Advertisement
loading...

 

MODUL PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI

Advertisement

SUB BIDANG METODOLOGI PELATIHAN KERJA

 

 

MERANCANG DAN MENCIPTAKAN LINGKUNGAN PEMBELAJARAN

YANG KONDUSIF

PLK.MP02.007.01

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BUKU INFORMASI

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DEPARTEMEN TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI R.I.

DIREKTORAT JENDERAL PEMBINAAN PELATIHAN DAN PRODUKTIVITAS

Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 51 Lt. 6.A Jakarta Selatan

 

KATA PENGANTAR

 

Dalam rangka mewujudkan pelatihan kerja yang efektif dan efesien dalam rangka meningkatkan kualitas dan produktivitas tenaga kerja diperlukan suatu sistem pelatihan yang sama. Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 31 tentang Sistem Pelatihan Kerja Nasional yang mengamanatkan bahwa pelatihan kerja berbasis kompetensi.

Dalam rangka menerapkan pelatihan berbasis kompetensi tersebut diperlukan adanya standar kompetensi kerja sebagai acuan yang diuraikan lebih rinci ke dalam program, kurikulum dan silabus serta modul pelatihan.

Untuk memenuhi salah satu komponen dalam proses pelatihan tersebut maka disusunlah modul pelatihan berbasis kompetensi Merancang dan Menciptakan Lingkungan Pembelajaran yang Kondusif yang mengacu pada Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) Sektor Jasa Kemasyarakatan, Sosial, Budaya dan Perorangan Sub Sektor jasa Kegiatan Lainnya Bidang Jasa Lainnya Sub Bidang Metodologi Pelatihan Kerja yang telah ditetapkan dengan Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi R.I. Nomor KEP.140/MEN/VI/2008.

Modul pelatihan berbasis kompetensi ini, terdiri dari 3 buku yaitu Buku Informasi, Buku Kerja dan Buku Penilaian. Ketiga buku tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh, dimana buku yang satu dengan yang lainnya saling mengisi dan melengkapi, sehingga dapat digunakan untuk membantu pelatih dan peserta pelatihan untuk saling berinteraksi.

Demikian modul pelatihan berbasis kompetensi ini kami susun, semoga bermanfaat untuk menunjang proses pelaksanaan pelatihan di lembaga pelatihan kerja.

 

Jakarta,     Desember 2009


DAFTAR ISI

 

 

KATA PENGANTAR —————————————————————————   1

DAFTAR ISI ———————————————————————————–   2

BAB I    STANDAR KOMPETENSI KERJA NASIONAL (SKKNI) DAN SILABUS PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI (PBK) —————————————————————-   4

  1. Standar Kompetensi Kerja Nasional (SKKNI) ——————————-   4
  2. Unit Kompetensi Prasyarat —————————————————-   8
  3. Silabus Pelatihan Berbasis Kompetensi (PBK) ——————————-   9

BAB II   MERANCANG DAN MENCIPTAKAN LINGKUNGAN PEMBELAJARAN YANG KONDUSIF     14

  1. Latar Belakang ——————————————————————  14
  2. Tujuan —————————————————————————  15
  3. Ruang Lingkup ——————————————————————  15
  4. Pengertian Istilah ————————————————————–  15
  5. Diagram Alir Unjuk Kerja Pencapaian Kompetensi ————————-  17
  6. Materi Pelatihan Merancang dan Menciptakan Lingkungan Pembelajaran yang Kondusif ————————————————————————————  18
    1. Menganalisis Lingkungan Pembelajaran———————————- 18
      1. Pengertian Lingkungan Pembelajaran——————————– 18
      2. Ruang Lingkup Pembelajaran—————————————– 19
      3. Pedoman Mengidentifikasi Lingkungan Pembelajaran————– 20
      4. Analisis Ruang Lingkup Pembelajaran——————————– 21
      5. Merancang Lingkungan Pembelajaran———————————— 39
        1. Lingkungan Pembelajaran yang Tepat dan Sesuai—————— 39
        2. Pedoman Menetapkan Lingkungan Pembelajaran Sesuai dengan Hasil Rancangan————————————————————————— 42
      6. Menciptakan Lingkungan Pembelajaran yang Kondusif—————– 43
        1. Cara Menciptakan Lingkungan Pembelajaran yang Kondusif—— 43
        2. Cara Menata Ruangan Sesuai dengan Kebutuhan Proses Pembelajaran         43
      7. Meyakinkan  kepada pihak-pihak yang terkait tentang lingkungan pembelajaran yang kondusif————————————————————— 49
        1. Parameter Lingkungan Pembelajaran yang Kondusif————— 49
        2. Teknik Presentasi——————————————————- 51
        3. Komunikasi Persuasif dan Teknik Negosiasi————————- 53

BAB III SUMBER-SUMBER YANG DIPERLUKAN UNTUK PENCAPAIAN KOMPETENSI —–

  1. Sumber-sumber Perpustakaan ————————————————  60

1. Daftar Pustaka —————————————————————  60

2. Buku Referensi —————————————————————  60

  1. Daftar Peralatan/Mesin dan Bahan ——————————————  61
  2. Daftar Peralatan/Mesin————————————————— 61
  3. Daftar Bahan————————————————————— 61

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

STANDAR KOMPETENSI KERJA NASIONAL (SKKNI)

DAN SILABUS PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI (PBK)

 

  1. A.     STANDAR KOMPETENSI KERJA NASIONAL (SKKNI)
  2. KODE UNIT

:

PLK.MP02.007.01
  1. JUDUL UNIT

:

Merancang dan Menciptakan Lingkungan Pembelajaran yang Kondusif
  1. DESKRIPSI UNIT

:

Unit ini merupakan kompetensi yang berhubungan dengan pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja dalam merancang dan menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif.

 

ELEMEN KOMPETENSI

KRITERIA UNJUK KERJA

1. Menganalisis lingkungan pembelajaran 1.1   Lingkungan pembelajaran di identifikasi

1.2   Lingkungan pembelajaran di analisis

2. Merancang lingkungan pembelajaran 2.1   Lingkungan pembelajaran yang tepat dan sesuai dirancang

2.2   Lingkungan pembelajaran ditetapkan

3. Menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif 3.1   lingkungan pembelajaran yang kondusif diciptakan sesuai dengan azas-azas psikologi belajar.

3.2   Layout, tata ruang dan pencahayaan dikondisikan sesuai dengan kebutuhan proses pembelajaran.

4. Meyakinkan  kepada pihak-pihak yang terkait tentang lingkungan pembelajaran yang kondusif

 

4.1   Parameter lingkungan pembelajaran yang kondusif sesuai azas-azas psikologi belajar dijelaskan kepada pihak terkait.

4.2   Pihak-pihak yang terkait tentang lingkungan pembelajaran diyakinkan agar menyediakan lingkungan yang kondusif sesuai azas-azas psikologi belajar.

  1. Batasan Variabel
    1. Konteks variabel

Unit ini berlaku untuk menganalisis lingkungan pembelajaran, merancang lingkungan pembelajaran, menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif, meyakinkan  kepada pihak-pihak yang terkait tentang lingkungan pembelajaran yang kondusif yang digunakan untuk merancang dan menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif pada bidang metodologi pelatihan.

  1. Perlengkapan (alat dan bahan) untuk merancang dan menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif mencakup:

1)    Catatan perilaku peserta.

2)    Alat bantu melatih.

3)    Alat peraga.

4)    Buku literatur/referensi.

5)    Alat tulis kantor.

  1. Tugas pekerjaan untuk merancang dan menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif sebagai bagian dari program pelatihan meliputi:

1)    Menganalisis lingkungan pembelajaran.

2)    Menganalisis lingkungan pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan yang dirancang.

3)    Menetapkan lingkungan pembelajaran ditetapkan.

4)    Menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif sesuai dengan azas-azas psikologi belajar.

5)    Mengkondisikan layout, tata ruang, dan pencahayaan sesuai dengan kebutuhan proses pembelajaran.

6)    Meyakinkan pihak-pihak yang terkait tentang lingkungan pembelajaran agar menyediakan lingkungan yang kondusif sesuai azas-azas psikologi belajar.

  1. Peraturan untuk Merancang dan menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif sebagai bagian dari program pelatihan adalah :

1)    Pedoman mengelola kelas dan bengkel kerja (classroom and workshop management)

2)    Pedoman pelatihan berbasis kompetensi.

  1. Panduan Penilaian
    1. Penjelasan prosedur penilaian :

Alat, bahan, dan tempat penilaian serta unit kompetensi yang harus dikuasai sebelumnya yang diperlukan sebelum menguasai unit kompetensi ini dengan unit-unit kompetensi yang terkait :

  1. PLK.MP02.002.01 Menentukan tujuan, prasyarat dan materi pelatihan.
  2. PLK.MP02.003.01 Merancang strategi dan penilaian pembelajaran.
    1. Kondisi Penilaian:

1)    Kondisi penilaian merupakan aspek dalam penilaian yang sangat berpengaruh atas tercapainya kompetensi tersebut yang terkait dengan menganalisis lingkungan pembelajaran, merancang lingkungan pembelajaran, menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif, meyakinkan  kepada pihak-pihak yang terkait tentang lingkungan pembelajaran yang kondusif yang digunakan untuk merancang dan menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif sebagai bagian dari program pelatihan.

2)    Penilaian dapat dilakukan dengan cara: lisan, tertulis, demonstrasi/ praktik.

3)    Penilaian dapat dilaksanakan secara : simulasi di workshop dan atau di tempat kerja.

  1. Pengetahuan yang dibutuhkan:

Pengetahuan yang dibutuhkan untuk mendukung unit kompetensi ini sebagai berikut:

1)    Identifikasi lingkungan pembelajaran.

2)    Lingkungan pembelajaran yang tepat dan sesuai.

3)    Parameter lingkungan pembelajaran yang kondusif sesuai azas-azas psikologi belajar kepada pihak terkait.

4)    Perbedaan individu dalam belajar.

  1. Keterampilan yang dibutuhkan:

Keterampilan yang dibutuhkan untuk mendukung unit kompetensi ini sebagai berikut :

1)    Menganalisis lingkungan pembelajaran

2)    Menganalisis lingkungan pembelajaran yang tepat dan sesuai dirancang

3)    Menetapkan lingkungan pembelajaran ditetapkan

4)    Menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif sesuai dengan azas-azas psikologi belajar.

5)    Mengkondisikan layout, tata ruang dan pencahayaan sesuai dengan kebutuhan proses pembelajaran.

6)    Meyakinkan pihak-pihak yang terkait tentang lingkungan pembelajaran agar menyediakan lingkungan yang kondusif sesuai azas-azas psikologi belajar.

  1. Aspek Kritis :

Aspek kritis  yang merupakan kondisi kerja untuk diperhatikan dalam mendukung unit kompetensi ini, sebagai berikut:

1)    Law enforcement di lingkungan/intitusi pelatihan.

2)    Kompetensi dalam mengelola kelas dan bengkel kerja.

3)    Raw input peserta pelatihan.

  1. Kompetensi Kunci

No.

Kompetensi Kunci dalam Unit Ini

Tingkat

1

Mengumpulkan, menganalisa dan mengorganisasikan informasi

3

2

Mengkomunikasikan informasi dan ide-ide

3

3

Merencanakan dan mengorganisasikan kegiatan

3

4

Bekerjasama dengan orang lain dan kelompok

3

5

Menggunakan gagasan secara teknis dan matematis

2

6

Pemecahan masalah

3

7

Penggunaan teknologi

3

 

 

  1. B.     UNIT KOMPETENSI PRASYARAT

Sebelum mengikuti pelatihan unit kompetensi Merumuskan Permasalahan Pelatihan di Daerah ini peserta harus sudah kompeten untuk unit kompetensi sebagai berikut:

  1. PLK.MP02.002.01 Menentukan tujuan, prasyarat dan materi pelatihan.
  2. PLK.MP02.003.01 Merancang strategi dan penilaian pembelajaran.

