Menu
Pasang iklan SEO disini Murah, 25000 setahun dan dapatkan Trafik setiap harinya

Mengkoordinasikan Dan Memelihara Kerjasama Tim TIK.PR01.015.01

May
27
2015
by : Bupeko. Posted in : blog

 

MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI

SEKTOR TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI

 

 

 

 

 

MENGKOORDINASIKAN DAN MEMELIHARA KERJASAMA TIM

TIK.PR01.015.01

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BUKU INFORMASI

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DEPARTEMEN TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI R.I.

DIREKTORAT JENDERAL PEMBINAAN PELATIHAN DAN PRODUKTIVITAS

Jl. Jend. Gatot Subroto Kav.51 Lt.7.B Jakarta Selatan

 

 

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI. 2

BAB I. 3

PENGANTAR. 3

1.1       Konsep Dasar Competency Based Training (CBT) 3

1.2       Penjelasan Modul 3

1.2.1  Desain Modul 3

1.2.2  Isi Modul 3

1.2.3  Pelaksanaan Modul 4

1.3      Pengakuan Kompetensi Terkini (RCC) 4

1.4       Pengertian-Pengertian / Istilah. 5

BAB II. 7

STANDAR KOMPETENSI. 7

2.1      Peta Paket Pelatihan. 7

2.2      Pengertian Unit Standar Kompetensi 7

2.3      Unit Kompetensi Yang Dipelajari 7

2.3.1 Judul Unit Kompetensi 8

2.3.2 ……………………………………………………………………. Kode Unit Kompetensi 8

2.3.3 Deskripsi Unit 8

2.3.4 Elemen Kompetensi 8

2.3.5 Batasan Variabel 9

2.3.6 Panduan Penilaian. 9

2.3.7 Kompetensi Kunci 11

BAB III. 12

STRATEGI DAN METODE PELATIHAN. 12

3.1       Strategi Pelatihan. 12

3.2       Metode Pelatihan. 13

BAB IV. 14

MATERI UNIT KOMPETENSI. 14

4.1      Tujuan Instruksional Umum.. 14

4.2       Tujuan Instruksional Khusus 14

4.3      Uraian Singkat Materi : 14

4.4      Beberapa Pengertian dalam Unit Kompetensi Ini : 14

4.5      Informasi masing-masing elemen kompetensi 14

4.5.1 Menetapkan, mengembangkan dan memperbaiki tim.. 15

4.5.2  Mengkoordinasikan tim.. 22

4.5.3 Mendelegasikan responsibilitas dan otoritas 33

BAB V. 35

SUMBER-SUMBER YANG DIPERLUKAN UNTUK PENCAPAIAN                          KOMPETENSI  35

5.1      Sumber Daya Manusia. 35

5.2       Sumber-sumber Kepustakaan ( Buku Informasi ) 35

5.3       Daftar Peralatan dan Bahan yang digunakan. 36

DAFTAR PUSTAKA. 37

BAB I

PENGANTAR

 

1.1     Konsep Dasar Competency Based Training (CBT)

  • Apakah pelatihan berdasarkan kompetensi?

Pelatihan berdasarkan kompetensi adalah pelatihan yang memperhatikan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang diperlukan di tempat kerja agar dapat melakukan pekerjaan dengan kompeten. Standar Kompetensi dijelaskan oleh Kriteria Unjuk Kerja.

 

  • Apakah artinya menjadi kompeten ditempat kerja?

 

Jika anda kompeten dalam pekerjaan tertentu, anda memiliki seluruh keterampilan, pengetahuan dan sikap yang perlu untuk ditampilkan secara efektif ditempat kerja, sesuai dengan standar yang telah disetujui.

 

1.2     Penjelasan Modul

1.2.1  Desain Modul

Modul ini didesain untuk dapat digunakan pada Pelatihan Klasikal dan Pelatihan Individual / mandiri :

  • Pelatihan klasikal adalah pelatihan yang disampaiakan oleh seorang pelatih.
  • Pelatihan individual / mandiri adalah pelatihan yang dilaksanakan oleh peserta dengan menambahkan unsur-unsur / sumber-sumber yang diperlukan dengan bantuan dari pelatih.

 

 

1.2.2  Isi Modul

Buku Informasi

Buku informasi ini adalah sumber pelatihan untuk pelatih maupun peserta pelatihan.

 

Buku Kerja

Buku kerja ini harus digunakan oleh peserta pelatihan untuk mencatat setiap pertanyaan dan kegiatan praktek baik dalam Pelatihan Klasikal maupun Pelatihan Individual / mandiri.

Buku ini diberikan kepada peserta pelatihan dan berisi :

  • Kegiatan-kegiatan yang akan membantu peserta pelatihan untuk mempelajari dan memahami informasi.
  • Kegiatan pemeriksaan yang digunakan untuk memonitor pencapaian keterampilan peserta pelatihan.
  • Kegiatan penilaian untuk menilai kemampuan peserta pelatihan dalam melaksanakan praktik kerja.

 

Buku Penilaian

Buku penilaian ini digunakan oleh pelatih untuk menilai jawaban dan tanggapan peserta pelatihan pada Buku Kerja dan berisi:

  • Kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh peserta pelatihan sebagai pernyataan keterampilan.
  • Metode-metode yang disarankan dalam proses penilaian keterampilan peserta pelatihan.
  • Sumber-sumber yang digunakan oleh peserta pelatihan untuk mencapai keterampilan.
  • Semua jawaban pada setiap pertanyaan yang diisikan pada Buku Kerja.
  • Petunjuk bagi pelatih untuk menilai setiap kegiatan praktik.
  • Catatan pencapaian keterampilan peserta pelatihan.

 

1.2.3  Pelaksanaan Modul

Pada pelatihan klasikal, pelatih akan :

  • Menyediakan Buku Informasi yang dapat digunakan peserta pelatihan sebagai sumber pelatihan.
  • Menyediakan salinan Buku Kerja kepada setiap peserta pelatihan.
  • Menggunakan Buku Informasi sebagai sumber utama dalam penyelenggaraan pelatihan.
  • Memastikan setiap peserta pelatihan memberikan jawaban / tanggapan dan menuliskan hasil tugas praktiknya pada Buku Kerja.

 

Pada Pelatihan individual / mandiri, peserta pelatihan akan :

  • Menggunakan Buku Informasi sebagai sumber utama pelatihan.
  • Menyelesaikan setiap kegiatan yang terdapat pada buku Kerja.
  • Memberikan jawaban pada Buku Kerja.
  • Mengisikan hasil tugas praktik pada Buku Kerja.
  • Memiliki tanggapan-tanggapan dan hasil penilaian oleh pelatih.

 

1.3     Pengakuan Kompetensi Terkini (RCC)

  • Apakah Pengakuan Kompetensi Terkini (Recognition of Current Competency)?

Jika anda telah memiliki pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk elemen unit kompetensi tertentu, anda dapat mengajukan pengakuan kompetensi terkini (RCC). Berarti anda tidak akan dipersyaratkan untuk belajar kembali.

 

  • Anda mungkin sudah memiliki pengetahuan dan keterampilan, karena anda telah:
  1. Bekerja dalam suatu pekerjaan yang memerlukan suatu pengetahuan dan keterampilan yang sama atau
  2. Berpartisipasi dalam pelatihan yang mempelajari kompetensi yang sama atau
  3. Mempunyai pengalaman lainnya yang mengajarkan pengetahuan dan keterampilan yang sama.

 

1.4     Pengertian-Pengertian / Istilah

Berikut adalah pengertian dari beberapa istilah yang digunakan dalam Pelatihan Berbasis Kompetensi, antara lain:

 

Profesi

Profesi adalah suatu bidang pekerjaan yang menuntut sikap, pengetahuan serta keterampilan/keahlian kerja tertentu yang diperoleh dari proses pendidikan, pelatihan serta pengalaman kerja atau penguasaan sekumpulan kompetensi tertentu yang dituntut oleh suatu pekerjaan/jabatan.

 

Standardisasi

Standardisasi adalah proses merumuskan, menetapkan serta menerapkan suatu standar tertentu.

 

Penilaian / Uji Kompetensi

Penilaian atau Uji Kompetensi adalah proses pengumpulan bukti melalui perencanaan, pelaksanaan dan peninjauan ulang (review) penilaian serta keputusan mengenai apakah kompetensi sudah tercapai dengan membandingkan bukti-bukti yang dikumpulkan terhadap standar yang dipersyaratkan.

 

Pelatihan

Pelatihan adalah proses pembelajaran yang dilaksanakan untuk mencapai suatu kompetensi tertentu dimana materi, metode dan fasilitas pelatihan serta lingkungan belajar yang ada terfokus kepada pencapaian unjuk kerja pada kompetensi yang dipelajari.

 

Kompetensi Kerja

Kompetensi  Kerja adalah kemampuan kerja setiap individu  yang mencakup aspek  pengetahuan ,  keterampilan dan sikap kerja  yang sesuai dengan standar yang ditetapkan

 

Pelatihan Berbasis Kompetensi Kerja

Pelatihan Berbasisi Kompetensi Kerja adalah  pelatihan kerja yang menitikberatkan pada penguasaan kemampuan kerja yang mencakup pengetahuan, keterampilan dan sikap sesuai dengan standar yang ditetapkan dan persyaratan di tempat kerja.

 

Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia

Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia adalah rumusan kemampuan kerja yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan dan / atau keahlian serta sikap kerja yang relevan dengan pelksanaan tugas dan syarat jabatan yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

 

Sertifikasi Kompetensi Kerja.

Sertifikasi kompetensi Kerja adalah proses pemberian sertifikat kompetensi yang dilakukan secara sitematis dan obyektif melalui uji kompetensi sesuai standar kompetensi kerja nasional Indonesia, standar internasional dan /atau standar khusus.

