Advertisement
loading...

 

MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI

Advertisement

SEKTOR TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI

 

 

 

 

 

 

 

 

MENGGUNAKAN SPESIFIKASI PROGRAM

TIK.PR02.004.01

 

 

 

 

 

 

 

 

BUKU INFORMASI

 

 

 

 

 

 

DEPARTEMEN TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI R.I.

DIREKTORAT JENDERAL PEMBINAAN PELATIHAN DAN PRODUKTIVITAS

Jl. Jend. Gatot Subroto Kav.51 Lt.7.B Jakarta Selatan

 

 

Daftar Isi

Daftar Isi 1

BAB I. 3

PENGANTAR. 3

1.1  Konsep Dasar Pelatihan Berbasis Kompetensi 3

1.2  Penjelasan Modul 3

1.2.1   Desain Modul 3

1.2.2   Isi Modul 4

1.2.3   Pelaksanaan Modul 4

1.3   Pengakuan Kompetensi Terkini (RCC) 5

1.4   Pengertian-Pengertian / Istilah. 5

 

BAB II. 7

STANDAR KOMPETENSI. 7

2.1 Peta Paket Pelatihan. 7

2.2 Pengertian Unit Standar Kompetensi 7

2.3 Unit Kompetensi Yang Dipelajari 7

2.3.1 Judul Unit Kompetensi 8

2.3.2 Kode Unit Kompetensi 8

2.3.3 Deskripsi Unit 8

2.3.4 Elemen Kompetensi 8

2.3.5 Batasan Variabel 2

2.3.6 Panduan Penilaian. 2

2.3.6 Kompetensi Kunci 3

 

BAB III. 5

STRATEGI DAN METODE PELATIHAN. 5

3.1  Strategi Pelatihan. 5

3.2  Metode Pelatihan. 5

 

BAB IV. 7

MATERI UNIT KOMPETENSI. 7

4.1 Tujuan Instruksional Umum.. 7

4.2 Tujuan Instruksional Khusus 7

4.3 Uraian Singkat Materi 7

4.4 Beberapa Pengertian dalam Unit Kompetensi Ini : 8

4.5 Informasi masing-masing elemen kompetensi: 8

4.6 Menggunakan Diagram Program.. 20

4.7 Menerapkan pointer 27

 

BAB V. 29

SUMBER-SUMBER YANG DIPERLUKAN UNTUK PENCAPAIAN                          KOMPETENSI  29

5.1  Sumber Daya Manusia. 29

5.2. Sumber-sumber Kepustakaan. 29

5.3  Daftar Peralatan dan Bahan yang digunakan. 30

 

DAFTAR PUSTAKA. 32

 

 


BAB I

PENGANTAR

 

1.1     Konsep Dasar Pelatihan Berbasis Kompetensi

 

  • Apakah pelatihan berdasarkan kompetensi?

Pelatihan berdasarkan kompetensi adalah pelatihan yang memperhatikan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang diperlukan di tempat kerja agar dapat melakukan pekerjaan dengan kompeten. Standar Kompetensi dijelaskan oleh Kriteria Unjuk Kerja.

 

  • Apakah artinya menjadi kompeten ditempat kerja?

 

Jika anda kompeten dalam pekerjaan tertentu, anda memiliki seluruh keterampilan, pengetahuan dan sikap yang perlu untuk ditampilkan secara efektif ditempat kerja, sesuai dengan standar yang telah disetujui.

 

1.2        Penjelasan Modul

 

Modul ini dikonsep agar dapat digunakan pada proses Pelatihan Konvensional/Klasikal dan Pelatihan Individual/Mandiri. Yang dimaksud dengan Pelatihan Konvensional/Klasikal, yaitu pelatihan yang dilakukan dengan melibatkan bantuan seorang pembimbing atau guru seperti proses belajar mengajar sebagaimana biasanya dimana materi hampir sepenuhnya dijelaskan dan disampaikan pelatih/pembimbing yang bersangkutan.

 

Sedangkan yang dimaksud dengan Pelatihan Mandiri/Individual adalah pelatihan yang dilakukan secara mandiri oleh peserta sendiri berdasarkan materi dan sumber-sumber informasi dan pengetahuan yang bersangkutan. Pelatihan mandiri cenderung lebih menekankan pada kemauan belajar peserta itu sendiri. Singkatnya pelatihan ini dilaksanakan pseserta dengan menambahkan unsur-unsur atau sumber-sumber yang diperlukan baik dengan usahanya sendiri maupun melalui bantuan dari pelatih.

 

1.2.1    Desain Modul

Modul ini didesain untuk dapat digunakan pada Pelatihan Klasikal dan Pelatihan Individual / mandiri :

  • Pelatihan klasikal adalah pelatihan yang disampaikan oleh seorang pelatih.
  • Pelatihan individual / mandiri adalah pelatihan yang dilaksanakan oleh peserta dengan menambahkan unsur-unsur / sumber-sumber yang diperlukan dengan bantuan dari pelatih.

1.2.2    Isi Modul

 

Buku Informasi

Buku informasi ini adalah sumber pelatihan untuk pelatih maupun peserta pelatihan. Buku ini digunakan sebagai panduan untuk peserta pelatihan.

 

Buku Kerja

Buku kerja ini harus digunakan oleh peserta pelatihan untuk mencatat setiap pertanyaan dan kegiatan praktek baik dalam Pelatihan Klasikal maupun Pelatihan Individual / mandiri.

Buku ini diberikan kepada peserta pelatihan dan berisi :

  • Kegiatan-kegiatan yang akan membantu peserta pelatihan untuk mempelajari dan memahami informasi.
  • Kegiatan pemeriksaan yang digunakan untuk memonitor pencapaian keterampilan peserta pelatihan.
  • Kegiatan penilaian untuk menilai kemampuan peserta pelatihan dalam melaksanakan praktik kerja.

 

Buku Penilaian

Buku penilaian ini digunakan oleh pelatih untuk menilai jawaban dan tanggapan peserta pelatihan pada buku kerja dan berisi :

  • Kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh peserta pelatihan sebagai pernyataan keterampilan.
  • Metode-metode yang disarankan dalam proses penilaian keterampilan peserta pelatihan.
  • Sumber-sumber yang digunakan oleh peserta pelatihan untuk mencapai keterampilan.
  • Semua jawaban pada setiap pertanyaan yang diisikan pada buku kerja.
  • Petunjuk bagi pelatih untuk menilai setiap kegiatan praktik.
  • Catatan pencapaian keterampilan peserta pelatihan.

 

1.2.3    Pelaksanaan Modul

Pada pelatihan klasikal, pelatih akan :

  • Menyediakan buku informasi yang dapat digunakan peserta pelatihan sebagai sumber pelatihan.
  • Menyediakan salinan buku kerja kepada setiap peserta pelatihan.
    • Menggunakan buku informasi  sebagai sumber utama dalam penyelenggaraan pelatihan.
    • Memastikan setiap peserta pelatihan memberikan jawaban / tanggapan dan menuliskan hasil tugas praktiknya pada buku kerja.

