Menu
Pasang iklan SEO disini Murah, 300.000/6 Bulan dan dapatkan Trafik setiap harinya

Menyunting Naskah TIK.MM02.023.01

Mar
23
2015
by : Bupeko. Posted in : blog

 

 

MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI

SEKTOR TELEMATIKA

SUB SEKTOR MULTIMEDIA

 

 

 

 

MENYUNTING NASKAH

TIK.MM02.023.01

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BUKU INFORMASI

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DEPARTEMEN TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI R.I.

DIREKTORAT JENDERAL PEMBINAAN PELATIHAN DAN PRODUKTIVITAS

Jl. Jend. Gatot Subroto Kav.51 Lt.7.B Jakarta Selatan

 

DAFTAR ISI

 

DAFTAR ISI. 2

BAB I. 3

PENGANTAR. 3

1.1        Konsep Dasar Pelatihan Berbasis Kompetensi 3

1.2        Desain Modul 3

1.2.1   Isi Modul 3

1.2.2   Pelaksanaan Modul 4

1.3        Pengakuan Kompetensi Terkini (RCC) 4

1.4        Pengertian-pengertian Istilah. 5

BAB II. 6

STANDAR KOMPETENSI. 6

2.1.       Peta Paket Pelatihan. 6

2.2.       Pengertian Unit Standar Kompetensi 6

2.3.       Unit Kompetensi yang Dipelajari 6

2.3.1 Judul unit kompetensi 7

2.3.2 Kode unit kompetensi 7

2.3.3 Deskripsi unit 7

2.3.4 Elemen kompetensi 7

2.3.5   Batasan variabel 8

2.3.6   Panduan Penilaian. 10

2.3.7   Kompetensi Kunci 12

BAB III. 13

STRATEGI DAN METODE PELATIHAN. 13

3.1.       Strategi Pelatihan. 13

3.2        Metode Pelatihan. 13

BAB IV. 15

MATERI UNIT KOMPETENSI. 15

MENYUNTING NASKAH. 15

4.1        Tujuan instruksional umum.. 15

4.2        Tujuan instruksional khusus 15

4.3        Uraian singkat materi 15

4.4        Beberapa pengertian dalam unit kompetensi ini, yaitu : 16

4.5        Informasi masing-masing elemen kompetensi 16

4.5.1   Menambah naskah untuk di-edit 16

4.5.2   Menganalisa naskah. 27

4.5.3   Mendapatkan persetujuan dari orang-orang yang relevan. 40

BAB V. 42

SUMBER-SUMBER YANG DIPERLUKAN. 42

UNTUK PENCAPAIAN KOMPETENSI. 42

5.1        Sumber Daya Manusia. 42

5.2        Literatur 43

5.3        Daftar Peralatan dan Bahan yang digunakan. 43

DAFTAR PUSTAKA. 44

 

BAB I

PENGANTAR

 

 

1.1     Konsep Dasar Pelatihan Berbasis Kompetensi

  • Apakah pelatihan berdasarkan kompetensi?

Pelatihan berdasarkan kompetensi adalah pelatihan yang memperhatikan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang diperlukan di tempat kerja agar dapat melakukan pekerjaan dengan kompeten. Standar Kompetensi dijelaskan oleh Kriteria Unjuk Kerja.

 

  • Apakah artinya menjadi kompeten ditempat kerja?

Jika Anda kompeten dalam pekerjaan tertentu, Anda memiliki seluruh keterampilan, pengetahuan dan sikap yang perlu untuk ditampilkan secara efektif ditempat kerja, sesuai dengan standar yang telah disetujui.

 

1.2     Desain Modul

Modul ini didisain untuk dapat digunakan pada Pelatihan Klasikal dan Pelatihan Individual/mandiri :

  • Pelatihan klasikal adalah pelatihan yang disampaiakan oleh seorang pelatih.
  • Pelatihan individual/mandiri adalah pelatihan yang dilaksanakan oleh peserta dengan menambahkan unsur-unsur/sumber-sumber yang diperlukan dengan bantuan dari pelatih.

 

1.2.1 Isi Modul

a.       Buku Informasi

Buku informasi ini adalah sumber pelatihan untuk pelatih maupun peserta pelatihan.

 

b.       Buku Kerja

Buku kerja ini harus digunakan oleh peserta pelatihan untuk mencatat setiap pertanyaan dan kegiatan praktik baik dalam Pelatihan Klasikal maupun Pelatihan Individual / mandiri.

Buku ini diberikan kepada peserta pelatihan dan berisi :

Kegiatan-kegiatan yang akan membantu peserta pelatihan untuk mempelajari dan memahami informasi.

  • Kegiatan pemeriksaan yang digunakan untuk memonitor pencapaian keterampilan peserta pelatihan.
  • Kegiatan penilaian untuk menilai kemampuan peserta pelatihan dalam melaksanakan praktik kerja.

 

c.       Buku Penilaian

Buku penilaian ini digunakan oleh pelatih untuk menilai jawaban dan tanggapan peserta pelatihan pada Buku Kerja dan berisi :

  • Kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh peserta pelatihan sebagai pernyataan keterampilan.
  • Metode-metode yang disarankan dalam proses penilaian keterampilan peserta pelatihan.
  • Sumber-sumber yang digunakan oleh peserta pelatihan untuk mencapai keterampilan.
  • Semua jawaban pada setiap pertanyaan yang diisikan pada Buku Kerja.
  • Petunjuk bagi pelatih untuk menilai setiap kegiatan praktik.
  • Catatan pencapaian keterampilan peserta pelatihan.

 

1.2.2  Pelaksanaan Modul

Pada pelatihan klasikal, pelatih akan :

  • Menyediakan Buku Informasi yang dapat digunakan peserta pelatihan sebagai sumber pelatihan.
  • Menyediakan salinan Buku Kerja kepada setiap peserta pelatihan.
  • Menggunakan Buku Informasi sebagai sumber utama dalam penyelenggaraan pelatihan.
  • Memastikan setiap peserta pelatihan memberikan jawaban / tanggapan dan menuliskan hasil tugas praktiknya pada Buku Kerja.

Pada Pelatihan individual / mandiri, peserta pelatihan akan :

  • Menggunakan Buku Informasi sebagai sumber utama pelatihan.
  • Menyelesaikan setiap kegiatan yang terdapat pada buku Kerja.
  • Memberikan jawaban pada Buku Kerja.
  • Mengisikan hasil tugas praktik pada Buku Kerja.
  • Memiliki tanggapan-tanggapan dan hasil penilaian oleh pelatih.

 

1.3     Pengakuan Kompetensi Terkini (RCC)

  • Apakah Pengakuan Kompetensi Terkini (Recognition of Current Competency).

Jika Anda telah memiliki pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk elemen unit kompetensi tertentu, Anda dapat mengajukan pengakuan kompetensi terkini (RCC). Berarti Anda tidak akan dipersyaratkan untuk belajar kembali.

 

  • Anda mungkin sudah memiliki pengetahuan dan keterampilan, karena Anda telah :
  1. Bekerja dalam suatu pekerjaan yang memerlukan suatu pengetahuan dan keterampilan yang sama atau
  2. Berpartisipasi dalam pelatihan yang mempelajari kompetensi yang sama atau
  3. Mempunyai pengalaman lainnya yang mengajarkan pengetahuan dan keterampilan yang sama.

 

1.4     Pengertian-pengertian Istilah

Profesi

Profesi adalah suatu bidang pekerjaan yang menuntut sikap, pengetahuan serta keterampilan/keahlian kerja tertentu yang diperoleh dari proses pendidikan, pelatihan serta pengalaman kerja atau penguasaan sekumpulan kompetensi tertentu yang dituntut oleh suatu pekerjaan/jabatan.

 

Standardisasi

Standardisasi adalah proses merumuskan, menetapkan serta menerapkan suatu standar tertentu.

 

Penilaian / Uji Kompetensi

Penilaian atau Uji Kompetensi adalah proses pengumpulan bukti melalui perencanaan, pelaksanaan dan peninjauan ulang (review) penilaian serta keputusan mengenai apakah kompetensi sudah tercapai dengan membandingkan bukti-bukti yang dikumpulkan terhadap standar yang dipersyaratkan.

 

Pelatihan

Pelatihan adalah proses pembelajaran yang dilaksanakan untuk mencapai suatu kompetensi tertentu dimana materi, metode dan fasilitas pelatihan serta lingkungan belajar yang ada terfokus kepada pencapaian unjuk kerja pada kompetensi yang dipelajari.

 

Kompetensi

Kompetensi adalah kemampuan seseorang untuk menunjukkan aspek sikap, pengetahuan dan keterampilan serta penerapan dari ketiga aspek tersebut ditempat kerja untuk mwncapai unjuk kerja yang ditetapkan.

 

Standar Kompetensi

Standar kompetensi adalah standar yang ditampilkan dalam istilah-istilah hasil serta memiliki format standar yang terdiri dari judul unit, deskripsi unit, elemen kompetensi, kriteria unjuk kerja, ruang lingkup serta pedoman bukti.

 

Sertifikat Kompetensi

Adalah pengakuan tertulis atas penguasaan suatu kompetensi tertentu kepada seseorang yang dinyatakan kompeten yang diberikan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi.

 

Sertifikasi Kompetensi

Adalah proses penerbitan sertifikat kompetensi melalui proses penilaian / uji kompetensi.

BAB II

STANDAR KOMPETENSI

 

 

2.1.    Peta Paket Pelatihan

Modul yang sedang Anda pelajari ini adalah untuk mencapai satu unit kompetensi, yang termasuk dalam satu paket pelatihan, yang terdiri atas unit-unit kompetensi berikut:

  1. TIK.MM02.023.01    Menyunting Naskah

 

2.2.    Pengertian Unit Standar Kompetensi

 

Apakah Standar Kompetensi?

Setiap Standar Kompetensi menentukan :

  1. Pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk mencapai kompetensi.
    1.  Standar yang diperlukan untuk mendemonstrasikan kompetensi.
    2.  Kondisi dimana kompetensi dicapai.

 

Apa yang akan Anda pelajari dari Unit Kompetensi ini?

Diharapkan anda dapat melakukan teknik penyuntingan naskah.

 

Berapa lama Unit Kompetensi ini dapat diselesaikan?

Pada sistem pelatihan berdasarkan kompetensi, fokusnya ada pada pencapaian kompetensi, bukan pada lamanya waktu. Namun diharapkan pelatihan ini dapat dilaksanakan dalam jangka waktu tiga sampai tujuh hari. Pelatihan ini dijutukan bagi semua orang awam yang ingin menulis naskah.

 

Berapa banyak/kesempatan yang Anda miliki untuk mencapai kompetensi?

Jika Anda belum mencapai kompetensi pada usaha/kesempatan pertama, Pelatih Anda akan mengatur rencana pelatihan dengan Anda. Rencana ini akan memberikan Anda kesempatan kembali untuk meningkatkan level kompetensi Anda sesuai dengan level yang diperlukan.

Jumlah maksimum usaha/kesempatan yang disarankan adalah 3 (tiga) kali.

 

2.3.    Unit Kompetensi yang Dipelajari

Dalam sistem pelatihan, Standar Kompetensi diharapkan menjadi panduan bagi peserta pelatihan  untuk dapat :

  • mengidentifikasikan apa yang harus dikerjakan peserta pelatihan.
  • memeriksa kemajuan peserta pelatihan.
    • menyakinkan bahwa semua elemen (sub-kompetensi) dan criteria unjuk   kerja telah dimasukkan dalam pelatihan dan penilaian.

 

2.3.1 Judul unit kompetensi

Menyunting naskah

 

2.3.2 Kode unit kompetensi

TIK.MM02.023.01

 

2.3.3 Deskripsi unit

Unit ini mendeskripsikan tentang keahlian dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk menambah, menganalisa, mengedit dan menghaluskan naskah, bekerja sama dengan penulis, untuk menyelesaikan produksi untuk semua produksi  industri budaya.

 

2.3.4 Elemen kompetensi

 

ELEMEN KOMPETENSI

 

KRITERIA UNJUK KERJA

01      Menambah naskah untuk di-edit

 

1.1. Identifikasi dan dihasilkan elemen cerita yang

relevan meliputi: plot, struktur, tema, karakter dan aliran.

 

1.2. Ditambahkan struktur, konsistensi, karakterisasi, benturan, bahasa dan hal-hal relevan lainnya dengan naskah.

 

1.3. Komunikasi dengan orang-orang yang relevan untuk menghasilkan dan mengkonfirmasi konsep naskah asli yang dibutuhkan dan dokumentasi segala perubahan dari konsep asli.

 

1.4. Ditentukan batas waktu untuk penyelesaian dari bermacam-macam proses pengeditan panggung sehingga semua tenggat waktu dapat dicapai.