 

 

 

 

C.   SILABUS PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI (PBK)

 

Judul Unit Kompetensi             :    Menilai Kemajuan Kompetensi Peserta Pelatihan Secara Individu

Kode Unit Kompetensi             :    PLK.MP02.010.01

Deskripsi Unit Kompetensi        :    Unit ini merupakan kompetensi yang berhubungan dengan pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja dalam menilai kemajuan kompetensi peserta pelatihan secara individu

Prakiraan Waktu Pelatihan        :    28 Jp @ 45 Menit

Tabel Silabus Unit Kompetensi  :

 

Elemen Kompetensi

Kriteria

Unjuk Kerja

Indikator

Unjuk Kerja

Materi Pelatihan

Prakiraan

Waktu Pelatihan

Pengetahuan

Keterampilan

Sikap

Penge-tahuan

Keteram-pilan

  1. Menganalisis Linkungan Pembelajaran
1.1  Lingkungan Pembelajaran diidentifikasi – Dapat menyatakan pengertian lingkungan pembelajaran

– Dapat menjelaskan ruang lingkup pembelajaran

– Dapat menjelaskan metode dan teknik identifikasi

– Mampu mengidentifikasi lingkungan pembelajaran

– Harus cermat dan teliti

– Pengertian Lingkungan pembelajaran

-   Ruang lingkup pembelajaran :

-   Peserta pelatihan

-   Instruktur

-   Sarana/fasiltas

-   Metode dan Teknik Identifikasi

– Mengidentifikasi lingkungan pembelajaran – Cermat

– teliti

4

12

  1.2  Lingkungan Pembelajaran di Analisis – Dapat menjelaskan metode teknik analisis yang meliputi analisis peserta pelatihan, instruktur, sarana pelatihan

– Mampu melakukan analisis peserta, instruktur, sarana pelatihan

– Harus cermat, teliti, berpikir analitis, sintesis, dan evaluatif, serta taat asas

– Metode dan Teknik Analisis:

-   Analisis Peserta pelatihan mencakup pemahaman psikologi dan psikologi pelatihan

 

 

– Menganalisis ruang lingkup lingkungan pembelajaran:

-   Analisis Peserta pelatihan

-   Analisis Instruktur

-   Analisis Sarana

-   Analisi Fasilitas

– Cermat

– Teliti

– Berpikir analitis, sintesis, dan evaluatif

– Taat asas

      -   Analisis Instruktur mencakup persoalan pokok dalam belajar, factor-faktor yang mempengaruhi belajar, peranan dan tanggung jawab instruktur dalam membantu siswa mencapai tujuan

-   Analisis Sarana mencakup ruangan, ventilasi, pencahayaan dan ergonomic

-   Analisis Fasilitas mecakup peralatan, mesin, bahan latihan dan media instruksional

   

  1. Merancang lingkungan pembelajaran
2.1  Lingkungan pembelajaran yang tepat dan sesuai dirancang – Dapat menjelaskan:

-   Kesiapan peserta pelatihan mencakup psikologinya

-   Kesiapan Instruktur (kompetensi dan pendidikan)

-   Kesiapan sarana pelatihan

-   Kesiapan fasilitas pelatihan

– Mampu merancang lingkungan pembelajaran sesuai dari hasil analisis mencakup :

– Kesiapan peserta pelatihan mencakup psikologinya

– Kesiapan Instruktur (kompetensi dan pendidikan)

– Kesiapan sarana pelatihan

– Kesiapan fasilitas pelatihan

– Merancang lingkungan pembelajaran sesuai dari hasil analisis mencakup :

-   Azas psikologi dan psikologi pelatihan

-   Instruktur/tenaga pengajar

-   Sarana pelatihan

-   Fasilitas pelatihan

– Teliti

– Cermat

– Keatif

2

6

     

-   Azas psikologi dan psikologi pelatihan

-   Instruktur/tenaga pengajar

-   Sarana pelatihan

-   Fasilitas pelatihan

– Harus teliti, cermat, dan kreaatif

     

  2.2  Lingkungan pembelajaran ditetapkan – Dapat menjelaskan cara pengumpulan, pengolah-an dan perumusan data

– Dari hasil rancangan

– Mampu menetapkan lingkungan pembelajaran sesuai hasil rancangan

– Harus teliti, cermat, dan kreatif

– Cara pengumpulan, pengolahan dan perumusan data dari hasil rancangan – Menetapkan lingkungan pembelajaran sesuai hasil rancangan – Teliti

– Cermat

– Keatif

Asesmen

  1. Menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif
3.1  Lingkungan pembelajaran yang kondusif diciptakan sesuai dengan azas-azas psikologi belajar – Dapat menjelaskan cara menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif sesuai dengan asas-asas psikologi belajar

– Mampu menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif sesuai dengan asas-asas psikologi belajar

– Harus cermat, teliti, kreatif, dan taat asas

– Cara menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif sesuai dengan asas-asas psikologi belajar – Menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif sesuai dengan asas-asas psikologi belajar – Cermat

– Teliti

– Kreatif

– Taat asas

2

10

  3.2  Layout/tata ruang dan pencahayaan dikondisikan sesuai dengan kebutuhan proses pembelajaran – Dapat menjelaskan cara menata ruangan sesuai dengan kebutuhan proses pembelajaran

– Mampu menata ruangan sesuai dengan kebutuhan proses pembelajaran

– Harus cermat, teliti, kreatif, dan taat asas

– Cara menata ruangan sesuai dengan kebutuhan proses pembelajaran – Menata ruangan sesuai dengan kebutuhan proses pembelajaran – Cermat

– Teliti

– Kreatif

– Taat asas

  1. Meyakinkan  kepada pihak-pihak yang terkait tentang lingkungan pembelajaran yang kondusif
4.1  Parameter lingkungan pembelajaran yang kondusif sesuai azas-azas psikologi belajar dijelaskan kepada pihak terkait – Dapat menjelaskan parameter-parameter lingkungan pembelajaran yang kondusif sesuai hasil penerapan yang meliputi :

-   Peserta pelatihan

-   Instruktur

-   Sarana pelatihan

– Dapat menjelaskan teknik presentasi

– Mampu mempresentasi-kan hasil penerapan lingkungan pembelajaran kepada pihak-pihak terkait

– Harus cermat, teliti, kreatif, taat asas, berpikir teratur, dan komunikatif

– Parameter-parameter lingkungan pembelajaran yang kondusif sesuai hasil penerapan yang meliputi :

-   Peserta pelatihan

-   Instruktur

-   Sarana pelatihan

– Teknik presentasi

– Mempresentasikan hasil penerapan lingkungan pembelajaran kepada pihak-pihak terkait – Cermat

– Teliti

– Kreatif

– Taat asas

– Berpikir teratur

– komunikatif

4

12

Asesmen

  4.2  Pihak-pihak yang terkait tentang lingkungan pembelajaran diyakinkan agar menyediakan lingkungan yang kondusif sesuai azas-azas psikologi belajar – Dapat menjelaskan komunikasi persuasif dan teknik negosiasi

– Mampu menyakinkan pihak-pihak terkait untuk menyediakan lingkungan pembelajaran yang kondusif sesuai dengan azas-azas psikologi belajar

– Harus sopan, komunikatif, lugas, berpikir teratur, dan cermat

– Komunikasi persuasif

– Teknik negosiasi

– Menyakinkan pihak-pihak terkait untuk menyediakan lingkungan pembelajaran yang kondusif sesuai dengan azas-azas psikologi belajar – Sopan

– Komunikatif

– Lugas

– Berpikir teratur

– cermat

Asesmen

 

 

 

 

BAB II

MERANCANG DAN MENCIPTAKAN LINGKUNGAN YANG KONDUSIF

 

 

  1. A.     Latar Belakang

Pembelajaran pada dasarnya merupakan proses interaksi antara instruktur dan peserta pelatihan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang berlangsung dalam lingkungan tertentu. Interaksi yang berlangsung saling mempengaruhi, tetapi lebih banyak instruktur yang mempengaruhi dan peserta yang menerima pengaruh atau dipengaruhi.

Instruktur mempengaruhi dalam arti mengubah perilaku peserta dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak bisa menjadi bisa, dari tidak mampu menjadi mampu. Dalam mempengaruhi ini tentunya tidak serta merta mengubah peserta menjadi tahu, menjadi bisa atau menjadi mampu, untuk mencapai kondisi ini dipengaruhi beberapa faktor, yaitu faktor internal peserta pelatihan dan faktor eksternal peserta pelatihan.

Faktor internal merupakan faktor yang datang dari peserta sendiri terutama kemampuan yang dimilikinya. Faktor kemampuan peserta pelatihan besar sekali pengaruhnya terhadap hasil belajar yang dicapai, sedangkan kemampuan peserta secara individu berbeda-beda. Di samping kemampuan, juga ada faktor lain, yaitu seperti motivasi belajar, minat dan perhatian, sikap dan kebiasaan belajar, ketekunan, sosial ekonomi, faktor fisik dan psikhis.

Faktor eksternal adalah lingkungan tempat pembelajaran berlangsung, antara lain seperti lingkungan fisik, sosial, intelektual, dan nilai-nilai sosial. Lingkungan fisil berupa sarana-prasarana, lingkungan sosial merupakan lingkungan pergaulan antarmanusia, pergaulan antara manusia yang terkait dalam proses pembelajaran terutama antara instruktur dan peserta, lingkungan intelektual merupakan kondisi dan iklim sekitar yang mendorong dan menunjang pengembangan kemampuan berpikir seperti perangkat lunak yang mencakup antara lain sistem dan program pengajaran, perangkat keras, dsb. Lingkungan nilai merupakan tata kehidupan nilai, baik nilai kemasyarakatan atau agama.

Karena lingkungan pembelajaran seperti tersebut di atas mempengaruhi hasil belajar, maka perlu dirancang dan diciptakan lingkungan yang tepat, yang sesuai dengan kebutuhan interaksi dalam proses pembelajaran agar proses pembelajaran dapat berjalan secara efektif dan efisien, lingkungan inilah yang disebut lingkungan pembelajaran yang kondusif.

 

  1. B.     Tujuan

Adapun tujuan mempelajari unit kompetensi Merancang dan Menciptakan Lingkungan Pembelajaran yang Kondusif adalah sebagai berikut:

  1. Untuk membekali pengajar/instruktur agar memiliki pemahaman tentang lingkungan pembelajaran yang kondusif sehingga mereka mampu menyiapkan dan menciptakan lingkungan pembelajaran yang tepat sesuai dengan kondisi peserta pelatihan dan kebutuhan proses pembelajaran;
  2. Untuk membekali pengajar/instruktur agar mampu menyiapkan dan melaksanakan pengajaran dan bimbingan terhadap peserta pelatihan sedemikian rupa sehingga peserta pelatihan dapat mengoptimalkan kemampuannya sesuai dengan potensi yang dimiliki untuk mencapai tujuan pembelajaran.

 

  1. C.     Ruang Lingkup

Adapun ruang lingkup unit kompetensi Merancang dan Menciptakan Lingkungan Pembelajaran yang Kondusif meliputi menganalisis lingkungan pembelajaran, merancang lingkungan pembelajaran, menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif, dan meyakinkan kepada pihak-pihak yang terkait tentang lingkungan pembelajaran yang kondusif dengan batasan variabel seperti tercantum dalam SKKNI Metodologi Pelatihan dengan kode PLK.MP02.007.01.

 

  1. D.     Pengertian-pengertian
    1. Merancang

Merancang adalah mengatur segala sesuatu atau merencanakan.

  1. Menciptakan

Menciptakan adalah membuat sesuatu yang baru (belum perna ada, lain dari yang lain).

 

  1. Pelatihan

Pelatihan adalah proses pembelajaran yang dilaksanakan untuk mencapai suatu kompetensi tertentu di mana materi, metode dan fasilitas pelatihan serta lingkungan belajar yang ada terfokus kepada pencapaian unjuk kerja pada kompetensi yang dipelajari.

  1. Kompetensi

Kompetensi adalah kemampuan seseorang untuk menunjukkan aspek sikap, pengetahuan dan keterampilan serta penerapan dari ketiga aspek tersebut di tempat kerja untuk mencapai unjuk kerja yang ditetapkan.

  1. Standar Kompetensi

Standar kompetensi adalah standar yang ditampilkan dalam istilah-istilah hasil serta memiliki format standar yang terdiri atas judul unit, deskripsi unit, elemen.

  1. Menganalisis

Menganalisis adalah menyelidiki dengan menguraikan bagian-bagiannya.

  1. Mengidentifikasi

Mengidentifikasi adalah menentukan atau menetapkan identitas orang, benda, dsb.

  1. Program Pelatihan

Program pelatihan adalah suatu rumusan tertulis yang memuat secara sistematis tentang pemaketan unit-unit kompetensi sesuai dengan area kompetensi jabatan pada area pekerjaan sebagai acuan dalam penyelenggaraan Pelatihan Berbasis Kompetensi.

  1. Pelatihan Kerja

Pelatihan kerja adalah keseluruhan kegiatan untuk memberi, memperoleh, meningkatkan serta mengembangkan kompetensi kerja, produktivitas, disiplin, sikap dan etos kerja pada tingkat keterampilan dan keahlian tertentu sesuai dengan jenjang dan kualifikasi kompentensi/jabatan/ pekerjaan serta spesifikasi pekerjaan.