 

Pada Pelatihan individual / mandiri, peserta pelatihan akan :

  • Menggunakan buku informasi sebagai sumber utama pelatihan.
  • Menyelesaikan setiap kegiatan yang terdapat pada buku kerja.
  • Memberikan jawaban pada buku kerja.
  • Mengisikan hasil tugas praktik pada buku kerja.
  • Memiliki tanggapan-tanggapan dan hasil penilaian oleh pelatih.

 

1.3     Pengakuan Kompetensi Terkini (RCC)

 

  • Apakah Pengakuan Kompetensi Terkini (Recognition of Current Competency)

Jika anda telah memiliki pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk elemen unit kompetensi tertentu, anda dapat mengajukan pengakuan kompetensi terkini (RCC). Berarti anda tidak akan dipersyaratkan untuk belajar kembali.

 

  • Anda mungkin sudah memiliki pengetahuan dan keterampilan, karena anda telah :
  1. Bekerja dalam suatu pekerjaan yang memerlukan suatu pengetahuan dan keterampilan yang sama atau
  2. Berpartisipasi dalam pelatihan yang mempelajari kompetensi yang sama atau
  3. Mempunyai pengalaman lainnya yang mengajarkan pengetahuan dan keterampilan yang sama.

 

1.4     Pengertian-Pengertian / Istilah

 

Profesi

Profesi adalah suatu bidang pekerjaan yang menuntut sikap, pengetahuan serta keterampilan/keahlian kerja tertentu yang diperoleh dari proses pendidikan, pelatihan serta pengalaman kerja atau penguasaan sekumpulan kompetensi tertentu yang dituntut oleh suatu pekerjaan/jabatan.

 

Standarisasi

Standardisasi adalah proses merumuskan, menetapkan serta menerapkan suatu standar tertentu.

 

Penilaian / Uji Kompetensi

Penilaian atau Uji Kompetensi adalah proses pengumpulan bukti melalui perencanaan, pelaksanaan dan peninjauan ulang (review) penilaian serta keputusan mengenai apakah kompetensi sudah tercapai dengan membandingkan bukti-bukti yang dikumpulkan terhadap standar yang dipersyaratkan.


Pelatihan

Pelatihan adalah proses pembelajaran yang dilaksanakan untuk mencapai suatu kompetensi tertentu dimana materi, metode dan fasilitas pelatihan serta lingkungan belajar yang ada terfokus kepada pencapaian unjuk kerja pada kompetensi yang dipelajari.

 

Kompetensi

Kompetensi adalah kemampuan seseorang untuk menunjukkan aspek sikap, pengetahuan dan keterampilan serta penerapan dari ketiga aspek tersebut ditempat kerja untuk mwncapai unjuk kerja yang ditetapkan.

 

Pelatihan Berbasis Kompetensi Kerja

Pelatihan Berbasisi Kompetensi Kerja adalah  pelatihan kerja yang menitikberatkan pada penguasaan kemampuan kerja yang mencakup pengetahuan, keterampilan dan sikap sesuai dengan standar yang ditetapkan dan persyaratan di tempat kerja.

 

Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia

Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia adalah rumusan kemampuan kerja yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan dan / atau keahlian serta sikap kerja yang relevan dengan pelksanaan tugas dan syarat jabatan yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

 

Sertifikat Kompetensi Kerja

Sertifikasi kompetensi Kerja adalah proses pemberian sertifikat kompetensi yang

dilakukan secara sitematis dan obyektif melalui uji kompetensi sesuai standar kompetensi kerja nasional Indonesia, standar internasional dan /atau standar khusus.

 

Sertifikasi Kompetensi Kerja

Sertifikat Kompetensi Kerja adalah bukti tertulis yang diterbitkan oleh lembaga sertifikasi profesi terakreditasi yang menerangkan bahwa seseorang telah menguasai kompetensi kerja tertentu sesuai dengan SKKNI.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

STANDAR KOMPETENSI

 

2.1 Peta Paket Pelatihan

Modul yang sedang Anda pelajari ini bertujuan untuk mencapai satu unit kompetensi. Adapun kompetensi ini termasuk dalam satu paket pelatihan, yang terdiri atas unit-unit kompetensi berikut:

  1. TIK.PR02.004.01             Membuat Spesifikasi Program

 

2.2 Pengertian Unit Standar Kompetensi

Apakah Standar Kompetensi?

Setiap Standar Kompetensi menentukan :

  1. Pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk mencapai kompetensi.
  2. Standar yang diperlukan untuk mendemonstrasikan kompetensi.
  3. Kondisi dimana kompetensi dicapai.

 

Apakah yang akan anda pelajari dari Unit Kompetensi ini ?

Di dalam unit kompetensi ini, Anda akan mempelajari bagaimana membuat spesiikasi program.

 

Berapa lama unit kompetensi ini dapat diselesaikan ?

Sistem pelatihan berbasis kompetensi terfokus pada pencapaian kompetensi, bukan pada lamanya waktu. Namun diharapkan pelatihan ini dapat dilaksanakan dan dicapai dalam jangka waktu tidak lebih dari seminggu, tiga sampai lima hari.

 

Berapa banyak/kesempatan yang anda miliki untuk mencapai kompetensi ?

Jika Anda belum mencapai kompetensi pada usaha/kesempatan pertama, Pelatih Anda akan mengatur rencana pelatihan dengan Anda. Rencana ini akan memberikan Anda kesempatan kembali untuk meningkatkan level kompetensi Anda sesuai dengan level yang diperlukan. Jumlah maksimum usaha/kesempatan yang disarankan adalah 3 (tiga) kali.

 

2.3 Unit Kompetensi Yang Dipelajari

Dalam sistem pelatihan Standar Kompetensi diharapkan menjadi panduan bagi peserta pelatihan untuk dapat :

  1. Mengidentifikasikan apa yang harus dikerjakan peserta pelatihan.
  2. Memeriksa kemajuan peserta pelatihan.
  3. Menyakinkan bahwa semua elemen (sub-kompetensi) dan kriteria unjuk   kerja telah dimasukkan dalam pelatihan dan penilaian.

2.3.1 Judul Unit Kompetensi

Membuat Spesifikasi Program

  2.3.2 Kode Unit Kompetensi

                                    TIK.PR02.004.01

2.3.3 Deskripsi Unit

Unit ini menentukan kompetensi yang diperlukan untuk pemahaman terhadap spesifikasi hasil perancangan program. Seorang programmer akan menulis kode program berdasarkan hasil perancangan. Perancangan program dijelaskan dalam bentuk diagram dan deskripsi. Diagram dan deskripsi program dapat berupa DCD, DFD, ERD, diagram objek, diagram komponen, class/modul program, properti class, tabel, dan deskripsinya dan sebagainya.

