Menu
Pasang iklan SEO disini Murah, 25000 setahun dan dapatkan Trafik setiap harinya

Menjaga Etika TIK.PR01.016.01

Apr
22
2015
by : Bupeko. Posted in : blog

 

MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI

SEKTOR TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI

 

 

 

 

MENJAGA ETIKA

TIK.PR01.016.01

 

 

 

 

BUKU INFORMASI

 

 

 

 

DEPARTEMEN TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI R.I.

DIREKTORAT JENDERAL PEMBINAAN PELATIHAN DAN PRODUKTIVITAS

Jl. Jend. Gatot Subroto Kav.51 Lt.7.B Jakarta Selatan

 

DAFTAR ISI

 

DAFTAR ISI. 2

 

BAB I PENGANTAR. 5

1.1 Konsep Dasar Pelatihan Berbasis Kompetensi 5

1.2 Penjelasan Modul 5

1.2.1 Desain Modul 5

1.2.2 Isi Modul 6

1.2.3 Pelaksanaan Modul 6

1.3 Pengakuan Kompetensi Terkini 7

1.4 Pengertian Istilah-istilah. 7

 

BAB II STANDAR KOMPETENSI 9

2.1 Peta Paket Pelatihan. 9

2.2 Pengertian Unit Standar 9

2.3 Unit Kompetensi Yang Dipelajari 10

2.3.1 Kode dan Judul Unit 10

2.3.2 Deskripsi Unit 10

2.3.3 Elemen Kompetensi 10

2.3.4 Batasan Variabel 12

2.3.5 Panduan Penilaian. 12

2.3.6 Kompetensi Kunci 13

 

BAB III STRATEGI DAN METODE PELATIHAN. 14

3.1 Strategi Pelatihan. 14

3.2 Metode Pelatihan. 15

 

BAB IV MATERI UNIT KOMPETENSI. 16

4.1 Tujuan Instruksional Umum.. 16

4.2 Tujuan Instruksional Khusus 16

4.3 Melindungi Kepentingan Klien. 17

4.3.1 Kelangsungan Pelayanan Perhitungan dan Aliran Informasi Dijamin Sesuai yang diharapkan oleh Tuntutan Kerja. 17

4.3.2 Integritas dan Keamanan Informasi Dijamin Pada Saat Dibutuhkan Oleh Legislasi Pribadi dan Kebijakan Perusahaan. 18

4.3.3 Konflik  dari Satu Kepentingan Diidentifikasi dan Diartikulasikan Secepat Mungkin Pada Pihak yang Relevan. 18

4.3.4 Kepentingan Klien Termasuk Kerahasiaan dan Hal Milik Dijaga. 21

4.4 Menghasilkan Produk dan Layanan yang Berkualitas 21

4.4.1 Produk dan Layanan Disediakan Sesuai Kebutuhan Operasional dan Keuntungan Klien dan Atasan Disediakan. 22

4.4.2 Dijamin Pelayanan Nilai Uang dan Produk yang Dirahasiakan Untuk Klien dan Atasan  22

4.4.3 Pekerjaan Dilakukan Sesuai Standar Internasional 23

4.4.4 Proses yang Berkualitas Ketika Mengembangkan Produk dan  Pelayanan Dipelihara dan Dijaga  23

4.4.5 Produk yang Dihasilkan untuk Klien dan Atasan yang Terbaik Memenuhi Kebutuhan Mereka  23

4.5 Mendelegasikan Responsibilitas dan Otoritas 24

4.5.1 Keterampilan, Pengetahuan, dan Kualifikasi Ditampilkan Secara Benar 25

4.5.2 Pelayanan dan Produk Dikembangkan oleh Individu dan Lainnya Diakomodir 25

4.5.3 Informasi Disediakan Untuk Atasan dan Klien Secara Tidak Memihak dan Berkualitas Sesuai Standar 25

4.5.4 Area Kerja yang Realistis, Tahapan Pekerjaan, Anggaran Biaya, dan Kemampuan untuk Menyelesaikan Tahapan Proyek Diperkirakan. 26

4.6 Memelihara Pekerjaan Secara Praktis 27

4.6.1 Kesehatan Individu dan Lingkungan di Tempat Kerja Sesuai Prosedur 28

4.6.2 Kolega dan Karyawan Diperlakukan Secara Wajar dan Profesional 31

4.6.3 Pelayanan atau Produk bagi Kolega, Klien dan Karyawan Dilakukan Sesuai Prosedur 32

4.6.4 Keterampilan profesional dan pengetahuan Diperbaharui Secara Terus Menerus 32

 

BAB V SUMBER-SUMBER YANG DIPERLUKAN UNTUK PENCAPAIAN KOMPETENSI  33

5.1 Sumber Daya Manusia. 33

5.2 Literatur 34

5.3 Daftar Peralatan dan Bahan. 34

 

DAFTAR PUSTAKA. 35

 

BAB I

PENGANTAR

 

1.1 Konsep Dasar Pelatihan Berbasis Kompetensi

  • Apakah pelatihan berdasarkan kompetensi?

Pelatihan berdasarkan kompetensi adalah pelatihan yang memperhatikan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang diperlukan di tempat kerja agar dapat melakukan pekerjaan dengan kompeten. Standar Kompetensi dijelaskan oleh Kriteria Unjuk Kerja (KUK).

 

  • Apakah artinya menjadi kompeten ditempat kerja?

Jika Anda kompeten dalam pekerjaan tertentu, Anda memiliki seluruh keterampilan, pengetahuan dan sikap yang perlu untuk ditampilkan secara efektif ditempat kerja, sesuai dengan standar yang telah disetujui.

 

1.2 Penjelasan Modul

Modul ini dikonsep agar dapat digunakan pada proses Pelatihan Konvensional/Klasikal dan Pelatihan Individual/Mandiri. Yang dimaksud dengan Pelatihan Konvensional/Klasikal, yaitu pelatihan yang dilakukan dengan melibatkan bantuan seorang pembimbing atau guru seperti proses belajar mengajar sebagaimana biasanya dimana materi hampir sepenuhnya dijelaskan dan disampaikan pelatih/pembimbing yang bersangkutan.

 

Sedangkan yang dimaksud dengan Pelatihan Mandiri/Individual adalah pelatihan yang dilakukan secara mandiri oleh peserta sendiri berdasarkan materi dan sumber-sumber informasi dan pengetahuan yang bersangkutan. Pelatihan mandiri cenderung lebih menekankan pada kemauan belajar peserta itu sendiri. Singkatnya pelatihan ini dilaksanakan pseserta dengan menambahkan unsur-unsur atau sumber-sumber yang diperlukan baik dengan usahanya sendiri maupun melalui bantuan dari pelatih.

 

1.2.1 Desain Modul

Modul ini dirancang untuk dapat digunakan pada Pelatihan Klasikal dan Pelatihan Individual/mandiri :

  • Pelatihan klasikal adalah pelatihan yang disampaikan oleh seorang pelatih.
  • Pelatihan individual/mandiri adalah pelatihan yang dilaksanakan oleh peserta dengan menambahkan unsur-unsur/sumber-sumber yang diperlukan dengan bantuan dari pelatih.

 

 

1.2.2 Isi Modul

Modul ini terdiri dari 3 bagian, antara lain sebagai berikut:

Buku Informasi

Buku informasi ini adalah sumber pelatihan untuk pelatih maupun peserta pelatihan.

 

Buku Kerja

Buku kerja ini harus digunakan oleh peserta pelatihan untuk mencatat setiap pertanyaan dan kegiatan praktik baik dalam Pelatihan Klasikal maupun Pelatihan Individual / mandiri.

 

Buku ini diberikan kepada peserta pelatihan dan berisi:

  • Kegiatan-kegiatan yang akan membantu peserta pelatihan untuk mempelajari dan memahami informasi.
  • Kegiatan pemeriksaan yang digunakan untuk memonitor pencapaian keterampilan peserta pelatihan.
  • Kegiatan penilaian untuk menilai kemampuan peserta pelatihan dalam melaksanakan praktik kerja.