  1. Pelatihan Berbasis Kompetensi (yang selanjutnya disebut PBK)

PBK adalah proses pelatihan yang dilaksanakan untuk mencapai suatu kompetensi tertentu dimana materi, metode dan fasilitas pelatihan serta lingkungan pelatihan yang ada terfokus kepada pencapaian unjuk kerja.

  1. Lembaga Pelatihan Kerja (LPK)

Lembaga Pelatihan Kerja yang selanjutnya disebut LPK adalah suatu lembaga pemerintah/swasta/badan hukum atau perorangan untuk tempat diselenggarakannya proses pelatihan kerja bagi peserta pelatihan.

  1. Peserta Pelatihan

Peserta pelatihan adalah angkatan kerja yang telah memenuhi persyaratan teknis dan administrasi untuk mengikuti pelatihan tertentu dengan program pelatihan berbasis kompetensi.

  1. Instruktur

Instruktur adalah seseorang yang berfungsi sebagai fasilitator, pelatih, pembimbing teknis, supervisor yang bertugas untuk menyampaikan materi pelatihan kepada peserta pelatihan di LPK atau di tempat kerja selama proses pelatihan.

 

  1. E.     Diagram Alir Pencapaian Unjuk Kerja

 

 

 

  1. F.      Materi Pelatihan Merancang dan Menciptakan Lingkungan Pembelajaran yang Kondusif
    1. Menganalisis Lingkungan Pembelajaran

Pengetahuan yang diperlukan dalam menganalisis lingkungan pembelajaran sebagai berikut:

  1. Pengertian Lingkungan Pembelajaran

Proses pembelajaran selalu berlangsung dalam suatu lingkungan, yaitu lingkungan pembelajaran. Lingkungan ini mencakup:

1)      Lingkungan Fisik

Lingkungan fisik terdiri atas lingkungan alam dan lingkungan buatan manusia yang merupakan tempat dan sekaligus memberikan dukungan dan kadang-kadang juga hambatan bagi berlangsungnya proses pembelajaran. Lingkungan fisik ini berupa sarana dan prasarana yang digunakan. Tersedianya sarana dan prasarana yang memadai, baik secara kuantitas maupun kualitas, akan sangat mendukung berlang-sungnya pembelajaran yang efektif.

2)      Lingkungan Sosial

Lingkungan sosial merupakan lingkungan pergaulan antarmanusia, terutama antara instruktur dan peserta pelatihan. Interaksi dalam proses pembelajaran dipengaruhi oleh karakteristik pribadi dan corak pergaulan mereka termasuk dengan manusia lainnya yang terlibat dalam proses pembelajaran tersebut. Karakteristik setiap orang berbeda-beda, baik selaku individu maupun sebagai anggota kelompok. Karakteristik ini meliputi karakteristik fisik dan karakteristik psikhis. Karakteristik fisik seperti tinggi dan berat badan, nada suara, roman muka, gerak-gerik, dll. Karaterisitik psikhis seperti sabar, temperamen-tal, jujur, setia, kemampuan intelektual (cerdas, bodoh), kemampuan psikomotorik (cekatan, terampil). Corak pergaulan di lingkungan yang keras akan membentuk keras, demikian pula sebaliknya.

3)      Lingkungan Intelektual

Lingkungan intelektual merupakan kondisi dan iklim sekitar yang mendukung pengembangan kemampuan berpikir, seperti perangkat lunak (modul pelatihan), perangkat keras (alat peraga, peralatan pelatihan), dan aktivitas-aktivitas pengembangan dan penerapan kemampuan berpikir.

4)      Lingkungan Nilai-nilai

Lingkungan nilai merupakan tata kehidupan nilai, baik nilai kemasyarakatan, ekonomi, sosial, politik, estetika, etika maupun nilai keagamaan yang hidup dan dianut dalam suatu daerah atau kelompok tertentu.

  1. Ruang Lingkup Pembelajaran

Ruang lingkup pembelajaran meliputi:

1)      Peserta Pelatihan

Peserta pelatihan adalah seseorang atau sekelompok orang yang ingin memiliki kompetensi tertentu yang merupakan kesenjangan kemampuan dia/mereka guna memenuhi kualifikasi jabatan yang akan/ sudah dipangkunya. Tugas peserta pelatihan adalah belajar, dan dalam belajar inilah memerlukan bantuan agar belajarnya bisa efektif dan efisien.

2)      Instruktur

Instruktur adalah seseorang yang menyampaikan materi pembelajaran yang berisi muatan kompetensi tertentu sesuai dengan kebutuhan pelatihan peserta pelatihan guna mengantarkan mereka menuju kualifikasi jabatan yang akan/sudah dipangkunya. Tugas instruktur adalah membantu peserta pelatihan dalam belajar sehingga peserta mengalami kemudahan dan kelancaran dalam mencapai tujuan pembelajaran.

3)      Sarana/Fasilitas Pembelajaran

Sarana/fasilitas pembelajaran meliputi:

a)      Perangkat Lunak (software)

Perangkat lunak merupakan sarana pembelajaran yang umumnya digunakan dalam mengisi kompetensi melalui aspek kognitif yang selanjutnya akan digunakan sebagai dasar melakukan keterampilan yang di dalamnya melekat sikap kerja yang harus dilakukan. Dalam Pelatihan Berbasis Kompetensi, perangkat lunak ini terutama modul pelatihan yang terdiri atas tiga buku, yaitu buku informasi, buku kerja, dan buku penilaian. Semakin komunikatif modul pelatihan maka semakin mudah peserta pelatihan melakukan proses belajar.

b)      Perangkat Keras (hardware)

Perangkat keras meliputi ruang teori, ruang praktik, peralatan pelatihan, baik yang berupa mesin maupun peralatan lainnya termasuk peralatan tangan.

c)      Perangkat Mengajar (teachware)

Perangkat mengajar/alat bantu mengajar meliputi alat peraga dan media pembelajaran yang merupakan sumber belajar bagi peserta pelatihan.

  1. Pedoman Mengidentifikasi Lingkungan Pembelajaran

Untuk mengidentifikasi lingkungan pembelajaran, dalam modul ini digunakan tabel seperti terlihat pada tabel 1 di bawah ini.

Tabel 1

Mengidentifikasi Lingkungan Pembelajaran

Materi Pembelajaran: …………….

NO.

RUANG LINGKUP PEMBELAJARAN

KETERSEDIAAN

JUMLAH

KETERANGAN

ADA

TIDAK ADA

1

2

3

4

5

6

1.

Peserta Pelatihan

Laki-laki:

Perempuan:

Pendidikan:

-   Terendah:

-   Tertinggi:

Umur:

-   Termuda:

-   Tertua:

2.

Instruktur

 

3.

Sarana/fasilitas Pembelajaran

 

a.

Perangkat Lunak:

 

Modul Pelatihan

B.Informasi:

B.Kerja:

B.Penilaian:

b.

Perangkat Keras:

 

Ruang Teori

Luas ruangan:

Cahaya:

Warna dinding:

Udara:

 

kebisingan:

Jumlah kursi:

Papan tulis:

Layar:

OHP:

LCD:

Jumlah kursi:

Tata letak:

Ruang Praktik

Luas ruang:

Pencahayaan:

Warna dinding:

Udara:

Tata letak:

Ruang alat:

Ruang bahan:

Ruang ganti:

Toolman:

Peralatan Praktik

Mesin terkait:

Peralatan:

Alat tangan:

Alat ukur:

Kerja bangku:

Peralatan K3:

P3K:

c.

Perangkat Mengajar:

 

Alat Peraga

Transparansi:

Power point:

Animasi:

Simulator:

Benda nyata:

Alat Media Belajar

Film:

Trainer:

Lainnya:

Keterangan mengisi tabel:
Kolom 3 dan 4 : Diisi dengan tanda cek (Ö) sesuai dengan judul kolom
Kolom 5 : Diisi dengan banyaknya jenis yang ada dalam kolom 2
Kolom 6 : Diisi dengan kebutuhan isian setiap jenisnya.

 

  1. Analisis Ruang Lingkup Pembelajaran

1)      Analisis Peserta Pelatihan

a)   Pengertian Psikologi Pelatihan

Bila kita berpendapat bahwa psikologi adalah suatu ilmu yang berusaha menyelidiki semua aspek kepribadian dan tingkah laku manusia, baik yang bersifat jasmanian maupun rohaniah,

baik secara teoritis maupun dengan melihat kegunaannya di dalam praktik sehari-hari, baik secara individual maupun dalam hubungannya dengan  manusia lain dan lingkungannya. Mungkin kita akan mengatakan bahawa Psikologi Pelatihan sebenarnya sudah termasuk didalam Psikologi serta tidak perlu dipisahkan menjadi suatu disiplin ilmu tersendiri.

Sejalan dengan  dengan  perkembangan ilmu dan teknologi serta kebutuhan manusia yang semakin kompleks, kini banyak disiplin ilmu yang berkembang dan terpecah menjadi beberapa cabang disiplin  ilmu yang akhirnya berdiri sendiri. Demikian pula halnya Psikologi Pelatihan menjadi ilmu yang berdiri sendiri pecahan dari Psikologi.

Crow & Crow, menyatakan bahawa Psikologi Pelatihan merupakan suatu ilmu yang berusaha menjelaskan masalah-masalah belajar/berlatih yang dialami individu, terutama yang menyangkut kondisi-kondisi yang mempengaruhinya.

Dengan Perkataaan lain :

Psikologi pelatihan adalah ilmu yang mempelajari pertumbuhan dan perkembangan manusia baik fisik maupun mental yang sangat erat hubungannya dengan masalah pelatihan terutama yang mempengaruhi proses dan keberhasilan belajar/berlatih.

b)   Manfaat Psikologi Pelatihan

Psikologi Pelatihan sangat bermanfaat untuk melakukan suatu kegiatan mendidik dan melatih, karena Psikologi merupakan ilmu yang berusaha memahami manusia dengan tujuannya untuk dapat memanfaatkan ilmu tersebut lebih tepat, guna mencapai keberhasilan dalam proses belajar/berlatih.

c)    Ruang Lingkup Psikologi Pelatihan

Crow & Crow mengemukakan bahwa Psikologi Pelatihan sebagai ilmu terapan (applied science) yang berusaha untuk menerapkan masalah belajar menurut prinsip-prinsip dan fakta-fakta tingkah laku manusia telah ditentukan secara ilmiah.

Sesuai dengan hal tersebut maka ruang lingkup Psikologi Pelatihan:

(1)      Sampai sejauh mana faktor-faktor pembawaan dan lingkungan berpengaruh terhadap belajar

(2)      Sifat-sifat dari proses belajar.

(3)      Hubungan antara tingkat kematangan dengan kesiapan belajar.

(4)      Signifikansi pendidikan terhadap perbedaan-perbedaan individual dalam kecepatan dan keterbatasan belajar.

(5)      Perubahan-perubahan jiwa yang terjadi selama proses belajar

(6)      Hubungan antara prosedur-prosedur melatih dengan hasil berlatih.

(7)      Teknik-teknik yang sangat efektif bagi penilaian kemajuan dalam berlatih

(8)      Pengaruh/akibat relatif dari pelatihan formal dibandingkan dengan pengalaman berlatih yang insidental dan informasi terhadap suatu individu.

(9)      Nilai/manfaat sikap ilmiah terhadap pelatihan bagi personil lembaga pelatihan

(10)   Akibat/pengaruh psikologis yang ditimbulkan oleh kondisi-kondisi sosiologis terhadap sikap peserta pelatihan.

 

d)   Kondisi Peserta Pelatihan Secara Psikologis

(1)      Faktor-faktor Penyebab Perbedaan Individu

(a)    Kemampuan Mental

Dengan adanya perbedaan dalam kemampuan mental, maka ada beberapa peserta pelatihan mempelajari aspek-aspek pelatihan tertentu lebih mudah daripada peserta lain, ada beberapa peserta lebih mampu mempelajari jenis pengetahuan/keterampilan daripada peserta lain.

 

(b)   Kondisi Fisik

Peserta pelatihan berbeda dalam:

  • Ukuran fisik (gemuk, kurus, tinggi, pendek)
  • Karakteristik fisik (kecekatan tangan, koordinasi mata dan tangan, ketangkasan, kegesitan)
  • Kesehatan (sehat, sakit)
  • Persepsi indera (kemampuan indera menerima rangsangan)
  • Umur dan jenis kelamin.

Perbedaan ukuran dan karakteristik fisik mempengaruhi kecepatan otot mempelajari keterampilan baru. Kesehatan sering mempengaruhi sikap mental dan emosi untuk belajar. Perbedaan persepsi indera mempengaruhi bagaimana cara peserta melihat, mendengar, meraba, merasa atau mencium aspek-aspek apa yang dikerjakan.