 

2.3.4 Elemen Kompetensi

 

ELEMEN KOMPETENSI

KRITERIA UNJUK KERJA

01  Menggunakan metode pengembangan program 1.1      Macam-macam metode pengembangan program digunakan

 

1.2     Peralatan pengembangan program sesuai metode pengembangan program dijelaskan sesuai standar yang dipakai

 

02 Menggunakan diagram program dan deskripsi          program 2.1  Diagram kontek data (DCD-Data Contack Diagram) digunakan

 

2.2  Diagram aliran data (DFD-Data Flow Diagram) digunakan

 

2.3  Diagram relasi entitas (ERD-Entity Relation Diagram) digunakan

 

2.4  Diagram objek seperti class modul, inheritance digunakan

 

2.5  Diagram komponen digunakan

 

03 Menerapkan pointer 3.1    Alat pengembangan program untuk aplikasi pada komputer tunggal (stand alone) digunakan

 

3.2    Alat pengembangan program untuk aplikasi pada komputer jaringan (Client server atau terdistribusi) digunakan

 

Tabel 1Elemen Kompetensi

2.3.5 Batasan Variabel

Batasan variabel dalam bahasan ini adalah:

1.   Unit ini berlaku untuk seluruh sektor teknologi informasi dan komunikasi

2. Membuat struktur data bersifat internal pada bidang teknologi informasi dan komunikasi

 

2.3.6 Panduan Penilaian

Panduan penilaian terdiri dari :

  1. 1.   Pengetahuan dan keterampilan penunjang

Untuk mendemontrasikan kompetensi, diperlukan bukti keterampilan dan pengetahuan di bidang:

 

1.1          Pengetahuan dasar :.

1.1.1  Menguasai algoritma dan struktur data

1.1.2    Menguasai bahasa pemrograman

1.2     Keterampilan dasar

1.2.1  Mengoperasikan sistim komputer

1.2.2  Mengoperasikan bahasa pemrograman

 

  1. 2.       Konteks penilaian

Penilaian mungkin terjadi pada pekerjaan, atau diluar pekerjaan atau suatu kombinasi dari keduanya. Penilaian diluar pekerjaan harus dilaksanakan dalam suatu lingkungan kerja yang disimulasikan mendekati pekerjaan yang semestinya. Penilaian mungkin menggabungkan serangkaian metode untuk menilai kemampuan dan penerapan pengetahuan pendukung penting, dan mungkin mencakup:

2.1     Demontrasi praktis (pengamatan langsung harus terjadi lebih dari  sekali untuk menentukan konsistensi kemampuan).

2.2     Studi kasus.

2.3     Contoh-contoh kerja atau kegiatan-kegiatan simulasi kerja.

2.4     Menanyakan secara lisan/interview.

2.5     Proyek/laporan/buku catatan kemajuan.

2.6     Laporan pihak ketiga dan prestasi otentik sebelumnya.

2.7     Bukti penilaian.

  1. 3.       Aspek penting penilaian

Aspek yang harus diperhatikan

3.1   Kemampuan memahami diagram program dan deskripsi program

3.2     Kemampuan memahami alat pengembangan program untuk aplikasi pada     komputer tunggal, komputer jaringan, tanpa tampilan dan dengan tampilan      pada monitor

3.2     Kemampuan memahami hasil rancangan program sesuai dengan diagram dan deskripsi program.

 

  1. 4.        Kaitan dengan unit-unit lainnya

              Kaitan unit dengan unit-unit lainnya, adalah sebagai berikut:

4.1     Unit ini didukung oleh pengetahuan dan keterampilan dalam unit-unit kompetensi yang berkaitan dengan dasar-dasar teknologi informasi:

4.1.1    TIK.PR02.002.01 Menggunakan algoritma pemrograman lanjut

4.1.2    TIK.PR02.003.01 Membuat struktur data

4.1.3    TIK.PR02.008.01 Mengoperasikan bahasa pemrograman terstruktur

4.2     Pengembangan pelatihan untuk memenuhi persyaratan dalam unit ini perlu dilakukan dengan hati-hati. Untuk pelatihan pra kejuruan umum, institusi harus menyediakan pelatihan yang mempertimbangkan serangkaian konteks industri seutuhnya tanpa bias terhadap sekor tertentu. Batasan variable akan membantu dalam hal ini. Untuk sektor tertentu/khusus, pelatihan harus disesuaikan untuk memenuhi kebutuhan sektor tersebut.

 2.3.6 Kompetensi Kunci

          Kompetensi kunci dalam bahasan ini dapat dilihat dalam tabel di bawah ini.

 

No.

KOMPETENSI KUNCI DALAM UNIT INI

TINGKAT

1.

Mengumpulkan, mengorganisir dan menganalisa informasi

2

2.

Mengkomunikasikan ide-ide dan informasi

2

3.

Merencanakan dan mengorganisir aktivitas-aktivitas

1

4.

Bekerja dengan orang lain dan kelompok

1

5.

Menggunakan ide-ide dan teknik matematika

1

6.

Memecahkan masalah

1

7.

Menggunakan teknologi

1

Tabel 2 Kompetensi Kunci

 


BAB III

STRATEGI DAN METODE PELATIHAN

 

3.1        Strategi Pelatihan

Belajar dalam suatu Sistem Berbasis Kompetensi berbeda dengan yang sedang “diajarkan” di kelas oleh Pelatih. Pada sistem ini Anda akan bertanggung jawab terhadap belajar Anda sendiri, artinya bahwa Anda perlu merencanakan belajar Anda dengan Pelatih dan kemudian melakukan praktek sesuai dengan rencana yang telah dibuat.

 

Persiapan/perencanaan

  1. Membaca bahan/materi yang telah diidentifikasi dalam setiap tahap belajar dengan tujuan mendapatkan tinjauan umum mengenai isi proses belajar Anda.
  2. Membuat catatan terhadap apa yang telah dibaca.
  3. Memikirkan bagaimana pengetahuan baru yang diperoleh berhubungan dengan pengetahuan dan pengalaman yang telah Anda miliki.
  4. Merencanakan aplikasi praktik pengetahuan dan keterampilan Anda.

 

Permulaan dari proses pembelajaran

  1. Mencoba mengerjakan seluruh pertanyaan dan tugas praktik yang terdapat pada tahap belajar.
  2. Merevisi dan meninjau materi belajar agar dapat menggabungkan pengetahuan Anda.

 

Pengamatan terhadap tugas praktik

  1. Mengamati keterampilan praktik yang didemonstrasikan oleh Pelatih atau orang yang telah berpengalaman lainnya.
  2. Mengajukan pertanyaan kepada Pelatih tentang konsep sulit yang Anda temukan.