 

Buku Penilaian

Buku penilaian ini digunakan oleh pelatih untuk menilai jawaban dan tanggapan peserta pelatihan pada Buku Kerja dan berisi:

  • Kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh peserta pelatihan sebagai pernyataan keterampilan.
  • Metode-metode yang disarankan dalam proses penilaian keterampilan peserta pelatihan.
  • Sumber-sumber yang digunakan oleh peserta pelatihan untuk mencapai keterampilan.
  • Semua jawaban pada setiap pertanyaan yang diisikan pada Buku Kerja.
  • Petunjuk bagi pelatih untuk menilai setiap kegiatan praktik.
  • Catatan pencapaian keterampilan peserta pelatihan.

 

 

1.2.3 Pelaksanaan Modul

Pada Pelatihan Klasikal/Konvensional, pelatih akan :

-      Menyediakan Buku Informasi yang dapat digunakan peserta pelatihan sebagai sumber pelatihan.

-      Menyediakan salinan Buku Kerja kepada setiap peserta pelatihan.

-      Menggunakan Buku Informasi sebagai sumber utama dalam penyelenggaraan pelatihan.

-      Memastikan setiap peserta pelatihan memberikan jawaban/ tanggapan dan menuliskan hasil tugas praktiknya pada Buku Kerja.

 

Pada Pelatihan Individual/Mandiri, peserta pelatihan akan :

-      Menggunakan Buku Informasi sebagai sumber utama pelatihan.

-      Menyelesaikan setiap kegiatan yang terdapat pada buku Kerja.

-      Memberikan jawaban pada Buku Kerja.

-      Mengisikan hasil tugas praktik pada Buku Kerja.

-      Memiliki tanggapan-tanggapan dan hasil penilaian oleh pelatih.

 

 

1.3 Pengakuan Kompetensi Terkini

  • Apakah Pengakuan Kompetensi Terkini (Recognition of Current Competency)?

Jika Anda telah memiliki pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk elemen unit kompetensi tertentu, Anda dapat mengajukan pengakuan kompetensi terkini (RCC). Berarti Anda tidak akan dipersyaratkan untuk belajar kembali.

 

  • Anda mungkin sudah memiliki pengetahuan dan keterampilan, karena Anda telah:
  1. Bekerja dalam suatu pekerjaan yang memerlukan suatu pengetahuan dan keterampilan yang sama atau
  2. Berpartisipasi dalam pelatihan yang mempelajari kompetensi yang sama atau
  3. Mempunyai pengalaman lainnya yang mengajarkan pengetahuan dan keterampilan yang sama.

 

 

1.4 Pengertian Istilah-istilah

Berikut adalah pengertian dari beberapa istilah yang digunakan dalam Pelatihan Berbasis Kompetensi, antara lain:

 

Profesi

Profesi adalah suatu bidang pekerjaan yang menuntut sikap, pengetahuan serta keterampilan/keahlian kerja tertentu yang diperoleh dari proses pendidikan, pelatihan serta pengalaman kerja atau penguasaan sekumpulan kompetensi tertentu yang dituntut oleh suatu pekerjaan/jabatan.

 

Standardisasi

Standardisasi adalah proses merumuskan, menetapkan serta menerapkan suatu standar tertentu.

 

Penilaian / Uji Kompetensi

Penilaian atau Uji Kompetensi adalah proses pengumpulan bukti melalui perencanaan, pelaksanaan dan peninjauan ulang (review) penilaian serta keputusan mengenai apakah kompetensi sudah tercapai dengan membandingkan bukti-bukti yang dikumpulkan terhadap standar yang dipersyaratkan.

 

Pelatihan

Pelatihan adalah proses pembelajaran yang dilaksanakan untuk mencapai suatu kompetensi tertentu dimana materi, metode dan fasilitas pelatihan serta lingkungan belajar yang ada terfokus kepada pencapaian unjuk kerja pada kompetensi yang dipelajari.

 

Kompetensi

Kompetensi adalah kemampuan seseorang untuk menunjukkan aspek sikap, pengetahuan dan keterampilan serta penerapan dari ketiga aspek tersebut ditempat kerja untuk mencapai unjuk kerja yang ditetapkan.

 

Sertifikasi Kompetensi

Adalah proses penerbitan sertifikat kompetensi melalui proses penilaian / uji kompetensi.

 

Sertifikat Kompetensi

Adalah pengakuan tertulis atas penguasaan suatu kompetensi tertentu kepada seseorang yang dinyatakan kompeten yang diberikan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi.

 

Standar Kompetensi

Standar kompetensi adalah standar yang ditampilkan dalam istilah-istilah hasil serta memiliki format standar yang terdiri dari judul unit, deskripsi unit, elemen kompetensi, kriteria unjuk kerja, ruang lingkup serta pedoman bukti.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

Standar Kompetensi

 

 

 

2.1 Peta Paket Pelatihan

Modul yang sedang Anda pelajari ini bertujuan untuk mencapai satu unit kompetensi. Adapun kompetensi ini termasuk dalam satu paket pelatihan, yang terdiri atas unit-unit kompetensi berikut:

  1. TIK.PR01.003.01     Merencanakan dan mengorganisasikan kerja individu
  2. TIK.PR01.001.01     Komunikasi di tempat kerja
  3. TIK.PR01.004.01     Kontribusi Kualitas hasil kerja

 

 

2.2 Pengertian Unit Standar

Apakah Standar Kompetensi? Setiap Standar Kompetensi menentukan :

  1. Pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk mencapai kompetensi.
  2. Standar yang diperlukan untuk mendemonstrasikan kompetensi.
  3. Kondisi dimana kompetensi dicapai.

 

Di dalam unit kompetensi ini, Anda akan mempelajari mengenai  pengertian profesi dan tata cara menjaga profesionalisme dan etika ketika berurusan dengan kolega, klien dan atasan untuk melengkapi pengetahuan mengenai etika berorganisasi.

 

Sistem pelatihan berbasis kompetensi terfokus pada pencapaian kompetensi, bukan pada lamanya waktu. Namun diharapkan pelatihan ini dapat dilaksanakan dan dicapai dalam jangka waktu tidak lebih dari seminggu, tiga sampai lima hari. Pelatihan ini diperuntukkan bagi semua pengguna terutama yang tugasnya berkaitan dengan pengelolaan, pemeliharaan dan perancangan Website.

 

Jika Anda belum mencapai kompetensi pada usaha/kesempatan pertama, Pelatih Anda akan mengatur rencana pelatihan dengan Anda. Rencana ini akan memberikan Anda kesempatan kembali untuk meningkatkan level kompetensi Anda sesuai dengan level yang diperlukan. Jumlah maksimum usaha/kesempatan yang disarankan adalah 3 (tiga) kali.

 

 

 

2.3 Unit Kompetensi Yang Dipelajari

Dalam sistem pelatihan, Standar Kompetensi diharapkan menjadi panduan bagi peserta pelatihan untuk dapat :

  1. Mengidentifikasikan apa yang harus dikerjakan peserta pelatihan.
  2. Memeriksa kemajuan peserta pelatihan.
  3. Menyakinkan bahwa semua elemen (sub-kompetensi) dan criteria unjuk   kerja telah dimasukkan dalam pelatihan dan penilaian.

 

2.3.1 Kode dan Judul Unit

Kode Unit     : TIK.PR01.016.01

Judul Unit     : Menjaga Etika

 

 

2.3.2 Deskripsi Unit

Unit ini menentukan kompetensi yang diperlukan untuk menjaga profesionalisme dan etika ketika berhubungan dengan kolega, pelanggan, dan atasan.