(c)    Lingkungan

Lingkungan banyak mempengaruhi pengalaman peserta pelatihan di masa lalu dan pengaruh lingkungan tersebut akan terlihat dalam pelatihan. Banyak peserta pelatihan, karena pengalamannya dipengaruhi lingkungan mereka, mengakibatkan mereka sangat terampil menggunakan alat/ perlengkapan. Namun demikian, peserta yang belum berpengalaman tadi ada kemungkinan mempunyai bakat untuk keterampilan yang berkembang sehingga mahir/terampil pada akhir pelatihan.

(d)   Latar Belakang Sosial-Budaya

Perbedaan latar belakang kebudayaan menunjukkan perbedaan pada nilai-nilai budaya kelompok. Nilai-nilai ini mungkin dipengaruhi oleh keadaan sosial dan kesukuannya. Perbedaan kebiasaan makan dan sikap terhadap pekerjaan, belajar, disiplin, ketepatan waktu, kehadiran dan lain-lain dapat berasal dari pengaruh kebudayaan.

(e)    Keadaan Emosional

Peserta pelatihan adalah manusia dan sebagai manusia mempunyai perasaan. Peserta pelatihan akan berbeda dalam cara mengendalikan perasaan, dalam hubunganmereka antara satu dengan yang lainnya.

Beberapa peserta akan lebih bersahabat dari yang lain, beberapa peserta akan terlihat agresif, beberapa peserta akan lebih lucu/riang dari yang lain.

(2)      Cara Mengatasi Perbedaan Individu dalam Proses Pembela-jaran

(a)    Peserta Pelatihan yang Cepat dalam Belajar

  • Instruktur mendorong peserta tersebut untuk melakukan tugas lain agar lebih memantapkan belajarnya;
  • Instruktur mendorong peserta tersebut untuk membaca buku-buku referensi terkait;
  • Instruktur menganjurkan peserta tersebut untuk membantu teman lainnya agar dengan membantu temannya tersebut dia akan memahami ulang materi yang sedang dipelajari.

(b)   Peserta Pelatihan yang Mempunyai Kecepatan Sedang

  • Instruktur mengatur lebih banyak tugas;
  • Instruktur merencanakan materi pelatihan sesuai dengan kemampuan peserta tersebut.

(c)    Peserta Pelatihan yang Lambat dalam Belajar

  • Instruktur membimbing peserta tersebut secara individual sesuai dengan kemampuannya;
  • Instruktur memberikan pujian bila diperlukan;
  • Instruktur memberikan penjelasan tambahan terhadap tugas yang diberikan;
  • Instruktur memberikan semangat agar belajar lebih giat.

 

 

(d)   Perbedaan Fisik

  • Instruktur mengatur tempat belajar sedemikian rupa hingga semua peserta dapat mengikuti proses pembela-jaran dengan nyaman;
  • Instruktur tidak boleh memberikan tugas di luar kemampuan/kondisi fisiknya.

(e)    Perbedaan Emosional

  • Instruktur menghilangkan rasa malu, rasa takut dengan cara empatik dan simpatik;
  • Instruktur menganjurkan peserta untuk mengembangkan disiplin sendiri;
  • Instruktur menangani peserta yang nakal secara tepat dan cepat, serius, dan baik.

(3)      Tipe Peserta Pelatihan

(a)    Peserta yang lambat dalam belajar

(b)   Peserta yang cepat dalam belajar

(c)    Peserta yang kurang memperhatikan

(d)   Peserta yang suka ’mencuri’

(e)    Peserta yang banyak bicara

(f)     Peserta yang terlalu agresif

(g)   Peserta yang malas

(h)   Peserta yang suka memboroskan waktu

(i)     Peserta yang suka menolak

(j)     Peserta yang suka mencari-cari kesalahan

(k)    Peserta yang sok tahu

(l)     Peserta yang suka membuat kegaduhan

(m)  Peserta yang penakut

(n)   Peserta yang pemalu

(o)   Peserta yang sering mangkir

(p)   Peserta yang sering terlambat

(q)   Peserta yang suka mengambil muka.

Dengan mengenal tipe-tipe peserta pelatihan, instruktur dapat menangani peserta pelatihan secara baik.

2)      Analisis Instruktur

a)      Persoalan Pokok dalam Belajar

Belajar adalah proses perubahan tingkah laku melalui pengalaman. Belajar merupakan kebutuhan mutlak manusia karena dengan belajarlah seseorang dapat mengetahui atau mengerti sesuatu hal serta dapat melakukan suatu pekerjaan. Tanpa belajar manusia tidak dapat berbuat apa-apa.

Seseorang dikatakan belajar bila telah berubah tingkah lakunya dalam arti keseluruhan. Perubahan mencakup pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Namun demikian, perlu diperhatikan bahwa tidak setiap perubahan tingkah laku merupakan hasil belajar, misalnya orang mabuk atau kesurupan.

Dalam pelatihan, proses belajar direncanakan dan dilaksanakan serta disesuaikan dengan tujuan pelatihan.

Mengajar merupakan proses pemberian bantuan kepada peserta pelatihan dalam belajar. Mengajar bukanlah sekedar menjelaskan, menunjukkan atau memberi instruksi, melainkan membantu peserta pelatihan untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Perlu dicankam: Apabila peserta pelatihan belum berubah tingkah lakunya sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan, artinya instruktur belum mengajar.

Oleh sebab itu, waktu mengajar instruktur harus fokus kepada peserta pelatihan. Instruktur harus mengenal peserta pelatihan agar ia dapat mengetahui kemampuan setiap peserta pelatihan sehingga akan lebih meningkatkan efektifitas dalam mengajar.

Jadi, seorang instruktur harus menguasai bidang keahliannya dan mampu mentransfer keahliannya kepada peserta pelatihan. Di samping itu, seorang instruktur harus memiliki sikap mental yang baik sehingga bisa mempengaruhi proses pembelajaran.

 

b)      Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar

Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar ada dua faktor utama, yaitu:

(1)   Faktor Internal Individu Peserta Pelatihan

(a)     Kemampuan peserta pelatihan dalam menyerap materi pelatihan

(b)     Motivasi belajar, minat dan perhatian, sikap dan kebiasaan belajar, ketekunan, sosial ekonomi, faktor fisik dan psikhis

(c)     Waktu yang tersedia

(2)   Kualitas Pengajaran

(a)     Kualitas Instruktur

  • Kemampuan mentransfer memberikan kontribusi keberhasilan belajar 32,43 %
  • Penguasaan materi pembelajaran memberikan kontribusi 32,58 %
  • Sikap instruktur meberikan kontribusi 8,6 %.

(b)     Banyaknya Peserta Pelatihan

Rasio yang digunakan dalam pelatihan antara instruktur dan peserta pelatihan:

  • 1 : 16 untuk penyampaian materi di kelas (teori)
  • 2 : 16 untuk pembelajaran praktik.

(c)     Suasana Belajar

Suasana belajar yang dimokratis akan memberi peluang mencapai hasil belajar yang optimal dibandingkan dengan suasana belajar yang kaku, disiplin ketat. Suasana belajar yang demokratis memberikan kebebasan peserta belajar, mengajukan pendapat, berdialog dengan instruktur dan teman sekelas.

(d)     Fasilitas dan Sumber Belajar yang Tersedia

Sering ditemukan bahwa instruktur merupakan satu-satunya sumber belajar di kelas. Situasi ini kurang menunjang kualitas pengajaran sehingga hasil belajar kurang dicapai secara optimal. Jadi, harus disediakan sumber belajar yang lain seperti buku, alat peraga, dll.

c)      Peranan dan Tanggung Jawab Instruktur dalam Membantu Peserta Pelatihan Mencapai Tujuan Pembelajaran

(1)   Siapa Instruktur

Untuk menjadi instruktur harus dapat memenuhi tiga syarat penting, yaitu:

(a)     Memiliki keahlian tertentu

(b)     Memiliki kemampuan mentransfer keahliannya kepada orang lain (peserta pelatihan)

(c)     Memiliki sikap yang baik sehingga bisa menjadi teladan.

Cara instruktur mengembangakan pengajaran, cara berbicara, cara bertindak, dan cara bersikap sangat mempengaruhi kesuksesan peserta pelatihan dalam belajar. Keteladanan adalah hal yang dominan dalam proses pembelajaran agar peserta pelatihan bersikap ”ada yang diharapkan”.

Instruktur mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk meletakkan pondasi sebagai dasar pengembangan karier peserta pelatihan.

Instruktur dalam melaksanakan tugas pokoknya (mengajar) mampu menilai diri sendiri melalui peserta pelatihan, apakah dia termasuk instruktur yang diidam-idamkan atau tidak.

(2)   Tugas Instruktur

(a)      Menentukan isi dan rencana pelajaran

  • Menganalisis pekerjaan;
  • Menafsirkan kurikulum dan silabus;
  • Menentukan tujuan pembelajaran;
  • Menentukan isi pelajaran;
  • Menyusun rencana pelajaran.

(b)      Memilih dan mempersiapkan alat evaluasi

  • Menyusun evaluasi pelajaran teori;
  • Menyusun evaluasi pelajaran praktik;
  • Menguji ketepatan dan ketelitian alat evaluasi.

(c)       Memilih metoda melatih

  • Memilih metoda melatih yang berpusat pada peserta pelatihan;
  • Memilih metoda melatih yang berpusat pada instruktur.

(d)      Memilih dan mempersiapkan alat bantu mengajar

  • Memilih dan mempersiapkan alat bantu mengajar bahan cetakan
  • Memilih dan mempersiapkan alat bantu mengajar papan display;
  • Memilih dan mempersiapkan alat bantu mengajar chart;
  • Memilih dan mempersiapkan alat bantu mengajar gambar mati yang diproyeksikan;
  • Memilih dan mempersiapkan alat bantu mengajar gambar hidup yang diproyeksikan;
  • Memilih dan mempersiapkan alat bantu mengajar suara yang direkam;
  • Memilih dan mempersiapkan alat bantu mengajar benda/tiga dimensi.

(e)      Mempersiapkan kebutuhan praktik

  • Mempersiapkan bahan praktik;
  • Mempersiapkan peralatan praktik.

(f)       Menyampaikan pendahuluan pelajaran

  • Mempersiapakan ruangan kelas/bengkel;
  • Mempersiapkan peserta pelatihan;
  • Memperkenalkan pelajaran.

(g)      Menyajikan isi pelajaran

  • Mengembangkan pelajaran;
  • Memelihara partisipasi peserta dalam belajar.

(h)      Menerapkan isi pelajaran

  • Memberikan tugas kepada peserta pelatihan;
  • Mengawasi kemampuan dan membetulkan kesalahan-kesalahan peserta pelatihan.

(i)        Mengevaluasi hasil belajar peserta pelatihan

  • Melaksanakan tes yang telah ditetapkan;
  • Menilai tugas/tes yang diberikan kepada peserta pelatihan;
  • Menyusun dan menafsirkan hasil belajar peserta pelatihan;
  • Membuat laporan hasil belajar peserta pelatihan.

(j)       Menyiapkan fasilitas pelatihan

  • Mengatur lay-out peralatan;
  • Mengatur jadwal pemakaian fasilitas pelatihan.

(k)      Melaksanakan dan mengawasi keselamatan kerja

  • Menyiapkan peralatan keselamatan kerja;
  • Menggunakan peralatan keselamatan kerja;
  • Memelihara peralatan keselamatan kerja.

(l)        Menginventaris dan memelihara peralatan yang digunakan

  • Mengiventaris peralatan pelatihan;
  • Memelihara peralatan pelatihan;
  • Melaporkan kondisi peralatan pelatihan.

(m)     Mengumpulkan dan menyimpan laporan dan surat-surat

  • Mengagenda surat-surat dan laporan hasil kegiatan pelatihan;
  • Menyimpan surat-surat dan hasil kegiatan pelatihan.

(n)      Mempersiapkan kebutuhan bahan dan peralatan pelatihan

  • Memeriksa keadaan bahan dan peralatan yang tersedia;
  • Menyusun daftar kebutuhan bahan dan peralatan pelatihan;
  • Mengajukan daftar kebutuhan bahan dan alat pelatihan;
  • Menerima dan memeriksa bahan dan peralatan pelatihan yang dipesan.

(o)      Memelihara kerjasama dengan semua pihak

  • Memelihara kerjasama di lingkungan kedinasan;
  • Memelihara kerjasama di luar kedinasan.

(p)      Mengikuti dan melaksanakan kegiatan dinas

  • Mengikuti kegiatan upgrading, baik di dalam maupun di luar kantor;
  • Mengikuti rapat-rapat dinas.