 

Implementasi

  1. Menerapkan pelatihan kerja yang aman.
  2. Mengamati indikator kemajuan personal melalui kegiatan praktik.
  3. Mempraktikkan keterampilan baru yang telah Anda peroleh.

 

          Penilaian

Melaksanakan tugas penilaian untuk penyelesaian belajar Anda.

 

3.2        Metode Pelatihan

Terdapat tiga prinsip metode belajar yang dapat digunakan. Dalam beberapa kasus, kombinasi metode belajar mungkin dapat digunakan.

 

Belajar secara mandiri

Belajar secara mandiri membolehkan Anda untuk belajar secara individual, sesuai dengan kecepatan belajarnya masing-masing. Meskipun proses belajar dilaksanakan secara bebas, Anda disarankan untuk menemui Pelatih setiap saat untuk mengkonfirmasikan kemajuan dan mengatasi kesulitan belajar.

 

Belajar Berkelompok

Belajar berkelompok memungkinkan peserta untuk dating bersama secara teratur dan berpartisipasi dalam sesi belajar berkelompok. Walaupun proses belajar memiliki prinsip sesuai dengan kecepatan belajar masing-masing, sesi kelompok memberikan interaksi antar peserta, Pelatih dan pakar/ahli dari tempat kerja.

 

Belajar terstruktur

Belajar terstruktur meliputi sesi pertemuan kelas secara formal yang dilaksanakan oleh Pelatih atau ahli lainnya. Sesi belajar ini umumnya mencakup topik tertentu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


BAB IV

MATERI UNIT KOMPETENSI

4.1 Tujuan Instruksional Umum

  • Peserta pelatihan dapat menggunakan metode-metode yang digunakan dalam pembuatan program
  • Peserta pelatihan dapat membuat diagram-diagram yang digunakan dalam pembuatan program.
  • Peserta pelatihan dapat menerapkan pointer dalam pengembangan program.
  • Peserta pelatihan dapat menentukan metode-metode pengembangan program sesuai kebutuhan.
  • Peserta pelatihan mengetahui kelebihan dan kekurangan masing-masing metode pengembangan.
  • Peserta pelatihan dapat menggunakan Diagram Context Data (DCD), Data Flow Diagram (DFD), dan Entity Relationship Diagram (ERD).
  • Peserta pelatihan dapat menggunakan diagram objek seperti class modul, inheritance.
  • Peserta pelatihan dapat menggunakan diagram komponen.
  • Peserta pelatihan dapat menggunakan Alat pengembangan program untuk aplikasi pada komputer tunggal (stand alone).
  • Peserta pelatihan dapat menggunakan Alat pengembangan program untuk aplikasi pada komputer jaringan.

4.2 Tujuan Instruksional Khusus

 

4.3 Uraian Singkat Materi :

Membuat Spesifikasi Program

 

Membuat spesifikasi program yang harus dilakukan adalah mengidentifikasi kebutuhan dari program sehingga kita dapat menentukan metode program yang digunakan. Jenis-jenis program juga harus diketahui sehingga dapat menentukan metode program yang akan digunakan peralatan pengembangan yang digunakan sesuai dengan metode tersebut. Dalam bagian ini juga kita akan membahas tentang diagram-diagram yang digunakan dalam pengembangan atau pembuatan program. Diagram-diagram tersebut, adalah: Diagram kontek data (DCD-Data Contact Diagram), Diagram aliran data (DFD-Data Flow Diagram), Diagram relasi entitas (ERD-Entity Relation Diagram), Diagram objek seperti class modul, inheritance, dan diagram komponen. Selain itu juga dalam buku ini dijelaskan tentang alat pengembangan program untuk aplikasi pada komputer tunggal (stand alone) dan Alat pengembangan program untuk aplikasi pada komputer jaringan (client server atau terdistribusi).

 

4.4 Beberapa Pengertian dalam Unit Kompetensi Ini :

Pengertian dalam unit kompetensi ini adalah:

 

  1. Black hole, yaitu salah satu bentuk kesalahan dalam pembuatan diagram aliran data, dimana ada data yang masuk, tetapi tidak ada output (hasil).
  2. Data store, yaitu salah satu simbol yang digunakan dalam diagram aliran data, yang berfungsi sebagai penyimpanan data.
  3. External Entity, yaitu entitas atau objek yang terlibat dalam suatu sistem.
  4. White hole, yaitu salah satu bentuk kesalahan dalam pembuatan diagram aliran data, dimana tidak ada data yang masuk, tetapi ada output (hasil).

 

4.5 Informasi masing-masing elemen kompetensi:

1) Pengetahuan Kerja

 

Macam-macam Metode Pengembangan Program

Pada bagian ini akan dijelaskan tentang macam-macam pengembangan program, dan perlatan-peralatan pengembangan program. Proses pengembangan system yaitu seperangkat aktivitas, metode, dan praktik dan alat-alat terotomatisasi yang digunakan untuk meningkatkan dalam pengembangan sistem dan software.Pada awal berkembangnya system informasi, pengembangan system informasi dilakukan oleh programmer. Manajemen perusahaan (user) meminta kepada programmer untuk membuatkan program tertentu yang bisa membantu aktivitasnya. Dengan permintaan tersebut programmer akan meminta data yang harus dimasukkan dan laporan atau informasi yang ingin dikeluarkan, berdasarkan data dan laporan inilah programmer mulai dan bekerja. Hasil akhir dari pekerjaan ini ternyata informasi yang dihasilkan tidak memuaskan dan saat itulah muncul pemikiran perlu adanya analisis sebelum sistem informasi dirancang, dan lahirlah satu metode pengembangan sistem informasi.

Dalam melakukan pengembangan program, maka yang terlebih dahulu dilakukan adalah menentukan metode pengembangan program. Penentuan metode pengembangan program ini didasarkan pada kebutuhan client. Macam-macam metode pengembangan program akan dijelaskan di bawah ini.

 

  1. System Development Life Cycle (SDLC)

Metode ini bisa juga disebut dengan classic life cycle. Metode ini membutuhkan pendekatan sistematis dan sekuensial dalam pengembangan perangkat lunak, dimulai dari tingkat sistem dan kemajuan melalui analisis, desain, coding, testing dan pemeliharaan. Pemodelan ini menyangkut aktivitas berikut:

  • Rekayasa dan Pemodelan Sistem/Informasi (System/Information Engineering and Modeling). Karena perangkat lunak adalah bagian dari sistem yang lebih besar, pekerjaan dimulai dari pembentukan kebutuhan-kebutuhan dari semua elemen sistem dan mengalokasikan suatu subset ke dalam pembentukan perangkat lunak. Hal ini penting, ketika perangkat lunak harus berkomunikasi dengan hardware, orang dan basis data. Rekayasa dan pemodelan sistem menekankan pada pengumpulan kebutuhan pada level sistem dengan sedikit perancangan dan analisis. Tahap ini juga kadang disebut dengan Project Definition.
  • Analisis Kebutuhan Perangkat Lunak (Software Requirements Analysis). Proses pengumpulan kebutuhan diintensifkan ke perangkat lunak. Harus dapat dibentuk domain informasi, fungsi yang dibutuhkan, performansi dan antarmuka. Hasilnya harus didokumentasikan dan di-review ke pelanggan.
  • Desain (Design). Proses desain mengubah kebutuhan-kebutuhan menjadi bentuk karakteristik yang dimengerti perangkat lunak sebelum dimulai penulisan program. Desain ini harus didokumentasikan dengan baik dan menjadi bagian konfigurasi perangkat lunak.
  • Penulisan Program (Coding). Desain tadi harus diubah menjadi bentuk yang dimengerti mesin (komputer). Maka dilakukan langkah penulisan program. Jika desain-nya detil, maka coding dapat dicapai secara mekanis.
  • Testing. Setelah kode program selesai dibuat, dan program dapat berjalan, testing dapat dimulai. Testing difokuskan pada logika internal dari perangkat lunak, fungsi eksternal, dan mencari segala kemungkinan kesalahan. Dab memeriksa apakah sesuai dengan hasil yang diinginkan.
  • Support/Maintenance. Perangkat lunak setelah diberikan pada pelanggan, mungkin dapat ditemui error ketika dijalankan dilingkungan pelanggan. Atau mungkin pelanggan meminta penambahan fungsi, hal ini menyebabkan faktor maintenance (pemeliharaan) ini menjadi penting dalam penggunaan metode ini. Pemeliharaan ini dapat berpengaruh pada semua langkah yang dilakukan sebelumnya.

Kelebihan:
Metode ini masih lebih baik digunakan walaupun sudah tergolong “kuno”, daripada menggunakan pendekatan asal-asalan. Selain itu, metode ini juga masih masuk akal jika kebutuhan sudah diketahui dengan baik.

Kekurangan:

  1. Pada kenyataannya, jarang mengikuti urutan sekuensial seperti pada teori. Iterasi sering terjadi menyebabkan masalah baru.
  2. Sulit bagi pelanggan untuk menentukan semua kebutuhan secara eksplisit.
  3. Pelanggan harus sabar, karena pembuatan perangkat lunak akan dimulai ketika tahap desain sudah selesai. Sedangkan pada tahap sebelum desain bisa memakan waktu yang lama.
  4. Kesalahan di awal tahap berakibat sangat fatal pada tahap berikutnya.

Berikut adalah gambar dari tahapan metode SDLC

 

Gambar 1 (Elemen Kompetensi 1 : Menggunakan metode pengembangan program ) Tahapan Metode SDLC

 

  1. Metode Prototyping

Secara umum tujkuan pengembangan sistem informasi adalah untuk memberikan kemudahan dalam penyimpanan informasi, mengurangi biaya dan menghemat waktu, meningkatkan pengendalian, mendorong pertumbuhan, meningkatkan produktifitas serta profitabilitas organisasi. Dalam beberapa tahun terakhir ini peningkatan produktifitas organisasi ini dibantu dengan berkembangnya teknologi komputer baik hardware maupun softwarenya. Tetapi tidak semua kebutuhan sistem informasi dengan komputer itu dapat memenuhi kebutuhan dan menyelesaikan masalah yang dihadapi organisasi. Keterbatasan sumber daya dan anggaran pemeliharaan memaksa para pengembang sistem informasi untuk menemukan jalan untuk mengoptimalkan kinerja sumber daya yang telah ada.

Karakteristik dari suatu sistem informasi manajemen yang lengkap tergantung dari masalah yang dihadapi, proses pengembangannya dan tenaga kerja yang akan dikembangkannya. Seiring dengan perkembangan permasalahan karena berubahnya lingkungan yang berdampak kepada perusahaan maka yang menjadi parameter proses pengembangan sistem informasi yaitu masalah yang dihadapi, sumber daya yang tersedia dan perubahan, sehingga hasil pengembangan sistem informasi manajemen baik yang diharapkan oleh perorangan maupun oleh organisasi turut berubah.

Perubahan tersebut pada akhirnya menimbulkan ketidakpastian dan menambah kompleks/rumit masalah yang dihadapi oleh para analis sistem informasi. Metode tradisional seperti SDLC dianggap tidak lagi mampu memenuhi tantangan perubahan dan kompleksnya masalah yang dihadapi tersebut. Sekitar awal tahun delapan puluhan, para profesional dibidang sistem informasi memperkenalkan satu metode pengembangan sistem informasi baru, yang dikenal dengan nama metode prototyping.

Metode prototyping sebagai suatu paradigma baru dalam pengembangan sistem informasi manajemen, tidak hanya sekedar suatu efolusi dari metode pengembangan sistem informasi yang sudah ada, tetapi sekaligus merupakan refolusi dalam pengembangan sistem informasi manajemen. Metode ini dikjatakan refolusi karena merubah proses pengembangan sistem informasi yang lama (SDLC).

Menurut literatur, yang dimaksud dengan prototipe (prototype) adalah ”model pertama”, yang sering digunakan oleh perusahaan industri yang memproduksi barang secara masa. Tetapi dalam kaitannya dengan sistem informasi definisi kedua dari Webster yang menyebutkan bahwa ”prototype is an individual that exhibits the essential peatures of later type”, yang bila diaplikasikan dalam pengembangan sistem informasi manajemen dapat berarti bahwa Prototipe tersebut adalah sistem informasi yang menggambarkan hal-hal penting dari sistem informasi yang akan datang. Prototipe sistem informasi bukanlah merupakan sesuatu yang lengkap, tetapi sesuatu yang harus dimodifikasi kembali, dikembangkan, ditambahkan atau digabungkan dengan sistem informasi yang lain bila perlu.

Dalam beberapa hal pengembangan software berbeda dengan produk-produk manufaktur, setiap tahap atau fase pengembangan sistem informasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari seluruh proses yang harus dilakukan. Proses ini umumnya hanya untuk satu produk dan karakteristik dari produk tersebut tidak dapat ditentukan secara pasti seperti produk manufaktur, sehingga penggunaan ”model pertama” bagi pengembangan software tidaklah tepat. Istilah prototyping dalam hubungannya dengan pengembangan software sistem informasi manajemen lebih merupakan suatu proses bukan prototipe sebagai suatu produk.

Karakteristik metode prototyping

Ada empat langkah yang menjadi karakteristik metode prototyping yaitu :

  • Pemilahan fungsi

Mengacu pada pemilahan fungsi yang harus ditampilkan oelh prototyping. Pemilahan harus selalu dilakukan berdasarkan pada tugas-tugas yang relevan yang sesuai dengan contoh kasus yang akan dipergakan

  • Penyusunan Sistem Informasi

Bertujuan untuk memenuhi permintaan akan tersedianya prototype

  • Evaluasi

Penggunaan Selanjutnya

Jenis-jenis prototyping meliputi hal-hal di bawah ini, yaitu:

  • Feasibility prototyping

Digunakan untuk menguji kelayakan dari teknologi yang akan digunakan untuk system informasi yang akan disusun.

  • Requirement prototyping

Digunakan untuk mengetahui kebutuhan aktivitas bisnis user.

  • Desain Prototyping

Digunakan untuk mendorong perancangan system informasi yang akan digunakan.

  • Implementation prototyping

Lanjutan dari rancangan protipe, prototype ini langsung disusun sebagai suatu system informasi yang akan digunakan.

Keunggulan dan Kelemahan metode prototyping

Keunggulan

1. End user dapat berpartisipasi aktif

2. Penentuan kebutuhan lebih mudah diwujudkan

3. Mempersingkat waktu pengembangan SI

Kelemahan

1. Proses analisis dan perancangan terlalu singkat

2. Mengesampingkan alternatif pemecahan masalah

3. Bisanya kurang fleksible dalam mengahdapi perubahan

4. Protitype yang dihasilkan tidak selamanya mudah dirubah

5. Prototype terlalu cepat selesai

Berikut merupakan gambar tahapan dari metode prototype.

 

Gambar 2 (Elemen Kompetensi 1 : Menggunakan metode pengembangan program ) Tahapan Metode Prototype

 

  1. Metode Rapid Application Development (RAD)

Model RAD merupakan model inkremental dari proses pengembangan perangkat lunak yang menekankan pada sedikitnya siklus pengembangan. Model ini memecah suatu proyek menjadi bagian-bagian kecil yang mana tiap bagiannya dibangun dengan model yang mirip dengan Waterfall. Tujuan utama model ini adalah menyelesaikan suatu proyek per bagian, sehingga proses perencanaannya pun per bagian (walaupun pada awalnya melakukan perencanaan secara global).

Model RAD menekankan pada fase-fase berikut:

  • Business modeling. Pada tahap ini, aliran informasi (information flow) pada fungsi-fungsi bisnis dimodelkan untuk mengetahui informasi apa yang mengendalikan proses bisnis, informasi apa yang hasilkan, siapa yang membuat informasi itu, kemana saja informasi mengalir, dan siapa yang mengolahnya.
  • Data modeling. Aliran informasi yang didefinisikan dari business modeling, disaring lagi agar bisa dijadikan bagian-bagian dari objek data yang dibutuhkan untuk mendukung bisnis tersebut. Karakteristik (atribut) setiap objek ditentukan beserta relasi antar objeknya.
  • Process modeling. Objek-objek data yang didefinisikan sebelumnya diubah agar bisa menghasilkan aliran informasi untuk diimplementasikan menjadi fungsi bisnis. Pengolahan deskripsi dibuat untuk menambah, merubah, menghapus, atau mengambil kembali objek data.
  • Application generation. RAD bekerja dengan menggunakan fourth generation techniques (4GT). Sehingga pada tahap ini sangat jarang digunakan pemrograman konvensional menggunakan bahasa pemrograman generasi ketiga (third generation programming languages), tetapi lebih ditekankan pada reuse komponen-komponen (jika ada) atau membuat komponen baru (jika perlu). Dalam semua kasus, alat bantu untuk otomatisasi digunakan untuk memfasilitasi pembuatan perangkat lunak.
  • Testing and turnover. Karena menekankan pada penggunaan kembali komponen yang telah ada (reuse), sebagian komponen-komponen tersebut sudah diuji sebelumnya. Sehingga mengurangi waktu testing secara keseluruhan. Kecuali untuk komponen–komponen baru.

Kelebihan:
RAD memang lebih cepat dari waterfall jika kebutuhan dan batasan proyek sudah diketahui dengan baik. Juga jika proyek memungkinkan untuk dimodularisasi.

Kekurangan:

  1. Tidak semua proyek bisa dipecah (dimodularisasi), sehingga belum tentu RAD dipakai pada semua proyek.
  2. Karena proyek dipecah menjadi beberapa bagian, maka dibutuhkan banyak orang untuk membentuk suatu tim yang mengerjakan tiap bagian tersebut.
  3. Membutuhkan komitmen antara pihak pengembang dan pelanggan.
  4. Karena dibuat dengan reuse komponen-komponen yang sudah ada, fasilitas-fasilitas pada tiap komponen belum tentu digunakan seluruhnya oleh program yang me-reuse-nya sehingga kualitas program bisa menurun

Berikut adalah gambar dari tahapan metode RAD.

 

Gambar 3 (Elemen Kompetensi 1 : Menggunakan metode pengembangan program ) Tahapan Metode RAD

 

  1. Metode Spiral

Model ini mengambil fitur penting dari model waterfall dan prototyping, dengan menambah elemen baru yaitu analisa resiko (risk analysis). Model ini memiliki 6 aktivitas penting, yaitu:

  1. Customer Communication; komunikasi antara pengembang dengan pelanggan.
  2. Planning; penentuan tujuan, alternatif dan batasan.
  3. Risk Analysis; analisa alternatif dan identifikasi/pemecahan resiko.
  4. Engineering; pengembangan level berikutnya dari produk.
  5. Construction and release; testing, instalasi, dan menyediakan support termasuk dengan training pada user dan pembuatan dokumentasi.
  6. Customer Evaluation; penilaian terhadap hasil engineering.

Bentuk spiral memberikan gambaran bahwa makin iterasinya membesar, maka menunjukkan makin lengkapnya versi dari perangkat lunak yang digunakan. Selama awal sirkuit, objektif, alternatif dan batasan didefinisikan serta resiko diidentifikasi dan dianalisa. Jika analisa resiko menunjukkan ada ketidakpastian terhadap kebutuhan, maka prototyping harus dibuat pada kuadran engineering. Simulasi dan pemodelan lain dapat digunakan untuk mendefinisikan masalah dan memperbaiki kebutuhan.

Pelanggan mengevaluasi hasil engineering (kuadran customer evaluation) dan membuat usulan untuk perbaikan. Berdasarkan masukan dari pelanggan, fase berikutnya adalah planning dan analisis resiko. Setelah analisis resiko, selalu diperiksa apakah proyek diteruskan atau tidak, jika resiko terlalu besar, maka proyek dapat dihentikan.

Kelebihan:
Model spiral ini adalah pendekatan yang paling realistik untuk sistem skala besar. Metode ini menggunakan pendekatan evolusioner, sehingga pelanggan dan pengembang dapat mengerti dan bereaksi terhadap suatu resiko yang mungkin terjadi. Model ini membutuhkan konsiderasi langsung terhadap resiko teknis, sehingga diharapkan dapat mengurangi terjadinya resiko yang lebih besar. Pada setiap fase evolusi, bisa digunakan prototyping.

Kekurangan:
Mungkin akan agak sulit untuk meyakinkan pelanggan besar, bahwa pendekatan evolusioner ini dapat diatur. Hal ini membutuhkan keahlian tersendiri. Selain itu, jika resiko utama tidak ditemukan, maka masalah bisa muncul kemudian. Sehingga membutuhkan kemampuan manajemen dan perkiraan resiko (risk assessment) yang cukup tinggi.

 

Gambar 4 (Elemen Kompetensi 1 : Menggunakan metode pengembangan program ) Tahapan Metode Spiral

 

  1. Fourth-Generation Techniques (4GT)

Istilah Fourth-Generation (generasi keempat) mengarah ke perangkat lunak yang umum yaitu, tiap pengembang perangkat lunak menentukan beberapa karakteristik perangkat lunak pada level yang tinggi. Tool akan otomatis menghasilkan sumber berdasarkan spesifikasi tersebut. Teknik 4GT ini menekankan pada kemampuan menentukan perangkat lunak pada level mesin dengan bahasa yang lebih alami atau notasi yang lebih memiliki arti.

Saat ini, pengembangan perangkat lunak yang mendukung 4GT, berisi tool-tool berikut: Bahasa non-prosedural untuk query basis data, report generation, data manipulation, interaksi layar dan definisi, code generation, kemampuan grafik level tinggi, kemampuan spreadsheet, dan automated generation of HTML serta bahasa-bahasa yang mirip yang digunakan untuk membuat suatu website dengan menggunakan perangkat lunak tertentu. Tiap tool ini ada, tapi hanya untuk aplikasi khusus.

Metode 4GT ini dimulai dari pengumpulan kebutuhan. Idealnya pelanggan akan menjelaskan kebutuhannya, yang akan langsung ditranslasikan ke prototipe operasional. Tapi, prototipe ini tidak bekerja. Pelanggan mungkin tidak pasti akan hal yang dibutuhkannya atau tidak dapat menentukan informasi yang dapat ditangani tool 4GT. Tool 4GT yang sudah ada tidak cukup canggih untuk mengakomodasikan bahasa alami. Pada saat ini, dialog antara pelanggan dan pengembang yang ada pada metode sebelumnya tetap menjadi bagian penting dari teknik 4GT.

Implementasi menggunakan 4GL (Fourth-Generation Language) dapat dihasilkan dari program kode yang sesuai. Tetapi struktur data dengan informasi lainnya harus ada dan dapat diakses oleh 4GL. Untuk aplikasi kecil, adalah mungkin untuk langsung berpindah dari pengumpulan kebutuhan ke implementasi menggunakan bahasa non-prosedural (Fourth-Generation Language – 4GL).

Kelebihan:
Karena 4GT menggunakan 4GL yang “notabene” merupakan bahasa pemrograman yang khusus dirancang dengan tujuan tertentu (spesifik), maka untuk permasalahan yang tertentu dengan 4GL tertentu pula sangat tepat menggunakan 4GT. Bahkan ada 4GL yang bisa meng-generate sistem dari output yang dihasilkan oleh CASE tools.

Kekurangan:

  1. Untuk usaha yang besar, dibutuhkan pengembangan strategi desain untuk sistem, walau digunakan bahasa 4GL. Penggunaan 4GT tanpa perencanaan matang (untuk proyek besar) akan menyebabkan kesulitan yang sama (kualitas dan pemeliharaan yang jelek, ketidakpuasan pelanggan) seperti dengan metode konvensional.
  2. 4GL tidak selalu berhasil menghasilkan sistem yang diinginkan.

 

Gambar 5 (Elemen Kompetensi 1 : Menggunakan metode pengembangan program ) Tahapan Metode 4GT

 

  1. Metode Soft System

Metode soft system memiliki tahapan-tahapan proses untuk menangani masalah-masalah dalam kehidupan sehari-hari, yang berdampak pada organisasi. Tahapan tersebut meliputi :

  • Masalah relatif bagi setiap orang; masalah tidak terstruktur
  • Menyusun problematique diagram dan rich picture
  • Menyusun konsep model terdiri dari SI dan strategi yang mungkin digunakan.
  • Membandingkan antara masalah dalam tahap dua dengan model pada tahap tiga diatas
  • Diskusi untuk menghasilakna suatu SI dan strategi yang sesuai dengan kultur yang ada
  • Menyusun Proposal, strategi dan taktik untuk menyelesaikan masalah
  1. Metode Joint Application Development (JAD)

JAD merupakan suatu kerjasama yang terstruktur antara pemakai sistem informasi, manajer dan ahli sistem informasi untuk menentukan dan menjabarkan permintaan pemakai, teknik yang dibuthkan dan unsur rancangan eksternal

Tujuan JAD adalah memberi kesempatan kepada user dan manajemen untuk berpartisipasi secara luas dalam siklus pengembangan sistem informasi

KETERLIBATAN USER DALAM PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI

Ada beberapa alasan pentingnya keterlibatan user dalam perancangan dan pengembangan sistem informasi menurut Laela Dmodaran (1983) yaitu :

  1. Kebutuahan user. user adalah orang dalam perusahaan. Analisi sistem atau ahli sistem adalah orang diluar perusahaan. Sistem informasi dikembangkan bukan untuk pembuat sistem tapi untuk user agar sistem bisa diterapkan, sistem tersebut harus bisa menyerap kebutuhan user dan yang mengetahui kebutuhan user adalah user sendiri, sehingga keterlibatannya dalam pengembangan sistem informasi akan meningkatkan tingkat keberhasilan pengembangan sistem informasi.
  2. Pengetahuan akan kondisi lokal. Pemahaman terhadap lingkungan dimana sistem informasi akan dioterapkan perlu dimiliki oleh perancang sistem informasi, dan untuk memperoleh pengetahuan tersebut perancang sistem meminta bantuan user yang menguasai kondisi lingkungan tempatnya bekerja.
  3. Keengganan untuk berubah. Seringkali user merasa bahwa sistem informasi yang disusun tidak dapat dipergunakn dan tidak sesuai dengan kebutuhan. Untuk mengurangi keengganan untuk berubah tersebut dapat dikurangi bila user terlibat dalam proses perancangan dan pengembangan sistem informasi.
  4. User merasa terancam. Banyak user menyadari bahwa penerpan sistem informasi komputer dalam organisasi mungkin saja mengancam pekerjaannya, atau menjadikan kemampuan yang dimilikinya tidak relevan dengan kebutuhan organisasi. Keterlibatn user dalam proses perancangan sistem informasi merupakan salah satu cara menghindari kondisi yang tidak diharapkan dari dampak penerapan sistem informasi dengan komputer.
  5. Meningkatkan alam demokrasi. User terlibat secara langsung dalam mengambil keputusan yang berdampak terhadap mereka.