 

02      Menganalisa naskah

 

2.1. Dalam kerjasama dengan (para) penulis, kegunaan cerita didefinisikan dan dianalisa untuk memastikan semua elemen cerita dikontribusikan untuk tujuan ini.

 

2.2. Analisa elemen cerita dan menambah masingmasing elemen untuk efektivitas artistic.

 

2.3. Bekerja sama dengan (para) penulis untuk menghasilkan visi penulis dan secara berkesinambungan menambah naskah untuk membantu definisi visi tersebut.

 

2.4. Penawaran masukan yang jelas dan konstruktif untuk membetulkan fakta yang tidak akurat dan persyaratan produksi yang lain.

 

2.5.  Dipastikan perubahan terhadap naskah konsisten dengan persyaratan editorial dan peraturan.

03      Mendapatkan persetujuan dari orang-orang yang relevan

 

3.1   Presentasi naskah yang sudah diedit pada orang-orang yang relevan untuk mendapatkan validasi.

 

3.2   Diskusi dan persetujuan perubahan akhir dengan orang-orang yang relevan.

 

3.3   Aplikasi perubahan yang diperlukan dan mengkonfirmasi bahwa naskah sudah sesuai dengan semua persyaratan dan siap untuk produksi.

 

 

2.3.5 Batasan variabel

          1.         Tipe produksi meliputi:

1.1. Film dan video roman

1.2. Film dokumenter

1.3. Film dan video pendek

1.4. Animasi

1.5. Serial televisi

1.6. Iklan/ komersial

1.7. Film dan video pelatihan

1.8. Multimedia

1.9. Kegiatan dan penampilan langsung

1.10. Teater

1.11. Penampilan

 

2.       Sumber daya yang relevan meliputi:

2.1. Inspirasi

2.2. Imajinasi

2.3. Pengalaman hidup

2.4. Kejadian aktual/ nyata

2.5. Bahan narasi yang muncul

2.6. Surat kabar

 

3.       Elemen cerita meliputi:

3.1 Plot

3.2 Cerita

3.3 Tema

3.4 Struktur

3.5 Karakter

3.6 Aliran

3.7 Konflik

 

4.       Hasil merupakan:

4.1. Sinopsis

4.2. Garis besar

4.3. Garis cerita

4.4. Naskah televisi

4.5. Screenplay

 

5.       Naskah meliputi:

5.1. Roman

5.2. Film dokumentasi

5.3. Komedi

5.4. Drama televisi

5.5. Serial

5.6. Perusahaan/ industri

5.7. Program anak-anak

5.8. Berita

5.9. Infotainment

5.10. Film interaktif

5.11. Permainan interaktif

5.12. Play

5.13. Teks penampilan

5.14. Penampilan radio

 

6.       Persyaratan produksi meliputi:

6.1. Kegunaan

6.2. Durasi

6.3. Corak

6.4. Isi

6.5. Anggaran

6.6. Tenggat waktu

6.7. Lokasi

6.8. Audience

6.9. Kontrak

6.10. Kerahasiaan

6.11. HAKI

6.12. Jadwal

 

7.       Orang-orang yang relevan meliputi:

7.1. Produser

7.2. Sutradara

7.3. Penulis naskah

7.4. Editor naskah

7.5. Manajer program

7.6. Penyiar

7.7. Pemain

7.8. Staf teknis yang lain

7.9. Staf ahli yang lain

7.10. Audience

2.3.6 Panduan Penilaian

  1. 1.        Pengetahuan dan keterampilan penunjang

Penilaian harus meliputi fakta esensial pengetahuan dan keahlian pada

bidang di bawah ini:

Kemampuan melokasikan dan menggunakan sumber daya untuk memperluas pengalaman kreatif

Kemampuan mendemonstrasikan keaslian dan pendekatan inovartif dalam proses penulisan naskah kreatif

Kemampuan untuk mencoba corak dan elemen narasi untuk mengembangkan pilihan sendiri dan memperluas latihan penulisan

Kemampuan memperluas ikatan kreatif untuk diri sendiri dan penonton

Pengetahuan dan pengertian atas prinsip dan latihan penulisan untuk layar

Pengetahuan atas bermacam-macan teknik pembacaan cerita

Pengetahuan yang relevan dengan konvensi penulisan, contohnya: film, bahasa

Pengetahuan atas apek cerita dan/ atau pengembangan karakter

Pengetahuan atas struktur penulisan layar, teater atau radio

Pengertian atas kecakapan pengarah layar

Pengertian atas kecakapan berakting di layar

Pengetahuan organisasi dan/ atau legislasi yang relevan atas persyaratan kesehatan dan keselamatan kesehatan dan keselamatan tempat kerja

Membaca dan menginterpretasikan dokumentasi dan rencana

Pengetahuan atas teknik komunikasi yang efektif meliputi mendengarkan secara aktif, bertanya dan komunikasi non verbal

 

2.       Konteks penilaian

 

2.1. Penilaian dapat dilakukan dalam pekerjaan, di luar pekerjaan atau merupakan penggabungan dari keduanya. Bagaimana pun juga penilaian unit ini akan lebih efektif bila diambil dalam persyaratan lingkungan tempat kerja yang spesifik.

2.2. Ruang lingkup metode untuk menambah aplikasi dari esensial pengetahuan dasar harus mendukung hal ini dan meliputi:

2.2.1.    Studi kasus

2.2.2.    Contoh pekerjaan atau aktifitas tempat kerja yang disimulasikan

2.2.3.    Pertanyaan lisan/ wawancara bertujuan untuk mengevaluasi proses yang digunakan dalam mengembangkan dan merealisasikan konsep kreatif

2.2.4.    Proyek-proyek/ laporan

2.2.5.    Laporan pihak ketiga dan hasil utama yang didapat

2.2.6.    Laporan fakta yang mendemonstrasikan proses yang digunakan dalam mengembangkan dan merealisasikan konsep kreatif

 

3.       Aspek penting penilaian

 

3.1   Karena unit ini berfokus pada pengeditan naskah, Penilaian harus memastikan bahwa sebuah ruang lingkup yang cukup atas tugas pengeditan naskah terpenuhi menggunakan ruang lingkup yang cukup dari naskah untuk layar. Ruang lingkup variabel akan membantu.

3.2   Fakta di bawah ini penting untuk menilai kompetensi unit ini:

3.2.1.    Kemampuan untuk menganalisa dan mengedit naskah pada layar untuk konsep akhir yang siap untuk produksi

3.2.2.    Pengetahuan prinsip dan pelatihan penulisan layar

3.2.3.    Komunikasi tertulis dan lisan yang efektif dengan ruang lingkup individu dan organisasi

3.2.4.    Pengetahuan atas issue kesehatan dan keselamatan tempat kerja

 

4.       Kaitan dengan unit-unit lainnya

 

4.1   Keterkaitan unit kompetensi untuk penilaian akan bervariasi dengan project atau scenario tertentu. Unit ini penting untuk suatu range pelayanan teknologi Informasi dan oleh karena ituu harus dinilai secara keseluruhan dengan unit technical/support.

4.2   Pengembangan pelatihan untuk memenuhi persyaratan dalam unit ini perlu dilakukan dengan hati-hati. Untuk pelatihan pra-kejuruan umum, institusi harus menyediakan pelatihan yang  mempertimbangkan serangkaian konteks industri seutuhnya tanpa bias terhadap sektor tertentu. Batasan variabel akan membantu dalam hal ini. Untuk sektor tertentu/ khusus, pelatihan harus disesuaikan agar dapat memenuhi kebutuhan sektor tersebut.

 

2.3.7 Kompetensi Kunci

 

 NO

KOMPETENSI KUNCI DALAM UNIT INI

TINGKAT

1

Mengumpulkan, mengorganisir dan menganalisa informasi

2

2

Mengkomunikasikan ide-ide dan informasi

2

3

Merencanakan dan mengorganisir aktivitas-aktivitas

3

4

Bekerja dengan orang lain dan kelompok

2

5

Menggunakan ide-ide dan tehnik matematika

1

6

Memecahkan masalah

2

7

Menggunakan teknologi

1

 

 

 

 

BAB III

STRATEGI DAN METODE PELATIHAN

 

3.1.    Strategi Pelatihan

Belajar dalam suatu sistem Berdasarkan Kompetensi berbeda dengan yang sedang “diajarkan” di kelas oleh Pelatih. Pada sistem ini Anda akan bertanggung jawab terhadap belajar Anda sendiri, artinya bahwa Anda perlu merencanakan belajar Anda dengan Pelatih dan kemudian melaksanakannya dengan tekun sesuai dengan rencana yang telah dibuat.

 

Persiapan/perencanaan

  1. Membaca bahan/materi yang telah diidentifikasi dalam setiap tahap belajar dengan tujuan mendapatkan tinjauan umum mengenai isi proses belajar Anda.
  2. Membuat catatan terhadap apa yang telah dibaca.
  3. Memikirkan bagaimana pengetahuan baru yang diperoleh berhubungan dengan pengetahuan dan pengalaman yang telah Anda miliki.
  4. Merencanakan aplikasi praktik pengetahuan dan keterampilan Anda.

 

Permulaan dari proses pembelajaran

  1. Mencoba mengerjakan seluruh pertanyaan dan tugas praktik yang terdapat pada tahap belajar.
  2. Merevisi dan meninjau materi belajar agar dapat menggabungkan pengetahuan Anda.

 

Pengamatan terhadap tugas praktik

  1. Mengamati keterampilan praktik yang didemonstrasikan oleh Pelatih atau orang yang telah berpengalaman lainnya.
  2. Mengajukan pertanyaan kepada Pelatih tentang konsep sulit yang Anda temukan.

 

Implementasi

  1. Menerapkan pelatihan kerja yang aman.
  2. Mengamati indicator kemajuan personal melalui kegiatan praktik.
  3. Mempraktikkan keterampilan baru yang telah Anda peroleh.

 

Penilaian

Melaksanakan tugas penilaian untuk penyelesaian belajar Anda.

 

3.2        Metode Pelatihan

Terdapat tiga prinsip metode belajar yang dapat digunakan. Dalam beberapa kasus, kombinasi metode belajar mungkin dapat digunakan.

 

Belajar secara mandiri

Belajar secara mandiri membolehkan Anda untuk belajar secara individual, sesuai dengan kecepatan belajarnya masing-masing. Meskipun proses belajar dilaksanakan secara bebas, Anda disarankan untuk menemui Pelatih setiap saat untuk mengkonfirmasikan kemajuan dan mengatasi kesulitan belajar.

 

Belajar Berkelompok

Belajar berkelompok memungkinkan peserta untuk dating bersama secara teratur dan berpartisipasi dalam sesi belajar berkelompok. Walaupun proses belajar memiliki prinsip sesuai dengan kecepatan belajar masing-masing, sesi kelompok memberikan interaksi antar peserta, Pelatih dan pakar/ahli dari tempat kerja.

 

Belajar terstruktur

Belajar terstruktur meliputi sesi pertemuan kelas secara formal yang dilaksanakan oleh Pelatih atau ahli lainnya. Sesi belajar ini umumnya mencakup topic tertentu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


BAB IV

MATERI UNIT KOMPETENSI

MENYUNTING NASKAH

 

4.1     Tujuan instruksional umum

  • Siswa mampu menceritakan dan menjelaskan bagaimana menyunting naskah

 

4.2     Tujuan instruksional khusus

  • Siswa mengerti dan mampu menambah naskah untuk diedit.
  • Siswa mampu menganalisa naskah.
  • Siswa mampu mendapat persetujuan dari orang-orang yang relevan dari hasil presentasi naskah.

 

4.3        Uraian singkat materi

 

Menyunting naskah

Mendeskripsikan tentang keahlian dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk menambah, menganalisa, mengedit dan menghaluskan naskah, bekerja sama dengan penulis, untuk menyelesaikan produksi untuk semua produksi industri budaya.

 

Menulis

 

MENULIS itu ibarat naik sepeda. Tidak ada teori dan teknik khusus yang bisa menjadikan seseorang mahir naik sepeda kecuali latihan dan “kebiasaan”.

 

Menulis juga ibarat berenang. Sesering apa pun Anda membaca buku-buku atau menyimak ceramah tentang teknik berenang, Anda tidak akan bisa menjadi perenang jika tidak “nyebur” langsung di kolam renang dan berlatih.

 

Maka, ingin bisa menulis, mulailah sekarang! Poin-poin berikut sekadar “membuka jendela” menuju dunia tulis menulis di media massa, membantu Anda untuk mengenali seni menulis, atau memandu Anda untuk menjadi seorang penulis.

 

Menulis adalah komunikasi, layaknya bercakap-cakap atau menulis surat. Hanya saja, menulis untuk media massa ada sejumlah kaidah yang harus dipatuhi, tidak sebebas menulis surat atau catatan pribadi. Pasalnya, tulisan Anda di media massa itu untuk dikonsumsi publik dan menyangkut kepentingan orang banyak.

 

4.4     Beberapa pengertian dalam unit kompetensi ini, yaitu :

Beberapa pengertian yang dipergunakan di dalam unit kompetensi ini, yaitu :

 

  1. Plot, adalah urutan cerita atau kejadian dalam suatu cerita yang secara artistik menunjukkan efek emosi para pemain ceritanya.
  2. Tema, adalah garis besar dari judul tulisan atau inti tulisan.

 

4.5     Informasi masing-masing elemen kompetensi

4.5.1 Menambah naskah untuk di-edit

1) Pengetahuan Kerja

 

Communication is the Goal
Tujuan menulis adalah komunikasi, yakni menyampaikan ide, informasi, atau kesan yang ada dalam pemikiran kita kepada pembaca. Karena itu, tulisan kita harus mudah dipahami pembaca. Jika pembaca tidak mengerti isi tulisan kita, maka tulisan kita tidak ada artinya.

 

Clarity is the Keynote of Good Writing
Kejelasan adalah kunci tulisan yang baik. Dengan menggunakan kata, ungkapan, kalimat, atau bahasa yang jelas, mudah dipahami, maka pembaca pun tidak akan salah paham.

 

Write in Your Own Voice — Speak in the human voice. Don’t use “alien codes” (academic, political, literary, bureaucratic, technical).
Gunakan gaya bahasa orang awam atau bahasa yang dimengerti orang banyak. Hindari ungkapan atau istilah akademis, politis, sastra, birokratis, teknis, yang biasanya hanya dimengerti kalangan terbatas/tertentu. Ingat, tulisan kita untuk media massa, yakni sarana komunikasi kepada publik yang heterogen wawasan dan tingkat intelektualitasnya.

 

Writing is a prosess.
Menulis adalah proses, melalui tahapan tertentu –menentukan topik, menguji topik, mencari referensi, menyusun outline, dan editing. Menulis juga adalah “kerja intelektual” yang membutuhkan keahlian khusus (writing technique). Karenanya, dibutuhkan latihan, kejelian, daya nalar, wawasan, referensi, etika, juga waktu dan… kesabaran!

 

Warming Up: Free Writing
Sebuah latihan sederhana dapat mengembangkan gaya tulisan yang mudah dan alami. Tuliskanlah yang terpikirkan, jika belum memiliki ide untuk ditulis, cobalah memulai dengan menulis aktivitas sehari-hari dan jelaskan secara mendetail.

 

2) Ketrampilan Kerja
Inilah langkah awal bagi penulis pemula. Lakukan “latihan kecil” sehingga kita bisa menemukan gaya menulis yang alami (natural style). Tulis saja apa yang ada di pikiran kita. Jika tidak tahu apa yang harus ditulis, mulailah dengan rekaman aktivitas harian kita. Atau perhatikan apa saja yang ada di sekitar ruangan kamar kita dan gambarkan secara rinci. Tulis dan tulis dengan cepat! Jangan terpaku dengan “teori menulis”, menulis sajalah dulu…! Ibarat berenang, gunakan gaya seenak kita, tidak perlu kaku dengan gaya katak, gaya punggung, atau “gaya-gayaan”.

 

“Prewriting : The Thinking Process about Purpose, Audience, and Topic of Writing.”
1. Determining Your Purpose : to inform, to entertain, or to persuade. Apa tujuan tulisan kita –sekadar informasi, untuk menghibur pembaca, atau mengajak pembaca melakukan sesuatu?
2. Considering Your Audience: For whom are you writing? Siapa yang akan membaca tulisan kita. Tulisan buat anak-anak, tentu berbeda gaya bahasanya dengan tulisan buat remaja atau orang dewasa.
3. Deciding Your Topic: What are you going to write? Tentukan topik, apa yang hendak kita kemukakan dalam tulisan itu?

 

“Narrow Your Topic!”
Probably the most difficult part of the writing process is planning what to say: finding central idea, narrowing your topic, and finding a point.
Temukan ide utama, persempit, dan temukan poinnya atau intinya. Misalnya, ide utamanya Pemilihan Presiden 2009, sempitkan menjadi Calon Presiden Unggulan, dan fokuskan bahasan pada Profil serta Peluang masing-masing calon yang kita analisis.

 

Stage of Writing: Outlining, Writing, Rewriting, and Editing.
Inilah tahapan yang kita lalui ketika menulis sebuah artikel.

1. Outlining = bringing order out of chaos. Membuat garis besar tulisan. Rapikan poin-poin bahasan, mulai Pendahuluan, “Jembatan” menuju bahasa utama (bridging), dan pokok-pokok bahasan (subjudul).

 

2. The Writing Stage = composing the first draft. Menulis naskah pertama, naskah kasar. Tulislah dulu apa yang ada di kepala, yang ingat, jangan dulu melihat referensi data data.

 

3. Tulisan ditulis dengan secepat mungkin, tulislah dimana saja, di tempat tidur, di lantai, dengan komputer, pensil baru kemudian ditulis ulang di tahap berikut.

 

4. The Revising Stage = rewriting the rough draft. Menulis kembali dengan format benar, memeriksa kata-kata yang salah dan inti harus ditulis dengan jelas.

 

5. The Editing Stage = correcting the final version. Memeriksa versi akhir dari tulisan. Lihat hanya pada kata-katanya. Tidak diperlukan untuk memeriksa artinya. Periksa apakah ada penulisan yang salah atau pengejaan yang salah. Tanda baca apakah sudah lengkap dan yang lainnya.

 

Say what you mean.

Pastikan setiap kalimat benar-benar berisikan apa yang hendak kita ungkapkan.*

 

Pengajaran Keterampilan Menulis

Mahasiswa asing yang belajar di Indonesia, di samping mempelajari ilmunya, ia juga harus belajar bahasa Indonesia. Belajar bahasa Indonesia berarti ia harus belajar mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis dalam bahasa Indonesia. Menulis adalah sebuah keterampilan berbahasa yang terpadu, yang ditujukan untuk menghasilkan sesuatu yang disebut tulisan.

Sekurang-kurangnya, ada tiga komponen yang tergabung dalam perbuatan menulis, yaitu: (1) penguasaan bahasa tulis, yang akan berfungsi sebagai media tulisan, meliputi: kosakata, struktur kalimat, paragraf, ejaan, pragmatik, dan sebagainya; (2) penguasaan isi karangan sesuai dengan topik yang akan ditulis; dan (3) penguasaan tentang jenis-jenis tulisan, yaitu bagaimana merangkai isi tulisan dengan menggunakan bahasa tulis sehingga membentuk sebuah komposisi yang diinginkan, seperti esai, artikel, cerita pendek, makalah, dan sebagainya.

Seorang penutur asing tidak akan mungkin terampil menulis kalau hanya menguasai satu atau dua komponen saja di antara ketiga komponen tersebut. Betapa banyak penutur asing yang menguasai bahasa Indonesia secara tertulis tetapi tidak dapat menghasilkan tulisan karena tidak tahu apa yang akan ditulis dan bagaimana menuliskannya. Betapa banyak pula penutur asing yang mengetahui banyak hal untuk ditulis dan tahu pula menggunakan bahasa tulis tetapi tidak dapat menulis karena tidak tahu caranya. Dalam makalah ini akan dibahas model pengajaran menulis bahasa Indonesia bagi penutur asing tingkat lanjut khususnya mereka yang belajar berbagai ilmu di Indonesia.

Menulis bukan pekerjaan yang sulit melainkan juga tidak mudah. Untuk memulai menulis, setiap penulis tidak perlu menunggu menjadi seorang penulis yang terampil. Belajar teori menulis itu mudah, tetapi untuk mempraktikkannya tidak cukup sekali dua kali. Frekuensi latihan menulis akan menjadikan seseorang terampil dalam bidang tulis-menulis.

Tidak ada waktu yang tidak tepat untuk memulai menulis. Artinya, kapan pun, di mana pun, dan dalam situasi yang bagaimana pun seorang penutur asing yang belajar di Indonesia dapat melakukannya. Ketakutan akan kegagalan bukanlah penyebab yang harus dipertahankan. Itulah salah satu kiat, teknik, dan strategi yang ditawarkan oleh David Nunan (1991: 86—90) dalam bukunya Language Teaching Methodology. Dia menawarkan suatu konsep pengembangan keterampilan menulis yang meliputi: (1) perbedaan antara bahasa lisan dan bahasa tulisan, (2) menulis sebagai suatu proses dan menulis sebagai suatu produk, (3) struktur generik wacana tulis,  (4) perbedaan antara penulis terampil dan penulis yang tidak terampil, dan (5) penerapan keterampilan menulis dalam proses pembelajaran.

Pertama, perbedaan antara bahasa lisan dan bahasa tulisan tampak pada fungsi dan karakteristik yang dimiliki oleh keduanya. Namun demikian, yang patut diperhatikan adalah keduanya harus memiliki fungsi komunikasi. Dari sudut pandang inilah dapat diketahui sejauh mana hubungan antara bahasa lisan dan bahasa tulis, sehingga dapat diaplikasikan dalam kegiatan komunikasi.

Dalam berkomunikasi sehari-hari, salah satu alat yang paling sering digunakan adalah bahasa, baik bahasa lisan maupun bahasa tulis. Begitu dekatnya kita kepada bahasa tadi, terutama bahasa Indonesia, sehingga tidak dirasa perlu untuk mendalami dan mempelajari bahasa Indonesia secara lebih jauh dan lebih mendalam. Akibatnya, sebagai pemakai bahasa, orang Indonesia kadang-kadang tidak terampil menggunakan bahasanya sendiri dibandingkan dengan orang asing yang belajar bahasa Indonesia. Hal ini merupakan suatu kelemahan yang tidak kita sadari.

Kedua, pandangan bahwa keterampilan menulis sebagai suatu proses dan menulis sebagai suatu produk. Pendekatan yang berorientasi pada proses lebih memfokuskan pada aktivitas belajar (proses menulis); sedangkan pendekatan yang berorientasi pada produk lebih memfokuskan pada hasil belajar menulis yaitu wujud tulisan.

Ketiga, struktur generik wacana dari masing-masing jenis karangan (tulisan) tidak menunjukkan perbedaan yang mencolok. Hanya saja pada jenis karangan narasi menunjukkan struktur yang lengkap, yang meliputi orientasi, komplikasi, dan resolusi. Hal ini menjadi ciri khas jenis karangan/tulisan ini.

Keempat, untuk menambah wawasan tentang keterampilan menulis, setiap penulis perlu mengetahui penulis yang terampil dan penulis yang tidak terampil. Tujuannya adalah agar dapat mengikuti jalan pikiran (penalaran) dari keduanya. Kita dapat mengetahui kesulitan yang dialami penulis yang tidak terampil (baca: pemula, awal). Salah satu kesulitan yang dihadapinya adalah ia kurang mampu mengantisipasi masalah yang ada pada pembaca. Adapun penulis terampil, ia mampu mengatakan masalah tersebut atau masalah lainnya, yaitu masalah yang berkenaan dengan proses menulis itu sendiri.

Kelima, sekurang-kurangnya ada tiga proses menulis yang ditawarkan oleh David Nunan, yakni: (1) tahap prapenulisan, (2) tahap penulisan, dan (3) tahap perbaikan. Untuk menerapkan ketiga tahap menulis tersebut diperlukan keterampilan memadukan antara proses dan produk menulis.

Menulis pada dasarnya merupakan suatu kegiatan yang produktif dan ekspresif. Dalam kegiatan menulis ini seorang penulis harus terampil memanfaatkan grafologi, struktur bahasa, dan kosakata. Keterampilan menulis digunakan untuk mencatat, merekam, meyakinkan, melaporkan, menginformasikan, dan mempengaruhi pembaca. Maksud dan tujuan seperti itu hanya dapat dicapai dengan baik oleh para pembelajar yang dapat menyusun dan merangkai jalan pikiran dan mengemukakannya secara tertulis dengan jelas, lancar, dan komunikatif. Kejelasan ini bergantung pada pikiran, organisasi, pemakaian dan pemilihan kata, dan struktur kalimat (McCrimmon, 1967: 122).

 

Pendekatan Pengajaran Menulis: Tradisional dan Proses

 

Pembelajaran menulis dengan pendekatan tradisional lebih menekankan pada hasil berupa tulisan yang telah jadi, tidak pada apa yang dikerjakan pembelajar ketika menulis. Pembelajar berpraktik menulis, mereka tidak mempelajari bagaimana cara menulis yang baik. Temuan penelitian mengenai menulis menyebabkan bergesernya penekanan pembelajaran menulis dari hasil (tulisan) ke proses menulis yang terlibat dalam menghasilkan tulisan. Peran pengajar dalam pembelajaran menulis dengan pendekatan proses tidak hanya memberikan tugas menulis dan menilai tulisan para pembelajar, tetapi juga membimbing pembelajar dalam proses menulis (Tompkins, 1990: 69).