(q)      Meningkatkan kemampuan dengan cara belajar sendiri

  • Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan perkembangan/kemajuan iptek;
  • Meningkatkan potensi-potensi kepemimpinan.

d)      Analisis Sarana Pelatihan

(1)   Ruangan Belajar

Ruangan belajar harus disiapkan untuk kebutuhan belajar, baik dari ukuran luas yang disesuaikan dengan banyaknya peserta pelatihan dalam kelas, maupun dari penataan ruangan yang menunjang efisiensi dan efektivitas dalam proses pembelajaran. Tata letak ruangan kelas diatur agar interaksi di dalam kelas lancar dengan ruang gerak yang nyaman. Hal ini bisa terjadi kalau diatur sebagai berikut:

-   Banyaknya peserta pelatihan 16 orang

-   Setiap orang mendapatkan satu meja belajar dengan ukuran 70 cm X 90 cm

-   Penataan meja belajar menurut garis lurus (klasikal)

-   Jarak antar meja 80 cm, lorong tengah 120 cm, jarak meja dengan dinding samping dan belakang 80 cm. Jarak 80 cm diasumsikan tebal badan orang 40 cm sehingga masih bisa berpapasan dengan berjalan miring, sementara lebar lorong 120 cm diasumsikan lebar badan orang 60 cm sehingga masih bisa berjalan berpapasan.

-   Berdasarkan perhitungan di atas maka luar ruangan yang harus disediakan adalah sekitar 10m  X 8 m.

Di samping itu, agar proses pembelajaran bisa berjalan dengan lancar, maka perlu dilengkapi dengan media pembelajaran, baik sebagai media mengajar, maupun sebagai media belajar.

(2)   Ventilasi atau Lubang Angin

Ruangan yang tidak ber-AC perlu dijaga masuk-keluarnya angin/udara cukup ke dalam ruangan sehingga sirkulasi udara akan menjaga suhu di dalam ruangan tidak membuat peserta pelatihan kegerahan karena kegerahan akan mempengaruhi suasana belajar yang tidak kondusif. Tubuh manusia secara terus-menerus mengeluarkan panas agar dapat hidup terus. Untuk dapat memancarkan panas itu, perlulah udara di sekelilingnya mempunyai suhu lebih rendah daripada suhu badan manusia. Badan manusia yang normal mempunyai suhu 37°C. Kelembaban udara (kadar air) juga akan mempengaruhi badan manusia. Kenyamanan di dalam ruangan untuk belajar/bekerja adalah suhu udara 25,6°C dan kelembaban 45%.

(3)   Pencahayaan

Cahaya penerangan yang cukup dan memancar dengan tepat akan menambah efisiensi belajar karena peserta pelatihan dapat belajar lebih cepat. Cahaya datang dari kiri.

Ada sumber cahaya, yaitu sumber cahaya alam (matahari) dan sumber cahaya buatan. Sumber cahaya alam tidak bisa diatur, manusia hanya bisa memanfaatkan secara optimal. Di dalam gedung sinar matahari terbatas pada jarak 6 – 7,5 m. Pencaha-yaan dari sumber cahaya buatan bisa di atur disesuaikan dengan kebutuhan pencahayaan di dalam ruangan.

Ada empat macam cahaya yang bisa diatur dari sumber cahaya buatan manusia, yaitu:

(a)     Cahaya Langsung

Cahaya ini memancar langsung dari sumbernya ke permukaan meja. Apabila menggunakan lampu pijar, cahaya bersifat sangat tajam. Bayangan yang ditimbulkan sangat jelas. Cahaya ini cepat menimbulkan kelelahan pada mata. Lebih-lebih apabila terletak dalam lingkungan sudut 45° dari penglihatan mata, lampu tersebut dapat menyilaukan peserta pelatihan. Jadi, penerangan lampu yang memberikan cahaya langsung kurang tepat digunakan dalam proses pembelajaran.

Gambar 1

Cahaya Langsung

 Daerah Silau

45°

 

(b)     Cahaya Setengah Langsung

Cahaya ini memancar dari sumbernya dengan melalui tudung lampu yang biasanya terbuat dari gelas dengan warna susu. Cahaya ini tersebar ke pelbagai jurusan sehingga bayangan yang ditmbulkan tidak begitu tajam. Namun demikian, sebagaian besar cahaya tetap langsung jatuh ke permukaan meja dan memantul kembali ke arah mata peserta pelatihan.

 

 

 

 

Gambar 2

Cahaya Setengah Langsung

 

(c)     Cahaya Setengah Tak Langsung

Cahaya macam ini terjadi dari cahaya yang sebagian besar merupakan pantulan dari langit-langit dan dinding ruangan, sebagian lagi terpancar melalui tudung kaca. Cahaya ini sudah lebih baik daripada cahaya setengah langsung karena sumbernya untuk sebagian besar adalah langit-langit ruangan.

Gambar 3

Cahaya Setengah Taklangsung

(d)     Cahaya Tak Langsung

Penerangan lampu yang terbaik adalah cahaya taklangsung. Cahaya ini dari sumbernya memancar ke arah langit-langit ruangan, dari situ barulan dipantulkan ke arah permukaan meja. Sifat cahaya ini benar-benar sudah lunak, karena itu tidak mudah menimbulkan kelelahan pada mata. Di samping itu, cahaya ini tersebar dengan merata ke semua penjuru, coraknya uniform dan tidak menimbulkan bayangan.

Gambar 4

Cahaya Taklangsung

 

 

(4)   Ergonomi

Ergonomi adalah penyerasian antara pekerja, macam peker-jaan, dan lingkungan. Apabila penyerasian ini bisa terwujd, maka akan berpengaruh pada peningkatan produktivitas dalam pencapaian tujuan. Dalam penerapan ergonomi di proses pembelajaran merupakan kegiatan penyerasian peserta pelatihan, kegiatan belajar-mengajar, dan lingkungan belajar dengan tujuan untuk peningkatan efisiensi dan efektivitas guna pencapaian tujuan pembelajaran. Penyerasian yang dimaksudkan di sini adalah menyerasikan antara peserta pelatihan, kegiatan belajar-mengajar, dan lingkungan belajar untuk tujuan pencapaian tujuan pembelajaran. Kegiatan belajar-mengajar diserasikan dengan kondisi peserta pelatihan, demikian pula lingkungan belajar diserasikan dengan kebutuhan pembelajaran dan kondis peserta pelatihan.

e)      Analisis Fasilitas Pelatihan

(1)   Peralatan Pelatihan

Peralatan pelatihan adalah seluruh peralatan yang diperlukan dan digunakan untuk pelaksanaan suatu pelatihan kerja. Secara umum peralatan pelatihan terbagi atas dua bentuk yaitu perangkat keras dan perangkat lunak (hardware dan software). Peralatan yang termasuk dalam perangkat keras (hardware) antara lain dapat berbentuk ruang kelas/bengkel beserta perabotnya, mesin dan perlengkapannya, peralatan tangan, peralatan laboratorium, perangkat komputer dan perangkat keras lainnya sesuai dengan jenis atau bidang pelatihan yang akan dilaksanakan. Sedangkan perangkat lunak (software) antara lain dapat berbentuk perangkat lunak atau program-program yang bersifat untouchable, yang diperlukan untuk mendukung operasionalisasi perangkat keras dan pekerjaan yang terkait sesuai dengan kompetensi yang dilatihkan.

Peralatan pelatihan adalah salah satu komponen pelatihan, yang memegang peranan yang penting untuk tercapainya tujuan pelatihan berbasis kompetensi. Secara umum peralatan pelatihan dibutuhkan untuk melatih peserta pelatihan dalam melakukan suatu pekerjaan/tugas sesuai dengan tuntutan kompetensi yang sedang dipelajari atau dilatihkan. Untuk itu, agar peserta dapat melakukan tugas dengan baik dan lancar, maka perlalatan pelatihan disediakan satu alat untuk satu orang peserta pelatihan kecuali untuk peralatan yang digunakan untuk pekerjaan yang tidak bisa dikerjakan sendiri.

Seorang instruktur sebagai pelaksana suatu program pelatihan dituntut mampu mengelola peralatan pelatihan yang pada umumnya telah tersedia di fasilitas tempat pelatihan. Penyediaan peralatan pelatihan pada umumnya telah dilakukan atau dilaksanakan oleh pengelola pelatihan berdasarkan analisis kebutuhan pelatihan yang akan dilaksanakan.   Sejalan dengan pola pelatihan yang dilaksanakan merupakan pelatihan berbasis kompetensi, maka secara umum analisis kebutuhan peralatan pelatihan dapat dilakukan antara lain dengan analisis dan telaah atas peralatan dan alat yang dibutuhkan yang tertuang pada setiap unit kompetensi.

(2)   Mesin

Pada waktu menempuh pelatihan untuk mencapai kompetensi sesuai dengan tuntutan unit kompetensi yang sedang dipelajari yang mengharuskan peserta pelatihan menggunakan mesin sebagai perlatan pelatihan, misalnya mesin bubut, frais, las, mobil, sepeda motor, gergaji, ketam, dsb.

Seperti halnya peralatan pelatihan yang lain, mesin yang digunakan juga harus selalu dalam keadaan siap digunakan dalam keadaan berfungsi dengan baik agar peserta pelatihan tidak mengalami kendala/hambatan waktu melaksanakan tugas/instruksi dari instruktur.

Agar peserta pelatihan dapat melaksanakan tugasnya dengan lancar dan benar, di samping mesin dalam keadaan berfungsi dengan baik, terlebih dahulu peserta harus diuji pengetahuannya (teori) tentang pedoman/cara/langkah-langkah penggunaan mesin tersebut termasuk mengenai kunci kerja dan keselamatan kerja. Apabila peserta berdasarkan hasil ujinya dinyatakan kompeten (semua materi test dijawab dengan benar karena materi ini termasuk aspek kritis sehingga pengasaannya harus 100%), peserta baru boleh menggunakan mesin tersebut. Sebab kalau tidak demikian, maka kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja.

(3)   Bahan Pelatihan

Bahan pelatihan yang digunakan dalam proses pembelajaran (pelatihan) mencakup dua kelompok bahan, yaitu bahan untuk proses pembelajaran pengetahuan/teori dan bahan untuk proses pembelajaran keterampilan/praktik.

Untuk kepentingan teori, bahan disediakan untuk setiap orang peserta pelatihan dengan diberi kelebihan persediaan apabila peserta melakukan kesalahan sehingga harus mengulang. Sedangkan untuk kepentingan praktik, persediaan bahan praktik diperhitungkan sampai peserta melakukan tiga kali praktik (1X mencoba, 1X melakukan sendiri masih dengan bimbingan instruktur, 1X melakukan sendiri tanpa bimbingan instruktur). Jadi, jangan sampai terjadi kehabisan bahan pelatihan untuk proses pembelajaran.

(4)   Media Instruksional/Pembelajaran

Media instruksional/pembelajaran adalah media yang digunakan instruktur dan peserta pelatihan dalam proses pembelajaran. Suatu saat bisa menjadi media mengajar/ melatih, tetapi suatu saat bisa menjadi media belajar.

Seperti diketahui bahwa dalam belajar akan terserap dengan baik apabila melalui pendengaran, penglihatan, dan pengalaman sendiri. Oleh sebab itu, media pembelajaran yang digunakan harus memenuhi ketiga hal tersebut.

Media pembelajaran harus menarik minat peserta pelatihan untuk dilihat. Setelah dilihat, media tersebut mudah dimengerti oleh peserta pelatihan karena komunikatif (kata-kata yang ditulis atau gambar yang dibuat mudah dimengertiI. Termasuk modul pelatihan yang meliputi Buku Informasi, Buku Kerja, dan Buku Penilaian.

Dewasa ini sudah lazim instruktur menggunakan power point sebagai media instruksional, di samping untuk kata-kata/gambar diam, juga bisa untuk gambar bergerak (animasi). Komputer/lap top yang digunakan juga bisa untuk gambar hidup (DVD/VCD) sebagai media belajar. Di samping itu, juga menggunakan media lain seperti benda aslinya, model, miniatur, dsb.