 

Sertifikat Kompetensi Kerja

Sertifikat Kompetensi Kerja adalah bukti tertulis yang diterbitkan oleh lembaga sertifikasi profesi terakreditasi yang menerangkan bahwa seseorang telah menguasai kompetensi kerja tertentu sesuai dengan SKKNI.

 

 


BAB II

STANDAR KOMPETENSI

 

2.1     Peta Paket Pelatihan

Modul yang sedang Anda pelajari ini bertujuan untuk mencapai satu unit kompetensi. Adapun kompetensi ini termasuk dalam satu paket pelatihan, yang terdiri atas unit-unit kompetensi berikut:

  1. a.     TIK.PR01.015.01  Mengkoordinasikan dan Memelihara Kerjasama Tim

 

2.2     Pengertian Unit Standar Kompetensi

Apakah Standar Kompetensi?

Setiap Standar Kompetensi menentukan :

  1. Pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk mencapai kompetensi.
  2.    Standar yang diperlukan untuk mendemonstrasikan kompetensi.
  3.    Kondisi dimana kompetensi dicapai.

 

Apakah yang akan anda pelajari dari Unit Kompetensi ini ?

Di dalam unit kompetensi ini, Anda akan mempelajari sistem informasi manajemen.

 

Berapa lama unit kompetensi ini dapat diselesaikan ?

Sistem pelatihan berbasis kompetensi terfokus pada pencapaian kompetensi, bukan pada lamanya waktu. Namun, diharapkan pelatihan ini dapat dilaksanakan dan dicapai dalam jangka waktu tidak lebih dari seminggu, tiga sampai lima hari. Pelatihan ini diperuntukkan khusus bagi para pemimpin, walaupun tidak menutup kemungkinan bagi semua orang yang terlibat dalam kelompok kerja.

 

Berapa banyak/kesempatan yang anda miliki untuk mencapai kompetensi ?

Jika Anda belum mencapai kompetensi pada usaha/kesempatan pertama, Pelatih Anda akan mengatur rencana pelatihan dengan Anda. Rencana ini akan memberikan Anda kesempatan kembali untuk meningkatkan level kompetensi Anda sesuai dengan level yang diperlukan. Jumlah maksimum usaha/kesempatan yang disarankan adalah 3 (tiga) kali.

 

2.3     Unit Kompetensi Yang Dipelajari

Dalam sistem pelatihan Standar Kompetensi diharapkan menjadi panduan bagi peserta pelatihan untuk dapat :

  1. Mengidentifikasikan apa yang harus dikerjakan peserta pelatihan.
  2. Memeriksa kemajuan peserta pelatihan.
    1. Menyakinkan bahwa semua elemen (sub-kompetensi) dan kriteria unjuk kerja telah dimasukkan dalam pelatihan dan penilaian.

2.3.1 Judul Unit Kompetensi

Judul Unit : Mengkoordinasikan dan Memelihara Kerjasama Tim

2.3.2 Kode Unit Kompetensi

Kode Unit : TIK.PR01.015.01

2.3.3 Deskripsi Unit

Unit ini akan menentukan kompetensi yang diperlukan untuk   menerapkan data Warehouse .

2.3.4 Elemen Kompetensi

ELEMEN KOMPETENSI

KRITERIA UNJUK KERJA

01  Menetapkan, mengembangkan dan memperbaiki tim 1.1     Standar untuk kerja tim dikembangkan secara jelas, akurat dan relevan sesuai tujuan yang diharapkan

 

1.2     Tujuan untuk merefleksikan  budaya organisasi dan standar-standar unjuk kerja dirancang

 

1.3     Tujuan secara berkala dibandingkan dengan pelayanan ditinjau

 

1.4     Pendekatan kerjasama dilakukan pada anggota tim

 

1.5     Masukan dari anggota tim dicatat

 

02 Mengkoordinasikan tim 2.1    Ditetapkan bahwa pekerjaan harus diselesaikan sesuai rencana

 

2.2    Tugas-tugas tim dikonsultasikan dengan anggota tim untuk menjamin operasi tim yang efektif dan digunakannya sumber daya yang efisien

 

2.3    Tim dimotivasi untuk mencapai standar sesuai kebutuhan klien

 

2.4    Suatu umpan balik bagi tim sehubungan dengan prestasi dari unjuk kerja atau standar pelayanan  yang disetujui disediakan

 

2.5    Umpan balik diberikan anggota tim agar mencapai suatu prestasi unjuk kerja sesuai standar pelayanan

 

03 Mendelegasikan responsibilitas dan otoritas 3.1 Tanggungjawab dan batasan tim dan individu ditetapkan dengan jelas dalam prosedur organisasi

 

3.2 Tanggungjawab yang harus dijalankan didelegasikan dengan jelas

 

3.3 Kebijakan, perencanaan, masalah dan solusinya dikomunikasikan dengan jelas dan singkat pada tim

 

Tabel 1 Elemen Kompetensi

2.3.5 Batasan Variabel

1.  Unit ini berlaku untuk seluruh sektor teknologi informasi dan komunikasi

2.    Bekerja secara efektif dalam lingkungan teknologi bersifat internal pada bidang teknologi informasi dan komunikasi

 

2.3.6 Panduan Penilaian

Panduan penilaian terdiri dari:

 

1.       Pengetahuan dan Ketrampilan Penunjang

Pengetahuan dan keterampilan penunjang untuk mendemontrasikan kompetensi, memerlukan bukti keterampilan dan pengetahuan dibidang berikut ini :

 

1.1      Pengetahuan dasar :

1.1.1   Pengetahuan persyaratan kesehatan dan keselamatan kerja dalam hubungannya dengan bekerja dengan aman, faktor-faktor lingkungan       dan pertimbangan ergonomis

1.1.2              Pengetahuan teoritis dari metodologi pengembangan sistim industri

1.1.3   Praktek bisnis saat ini dalam hubungannya dengan mempersiapkan laporan

1.1.4   Komponen-komponen dari proses perencanaan bisnis untuk pengembangan bidang teknologi informasi

1.1.5              Fitur-fitur dan kemampuan produk-produk hardware dan software

1.1.6              Pengetahuan yang luas dasar dari arah produk vendor

1.1.7              Pengetahuan umum domain bisnis klien

1.1.8   Pengetahuan dasar dari quality assurance

1.1.9   Pengetahuan dasar dari teknik-teknik pengumpulan informasi

1.1.10  Pengetahuan umum dari perubahan pengelolaan sistim

 

1.2     Substansi didalam keahlian ini :

1.2.1  Keterampilan memimpin

1.2.2  Keterampilan merencanakan proyek sesuai dengan lingkup, waktu, biaya, kualitas, komunikasi

1.2.3  Keterampilan memecahkan masalah-masalah yang tidak dapat         diprediksi

1.2.4    Partisipasi dalam perkembangan strategi tim

1.2.5    Keterampilan membaca dalambahasa asing/Inggris dan komunikasi sehubungan dengan analisis, evaluasi dan presentasi informasi

1.2.6    Kontribusi tim pada solusi dan tujuan tim

 

2.       Konteks penilaian

Kompetensi harus diujikan di tempat kerja atau di tempat lain secara teori

 

3.       Aspek penting penilaian

Aspek yang harus diperhatikan

3.1   Kemampuan mengkoordinasi tim untuk menyelesaikan suatu pekerjaan

3.2   Kemampuan menyediakan umpan balik bagi tim sehubungan dengan unjuk kerja atau standar pelayanan yang disetujui

 

4.       Kaitan dengan unit-unit lainnya

4.1   Unit ini didukung oleh pengetahuan dan keterampilan dalam unit kompetensi yang berkaitan dengan :

4.1.1    TIK.PR01.003.01 Merencanakan dan mengorganisasikan                        kerja individu

4.1.2    TIK.PR02.014.01 Melakukan pekerjaan secara efektif                   dalam lingkungan teknologi informasi

4.1.3    TIK.PR02.017.01 Menerapkan keterampilan di dalam                   manajemen waktu lanjut

 

Pengembangan pelatihan untuk memenuhi persyaratan dalam unit ini perlu dilakukan dengan hati-hati. Untuk pelatihan pra kejuruan umum, institusi harus menyediakan pelatihan yang Mempertimbangkan serangkaian konteks industri seutuhnya tanpa bias terhadap sekor tertentu. Batasan variable akan membantu dalam hal ini. Untuk sektor tertentu/khusus, pelatihan harus disesuaikan untuk memenuhi kebutuhan sektor tersebut

 

2.3.7 Kompetensi Kunci

Kompetensi kunci dalam bahasan ini dapat dilihat dalam tabel di bawah ini.

 

NO KOMPETENSI KUNCI DALAM UNIT INI

TINGKAT

1 Mengumpulkan, mengorganisir dan menganalisa informasi

3

2 Mengkomunikasikan ide-ide dan informasi

3

3 Merencanakan dan mengorganisir aktivitas-aktivitas

3

4 Bekerja dengan orang lain dan kelompok

2

5 Menggunakan ide-ide dan teknik matematika

1

6 Memecahkan masalah

3

7 Menggunakan teknologi

3

Tabel 2 Kompetensi Kunci

BAB III

STRATEGI DAN METODE PELATIHAN

 

3.1     Strategi Pelatihan

Belajar dalam suatu Sistem Berbasis Kompetensi berbeda dengan yang sedang “diajarkan” di kelas oleh Pelatih. Pada sistem ini Anda akan bertanggung jawab terhadap belajar Anda sendiri, artinya bahwa Anda perlu merencanakan belajar Anda dengan Pelatih dan kemudian melakukan praktek sesuai dengan rencana yang telah dibuat.