Perbedaan antara pendekatan tradisional dan pendekatan keterampilan proses dalam pembelajaran menulis bahasa Indonesia bagi penutur asing tingkat lanjut sebagaimana dikemukakan Tompkins (1990: 70) dapat dilihat pada bagan berikut.

 

Tabel 1 . Pendekatan Tradisional dan Keterampilan Proses dalam Menulis (Elemen Kompentensi 1)

 

No.

Komponen

Pendekatan Tradisional

Pendekatan Proses

1

Pilihan Topik Tugas menulis kreatif yang spesifik diberikan oleh pengajar Pembelajar memilih topik sendiri, atau topik-topik yang diambil dari bidang studi lain

2

Pembelajaran Pengajar hanya sedikit atau tidak memberikan pelajaran.

Pembelajar diharapkan menulis sebaik-baiknya

Pengajar mengajar pembelajar mengenai proses menulis dan mengenai bentuk-bentuk tulisan

3

Fokus Berfokus pada tulisan yang sudah jadi Berfokus pada proses yang digunakan pembelajar ketika menulis

4

Rasa Memiliki Pembelajar menulis untuk pengajar dan kurang merasa memiliki  tulisan sendiri Pembelajar merasa memiliki tulisan sendiri.

 

5

Pembaca Pengajar merupakan pembaca utama Pembelajar menulis untuk pembaca yang sesungguhnya

6

Kerja Sama Hanya sedikit atau tidak ada kerja sama Pembelajar menulis dengan bekerja sama dan berbagi tulisan yang dihasilkan masing-masing dengan teman-teman satu kelompok/kelas

7

Draft Pembelajar menulis draft tunggal dan harus memusatkan pada isi sekaligus segi mekanik (ejaan, tanda baca, tata tulis) Pembelajar menulis draft kasar (outline) untuk menuangkan gagasan dan kemudian merevisi dan menyunting draft ini sebelum membuat hasil akhir

8

Kesalahan Mekanik Pembelajar dituntut untuk menghasilkan tulisan yang bebas dari kesalahan Pembelajar mengoreksi kesalahan sebanyak-banyaknya selama menyunting, tetapi tekanannya lebih besar pada isi daripada segi mekanik

9

Peran Pengajar Pengajar memberikan tugas menulis dan menilainya jika tulisan sudah jadi Pengajar mengajarkan cara menulis dan memberikan balikan selama pembelajar merevisi dan mengedit/menyunting

10

Waktu Pembelajar menyelesaikan tulisan dalam satu jam pelajaran Pembelajar mungkin menghabiskan waktu tidak hanya satu jam pelajaran untuk mengerjakan setiap tugas menulis

11

Evaluasi Pengajar mengevaluasi kualitas tulisan setelah tulisan selesai disusun Pengajar memberikan balikan selama pembelajar menulis, sehingga pembelajar dapat memanfaatkannya untuk memperbaiki tulisannya. Evaluasi berfokus pada proses dan hasil.

          Dari kedua pendekatan pengajaran menulis seperti tertera pada bagan di atas dapat diketahui kelemahan dan keunggulannya. Pada pendekatan tradisional, pengajar memberikan topik tulisan dan setelah pembelajar mengerjakan tugas tersebut selama setengah atau tiga per empat jam (satu jam pelajaran), pengajar mengumpulkan pekerjaan pembelajar untuk dievaluasi. Dengan model pembelajaran seperti ini biasanya hanya sedikit saja pembelajar yang dapat menghasilkan tulisan yang baik. Sebagian besar pembelajar biasanya hanya menghasilkan tulisan yang kurang baik. Pengalaman di lapangan dalam memberikan proses pembelajaran terhadap penutur asing menunjukkan bahwa kadang-kadang mereka hanya dapat menghasilkan beberapa kalimat saja. Dalam kondisi semacam ini pembelajar tidak mempelajari bagaimana cara menulis. Mereka dihadapkan pada tugas sulit yang harus mereka kerjakan tanpa memperoleh penjelasan mengenai cara mengatasi kesulitan yang mereka hadapi.

          Menyadari terhadap kenyataan yang tidak menguntungkan bagi upaya pengembangan keterampilan menulis bahasa Indonesia bagi penutur asing tingkat lanjut seperti digambarkan di atas, seyogianya dapat diterapkan model/pendekatan keterampilan proses dalam pembelajaran menulis. Untuk itu, terlebih dahulu perlu diketahui proses kreatif dalam menulis.

 

Proses Kreatif  dalam Menulis

 

          Menulis merupakan suatu proses kreatif  yang banyak melibatkan cara berpikir divergen (menyebar) daripada konvergen (memusat) (Supriadi, 1997). Menulis tidak ubahnya dengan melukis. Penulis memiliki banyak gagasan dalam menuliskannya. Kendatipun secara teknis ada kriteria-kriteria yang dapat diikutinya, tetapi wujud yang akan dihasilkan itu sangat bergantung pada kepiawaian penulis dalam mengungkapkan gagasan. Banyak orang mempunyai ide-ide bagus di benaknya sebagai hasil dari pengamatan, penelitian, diskusi, atau membaca. Akan tetapi, begitu ide tersebut dilaporkan secara tertulis, laporan itu terasa amat kering, kurang menggigit, dan membosankan. Fokus tulisannya tidak jelas, gaya bahasa yang digunakan monoton, pilihan katanya (diksi) kurang tepat dan tidak mengena sasaran, serta variasi kata dan kalimatnya kering.

Sebagai proses kreatif yang berlangsung secara kognitif, penyusunan sebuah tulisan memuat empat tahap, yaitu: (1) tahap persiapan (prapenulisan), (2) tahap inkubasi, (3) tahap iluminasi, dan (4) tahap verifikasi/evaluasi. Keempat proses ini tidak selalu disadari oleh para pembelajar bahasa Indonesia sebagai bahasa asing. Namun, jika dilacak lebih jauh lagi, hampir semua proses menulis (esai, opini/artikel, karya ilmiah, artistik, atau bahkan masalah politik sekali pun) melalui keempat tahap ini. Harap diingat, bahwa proses kreatif tidak identik dengan proses atau langkah-langkah mengembangkan laporan tetapi lebih banyak merupakan proses kognitif atau bernalar.

Pertama, tahap persiapan atau prapenulisan adalah ketika pembelajar menyiapkan diri, mengumpulkan informasi, merumuskan masalah, menentukan fokus, mengolah informasi, menarik tafsiran dan inferensi terhadap realitas yang dihadapinya, berdiskusi, membaca, mengamati, dan lain-lain yang memperkaya masukan kognitifnya yang akan diproses selanjutnya.

Kedua, tahap inkubasi adalah ketika pembelajar memproses informasi yang dimilikinya sedemikian rupa, sehingga mengantarkannya pada ditemukannya pemecahan masalah atau jalan keluar yang dicarinya. Proses inkubasi ini analog dengan ayam yang mengerami telurnya sampai telur menetas menjadi anak ayam. Proses ini seringkali terjadi secara tidak disadari, dan memang berlangsung dalam kawasan bawah sadar (subconscious) yang pada dasarnya melibatkan proses perluasan pikiran (expanding of the mind). Proses ini dapat berlangsung beberapa detik sampai bertahun-tahun. Biasanya, ketika seorang penulis melalui proses ini seakan-akan ia mengalami kebingungan dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Oleh karena itu, tidak jarang seorang penulis yang tidak sabar mengalami frustrasi karena tidak menemukan pemecahan atas masalah yang dipikirkannya. Seakan-akan kita melupakan apa yang ada dalam benak kita. Kita berekreasi dengan anggota keluarga, melakukan pekerjaan lain, atau hanya duduk termenung. Kendatipun demikian, sesungguhnya di bawah sadar kita sedang mengalami proses pengeraman yang menanti saatnya untuk segera “menetas”.

Ketiga, tahap iluminasi adalah ketika datangnya inspirasi atau insight, yaitu gagasan datang seakan-akan tiba-tiba dan berloncatan dari pikiran kita. Pada saat ini, apa yang telah lama kita pikirkan menemukan pemecahan masalah atau jalan keluar. Iluminasi tidak mengenal tempat atau waktu. Ia bisa datang ketika kita duduk di kursi, sedang mengendarai mobil, sedang berbelanja di pasar atau di supermarket, sedang makan, sedang mandi, dan lain-lain.

Jika hal-hal itu terjadi, sebaiknya gagasan yang muncul dan amat dinantikan itu segera dicatat, jangan dibiarkan hilang kembali sebab momentum itu biasanya tidak berlangsung lama. Tentu saja untuk peristiwa tertentu, kita menuliskannya setelah selesai melakukan pekerjaan. Jangan sampai ketika kita sedang mandi, misalnya, kemudian keluar hanya untuk menuliskan gagasan. Agar gagasan tidak menguap begitu saja, seorang pembelajar menulis yang baik selalu menyediakan ballpoint atau pensil dan kertas di dekatnya, bahkan dalam tasnya ke mana pun ia pergi.

Seringkali orang menganggap iluminasi ini sebagai ilham. Padahal, sesungguhnya ia telah lama atau pernah memikirkannya. Secara kognitif, apa yang dikatakan ilham tidak lebih dari proses berpikir kreatif. Ilham tidak datang dari kevakuman tetapi dari usaha dan ada masukan sebelumnya terhadap referensi kognitif seseorang.

Keempat, tahap terakhir yaitu verifikasi, apa yang dituliskan sebagai hasil dari tahap iluminasi itu diperiksa kembali, diseleksi, dan disusun sesuai dengan fokus tulisan. Mungkin ada bagian yang tidak perlu dituliskan, atau ada hal-hal yang perlu ditambahkan, dan lain-lain. Mungkin juga ada bagian yang mengandung hal-hal yang peka, sehingga perlu dipilih kata-kata atau kalimat yang lebih sesuai, tanpa menghilangkan esensinya. Jadi, pada tahap ini kita menguji dan menghadapkan apa yang kita tulis itu dengan realitas sosial, budaya, dan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat.

 

Proses Pembelajaran Menulis

 

          Berdasarkan hasil penelitian yang diadakan terhadap tulisan mahasiswa, Flower dan Hayes (lewat Tompkins, 1990: 71) mengembangkan model proses dalam menulis. Proses menulis dapat dideskripsikan sebagai proses pemecahan masalah yang kompleks, yang mengandung tiga elemen, yaitu lingkungan tugas, memori jangka panjang penulis, dan proses menulis. Pertama, lingkungan tugas adalah tugas yang penulis kerjakan dalam menulis. Kedua, memori jangka panjang penulis adalah pengetahuan mengenai topik, pembaca, dan cara menulis. Ketiga, proses menulis meliputi tiga kegiatan, yaitu: (1) merencanakan (menentukan tujuan untuk mengarahkan tulisan), (2) mewujudkan (menulis sesuai dengan rencana yang sudah dibuat), dan (3) merevisi (mengevaluasi dan merevisi tulisan).

Ketiga kegiatan tersebut tidak merupakan tahap-tahap yang linear, karena penulis terus-menerus memantau tulisannya dan bergerak maju mundur (Zuchdi, 1997: 6). Peninjauan kembali tulisan yang telah dihasilkan ini dapat dianggap sebagai komponen keempat dalam proses menulis. Hal inilah yang membantu penulis dapat mengungkapkan gagasan secara logis dan sistematis, tidak mengandung bagian-bagian yang kontradiktif. Dengan kata lain, konsistensi (keajegan) isi gagasan dapat terjaga.

          Berkaitan dengan tahap-tahap proses menulis, Tompkins (1990: 73) menyajikan lima tahap, yaitu: (1) pramenulis, (2) pembuatan draft, (3) merevisi, (4) menyunting, dan (5) berbagi (sharing). Tompkins juga menekankan bahwa tahap-tahap menulis ini tidak merupakan kegiatan yang linear. Proses menulis bersifat nonlinier, artinya merupakan putaran berulang. Misalnya, setelah selesai menyunting tulisannya, penulis mungkin ingin meninjau kembali kesesuaiannya dengan kerangka tulisan atau draft awalnya. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada setiap tahap itu dapat dirinci lagi. Dengan demikian, tergambar secara menyeluruh proses menulis, mulai awal sampai akhir menulis seperti berikut.

 

1.Tahap Pramenulis

Pada tahap pramenulis, pembelajar melakukan kegiatan sebagai berikut:

  1. Menulis topik berdasarkan pengalaman sendiri
  2. Melakukan kegiatan-kegiatan latihan sebelum menulis
  3. Mengidentifikasi pembaca tulisan yang akan mereka tulis
  4. Mengidentifikasi tujuan kegiatan menulis
  5. Memilih bentuk tulisan yang tepat berdasarkan pembaca dan tujuan yang telah mereka tentukan

 

2. Tahap Membuat Draft

Kegiatan yang dilakukan oleh pembelajar pada tahap ini adalah sebagai berikut:

  1. Membuat draft kasar
  2. Lebih menekankan isi daripada tata tulis

 

3. Tahap Merevisi

Yang perlu dilakukan oleh pembelajar pada tahap merevisi tulisan ini adalah sebagai berikut:

  1. Berbagi tulisan dengan teman-teman (kelompok)
  2. Berpartisipasi secara konstruktif dalam diskusi tentang tulisan teman-teman sekelompok atau sekelas
  3. Mengubah tulisan mereka dengan memperhatikan reaksi dan komentar baik dari pengajar maupun teman
  4. Membuat perubahan yang substantif pada draft pertama dan draft berikutnya, sehingga menghasilkan draft akhir

 

 

4. Tahap Menyunting

Pada tahap menyunting, hal-hal yang perlu dilakukan oleh pembelajar adalah sebagai berikut:

  1. Membetulkan kesalahan bahasa tulisan mereka sendiri
  2. Membantu membetulkan kesalahan bahasa dan tata tulis tulisan mereka sekelas/sekelompok
  3. Mengoreksi kembali kesalahan-kesalahan tata tulis tulisan mereka sendiri

Dalam kegiatan penyuntingan ini, sekurang-kurangnya ada dua tahap yang harus dilakukan. Pertama, penyuntingan tulisan untuk kejelasan penyajian. Kedua, penyuntingan bahasa dalam tulisan agar sesuai dengan sasarannya (Rifai, 1997: 105—106). Penyuntingan tahap pertama akan berkaitan dengan masalah komunikasi. Tulisan diolah agar isinya dapat dengan jelas diterima oleh pembaca. Pada tahap ini, sering kali penyunting harus mereorganisasi tulisan karena penyajiannya dianggap kurang efektif. Ada kalanya, penyunting terpaksa membuang beberapa paragraf atau sebaliknya, harus menambahkan beberapa kalimat, bahkan beberapa paragraf untuk memperlancar hubungan gagasan. Dalam melakukan penyuntingan pada tahap ini, penyunting sebaiknya berkonsultasi dan berkomunikasi dengan penulis. Pada tahap ini, penyunting harus luwes dan pandai-pandai menjelaskan perubahan yang disarankannya kepada penulis karena hal ini sangat peka. Hal-hal yang berkaitan dengan penyuntingan tahap ini adalah kerangka tulisan, pengembangan tulisan, penyusunan paragraf, dan kalimat.

          Kerangka tulisan merupakan ringkasan sebuah tulisan. Melalui kerangka tulisan, penyunting dapat melihat gagasan, tujuan, wujud, dan sudut pandang penulis. Dalam bentuknya yang ringkas itulah, tulisan dapat diteliti, dianalisis, dan dipertimbangkan secara menyeluruh, dan tidak secara lepas-lepas (Keraf, 1989: 134). Penyunting dapat memperoleh keutuhan sebuah tulisan dengan cara mengkaji daftar isi tulisan dan bagian pendahuluan. Jika ada, misalnya, dalam tulisan ilmiah atau ilmiah populer, sebaiknya bagian simpulan pun dibaca. Dengan demikian, penyunting akan memperoleh gambaran awal mengenai sebuah tulisan dan tujuannya. Gambaran itu kemudian diperkuat dengan membaca secara keseluruhan isi tulisan. Jika tulisan merupakan karya fiksi, misalnya, penyunting langsung membaca keseluruhan karya tersebut. Pada saat itulah, biasanya penyunting sudah dapat menandai bagian-bagian yang perlu disesuaikan.

Berdasarkan kerangka tulisan tersebut dapat diketahui tujuan penulis. Selanjutnya, berdasarkan pengetahuan atas tujuan penulis, dapat diketahui bentuk tulisan dari sebuah naskah (tulisan). Pada umumnya, tulisan dapat dikelompokkan atas empat macam bentuk, yaitu narasi, deskripsi, eksposisi, dan argumentasi.

Bentuk tulisan narasi dipilih jika penulis ingin bercerita kepada pembaca. Narasi biasanya ditulis berdasarkan rekaan atau imajinasi. Akan tetapi, narasi dapat juga ditulis berdasarkan pengamatan atau wawancara. Narasi pada umumnya merupakan himpunan peristiwa yang disusun berdasarkan urutan waktu atau urutan kejadian. Dalam tulisan narasi, selalu ada tokoh-tokoh yang terlibat dalam suatu atau berbagai peristiwa.

Bentuk tulisan deskripsi dipilih jika penulis ingin menggambarkan bentuk, sifat, rasa, corak dari hal yang diamatinya. Deskripsi juga dilakukan untuk melukiskan perasaan, seperti bahagia, takut, sepi, sedih, dan sebagainya. Penggambaran itu mengandalkan pancaindera dalam proses penguraiannya. Deskripsi yang baik harus didasarkan pada pengamatan yang cermat dan penyusunan yang tepat. Tujuan deskripsi adalah membentuk, melalui ungkapan bahasa, imajinasi pembaca agar dapat membayangkan suasana, orang, peristiwa, dan agar mereka dapat memahami suatu sensasi atau emosi. Pada umumnya, deskripsi jarang berdiri sendiri. Bentuk tulisan tersebut selalu menjadi bagian dalam bentuk tulisan lainnya.

Bentuk tulisan eksposisi dipilih jika penulis ingin memberikan informasi, penjelasan, keterangan atau pemahaman. Berita merupakan bentuk tulisan eksposisi karena memberikan informasi. Tulisan dalam majalah juga merupakan eksposisi. Buku teks merupakan bentuk eksposisi. Pada dasarnya, eksposisi berusaha menjelaskan suatu prosedur atau proses, memberikan definisi, menerangkan, menjelaskan, menafsirkan gagasan, menerangkan bagan atau tabel, mengulas sesuatu.Tulisan eksposisi sering ditemukan bersama-sama dengan bentuk tulisan deskripsi. Laras yang termasuk dalam bentuk tulisan eksposisi adalah buku resep, buku-buku pelajaran, buku teks, dan majalah.

Tulisan berbentuk argumentasi bertujuan meyakinkan orang, membuktikan pendapat atau pendirian pribadi, atau membujuk pembaca agar pendapat pribadi penulis dapat diterima. Bentuk tulisan tersebut erat kaitannya dengan eksposisi dan ditunjang oleh deskripsi. Bentuk argumentasi dikembangkan untuk memberikan penjelasan dan fakta-fakta yang tepat sebagai alasan untuk menunjang kalimat topik. Kalimat topik, biasanya merupakan sebuah pernyataan untuk meyakinkan atau membujuk pembaca. Dalam sebuah majalah atau surat kabar, misalnya, argumentasi ditemui dalam kolom opini/wacana/gagasan/pendapat.

Kendatipun keempat bentuk tulisan tersebut memiliki ciri masing-masing, mereka tidak secara ketat terpisah satu sama lain. Dalam sebuah kolom, misalnya, dapat ditemukan berbagai bentuk tulisan tersebut tersebar di dalam paragraf yang membangun kerangka tersebut. Oleh karena itu, penyunting berfungsi untuk mempertajam dan memperkuat pembagian paragraf. Pembagian paragraf terdiri atas paragraf pembuka, paragraf penghubung atau isi, dan paragraf penutup sering kali tidak diketahui oleh penulis. Masih sering ditemukan tulisan yang sulit dipahami karena pemisahan bagian-bagian atau pokok-pokoknya tidak jelas.

Pemeriksaan atas kalimat merupakan penyuntingan tahap pertama juga. Pada tahap ini pun, sebaiknya penyunting berkonsultasi dengan penulis. Penyunting harus memiliki pengetahuan bahasa yang memadai. Dengan demikian, penyunting dapat menjelaskan dengan baik kesalahan kalimat yang dilakukan oleh penulis. Untuk itu, penyunting harus menguasai persyaratan yang tercakup dalam kalimat yang efektif. Kalimat yang efektif adalah kalimat yang secara jitu atau tepat mewakili gagasan atau perasaan penulis. Untuk dapat membuat kalimat yang efektif, ada tujuh hal yang harus diperhatikan, yaitu kesatuan gagasan, kepaduan, penalaran, kehematan atau ekonomisasi bahasa, penekanan, kesejajaran, dan variasi.

Penyuntingan tahap kedua berkaitan dengan masalah yang lebih terperinci, lebih khusus. Dalam hal ini, penyunting berhubungan dengan masalah kaidah bahasa, yang mencakup perbaikan dalam kalimat, pilihan kata (diksi), tanda baca, dan ejaan. Pada saat penyunting memperbaiki kalimat dan pilihan kata dalam tulisan, ia dapat berkonsultasi dengan penulis atau langsung memperbaikinya. Hal ini bergantung pada keluasan permasalahan yang harus diperbaiki. Sebaliknya, masalah perbaikan dalam tanda baca dan ejaan dapat langsung dikerjakan oleh penyunting tanpa memberitahukan penulis. Perbaikan dalam tahap ini bersifat kecil, namun sangat mendasar.

 

5. Tahap Berbagi

Tahap terakhir dalam proses menulis adalah berbagi (sharing) atau publikasi. Pada tahap berbagi ini, pembelajar:

  1. Mempublikasikan (memajang) tulisan mereka dalam suatu bentuk tulisan yang sesuai, atau
  2. Berbagi tulisan yang dihasilkan dengan pembaca yang telah mereka tentukan.

Dari tahap-tahap pembelajaran menulis dengan pendekatan/model proses sebagaimana dijabarkan di atas dapat dipahami betapa banyak dan bervariasi kegiatan pembelajar dalam proses menulis. Keterlibatannya dalam berbagai kegiatan tersebut sudah barang tentu merupakan pelajaran yang sangat berharga guna mengembangkan keterampilan menulis. Kesulitan-kesulitan yang dialami oleh pembelajar pada setiap tahap, upaya-upaya mengatasi kesulitan tersebut, dan hasil terbaik yang dicapai oleh para pembelajar membuat mereka lebih tekun dan tidak mudah menyerah dalam mencapai hasil yang terbaik dalam mengembangkan keterampilan menulis.

Pembelajaran menulis bagi penutur asing dengan menggunakan pendekatan keterampilan proses merupakan suatu alternatif untuk mencapai keterampilan menulis pembelajar secara efektif. Hal ini dimungkinkan karena diterapkannya  proses kreatif dalam menulis yang diimplementasikan melalui tahap-tahap kegiatan yang dapat dilakukan pembelajar (pramenulis, membuat draft, merevisi, menyunting, dan berbagi (sharing). Proses menulis itu tidak selalu bersifat linear tetapi dapat bersifat nonlinier, dan perlu disesuaikan dengan berbagai jenis tulisan yang mereka susun.

 

3) Sikap Kerja

Beberapa sikap kerja yang harus diterapkan ketika berada di lingkungan kerja, yaitu :

1. Memilih plot, struktur, tema, karakter dan aliran.

2. Menambahkan detail yang membantu dalam kerangka tulis

3. Menetapkan batas waktu dalam suatu penulisan

4. Berbicara dan berdiskusi dengan tim atau pihak terkait untuk menulis suatu ide.

 

4.5.2  Menganalisa naskah

1) Pengetahuan Kerja

 

Mengembangkan narasi

 

Kegiatan menulis, atau mencipta karya sastra, dimulai dari adanya ide. Begitu pula dalam menulis cerita pendek (cerpen). Ide adalah gagasan dasar yang menjadi landasan tematik bagi penulisan cerpen. Tema menjadi semacam benang merah yang merangkai unsur-unsur cerita, sejak alur, plot, sampai penokohan dan karakterisasi tokoh-tokohnya, menjadi sebuah cerpen yang seutuhnya.

 

Alur adalah pergerakan cerita dari waktu ke waktu. Ada alur progresif (runtut), ada kilas balik (flash back), dan ada percampuran antar keduanya. Alur dibangun oleh narasi, deskripsi, dialog, dan aksi/laku (action). Narasi adalah pelukisan yang dinamis, penggambaran gerak (action) tokoh-tokohnya, serta pergerakan benda-benda yang menjadi penyebab atau akibat aksi para tokoh cerita. Deskripsi adalah pelukisan suasana yang statis, cenderung tetap, seperti suasana kamar yang berantakan, atau bangunan yang luluh lantak oleh bom. Dialog adalah kata-kata yang diucapkan oleh tokoh-tokoh cerita. Ada dialog lahir (terucapkan), ada dialog batin (tidak terucapkan). Sedangkan laku/aksi adalah aktivitas fisik, gerakan anggota badan, dan perbuatan tokoh-tokoh cerita.

 

Berbeda dengan alur, plot adalah rangkaian sebab-akibat yang memicu krisis dan menggerakkan cerita menuju klimaks. Di dalam alur ada plot. Tapi plot bukanlah alur. Ibarat tubuh, alur adalah fisiknya, dan plot adalah ruh atau ‘kekuatan dinamis’ yang penuh gairah membangun konflik, atau mesin yang menggerakkan cerita ke arah klimaks dan ending. Di dalam plot inilah persoalan-persoalan yang dihadapi para tokoh cerita saling digesekkan, dibenturkan satu sama lain menjadi persoalan baru yang lebih kompleks, diseret ke puncak krisis, lalu dicari pemecahan (penyelesaian)-nya menuju akhir cerita (ending). Di sinilah kecerdasan dan kearifan pengarang ‘diuji’ oleh persoalan yang diciptakannya sendiri, apakah ia mampu menemukan solusi yang cerdas dan arif sehingga karyanya mampu memberika sesuatu (something) kepada pembacanya.

 

Sedangkan penokohan adalah penciptaan tokoh-tokoh cerita yang dibutuhkan oleh tema dan plot. Contoh sederhananya: untuk tema cinta yang berakhir bahagia, misalnya, cukup dibutuhkan sepasang kekasih dan orang tua yang akhirnya merestui hubungan mereka. Tapi, untuk kisah cinta yang tragis, perlu diciptakan tokoh antagonis, yang membuat hubungan sepasang kekasih itu terbentur-bentur, mengalami krisis, dan berakhir getir. Di sinilah diperlukan apa yang disebut karakterisasi, yakni penciptaan karakter tiap tokoh cerita, agar mereka bisa menggerakkan plot. Karakter tiap tokoh digambarkan melalui narasi, deskripsi, dan dialog. Semakin tajam perbedaan karakter antar-tokoh cerita, akan makin tajam konflik yang terjadi, dan plot akan gampang bergerak ke arah krisis untuk menuju klimaks. Plot menjadi kental, penuh ketegangan (suspense), sehingga cerita tidak bergerak datar tapi dinamis.

 

2) Ketrampilan Kerja

Menyunting dan menulis ulang

Penulis yang baik harus selalu dan selalu menyunting tulisannya serta memperhatikan alur dan ritme tulisan mereka. Dan mereka juga harus mengetahui apa makna dari tiap kata yang mereka pakai.

 

Anda menyunting tulisan dengan tujuan untuk menyingkat, mempertajam, menyederhanakan dan menjelaskan, untuk meningkatkan urutan dan logika pikiran, dan untuk menguji semuanya dari sudut pandang seorang pembaca. Saat Anda mengedit, tanyakan pada diri sendiri pertanyaan berikut:

  1. Sudahkah saya memakai kata kerja dalam kalimat aktif?
  2. Sudahkah saya menempatkan subyek saya di dekat kata kerja?
  3. Sudahkah saya memilih kata-kata yang benar-benar menerjemahkan maksud saya dengan tepat?
  4. Sudahkah saya menghindari kalimat yang panjang dan sulit dipahami?
  5. Sudahkah saya menghapus kata-kata yang tak perlu, terutama kalimat bercabang?
  6. Sudahkah saya menghindari perpindahan nada kalimat yang menyentak — dari gaya percakapan ke khotbah, dari santai ke formal?

Satu trik untuk penyuntingan adalah dengan memikirkan kembali apa yang telah Anda tulis sehingga keesokan harinya Anda dapat ‘merevisinya’ dengan pikiran yang segar. Apa yang Anda banggakan hari ini mungkin akan memalukan Anda keesokan harinya. Samuel Johnson memahami trik tersebut. “Baca kembali tulisanmu,” katanya, “dan ketika mendapati satu bagian yang menurutmu bagus, kembangkan bagian itu!”

 

Penulis Kurt Vonnegut juga mengatakan hal serupa: Miliki keberanian untuk menghapus. “Kefasihan bicara Anda harus dapat menjadi pelayan pikiran di kepala Anda,” katanya. “Anda dapat memiliki patokan: Jika sebuah kalimat, tak peduli seberapa bagusnya, ternyata tak dapat menerangkan subyek Anda dengan cara yang baru dan bermanfaat, hapus saja!”

 

Saat Anda merasa bahwa Anda telah selesai melakukan proses penyuntingan, periksa kembali file tulisan itu ke mesin pengecek tata bahasa sekali lagi, meski Anda mungkin sudah pernah melakukannya. Jangan langsung mengabaikan semua anjuran yang muncul. Tetap perhatikan peringatan seperti “kalimat pasif” atau “kalimat panjang” sebagai kesempatan untuk melakukan penyuntingan secara kasar.

 

Apakah ada alternatif cara lain untuk menuliskan topik Anda? Saat menyunting tulisan, ujilah semuanya dari sudut pandang pembaca, pastikan tak ada yang terlewat, periksa keakuratannya dan cobalah untuk mempersingkat, mempertajam, mengembangkan dan menyederhanakan tulisan tersebut.

 

Tanyakan pada diri Anda pertanyaan-pertanyaan berikut:

  1. Apakah susunannya sudah teratur? Apakah pembaca dapat mengetahui mana awal, pertengahan dan akhir tulisan saya? Apakah saya telah memberikan pembaca sebuah alur yang jelas dan mudah dimengerti? Apakah semua sudah terdengar logis?
  2. Apakah sudah jelas? Apakah tulisan saya sudah tidak lagi terlalu abstrak atau lebih membumi?
  3. Bagaimana nada kalimat saya? Dalam membuat percakapan, apakah saya terlalu ‘cerewet’ atau terlalu ‘basa-basi’? terlalu resmi? kasar? terlalu lembut?
  4. Apakah usaha saya untuk menyisipkan humor berhasil? Jika memang mendukung, permainan kata atau sebuah kisah lucu mungkin akan bisa cocok dan bagus dipakai. Namun jika Anda sendiri masih ragu, lupakan sa8ja! Humor yang gagal akan menghasilkan kegagalan.

 

Selera humor akan membantu — baik untuk tulisan Anda atau opini mengenai diri Anda. Nat Schmulowitz adalah seorang yang sederhana, yang juga seorang pengacara, sejarawan, dan penulis. Dia mengatakan bahwa humor bisa lebih menarik daripada sejarah, dan untuk menjelaskan lebih lanjut pernyataannya tersebut, ia menulis:

 

“Orang sombong, orang picik atau orang yang sedang marah tidak dapat menertawakan dirinya sendiri, atau ditertawai. Namun seseorang yang dapat menertawakan dirinya sendiri, atau ditertawai, telah selangkah lebih maju ke kewarasan yang sempurna yang membawa kedamaian di bumi dan perbuatan yang baik kepada sesama.”

 

Demikianlah. Kerja keras Anda telah selesai. Namun masih ada satu langkah lagi. Perlihatkan tulisan Anda pada beberapa orang yang Anda hormati dan lihat seperti apa Anda kelihatannya. Selanjutnya tulis kembali.

Editing berita

 

PROSES KERJA JURNALISTIK

  1. Rapat Redaksi
  2. Repotase
  3. Penulisan Berita
  4. EDITING: proses memeriksa kembali naskah/tulisan untuk menyempurnakan tulisan, yang menyangkut ejaan, gaya bahasa, kelengkapan data, efektivitas kalimat, dan sebagainya. Pelaku disebut editor atau redaktur
  5. Setting dan Lay Out: proses pemilihan Setting merupakan proses pengetikan naskah yang menyangkut pemilihan jenis dan ukuran huruf. Sedangkan layout merupakan penanganan tata letak dan penampilan fisik penerbitan secara umum. Setting dan layout merupakan tahap akhir dari proses kerja jurnalistik. Setelah proses ini selesai, naskah dibawa ke percetakan untuk dicetak sesuai oplah yang ditentukan.

 

PROSES EDITING (MENYUNTING NASKAH)

  1. PENYUNTINGAN SECARA REDAKSIONALà Editor memeriksa tiap kata dan kalimat agar logis, mudah dipahami, dan tidak rancu (benar ejaan, punya arti, dan enak dibaca).
  2. PENYUNTINGAN SECARA SUBSTANSIAL à Editor memperhatikan dat dan fakta agar tetap akurat dan benar. Isi tulisan mudah dimengerti. Sistematika harus tetap terjaga.

 

MENYUNTING BUKAN SEKADAR MEMOTONG TULISAN AGAR PAS DENGAN SPACE, TAPI JUGA MEMBUAT TULISAN YANG ENAK DIBACA DAN MENARIK, AND TIDAK MEMPUNYAI KESALAHAN FAKTUAL

 

KEGIATAN EDITING

  1. Memperbaiki kesalahan-kesalahan faktual.
  2. Menghindari kontradiksi dan mengedit berita untuk diperbaiki.
  3. Memperbaiki keaslahan ejaan (tanda baca, tatabahasa, angka, nama, dan alamat).
  4. Menyesuaikan gaya bahasa dengan gaya surat kabar bersangkutan.
  5. Mengetatkan tulisan (meringkas beberapa kalimat menjadi satu atau dua kalimat yang memiliki kejelasan makna serupa).
  6. Menghindari dari unsure-unsur penghinaan, arti ganda, dan tulisan yang memeuakkan (bad taste).
  7. Melengkapi tulisan dengan bahan-bahan tipografi (missal, anak judul/subjudul).
  8. Menulis judul yang menarik.
  9. Menulis keterangan gambar/caption untuk gambar/foto dan pekerjaan lain yang bersangkutan dengan cerita yang disunting.
  10. Menelaah kembali hasil tulisan yang telah dicetak, mungkin masih terdapat kesalahan secara redaksional dan substansial.

FOKUS EDITOR

  1. Sadar akan latar belakang  para pembaca (umur, taraf hidup, dan gaya hidup) sehingga naskah diharapkan sesuai dengan latar belakang itu.
  1. Tegas
  2. Memperbaiki tulisan tanpa merusak cara penulis memaparkan pendapatnya.
  3. Haiti-hati dengan iklan terselubung yang masuk dalam tulisan.

 

JIWA REDAKTUR

  1. Memiliki wawasan luas à ilmu jurnalistik.
  2. Berkepala dingin, sanggup bekerja dalam suasana tergesa-gesa dan rumit, tanpa menderita perasaan tertekan.
  3. Cermat, hati-hati, tekun, dan tegas.
  4. elihat sesuatu dari sudut pandang pembaca (berorientasi pada kepentingan pembaca)

 

 

PRINSIP DASAR BAHASA JURNALISTIK/PERS

 

q  Fungsi à bahasa komunikasi massa à harus jelas dan mudah dibaca dengan tingkat ukuran intelektual minimal. Menurut JS Badudu (1988) bahasa jurnalistik memiliki sifat-sifat khas di antaranya:

  1. Singkat, artinya bahasa jurnalistik harus menghindari penjelasan yang panjang dan bertele-tele.
  2. Padat, artinya bahasa jurnalistik yang singkat itu sudah mampu menyampaikan informasi yang lengkap. Menerapkan prinsip 5 wh, membuang kata-kata mubazir dan menerapkan ekonomi kata.
  3. Sederhana, memilih kalimat tunggal dan sederhana, bukan kalimat majemuk yang panjang, rumit, dan kompleks. Kalimat yang efektif, praktis, sederhana pemakaian kalimatnya, tidak berlebihan pengungkapannya (bombastis)
  4. Lugas, artinya bahasa jurnalistik mampu menyampaikan pengertian atau makna informasi secara langsung dengan menghindari bahasa yang berbunga-bunga .
  5. Menarik, artinya dengan menggunakan pilihan kata yang masih hidup, tumbuh, dan berkembang. Menghindari kata-kata yang sudah mati.

 

Terdapat empat prinsip retorika tekstual   yang dikemukakan Leech, yaitu prinsip prosesibilitas, prinsip kejelasan, prinsip ekonomi, dan prinsip ekspresifitas.

  1. Prinsip prosesibilitas, menganjurkan agar teks disajikan sedemikian rupa sehingga mudah bagi pembaca untuk memahami pesan pada waktunya. Dalam proses memahami pesan penulis harus menentukan (a) bagaimana membagi pesan-pesan menjadi satuan; (b) bagaimana tingkat subordinasi dan seberapa pentingnya masing-masing satuan, dan (c) bagaimana mengurutkan satuan-satuan pesan itu. Ketiga macam itu harus saling berkaitan satu sama lain.

Penyusunan bahasa jurnalistik dalam surat kabar berbahasa Indonesia, yang menjadi fakta-fakta harus cepat dipahami oleh pembaca dalam kondisi apa pun agar tidak melanggar prinsip prosesibilitas ini. Bahasa jurnalistik Indonesia disusun dengan struktur sintaksis yang penting mendahului struktur sintaksis yang tidak penting

 

Perhatikan contoh berikut:

Pangdam VIII/Trikora Mayjen TNI Amir Sembiring mengeluarkan perintah tembak di tempat, bila masyarakat yang membawa senjata tajam, melawan serta tidak menuruti permintaan untuk menyerahkannya. Jadi petugas akan meminta dengan baik. Namun jika bersikeras dan melawan, terpaksa akan ditembak di tempat sesuai dengan prosedur (Kompas, 24/1/99)

 

Contoh (1) terdiri dari dua kalimat, yaitu kalimat pertama menyatakan pesan penting dan kalimat kedua menerangkan pesan kalimat pertama.