Keterampilan yang dilakukan dalam menganalisis lingkungan pembelajaran adalah sebagai berikut:

  1. Mengidentifikasi lingkungan pembelajaran
  2. Menganalisis ruang lingkup pembelajaran.

Sikap kerja yang harus dilakukan dalam mengidentifikasi lingkungan pembela-jaran adalah sebagai berikut:

  1. Cermat, teliti
  2. Berpikir analitis dan evaluatif
  3. Taat asas waktu menerapkan pedoman.
  4. Merancang Lingkungan Pembelajaran

Pengetahuan yang diperlukan dalam merancang lingkungan pembelajaran adalah sebagai berikut:

  1. Lingkungan Pembelajaran yang Tepat dan Sesuai

1)    Kesiapan peserta Pelatihan Secara Psikologis

Pada dasarnya peserta pelatihan direkrut/diseleksi berdasarkan persyaratan peserta pelatihan yang tercantum dalam program pelatihan. Jadi, secara struktur kognitif telah memenuhi prerequisite sebagai kondisi awal. Namun demikian, dalam proses pembelajaran terpenuhinya kondisi awal sesuai dengan persyaratan ini belum cukup. Peserta pelatihan harus dibuat siap untuk diajak dalam suasana pembelajaran yang terjadi interaksi antara instruktur dan peserta pelatihan, juga sesama peserta pelatihan. Untuk itu yang harus dilakukan instruktur adalah:

a)      Mengenal dengan dekat peserta pelatihan secara individual

b)     Menciptakan suasana yang demokratis dalam kelas:

(1)      Peserta pelatihan diberi kesempatan menyampaikan pendapat karena memiliki:

(a)      Sifat ingin diperlakukan secara dewasa

(b)      Sifat ingin sukses

(c)       Kemampuan mengevaluasi

(d)      Sifat ingin bersaing.

(2)      Peserta pelatihan bisa beradu pendapat dengan sesama teman

(3)      Peserta pelatihan diberi kesempatan berinovasi dan berkreasi

c)      Menciptakan suasana kelas yang ”cair” (tidak kaku karena disiplin yang ketat)

d)     Membuat peserta pelatihan dalam melaksanakan tugas dengan tenang dan leluasa karena tidak dihantui takut berbuat salah

e)      Menghindari hal-hal yang tidak disenangi peserta pelatihan, seperti:

(1)      Hukuman

(2)      Ejekan, sindiran tajam

(3)      Kebencian, permusuhan, kemarahan, dendam

(4)      Menimbulkan rasa takut dan susah

(5)      Sering gagal

(6)      Rasa bosan/jenuh

(7)      Keletihan

(8)      Pekerjaan yang kurang bermanfaat

(9)      Pekerjaan yang sulit dikerjakan peserta pelatihan

(10)   Janji palsu (ingkar janji).

2)    Kesiapan Instruktur

a)      Kompetensi Instruktur

Seorang instruktur harus menguasai materi yang akan diajarkan. Yang dimaksudkan dengan ”menguasai” di sini meliputi attitude, skill, knowledge, experience, responsibility, dan accountability atau disingkat ASKERA yang di dalamnya termasuk pengalaman industri/lapangan. Penguasaan materi ini tidak cukup berdasarkan pengakuan instruktur tersebut, tetapi harus dibuktikan berdasarkan dokumen pendukung-nya, seperti sertifikat pelatihan dan atau sertifikat kompetensi. Apabila hal tersebut dirasa kurang cukup, maka bisa dilakukan skill audit. Penguasaan materi ini sangat penting dalam menunjang kelancaran proses pembelajaran. Sebab kalau tidak menguasai materi yang diajarkan, akan terjadi inefisiensi dan inefektivitas dalam pencapaian tujuan pembelajaran yang pada akhirnya yang dirugikan peserta pelatihan termasuk lembaga pelatihan itu sendiri.

b)     Kompetensi Profesi

Yang dimaksudkan dengan kompetensi profesi adalah kemampuan instruktur dalam mentransfer keahliannya kepada orang lain (peserta pelatihan). Untuk bisa memiliki kemampuan ini, seorang instruktur harus mengikuti pelatihan metodologi pelatihan. Dengan mengikuti pelatihan ini akan dibekali bagaimana cara mengajar/melatih yang benar sehingga proses pembelajaran bisa berjalan dengan lancar karena peserta pelatihan dapat mengikutinya dengan mudah. Jadi, untuk menjadi instruktur tidak cukup berbekal keahlian saja.

c)      Keteladanan

Seorang instruktur harus bisa menjadi panutan bagi peserta latihnya termasuk orang-orang di sekitarnya. Hal-hal yang disampaikan di kelas kepada peserta pelatihan, dia sendiri juga melakukan dalam kehidupan sehari-hari. Kondisi ini akan mempengaruhi peserta pelatihan secara psikologis antara lain kepercayaan terhadap instruktur yang berdampak pada motivasi belajar peserta pelatihan, kepatuhan, sikap hormat, dsb.

 

3)    Kesiapan Sarana Pelatihan

a)      Ruangan Teori

Kesiapan ruangan teori disesuaikan dengan banyaknya peserta pelatihan. Kesiapan ruangan teori meliputi:

(1)      Meja dan kursi belajar sebanyak peserta dengan kondisi layak pakai

(2)      Penerangan memadai untuk belajar yang pancaran cahayanya merata ke seluruh ruangan

(3)      Sirkulasi aliran udara atau suhu udara ruangan ber-AC memadai kebutuhan kenyamanan (tidak gerah)

(4)      Tidak terganggu kebisingan

(5)      Warna dinding menunjang untuk belajar

(6)      Media presentasi seperti OHP atau komputer, layar tersedia.

(7)      Ruangan bersih dan rapi.

b)     Ruangan Praktik

(1)      Peralatan/mesin praktik siap digunakan dan berfungsi baik sebanyak peserta pelatihan

(2)      Peralatan K3 tersedia

(3)      Bahan praktik tersedia sebanyak peserta pelatihan

(4)      Penerangan cukup memadai dalam ruangan praktik

(5)      Ruangan dalam kondisi bersih dan rapi.

  1. Pedoman Menetapkan Lingkungan Pembelajaran Sesuai dengan Hasil Rancangan

1)    Bandingkan pedoman merancang lingkungan pembelajaran yang kondusif dengan hasil rancangan yang dibuat

2)    Tandai yang sudah sesuai dengan pedoman

3)    Pilih yang sudah sesuai dengan pedoman sebagai rancangan yang dijadikan usulan untuk dipresentasikan.

Keterampilan yang perlu dilakukan dalam merancang lingkungan pembelajaran adalah sebagai berikut:

  1. Merancang lingkungan pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan proses pembelajaran
  2. Menetapkan lingkungan pembelajaran sesuai dengan hasil rancangan.

Sikap kerja yang harus dilakukan dalam merancang lingkungan pembelajaran adalah sebagai brikut:

  1. Teliti dan cermat
  2. Kreatif
  3. Taat asas.

 

  1. Menciptakan Lingkungan Pembelajaran yang Kondusif
    1. Cara Menciptakan Lingkungan Pembelajaran yang Kondusif Sesuai dengan Asas-asas Psikologi Belajar

1)    Peserta pelatihan dikondisikan siap menerima materi pembelajaran yang meliputi motivasi/minat belajar yang tinggi.

2)    Menyiapkan Instruktur yang memenuhi persyaratan menjadi instruktur yang baik, yaitu:

a)      Memiliki kompetensi sesuai dengan materi yang diajarkan

b)     Memiliki kompetensi profesi

c)      Memiliki sikap yang baik terutama sebagai panutan.

3)    Menyiapkan sarana pelatihan:

a)      Ruangan Teori/Kelas sesuai dengan ketentuan

b)     Ruangan Praktik sesuai dengan ketentuan

c)      Peralatan pelatihan, baik peralatan tangan maupun mesin yang berfungsi dengan baik sebanyak peserta pelatihan

d)     Bahan pelatihan sesuai dengan ketentuan sebanyak peserta pelatihan, termasuk modul pelatihan

e)      Media pembelajaran yang memadai sesuai dengan kebutuhan pembelajaran.

  1. Cara Menata Ruangan Sesuai dengan Kebutuhan Proses Pembelajaran

1)    Tata Letak Ruangan Belajar Teori dan Praktik

Pedoman menata letak ruangan belajar sudah dijelaskan sebelumnya. Berdasarkan pedoman tersebut di bawah ini dibuatkan gambar denah ruangan belajar (teori) dan praktik untuk enam belas orang.

Gambar 5

Denah Ruang Teori untuk 16 Orang

 

 

KETERANGAN GAMBAR DENAH:

 

  1. 1.    Jendela berada di samping kiri agar sinar matahari masuk dari sebelah kiri sehingga waktu siswa menulis tidak terhalang bayangan tangan kanannya sendiri (umumnya orang Indonesia tidak kidal)
  2. 2.    Meja belajar siswa 60 cm X 90 cm
    1. 3.    Lorong tengah berjarak 120 cm dimaksudkan agar siswa bisa berjalan berpapasan dengan perhitungan lebar bahu orang normal 60 cm sementara lorong pinggir 80 cm masing orang berjalan miring bila berpapasan dengan perhitungan tebal tubuh orang normal 40 cm.
    2. Layar untuk proyektor dipasang pada plafon (bukan yang model standing screen) dan bisa digulung manakala tidak digunakan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 6

Denah Ruang Praktik Las

 

PINTU

 

KETERANGAN:

-       ukuran satu bilik las panjang 2 m dan lebar 1,5 m

-       meja las panjang 0,8 m dan lebar 0,6 m

-       meja kerja panjang 2,5 m dan lebar 0,8 m

-       lebar lorong antara bilik las dan area las asitilin 1,5 m

-       lebar atap sebagai cerobong asap las asitilin 2 m

-       lebar ruang instruktur 2,5 m panjang 4m

-       ukuran ruang bengkel las panjang 22m dan lebar 9 m

-       bilik las dan las asitilin dipasang instalasi penghisap asap/gas las (exhaust fan)

 

 

 

Gambar 7

Ketentuan Kebutuhan Space Mesin

2)    Pencahayaan

Untuk menetapkan sejauh mana pencahayaan diperlukan terhadap suatu pekerjaan, di bawah ini disampaikan tabel banyaknya cahaya yang dibutuhkan.

Tabel 2

Banyaknya Cahaya yang Dibutuhkan

NO.

MACAM PEKERJAAN

BESARNYA CAHAYA (Foot Cancle)

1.

Pekerjaan yang membutuhkan penglihatan tajam.

(berkaitan dengan huruf-huruf dan angka-angka yang kecil, perbedaan warna yang samar-samar, pekerjaan jangka waktu lama secara terus-menerus)

Contoh: memeriksa perhitungan, melakukan pembukuan, menggambar, membaca gambar, pekerjaan ketelitian

50

2.

Pekerjaan yang membutuhkan penglihatan biasa

Contoh: membuat surat, mengurus arsip, meeting/rapat, bagian pengiriman

30

3.

Pekerjaan yang membutuhkan penglihatan sepintas lalu

Contoh: ruang resepsi

10

4.

Pekerjaan yang membutuhkan penglihatan sederhana

Contoh: lorong, jalan lalu lintas dalam gedung

5

 

Foot candle: Banyaknya cahaya yang dipancarkan dari sebuah lilin ukuran biasa pada sebuah benda yang jaraknya satu kaki (30,48 cm) dari lilin itu

Berkenaan dengan macamnya cahaya:

-       Mengoptimalkan penggunaan cahaya matahari  dengan cara memasang dinding kaca

-       Menggunakan pencahayaan yang bukan Cahaya Langsung.

3)    Suara

a)      Ruangan Teori

Ruangan teori tidak boleh ada suara bising yang masuk ke dalam ruangan. Apabila hal ini tidak bisa dihindari, maka ruangan teori harus dikondisikan ruangan ber-AC dan dipasang dinding kedap suara.

b)     Ruangan Praktik

Untuk ruangan praktik suara yang masuk tidak begitu mengganggu kegiatan praktik.

4)    Udara dalam Ruangan

Suhu udara yang ideal dalam ruangan belajar adalah 25,6°C dan kelembaban 45%. Namun demikian, kondisi ini tidak bisa disamaratakan karena tergantung daerahnya apabila tidak menggunakan AC ruangan. Ruangan yang tidak ber-AC harus dijala sirkulasi udaranya lancar.

5)    Warna

Warna dalam ruangan dapat mempengaruhi psikhis orang yang ada di dalamnya. Ada tiga warna primer, yaitu merah, kuning, dan biru.

Warna merah menggambarkan panas, kegemparan, dan kegiatan bekerja. Sebagai alat untuk merangsang pancaindera dan jiwa agar bersemangat dalam melaksanakan suatu pekerjaan, warna tepat untuk digunakan. Kalau warna merah mendominasi tidak terlalu baik.

Warna kuning menggambarkan kehangatan matahari. Warna ini terutama merangsang mata dan syaraf. Pengaruh mental yang dapat ditimbulkan ialah perasaan riang gembira dengan menghilangkan perasaan tertekan. Oleh karena itu, warna ini tepat dipakai di kamar-kamar atau lorong gedung yang gelap.

Warna biru adalah warna adem. Sebagai warna langit dan samudera, warna biru menggambarkan keluasan dan ketenteraman. Oleh karena itu, warna ini mempunyai pengaruh mengurangi ketegangan otot-otot tubuh dan tekanan darah. Sebagai alat untuk menimbulkan suasana dingin dan tenang dalam kantor untuk pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi. Hanya kalau berlebihan, dapat menimbulkan pengaruh menekan perasaan.