 

 

2.3.3 Elemen Kompetensi

 

ELEMEN KOMPETENSI

KRITERIA UNJUK KERJA

01 Melindungi kepentingan pelanggan 1.1     Kelangsungan pelayanan perhitungan dan aliran informasi dijamin sesuai yang diharapkan oleh tuntutan kerja

 

1.2     Integritas dan keamanan informasi dijamin  pada saat dibutuhkan oleh legislasi pribadi dan kebijakan perusahaan

 

1.3     Konflik dari satu kepentingan diidentifikasi dan diartikulasikan secepat mungkin pada pihak yang relevan

 

1.4     Kepentingan pelanggan termasuk kerahasiaan dan hak milik dijaga

 

02 Menghasilkan produk dan layanan yang berkualitas 2.1  Produk dan layanan disediakan sesuai kebutuhan operasional dan keuntungan klien dan atasan

 

2.2  Dijamin pelayanan nilai uang dan produk yang dirahasiakan untuk klien dan atasan

 

2.3  Pekerjaan dilakukan sesuai  standar internasional

 

2.4  Proses yang berkualitas ketika mengembangkan produk dan pelayanan dipelihara dan dijaga

 

2.5  Produk yang dihasilkan klien dan atasan yang terbaik memenuhi kebutuhan mereka

 

03 Mendelegasikan responsibilitas dan otoritas
3.1  Keterampilan, pengetahuan, dan kualifikasi ditampilkan secara benar

 

3.2  Pelayanan dan produk dikembangkan dan lainnya diakomodir

 

3.3  Informasi disediakan untuk atasan dan klien secara tidak memihak dan berkualitas sesuai standar

 

3.4  Area kerja yang realistis, tahapan pekerjaan, anggaran biaya, dan kemampuan untuk menyelesaikan tahapan proyek  diperkirakan

 

04 Memelihara pekerjaan secara praktis 4.1 Kesehatan individu dan lingkungan di tempat kerja sesuai prosedur

4.2  Kolega dan karyawan diperlakukan secara wajar dan profesional

4.3  Pelayanan atau produk bagi kolega, klien dan karyawan dilakukan sesuai prosedur

4.4  Keterampilan profesional dan pengetahuan diperbaharui secara terus menerus

 

Tabel 1 Elemen Kompetensi

 

 

2.3.4 Batasan Variabel

1. Unit ini berlaku untuk seluruh sektor teknologi informasi dan komunikasi

2. Menjaga etika bersifat internal pada bidang teknologi informasi dan komunikasi

 

 

2.3.5 Panduan Penilaian

Panduan penilaian terdiri dari:

1. Pengetahuan dan keterampilan penunjang

Untuk mendemontrasikan       kompetensi, diperlukan bukti keterampilan dan pengetahuan dibidang berikut ini:

1.1  Pengetahuan Dasar

1.1.1    Persyaratan keorganisasian pada pelayanan pelanggan

1.1.2    Legislasi kesehatan dan keselamatan kerja

1.1.3    Legislasi akses dan equity

1.1.4    Hak cipta dan properti intelektual

 

1.2            Keterampilan Dasar

1.2.1    Keterampilan pengembangan profesional dalam hubungan untuk mengidentifikasi keterampilan personal yang selalu dimutakhirkan dan ditingkatkan

1.2.2    Mengidentifikasi kursus, seminar, informasi industri yang relevan untuk diikuti

 

 

2.  Konteks penilaian

Unit harus diujikan di tempat kerja atau di tempat lain secara teori dengan kondisi kerja sesuai dengan keadaan normal

 

 

3. Aspek penting penilaian

Aspek yang harus diperhatikan:

3.1     Kemampuan menyediakan informasi bagi atasan dan pelanggan sesuai dengan standar

3.2     Kemampuan memberikan pelayanan bagi  kolega, pelanggan, dan karyawan sesuai prosedur

 

 

4.  Kaitan dengan unit-unit lainnya

4.1 Unit ini tidak di dukung oleh pengetahuan dan keterampilan dalam unit-unit kompetensi yang lain.

4.1.1 TIK.PR01.003.01   Merencanakan dan mengorganisasikan kerja individu

4.1.2 TIK.PR01.001.01   Komunikasi di tempat kerja

4.1.3 TIK.PR01.004.01   Kontribusi Kualitas Hasil Kerja

 

4.2  Pengembangan pelatihan untuk memenuhi persyaratan dalam unit ini perlu dilakukan dengan hati-hati. Untuk pelatihan pra-kejuruan umum, institusi harus menyediakan pelatihan yang mempertimbangkan serangkaian konteks industri seutuhnya tanpa bisa terhadap sektor tertentu. Batasan variabel akan membantu dalam hal ini. Untuk sektor tertentu/ khusus, pelatihan harus disesuaikan agar dapat memenuhi kebutuhan sektor tersebut.

 

 

2.3.6 Kompetensi Kunci

 

 NO KOMPETENSI KUNCI DALAM UNIT INI TINGKAT

1

Mengumpulkan, mengorganisir dan menganalisa informasi

1

2

Mengkomunikasikan ide-ide dan informasi

1

3

Merencanakan dan mengorganisir aktivitas-aktivitas

1

4

Bekerja dengan orang lain dan kelompok

1

5

Menggunakan ide-ide dan tehnik matematika

1

6

Memecahkan masalah

1

7

Menggunakan teknologi

1

 

 

BAB III

Strategi dan Metode Pelatihan

 

 

3.1 Strategi Pelatihan

Belajar dalam suatu Sistem Berbasis Kompetensi berbeda dengan yang sedang “diajarkan” di kelas oleh Pelatih. Pada sistem ini Anda akan bertanggung jawab terhadap belajar Anda sendiri, artinya bahwa Anda perlu merencanakan belajar Anda dengan Pelatih dan kemudian melaksanakannya dengan tekun sesuai dengan rencana yang telah dibuat.

 

Persiapan/perencanaan

  1. Membaca bahan/materi yang telah diidentifikasi dalam setiap tahap belajar dengan tujuan mendapatkan tinjauan umum mengenai isi proses belajar Anda.
  2. Membuat catatan terhadap apa yang telah dibaca.
  3. Memikirkan bagaimana pengetahuan baru yang diperoleh berhubungan dengan pengetahuan dan pengalaman yang telah Anda miliki.
  4. Merencanakan aplikasi praktik pengetahuan dan keterampilan Anda.

 

Permulaan dari proses pembelajaran

  1. Mencoba mengerjakan seluruh pertanyaan dan tugas praktik yang terdapat pada tahap belajar.
  2. Merevisi dan meninjau materi belajar agar dapat menggabungkan pengetahuan Anda.

 

Pengamatan terhadap tugas praktik

  1. Mengamati keterampilan praktik yang didemonstrasikan oleh Pelatih atau orang yang telah berpengalaman lainnya.
  2. Mengajukan pertanyaan kepada Pelatih tentang konsep sulit yang Anda temukan.

 

Implementasi

  1. Menerapkan pelatihan kerja yang aman.
  2. Mengamati indikator kemajuan personal melalui kegiatan praktik.
  3. Mempraktikkan keterampilan baru yang telah Anda peroleh.

 

Penilaian

Melaksanakan tugas penilaian untuk penyelesaian belajar Anda.

3.2 Metode Pelatihan

Terdapat tiga prinsip metode belajar yang dapat digunakan. Dalam beberapa kasus, kombinasi metode belajar mungkin dapat digunakan.

 

Belajar secara mandiri

Belajar secara mandiri membolehkan Anda untuk belajar secara individual, sesuai dengan kecepatan belajarnya masing-masing. Meskipun proses belajar dilaksanakan secara bebas, Anda disarankan untuk menemui Pelatih setiap saat untuk mengkonfirmasikan kemajuan dan mengatasi kesulitan belajar.

 

Belajar Berkelompok

Belajar berkelompok memungkinkan peserta untuk dating bersama secara teratur dan berpartisipasi dalam sesi belajar berkelompok. Walaupun proses belajar memiliki prinsip sesuai dengan kecepatan belajar masing-masing, sesi kelompok memberikan interaksi antar peserta, Pelatih dan pakar/ahli dari tempat kerja.

 

Belajar terstruktur

Belajar terstruktur meliputi sesi pertemuan kelas secara formal yang dilaksanakan oleh Pelatih atau ahli lainnya. Sesi belajar ini umumnya mencakup topik tertentu.

 

 

BAB IV

MATERI UNIT KOMPETENSI

 

 

 

 

4.1 Tujuan Instruksional Umum

  • Siswa mampu menceritakan dan menjelaskan konsep etika bisnis
  • Siswa dapat menjelaskan hubungan yang benar antara pelanggan, atasan dan bawahan secara etika profesi yang baik dan benar

 

 

 

4.2 Tujuan Instruksional Khusus

  • Siswa mengerti dan mampu menjelaskan apa yang dimaksud dengan etika dalam bisnis
  • Siswa dapat menggolongkan apa saja yang dimaksud dengan klien, atasan, dan bawahan
  • Siswa mengerti  tentang menjaga aliran informasi secara benar dan aman
  • Siswa mengerti pentingnya menjaga kerahasiaan klien
  • Siswa dapat memahami tentang standar pekerjaan secara umum
  • Siswa dapat menjelaskan area kerja yang sesuai dengan standar kesehatan
  • Siswa memahami cara pendelegasian tugas
  • Siswa dapat memahami tentang standar kesehatan kerja yang tepat

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4.3 Melindungi Kepentingan Klien

Dalam memberikan jasa profesi kepada pelanggan/ kliennya, baik yang bersifat perorangan, kelompok, lembaga atau organisasi/ institusi sesuai dengan keahlian dan kewenangannya, yang wajib diperhatikan adalah:

 

  1. Mengutamakan dasar-dasar profesional
  2. Memberikan jasa kepada semua pihak yang membutuhkannya
  3. Melindungi klien atau pemakai jasa dari akibat yang merugikan sebagai dampak jasa/praktik yang diterimanya
  4. Mengutamakan ketidak berpihakan dalam kepentingan pemakai jasa atau klien dan pihak-pihak yang terkait dalam pemberian pelayanan tersebut

 

Dalam hal pemakai jasa atau klien yang menghadapi kemungkinan akan terkena dampak negatif yang tidak dapat dihindari akibat pemberian jasa  maka pemakai jasa atau klien tersebut harus diberitahu.