 

  1. Prinsip kejelasan, yaitu agar teks itu mudah dipahami. Prinsip ini menganjurkan agar bahasa teks menghindari ketaksaan (ambiguity). Teks yang tidak mengandung ketaksaan akan dengan mudah dan cepat dipahami.

 

Perhatikan Contoh:

(1)   Ketika mengendarai mobil dari rumah menuju kantornya di kawasan Sudirman, seorang pegawai bank, Deysi Dasuki, sempat tertegun mendengar berita radio. Radio swasta itu mengumumkan bahwa kawasan Semanggi sudah penuh dengan mahasiswa dan suasananya sangat mencekam (Republika, 24/11/98)

 

(2)   Wahyudi menjelaskan, negara rugi karena pembajak buku tidak membayar pajak penjualan (PPN) dan pajak penghasilan (PPH). Juga pengarang, karena mereka tidak menerima royalti atas karya ciptaannya. (Media Indonesia, 20/4/1997).

 

 

Contoh (3) dan (4) tidak mengandung ketaksaan. Setiap pembaca akan menangkap pesan yang sama atas teks di atas. Hal ini disebabkan teks tersebut dikonstruksi oleh kata-kata yang mengandung kata harfiah, bukan kata-kata metaforis.

 

  1. Prinsip ekonomi. Prinsip agar teks itu singkat tanpa harus merusak dan mereduksi pesan.

Ketua DPP PPP Drs. Zarkasih Noer menyatakan, segala bentuk dan usaha untuk menghindari disintegrasi bangsa dari mana pun atau siapa pun perlu disambut baik (Suara Pembaruan, 21/12/98

 

  1. Prinsip ekspresivitas. Prinsip ini dapat pula disebut prinsip ikonisitas. Prinsip ini menganjurkan agar teks dikonstruksi selaras dengan aspek-aspek pesan. Dalam wacana jurnalistik, pesan bersifat kausalitas dipaparkan menurut struktur pesannya, yaitu sebab dikemukakan terlebih dahulu baru dikemukakan akibatnya. Demikian pula bila ada peristiwa yang terjadi berturut-turut, maka peristiwa yang terjadi lebih dulu akan dipaparkan lebih dulu dan peristiwa yang terjadi kemudian dipaparkan kemudian.

 

q  Dalam situasi bangsa yang sedang kritis dan berada di persimpangan jalan, karena adanya benturan ide maupun paham politik, diperlukan adanya dialog nasional. “Dialog diperlukan untuk mengubur masa lalu, dan untuk start ke masa depan”. Tutur Prof. Dr. Nurcholis Madjid kepada Kompas di kediamannya di Jakarta Rabu (23/12) (Kompas, 24/12/98).

 

Pada contoh tampak bahwa kalimat pertama menyatakan sebab dan kalimat kedua mendatangkan akibat.

 

Pemakaian Kata, Kalimat dan Alinea

Bahasa jurnalistik juga mengikuti kaidah bahasa Indonesia baku. Namun pemakaian bahasa jurnalistik lebih menekankan pada daya kekomunikatifannya. Para pembelajar BIPA tingkat lanjut dapat mempotensikan penggunaan bahasa Indonesia ragam jurnalistik dengan beberapa usaha.

  1. Pemakaian kata-kata yang bernas. Kata merupakan modal dasar dalam menulis. Semakin banyak kosakata yang dikuasai seseorang, semakin banyak pula gagasan yang dikuasainya dan sanggup diungkapkannya.

Dalam penggunaan kata, penulis yang menggunakan ragam BI Jurnalistik diperhadapkan pada dua persoalan yaitu ketepatan dan kesesuaian pilihan kata. Ketepatan mempersoalkan apakah pilihan kata yang dipakai sudah setepat-tepatnya, sehingga tidak menimbulkan interpretasi yang berlainan antara penulis dan pembaca. Sedangkan kesesuaian mempersoalkan pemakaian kata yang tidak merusak wacana.

  1. Penggunaan kalimat efektif. Kalimat dikatakan efektif bila mampu membuat proses penyampaian dan penerimaan itu berlangsung sempurna. Kalimat efektif mampu membuat isi atau maksud yang disampaikan itu tergambar lengkap dalam pikiran si pembaca, persis apa yang ditulis. Keefektifan kalimat ditunjang antara lain oleh keteraturan struktur atau pola kalimat. Selain polanya harus benar, kalimat itu harus pula mempunyai tenaga yang menarik.
  2. Penggunaan alinea/paragraf yang kompak. Alinea merupakan suatu kesatuan pikiran, suatu kesatuan yang lebih tinggi atau lebih luas dari kalimat. Setidaknya dalam satu alinea terdapat satu gagasan pokok dan beberapa gagasan penjelas.  Pembuatan alinea bertujuan memudahkan pengertian dan pemahaman dengan memisahkan suatu tema dari tema yang lain.

 

Rancang proses pengembangan buku masa depan

Proses pengolahan naskah hingga menjadi buku bukanlah proses sederhana, melainkan melibatkan banyak pihak yang berkepentingan. Setiap penerbit memiliki alur standar dengan tujuan menciptakan sistem yang paling efektif dan efisien dalam proses penerbitan buku. Pada masa depan, persaingan penerbit diperkirakan semakin tinggi, teknologi penerbitan semakin memudahkan setiap penerbit, dan pada ujungnya keunggulan pengembanganlah yang membuat sebuah buku bisa unggul bertarung head to head di pasar bebas.

Penerbit buku di Indonesia pun kini terbagi menjadi tiga bagian: penerbit kecil, penerbit menengah, dan penerbit besar. Setiap jenis penerbit tersebut memiliki kompleksitas yang berbeda. Sebuah penerbit kecil semacam self-publisher bisa saja dikerjakan oleh hanya satu atau dua orang yang merangkap-rangkap pekerjaan. Penerbit besar bisa mempekerjakan tim editorial hingga ratusan orang, bahkan ditambah lagi dengan pengerjaan hingga tiga shift! Artinya, waktu 24 jam benar-benar dimanfaatkan untuk memproduksi sebanyak-banyaknya buku guna mengejar sesingkat-singkatnya deadline.

Penerbit konvensional mungkin hanya berpikir bahwa alur penerbitan adalah sebuah rutinitas biasa tanpa memperhitungkan berapa waktu yang terbuang dan berapa energi yang sia-sia hanya untuk mengerjakan buku yang jelas-jelas kurang laku atau telat momentum. Penerbit konvensional bahkan cenderung mencoba larut dalam tren tanpa mempertimbangkan kompetensi yang dimilikinya. Keputusan seperti ini jelas akan berpengaruh pada cashflow perusahaan.

Dalam penerbitan, konsentrasi cash-flow tidak mungkin lepas hubungan dengan proses pengadaan (acquisition), yang dapat (tetapi tidak selalu) mengharuskan pengeluaran uang untuk uang muka penulis dan pembelian naskah. Faktanya, uang muka penulis mungkin diperlukan sepanjang tahun sebelum naskah benar-benar selesai diajukan. Hal ini disebabkan penerbit tidak ingin mengecewakan para penulis ataupun agen naskah. Akan tetapi, terkadang pengerjaan naskah justru menjadi berlarut-larut, sementara itu para editor, layouter, ilustrator, dan desainer grafis tetap harus digaji.

Proses Pengembangan Buku

Pengadaan naskah sebagai mata utama sebuah rantai proses penerbitan naskah dapat digambarkan dalam diagram alur berikut ini.

Misi

 

Pencarian Naskah

 

Perencanaan Editorial Satu Tahun

 

Rapat Editorial (Redaksi)

 

Daftar Judul yang Direkomendasikan

 

Kontrak

Perencanaan editorial dapat digambarkan seperti berikut ini. Dalam kolom bulan diisi jumlah judul yang akan diterbitkan.

Perencanaan Editorial 2007

Kategori

Jan

Feb

Mar

Apr

Mei

Jun

Jul

Agt

Sep

Okt

Nov

Des

Fiksi                        
Nonfiksi                        
Faksi                        
Lain-lain                        

Perencanan editorial didasarkan pada mission statement yang digariskan oleh penerbit. Selanjutnya, tim editorial akan menyusun estimasi jumlah judul per bulannya dan pada bulan-bulan khusus akan terjadi peningkatan signifikan berkaitan dengan momentum tertentu, seperti tahun ajaran baru, bulan Ramadhan, Natal, ataupun tahun baru. Perencanaan tahunan ini membuat segala sesuatunya terkontrol dengan baik. Selain itu, para editor akuisisi dan editor pengembang juga sudah mulai menggerakkan intuisinya untuk menemukan naskah dan memformat naskah pada tahun sebelumnya.

Pertanyaannya sekarang, kapan sebuah program tahunan dimulai? Jika kita menggunakan estimasi normal bahwa sebuah buku bisa digarap dalam rentang waktu 45 hari, buku untuk bulan Januari tahun berikutnya harus digarap pada bulan November. Untuk itu, sebuah penerbit sudah harus merancang program tahunan untuk tahun berikutnya pada bulan September atau Oktober tahun berjalan.

Dengan demikian, pengembangan buku tahun depan semestinya sudah dimulai pada September tahun berjalan. Langkah strategis adalah menentukan misi penerbitan yang akan dijalankan pada tahun berikutnya. Di sinilah dibutuhkan visi dan misi yang terdefinisi jelas untuk dijabarkan dalam bentuk strategi dan action plan.

STRATEGI

 

VISI

 

RENCANA

 

10-20 Tahun

 

3-5 Tahun

 

1 Tahun

Beberapa penerbit Indonesia telah beranak pinak dengan memperbanyak imprint penerbitan. Ada imprint yang masih dikelola secara terpusat dan ada pula yang dikelola secara desentralisasi. Kebijakan pengembangan imprint tentu didasarkan kepada misi memperbesar cakupan ataupun kategori terbitan sesuai dengan kemampuan penerbit dan kecepatan penetrasi pasar yang dilakukan.

Apa yang perlu diperhatikan dalam pengadaan atau perburuan naskah selanjutnya?

·         Pemetaan Pesaing atau Pembanding

Judul

Penulis

Penerbit

HC/PB

Ukuran

Tebal

Warna

Harga

Harga/

Hlm.

Tahun

Komentar

                     
                     
                     
Harga rata-rata                    

·         Sumber-sumber naskah

Naskah Kiriman Kerap disebut unsolicited manuscript yaitu naskah yang dikirim para penulis langsung ke penerbit. Dalam hal ini jika penerbit tidak terspesialisasi dengan jelas, penerbit akan menerima begitu banyak naskah dari berbagai kategori. Naskah kiriman sangat menyita waktu penerbit untuk membaca dan menimbang pener­bit­annya. Naskah seperti ini umumnya dikirimkan oleh penulis pemula
Naskah Internal (Work-Made-for-Hire) Pengadaan naskah yang dianggap paling baik untuk saat ini adalah dengan menetapkan ide penulisan, buat rancangan outlinenya, dan temukan siapa yang bisa menuliskannya. Dengan demikian, proyek penulisan benar-benar dapat dikontrol. Cara kedua yang biasa disebut Work-Made-For-Hire adalah dengan menye­rahkan gagasan penulisan kepada staf editorial sendiri. Staf tersebut menerima bayaran untuk membuat naskah, sedangkan hak cipta berada pada penerbit. Penerbit menjadi memiliki aset naskah yang berharga, apalagi jika buku kemudian bisa bertahan lama.
Pertemuan dan Seminar Cara lain pengadaan naskah adalah menghadiri pertemuan atau seminar yang selaras dengan topik program penerbitan Anda. Anda bisa menemukan orang yang cocok untuk mengembangkan ide penulis­an, di samping Anda juga bisa mendiskusikan hal-hal baru untuk program penerbitan Anda. Cara ini termasuk sangat baik guna melahirkan konsep baru pada bidang penerbitan Anda.
Agen Naskah Pengadaan naskah lewat agen naskah tidak terlalu populer di Indonesia meskipun beberapa orang menga­ku melakoninya. Memanfaatkan agen naskah termasuk cara mudah dan murah guna mendapatkan naskah sesuai dengan kebutuhan. Agen naskah biasanya bisa merekomendasikan beberapa naskah yang cocok dengan bidang garapan penerbit sehingga penerbit tidak perlu membuang waktu untuk review naskah.

Khusus untuk naskah terjemahan, agen-agen naskah yang lebih banyak berperan dan menawarkan naskah mulai dari kisaran $200 hingga $1.000 lebih sebagai advanced fee dan rata-rata royalty 8% brutto.

Penerbit Internasional Pengadaan naskah yang termasuk lebih mudah adalah menerjemahkan naskah dengan membeli right dari penerbit-penerbit asing. Cara ini bisa ditempuh melalui hubungan korespondesi ataupun pertemuan setahun sekali di Frankfurt Book Fair.

 

Visi Editorial Masa Depan

Coba kita lihat faktor-faktor yang membutuhkan waktu dan biaya dari sebuah proses penerbitan.

Pengadaan Naskah (Flat Fee atau Royalty Advance)

Pengembangan Naskah

Penyuntingan Naskah

Perwajahan Isi

Perwajahan Cover

Promosi

Pencetakan

Editor masa depan harus memiliki sense of budgeting sehingga yang penting dikuatkan dalam tim editorial adalah speed, speed, speed, dan skill. Kecepatan menjadi begitu penting mengingat kebutuhan pembaca terkadang tidak dapat dipre­diksi jauh-jauh hari. Siapa menyangka bahwa suatu saat masyarakat kita keranjingan beternak jangkrik? Siapa yang tahu bahwa kemudian flu burung menjadi wabah yang begitu menyakitkan? Siapa yang mengira bahwa seorang Tukul Arwana menjadi selebritis papan atas? Siapa yang sadar bahwa kemudian blog menjadi sebuah demam para netter? Semua membutuhkan kecepatan dan kesadaran tingkat tinggi sebelum tertinggal oleh yang lain.

Begitu mahal biaya yang harus dikeluarkan untuk memproduksi sebuah buku. Dan biaya-biaya tersebut harus terbayar dengan buku yang sukses di pasar. Untuk itu, visi editor masa depan dapat disimpulkan dengan tiga kekuatan berikut.

Pengadaan Naskah

 

Pengembangan Naskah

 

Penyuntingan Naskah

Dengan visi ini kita pun mafhum bahwa proses editorial tidak hanya menyang­kut penyuntingan naskah yang secara teknis merupakan aktivitas memeriksa naskah dari segi kebahasaan, keterbacaan, ketelitian data dan fakta, serta kebenaran isi. Para editor lebih jauh memiliki tanggung jawab besar melanggengkan proses produksi penerbitan dan memberikan kontribusi bagi peningkatan profit perusahaan.

Departemen Editorial vs Departemen Produksi

Dua pilar produksi penerbitan adalah Departemen Editorial dan Departemen Produksi. Dalam sebuah penerbit, mungkin saja kedua fungsi ini disatukan menjadi hanya Departemen Penerbitan. Namun, pada dasarnya dalam soal pengembangan penerbitan, kedua departemen ini idealnya terpisah sehingga setiap departemen dapat lebih fokus pada pekerjaannya. Coba kita lihat penjabaran kerja setiap departemen.

Departemen Editorial

·         Chief Editor

·         Managing Editor

·         Senior Editor

·         Acquisition Editor

·         Development Editor

·         Editorial Assistant

Berkepentingan terhadap pencarian dan peng­adaan naskah yang layak untuk penerbit dan juga secara terus-menerus melakukan pengembangan buku-buku penerbit. Pe­ngem­bangan mencakup judul per judul ataupun secara umum. Fokus departemen ini terhadap keberadaan naskah dan pengem­bangannya sudah merupakan tugas ter­sendiri yang lumayan kompleks.
Departemen Produksi

  • Manajer Produksi (Art Director)
  • Desainer
  • Layouter
  • Copy Editor/Proof Reader
Berkepentingan terhadap proses pengolahan naskah yang efektif dan efisien. Departemen ini bekerja simultan setelah beberapa judul direkomendasikan terbit, terutama penyiapan awal untuk cover-cover buku. Penyuntingan mekanik dilakukan di bagian ini sehingga seorang copy editor bekerja secara tim dengan seorang layouter. Departemen ini memiliki goal untuk menghasilkan buku yang error free pada setiap judul.

Dua departemen ini semestinya membangun kerja sama yang sinergis dengan satu tujuan menghasilkan buku-buku yang berkualitas baik. Tidak ada alasan untuk saling berbenturan kepentingan karena departemen yang satu lebih merasa berjasa daripada departemen yang lain. Para manajer dari dua departemen ini harus bisa menyatukan aktivitas saling mendukung pada dua departemen ini. Untuk itu, perlu dirancang sistem atau proses pengolahan naskah hingga menjadi buku (dummy) siap cetak.

Bekerja dengan Para Profesional

Proses pengembangan buku jika bisa dijalankan lebih fokus, efektif, dan efisien apabila penerbit bekerja dengan para profesional di luar lingkungan penerbit. Artinya, beberapa pekerjaan teknis dapat di-outsourcing sehingga penerbit leluasa menggunakan waktu buat mencari naskah dan mengembangkannya.

Kini banyak profesional di bidang penerbitan yang siap membantu penerbit Anda karena mereka bekerja secara freelance, seperti editor, desainer, layouter, dan ilustrator. Namun, berhati-hati dengan para  pemula yang mengaku profesional ataupun mereka yang sebenarnya belum paham benar, mengaku sebagai orang yang paham tentang dunia penerbitan. Anda bisa dibuat repot oleh mereka.

Jika penerbit memiliki orientasi outsourcing, organisasi penerbitan dipastikan dapat lebih ramping. Penerbit dapat memikirkan untuk memiliki bank naskah dan juga divisi riset dan pengembangan buku.

3) Sikap Kerja

Beberapa sikap yang perlu diterapkan dalam lingkungan kerja yaitu :

1.  Berdiskusi tentang cerita dan analisa tentang elemen dalam naskah

2. Memberi masukan yang jelas dan membangun untuk penulis naskah

3. Perubahan naskah harus di pantau supaya tidak melanggar syarat editorial

 

 

4.5.3  Mendapatkan persetujuan dari orang-orang yang relevan

1)  Pengetahuan Kerja

Mengenali Ciri-ciri Penyunting yang baik :
- Memahami seluk-beluk bahasa (ejaan, tata kalimat, gaya bahasa, kalimat efektif,  pilihan kata, dan seterusnya).

- Mengerti sastra.
- Mengerti siapa pembaca naskah yag disunting .
- Tekun dan teliti dalam membaca .
- Gemar membaca dan menulis .

2) Ketrampilan Kerja

Langkah-langkah menyunting naskah yang dilakukan oleh penyunting:

- Membaca Keseluruhan
- Mengecek ejaan (tanda baca, huruf kapital, dan lain-lain)
- Mengamati tata bahasa (bentuk kata,kalimat efektif, kalimat rancu)
- Mengecek fakta (tanggal lahir, data penting lain)
- Mengamati legalitas (karangan asli, plagiat, hak cipta)
- Konsistensi dalam penulisan kata atau istilah
- Mengenal gaya penulis
- Memahami konvensi naskah (penulisan gelar akademis, bahasa daerah, singkatan, kepanjangan)

 

3) Sikap Kerja

Beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu :

1. Melakukan presentasi naskah kepada penyunting atau pihak lainnya yang terkait

2. Berdiskusi untuk mencapai kesepakatan bersama

3. Jika ada perubahan maka hendaknya dikonfirmasi kepada pihak terkait.

 


BAB V

SUMBER-SUMBER YANG DIPERLUKAN

UNTUK PENCAPAIAN KOMPETENSI

 

5.1     Sumber Daya Manusia

Dalam proses pencapaian kompetensi sumber yang dapat diandalkan adalah sumber daya manusia. Sumber daya manusia yang dimaksud disiini adalah orang-orang yang dapat mendukung proses pencapaian kompetensi yang dimaksud, antara lain:

 

  • Pembimbing

Pembimbing Anda merupakan orang yang dapat diandalkan karena beliau memiliki pengalaman. Peran Pembimbing adalah untuk:

  1. Membantu Anda untuk merencanakan proses belajar.
  2. Membimbing Anda melalui tugas-tugas pelatihan yang dijelaskan dalam tahap belajar.
  3. Membantu Anda untuk memahami konsep dan praktik baru dan untuk menjawab pertanyaan Anda mengenai proses belajar Anda.
  4. Membantu Anda untuk menentukan dan mengakses sumber tambahan lain yang Anda perlukan untuk belajar Anda.
  5. Mengorganisir kegiatan belajar kelompok jika diperlukan.
  6. Merencanakan seorang ahli dari tempat kerja untuk membantu jika diperlukan.

 

  • Penilai

Penilai Anda melaksanakan program pelatihan terstruktur untuk penilaian di tempat kerja. Penilai akan:

  1. Melaksanakan penilaian apabila Anda telah siap dan merencanakan proses belajar dan penilaian selanjutnya dengan Anda.
  2. Menjelaskan kepada Anda mengenai bagian yang perlu untuk diperbaiki dan merundingkan rencana pelatihan selanjutnya dengan Anda.
  3. Mencatat pencapaian / perolehan Anda.

 

  • Teman kerja/sesama peserta pelatihan

Teman kerja Anda/sesama peserta pelatihan juga merupakan sumber dukungan dan bantuan. Anda juga dapat mendiskusikan proses belajar dengan mereka. Pendekatan ini akan menjadi suatu yang berharga dalam membangun semangat tim dalam lingkungan belajar/kerja Anda dan dapat meningkatkan pengalaman belajar Anda.

 

 

5.2     Literatur

Disamping dengan belajar dengan orang-orang seperti yang disebutkan diatas, Anda tentu perlu juga terus menambah wawasan dan pengetahuan Anda dari sumber-sumber bacaan seperti buku-buku yang berkaitan dengan kompetensi yang Anda pilih, jurnal-jurnal, majalah, dan sebagainya.

 

Literatur dalam hal ini tentu bukan saja material berupa bacaan atau buku melainkan termasuk pula material-material lainnya yang menjadi pendukung proses pembelajaran ketika peserta pelatihan sedang menggunakan Pedoman Belajar ini. Misalnya rekaman dalam bentuk kaset, videp, dan sebagainya.

 

Buku referensi, lembar kerja, tugas-tugas kerja juga dapat digunakan dalam proses pencapaian kompetensi. Peserta boleh mencari dan menggunakan sumber-sumber alternatif lain yang lebih baik atau sebagai pendukung tambahan atau jika ternyata sumber-sumber yang direkomendasikan dalam pedoman belajar ini tidak tersedia/tidak ada.

 

Untuk referensi mengenai materi-materi yang dapat digunakan, Anda dapat melihat dari Daftar Pustaka yang terlampir dihalaman terakhir modul ini.

 

5.3     Daftar Peralatan dan Bahan yang digunakan

 

  1. Judul/Nama Pelatihan        :    Menyunting naskah
  2. Kode Program Pelatihan    :    TIK.MM02.023.01

 

NO

UNIT

KOMPETENSI

KODE UNIT

DAFTAR PERALATAN

DAFTAR BAHAN

KETERANGAN

1.

Menyunting naskah TIK.MM02.023.01  - Komputer(CPU, monitor, keyboard, mouse)

- Peralatan tulis

  – Buku informasi

-     Referensi dari daftar pustaka

 

-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

  • Keraf, Gorys. (1989). Komposisi. Flores: Nusa Indah.
  • McCrimmon, James M. (1967). Writing With a Purpose. Boston: Houghton Mifflin Company.
  • Nunan, David. (1991). Language Teaching Methodology. New York: Prentice Hall.
  • Rifai, Mien A. (1997). Pegangan Gaya Penulisan, Penyuntingan, dan Penerbitan. Yogyakarta: GadjahMadaUniversity Press.
  • Supriadi, Dedi. (1997). Isu dan Agenda Pendidikan Tinggi di Indonesia. Jakarta: PT Rosda Jayaputra
  • Tompkins, Gail E. (1990). Teaching Writing Balancing Process and Product. New York: Macmillan Publishing Company.
  • Zuchdi, Darmiyati. (1997). “Pembelajaran Menulis dengan Pendekatan Proses”, Karya Ilmiah disajikan dan dibahas pada Senat Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni IKIP Yogyakarta tanggal 15 November 1996 (tidak dipublikasikan). Yogyakarta: IKIP.

 

 

 

 

Testimoni

artikel lainnya Menyunting Naskah TIK.MM02.023.01



bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
Saturday 14 April 2012 | blog

Arti kata Evaluasi (bahasa Inggris:Evaluation) adalah proses penilaian seseorang. Perusahaan evaluasi dapat diartikan sebagai proses pengukuran…

Tuesday 4 December 2012 | blog

Kampanye Politik Jokowi Mengenai Penatnya Jakarta. Kampanye yang di buat dalam bentuk Video Campaign, sangat menyentuh…

Thursday 15 January 2015 | blog

    MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR TELEMATIKA SUB SEKTOR OPERATOR KOMPUTER       MENGOPERASIKAN…

Sunday 5 July 2015 | blog

  MODUL PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SUB BIDANG METODOLOGI PELATIHAN KERJA         MEMIMPIN KEGIATAN…