 

Persiapan/perencanaan

  1. Membaca bahan/materi yang telah diidentifikasi dalam setiap tahap belajar dengan tujuan mendapatkan tinjauan umum mengenai isi proses belajar Anda.
  2. Membuat catatan terhadap apa yang telah dibaca.
  3. Memikirkan bagaimana pengetahuan baru yang diperoleh berhubungan dengan pengetahuan dan pengalaman yang telah Anda miliki.
  4. Merencanakan aplikasi praktik pengetahuan dan keterampilan Anda.

 

Permulaan dari proses pembelajaran

  1. Mencoba mengerjakan seluruh pertanyaan dan tugas praktik yang terdapat pada tahap belajar.
  2. Merevisi dan meninjau materi belajar agar dapat menggabungkan pengetahuan Anda.

 

Pengamatan terhadap tugas praktik

  1. Mengamati keterampilan praktik yang didemonstrasikan oleh Pelatih atau orang yang telah berpengalaman lainnya.
  2. Mengajukan pertanyaan kepada Pelatih tentang konsep sulit yang Anda temukan.

 

Implementasi

  1. Menerapkan pelatihan kerja yang aman.
  2. Mengamati indikator kemajuan personal melalui kegiatan praktik.
  3. Mempraktikkan keterampilan baru yang telah Anda peroleh.

 

        Penilaian

Melaksanakan tugas penilaian untuk penyelesaian belajar Anda.

 

3.2     Metode Pelatihan

Terdapat tiga prinsip metode belajar yang dapat digunakan. Dalam beberapa kasus, kombinasi metode belajar mungkin dapat digunakan.

 

Belajar secara mandiri

Belajar secara mandiri membolehkan Anda untuk belajar secara individual, sesuai dengan kecepatan belajarnya masing-masing. Meskipun proses belajar dilaksanakan secara bebas, Anda disarankan untuk menemui Pelatih setiap saat untuk mengkonfirmasikan kemajuan dan mengatasi kesulitan belajar.

 

Belajar Berkelompok

Belajar berkelompok memungkinkan peserta untuk dating bersama secara teratur dan berpartisipasi dalam sesi belajar berkelompok. Walaupun proses belajar memiliki prinsip sesuai dengan kecepatan belajar masing-masing, sesi kelompok memberikan interaksi antar peserta, Pelatih dan pakar/ahli dari tempat kerja.

 

Belajar terstruktur

Belajar terstruktur meliputi sesi pertemuan kelas secara formal yang dilaksanakan oleh Pelatih atau ahli lainnya. Sesi belajar ini umumnya mencakup topik tertentu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


BAB IV

MATERI UNIT KOMPETENSI

MENGKOORDINASIKAN DAN MEMELIHARA KERJASAMA TIM

 

4.1     Tujuan Instruksional Umum

  • Siswa mampu menerapkan dasar-dasar kepemimpinan dalam sebuah tim.
  • Siswa mampu mengkoordinasikan tim dan mendelegasikan tugas
  • Siswa mampu mengkomunikasikan kebijakan dari tim

 

4.2     Tujuan Instruksional Khusus

  • Siswa mengetahui teori kepemimpinan.
  • Siswa mampu menerapkan teori kepemimpinan.
  • Siwa mampu menerapkan teori motivasi.
  • Siswa mengetahui dasark-dasar komunikasi dalam tim.
  • Siswa mengetahui cara mengembangkan tim .

 

4.3     Uraian Singkat Materi :

Tim merupakan sekelompok orang yang bekerja bersama dan saling membantu untuk mencapai tujuan kelompok. Tim kerja merupakan sekelompok orang yang mempunyai tujuan bersama. Meskipun pada kenyataannya apa yang dilakukan oleh setiap anggota dapat berbeda tetapi ada suatu tujuan bersama yang ingin diwujudkan oleh setiap anggotanya, yaitu tujuan kelompok.

 

4.4     Beberapa Pengertian dalam Unit Kompetensi Ini :

 

Beberapa pengertian yang dipergunakan di dalam unit kompetensi ini, yaitu :

  1. Tim, adalah sekelompok orang yang bekerja bersama dan saling membantu untuk mencapai tujuan kelompok.
  2. Pemimpin, adalah orang yang memiliki visi dan misi yang kuat untuk mengatur dan mengarahkan anggota kelompok untuk mencapai tujuan kelompok.
  3. Motivasi, adalah kekuatan pendorong untuk mencapai tujuan.

 

4.5     Informasi masing-masing elemen kompetensi

 

4.5.1 Menetapkan, mengembangkan dan memperbaiki tim

1)  Pengetahuan kerja

 

Membentuk Tim

Pemimpin  tanpa memiliki visi yang jelas bagaikan seorang nahkoda kapal tanpa kompas. Ia tidak akan pernah tahu, ke mana kapal yang akan dibawanya itu berlabuh. Konsekuensinya, seluruh penumpang kapal tinggal menunggu, kapan kapal tersebut akan tenggelam.

 

Pemimpin yang tidak memiliki visi yang jelas akan membawa anggota kelompoknya menuju ke pintu kematian, karena pada dasarnya pemimpin adalah penunjuk arah ke mana anggota kelompoknya akan berjalan. Maka, sungguh suatu kemalangan ketika pemimpin tidak berhasil menjelaskan visi-misinya kepada anggota kelompoknya.

 

Seorang pemimpin harus memiliki kejelasan tentang visi-misinya, karena ia akan membawa seluruh orang yang dipimpinnya menuju suatu titik akhir yang dikehendaki. Semakin jelas visi dan misi yang dimiliki oleh seorang pemimpin, maka dalam mengambil keputusan ia memiliki dasar dan pijakan yang kuat.

 

Namun ketika visi dan misi seorang pemimpin tidak jelas bahkan kabur, apa yang terjadi ketika ia membuat keputusan, dasarnya adalah hal-hal yang subjektif, hanya untuk kepentingan dirinya. Pemimpin yang demikian ini cepat atau lambat akan ditinggalkan oleh orang-orang sekitarnya. Oleh sebabitu, visi-misi seorang pemimpin harus mengacu ke visi-misi kelompok, karena pada dasarnya visi-misi kelompok yang akan menjadi acuanvisi-misis seorang pemimpin.

 

Tugas seorang pemimpin adalah bagaimana ia dapat menerjemahkan visi-misi kelompok sehingga jelas diterima oleh anggota kelompoknya. Di samping itu, seorang pemimpin harus mampu menjaga, mengamankan, dan menjalankan visi-misi organisasi bersama dengan anggota kelompoknya. Pemimpin tidak akan efektif apabila hanya sendiri yang dapat menjalankan visi-misi kelompok tersebut.

 

Visi dan misi kelompok bukanlah sesuatu yang abadi, artinya di sana-sini masih terbuka kesempatan untuk dilakukan perubaha. Kapan visi dan misi perlu diubah? Ketika sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman atau tuntutan yang ada. Oleh sebab itu, visi dan misi selalu harus disesuaikan dengan relevansinya terhadap kondisi dan keadaan terkini.

 

Tujuan Tim

Tim kerja merupakan sekelompok orang yang mempunyai tujuan bersama. Meskipun pada kenyataannya apa yang dilakukan oleh setiap anggota dapat berbeda tetapi ada suatu tujuan bersama yang ingin diwujudkan oleh setiap anggotanya, yaitu tujuan kelompok. Mungkin akan terjadi ketidaksamaan persepsi antara tujuan kelompok dengan tujuan anggota kelompok. Apabila ketidaksamaan persepsi ini “dibesar-besarkan”, hal ini akan menimbulkan konflik di antara sesama anggota kelompok.

 

Tim kerja merupakan sekelompok orang yang mempunyai identitas sama pada masing-masing anggota kelompok tersebut, sehingga identitas pribadi masing-masing anggota kelompok sudah lebur ke dalam identitas kelompok.

 

Tim kerja merupakan sekelompok orang yang mempunyai fungsi-fungsi saling ketergantungan (interdependent). Artinya, fungsi tersebut semakin berkembang dengan maksimal ketika ada interaksi, kerja sama, saling mendukung, dan saling membantu, meskipun tentu saja ada perbedaan fungsi pada masing-masing anggota kelompok.

 

Tim kerja merupakan sekelompok orang yang terikat dengan norma, aturan, sistem nilai yang telah disetujui bersama. Tanpa adanya nilai atau norma bersama maka dalam kehidupan kelompok akan muncul salah interpretasi. Pada akhirnya, hal ini dapat pula bermuara menjadi konflik atau rasa saling tidak percaya.

 

Tim kerja merupakan bersatunya sekelompok orang yang mempunyai sikap, karakter, keterampilan, pandangan hidup, perilaku yang saling berbeda. Justru karena perbedaan itu kelompok kerja dapat berkembang dengan baik karena masing-masing anggota kelompok sepakat untuk tidak menonjolkan perbedaan tersebut.

 

Berdasarkan pada definisi tersebut, dapat diambil benang merah yang tegas bahwa adanya tujuan bersama, identitas kelompok, saling ketergantunga, dan nilai/norma bersama.

 

Peninjauan Tujuan dan Pelaksanaan

Evaluasi perlu dilakukan untuk memastikan bahwa pelaksanaan dari tugas-tugas yang didelegasikan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai oleh seluruh anggota kelompok.

   

Pendekatan Kerjasama

Pendekatan Kerjasama penting untuk dilakukan untuk menyelaraskan tugas dalam kelompok. Pendekatan yang dilakukan memerlukan komunikasi yang baik dari pemimpin untuk mengkomunikasikan tujuan kelompok.