 

 

4.3.1  Kelangsungan Pelayanan Perhitungan dan Aliran Informasi Dijamin Sesuai yang diharapkan oleh Tuntutan Kerja

Manajemen keamanan informasi adalah sub bagian dari manajemen keamanan dengan focus utama adalah pengamanan informasi.

 

Perbedaannya dengan manajemen keamanan komputer dan manajemen keamanan IT adalah bahwa manajemen keamanan informasi lebih menitikberatkan pada sarana dan prasarana yang digunakan untuk pengamanan informasi.

 

Tugas manajemen keamanan informasi adalah:

  1. Merencanakan keamanan informasi
  2. Mengaplikasikan keamanan informasi
  3. Memonitor dan melakukan evaluasi

 

Pengamanan informasi adalah melindungi informasi dari segala kemungkinan ancaman terhadap informasi yang akan berpengaruh terhadap kinerja dan prestasi organisasi dengan cara meminimalisir kerugian yang dapat ditimbulkan serta memaksimalkan keuntungan dari investasi dan peluang organisasi tersebut.

 

 

 

 

 

4.3.2  Integritas dan Keamanan Informasi Dijamin Pada Saat Dibutuhkan Oleh Legislasi Pribadi dan Kebijakan Perusahaan

Suatu organisasi/ instansi perlu mengklasifikasikan informasi yang dihasilkan dan/atau yang diperoleh untuk mendapatkan perlindungan yang sesuai. Klasifikasi informasi ini ditentukan sendiri oleh organisasi tersebut dengan memperhatikan resiko dan keuntungan yang ditimbulkan dari pengolahan informasi tersebut.

 

Klasifikasi informasi secara umum dibedakan menjadi:

  • Umum (bebas)
  • Terbatas (dinas)
  • Rahasia (pribadi)

 

Ada 3 teknik perlindungan terhadap informasi, yaitu:

1)    Melindungi secara organisasi, seperti dengan cara menunjuk personil khusus dengan regulasi yang jelas, melakukan pendidikan dan pelatihan masalah keamanan informasi untuk meningkatkan kesadaran karyawan tentang pentingnya pengamanan informasi yang baik.

 

2)    Melindungi secara logic, seperti dengan cara menerapkan password, kriptografi, memasang antivirus, dan cara lainnya.

 

3)    Secara fisik, seperti dengan cara menyimpan dalam suaturuangan khusus yang dikunci, dalam lemari besi, dan lain-lain

 

 

4.3.3 Konflik  dari Satu Kepentingan Diidentifikasi dan Diartikulasikan Secepat Mungkin Pada Pihak yang Relevan

Perselisihan atau konflik seringkali timbul dalam bentuk yang beragam, mulai dari bentuk yang ringan seperti perbedaan pendapat, hingga ke bentuk yang berat seperti konflik yang melibatkan hukum (baik perdata maupun pidana).

 

Pada dasarnya konflik timbul akibat adanya pertentangan kepentingan yang menimbulkan perselisihan. Untuk menghindari munculnya gejala konflik, dibuatlah tata tertib, yaitu ketentuan atau kaedah hukum yang harus ditaati oleh setiap pribadi yang terlibat di dalamnya.

 

Beberapa pandangan cara pnyelesaian sengketa/ konflik di luar pengadilan:

  1. Konsultasi

Konsultasi merupakan tidakan yang bersifat personal antara suatu pihak tertentu (yang disebut klien) dengan pihak yang merupakan konsultasi, yang memberikan pendapatnya kepada klien tersebut untuk memenuhi keperluan dan kebutuham kliennya tersebut.

 

Tidak ada suatu rumusan yang mengharuskan si klien mengikuti pendapat yang disampaikan konsultan. Dalam hal ini konsultan hanyalah memberikan pendapat (hukum), sebagaimana diminta oleh kliennya, yang untuk selanjutnya keputusan mengenai penyelesaian sengketa tersebut akan diambil sendiri oleh para pihak meskipun adakalanya pihak konsultan juga diberikan kesempatan untuk merumuskan bentuk-bentuk penyelesaian sengketa yang dikehendaki oleh para pihak yang bersengketa tersebut

 

  1. Negosiasi dan perdamaian

Menurut pasal 6 ayat 2 Undang Undang nomor 30 tahun 1999 pada dasarnya para pihak berhak untuk menyelesaikan sendiri sengketa yang timbul di antara mereka.

 

Kesepakatan mengenai penyelesaian tersebut selanjutnya harus dituangkan dalam bentuk tertulis yang disetujui oleh para pihak. Negosiasi adalah mirip dengan perdamaian sebagaimana diatur dalam pasal 1851 s/d 1864 KUH Perdata, dimana perdamaian itu adalah suatu persetujuan dengan mana kedua belah pihak, dengan menyerahkan, menjanjikan atau menahan suatu barang, mengakhiri suatu perkara yang sedang bergantung atau mencegah timbulnya suatu perkara.

 

Perbedaan lain adalah bahwa negosiasi merupakan salah satu lembaga alternatif penyelesaian sengketa yang dilaksanakan di luar pengadilan, sedangkan perdamaian dapat dilakukan baik sebelum proses persidangan pengadilan dilakukan maupun setelah sidang peradilan dilaksanakan, baik di dalam maupun di luar pengadilan.

 

  1. Mediasi

Berdasarkan pasal 6 ayat 3 Undang Undang Nomor 39 tahun 1999, atas kesepakatan tertulis para pihak, sengketa atau beda pendapat diselesaikan melalui bantuan “seorang atau lebih penasehat ahli” maupun melalui seorang mediator.

 

Kesepakatan penyelesaian sengketa atau beda pendapat secara tertulis adalah final dan mengikat bagi para pihak untuk dilaksanakan dengan itikad baik, Kesepakatan tertulis wajib didaftarkan di Pengadilan Negeri dalam waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak penandatanganan, dan wajib dilakasanakan dalam waktu lama 30 (tiga puluh) hari sejak pendaftaran.

 

Mediator dapat dibedakan menjadi:

  • Mediator yang ditunjuk bersama oleh para pihak
  • Mediator yang ditunjuk oleh lembaga arbitrase atau lembaga alternatif penyelesaian sengketa yang ditunjuk oleh para pihak

 

  1. Konsiliasi dan perdamaian

Konsiliasi adalah suatu bentuk alternatif penyelesaian sengketa di luar pengadilan adalah suatu tindakan atau proses untuk mencapai perdamaian di luar pengadilan.

 

Untuk mencegah dilaksanakan proses legitasi, melainkan juga dalam setiap tingkat peradilan yang sedang berjalan, baik di dalam maupun di luar pengadilan, dengan pengecualian untuk hal-hal atau sengketa dimana telah diperoleh suatu putusan hakim yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap.

 

  1. Pendapat hukum oleh lembaga arbitrase

Pasal 52 Undang Undang nomor 30 tahun 1999 menyatakan bahwa para pihak dalam suatu perjanjian berhak untuk memohon pendapat yang mengikat dari Lembaga Arbitrase atas hubungan hukum tertentu dari suatu perjanjian.

 

Ketentuan ini pada dasarnya merupakan pelaksanaan dari pengertian tentang Lembaga Arbitrase yang di berikan dalam pasal 1 angka 8 Undang Undang nomor 30 tahun 1999.

 

Lembaga Arbitrase adalah badan yang dipilih oleh para pihak yang bersengketa untuk memberikan putusan mengenai sengketa tertentu, lembaga tersebut juga dapat memberikan pendapat yang mengikat mengenai suatu hubungan hukum tertentu dalam hal belum timbul sengketa.