Dari ketiga warna tersebut di atas dapat dibuat warna sekunder dengan cara mencampurkan mereka, misalnya warna merah dan kuning menghasilkan warna oranye.

Di samping warna mempunyai pengaruh terhadap kejiwaan seseorang seperti dikemukakan di atas, warna juga mempengaruhi cahaya yang dipantulkannya. Di bawah ini disampaikan daftar pantulan cahaya dari warna dalam ruangan, baik dari dinding, lantai, perabot, mapun langit-langit.

Tabel 3

Daftar Pantulan Cahaya Neon Terhadap Warna

NO.

MACAM WARNA

% PANTULAN

1.

Warna putih

88

2.

Warna yang sangat muda:

- Hijau kebiru-biruan

76

- Gading

81

- Biru

65

- Kunging kecoklat-coklatan

76

- Abu-abu

83

3.

Warna sedang:

- Hijau kebiru-biruan

54

- Kuning

65

- Kuning kecoklat-coklatan

63

- Abu-abu

61

4.

Warna tua (gelap):

- Biru

8

- Kuning

50

- Coklat

10

- Abu-abu

25

- Hijau

7

5.

Perabotan kayu:

- Kayu mapel

42

- Kayu kenari

16

- Mahoni

12

Di bawah ini disampaikan petunjuk yang bisa dijadikan acuan untuk merancang warna yang ada dalam ruangan agar memiliki pantulan yang tepat untuk melakukan pekerjaan.

  MACAMNYA BENDA

DAYA PANTUL WARNA YANG SESUAI

1. Langit-langit ruangan ………………………………………….

80 – 92%

2. Bagian atas dinding …………………………………………….

80 – 92%

3. Dinding  …………………………………………………………….

40 – 60%

4. Jendela ……………………………………………………………..

40 – 60%

5. Permukaan meja dan perabot lainnya …………………

26 – 44%

6. Lantai  ………………………………………………………..

21 – 39%

 

Keterampilan yang perlu dilakukan dalam menciptakan lingkungan pembelajaran yang kodusif adalah sebagai berikut:

  1. Mengondisikan unsur-unsur ruang lingkup pembelajaran berdasarkan asas-asas psikologi belajar.
  2. Menata ruangan sesuai dengan kebutuhan proses pembelajaran

Sikap kerja yang harus dilakukan dalam menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif adalah sebagai berikut:

  1. Cermat dan teliti
  2. Kreatif
  3. Taat asas.
  4. Meyakinkan kepada Pihak-pihak Terkait tentang Lingkungan Pembelajaran yang Kondusif

Pengetahuan yang diperlukan dalam meyakinkan kepada pihak-pihak terkait tentang lingkungan pembelajaran adalah sebagai berikut:

  1. Parameter Lingkungan Pembelajaran yang Kondusif

1)    Parameter Terhadap Peserta Pelatihan

a)      Giat belajar

b)     Senang melaksanakan tugas

c)      Mematuhi ketentuan tanpa paksaan

d)     Menempuh pembelajaran tepat waktu sesuai dengan penjadwalan

e)      Proaktif

f)       Senang melakukan kerjasama, baik dengan teman maupun dengan instruktur.

2)    Parameter Terhadap Instruktur

a)      Menguasai materi pelatihan sesuai dengan tuntutan unit kompetensi

b)     Menyajikan materi pelatihan secara sistematis dan mudah dimengerti oleh peserta pelatihan

c)      Bersikap terbuka, demokratis, dan senang menerima masukan dari peserta pelatihan

d)     Dapat bekerja sama, baik dengan atasan, rekan sejawat, dan peserta pelatihan

e)      Kreatif dan selalu menambah pengetahuan

f)       Berdisiplin dan bertanggung jawab

g)     Mampu berkomunikasi dengan baik

h)     Bersedia menolong orang lain dan senang membantu peserta pelatihan belajar

i)       Ramah, simpatik, dan rapi/necis

j)       Mempunya sifat teladan

k)      Tidak pemarah

l)       Cepat mengenal peserta pelatihannya

m)    Mau memberikan pujian dan penghargaan

n)     Tidak memojokkan, mencemoohkan peserta pelatihan.

3)    Parameter Terhadap Sarana Pelatihan

a)      Parameter Ruangan

(1)      Ruangan Teori

(a)      Meja dan kursi belajar sebanyak peserta pelatihan dan dalam keadaan nyaman dipakai

(b)      Pengaturan meja dan kursi belajar sedemikian rupa sehingga tidak berdesakan dengan ketentuan jarak ke dinding, lorong yang bukan lorong tengah, dan jarak meja dengan meja belakangnya 80 cm, sedangkan lorong tengah 120 cm

(c)       Perlengkapan ruangan teori minimal papan tulis dan kelengkapannya, layar, OHP/infokus tersedia

(d)      Pencahayaan merata ke segenap ruangan secara jelas, tetapi tidak menyilaukan

(e)      Ruangan tidak membuat gerah

(f)       Tidak ada suara bising yang masuk ke dalam ruangan

(g)      Bersih dan rapi.

(2)      Ruangan Praktik

(a)      Peralatan/mesin/perlengkapan lainnya tersedia sebanyak peserta pelatihan dan dalam keadaan berfungsi dengan baik

(b)      Penataan peralatan/mesin yang digunakan untuk praktik ditata sedemikian rupa sehingga peserta yang satu dengan peserta yang lain tidak saling terganggu

(c)       Bahan praktik dan kelengkapannya tersedia cukup sebanyak peserta pelatihan dengan asumsi peserta diberi kesempatan mengulang tiga kali

(d)      Peralatan dan perlengkapan K3 tersedia sebanyak peserta pelatihan

(e)      Pencahayaan cukup terang mengarah ke benda kerja, bukan kepada peserta pelatihan yang menyebabkan silau. Menggunakan cahaya setengah langsung

(f)       Kondisi ruangan praktik bersih dan rapi.

4)    Parameter Terhadap Peralatan Pelatihan

a)      Peralatan pelatihan tersedia dalam keadaan berfungsi dengan baik minimal sebanyak peserta pelatihan kecuali peralatan yang memerlukan kerja kelompok

b)     Peralatan pelatihan yang memerlukan presisi harus memenuhi kepresisian berdasarkan standar yang berlaku.

5)    Parameter Terhadap Bahan Pelatihan

a)      Bahan pelatihan disediakan sebanyak peserta pelatihan, baik untuk teori maupun praktik dengan asumsi dilebihkan guna menyediakan kalau ada yang salah dan harus mengulang sesuai dengan tuntutan unit kompetensi yang akan dipelajari. Jangan sampai terjadi kekurangan bahan untuk pelatihan

b)     Apabila ada bahan yang berupa soft copy, maka harus difasilitasi untuk kepentingan penggunaan soft copy tersebut.

  1. Teknik Presentasi

Setelah rancangan menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif dibangun disertai dengan parameter setiap unsur ruang lingkup pembelajaran, maka hasil rancangan tersebut harus dipresentasikan kepada pihak terkait guna memperoleh persetujuan untuk pengadaannya. Agar dalam penyampaian hasil rancangan tersebut dapat diterima dan dipahami dengan baik, maka perlu diketahui bagaimana cara mempresentasikan yang baik. Untuk itu, di bawah ini disampaikan bagaimana teknik presentasi yang baik.

1)    Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan presentasi:

a)      Percaya diri, tidak ragu-ragu atau bahkan rendah diri

b)     Bersikap alamiah/natural tidak dibuat-buat

c)      Bersikap empati agar yang hadir mau mendengarkan dengan sungguh-sungguh

d)     Tujuan presentasi diyakini dengan persiapan materi yang matang

e)      Berbicara dengan jelas, terstruktur, dan logic

f)       Bahasa tubuh terbuka, tetapi tidak jumawa

g)     Jaga eye contact dengan yang hadir

h)     Artikulasi jelas dengan suara yang terdengar oleh seluruh yang hadir

i)       Menjaga sikap tetap tenang dan posisi tangan di sekitar dada

j)       Manfaatkan waktu sesuai dengan materi yang dipresentasikan.

2)    Membuat Kesan yang Baik

a)      Percaya diri

b)     Bersikap alamiah, tidak dibuat-buat

c)      Bersikap empati

d)     Menjaga kredibilitas

e)      Materi yang disajikan merupakan fakta dan up to date didukung dengan contoh-contoh atau data. Disampaikan secara runtut dan terstruktur dan disiapkan secara matang.

f)       Pilihan kata-kata yang tepat dan komunikatif

g)     Gerakan tubuh, mimik, pandangan mata terjaga dengan baik, tidak berlebihan

h)     Penampilan fisik rapi dan bersih termasuk berpakaian.

3)    Media Presentasi

Media yang digunakan dalam presentasi:

a)      Flip chart

b)     Over head chart

c)      Komputer

d)     Benda nyata atau model.

4)    Kesalahan yang Sering Dilakukan dalam Presentasi

a)      Bicara terlalu cepat

b)     Miskin persiapan

c)      Kurang akrab/mengenal audience (yang hadir)

d)     Kurang memperkenalkan diri

e)      Kurang menjelaskan terminologi khusus dan singkatan yang digunakan

f)       Kurang proaktif dalam interaksi dengan yang hadir

g)     Pandangan sering tertuju ke materi yang disajikan.

5)    Kendala/hambatan yang Dirasakan dalam Presentasi (penyaji)

a)      Kurang bisa mengelola waktu

b)     Gugup

c)      Berpikir sambil berbicara

d)     Mengulang-ulang materi yang sudah dibicarakan

e)      Takut berdiskusi.

  1. Komunikasi Persuasif

Kata ”persuasif” berasal dari bahasa Inggris to persuade , yang berarti membujuk, merayu, mengajak. Jadi, komunikasi persuasif merupakan komunikasi yang dilakukan dengan tujuan untuk mengajak atau membujuk. Untuk membujuk harus dilakukan secara komunikasi langsung atau komunikasi tatap muka (face to face communication).

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam komunikasi persuasif adalah sebagai berikut:

1)    Bersikap simpatik dan empatik

2)    Tunjukkan sikap dapat dipercaya

3)    Bertindak yang mengarahkan

4)    Berbicara dengan sikap mengajak

5)    Bersikap yang meyakinkan

6)    Kemukakan fakta kebenaran

Hal-hal yang harus dihindari adalah sebagai berikut:

1)    Bersikap sombong

2)    Menggurui

3)    Mengkritik

4)    Emosional

5)    Mengemukakan hal-hal yang mengkhawatirkan.

 

  1. Teknik Negosiasi

Negosiasi adalah suatu proses untuk mencapai kesepakatan dua pihak atau lebih untuk  suatu masalah atau komitmen tetentu, pihak-pihak tersebut minimal ada negosiator dan pihak yang menjadi lawan negosiator adalah adversary.

Dasar negosiasi adalah proses dan kualitas komunikasi, untuk itu hal yang perlu diperhatikan oleh negosiator adalah kemampuan melakukan komunikasi baik secara verbal maupun komunikasi tertulis serta penguasaan pengetahuan mengenai manusia (psikologi umum dan terutama psikologi kepribadian) kemudian diperkaya dengan penguasaan materi yang ditawarkan atau lebih dikenal sebagai product knowledge.

1)    Obyek Negosiasi

Pelaku negosiasi adalah pihak-pihak yang terlibat dalam melakukan proses negosiasi yaitu terdiri dari :

a)      Negosiator

b)     Adversary

c)      arbitrator

Negosiator adalah pihak yang melakukan penawaran atas suatu proyek atau proposal.

Adversary adalah pihak yang disodori proyek atau proposal sebagai pihak yang menentukan kebijakan dan pengambil keputusan.

Namun adakalanya diperlukan adanya pihak ketiga untuk menjembatani yang disebut arbitrator dan prosesnya adalah arbitrase.

Dalam kaitannya dengan pelaksanaan pelatihan, Negosiator adalah para instruktur yang akan membuat sarana pendukung pembelajaran. Adversary adalah pimpinan lembaga pelatihan yang mempunyai wewenang untuk menyetujui atau menolak usulan tersebut.

 

2)    Tahapan Negosiasi

Keperluan negosiasi secara umum adalah untuk : melakukan perjanjian, untuk melakukan kontrak kerja dan lain sebagainya. Namun dalam konteks ini negosiasi diperlukan untuk mendapatkan persetujuan untuk membuat sarana pendukung bagi proses pelatihan, hasil negosiasi disetujuinya proposal kita atau ditolak. Dalam hal proposal disetujui maka kegiatan berikutnya tinggal melangkah ke tahapan selanjutnya, namun dalam hal yang berkaitan dengan media pembelajaran adalah merancang media yang dimaksud.