 

Keterampilan seorang pemimpin dalam melakukan komunikasi dengan anggota kelompoknya merupakan faktor yang sangat penting. Melalui komunikasi yang dilakukan seorang pemimpin mampu untuk mengekspresikan apa yang dikehendaki, apa yang diinginkan, dan apa yang diharapkan untuk dilakukan oleh anggota kelompoknya.

 

Menerima Masukan

Masukan yang diberikan anggota lain maupun dari pihak lain dapat berupa teguran atas apa yang dilakukan. Teguran dikatakan efektif apabila ada perubahan sikap atau perilaku dari yang menerima teguran tersebut. Pemimpin yang efektif harus tahu bagaimana ia memberikan teguran secara efektif

 

Bukan sekadar teguran tetapi teguran yang mampu membuat orang yang ditegur merasa dikembangkan. Teguran yang efektif adalah ketika mampu memberikan solusi bagi yang ditegurnya.

 

Di sinilah seorang pemimpin harus mempunyai pemahaman yang helas mengenai makna dari teguran.

 

Sering kali teguran oleh seorang pemimpin hanya sebagai ungkapan kemarahan dan tidak ada alasan yang kuat mengapa ia melakukan itu. Akibatnya, acapkali teguran hanya akan menimbulkan luka batin bagi orang yang menerimanya.

 

Mengapa? Orang yang ditegur hanya akan merasakan bahwa dirinya merupakan “tempah sampah” bagi pemimpinnya. Teguran akan menjadi efektif ketika yang memberikan teguran dengan pasti sudah mengerti mengapa ia memberikan teguran dan apa yang akan dijadikan bahan peneguran.

 

Oleh sebab itu, seorang pemimpin sebelum memberikan teguran harus siap dengan data. Speak with data. Itu yang seharusnya menjadi dasar bagi seorang pemimpin ketika ia memberikan teguran.

 

Sebaliknya, apabila teguran dimaksudkan sebagai salah satu alat untuk mengembangkan, orang yang ditegur pun akan merasakan makna dari teguran itu.

 

Teguran menjadi bermakna dan efektif apabila teguran itu penuh dengan solusi. Orang yang ditegur tahu mengapa ia ditegur dan akhirnya menyadari bahwa ada sesuatu yang harus diubah pada dirinya.

 

Pemimpin yang efektif bukan berarti ia tidak pernah memberikan teguran kepada anggota kelompok. Justru dengan tegurannya tersebut seorang pemimpin harus mampu menjadikan seseorang dari tidak efektif menjadi efektif. Pemimpin yang efektif tahu benar bagaimana ia memberikan teguran tanpa harus membuat orang yang ditegur merasa dihinakan, direndahkan, bahkan dihukum.

 

Seorang pemimpin harus mampu memahami seni menegur, bahwa orang yang menerima teguran tidak merasakan bahwa itu merupakan teguran. Di sinilah sebenarnya teguran yang efektif sudah dilakukan oleh pemimpin itu. Ukurannya adalah adanya perubahan baik yang bersifat perilaku maupun sikap dari yang diberikan teguran tersebut.

 

Seorang pemimpin seharusnya menyadari bahwa dalam memberikan teguran, apa yang dilakukan tidak asal memberikan teguran. Sebagai pemimpin ia harus mempunyai kemampuan untuk mempertimbangkan pengaruh dari teguran tersebut. Setiap orang mempunyai karakteristik sendiri-sendiri dalam menerima teguran tersebut.

 

Teguran Bukan manifestasi rasa marah. Teguran yang diberikan bukanlah suatu bentuk dari kemarahan yang meledak-ledak yang harus dikeluarkan secara bebas. Teguran akan dapat diterima dengan senang hati jika disampaikan secara halus. Bukan berarti dengan kata-kata yang puitis tetapi dapat dilakukan dengan menggunakan nada bicara yang tidak membentak-bentak dan tidak menggebu-gebu.

 

Apabila teguran itu disampaikan dengan kata-kata yang kasar ataupun tidak sopan, hal ini justru akan membuat irang yang ditegur tidak merasa mendapat teguran. Ia akan merasa bahwa teguran tersebut merupakan bentuk kemarahan ataupun kebencian kepadanya. Akibatnya muncullah rasa dendam dari orang tersebut.

 

Untuk meredam jangan sampai teguran ini beralih menjadi bentuk dari kemarahan kita harus mampu mengendalikan emosi. Sebelum memberi teguran sebaiknya kita mengambil waktu beberapa menit untuk menenangkan diri. Menarik napas dalam-dalam secara teratur, sehingga ketika melakukan teguran kondisi emosional kita sudah tenang. Kita sudah dapat mengendalikan diri.

 

Teguran apabila disampaikan dengan tujuan untuk melampiaskan kemarahan hanya akan mengeluarkan ungkapan-ungkapan yang sering kali di luar kendali. Orang yang ditegur tidak akan merasakan bahwa apa yang kita ucapkan itu merupakan itikad baik kepada orang tersebut. Sebaliknya teguran itu akan dipersepsikan bahwa kita menggunakan teguran sebagai topeng untuk melampiaskan emosional kita.

 

Di sinilah teguran tidak akan efektif karena dismpaikan dengan diliputi rasa kemarahan. Orang yang kita tegur akan melakukan defense atau akan mempertahankan dirinya dengan jalan merespons yang juga mengandung unsure kemarahan.’

 

Tidak berlebihan apabila teguran yang disampaikan dengan diliputi rasa marah akan menjadikan konflik terbuka dengan orang yang kita tegur. Pada dasarnya, orang paling tidak suka apabila ditegur dengan menggunakan kata-kata yang kasar. Seseorang akan merasa dihargai apabila teguran yang kita samapikan dikemas dalam kata-kata, atau sikap-sikap yang lembut.

 

Teguran bersifat personal. Sering kali disebabkan oleh dorongan yang kuat untuk segera memberi teguran kepada seseorang, kita menjadi kurang mampu mempertimbangkan di mana teguran itu dilakukan. Akibatnya, kita kurang menyadari bahwa di hadapan banyak orang kita dengan seenaknya tetap memberikan teguran kepada seseorang. Hal inilah yang akan membuat orang tersebut merasa dipermalukan di depan umum dan kita dinilai tidak mampu memberikan perlindungan kepada orang tersebut. Bagaimanapun, kelemahan dan kesalahan yang ia miliki tidak ingin diketahui oleh banyak orang.

 

Oleh sebab itu, apabila kita memberikan teguran, perlu diusahakan bahwa hanya ada kita dan orang yang kita tegur. Apabila situasinya tidak memungkinkan, kita dapat memanggilnya untuk diajak ke suatu ruangan tertutup. Orang yang kita tegur merasa telah diperlakukan dengan hormat dan ia pun akan merasa terjamin keamanannya. Ia merasa hanya kita berdualah yang tahu permasalahan tersebut.

 

Teguran yang kita lakukan dengan tidak mengenal tempat, situasi, dan kondisi akan membuat orang yang kita tegur merasa sakit hati. Meskipun mungkin tujuan kita menegur adalah untuk kebaikannya juga. Namun, jika disampaikan secara terbuka tanpa memperhatikan privasinya, teguran tersebut akan diartikan bahwa kita telah mempermalukannya di depan umum. Meski sebenarnya tujuan kita adalah demi kepentingan orang tersebut, namun dalam kondisi seperti ini semua iotu tidak akan ada artinya lagi.

 

Seseorang akan merasa tidak berharga manakala sesuatu yang dirasa sebagai kekurangannya ternyata diketahui oleh banyak orang. Di sinilah sebenarnya kita dituntut untuk bijaksana apakah teguran yang akan kita lakukan benar-benar sudah kita pertimbangkan dari berbagai sisi.

 

Teguran harus bersifat jelas. Sering kali kita kurang enak atau segan untuk memberikan teguran kepada seseorang. Kita pun kurang mempunyai keberanian untuk secara langsung mengatakan teguran tersebut. Biasanya yang sering kita gunakan adalah dengan menggunakan kata-kata yang bertujuan menyindir, menghina ataupun dengan bahasa tubuh yang menunjukkan sikap tidak menyenangkan (misalnya membuang muka, cemberut). Bahkan yang paling menyedihkan lagi adalah kita minta tolong kepada orang lain untuk memberikan teguran kepada seseorang.

 

Hal seperti ini akan membuat seseorang yang kita tegur mempunyai perasaan yang tidak respek kepada kita. Kita dinilai tidak mempunyai cukup keberanian untuk memberikan teguran kepadanya. Oleh sebab itu, dalam memberi teguran, sebaiknya kita katakana secara langsung kepada orang tersebut dengan bahasa yang jelas. Dengan demikian, orang yang kita tegur memang mengerti betul mengapa kita menegurnya.

 

Teguran yang kita sampaikan secara umum akan membuat orang yang kita tegur merasa bahwa kita hanya mencari-cari kesalahannya. Utuk menghindari hal itu, yang seharusnya kita lakukan adalah dalam memberikan teguran kita harus yakin bahwa apa yang menjadi objek teguran harus spesifik dan mengarah pada data-data konkret. Jadi, dalam hal ini, kita tidak dibenarkan apabila menegur seseorang karena berdasarkan paad laporan orang lain.

 

Jika hal ini kita lakukan, tidak meutup kemungkinan orang yang kita tegur akan menganggap kita sebagai pribadi yang senang mencampuri urusan orang lain. Bahkan, sangat mungkin kita akan dituduh telah mencemarkan nama baik orang tersebut, karena apa yang kita sampaikan bukan berasal dari pengamatan ataupun fakta yang kita miliki.

 

Teguran akan sangat berarti dan membuat puas bagi orang yang ditegur jika ia mengerti kesalahannya. Ia tidak perlu bertanya-tanya mengapa kita memberikan teguran.

 

Sering kali terjadi, karena dalam diri kita sudah tertanam perasaan tidak senang kepada seseorang, dengan mudahnya kita memberikan teguran. Padahal pada dasarnya tidak ada kesalahan yang dilakukannya, teguran diberikan hanya karena kita menaruh dendam kepadanya. Teguran yang kita berikan akan diterima sebagai sesuatu yang logis apabila disertai argumentasi yang kuat mengapa kita memberikan teguran.

 

Oleh sebab itu, adalah langkah yang bijaksana apabila sebelum menegur kita sudah mempunyai data-data yang kongkret. Dengan demikian, ketika orang yang ditegur bertanya mengapa kita menengurnya, kita sudah mempunyai alasan yang objektif. Hal ini akan membuat orang yang kita tegur tidak mempunyai kesempatan untuk mengelak.

 

Kita juga harus bersedia untuk memberikan penjelasan sehubungan dengan teguran yang kita berikan, sehingga ia akan menyadari bahwa teguran tersebut memang sudah sepantasnya diterima. Banyak orang lain karena teguran yang diberikan tidak jelas dan tidak mengarah ke adanya suatu kesalahan. Akibatnya, timbul suatu kesan dan persepsi bahwa teguran tesebut hanyalah sesuatu yang mengada-ada.

 

Teguran merupakan pemecahan masalah. Kita akan dipandang sebagai orang yang bertanggung jawab apabila kita memberikan solusi. Orang yang kita tegur tidak merasa bahwa kita hanya mencari-cari kesalahan.

 

Dalam memberikan solusi ini alangkah baiknya jika kita membicarakan bersama dan mendengar usulannya, terutama usulan mengenai apa yang akan dilakukan dalam memperbaiki kesalahannya tersebut. Ia akan merasa diperlakukan sebagai pribadi dewasa yang mampu mengatasi persoalan. Dalam memberikan solusi kita sebaiknya berfungsi sebagai seseorang yang mampu menunjukkan bagaimana seharusnya ia bertindak sehingga tidak akan terjadi kesalahan lagi.

 

Untuk memberikan solusi supaya tepat dan membantu orang tersebut, kita harus tahu betul apa yang menjadi objek teguran. Hal yang lebih penting lagi, kita harus yakin bahwa kita menguasai dan mampu memberikan solusi.

 

Apabila kita hanya dapat menegur tanpa ada kemampuan untuk memberikan solusi, kita akan dicap sebagai orang yang pandai berbiacara tetapi tidak mampu untuk memberikan jalan keluar. Akibatnya, teguran yang kita berikan tidak akan pernah diperhatikan.

 

2) Ketrampilan kerja

 

Ketrampilan kerja yang berkaitan dengan elemen kompetensi ini, yaitu :

 

  1. 1.  Standar untuk kerja tim dikembangkan secara jelas, akurat dan relevan sesuai tujuan yang diharapkan
  • Menjelaskan tujuan kelompok kepada klien.
  • Menyatukan visi dan misi dengan klien.

 

  1. 2.   Tujuan untuk merefleksikan  budaya organisasi dan standar-standar unjuk kerja dirancang
  • Mematuhi budaya organisasi.
  • Mengetahui prinsip-prinsip seorang mediator dan fasilitator.

 

  1. 3.   Tujuan secara berkala dibandingkan dengan pelayanan ditinjau
  • Meninjau tujuan secara berkala.
  • Membandingkan pelayanan secara berkala.

 

  1. 4.   Pendekatan kerjasama dilakukan pada anggota tim
  • Melakukan pendekatan terhadap anggota tim supaya kerjasama dapat terbina.
  • Membina sifat toleransi dan saling memotivasi untuk mencapai tujuan bersama.

 

  1. 5.   Masukan dari anggota tim dicatat
  • Memberikan umpan balik pada klien.
  • Memotivasi anggota untuk memberikan masukan yang membangun.

 

3) Sikap kerja

 

Sikap kerja yang dibutuhkan dalam kaitannya dengan elemen kompetensi ini:

  1. Aktif mencari kebutuhan klien
  2. Merevisi pekerjaan yang tidak sesuai dengan kebutuhan klien.
  3. Dapat memotivasi kelompok untuk mencapai tujuan klien
  4. Menjadwalkan tugas kelompok
  5. Memberikan umpan balik kepada klien

 

 

4.5.2  Mengkoordinasikan tim

1)  Pengetahuan kerja

 

Menetapkan Tugas

Tugas yang diberikan kepada anggota tim harus diatur waktu penyelesaiannya. Terkadang tugas yang diberikan kepada anggota tim tidak jelas. Maka itu perlu dikomunikasikan secara verbal dan nonverbal agar mendapatkan kejelasan. Untuk menyempurnakan penjadwalan tugas yang didelegasikan kepada anggota tim, maka perlu dibuat Gantt Chart yang dapat memberikan kejelasan mengenai tenggat waktu yang diperlukan setiap anggota tim untuk menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan kepada mereka. Hal seperti itu perlu dilakukan khususnya ketika tim sedang mengerjakan sebuah proyek yang memerlukan keterpaduan dari setiap anggota tim untuk dapat menyelesaikan tugas tim tepat waktu.

 

Konsultasi dengan Anggota Tim

Konsultasi dengan anggota tim diperlukan untuk menyelesaikan tugas maupun dalam menghadapi sebuah masalah. Seorang pemimpin adalah seorang problem solver bagi kelompoknya dan orang-orang yang dipimpinnya. Perlu diingat, apabila seorang pemimpin lebih banyak menempatkan dirinya sebagai trouble maker, tentu dsaja kematangan pribadinya sebagai seorang pemimpin perlu dipertanyakan.

 

Salah satu indikator bahwa pemimpin mampu menjadi problem solver ditentukan oleh sejauhmana ia mampu menyelesaikan masalah yang dihadapinya oleh dirinya sendiri ataupun orang lain. Slein itu juga diperlukan konsultasi dengan anggota kelompok lainnya untuk mengetahui kesulitan atau masalah yang sedang dihadapi berhubungan dengan tugas yang dikerjakannya. Dan seorang pemimpin harus menjadi orang yang dapat diandalkan ketika anggota lain menemui masalah dalam tugas yang dikerjakan.

 

Seorang pemimipin harus berani menempatkan dirinya berada di garis depan ketika kelompoknya mengalami masalah.

 

Seorang pemimpin harus berani mengambil keputusan dan mempertanggungjawabkan keputusan yang diambilnya. Bukan melimpahkan tanggung jawab kepada orang lain atau bahkan cept-cepat menyalahkan orang lain.

 

Pemimpin yang memiliki nilai tambah adalah yang mampu mengatasi persoalan dan bertanggung jawab atas keputusannya.

 

Memotivasi Tim

Teori Motivasi

 

a. Teori Maslow (Need Hierarchy Theory)

Pada dasarnya, setiap orang mempunyai keinginan untuk terpenuhi kebutuhannya. Hal inilah yang memotivasi seseorang untuk bertindak supaya kebutuhannya terpenuhi dan terpuaskan.

 

Menurut Maslow, ada lima kebutuhan yang harus terpenuhi dalam diri seseorang

  • Kebutuhan Biologis

Individu melakukan suatu tindakan karena termotivasi oleh keinginannya memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya atau kebutuhan biologisnya. Misalnya, sandang, pangan, tempat berlindung, seksual, kesesjahteraan. Kebutuhan ini merupakan hal yang PRIMER bagi individu.

 

  • Kebutuhan Rasa Aman

Individu melakukan suatu tindakan atau usaha karena termotivasi oleh keinginannya untuk mendapatkan pemenuhan rasa aman. Misalnya, rasa aman dalam menjalankan pekerjaan, rasa aman dalam menghadapi masa depan.

 

  • Kebutuhan-kebutuhan Sosial

Individu melakukan suatu tindakan karena adanya motivasi supaya kebutuhan-kebutuhan sosialnya terpenuhi. Hal ini relevan dengan hakikat manusia sebagai makhluk sosial. Kebutuhan-kebutuhan sosial ini meliputi:

  • Kebutuhan untuk diterima oleh orang lain, baik itu di lingkunagn masyarakat atau tempat bekerja.
  • Kebutuhan untuk dihormati, karena setiap individu ingin diperlakukan dengan hormat.
  • Kebutuhan untuk mampu menghasilkan suatu prestasi tertentu.
  • Kebutuhan untuk dapat melibatkan dirinya dalam lingkungan kehidupan (sosial maupun pekerjaan)

 

  • Kebutuhan akan Harga Diri

Individu melakukan suatu tindakan karena termotivasi keinginannya untuk memenuhi kebutuhan harga dirinya. Sering hal ini dikaitkan dengan label-label yang disandang oleh individu tersebut. Misalnya, seseorang merasa harga dirinya tinggi karena jabatan, status sosial, pendidikan, ekonomi yang lebih tinggi dibandingkan yang lain.

 

  • Kebutuhan untuk Berbuat Lebih Baik

Individu melakukan suatu tindakan karena termotivasi oleh keinginannya untuk bekerja-berbuat lebih baik. Hal ini dilakukan oleh individu dengan mengembangkan kapasitas mentalnya ataupun kapasitas kerjanya sehingga terjadilah pengembangan pribadi yang bersangkutan

 

b. Teori Mc.Gregor (Teori X –Teori Y)

Menurut Mc.Gregor, dalam melakukan tingkah laku ada dua factor yang mendorong seorang individu:

  • Teori X

Teori ini menyimpulkan bahwa pada dasarnya individu itu merupakan makhluk yang MALAS atau negative. Ia harus selalu mendapatkan pengawasan, pengontrolan ketika melakukan suatu tindakan. Jadi, individu melakukan suatu tindakan (misal: KERJA) karena adanya ketakutan terhadap pengawasan yang dilakukan oleh orang lain (misal: pemimpin)

 

  • Teori Y

Berdasarkan pada teori ini maka disimpulkan bahwa pada dasarnya individu itu BAIK. Oleh karena itu, dalam melakukan suatu tindakan (misal:KERJA), individu ini tidak perlu diawasi, karena ia sudah mempunyai kesadaran sendiri dalam melakukan tindakan.

 

c. Teori Mc. Cleland

Mc.Cleland, adalah tokoh yang berhasil dalam mengembangkan metode pelatihan Achievement Motivation (peningkatan motivasi berprestasi)

 

Menurut Mc.Cleland, pada diri individu pada dasarnya ada tiga motif dasar yang akan menggerakkan individu untuk melakukan suatu tindakan tertentu.

 

  • Need of Achievement (Keinginan untuk Berprestasi)

Individu melakukan suatu tindakan karena didorong oleh keinginannya untuk meraih suatu prestasi yang gemilang. Need of Achievement ini sering disebut dengan motif berprestasi. Segala energi, daya upaya, usaha, perbuatan, tindakan, tingkah laku, bahkan sikap, nilai-nilai hidup yang dimiliki oleh individu selalu diarahkan dalam rangka pencapaian suatu prestasi tertentu.

 

Bagi individu yang memiliki motif ini segalanya akan didasarkan pada pemahaman bahwa prestasi merupakan pokok dari segala tindakan. Artinya, ketika prestasi ini dapat diraih seorang individu maka motif-motif yang lain akan datang dengan sendirinya.

 

Individu akan merasa terpuaskan ketika ia berhasil mencapai prestasi yang mempunyai nilai lebih. Ia tidak akan menjadi orang yang minimalis tetapi ia akan berusaha dan mewujudkan menjdi manusia yang optimal dalam bertindak. Individu ini selalu mengarahkan tindakannya dan perilakunya untuk mencapai hasil yang optimal.

 

  • Need of Affiliation (Keinginan untuk Bersosialisasi)

Individu melakukan suatu tindakan karena adanya dorongan atau keinginan untuk menjalin hubungan sosial dengan orang lain. Artinya, setiap tindakan , perilaku, atau sikap, nilai-nilai hidupnya berorientasi pada hubungan sosial ini. Tidaklah mengherankan apabila individu senang untuk melakukan tindakan-tindakan yang bernilai sosial atau relasi sosial

 

Di satu sisi individu yang termotivasi karena keinginan untuk bersosialisasi akan mempunyai dasar yang kuat membentuk suatu tim kerja yang tangguh. Mengapa demikian? Terbentuknya suatu tim dapat terwujud ketika masing-masing individu mempunyai kepedulian untuk menjalin relasi sosial. Meskipun perlu digarisbawahi bahwa tidak dapat dipastikan relasi sosial selalu menghasilkan suatu tim kerja yang tangguh, namun dalam suatu tim kerja pasti terkandung suatu keterlibatan individu dalam mengembangkan hubungan sosial

 

Bentuk-bentuk relasi sosial yang menghasilkan tim kerja inilah yang sebenarnya merupakan relasi sosial yang produktif. Relasi sosial yang tidak mendorong terbentuknya tim kerja yang efektif tentu saja akan menimbulkan persoalan karena perilaku individu hanya berorientasi pada hal-hal yang tidak produktif.

 

  • Need of Power (Keinginan untuk Berkuasa)

Tindakan individu dapat juga didasari oleh dorongan-dorongan untuk menanamkan pengaruhnya yang bertujuan untuk menguasai orang lain. Di satu sisi hal ini sangat diperlakukan oleh seorang pemimpin karena salah satu tugas pemimpin adalah mempengaruhi orang lain.

 

Namun demikian, keinginan untuk berkuasa ini akan menjadi persoalan tersendiri apabila individu menggunakan label-label tertentu (jabatan, uang, sosial, ekonomi, pendidikan) untuk menanamkan pengaruhnya. Artinya, individu lebih senang menggunakan atribut-atribut yang menempel pada dirinya untuk berpengaruh, dibandingkan menggunakan prestasi yang dimilikinya.

 

Idealnya, seseorang dengan prestasinya mampu mempengaruhi orang lain sehingga orang lain mengikuti dirinya bukan karena silau oleh label-label tersebut tetapi karena ada suatu prestasi yang dimiliki oleh orang yang bersangkutan. Hal ini akan dapat bertahan lama, dibandingkan dengan jika mengandalkan sesuatu yang bersifat “pemberian” yang datang dari external dan sewaktu-waktu dapat DICABUT.

 

Pemimpin harus mampu menjadi MOTIVATOR bagi yang dipimpinnya. Kehadirannya harus mampu menjadi kekuatan bagi setiap orang yang berada dalam kelompok tersebut. Tidak hanya kekuatan fisik tetapi kekuatan jiwa dan spiritual seharusnya mampu dipenuhi oleh seorang pemimpin.

 

Apabila seorang pemimpin sudah tidak mampu memotivasi orang-orang di sekitarnya tentu saja hal ini akan menimbulkan keresahan bagi yang dipimpinnya. Mereka akan melihat bahwa pemimpin mereka ternyata tidak mampu menjadi tempat sandaran yang dapat menguatkan. Ingat, anggota kelompok akan memandang seorang pemimpin seperti “superman” yang mempunyai kekuatan lebih dibandingkan orang yang dipimpinnya. Sering kali anggota kelompok tidak akan pernah tahu apa yang sedang dialami oleh pemimpinnya.

 

Mengapa? Sebagai seorang pemimpin sering kali orang-orang di sekitarnya akan menempatkannya sebagai figure yang penuh dengan kesempurnaan. Apabila di mata anggota kelompok seorang pemimpin tidak lagi mempunyai semangat, tentu saja energi ini juga akan mempengaruhi orang yang dipimpinnya.

 

Keterampilan memotivasi bagi seorang pemimpin mutlak diperlukan karena persoalan-persoalan yang muncul dalam suatu kelompok disebabkan banyak orang merasa tidak termotivasi dengan berbagai alasan yang berbeda.

 

Di sinilah figure seorang pemimpin benar-benar diharapkan mampu membangkitkan kembali motivasi yang sudah mati. Menjadi tidak efektif apabila pemimpinnya sendiri yang mengalami demotivasi.

 

Apabila situasi seperti itu sampai terjadi tentu saja kehidupan kelompok akan mudah terombang-ambingkan menuju kehancuran. Motivasi merupakan energi yang memberikan kekuatan kepada setiap orang untuk bertindak. Terlepas apa pun motivasinya. Justru ketika seorang bertindak tanpa didasari oleh adanya motivasi maka tindakannya tidak akan pernah menuju titik yang jelas. Energi yang dimiliki oleh seseorang untuk berjuang dan berusaha untuk mewujudkannya.

 

Seorang pemimpin harus mampu untuk menghidupkan energi yang ada dalam dirinya. Sebagai seorang pemimpin tentu saja energi yang dimilikinya itu harus dapat ditransfer kepada orang-orang di sekitarnya. Dapat dibayangkan apabila seorang pemimpin sudah kehabisan energi dan dia harus memimpin orang lain. Orang-orang yang dipimpinnya tidak akan pernah merasakan kekuatan dan dorongan dari sang pemimpin tersebut.

 

Sebagai seorang pemimpin, tugas utama yang harus selalu dilakukan adalah bagaimana ia mampu berperan sebagai MOTIVATOR bagi orang lain. Artinya, memberikan motivasi menjadi tugas penting bagi seorang pemimpin.

 

Mengapa motivasi perlu diberikan? Jawabannya JELAS PERLU, karena manusia bukanlah robot atau mesin yang tidak mempunyai perasaan, emosi, sifat, karakter, semangat, rasa putus asa.

 

Anggota kelompok adalah pribadi yang dinamis dalam segala hal, tidak hanya fisiknya tetapi juga mentalnya. Hal inilah yang sering kali menjadikan manusia mengalami pasang-surut dalam mengelola motivasinya.

 

Oleh sebab itu, adalah hal yang sangat mendasar ketika seorang pemimpin harus mempunyai kepedulian terhadap penumbuhkembangan motivasi anggota kelompoknya. Motivasi inilah yang akan dipakai oleh anggota kelompok untuk lebih menghasilkan hasil yang produktif ketika ia melakukan suatu pekerjaan.

 

Berbicara mengenai MOTIVASI, akan muncul suatu pemahaman bahwa makna itu akan mengarah ke suatu kebutuhan yang harus dipenuhi sehingga akan mendapatkan kepuasan. Adanya kebutuhan itu menimbulkan suatu dorongan atau usaha yang terwujud dalam suatu perilaku tertentu.

 

Berdasarkan pengertian tersebut dapat diberikan beberapa batasan mengenai arti dari MOTIVASI.

 

1.  Motivasi adalah dorongan pada diri seseorang untuk melakukan suatu tingkah laku tertentu karena dikehendaki.

2. Motivasi adalah dorongan yang meliputi jiwa dan jasmani untuk melakukan suatu tindakan tertentu.

3. Motivasi merupakan sesuatu yang menimbulkan semangat atau dorongan kerja.

4.  Motivasi adalah sesuatu yang melatarbelakangi individu untuk berbuat demi tercapai tujuan yang dikehendakinya.

5.  Motivasi adalah suatu proses yang mempunyai tenaga dan tujuan tertentu.

Berikut adalah beberapa ciri motivasi.

a. Mengandung Banyak Tujuan

Motivasi individu untuk melakukan tindakan pada dasarnya tidak hanya mengandung satu tujuan melainkan lebih dari satu tujuan. Jadi, ada banyak tujuan yang ingin dicapai oleh individu karena adanya motivasi ini.

 

Pada dasarnya, dalam satu tindakan jarang yang hanya didasari oleh satu motivasi. Biasanya, dalam satu tindakan mengandung berbagai macam motivasi yang berbeda. Tindakan sama tetapi dapat memuat banyak motivasi. Ini yang harus disadari oleh seorang  pemimpin.

 

Contoh: seseorang yang rajin bekerja memiliki motivasi bermacam-macam, antara lain supaya mendapat pujian, mendapatkan kenaikan gaji, mencari perhatian, dan lain-lain.

 

b. Tidak Statis

Adanya keinginan yang bermacam-macam akan berpengaruh terhadap motivasi yang dimiliki oleh individu. Mungkin saja suatu ketika ia menginginkan kenaikan gaji tetapi di lain kesempatan ia ingin kariernya naik.

 

Hal ini memberi pesan bahwa dalam waktu yang relative singkat motivasi seseorang dapat berubah bergantung pada situasi dan kondisi yang pada saat itu dirasakan oleh individu yang bersangkutan. Semakin situasi dan kondisinya cepat berubah, semakin cepat pula motivasi yang dimiliki oleh seseorang akan mengalami perubahan.

 

c. Tidak sama untuk Setiap Individu

Pada dasarnya tidak ada persamaan motivasi antara individu yang satu dengan yang lain. Dua individu yang sama-sama melakukan suatu tindakan tertentu dapat saja yang memiliki motivasi tindakan yang tidak sama.

 

Hal ini menunjukkan bahwa di dalam diri manusia ada individual differences, artinya setiap orang mempunyai keunikansendiri yang tidak sama dengan orang lain. Hal inilah yang terjadi dalam motivasi seseorang. Tinadakan atau sikapnya dapat sama tetapi yang mendasari mengapa tindakan dan sikap itu muncul berbeda. Inilah keunikan individu yang satu dengan yang lain.

 

d. Beberapa di Luar Kesadaran

Ada sementara individu yang tidak memahami mengapa ia melakukan suatu tindakan. Biasanya, ini terjadi karena adanya peristiwa yang menekan keinginan masuk kea lam bawah sadar. Apabila hal itu muncul ke dalam suatu tindakan, individu tersebut tidak mampu untuk mengenjali motivasinya apa.

 

Seseorang yang tidak menyadari motivasinya sering kali bertindak dan bersikap berdasarkan kehidupan instinkinya. Atau, dapat juga sebenarnya tindakan atau sikap yang dimunculkan merupakan penumpukan dari berbagai macam peristiwa. Apabila ada stimulus (rangsangan) penumpukan itu dapat muncul dalam sikap dan perliaku manusia.

 

Motivasi yang dimiliki oleh individu akan sering mengalami pasang-surut. Pada suatu saat motivasi seseorang tinggi tetapi pada lain waktu menjadi rendah. Persoalan akan muncul dalam dunia pekerjaan apabila motivasi seseorang secara perlahan tetapi pasti mengalami penurunan. Oleh sebab itu, seorang pemimpin perlu mengenali factor-faktor yang dapat menyebabkan anggota kelompok TIDAK TERMOTIVASI.

 

Ada beberapa faktor yang dapat menurunkan motivasi individu, bahkan menghilangkan motivasi tersebut.

  • Lingkungan pekerjaan yang tidak kondusif sehingga membuat perasaan tidak nyaman.

Merasa berada dalam situasi yang serba menakutkan karena banyaknya ancaman yang diterima.

  • Mempunyai beban pekerjaan yang melebihi kapasitas atau potensi yang dimiliki.
  • Mengerjakan pekerjaan yang rutin, biasa, mudah, dan tidak ada peningkatan dalam tingkat kesulitan atatu tantangan.
  • Kurang mengerti terhadap prosedur-prosedur kerja sehingga mengalami kebingungan dalam melakukan pekerjaan.
  • Tidak ada ukuran yang jelas mengenai standar keberhasilan dari apa yang telah dikerjakannya.
  • Tidak adanya keseimbangan antara punishment (hukuman) yang diteriam dibandingkan dengan reward (penghargaan).
  • Tidak ada kesempatan untuk mengembangkan skill (keterampilan) kerjanya sehingga merasa tidak mampu mengerjakan pekerjaan yang baru.
  • Berada dalam suatu lingkungan kerja yang baru sehingga ia belum mengerti apa yang akan dilakukannya.
  • Mempunyai penilaian bahwa dirinya tidakmempunyai arti atau peranan dalam kelompok kerjanya atau lingkungan pekerjaan.
  • Tidak memperoleh umpan balik yang membangun tetapi cenderung selalu berada pada pihak yang salah.
  • Kurangnya kesempatan untu memperoleh pengarahan atau bimbingan dari pemimpin.
  • Merasa diasingkan oleh rekan-rekan yang berada dalam satu kelompok.

 

Dengan mengerti faktor-faktor tersebut tuga seorang pemimpin adalah meminimlakan atau jika mampu menghilangkan factor yang dapat menyebabkan terjadinya penurunan motivasi.

 

Pengembangan motivasi yang dilakukan oleh pemimpin kepada anggota kelompoknya sangat penting, karena motivasi inilah yang sebenarnya akan menjadi dasar ke mana perilaku anggota kelompok tersebut diarahkan. Anggota kelompok yang mempunyai motivasi kerja rendah tentu saja akan mengarahkan perilakunya JAUH dari tujuan kelompok atau tujuan timnya.

 

Sebaliknya, anggota kelompok dengan motivasi kerja tinggi cenderung akan mengarahkan tindakannya sesuai dengan apa yang diinginkan oleh pemimpin, tim kerja, ataupun kelompoknya.

 

Mengingat begitu pentingnya MOTIVASI ini, salah satu tugas dan tanggung jawab seorang pemimpin adalah mengembangkan MOTIVASI angota kelompoknya.

 

Supaya pengembangan motivasi anggota kelompok ini dapat berjalan dengan efektif ada beberapa factor yang perlu mendapat perhatian, antara lain:

  • Menumbuhkan minat dan keinginan untuk semakin mengenal dan menjalin hubungan dengan anggota kelompok.
  • Mempunyai pemahaman yang mendalam terhadap karakter, kebiasaan, gaya, kepribadian yang dimiliki oleh anggota kelompok.
  • Mencoba untuk menerapkan kiat/strategi/tip yang dapat digunakan dalam melakukan hubungan/pendekatan dengan anggota kelompok serta keterampilan dalam menerapkannya.

 

Adanya batasan struktural antara pemimpin dengan anggota kelompok menyebabkan munculnya pandangan-pandangan yang keliru ketika pemimpin memotivasi anggota kelompok. Kekeliruan pandangan ini meliputi:

 

  1. a.   Pemimpin Penuh Ancaman

Pemimpin seperti ini mempunyai pandangan bahwa kesalahan-kesalahan yang terjadi di dalam tim kerjanya merupakan tanggung jawabnya, dan ia tidak mau disalahkan. Sebagai akibatnya ia akan melakukan pengawasan yang SUPER KETAT kepada anggota kelompok dengan tujuan supaya anggota kelompok tidak melakukan kesalahan sekecil apa pun.

 

Ia akan mengembangkan pola hubungan yang penuh dengan ancaman. Ia beranggapan dengan ancaman itulah ia dapat memotivasi anggota kelompok supaya tidak berbuat salah.

 

  1. b.   Pemimpin yang Tahu Segalanya

Pemimpin seperti ini mempunyai pandangan bahwa pemimpin adalah orang yang paling tahu dan serba tahu dibandingkan anggota kelompok. Konsekuensinya, pemimpin seperti ini akan memotivasi anggota kelompoknya dengan banyak melakukan kritik, menyalahkan, banyak memberitahukan kelamahan. Hal ini dilakukan untuk menujukkan superioritasnya.

 

  1. c.    Pemimpin yang Super Power

Pemimpin seperti ini akan berorientasi pada kekuasaan atau power dalam memotivasi anggota kelompoknya. Ia merasa mempunyai “kekuasaan” maka bentuk motivasi yang diberikan kepada anggota kelompok berwujud aktivitas banyak mengatur, menyalahkan, banyak memberi nasihat, menguasai.

 

  1. d.   Pemimpin yang Serba Sempurna

Pemimpin seperti ini mempunyai pandangan bahwa prastasi anggota kelompok bukanlah sesuatu yang istimewa. Hal itu sudah merupakan kewajibannya. Pemimpin ini tidak perlu memberikan pujian, penghargaan, atas prestasi kerja yang dicapai oleh anggota kelompoknya. Pemimpin seperti ini bernaggapan hal-hal yang bersifat benda (missal: uang) merupakan motivator yang penting untuk anggota kelompoknya. Ia tidak memandang perlu bahwa dirinya harus menjadi motivator bagi anggota kelompoknya

 

Umpan Balik

Dalam sebuah kelompok, tugas memberikan umpan balik ini menjadi tanggung jawab penuh seorang pemimpin. Umpan balik yang diberikan kepada danggota kelompok merupakan salah satu bentuk bahwa seorang pemimpin memperhatikan mereka. Umpan balik yang diberikan sebaiknya berupa solusi yang dapat membantu anggota kelompok untuk memperbaiki diri. Seorang pemimpin harus mampu menunjukan jalan dan arah ke mana anggota kelompok melangkah sehingga tidak terjebak pada kesalahan yang sama. Apabila hal ini dapat dilakukan oleh seorang pemimpin, umpan balik akan dirasakan oleh anggota kelompok sebagai penguat bagi mereka untuk berani dan mau memperbaiki diri.

 

Selain itu umpan balik juga dapat diberikan kepada anggota yang mencapai prestasi tertentu. Dalam hal ini, umpanbalik adalah berupa penghargaan yang berguna untuk memotivasi anggota lainnya dalam memberikan kinerja yang sempurna dalam pekerjaannya.

 

     Umpan Balik untuk Standar Pelayanan

Umpan balik berupa penghargaan atas prestasi juga dapat dijanjikan untuk memberikan motivasi di awal kerja agar diharapkan kinerja yang semakin baik dari yang telah ada.

 

2) Ketrampilan kerja

 

Ketrampilan kerja yang berkaitan dengan elemen kompentensi ini, yaitu :

 

  1. 1.   Ditetapkan bahwa pekerjaan harus diselesaikan sesuai rencana
  • Menetapkan jadwal pekerjaan.
  • Mengatur dan membagi pekerjaan sesuai jadwal sehingga selesai sesuai rencana.

 

  1. 2.   Tugas-tugas tim dikonsultasikan dengan anggota tim untuk menjamin operasi tim yang efektif dan digunakannya sumber daya yang efisien
  • Melakukan konsultasi untuk pembagian tugas terhadap anggota tim sehingga masing-masing mengetahui tugasnya.
  • Menggunakan sumber daya seefisien mungkin sehingga dapat menghasilkan yang terbaik.

 

  1. 3.   Tim dimotivasi untuk mencapai standar sesuai kebutuhan klien
  • Membantu memotivasi tim sehingga dapat bersemangat dalam pekerjaan.
  • Memotivasi tim untuk mencapai standar yang diinginkan klien.

 

  1. 4.   Suatu umpan balik bagi tim sehubungan dengan prestasi dari unjuk kerja atau standar pelayanan  yang disetujui disediakan
  • Umpan balik diberikan anggota tim agar mencapai suatu prestasi unjuk kerja sesuai standar pelayanan.
  • Memproses umpan balik sehingga dapat digunakan untuk memperbaiki prestasi atau meningkatkan prestasi.

 

3) Sikap kerja

 

Sikap kerja yang terkait dengan elemen kompetensi ini, yaitu :

  1. Mencari informasi yang dapat digunakan oleh kelompok untuk mencapai tujuan
  2. Membantu anggota yang kesulitan dalam memproses informasi
  3. Aktif mencari informasi tentang pendapat anggota kelompok tentang usaha kelompok
  4. Berfungsi sebagai mediator dan fasilitatordalam kelompok
  5. Mengatasi konflik dalam kelompok

 

 

4.5.3 Mendelegasikan responsibilitas dan otoritas

1)  Pengetahuan kerja

 

Mendelegasikan Tanggung Jawab

Tanggung jawab yang didelegasikan haru selalu dipantau pelaksanaan, kinerja dan hasil yang telah dicapai oleh masing-masing anggota kelompok.

 

 Prosedur Organisasi

Tanggungjawab dan batasan tim dan individu   ditetapkan dengan jelas dalam prosedur organisasi. Prosedur organisasi berfungsi untuk menjaga agar tujuan tim dapat tercapai dengan sempurna oleh tim tersebut.

 

Pendelegasian Tanggung Jawab

Tanggung jawab yang didelegasikan kepada masing-masing anggota tim harus dijelaskan dengan sejelas-jelasnya agar tidak menyebabkan salah paham dalam pelaksanaan tugas. Informasi tentang pendelegasian tugas dapat dilakukan secara verbal maupun nonverbal.

 

 Mengkomunikasikan Kebijakan

Kebijakan, perencanaan, masalah dan solusinya dikomunikasikan dengan jelas dan singkat pada tim. Kebijakan dalam tim dapat  dikomunikasikan agar mendapatkan kinerja tim yang diharapkan.

 

2) Ketrampilan kerja

 

Ketrampilan kerja yang berkaitan dengan elemen kompetensi ini, yaitu :

  1. 1.   Tanggung jawab dan batasan tim dan individu ditetapkan dengan jelas dalam prosedur organisasi
  • Menetapkan tanggung jawab dan batasan untuk tim dan individu sesuai dengan prosedur organisasi.
  • Menjelaskan tanggung jawab dalam  tim dan individu dalam prosedur organisasi.
  1. 2.   Tanggung jawab yang harus dijalankan di delegasikan dengan jelas
  • Menjelaskan tanggung jawab yang harus dikerjakan tiap personel dengan jelas
  • Pendelegasian tugas harus jelas dan terhadap orang yang tepat.

 

  1. 3.   Kebijakan, perencanaan, masalah dan solusinya dikomunikasikan dengan jelas dan singkat pada tim
  • Menjelaskan kebijakan dan perencanaan secara jelas dan singkat sebelum memulai kerja.
  • Masalah dan solusi ditemukan kemudian dijelaskan secara singkat ke tim kerja.

 

3) Sikap kerja

 

Sikap kerja yang diperlukan terkait dengan elemen kompetensi ini, yaitu :

  1. Aktif mencari informasi tentang pendapat anggota kelompok tentang usaha kelompok
  2. Mengetahui cara penanganan masalah
  3. Mendelegasikan tugas sesuai dengan kemampuan anggota
  4. Memberikan wewenang sesuai dengan kapasitas anggota
  5. Memotivasi anggota

 

 

 

 

BAB V

SUMBER-SUMBER YANG DIPERLUKAN UNTUK PENCAPAIAN                          KOMPETENSI

 

5.1     Sumber Daya Manusia

 

Pelatih

Pelatih Anda dipilih karena dia telah berpengalaman. Peran Pelatih adalah untuk:

  1. Membantu Anda untuk merencanakan proses belajar.
  2. Membimbing Anda melalui tugas-tugas pelatihan yang dijelaskan dalam tahap belajar.
  3. Membantu Anda untuk memahami konsep dan praktik baru dan untuk menjawab pertanyaan Anda mengenai proses belajar Anda.
  4. Membantu anda untuk menentukan dan mengakses sumber tambahan lain yang Anda perlukan untuk belajar Anda.
  5. Mengorganisir kegiatan belajar kelompok jika diperlukan.
  6. Merencanakan seorang ahli dari tempat kerja untuk membantu jika diperlukan.

 

Penilai

Penilai Anda melaksanakan program pelatihan terstruktur untuk penilaian di tempat kerja. Penilai akan:

  1. Melaksanakan penilaian apabila Anda telah siap dan merencanakan proses belajar dan penilaian selanjutnya dengan Anda.
  2. Menjelaskan kepada Anda mengenai bagian yang perlu untuk diperbaiki dan merundingkan rencana pelatihan selanjutnya dengan Anda.
  3. Mencatat pencapaian / perolehan Anda.

 

Teman kerja / sesama peserta pelatihan

Teman kerja Anda/sesama peserta pelatihan juga merupakan sumber dukungan dan bantuan. Anda juga dapat mendiskusikan proses belajar dengan mereka. Pendekatan ini akan menjadi suatu yang berharga dalam membangun semangat tim dalam lingkungan belajar/kerja Anda dan dapat meningkatkan pengalaman belajar Anda.

5.2     Sumber-sumber Kepustakaan ( Buku Informasi )

 

Pengertian sumber-sumber adalah material yang menjadi pendukung proses pembelajaran ketika peserta pelatihan sedang menggunakan Pedoman Belajar ini.

 

Sumber-sumber tersebut dapat meliputi:

  1. Buku referensi (text book)
  2. Lembar kerja
  3. Contoh tugas kerja
  4. Rekaman dalam bentuk kaset, video, film dan lain-lain.

 

Ada beberapa sumber yang disebutkan dalam pedoman belajar ini untuk membantu peserta pelatihan mencapai unjuk kerja yang tercakup pada suatu unit kompetensi.

 

Prinsip-prinsip dalam CBT mendorong kefleksibilitasan dari penggunaan sumber-sumber yang terbaik dalam suatu unit kompetensi tertentu, dengan mengijinkan peserta untuk menggunakan sumber-sumber alternatif lain yang lebih baik atau jika ternyata sumber-sumber yang direkomendasikan dalam pedoman belajar ini tidak tersedia/tidak ada.

 

5.3        Daftar Peralatan dan Bahan yang digunakan

 

  1. Judul/Nama Pelatihan        :    Mengkoordinasikan dan Memelihara KerjasamaTim
  2. Kode Program Pelatihan    :    TIK.PR01.015.01

 

NO

UNIT

KOMPETENSI

KODE UNIT

DAFTAR PERALATAN

DAFTAR BAHAN

KETERANGAN

1.

Mengkoordinasikan dan Memelihara Kerjasama Tim

TIK.PR01.015.01

- Peralatan tulis

- Komputer/PC

 

- Buku informasi tentang Kepemimpinan

 

 

-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

  • Shneiderman Ben. (2002).Leadership in Organization, 3rd Ed.., Addison Wesley.

 

 

 

 

Testimoni

artikel lainnya Mengkoordinasikan Dan Memelihara Kerjasama Tim TIK.PR01.015.01

Monday 11 May 2015 | blog

Bagian 1 ketentuan umum lenovo jaminan terbatas hanya berlaku untuk produk Lenovo. Perangkat keras yang anda…

Tuesday 17 January 2017 | blog

Selepas berjamaah solat duhur saya rapat kecil dengan adik adik Dan pengurus santri senior bertempat diberanda…

Tuesday 24 February 2015 | blog

HANDY SEALER HANDY SEALER [Pin It] Kategori : Elektronik Stok : ready Kode : HANDY SEALER…

Wednesday 5 August 2015 | blog

MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR TELEMATIKA SUB SEKTOR COMPUTER TECHNICAL SUPPORT     MENGOPERASIKAN CD-RW TIK.CS02.024.01…