 

Pendapat hukum yang diberikan lembaga arbitrase bersifat mengikat (binding) oleh karena pendapat yang diberikan tersebut akan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjanjian pokok (yang dimintakan pendapatnya  pada  lembaga  arbitrase  tersebut).

 

Setiap  pendapat  yang  berlawanan terhadap pendapat hukum yang diberikan tersebut berarti pelanggaran terhadap perjanjian (breach of contract – wanprestasi). Oleh karena itu tidak dapat dilakukan perlawanan dalam bentuk upaya hukum apapun

 

  1. Arbitrase

Menurut pasal 1 angka 1 Undang Undang nomor 30 tahun 1999 Arbitrase adalah cara penyelesaian suatu sengketa perdata di luar pengadilan umum yang didasarkan pada Perjanjian Arbitrase yang dibuat secara tertulis oleh para pihak yang bersengketa.

Arbitrase dapat berwujud dalam 2 bentuk, yaitu:

  • Klausula arbitrase yang tercantum dalam suatu perjanjain tertulis yang dibuat para pihak sebelum timbul sengketa (Factum de compromitendo)
  • Suatu perjanjian Arbitrase tersendiri yang dibuat para pihak setelah timbul sengketa (Akta Kompromis)

 

Dalam penjelasan umum Undang Undang nomor 30 tahun 1999 dapat terbaca beberapa keunggulan penyelesaian sengketa melalui arbitrase dibandingkan dengan pranata peradilan.

Keunggulan itu adalah:

  • Dijamin kerahasiaan sengketa para pihak
  • Dapat dihindari kelambatan yang diakibatkan karena hal prosedural dan administratif
  • Para pihak dapat memilih arbiter yang menurut pengalaman serta latar belakang yang cukup mengenai masalah yang disengketakan, jujur dan adil
  • Para pihak dapat menentukan pilihan hukum untuk menyelesaikan masalahnya serta proses dan tempat penyelenggaraan arbitrase

 

Putusan arbiter merupakan putusan yang mengikat para pihak dan dengan melalui tata cara (prosedur) sederhana saja ataupun langsung dapat dilaksanakan

 

 

4.3.4 Kepentingan Klien Termasuk Kerahasiaan dan Hal Milik Dijaga

Prinsip kerahasiaan pelanggan, yang tentunya harus dipegang erat terutama oleh para profesional yang bergerak di bidang jasa. Semua hal yang disampaikan dan didiskusikan oleh klien, sudah sepatutnya diperlakukan sesuai etika profesional untuk menjaga kerahasiaan pribadi.

 

 

4.4 Menghasilkan Produk dan Layanan yang Berkualitas

Perusahaan perlu untuk meningkatkan kemampuan produk lebih cepat daripada pesaingnya untuk mengejarnya dan melampaui pesaingnya.

 

Untuk itu perusahaan harus tahu kebutuhan dan keinginan pelanggan dan menterjemahkan kebutuhan dan keinginan pelanggan itu kedalam produknya. Disinilah perlunya Manajemen Kualitas.

 

Dalam hal kualitas yang perlu dijaminkan ke pelanggan dan atasan ada 2 hal yang perlu diperhatikan, yaitu:

  1. Jaminan kualitas (Quality assurances)

Quality assurances adalah tindakan untuk menjamin bahwa produk yang dijanjikan akan dikirim ke pelanggan dalam keadaan 100% memuaskan.

 

  1. Manajemen kualitas (Quality management)

Quality management adalah sistem dan tindakan untuk mencapai keberhasilan manajemen secara efisien dengan meyakinkan bahwa produk yang dijanjikan akan diproduksi secara ekonomis.

 

 

4.4.1 Produk dan Layanan Disediakan Sesuai Kebutuhan Operasional dan Keuntungan Klien dan Atasan Disediakan

Pada perusahaan yang memproduksi barang, perusahaan tersebut akan memberikan kepuasan pada pelanggan dengan membuat dan mengirimkan produk yang bagus kepadanya.

 

Inilah alasan mengapa dikatakan bahwa kualitas dapat memberikan kepuasan pada pelanggan. Selain itu yang perlu dititikberatkan adalah pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan operasional yang memang dibutuhkan oleh pelanggan.

 

 

4.4.2 Dijamin Pelayanan Nilai Uang dan Produk yang Dirahasiakan Untuk Klien dan Atasan

Dalam quality management terdapat 2 elemen pokok, yaitu:

a) Jaminan kualitas yang dikontrol setiap hari

Dilakukan guna menjaga kualitas produk dan pelayanan di atas tingkat tertentu. Kualitas yang dibutuhkan oleh pelanggan akan dipastikan pada tahap-tahap memperoleh bahan baku, pembuatan, penerimaan order/penjualan, logistic, penggunaan oleh pelanggan dan pembuangan.

 

b) Penyelesaian masalah

Dilakukan guna meningkatkan kualitas semua pekerjaan. Identifikasi kebutuhan pelanggan, perencanaan/ desain, pengembangan produk baru, peningkatan pekerjaan termasuk dalam proses produksi, dan kesungguhan merespon komplain/ keluhan.

 

4.4.3 Pekerjaan Dilakukan Sesuai Standar Internasional

Proses kerja yang berlaku diterapkan sesuai dengan standar layanan, yaitu dengan adanya:

  • Imbalan jasa yang memadai (berupa gaji dan tunjuangan)
  • Suasana kerja yang memadai dimana hubungan atasan bawahan berjalan dengan lancar dan tidak ada unsur tekanan di dalamnya
  • Keadilan terhadap semua orang di perusahaan, tanpa ada pembedaan atau diskriminasi. Selain itu, informasi juga perlu didistribusikan secara adil, karena karyawan akan menghargai dan ikut menanggung beban bila mereka mengetahui kondisi perusahaan yang sesungguhnya.
  • Pemerataan kesempatan berkembang, dimana perusahaan seharusnya membangun suatu sistem yang memungkinkan karyawan untuk terus mengembangkan diri. Pengembangan diri juga perlu berdampak pada peningkatan imbalan atau penghargaan. Jadi perusahaan harus memiliki wawasan yang jauh ke depan dalam mempertahankan karyawannya sebagai suatu aset, bukan hanya pekerja.

 

 

4.4.4 Proses yang Berkualitas Ketika Mengembangkan Produk dan  Pelayanan Dipelihara dan Dijaga

Dalam mengembangkan pelayanan, terapkan proses yang berkualitas guna membangun daya saing yang berbasis biaya rendah, kecepatan menghasilkan produk bermutu dan transaksi yang mudah dan cepat.

 

Prinsip yang dianut perusahaan adalah Operation excellence value, yaitu perusahaan yang bersaing di pasar dengan mengandalkan kemampuan menghasilkan produk dan atau jasa dengan mengkombinasikan antara mutu, harga, kecepatan/ ketepatan, pengiriman/ penyampaian produk/ jasa, waktu respon yang singkat dan transaksi bisnis yang sederhana atau tidak menyulitkan pelanggan.

 

 

4.4.5 Produk yang Dihasilkan untuk Klien dan Atasan yang Terbaik Memenuhi Kebutuhan Mereka

Tinggi rendahnya mutu pelayanan akan mencerminkan kualitas dan nilai (value) dari perusahaan. Untuk mempertahankan posisi perusahaan dalam persaingan yang kian ketat, bukan hanya uang yang menjadi ujung tombak, tetapi ada hal yang lebih daripada itu. Salah satunya adalah kualitas

 

4.5 Mendelegasikan Responsibilitas dan Otoritas

Maksud pendelegasian adalah bekerja melalui tangan orang lain, artinya melimpahkan tugas ke orang lain yang dipercayai bisa menjalankan tugas tersebut. Salah satu ciri manajemen yang bagus adalah lancarnya proses pendelegasian.

 

Pendelegasian yang kurang baik akan mengakibatkan proses pengambilan keputusan menjadi lambat, karena terlalu banyak otoritas yang dipegang di tingkat atas. Sementara itu, akan terjadi ketidakseimbangan beban kerja, di mana level manajemen tertentu menjadi over worked dan di sisi lain level manajemen lainnya menjadi underworked.

 

Pendelegasian yang baik akan memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan dan pengembangan sumber daya manusia yang dimiliki. Dengan pendelegasian perusahaan memanfaatkan keterampilan dan kemampuan sumber daya manusia yang dimiliki secara optimal.

 

Pendelegasian yang lancar akan memberikan waktu yang lebih leluasa kepada manajer dan eksekutif inti untuk melakukan fungsi-fungsi manajemen dan berfokus kepada hal-hal strategis.

 

Meskipun demikian, tidak semua pekerjaan bisa didelegasikan. Misalnya perencanaan jangka panjang perusahaan tidak cocok untuk didelegasikan kepada bawahan. Begitu juga dengan pekerjaan yang memiliki tingkat kerahasiaan tinggi seharusnya tidak didelegasikan kepada bawahan.

 

Ada 3 langkah utama yang dapat dijadikan patokan dalam melaksanakan pendelegasian, yaitu:

  1.              i.         Pemberian tanggung jawab

Yaitu memberikan tugas yang jelas dan terinci, sehingga bawahan mengetahui dengan persis lingkup pekerjan yang didelegasikan, dimana mereka harus bertanggungjawab untuk mencapai hasil yang diinginkan. Hasil yang dicapai harus dideskripsikan dengan jelas, serta ditentukan bagaimana melakukan pengukuran performance.  Asumsi pemberian tangggung jawab adalah tersedianya sarana untuk melaksanakan tugas, informasi, keterampilan dan pengetahuan.

 

  1.             ii.         Pemberian wewenang

Langkah kedua adalah memberikan wewenang, yaitu hak untuk mengambil keputusan dan melakukan tindakan dalam batas-batas yang jelas dalam  melaksanakan tugas. Dengan batasan yang jelas si pengemban tugas tidak ragu-ragu dalam melangkah dan dapat mengambil keputusan dengan cepat.  Pemberian wewennag diawali dengan meminta anak buah menyampaikan ide atau rencana untuk mencapai hasil yang diharapkan.

 

  1.           iii.         Accountability atau pertanggungjawaban

Pengemban tugas yang diberi wewenang harus bertanggungjawab terhadap tugas dan wewenang yang diberikan kepadanya. Evaluasikan kualitas pertanggungjawaban, kemudian berikan pedoman dan pengarahan untuk meningkatkan proses pertanggungjawaban di masa mendatang.

 

4.5.1 Keterampilan, Pengetahuan, dan Kualifikasi Ditampilkan Secara Benar

 

Salah satu keunggulan perusahaan terletak pada manajemen pengetahuan (knowledge management). Program ini menitikberatkan pada upaya memberdayakan dan meningkatkan pengetahuan dalam perusahaan (baik terhadap atasan maupun bawahan) dengan program yang jelas.

 

Yang umumnya dilakukan oleh perusahaan dalam meningkatkan knowledge management adalah dengan melakukan pelatihan (training) secara berkala dan terus menerus kepada tiap-tiap pekerjanya.

 

 

4.5.2 Pelayanan dan Produk Dikembangkan oleh Individu dan Lainnya Diakomodir

 

Dalam menjalankan hubungan kerja, perusahaan memfasilitasi pelayanan yang diberikan baik kepada pelanggan, maupun kepada pekerjanya.

 

Fasilitas yang diberikan dapat berupa ruangan kerja yang sesuai dengan standar kelayakan, transportasi yang diperlukan untuk menunjang pekerjaannya, tunjangan kesehatan untuk pekerja dan keluarganya, serta fasilitas-fasilitas lainnya.

 

4.5.3  Informasi Disediakan Untuk Atasan dan Klien Secara Tidak Memihak dan Berkualitas Sesuai Standar

 

Informasi yang disediakan kepadaatasan dan pelanggan harus berkualitas, dalam arti informasi tersebut telah diverifikasi kebenarannya.

 

Jangan sampai informasi yang belum jelas itu didistribusikan kepada pelanggan yang akibatnya bisa menimbulkan salah persepsi dan merugikan kedua belah pihak.

 

Dalam konteks hubungan perusahaan dan pekerja, informasi perlu disebarkan secara adil, agar timbul rasa penghargaan dan kebersamaan dalam memiliki sehingga pekerja mau ikut menanggung beban dan berusaha dengan segenap kemampuan mereka bila mereka mengetahui kondisi perusahaan yang sesungguhnya

 

4.5.4 Area Kerja yang Realistis, Tahapan Pekerjaan, Anggaran Biaya, dan Kemampuan untuk Menyelesaikan Tahapan Proyek Diperkirakan

 

Semua pekerja akan bisa bekerja dengan tenang bila area tempat kerjanya mendukung, dalam arti lingkungan tempat kerjanya aman, sehat, dan nyaman.

 

Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah penerapan ergonomi di tempat kerja, artinya ergonomi dapat berperan dalam peningkatan tempat kerja ke arah yang lebih produktif bagi pekerja dalam melakukan pekerjannya.

 

Pengertian ergonomi adalah ilmu pengetahuan yang terkait dengan kecocokan manusia dengan pekerjaannya.

 

Untuk mengkaji kesesuaian seseorang dengan pekerjaannya, ada beberapa aspek yang patut dipertimbangkan, antara lain :

  • Pekerjaan yang sedang dilakukan
  • Peralatan yang digunakan (ukuran, bentuk, dan bagaimana peralatan tersebut cocok dengan tugasnya)
  • Informasi yang digunakan (bagaimana informasi tersebut dihadirkan, diakses, dan diubah)
  • Lingkungan fisik (seperti suhu, kelembaban, pencahayaan, kebisingan, getaran)
  • Lingkungan sosial (seperti kerjasama tim dan manajemen yang mendukung)
  • Aspek fisik pekerja (seperti ukuran, bentuk tubuh, kebugaran, postur, indra manusia)
  • Aspek psikologis pekerja (seperti kemampuan mental, kepribadian, pengetahuan, dan pengalaman)

 

Penerapan ergonomi ditempat kerja diharapkan dapat:

  • Mengurangi potensi kecelakaan
  • Mengurangi potensi terjadinya luka dan kesakitan
  • Meningkatkan kinerja dan produktivitas

 

 

4.6 Memelihara Pekerjaan Secara Praktis

           

Ergonomi secara umum tidak hanya dikenal untuk pemecahan permasalahan secara fisik tetapi ergonomi juga berhubungan dengan aspek sosial dan psikologis manusia dengan pekerjaannya.

 

Sebagai contoh, beban kerja yang terlalu tinggi atau terlalu rendah, tugas-tugas yang tidak jelas, time pressure, pelatihan yang tidak cukup, dan dukungan sosial lemah, semua itu bisa berdampak negatif terhadap orang dan pekerjaan yang mereka lakukan.

 

Contoh-contoh berikut menyoroti sebagian permasalahan ergonomi yang khas ditemukan di tempat kerja:

  • Penempatan layar yang kurang baik, misalnya terlalu tinggi,terlalu rendah, menutupi, jauh dari pekerja dll.
  • Mouse ditempatkan terlalu jauh dan memerlukan peregangan untuk menggunakannya
  • Kursi yang tidak disesuaikan dengan keterbatasan yang ada pada pekerja, misalnya ketinggian kursi dan kursi tidak memberikan kenyamanan bagi pekerja
  • Layar silau yang berasal dari jendela atau lampu, meningkatkan risiko kelelahan mata
  • Perangkat Keras dan perangkat lunak tidak cocok untuk tugas atau orang yang menggunakannya sehingga menyebabkan frustrasi dan kesusahan
  • Tidak cukup waktu untuk beristirahat atau perubahan-perubahan dari aktivitas

 

Permasalahan tersebut diatas mengakibatkan kekeliruan-kekeliruan dan produktivitas rendah, stress, radang mata, sakit kepala dan sakit atau nyeri lain. Stress yang berkaitan dengan pekerjaan, seperti:

  • Tuntutan kerja yang terlalu tinggi atau terlalu rendah
  • Dukungan yang lemah dari pihak manajemen dan/ atau dari pihak rekan kerja

 

Kontrol yang lemah terhadap resiko akan menyebabkan stress yang berkaitan dengan kerja yang pada akhirnya mengakibatkan pekerja menjadi sakit kemudian mengurangi kinerja dan produktivitas.

 

Ada banyak cara permasalahan ergonomi dapat dikenali atau diidentifikasi, yakni melalui pengamatan dan daftar periksa yang merupakan sebagai alat untuk melakukan kajian risiko secara kuantitatif.

 

Idealnya, ada beberapa pendekatan yang seharusnya digunakan, antara lain :

  • Bicara dengan karyawan dan karyawan mengungkapkan pandangannya, antara lain mengenai pengetahuan penting yang dipunyai oleh karyawan tentang pekerjaan yang mereka lakukan, setiap permasalahan yang mereka mempunyai, dan dampaknya terhadap kesehatan, keselamatan, dan kinerja mereka

 

  • Penilaian sistem kerja dengan meminta pertanyaan seperti:

∞      Apakah pekerja merasa mereka telah berada di posisi yang nyaman.

∞      Apakah pekerja mengalami ketidaknyamanan/ kegelisahan, termasuk secara fisik (seperti nyeri, kelelahan, stress)?

∞      Apakah peralatan yang digunakan telah sesuai dengan kebutuhan pekerja, mudah digunakan serta terpelihara dengan baik?

∞      Apakah pekerja telah merasa puas dengan pengaturan atas pekerjaannya?

∞      Apakah pekerja sering melakukan kesalahan kerja?

∞      Apakah ada tanda-tanda rancangan peralatan tidak sesuai atau tidak cukup dengan kenyataan lapangan yang ada.

∞      Pengujian keadaan meliputi seringnya terjadi kesalahan dan insiden. Gunakan laporan kecelakaan untuk mengidentifikasi rincian peristiwa dan kemungkinan penyebabnya.

∞      Pencatatan dan memperhatikan ketidakhadiran karena sakit dan tingkat perpindahan staff. Bila angka perpindahan tinggi, kemungkinan bisa diakibatkan oleh permasalahan yang telah disebutkan sebelumnya dan adanya ketidakpuasan di tempat bekerja.

 

Pemahaman ergonomi di tempat kerja kemungkinan dapat mengurangi sakit, nyeri, dan stress di tempat kerja dan meningkatkan kepuasan kerja.

 

Solusi ergonomi dapat dilakukan dengan cara yang sederhana dan langsung dapat dilihat hasilnya, misalnya saja perubahan yang kecil pada kursi, yakni mengubah tinggi kursi sesuai dengan keterbatasan yang ada pada pekerja.

 

4.6.1 Kesehatan Individu dan Lingkungan di Tempat Kerja Sesuai Prosedur

 

Upaya kesehatan kerja adalah upaya penyerasian antara kapasitas kerja, beban kerja dan lingkungan kerja agar setiap pekerja dapat bekerja secara sehat tanpa membahayakan dirinya sendiri maupun masyarakat disekelilingnya, agar diperoleh produktivitas kerja yang optimal (berdasarkan pernyataan UU Kesehatan tahun 1992 Pasal 23).

 

Kesehatan kerja meliputi berbagai upaya penyerasian antara pekerja dengan pekerjaan dan lingkungan kerjanya baik secara fisik maupun mental dalam hal metode kerja, proses kerja dan kondisi yang bertujuan untuk:

  1. Memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan kerja masyarakat pekerja di semua lapangan kerja setinggi-tingginya baik secara fisik, mental maupun kesejahteraan sosialnya.
  2. Mencegah timbulnya gangguan kesehatan pada masyarakat pekerja yang diakibatkan oleh kondisi lingkungan kerjanya.
  3. Memberikan pekerjaan dan perlindungan bagi pekerja di dalam pekerjaannya dari kemungkinan bahaya yang disebabkan oleh faktor-faktor yang membahayakan kesehatan.
  4. Menempatkan dan memelihara pekerja disuatu lingkungan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan fisik dan mentalnya.

 

Kondisi atau tingkat kesehatan pekerja adalah modal seseorang untuk melakukan pekerjaan dan penting untuk diperhatikan. Kondisi awal untuk bekerja dapat dipengaruhi oleh kondisi tempat kerja, gizi kerja, dan hal-hal lainnya. Kondisi lingkungan kerja (misalnya panas, kebisingan, debu, zat-zat kimia dan lain-lain) dapat merupakan beban tambahan terhadap pekerja. Beban-beban tambahan tersebut secara sendiri-sendiri atau bersama-sama dapat menimbulkan gangguan atau penyakit akibat kerja.

 

Gangguan kesehatan pada pekerja dapat disebabkan oleh faktor yang berhubungan dengan pekerjaan maupun yang tidak berhubungan dengan pekerjaan.

 

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa status kesehatan masyarakat pekerja dipengaruhi tidak hanya oleh bahaya kesehatan di tempat kerja dan lingkungan kerja tetapi juga oleh faktor-faktor pelayanan kesehatan kerja, perilaku kerja serta faktor lainnya.

 

Untuk mengantisipasi permasalahan ini maka langkah awal yang penting dilakukan adalah pengenalan/ identifikasi bahaya yang bisa timbul kemudian dievaluasi, dan diterapkan pengendalian.

 

Untuk mengantisipasi dan mengetahui kemungkinan bahaya di lingkungan kerja ditempuh 3 langkah utama, yaitu :

  • Pengenalan lingkungan kerja

Pengenalan lingkungan kerja ini biasanya dilakukan dengan cara melihat dan mengenal (walk through inspection), dan ini merupakan langkah dasar yang pertama-tama dilakukan dalam upaya kesehatan kerja.

 

  • Evaluasi lingkungan kerja

Merupakan tahap penilaian karakteristik dan besarnya potensi-potensi bahaya yang mungkin timbul, sehingga bisa untuk menentukan prioritas dalam mengatasi permasalahan.

 

  • Pengendalian lingkungan kerja

Dimaksudkan untuk mengurangi zat/ bahan berbahaya dilingkungan kerja. Kedua tahapan sebelumnya, pengenalan dan evaluasi, tidak dapat menjamin sebuah lingkungan kerja yang sehat. Jadi hanya dapat dicapai dengan teknologi pengendalian yang efektif untuk mencegah efek kesehatan yang merugikan di kalangan pekerja.

Pengendalian lingkungan kerja dapat dibedakan antara lain menjadi :

  • Pengendalian lingkungan (environmental control measure)

Seperti disain tata letak yang tepat, penghilangan atau pengurangan bahan berbahaya sumbernya.

 

  • Pengendalian perorangan (personal control measure)

Penggunaan alat pelindung perorangan merupakan alternatif untuk melindungi pekerja dari bahaya kesehatan. Selain itu metode yang bisa diterapkan seperti pembatasan waktu selama pekerja berhadapan dengan zat tertentu yang berbahaya sehingga dapat menurunkan resiko terkenanya bahaya kesehatan di lingkungan kerja.

Kebersihan perorangan dan pakaiannya merupakan hal yang penting, terutama untuk para pekerja yang dalam pekerjaannya berhubungan dengan bahan kimia serta partikel lain.

 

Adapun landasan hukum yang mengatur tentang kesehatan dan keselamatan kerja di atur dalam:

  • UU no. 14 tahun 1969 tentang ketentuan pokok tenaga kerja
  • UU no. 1 tahun 1970 tentang keselamatan kerja
  • UU no. 23 tahun 1992 tentang kesehatan
  • UU no. 3 tahun 1992 tentang jaminan sosial tenaga kerja
  • Beberapa keputusan bersama antara Departemen Kesehatan dengan Departemen lain yang berkaitan dengan kesehatan dan keselamatan kerja
  • PP no. 32 tahun 1996 tentang tenaga kesehatan
  • Keputusan Presiden no. 22 tahun 1993 tentang penyakit yang timbul karena hubungan kerja
  • Permenkes RI no. 986/ 1992 dan Keputusan Dirjen P2M-PL no. HK 00.06.44 dan no. 00.06.6.598 mengenai beberapa Aspek Persyaratan Lingkungan Rumah Sakit
  • SK Menkes no. 43 tahun 1998 tentang cara pembuatan obat yang baik (CPOB)
  • Konvensi no. 155/ 1981, ILO menetapkan kewajiban setiap negara untuk merumuskan, melaksanakan dan mengevaluasi kebijaksanaan nasionalnya di bidang kesehatan dan keselamatan kerja serta lingkungannya

 

Promosi kesehatan di tempat kerja merupakan komponen kegiatan pelayanan pemeliharaan/ perlindungan kesehatan pekerja dari suatu pelayanan kesehatan pekerja.

 

Sangat disayangkan bahwa dalam beberapa hal promosi kesehatan di tempat kerja dikembangkan sebagai kegiatan yang terpisah dari pelayanan kesehatan kerja. Hal ini selain membuang sumber daya, juga tidak efektif dalam kemajuan program promosi kesehatan di tempat kerja.

 

Promosi kesehatan di tempat kerja diselenggarakan berdasarkan suatu kerangka konsep yang dibangun melalui beberapa kunci seperti : pendekatan (approach), strategi, area prioritas, faktor yang mempengaruhi, dan lain-lain.

 

Tujuan promosi kesehatan ditempat kerja adalah untuk mempengaruhi sikap masing-masing pekerja mengenai kesehatannya secara individu, sehingga dari hari ke hari mereka akan menentukan keputusan atas pilihannya secara personal, menuju gaya hidup yang sehat dan lebih positif.

 

Tujuan secara khusus adalah:

  • Mempengaruhi pekerja untuk menerima dan memelihara gaya hidup yang sehat dan positif
  • Mempengaruhi pekerja untuk menerima dan memelihara kebiasaan makan makanan dengan kandungan gizi yang optimal
  • Mempengaruhi pekerja untuk berhenti merokok
  • Mempengaruhi pekerja untuk mengurangi/ menghentikan penyalahgunaan obat dan alkohol
  • Membantu pekerja untuk terbiasa mengatasi stress yang dialami dalam kehidupannya
  • Mengajarkan pekerja mengenai kemampuan P3K dan CPR
  • Mengajarkan pekerja mengenai penyakit umum dan penyakit yang berhubungan dengan pekerjaannya serta bagaimana mencegah serta meminimalisasi akibatnya
  • Mengadakan penilaian menyeluruh secara medis

 

 

4.6.2  Kolega dan Karyawan Diperlakukan Secara Wajar dan Profesional

 

Prinsip keadilan perlu diterapkan dalam hubungan yang profesional antara kolega dan karyawan. Tidak ada diskriminasi yang dilakukan sehubungan dengan masalah suku, agama, ras atau yang dikenal dengan SARA.

 

Selain itu tidak diberlakukan sistem favoritisme (anak emas) dalam hubungan profesional di kantor. Dengan demikian akan tercipta suasana kerja yang harmonis dan menyenangkan sebagai tempat berkarya.

 

 

 

4.6.3 Pelayanan atau Produk bagi Kolega, Klien dan Karyawan Dilakukan Sesuai Prosedur

 

Layanan yang diberikan kepada pelanggan dan karyawan dilakukan sesuai dengan norma dan aturan yang berlaku. Layanan yang diberikan haruslah bersifat profesional.

 

Seringkali kita mendengar bahwa bagi beberapa perusahaan, terutama perusahaan yang  menitikberatkan pada masalah marketing, dilakukan beberapa hal yang di luar jalur profesional, seperti merayu pelanggan, menjatuhkan imeh perusahaan lain, dan cara-cara curang lainnya. Layanan yang seperti itu sebenarnya justru akan menjatuhkan perusahaan itu sendiri, karena perusahaan telah kehilangan nilai (value) yang menjadi inti dari mereka sendiri.

 

4.6.4  Keterampilan profesional dan pengetahuan Diperbaharui Secara Terus Menerus

 

Pekerja adalah aset yang sanga berharga bagi perusahaan. Karena itu perusahaan seharusnya menerapkan sistem knowledge management, dimana pengetahuan dari para pekerja di himpun dan disimpan dalam sebuah sistem yang menjadi aset perusahaan.

 

Peningkatan keterampilan profesional dan pengetahuan perlu ditingkatkan secara berkesinambungan. Peningkatan keahlian bisa dilakukan melalui pelatihan, seminar, kursus, hingga pengiriman pekerja untuk melakukan studi banding dengan perusahaan lain.

 

BAB V

SUMBER-SUMBER YANG DIPERLUKAN UNTUK

PENCAPAIAN KOMPETENSI

 

 

5.1 Sumber Daya Manusia

Dalam proses pencapaian kompetensi sumber yang dapat diandalkan adalah sumber daya manusia. Sumber daya manusia yang dimaksud disiini adalah orang-orang yang dapat mendukung proses pencapaian kompetensi yang dimaksud, antara lain:

 

  • Pembimbing

Pembimbing Anda merupakan orang yang dapat diandalkan karena beliau memiliki pengalaman. Peran Pembimbing adalah untuk :

  1. Membantu Anda untuk merencanakan proses belajar.
  2. Membimbing Anda melalui tugas-tugas pelatihan yang dijelaskan dalam tahap belajar.
  3. Membantu Anda untuk memahami konsep dan praktik baru dan untuk menjawab pertanyaan Anda mengenai proses belajar Anda.
  4. Membantu Anda untuk menentukan dan mengakses sumber tambahan lain yang Anda perlukan untuk belajar Anda.
  5. Mengorganisir kegiatan belajar kelompok jika diperlukan.
  6. Merencanakan seorang ahli dari tempat kerja untuk membantu jika diperlukan.

 

  • Penilai

Penilai Anda melaksanakan program pelatihan terstruktur untuk penilaian di tempat kerja. Penilai akan :

  1. Melaksanakan penilaian apabila Anda telah siap dan merencanakan proses belajar dan penilaian selanjutnya dengan Anda.
  2. Menjelaskan kepada Anda mengenai bagian yang perlu untuk diperbaiki dan merundingkan rencana pelatihan selanjutnya dengan Anda.
  3. Mencatat pencapaian / perolehan Anda.

 

  • Teman kerja/sesama peserta pelatihan

Teman kerja Anda/sesama peserta pelatihan juga merupakan sumber dukungan dan bantuan. Anda juga dapat mendiskusikan proses belajar dengan mereka. Pendekatan ini akan menjadi suatu yang berharga dalam membangun semangat tim dalam lingkungan belajar/kerja Anda dan dapat meningkatkan pengalaman belajar Anda.

 

5.2 Literatur

Pengertian sumber-sumber kepustakaan adalah material yang menjadi pendukung proses pembelajaran ketika peserta pelatihan sedang menggunakan Pedoman Belajar ini.

 

Sumber-sumber tersebut dapat meliputi:

1.   Buku referensi (text book)

2.   Lembar kerja

3.   Diagram-diagram, gambar

4.   Contoh tugas kerja

5.   Rekaman dalam bentuk kaset, video, film dan lain-lain.

 

Ada beberapa sumber yang disebutkan dalam pedoman belajar ini untuk membantu peserta pelatihan mencapai unjuk kerja yang tercakup pada suatu unit kompetensi. Prinsip-prinsip dalam CBT mendorong kefleksibilitasan dari penggunaan sumber-sumber yang terbaik dalam suatu unit kompetensi tertentu, dengan mengijinkan peserta untuk menggunakan sumber-sumber alternatif lain yang lebih baik atau jika ternyata sumber-sumber yang direkomendasikan dalam pedoman belajar ini tidak tersedia/tidak ada.

 

Untuk referensi mengenai materi-materi yang dapat digunakan, Anda dapat melihat dari Daftar Pustaka yang terlampir dihalaman terakhir modul ini.

 

 

5.3 Daftar Peralatan dan Bahan

 

  1. Judul/Nama Pelatihan      :   Menjaga Etika
    1. Kode Program Pelatihan  :   TIK.PR01.016.01

 

NO

UNIT

KOMPETENSI

KODE UNIT

DAFTAR PERALATAN DAFTAR BAHAN

KETERANGAN

1.

Menjaga Etika

TIK.PR01.016.01

Buku tentang etika dan pedoman tata cara berorganisasi Satu paket buku etika, tata cara organisasi, dasar hukum perlindungan terhadap keselamatan dan kesehatan pekerja Aplikasi tambahan (buku etika, organisasi, dasar hukum perlindungan pekerja) bersifat optional.

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

 

Testimoni

artikel lainnya Menjaga Etika TIK.PR01.016.01

Thursday 9 April 2015 | blog

  MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR TELEMATIKA SUB SEKTOR OPERATOR KOMPUTER       MENGOPERASIKAN PIRANTI…

Monday 22 June 2015 | blog

  MODUL PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SUB BIDANG METODOLOGI PELATIHAN KERJA            …

Thursday 16 July 2015 | blog

  MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI           MERUMUSKAN…

Tuesday 24 September 2013 | blog

Dalam halaman ini kami akan berbagi buku yang sangat bagus dan penting, yaitu buku html 5, …