Terdapat dua kemungkinan dalam negosiasi yaitu proposal diterima atau ditolak, dalam hal ditolak atau terjadinya ketidak setujuan umumnya dikarenakan :

a)      Adanya perbedaan kepentingan

b)     Adanya perbedaan pengetahuan dan pengalaman

c)      Adanya kelemahan fatal pada konsep/proposal

d)     Adanya kelemahan pada negosiator.

 

 

 

Tabel 7

Tahapan dalam Negosiasi

No.

Pra Negosiasi

Proses Negosiasi

Pasca Negosiasi

1. Analisis Internal :

-  Kepentingan diri sendiri

-  Kepentingan Lawan negosiasi

 

 

Penerapan Strategi
 

Perumusan hasil Kesepakatan

2.

Riset :

Pendalaman untuk mengetahui latar belakang

 

 

Pemanfaatan Taktik

Penyajian tertulis

3.

Analisis SWOT Penyesuaian langkah dengan memanfaatkan situasi Rencana tindakan yang disepakati ber-dasarkan komitmen

4.

Susun Rancangan Strategi Negosiasi

 

5.

Pelaksanaan Negosiasi internal    

 

Pada tahap Pra negosiasi yang paling pokok untuk dipersiapkan adalah Proposal yang hendak ditawarkan kepada pihak terkait, selain itu barulah didalami individu lawan negosiasi  serta kepentingannya.

Secara ringkas tahapan pranegosiasi meliputi :

a)      Analisis internal: menganalisis kepentingan internal maupun kepentingan pihak adversary

b)     Riset: dilakukan sebagai pendalaman untuk mengetahui latar belakang proyek maupun pihak adversary

c)      Analisis SWOT: untuk mengetahui kekuatan, kelemahan dan peluang yang mungkin dapat diambil

d)     Menyusun rancangan strategi negosiasi : menyiapkan langkah dan cara untuk mendapatkan peluang.

e)      Pelaksanaan negosiasi internal: membina kekompakan tim bilamana negosiator merupakan sebuah tim, bukan perorangan.

Dalam tahapan ini yang paling penting adalah tahap penyusunan strategi yaitu :

 

a)      Perumusan masalah yang akan dinegosiasikan

Merumuskan masalah yang akan dinegosiasikan disertai alasan yang kuat agar adversary yakin bahwa usulan yang diajukan memang diperlukan.

b)     Perumusan manfaat proyek

Merumuskan manfaat jangka pendek,  menengah dan jangka panjang serta rencana tindak lanjut yang diperlukan.

c)      Penetapan tujuan yang akan dicapai

Merumuskan tingkatan atau gradasi tujuan dari negosiasi, dalam hal ini hasil minimal perlu disadari dengan baik.

d)     Penetapan butir-butir yang akan dinegosiasikan.

Menentukan prioritas dari butir-butir permasalahan yang akan dibahas.

e)      Penetapan positioning

Dalam kaitannya dengan peluang yang kemungkinan terbuka, pada peluang yang mana kita akan menempatkan diri.

f)       Penetapan waktu

Merumuskan dan rencana kompromi waktu yang terbaik untuk melaksanakan negosiasi.

g)     Penentuan tempat

Menentukan lokasi negosiasi akan memberikan dampak psikologis  dalam menciptakan situasi atau suasana pembahasan.

h)     Rencana pelaksanaan

Melaksanakan negosiasi harus sudah disiapkan skema kemungkinannya atau arah mendapatkan kesepakatan, misalnya dalam kerangka : „win-lose“, „win-win“, atau „lose-win“

3)    Membaca kemungkinan (Trial close)

Dalam proses negosiasi pada saat kita sudah mendapatkan tanda-tanda penerimaan dari adversary dibutuhkan tindak lanjut untuk mendapatkan kepastian apakah kita berada dalam kedudukan yang positif, pada tahap ini pertanyaan diajukan untuk meminta pendapat bukan meminta keputusan, adapun tujuannya adalah untuk mendapatkan kepastian apakah adversary berada pada posisi mendukung dan membenarkan pandangan kita, bila posisi adversary berada pada pemberian dukungan dan pembenaran maka inilah awal keberhasilan tugas.

4)    Memastikan kemungkinan (Closing)

Setelah kedudukan positif kita dapatkan, langkah selanjutnya adalah arahkan untuk mendapatkan keputusan dari adversary. Closing bisa positif atau negatif,  clossing bersifat negatif yang berarti usulan kita ditolak sedangkan yang bersifat positif berarti usulan kita diterima.

5)    Secara umum urutan kegiatan pada tahap pelaksanaan negosiasi

a)      Pembukaan, kegiatan ini diawali dengan basa-basi yang biasa berlaku umum dalam sebuah pertemuan, bila negosiasi dilakukan oleh sebuah tim maka juru bicaranya memperkenalkan anggota tim dilanjutkan dengan menjelaskan tujuan.

b)     Pembahasan Inti pemasalahan, pembahasan diawali dengan presentasi dari negosiator dilanjutkan dengan pembcaraan yang harus diciptakan dalam suasana selaras dan besahabat. Kemungkinan terjadinya perbedaan sudut pandang dan perbedaan pendapat harus disikapi dengan arif dengan acara lebih menanamkan pengertian dan keyakinan kepada adversary yaitu melalui fakta atau data atau contoh-contoh yang sekiranya dapat mendekati dengan keinginan dan kepentingan adversary.

c)      Melaksanakan trial close, pada tahap ini negosiator belum meminta persetujuan namun lebih memahami posisi dari proses negosiasi.

d)     Menutup negosiasi, tahap ini sudah ada keputusan, negosiator meminta komitmen mengenai butir-butir kesepakatan .

Pada tahap pascanegosiasi umumnya setelah diperoleh kepastian atau keputusan, bila keputusan  negatif negosiator dapat menyusun rencana ulang untuk memasukkan usulan baru. Sedangkan bilamana hasilnya positif berarti harus diteruskan untuk melakukan hal-hal sebagai berikut:

 

 

a)      Perumusan hasil kesepakatan

Penyempurnaan rumusan hasil kesepakatan untuk dapat dijadikan sebagai pegangan oleh setiap pihak.

b)     Penyajian tertulis atas kesepakatan

Untuk permasalahan yang mempunyai nilai tinggi dan perlu ada penegasan formal, penuangan dalam bentuk tulisan diperlukan sebagai bentuk komitmen dari kedua belah pihak, kesepakatan dapat ditandatangani bersama.

c)      Rencana tindak lanjut

Kelanjutan dari kesepakatan adalah kegiatan yang diawali dengan penyusunan rencana tindakan dari keduabelah pihak. Langkah-langkah selanjutnya merupakan realisasi atau tindakan nyata untuk mewujudkan proyek yang disetujui bersama, didalam proses pelaksanaan perlu dipikirkan cara pengendalian yaitu evaluasi dan perbaikan.

Dengan demikian secara garis besar kegiatan melakukan negosiasi agar usulan kita diterima oleh adversary adalah :

a)      Melakukan survey tentang rencana pembuatan sarana pendukung pembelajaran (misalnya media pembelajaran)

b)     Menyusun proposal

c)      Meminta waktu untuk bertemu adversary

d)     Melakukan presentasi kepada adversay .

e)      Menunggu penilaian adversary

f)       Melakukan pendekatan kembali kepada adversary, bila perlu memberikan alasan yang lebih mendekati kemauan adversary

g)     Menunggu keputusan dari adversary

h)     Melakukan konsolidasi internal bersama tim

i)       Membuat Media yang telah dirancang.

Kunci keberhasilan proses negosiasi adalah  intensitas dan kualitas komunikasi antara negosiator dengan adversary.

Keterampilan yang dilakukan dalam meyakinkan kepada pihak-pihak terkait tentang lingkungan pembelajaran yang kondusif adalah sebagai berikut:

  1. Mempresentasikan hasil penerapan lingkungan pembelajaran kepada pihak-pihak terkait
  2. Melakukan negosiasi dengan pihak terkait untuk menyediakan lingkungan pembelajaran yang kondusif sesuai dengan asas-asas psikologi belajar.

Sikap kerja yang harus dilakukan dalam meyakinkan pihak-pihak terkait tentang lingkungan pembelajaran yang kondusif adalah sebagai berikut:

  1. Sopan
  2. Komunikatif
  3. Lugas
  4. Berpikir teratur
  5. Cermat

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

SUMBER-SUMBER LAIN

YANG DIPERLUKAN UNTUK PENCAPAIAN KOMPETENSI 

 

 

  1. A.      SUMBER-SUMBER PERPUSTAKAAN

 

  1. Daftar Pustaka
    1. Arthur Manapa, J., S.H., M.Sc., Negosiasi dan Tekniik Negosiasi, Lembaga Administrasi Negara, 2000
    2. Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI, Proses Instruksi, Modul ML 1, , Jakarta, 1982
    3. ________, Prinsip Melatih dan Komunikasi, Jakarta, 1986-1987
    4. ________, Psikologi Pendidikan,  Jakarta, 1986-1987
    5. ________, Komunikasi, Jakarta, 1997-1998
    6. Hasibuan, J.J.,Drs., Moedjiono, Drs., Proses Belajar Mengajar, Rosda, Bandung, 2009
    7. Nana Sudjana, Drs, Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar, Sinar Baru Algensindo, Bandung, 2009
    8. Nana Syaodih Sukmadinata, Prof.Dr., Landasan Psikologi Proses Pendidikan, Rosda, Bandung, 2009
    9. Onong Uchjana Effendy, Drs.M.A., Psikologi Manajemen, Alumni, Bandung, 1985
    10. Peter Fleming, Negosiasi yang Sukses, Megapoin, Jakarta, 1993
    11. The Liang Gie, Administrasi Perkantoran Modern, Nur Cahaya, Yogyakarta, 1974
    12. Wolfgang Gollub, Successful Presentation and Moderation

 

  1. Buku Referensi

 

 

 

 

 

 

 

  1. B.      DAFTAR PERALATAN/MESIN DAN BAHAN     

 

  1. Daftar Peralatan/Mesin

 

No.

Nama Peralatan/Mesin

Keterangan

Laptop, infocus, laserpointer Untuk di ruang teori
Printer  
Hechmachine (stapler/penjepret) 24 dan 10  
Pelubang kertas  
Penjepit kertas ukuran kecil dan sedang  
Peralatan Praktik terkait dgn keahlian peserta  
Ruangan kelas ber-AC  
Ruangan kelas tidak ber-AC  
Ruangan praktik  
  1. 10.
Perlengkapan K3  

 

  1. Daftar Bahan

 

No.

Nama Bahan

Keterangan

Modul Pelatihan (buku informasi, buku kerja, buku penilaian) Setiap peserta
Bahan perlengkapan peralatan  
Kertas HVS A4  
Spidol whiteboard  
Spidol marker  
Kertas chart (flip chart)  
Tinta printer  
ATK siswa Setiap peserta

 

 

TIM PENYUSUN

 

 

No.

Nama

Institusi

Keterangan

Bambang Purwoprasetyo Asosiasi Instruktur Metodologi Pelatihan (AIMP)  
Robert B. Sitorus Asosiasi Instruktur Metodologi Pelatihan (AIMP)  
Rubito Asosiasi Instruktur Metodologi Pelatihan (AIMP)  
Ali Darokah BBPLKDN Bandung  
Annoordin BBPLKDN Bandung  
Herwadi BBPLKDN Bandung  
Rahmat Sudjali Badan Nasional Sertifikasi Profesi  
Darma Setiawan Badan Nasional Sertifikasi Profesi  
Sjahruddin Kaliky BBLKI Serang  
  1. 10.
Bambang Trianto BBLKI Serang  
  1. 11.
Muh. Yasir BBPLKLN Cevest Bekasi  
  1. 12.
Karyaman BBPLKLN Cevest Bekasi  
  1. 13.
Subandi Dit. Stankomproglat  
  1. 14.
Bayu Priantoko Dit. Stankomproglat  
  1. 15.
Atiek Chrisnarini Biro Hukum Depnakertrans  
  1. 16.
Senggono BLK Pasar Rebo  

 

 

Testimoni

Advertisement
  1. Toko Kain Batik Cap Terbaik di Solo
  2. Toko Baju Batik Terbaik di Solo
  3. Aneka Kain Batik dengan Harga Murah
  4. Baju Batik Sarimbit Terbaik
  5. Dapatkan Kain Batik Berkualitas dengan Diskon 25%
  6. Aneka Baju Batik Seragam Kantor
  7. Pembuatan Seragam Batik Berlogo
slideseragambatik
Filed under : blog, tags: