi lima faktor :

  • Faktor ingatan ( ingatan mengenai substansi relasi dan sistem)
  • Faktor pengenal (Pengenalan terhadap keseluruhan informasi terhadap golongan, hubungan, struktur dan kesimpulan)
  • Faktor evaluatif (meliputi evaluasi mengenai indentitas, relasi sistem dan penting tidaknya problem yang dihadapi)
  • Faktor berfikir konvergen (faktor untuk menghasilkan nama-nama, hubungan-hubungan, sistem, transformasi dan implikasi yang unik)
  • Faktor berfikir divergen ( yang meliputi faktor untuk menghasilkan unit-unit, kelas-kelas, hubungan expressional fluency, transvormasi divergen, menyusun bagian-bagian menjadi kerangka atau garis besar)

Pada dasarnya semua individu yang normal memiliki faktor-faktor seperti tersebut diatas. Variasi bakat timbul karena variasi dalam ombinasi, korelasi dan intensitas faktor-faktor tersebut. Variasi inilah yang harus dikenal oleh para pelatih seawal mungkin.

Untuk mengenal bakat pada setiap individu biasanya ditempuh dengan beberapa prosedur yaitu :

  1. Melakukan analisis jabatan (job Analysis) atau analisis lapangan studi untuk menemukan faktor-faktor apa saja yang diperlukan supaya orang dapat berhasil dalam lapangan tersebut
  2. Dari hasil dibuat penguraian jabatan (Job description)
  3. Dari penguraian jabatan diketahui persyaratan  apa yang harus dipenuhi supaya individu dapat berhasil dalam lapangan tersebut.
  4. Dari persyaratan itu sebagai landasan untuk menyusun alat pengungkap yang iasanya disebuit tes bakat.

 

g.  Intelegensi

 

Pengertian intelegensi menunjukkan bagaimana cara individu bertingkah laku, bertindak, cepat-lambatnta individu memecahkan masalah yang dihadapinya dengan fungsi mental yang kompleks.

Beberapa ahli psikologi berpendapat antara lain adalah :

Alferd Bined :

Intelegensi adalah kemampuan individu untuk memusatkan diri kepada suatu masalah yang harus dipecahkan

 

Willem Stern :

Intelegensia merupakan kapasitas atau kecakapan pada setiap individu yang secara sadar untuk menyesuaikan pikirannya pada situasi yang dihadapinya.

 

Edward Thorndike

Intelegensi adalah kemampuan individu untuk memberikan respons yang tepat terhadap rangsangan yang diterimanya dari lingkungannya.

 

Maka yang penting bagi seorang instruktur dalam menyajikan pelatihan, disamping mengetahui bakat-bakat seseorang juga harus mengetahui :

  1. bahwa perkembangan intelegensi itu sangat penting dan apa dampaknya terhadap peserta yang normal dan kurang normal
  2. Sejauh mana perkembangan intelegensia seseorang dipengaruhi faktor-faktor dasar dan faktor-faktor lingkungan
  3. Bagaimana instruktur dapat mebedakan intelegensi dan prestasi belajar/berlatioh sebagai hasi pelatihan.

 

Untuk itu maka sebenarna intelegensi dengan  konsepsi dasar dapat digolongkan sebagai berikut :

  1. Konsepsi yang bersifat spekulatif : mengarah kepada intelegensi umum dengan kemapuan berfikir abstrak yang dapat dinilai dengan ketidak lengkapan dari kemungkinan perjuangan hidup individu. Selain dari pada itu, bahwa intelegensi adalah sebagai kesatuan dari daya-daya jiwa formal dan daya-daya jiwa khusus.
  2. Konsepsi yang bersifat pragmatis : Intelegensi itu dapat dilihat dari apa yang sebenarnya menjadi tingkah laku individu itu berubah sesuai dengan apa yang telah dipahami dan dimengerti sebelumnya secara pragmatis
  3. Konsepsi bersifat faktor : Intelegensi yangdapat dilihat dengan menggunakan analisis faktor, dimana faktor  yuang menentukan adalah dasar (bakat) dan lingkungan.
  4. Konsepsi bersifat operasional : Intelegensi dapat didefinisikan dan diukur melalui tindakan (operasional) setiap langkah lakju individu.
  5. Konsepsi yang bersifat fungsional : Intelegensi dapat dilihat, didefinisikan ats dasar bagimana berfungsinya intelegensi itu untuk membuat tujuan sendiri, inisiatif sendiri. Artinya bahwa ada kecenderungan makin cerdas seseorang akan cakap untuk membuat tujuan sendiri, inisiatif sendiri, mengkritik diri, melakukanj kegiatan tanpa menunggu perintah.

 

Pada umumnya orang berfikir menggunakan pikiran (intelek)-nya, cepat tidaknya terpecahkan suatau masalah tergantung kepada kemampuan intelegensinya.

 

Dari hal-hal diatas dapat ditarik suatu kesimpulan :

“ Intelegensi ialah kemampuan yang dibawa sejak lahir, yang memungkinkan seseorang berbuat sesuatu dengan cara tertentu “

 

 

Faktor-faktor yang mempengaruhi intelegensi

 

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi intelegensi, sehingga terdap[at perbedaan, adalah sebagai berikut :

 

a. Pembawaan : Pembentukan ditentukan oleh sifat-sifat dan ciri-ciri yang dibawa seja lahir yaitu segala kemampuan yang dimiliki.

 

b. Kematangan : Tiap organ dalam tubuh manusia mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Tiap organ baik fisik maupun psikis dikatakan telah matang jika telah m,encapai kesangguapan menjalankan fungsinya. Kematangan erta kaitannya dengan umur.

 

c. Pembentukan : Pembentukan ialah segala faktor luar diri seseorang yang mempengaruhi perkembangan intelegensinya

 

d. Minat : Minat mengarahkan perbuatan kepada tujuan dan merupakan motor penggerak dari intelegensinya

 

 

Pengukuran Intelegensi

 

Dari definisi-definisi psikolog yang mengemukakan bahwa masing-masing individu itu berbeda dalam segi intelegensinya, maka pengikuran intelegensi sangat dibutuhkan terutama bagi seorang pelatih / instruktur, juga tim seleksi peserta pelatihan untuk menentukan atau memilih peserta latihan yang sesuai dengan bakat atau intelegensinya.

Pengukuran intelegensi itu dilihat dari perbandingan kecerdeasan atau IQ (Intelency Quotient)

 

Penggolongan menurut IQ adalah sebagai berikut :

 

a.  IQ 49 kebawah : Idiot (paling idiot 0 – 29 )
b.  IQ 50 – 69 : Golongan kurang normal atau terbelakang
c.  IQ 70 – 79 : Bodoh ( Dull )
d.  IQ 80 – 89 : Di bawah Normal
e.  IQ 90  – 109 : Normal / rata-rata
f.   IQ 110  – 119 : Di atas normal
g.  IQ 120 – 129 : Cerdas
h.  IQ 130 – 139 : Sangat cerdas
i.   IQ 140 ke atas : Genius

 

Sikap Kerja yang harus dilakukan waktu menganalisis dan merancang lingkungan pembelajaran.

Waktu melakukan kegiatan pengumpulan data apabila berkomunikasi dengan responden harus bersikap sopan dan santun, waktu melakukan pembacaan data harus teliti, cermat, dan untuk seluruh kegiatan tersebut harus taat asas terhadap ketentuanyang sudah ditetapkan termasuk memastikan prosedur standar.

 

 

2. Menciptakan dan meyakinkan  kepada pihak-pihak yang terkait  tentang lingkungan pembelajaran yang kondusif

 

Pengetahuan yang diperlukan dalam Menciptakan dan meyakinkan  kepada pihak-pihak yang terkait  tentang lingkungan pembelajaran yang kondusif

 

      a. Keragaman Indidvidu

 

Menurut Psikologi pelatihan/instruksional pembagian dasar perilaku individu ada 3 klasifikasi, yaitu :

  1. Segi Kognitif , mencakup pengetahuan dan pengalaman
  2. Segi Afektif , mencakup perasaan, minat, motivasi, sikap dan nilai-nilai estetika.
  3. Segi Motorik, mencakup fungsi penagamaan dan gerakan-gerakan motorik

 

Pemahaman terhadap klasifikasi perilaku individu dalam pelatihan diperlukan keterlibatannya dengan 3 proses dasar program kepelatihan yang menyangkut:

  1. Perumusan tujuan pelatihan, berupa rincian perubahan-perubahan perilaku siswa
  2. Pengorganisasian pengalaman berlatih untuk memunculkan perubahan perilaku yang dikehendaki
  3. Penilaian hasil-hasil pelatihan sampai taraf dimana perubahan perilaku melalui pelatihan bagi siswa.

 

 

 

 

b. Kaitan perilaku dengan kecakapan

 

Dalam situasi praktis kepelatihan ,sering dianggap lebih penting pengertian  segi-segi kecakapannya daripada segi perilaku peserta pelatihan yang berubah akibat berlatih.

Kecakapan diartikan sebagai kesatuan proses dan isi yang disimpulkan dari perubahan yang relatif menetap pada perilaku peserta latihan.

Kecakapan mengandung sifat-sifat sebagai berikut :

  1. Kecakapan adalah hasil kematangan dan kemahiran. Artinya taraf perkembangan peserta membatasi bahan/tugas yang dapat dipelajari. Dengan katalain kecakapan berkembang dalam taraf yang berbeda-beda pada setiap individu sejak lahir sampai memnginjak dewasa. Hal ini dapat dilihat dari perkembangan berbahasa dan berfikir angka.
  2. Kecakapan cenderung bertahan lama (awet) dan relatif sukar berubah saat orang menjadi dewasa, misalnya keterampilan tangan.
  3. Kecakapan mempengaruhi tempo/kecepatan dalam mempelajari materi/tugas, tergantung dari bidang studi dan bakatnya
  4. Suatu kecakapan tertentu dapat mempermudah seseorang mempelajari  tugas-tugas yang spesifik.
  5. Kecakapan lebih umum daripada keterampilan. Keterampilan menunjuk  pada taraf kecekatan seseorang pada tugas yang kompleks.

 

Klasifikasi kecakapan dapat dinyatakan sebagai berikut :

  1. Kecakapan intelektual umum (intelegensia) dipandang sebagai kecakapan dasar yang melatarbelakangi seluruh proses dalam segi kognitif
  2. Kecakapan verbal – numerikal – educational, menunjuk kepada kecakapan mengenai makna dan relasi kata-kata dalam wujud lisan dan tulisan serta kecakapan mengenai nalar dan berhitung angka
  3. Kecakapan Spatial (mengamati dan menafsirkan relasi bentuk), kecakapan memahami benda-benda (mechanical information) dan kecakapan manual, yakni menggunakan alat-alat.

 

 

Diagram Proses Perilaku

Dari diagram terlihat bahwa proses kognisi dimulai dengan persepsi seseorang terhadap rangsangan yang datang dari luar. Apa yang diterima olehnya memperoleh arti melalui proses belajar, yaitu membandingkan pengalaman masa lampau dengan apa yang sedang diamatinya. Melalui proses belajar seorang individu membandingkan beberapa kemungkinan pilihan cara pemecahannya untuk sampai kepada pilihan tertentu, pilihan itulah yang tercermin dalam perilaku dan tindakannya.

 

Sebagai kegiatan dari kognitif itu sendiri adalah : Intelektual/intelegensi seseorang yang mempengaruhi kecakapannya.

Toch dan McLean mengatakan : Tidak ada tingkah laku tanpa persepsi atau tingkah laku adalah persepsi masa lalu.

 

 

c. Keragaman Individu dan Prestasi Belajar.

 

Pada dasarnya setiap individu berbeda satu dengan lainnya, maka karena perbendaan ini disebutlah dengan kergaman individu.

Keragaman individu akan mempengaruhi kemajuan berlatihnya dan selanjutnya berpegang pada batas atas prestasi yang dapat dicapainya ( lihat gambar)

 

 

Secara umum keragaman individual tersebutmencakup beberapa aspek  :

-          Kecakapan kognitif

-          Kecakapan psikomotor

-          Kecakapan afektif

-          Latar belakang keluarga dan status sosial dan ekonomi

-          Jenis dan peranan seksual.

 

Keterampilan yang dilakukan waktu menciptakan dan meyakinkan kepada pihak-pihak yang terkait  tentang lingkungan pembelajaran yang kondusif perlu memperhatikan hal-hal apa yang harus dilakukan.

 

d. Kesiapan Berlatih

 

Kesiapan berlatih yaitu keseluruhan ciri-ciri keragaman individual yang memungkinkan terjadinya perubahan perilaku melalui proses pengalaman latihannya.

Peserta pelatihan dengan individu-indivdu yang unik dengan segala macam perilaku yang berbeda serta menurut intelegensi yang heterogen harus deisiapkan dengan baik dan benar untuk dapat menerima perubahan tingkah lakunya dengan belajar dan berlatih.

Pemusatan pemikian, perhatian, pengamatan, dan lainnya serta kesiapan mental dengan memotivasi diri sendiri oleh peserta latihan maupun oleh instruktur.

 

 

Berlatih sebagai Perubahan Tingkah Laku

 

Sifat perubahan dalam kecakapan tergantung pada taraf kedalaman pengalaman berlatih yang diserap siswa. Misalnya untuk segi kognitif seorang peserta latihan dapat berubah pengetahuannya saja. Bila pengalaman belajar lebih intensif lagi, maka berubah pemahamannya serta cakap menganalisis suatu kejadian, cakap melakukan sintesis dalam berbagai hal. Sewlanjutnya cukup mengevaluasi masalah yang dihadapi di bengkel kerja, bilamana pengalaman berlatih sangat intensif. Artinya dengan perubahan yang terjadi pada segi kognitif, diharapkan siswa cakap melakukan pemecahan masalah-masalah yang dihadapi sesuai dengan bahan/tugas yang dibebankan kepadanya.

Apabila perubahan itu meliputi segi Afektif, maka diharapkan agar peserta pelatihan lebih peka terhadap nilai-nilai dan etika yang berlaku di bidang tugasnya. Jika perubahan yang terjadi cukup mendasar, maka ia tidak hanya akan menerima dan memperhatikan suatu nilai saja, melainkan juga akan cakap menanggapi dan mengingatkan diri pada nilai itu, cakap melakukan pengaturan suatu sistem nilai maupun cakap berperan sesuai dengan sistem nilai yang berlaku di bidang tugasnya. Artinya siswa itu menyerap sistem nilai menjadi miliknya pribadi sehingasebagai akibat sikap mentalny mencerminkan sistem nilai yang dianut.

 

Dalam segi psikomotorik terjadi peniruan perilkau (Siswa meniru instrukturnya). Kemudian secara bertahap ia mampu menggunakan perilaku secara tepat dan berurutan sampai pada saat tertentu dapat terjadi semacam otomatisme, bilaman perilaku itu telah tertanam (berakar) pada diri peserta latihan.

 

 

SIFAT-SIFAT INDIVIDU

 

Pembawaan dan Lingkungan

 

Pembawaan merupakan perihal yang pelik. Dalam hal ini para ahli pendidikan, psikologi dan lainnya telah lama berupaya memikirkan serta berusaha mencari jawaban tentang perkembangan manusia.

Perkembangan manusia itu apakah tergantung kepada pembawaan(keturunan) ataukan kepada pengaruh-pengaruh lingkungan ?  Sehubungan dengan pertanyaan ini terdapat 3 aliran yang berbeda satu sama lainnya dalam hal perkembangan manusia.

 

Aliran Nativisme

 

Aliran ini berpendapat bahawa segala perkembangan manusia itu telah ditentukan oleh faktor-faktor yang dibawa sejak lahir. Pembawaan yang telah ada pada waktu dilahirkan itulah yang menentukan hasil perkembangannya. Menurut Nativisme, pendidikan dan pelatihan tidak dapat merubah sifat-sifat pembawaan

 

 

 

Aliran Empirisme

 

Aliran ini berpendapat bahwa  segala perkembangan manusia itu telah ditentukan oleh lingkungan atau oleh pendidikan, pelatihan dan pengalaman yang telah diterima/dialami sejak kecil. Menurut Empirisme manusia dapat dibentuk menjadi apa saja sesuai dengan kehendak lingkungan, pendidikan dan latihan.

 

Aliran Konvergensi

 

Aliran atau lebih tepatnya Hukum Konvergensi ini berasal dari ahli psikologi Jrman yang bernama William Stern. Ia berpendapat bahwa pembawaan dan lingkungan menentukan perkembangan manusia. Aliran ini dapat dibedakan pula dalam dua golongan.

  1. Aliran yang dalam hukum konvergensinya lebih menekankan kepada pembawaaan
  2. Aliran yang dalam hukum konvergensinya lebih mnekankan kepada pengaruh lingkungan

 

Didalam kenyataannya manusia tidak hanya diperkembangkan, tetapi juga memperkembangkan dirinya sendiri. Manusia pada hakekatnya adalah makhluk yang dapat dan sanggup memilih dan menentukan hal-hal mengenai dirinya dengan bebas. Karena itu ia bertanggung jawab atas segala perbuatannya, ia juga dapat mengambil keputusan yang berlainan dengan apa yang sudah diputuskannya sebelumnya.

 

Dari uraian tersebut dapat disimpulkan :

  • Perkembangan manusia sedikit banyaknya ditentukan oleh pembawaan dan karena aktivitas dan pemilihan atau penentuan manusia itu sendiri akibat pengaruh faktor-faktor lingkungan tertentu berkembang mejadi sifat-sifat.
  • Sifat dan ciri-ciri manusia dalam perkembangannya ada yang lebih ditentukan oleh lingkungannya dan ada pula yang lebih ditentukan oleh pembawaannya.

 

Sifat-sifat umum manusia

 

Apakah perhatian itu ?

 

“  Perhatian adalah pemusatan tenaga psikis tertuju kepada suatu obyek dan banyak sedikitnya kesadaran yang mengerti aktivitas yang banyak dilakukan “

Contoh :

  • Dia sedang memperhatikan skema dalam Job sheetnya
  • Dengan penuh perhatian ia mengikuti ceramah itu.

Macam-macam perhatian

 

a.  Perhatian atas dasar identitasnya :

1.  Perhatian intensif, artinya makin intensif perhatian yang menyertai sesuatu aktivitas semakin sukseslah aktivitasnya

2.  Perhatian tidak intensif, kebalikan dari perhatian intensif

 

b.  Perhatian atas dasar cara timbulnya perhatian

1.  Perhatian spontan (tidak sengaja) seperti : suara yang tiba-tiba terdengar

2.  Perhatian sekehendak (disengaja) seperti : memperhatikan penjelasan teori dan praktek.

 

c.  Perhatian atas luasnya obyek perhatian

1.  Perhatian terpencar (distributif) artinya : beberapa obyek sekaligus diperhatikan

2.  Perhatian terpusat artinya : perhatian yang tertuju kepada obyek yang terbatas, seperti tukang jam

 

PENGAMATAN

 

Dalam kehidupan manusia, setiap saat bahkan mungkin setiap detik mengamati sesuatu dengan melihatnya, mendengarnya, membaui dan mengecapnya.

 

Pengamatan

 

Adalah suatu proses mengenal dunia luar dengan menggunakan indera.

Hal yang diamati itu dialami dengan prinsip : di sini, kini, sendiri dan bermateri.

Proses pengamatan itu melalui 3 tahap :

  1. Saat alami (saat phisis) : saat indera menerima rangsangan dari dunia luar
  2. Saat jasmani ( saat physiologis) : saata perangsang itu diteruskan oleh urat ke syaraf sensoris ke otak.
  3. Saat rohani (saat psychis) : saat sampainya perangsang itu ke otak, menyadari perangsang itu dan bertindak.

Tanggapan

 

Tanggapan adalah bayangan yang tinggal dalam ingatan atau kesadaran setelah melakukan pengamatan.

 

Ingatan

 

Manusia sebagai pribadi dipengaruhi oleh proses-proses di masa lampau dan masa kini. Ingatan merupakan daya jiwa kita, sehingga kita dapat menimbulkan kembali pengertian- pengertian atau kesan-kesan yang sudah lama berada didalam kesadaran kita.

 

Ingatan lerupakan suatru proses yang dapat dibedakan dalam tiga tahap/aspek, yaitu :

  1. Tahap menerima kesan
  2. Tahap menyimpan kesan
  3. Tahap mereproduksi kesan

 

 


                          Menerima                                                 mereproduksi

 

 

 

 

 

 

 


                                                        menyimpan

 

 

Dari uraian tersebut dapat dikatakan :

“ Ingatan adalah kecakapan untuk menerima, menyimpan dan memproduksi kesan “

 

BERPIKIR

 

Berpikir adalah daya yang paling utama dan merupakan cirri khas yang membedakan manusia dengan hewan. Dalam arti yang terbatas, berpikir sukar di definisikan, dan pendapat para ahli mengenai berpikir itu sendiri bermacam-macam.

Para ahli psikologi Asosiasi beranggapan bahwa berpikir adalah kelanjutan/kelangsungan tanggapan- tanggapan dimana subyek bertindak pasif, sementara para ahli lainnya mengartikan bahwa berpikir adalah meletakkan hubungan antara bagian-bagian pengetahuan kita, yaitu segala sesuatau yang telah dimiliki berupa pengertian dari dalam batas tertentu juga tanggapan-tanggapan.

Dengan kata lain :

 

“Berpikir adalah suatu kreativitas pribadi manusia yang mengakibatkan penemuan    pemahaman, pengertian yang terarah kepada suatu tujuan yang dikehendaki “

       

Dalam kegiatan mengajar dan melatih, instruktur tidak cukup dengan hanya mengisikan pengetahuan dan tanggapan-tanggapan    sebanyak-banyaknya kedalam otak peserta latihan. Instruktur harus mengajar dan melatih mereja agar dapat berpikir dengan baik.

 

 

 

Supaya dapat berpikir dengan baik, perlu diberikan :

 

a. Pengetahuan siap : Yaitu pengetahuan pasti yang sewaktu-waktu siap untuk diperegunakan, seperti : hafal tentang abjad, perkalian dan sebagainya

 

b. Pengertian berisi : Yaitu pengertian yang mengandung arti dan benar-benar telah mengerti

 

c. Melatih kecakapan : Melatih kecakapan membuat skema yang memungkinkan berpikir secara teratur dan skematis

 

d. Latihan soal-soal : Latihan soal-soal yang mendorong peserta latihan untuk berpikir

 

 

Macam cara berpikir

Dalam berpikir kita mengolah, mengorganisasikan bagian-bagian dari pengetahuannya, hingga pengalaman. Pengalaman dan pengetahuan yang tidak teratur menjadi tersusun merupakan kebulatan-kebulatan yang dikuasai dan dipahami.

 

Dalam hal ini, masalah dapat didekati melalui 3 cara berpikir :

 

a.          Berpikir Induktif

Suatu proses dalam berpikir yang berlangsung dari yang khusus menuju kepada yang umum. Dicari cirri-ciri atau sifat-sifat tertentu dari berbagai fenomena, kemudian ditarik kesimpulan bahwa “ cirri-ciri/sifat-sifat itu terdapat pada semua jenis fenomena “

 

b. Berpikir Deduktif

Suatu proses berpikir yang berlangsung dari yang umum menuju yang khusus. Cara berpikir ini bertolak dari suatu teori, prinsip atau kesimpulan yang benar dan sudah bersifat umum. Kemudian hal tersebut diterapkan kepada fenomena-fenomena yang khusus dan diambil kesimpulan khusus yang berlaku bagi  fenomena itu.

 

c. Berpikir Analogis

Analogis berarti persamaan atau perbandingan. Berpikir analogis ialah berpikir dengan jalan menyamakan atau membandingkan fenomena-fenomena yang biasa/pernah dialami.

Cara berpikir ini beranggapan bahwa kebenaran dari fenomena=fenomena yang sudah ada, berlaku pula bagi fenomena-fenomena lainnya.

Berpikir analogis, tingkat kebenarannya kurang dapat dipercaya. Pada umumnya kebenarannya ditentukan oleh factor kebetulan, bukan berdasarkan perhitungan yang tepat.

 

PENTAHAPAN PERKEMBANGAN BERPIKIR MENURUT BENYAMIN BLOOM

 

 

TAHAP

NAMA TAHAP PIKIR

MACAM KERJA PIKIR YANG DIAJARKAN (DILATIHKAN)

5


4


3


2


1

 

Evaluasi

 

 

 

Analisis dan sintesis

 

 

 

Aplikasi

 

 

Komprehensi

 

 

Pengetahuan

 

Berpikir kreatif (untuk mencipta) dan berpikir untuk memecahkan masalah

 

 

Berpikir menguraikan dan menggabungkan

 

 

Berpikir menerapkan

 

 

Berpikir dalam konsep dan belajar pengertian

 

Berpikir reseptif (untuk menerima informasi)

 

 

 

      e.  MOTIVASI

 

Apa saja yang diperbuat manusia didalam hidupnya selalu ada motivasinya.

Di dalam proses pelatihan, motivasi sangat penting dan sangat mutlak untuk belajar. Banyak peserta pelatihan tidak berkembang karena tidak diperolehnya motivasi yang tepat.

Jika seseorang mendapat motivasi yang tepat, maka timbul tenaga luar biasa sehingga hasilnya lebih sempurna.

 

Apakah motif itu ?

Seorang peserta pelatihan tekun mempelajari buku pelajaran sampai larut malam, tanpa merasa kelelahan apalagi mengantuk. Mengapa ia belajar seperti itu? Atau dengan perkataan lain, apakah yang mendorongnya ? apa motifnya ?

 

SARTAIN dalam bukunya : Psychology Understanding of Human Behavior  mengatakan : Motif adalah suatu pernyataan yang kompleks di dalam sustu organisme yang mengarahkan tingkahlaku/perbuatan kesuatu tujuan atau perangsang.

 

Dengan kata lain, dalam modul ini diartikan :

“ Motif adalah sesuatu yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu “

 

Klasifikasi motif

  1. SARTAIN, membagi  motif menjadi 2 golongan :

1. Psysiological Drives, yaitu dorongan –dorongan yang bersifat jasmaniah, seperti lapar, haus dan sebagainya.

2. Social Motives, yaitu dorongan-dorongan yang ada hubungannya dengan manusia yang lain dalam masyarakat, seperti dorongan estetis, dorongan etika dan sebagianya.

  1. WOPODWORTH, mengklasifikasikan motif sebagai berikut:

1. Motif-motif yang tidak dipelajari (Unlearned motives) :  merupakan motif  yang timbul disebabkan oleh kekurangan/kebutuhan tubuh seperti lapar, haus, sakit dan lain-lainnya yang menimbulkan dorongan dalam diri untuk dipenuhi.

2. Motif yang dipelajari (Learned motives) : Perasan suka dan tidak suka merupakan aspek yang didasari motif-motif untuk mendekatkan diri atau menjauhkan diri dari sesuatu.

 

  1. Para ahli lainnya membedakan motif-motif itu :

1. Motif Intrinsik : Contohnya, seorang pesertapelatihan mempelajari psikologi  pelatihan karena ia benar-benar tertarik dan ingin menguasai isinya.

2.  Motif Ekstrinsik : Seorang peseerta pelatihan, belajar bukan didorong oleh keinginan untuk  terampil, melainkan agar lulus ujian atau karena ingin mendapatkan sertifikat saja.

 

Tugas seoarng instruktur adalah membangkitkan motivasi para pesertab pelatihan. Upayakan agar motif mereka dalam berlatiha adlah motif intrinsic, sehingga mereka akan aktif bekerja sendiri tanpa selalu harus dipaksa.

Fungsi motif :

  1. Mendorong manusia untuk bertindak/berbuat
  2. Menentukan arah perbuatan/tujuan
  3. Menyeleksi perbuatan yang kita lakukan.

 

Apakah motivasi itu ?

 

Motif adalah : adalah dorongan yang timbul dari dlam diri yang menyebabkan seseorang bertindak melakukan sesuatu.

 

Motivasi adalah : pendorongan suatu usaha yang disadari untuk mempengaruhi tingkah laku seseorang agar tergerak hatinya untuk bertindak melakukan sesuatu sehingga mencapai hasil atau tujuan tertentu.

Motivasi umuinya mencakup tiga komponen utama, yaitu : Menggerakkan, mengarahkan dan menopang tingkah laku manusia.

 

 

Dengan kata lain :

“ Motivasi adalah suatu upaya yang disadari untuk menggerakkan, mengarahkan dan menjaga tingkahlaku seseorang agar ia terdorong untuk bertindak melakukan sesuatu sehingga dapat mencapai hasil atau tujuan tertentu “

 

 

 

TEORI-TEORI MOTIVASI

 

 

  1. a.   Teori kenikmatan (Hedonisme)

Hedone adlah bahasa Yuniani yang berarti kesukaan, kesenangan atau kenikmatan. Menurut teori ini manusia pada hakekatnya adalah makhluk yang mementingkan kehidupan yang penuh kenikmatan dan kesenangan.

 

  1. b.   Teori naluri

Menurut teori ini, kebiasan, tindakan atau tingkah laku manusia digerakkan atau didorong oleh tiga macam naluri yang ada didalam diri manusia, yaitu :  mempertahankan diri, mengembangkan diri dan mengembangkan jenis.

 

  1. c.    Teori Reaksi yang dipelajari

Teori ini berpandangan bahwa tidakan atau perilaku manusia ini tidak berdasarkan naluri, tetapi berdasarkan pola tingkah laku yang dipelajari dari kebudayaan dimana ia hidup

 

  1. d.   Teori Daya Pendorong

Teori ini perpaduan antara teori naluri dan teori reaksi yang dipelajari. Daya mendorong adalah naluri yang kekuatannya dipengaruhi oleh budaya.

 

  1. e.   Teori kebutuhan

Teori kebutuhan Abraham Maslow, mengemukakan bahwa kebutuhan manusia ada lima tingkatan :

 

1. Kebutuhan Fisiologis ( Psychological Needs)

Kebutuhan ini merupakan kebutuhan dasar yang bersifat primer dan vital

menyangkut fungsi-fungsi biologi dasar dari organisme manusia seperti : kebutuhan pangan, sandang dan papan, seks dan sebagainya.

2. Kebutuhan rasa aman dan perlindungan ( Safety and Security Needs)

Kebutuhan terjaminnya keamanannya, terhindar dari bahaya dan ancaman penyakit, kemiskinan, kelaparan, perlakuan tidak adil dan sebagianya.

3. Kebutuhan Sosial ( Social Needs)

Kebutuhan untuk dicintai, diperhitungkan sebagai pribadi, diakui sebagai anggota kelompok dan sebagainya.

 

 

4. Kebutuhan akan penghargaan (Esteem Nedds)

Kebutuhan untuk dihargai karena : prestasi, kemampuan, kedudukan/status, pangkat dan sebagainya.

5. Kebutuhan akan aktuialisasi diri ( Self Actualization Needs )

Kebutuhan untuk mempertinggi potensi-potensi yang dimiliki, pengembangan diri secara maksimum.

 

 

 

 

      f.  Apa belajar itu ?

 

Nampaknya pertanyaan ini mudah untuk dijawab karena anda telah berpengalaman banyak dalam hal ini. Kalau masih ada pengertian yang salah tentang belajar berati akan dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar anda. Ada beberapa pandangan yangsalah tentangarti belajar, antara lain :

a. Belajar dikaitkan dengan melakukan kegiatan menyalin/mencata ulang suatu pelajaran di rumah.

b. Belajarada menghafal mata pelajaran

  1. Belajar adalah kegiatan yang dilakukan dikelas / sekolah / tempat pelatihan.

d. Belajar adalah mengingat sehingga kalu ada tes/ujian dapat menjawab.

e. Belajar adalah mengerjakan tugas-tugas instruktur dan sebagainya.

 

 

 

 

 

 

Ada tiga definisi belajar yang dikemukakan dibawah ini, hasil saduran bebas :

  1. Menurut Hilhard & Bower dlam bukunya “ Theories of Learning “ dirumuskan Belajar berhubungan dengan perilaku seseorang tergadap situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam situasi itu, dimana perubahan perilaku itu dapat dijuelaskan atas dasar kecendrungan respon pembawaan, kematangan atau keadaan-keadaan sesaat seseorang ( misalnya ; kelelahan, pengaruh obat dan sebagainya.
  2. Menurut Gagne dalam bukunya “ The Condition of Learning “ dinyatakan : Belajar terjadi apabila suatu situasi rangsang (stimulus) bersama dengan isi ingatan mempengaruhi belajar sedemikian rupa sehingga unjuk kerja (performance) berubah dari waktu sebelum ia mengalami situasi itu ke waktu sesudah ia mengalami situasi tadi
  3. Menurut Morgan dalam buku “ Introduction to Psychology “ mendefinisikan : Belajar adalah setiap perubahan yang relatif menetap dalam perilaku yang terjadi sebagai suatu hasil latihan atau pengalaman.

 

Dari ketiga definisi diatas, dapatditemukan beberapa pokok pengertian penting  yaitu:

 

a.   Belajar berhubungan dengan perubahan perilaku.

Perubahan perilaku yang terjadi dapat berbentuk perilaku yang lebih baik ataupun perilaku yang lebih buruk.

 

b.   Belajar merupakan suatu perubahan perilaku melalui latihan dan pengalaman.

Seperti dalam rumusan Hilgard & Bower bahwa perubahan yang disebabkan karena proses pertumbuhan, kematangan, penyakit atau kerusakan fisik bukanlah merupakan hasil dari belajar. Seorang peserta pelatihan setelah menerima pejelasan dari instruktur sering mengajukan pertanyaan atau memberuikan komentar terhadap bahan yang     disajikan, yang sebelumnya jarang dilakukan pada waktu ia masih di SMP. Perubahan perilaku ini dapat dinyatakan bukan hasil belajar karena sering mengajukan pertanyaan ini timbul karena meinculnya perkembangan intelek remaja/pemuda yang bertambah kritis hinga penjelasan yang kurang nalar akan dikejarnya.

c.    Belajar merupakan perubahan perilaku yang relatif menetap (menjadi bagian dirinya atau terinternalizing)

Perubahan ini harus merupakan akhir dari periode waktu yang cukup panjang. Maka perubahan yang hanya sementara tidak dapat diterima sebagai perubahan hasil belajar.

Karena belajar itu merupakan suatu proses, maka tidak dapat diusahakan untuk dipercepat.

Sifat perubahan dalam kecakapan tergantung pada taraf kedalaman pengalaman belajar/berlatih yang diserap oleh peserta pelatihan. Misalnya untuk segi kognitif seorang siswa dapat berubah hanya pengetahuannya saja. Bila pengalaman belajar lebih intensif ia berubah pemahamnnya, serta cakan menganalisis sesuatu kejadian, cakap melakukan sintesis tentang berbagai hal. Selanjutnya ia cakap meng-evaluasi masalah yang dihadapai ditempat latihan, bilamana pengalaman belajar sangat intensif.  Artinya dengan perubahan yang terjadi pada segi kognitif , diharapkan siswa akan mampu memecahkan masalah-masalah yang dihadapi sesuai dengan bahan/tugas yang dibebankan kepadanya.

Apabila perubahan itu meliputi segi afektif, maka diharapkan siswa akan menjadi lebih peka terhadap nilai-nilai dan etika (attitude) yang berlaku dibidang tugasnya.

Jika perubahan yang terjadi cukup mendasar, maka ia tidak hanya akan menerima dan memperhatikan suatu nilai saja, melainkan juga akan cakap menanggapi dan mengingatkan diri pada nilai itu, cakap melakukan pengaturan suatu system nilai maupun cakap berperan sesuai system nilai yang berlaku di bidang tugasnya.

Artinya, siswa itu menyerap system nilai menjadi miliknay pribadi sehingga sebagai akibatnya sikap-mentalnya mencerminkan system nilai yang dianut.

Dari segi psikomotorik terjadi peniruan perilaku (siswa meniru instrukturnya), kemduaian secara bertahap ia mampu menggunakan perilkau itu secara tepat dan berurutan, sampai saat tertentu dapat terjadi semacam otomatisme, apabila perilaku itu telah tertanam/berakar pada diri siswa.

 

 

      g.  Persoalan Pokok Dalam Belajar

 

Belajar mengandung 3 persoalan pokok, yaitu :

1. Input      :  yaitu mengenai factor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa.

Proses   :  yaitu mengenai bagaimana belajar siswa berlangung dan prinsip-prinsip apa yang mempengaruhinya.

2. Output   :  yaitu mengenai hasil belajar siswa

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Gambar ini menyatakan bahwa Raw Input merupakan bahan/tugas belajar yang diramu melalui pengalaman belajar dalam Learning-Teaching Process dengan harapan berubah menjadi output  dengan kadar/kualitas tertentu. Didalam learning teaching proses berpengaruh pula sejumlah factor berupa environtmental input, dan berfungsi sejumlah factor berupa instrumental input yang sengaja didaya gunakan untuk menunjang tercapainya output yang dikehendaki.

Berbagai factor tersebut saling berinteraksi dalam menghasilkan output tertentu.

 

      h.  Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Belajar

 

 

 

Faktor-faktor Ekstern

 

Faktor-faktor ekstern yang mempengaruhi belajar yaitu :

  1. Bahan/tugas yang harus dipelajari ikut menentukan bagaimana proses belajar itu terjadi dan bagaimana hasilnya yang dapat diharapkan, tergantung pada sifat bahan/tugas, taraf kesukaran dan kompleksitas bahan/tugas
  2. Lingkungan
    1. Lingkungan alami seperti suhu udara, cuaca dan waktu belajar pagi atau sore berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar
    2. Lingkunag social seperti orang-orang yangmengganggu, kenangan pada orang lain, foto, surat dari orang lain dapat berpengaruh negatif terhadap proses dan hasil belajar.
    3. Instrumental. Berupa factor yang direncanakan, diadakan dan dipergunakan sesuai dengan proses dan hasil belajar yangt diharapkan, misalnya : perangkat lunak (kurikulum, program, pedoman belajar) dan perangkat keras (laboratorium, bengkel beserta perlengkapannya).
    4. Faktor Instruktur sangat mepengaruhi p[roses dan hasil  belajar karena instrukturlah  yang menjadi pengelola proses.

 

 

Faktor-faktor Intern

 

Faktor-faktor yang bersumber pada diri siswa merupakan pemegang peranan paling menentukan proses dan hasil belajar.

a. Kondisi Fisiologik.

  1. Kondisi fisiologik umum seperti stamina dan ketercukupan gizi berpengaruh positif terhadap belajar
  2. Kondisi pancaindera, yang disertai kecakapan psikomotorik yang bagus lebih memungkinkan seseorang menyerap sebanyak mungkin bahan belajar.

 

b. Kondisi Psikologik

Semua kondisi dan fungsi psikologik sangat mempengaruhi belajar.

  1. Minat, semakin tinggi minat seseorang terhadap bahaan/tugas belajar, semakin mudah ia mengkonsentrasikan diri pada penguasaan bahan belajar. Dengan demikian hasil belajarnya bagus
  2. Kecerdasan, taraf kecerdasan seseorang memberi sumbangan kira-kira 25% hasil belajarnya Taraf kecerdasan ini biasanya dinyatakan dengan IQ (Intelligence Quotient)
  3. Bakat,  Belajar pada bidang yang sesuai dengan bakat akan memperbesar peluang keberhasilan.
  4. Motivasi, motivasi adalah kondisi psikologik yang mendorong seseorang untuk mempelajari sesuatu. Semakin tinggi motivasi belajar seseorang terutama motif intrinsic, makin meningkat prestasi belajarnya. Dekat dengan motivasi adalah  taraf aspirasi yakni kadar harapan yang dikenakan seseorang terhadap hasil belajarnya.

Kecakapan kognitif, berupa pengamatan berpikir dan ingatan. Kecakapan seseorang dalam mengamati bahan/tugas dalam berpikir dan mengingat, besar pengaruhnya terhadap belajar. Oleh karena kecakapan kognitif sukar diingkari justru karena lebih banyak ditekankan dalam perbandingannya dengan kecakapan psikomotorik dan afektif, maka tampak betapa besar peranan segi kognitif dalam mempengaruhi belajar.

 

i. Peran Dan Tanggungjawab  Instruktur Dalam  Membantu Siswa Mencapai Tujuan

 

Instruktur adalah salah saatu komponen utama dalam system kepelatihan yang sangatmempengaruhi hasil keterampilan antara instruktur dengan siswa, adalah relasi kewibawaan. Relasi kewibawaan bukanmenimbulkan rasa takut pada siswa, bukan relasi kekuasaan dimana siswa harus tunduk, tetapi relasi yang menumbuhkan  kesadaran pribadi  untuk belajar/berlatih. Siswa bukanlah merupakan “kertas putih”  yang dapat ditulisi apa saja oleh instrukturnya.

Instruktur harus cakap menciptakan suatu kondisi agar siswa tertarik  minat dan perhatiannya untuk belajar. Belajar dengan kesadaran yang tinggi lebih menjamin keberhasdilan daripada belajar dengan paksaan apalagi rasa takut.

Tugas Instruktur  sebagai fasilitator yang dapat menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan dan menuimbuhkan semangat belajar bagi siswa, juga sebagai motivator yang menyediakan berbagai macam kemudahan, petunjuk, bantuan, dorongan bagi siswa.

Dalam proses pelatihan, siswalah yang berkepentingan, ia sendiri yang membutuhkan, ia sendiri pula yang tahu akan kecakapnnya, ia sendiri yang akan menentukan berhasil tidaknya usahanya. Sebaliknay instruktur sekedar memberi jalan, memberi kemudahan, merangsang dan mendorong agar siswa dapat belajar dengan sebaik-baiknya.

Secara rinci peran dan tanggungjawab instruktur dalam membantu peserta pelatihan mencapai tujuan adalah sebagai berikut :

  1. Mengelola kegiatan belajar-mengajar
    1. Menyusun program kepelatihan
    2. Melaksanakan interaksi belajar-mengajar berdasarkan program pelatihan
    3. Melaksanakan program penilaian (evaluasi)
    4. Melaksanakan bimbingan studi
      1. Mengenali kesulitan-kesulitan belajar pada siswa dan cara pemecahannya.
      2. Mengenali bakat siswa dan membantu mengembangkannya.
      3. Memberi pengajaran khususmkepada siswa
      4. Memberikan pelayanan informasi kepada siswa.
      5. Melaksanakan pembinaan sikap
        1. Menumbuhkan kebiasaan siswa berpikir secara sistematis, cermat, obyektif
        2. Mengembangkan kebiasaaan berpikir aplikatif
        3. Menumbuhkan sikap kedisiplinan pada diri sendiri
        4. Menumbuhkan sikap social dan kerja sama yang baik pada diri siswa.

 

Prosedur instruksional yang berpengaruh positif terhadap perkembangan pribadi siswa

Para instruktur secara sengaja dapat mempengaruhi perkembangan pribadi siswa-siswanya melalui prosedur-prosedur instruksional yang diterapkannya. Instruktur dapat berbuat banyak untuk membulatkan perkembangan pribadi siswa sehingga pada akhirnya mereka akan dapat mengarahkan hidupnya sendiri dan siap memikul tanggung jawab sebagai orang dewasa.

Nerikut ioni disajikan p[rinsip-prinsip yang dapat mempedomani instruktur dalam rangka menerapkan prosedur-prosedur instruksional yang lebih menjamin perkembangan pribadi para peserta pelatihan.

 

Prinsip yang mendororng terciptanya integritas pribadi siswa

Prosedur instruksional yang konstruktif bagi perkembangan pribadi.

 

  1. Lingkungan dan iklim belajar-mengajar yang menjamin rasa aman,emosional akan memperlancar perkembangan pribadi yang stabil ( stress tinggi dan kecemasan kronik menyebabkan belajar tidak efisien dan gangguan kepribadian.

 

 

  1. Instruktur dapat mengembangkan lingkungan dan iklim belajar-mengajar yang menjamin rasa aman emosional melalui :
    1. Bersikap ramah
    2. Mendorong siswa mengungkapkan perasaannya terhadap tugas belajar
    3. Mengambil keputusan secara demokratik supaya mendorong kegiatan pelatihan yang bermakna
    4. Mengurangi seminim mungkin frustasi dan kecemasan waktu melatih/mengajar
    5. Menggunakan media diskusi untuk menetapkan aturan main (disiplin)
    6. Menjelaskan patokan berperilaku dan bersikap konsisten atas setiap pelanggaran di kelas/bengkel

 

 

  1. Penerimaan diri (konsep diri yang memadai), menerima kebaradaan orang lain dan merasa diri diterima oleh orang lain adalah saling berkaitan serta diperlukan bagi terciptanya integritas pribadi.

 

 

  1. Instruktur dapat mendorong siswa untuk mengadakan pemahaman diri dan penerimaan diri melalui :
    1. Menunjukkan kelebihan dan kekurangan siswa dalam latihan
    2. Menekankan kelebihan siswa untuk modal mengatasi kelemahan dalam unjuk kerja latihan.
    3. Mencegah siswa saling mentertawakan kesalahan temannya.

d.Meyakinkan siswa bahwa setiap orang memiliki bakat dan tempo belajar yang berbeda-beda sehingga prestasi belajarpun pasti berbeda.

 

 

Prinsip yang mendororng terciptanya integritas pribadi siswa

Prosedur instruksional yang konstruktif bagi perkembangan pribadi.

 

  1. Mencapai kemandirian rasa berprestasi penting bagi terciptanya integritas pribadi

 

 

3.  Instruktur  dapat menolong siswa agar

menetapkan dan meraih tujuan belajar/berlatih

yang realistis dlm jangkauan) melalui :

  1. Menetapkan target unjuk kerja sedikit diseputar rata-rata.
  2. Mendorong siswa yang unjuk kerjanya dibawah rata-rata untuk bertekun dalam berlatih.
  3. Menghindarkan siswa mengalami perasaan gagal secara berulang-ulang dengan cara sedikit demi sedikit meningkatkan target unjuk kerja.

 

 

  1. Mempelajari cara-cara mengatasi situasi frustasi melalui pengalaman belajar/latihan dapat mengurangi kebiasaan siswa membela diri (karena khawatir kehilangan muka) di depan instruktur dan siswa-siswa lain.

 

 

4. Instruktur dapat menyediakan media berlatih bagi siswa untuk menghadapi situasi-situasi pertentangan melalui :

  1. Melatih siswa mengenai (analisis) pertentangan batin atau kekecewaan dengan menggunakan rasio/nalar.
  2. Menggunakan media “main peran” saat siswa harus memilih memikul tanggungjawab atas tugas-tugas yang dibebankan kepadanya.
  3. Menggunakan media diskusi dengan menekankan pemecahan masalah secara rasional.
  4. Menghindarkan terjadinya iklim persaingan tak sehat diantara siswa-siswa
  5. Melatih terbentuknya disiplin diri pada siswa.

 

 

 

 

 

 

Sikap Kerja yang harus dilakukan waktu menciptakan dan meyakinkan  kepada pihak-pihak yang terkait  tentang lingkungan pembelajaran yang kondusif.

 

Waktu melakukan kegiatan pengumpulan data apabila berkomunikasi dengan responden harus bersikap sopan dan santun, waktu melakukan pembacaan data harus teliti, cermat, dan untuk seluruh kegiatan tersebut harus taat asas terhadap ketentuanyang sudah ditetapkan termasuk memastikan prosedur standar.

 

  1. Pelaporan

Setelah selesai melakukan kegiatan merancang dan menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif maka perlu dibuat laporan hasil kegiatan tersebut. Salah satu sistematika penulisan laporan tersebut sebagai berikut:

COVER (Judul laporan)

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL

DAFTAR BAGAN

DAFTAR GAMBAR

DAFTAR LAMPIRAN

BAB I PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang
  2. Tujuan
  3. Ruang Lingkup
  4. Metoda Pengumpulan Data
  5. Lokasi, Sampel, dan Populasi

BAB II LANDASAN TEORI

BAB III PENGUMPULAN DATA PERMASALAHAN  ….

  1. Data Permasalahan
  2. Alat Pengumpulan Data
  3. Pengolahan dan Penyajian Data

BAB IV ANALISIS DATA PERMASALAHAN …..

  1. Analisis
  2. Rumusan Permasalahan …

BAB V KESIMPULAN

  1. Kesimpulan
  2. Saran

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN-LAMPIRAN

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

SUMBER-SUMBER LAIN

YANG DIPERLUKAN UNTUK PENCAPAIAN KOMPETENSI 

 

 

  1. A.      SUMBER-SUMBER PERPUSTAKAAN

 

  1. Daftar Pustaka
    1. Agus Sumardi, Drs., Dasar-dasar Statistik, STIA  LAN RI Bandung
    2. Dame Munthe, Drs., Analisis Jabatan dalam Praktik, Bandung, Mandar Maju, 1993
    3. Departemen Tenaga Kerja RI, Metodologi Latihan Kerja, Modul MLK 5,Program Pelatihan, Jakarta, 1991
    4. ________, Teknik Survey Kebutuhan Pelatihan, Jakarta
    5. ________, Teknik Survey Kebutuhan Pelatihan, Diklat Ahli Desain Kurikulum,Jakarta
    6. ________, Analisis Target Populasi, Diklat Ahli Desain Kurikulum,Jakarta
    7. ________, Dasar-dasar Statistika, Diklat Fungsional Tingkat Pratama,Jakarta
    8. ________, Pedoman Pelaksanaan Training Need Analysis, Peraturan Dirjen Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas
    9. Oemar Hamalik, Prof.Dr., Sistem dan Pengembangan Kurikulum Lembaga Pendidikan dan Pelatihan, Bandung, Trigenda Karya, 1993
    10. ________, Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum,  Bandung, Remaja Rosda Karya, 2007
    11. ________, Manajemen Pengembangan Kurikulum, Bandung, Remaja Rosda Karya, 2007
    12. ________, Pengembangan Sumber Daya Manusia, Pelatihan Ketenagakerjaan, Bandung, Bumi Aksara, 2005
    13. Lalu Husni, S.H., M.Hum., Pengantar Hukum Ketenagakerjaan Indonesia, Edisi Revisi, Jakarta, PT Raja Grafindo Persada, 2003

 

  1. Buku Referensi
    1. Sondang P. Siagian, Prof. Dr., Manajemen Sumber Daya Manusia
    2. Malayu S.P. Hasibuan, Drs., Manajemen Sumber Daya Manusia
    3. Sudrajat, S.E., Kiat Mengentaskan Pengangguran Melalui Wirausaha
    4. Sudjana,Metoda Statistika

 

 

  1. B.      DAFTAR PERALATAN/MESIN DAN BAHAN     

 

  1. Daftar Peralatan/Mesin

 

No.

Nama Peralatan/Mesin

Keterangan

Laptop, infocus, laserpointer Untuk di ruang teori
Laptop Untuk setiap peserta
Fasilitas internet, komunikasi telepon  
Kalkulator Untuk setiap peserta
Printer  
Hechmachine (stapler/penjepret) 24 dan 10  
Pelubang kertas  
Penjepit kertas ukuran kecil dan sedang  
Standar chart dan kelengkapannya  

 

  1. Daftar Bahan

 

No.

Nama Bahan

Keterangan

Modul Pelatihan (buku informasi, buku kerja, buku penilaian) Setiap peserta
RPJM Daerah  
Data daerah dalam angka yang relevan  
Kertas bergaris  
Kertas HVS A4  
Spidol whiteboard  
Spidol marker  
CD (writer dan CD-R)  
Kertas chart (flip chart)  
  1. 10.
Tinta printer  
  1. 11.
ATK siswa Setiap peserta

 

 

 


TIM PENYUSUN

 

 

No.

Nama

Institusi

Keterangan

Bambang Purwoprasetyo Asosiasi Instruktur Metodologi Pelatihan (AIMP)  
Robert B. Sitorus Asosiasi Instruktur Metodologi Pelatihan (AIMP)  
Rubito Asosiasi Instruktur Metodologi Pelatihan (AIMP)  
Ali Darokah BBPLKDN Bandung  
Annoordin BBPLKDN Bandung  
Herwadi BBPLKDN Bandung  
Rahmat Sudjali Badan Nasional Sertifikasi Profesi  
Darma Setiawan Badan Nasional Sertifikasi Profesi  
Sjahruddin Kaliky BBLKI Serang  
  1. 10.
Bambang Trianto BBLKI Serang  
  1. 11.
Muh. Yasir BBPLKLN Cevest Bekasi  
  1. 12.
Karyaman BBPLKLN Cevest Bekasi  
  1. 13.
Subandi Dit. Stankomproglat  
  1. 14.
Bayu Priantoko Dit. Stankomproglat  
  1. 15.
Atiek Chrisnarini Biro Hukum Depnakertrans  
  1. 16.
Senggono BLK Pasar Rebo  

 

 

 

artikel lainnya MERANCANG DAN MENCIPTAKAN LINGKUNGAN PEMBELAJARAN YANG KONDUSIF PLK.MP02.007.01

Wednesday 20 May 2015 | blog

URL Blog Asal Link http://yuniorpecintareggae.blogspot.com/ http://yuniorpecintareggae.blogspot.com/ http://bisikinfo.blogspot.com http://bisikinfo.blogspot.com/2012/09/3-tips-ampuh-agar-suara-menjadi-merdu.html http://bisikinfo.blogspot.com http://bisikinfo.blogspot.com/2012/09/3-tips-ampuh-agar-suara-menjadi-merdu.html http://beasiswa-muslim.blogspot.com/ http://beasiswa-muslim.blogspot.com/search/label/SARJANA%20%5BS1%5D http://www.resep-masakan.net http://www.resep-masakan.net/resep-detail.php?id=1054 http://bebibluu.blogspot.com/ http://bebibluu.blogspot.com/2009/05/tip-membangun-rumah-jasa-kontraktor.html…

Thursday 9 July 2015 | blog

BAB II KEGIATAN BELAJAR 1 2.1.      Tujuan Pemelajaran Siswa mampu menjelaskan dan mempersiapkan Perangkat Lunak untuk…

Tuesday 20 October 2015 | blog

Keputusan rapat pengurus koperasi angkasa mandiri tanggal 24 mei 2008. 1. Pembentukan pengurus baru dengan susunan…

Monday 23 December 2013 | blog

YAYASAN PENDIDIKAN WARGA SURAKARTA SMA WARGA SURAKARTA UJIAN SEKOLAH ( US ) TAHUN PELAJARAN 2011/2012  …