Peralatan pengembangan program sesuai metode pengembangan

Peralatan pengembangan software atau program memberikan dukungan atau semiautomasi untuk metode. Contohnya :

  • CASE (Case Aided Software Engineering), yaitu suatu software yang menggabungkan software, hard­ware, dan database software engineering untuk menghasilkan suatu lingkungan software engineering. Selain itu juga CASE mencakup berbagai macam program yang digunakan untuk mendukung kegiatan PL seperti analisis persyaratan, pemodelan sistem, debugging, dan pengujian.
  • Database Software Engineering, adalah sebuah struktur data yang berisi informasi penting tentang analisis, desain, kode dan testing. Analogi dengan CASE pada hardware adalah : CAD, CAM, CAE
  • Bahasa pemrograman, adalah bahasa pemograman tertentu yang digunakan untuk membangun suatu sistem, contohnya adalah: Power Builder 9.0
  • DBMS      (Database Management System), yaitu bahasa pemograman basisdata yang digunakan untuk mendukung penyimpanan data yang merupakan input dan output program atau aplikasi. Contohnya adalah: MSSQL Server 2000

 

2) Ketrampilan Kerja

Macam-macam metode pengembangan program digunakan

  • Mengumpulkan informasi mengenai macam-macam metode yang digunakan
  • Mencari referensi yang sesuai dengan metode yang digunakan

 

Peralatan pengembangan program sesuai metode pengembangan program dijelaskan sesuai standar yang dipakai

  • Menggunakan berbagai macam peralatan pengembangan program berlatih
  • Belajar menggunakan peralatan sesuai dengan pengembangan program yang dibutuhkan

 

3) Sikap Kerja

Sikap kerja ditunjukkan pada saat praktek di lingkungan kerja.

1. Menggunakan berbagai macam metode pengembangan program dengan lancar dan benar

2. Peralatan pengembangan program harus dikuasai sepenuhnya sehingga diagram gampang dimengerti

 

4.6 Menggunakan Diagram Program

Dalam  bagian ini akan dijelaskan tentang  Data Context Diagram (DCD), diagram aliran data (DFD), diagram relasi entitas (ERD), diagram objek, dan diagram komponen.

 

1) Pengetahuan Kerja

 

Diagram kontek data (DCD-Data Context Diagram)

Diagram kontek disebut juga dengan model sistem fundamental (fundamental system model). Diagram kontek data dibuat pertama kali pada saat melengkapi model proses untuk sebuah sistem. Diagram kontek data menggambarkan sistem dengan satu proses dan beberapa entitas eksternal yang akan berinteraksi dengan sistem. Sebuah diagram kontek data biasanya disebut dengan sistem itu sendiri dan tidak dimulai dengan kata benda. Secara khusus penyimpanan data bukan merupakan bagian dalam diagram kontek diagram.

 

Setelah diagram kontek data digambarkan, maka langkah selanjutnya adalah memecahnya ke dalam level berikutnya.

 

Gambar berikut ini merupakan contoh dari diagram kontek data.

 

 

Gambar 6 (Elemen Kompetensi 2 : Menggunakan diagram       program dan deskripsi      program ) DCD-Data Context Diagram

 

Diagram aliran data (DFD-Data Flow Diagram).

 

Diagram aliran data disebut juga model proses. Model proses merupakan suatu teknik analisis yang digunakan untuk menangkap aliran dari inputan data lewat sistem (atau sekumpulan dari proses) yang akan ditampilkan, dihasilkan, atau dikeluarkan ke dalam suatu output. Pemodelan ini sangat sederhana karena hanya terdiri dari empat komponen atau simbol, yaitu proses (process), aliran data (data flow), entitas eksternal (external entity), dan penyimpanan data (data store). Diagram aliran data digunakan untuk merepresentasikan secara visual apa yang dilakukan oleh sistem. Diagram aliran data akan sangat mudah dimengerti jika melihat gambar atau diagram dibandingkan dengan apabila membaca deskripsi program secara tekstual. Berikut akan dijelaskan tentang simbol-simbol yang digunakan dalam diagram aliran data.

  1. Proses, merupakan sebuah aktivitas atau fungsi yang dilakukan dengan alasan tertentu, baik secara manual maupun terkomputerisasi. Setiap proses harus melakukan satu aktivitas.

 

 

Gambar 7 (Elemen Kompetensi 2 : Menggunakan diagram       program dan deskripsi      program ) DCD-Data Context Diagram

 

  1. Aliran data, merupakan seperangkat data atau logical dari suatu informasi.

 

 

Gambar 8 (Elemen Kompetensi 2 : Menggunakan diagram       program dan deskripsi      program ) Aliran data

 

  1. Penyimpanan data, merupakan sekumpulan data yang disimpan secara permanen.

 

Gambar 9 (Elemen Kompetensi 2 : Menggunakan diagram       program dan deskripsi      program ) Penyimpanan data

 

  1. Entitas eksternal, merupakan entitas yang terlibat dalam system, biasanya sebagai pemberi data ke sistem maupun penerima data /output dari sistem. Entitas eksternal ini dapat berupa orang, perusahaan, sistem, dan lain-lain.

 

 

Gambar 10 (Elemen Kompetensi 2 : Menggunakan diagram     program dan deskripsi      program ) Entitas Eksternal

 

 

Berikut merupakan contoh dari diagram aliran data yang sederhana.

 

 

Gambar 11 (Elemen Kompetensi 2 : Menggunakan diagram     program dan deskripsi      program ) Diagram aliran data sederhana

 

Berikut merupakan kesalahan-kesalahan yang sering terjadi dalam pembuatan diagram aliran data. Dapat dilihat melalui gambar di bawah ini.

  • Black Hole, dimana semua input tidak ada output yang dikeluarkan oleh sistem.

 

 

 

Gambar 12 (Elemen Kompetensi 2 : Menggunakan diagram     program dan deskripsi      program ) Black Hole

 

  • White Hole, merupakan kebalikan dari Black Hole. Pada white hole justru tidak ada input yang masuk ke dalam sistem, tetapi menghasilkan output.

 

 

Gambar 13 (Elemen Kompetensi 2 : Menggunakan diagram     program dan deskripsi      program ) White Hole

 

  • Tidak melengkapi pelabelan proses secara keseluruhan.

 

 

 

Gambar 14 (Elemen Kompetensi 2 : Menggunakan diagram     program dan deskripsi      program ) Proses yang tidak lengkap

 

  • Sumber data yang ajaib.

 

 

Gambar 15 (Elemen Kompetensi 2 : Menggunakan diagram     program dan deskripsi      program ) Miracle data source

 

  • Black hole sumber data.

 

 

Gambar 16 (Elemen Kompetensi 2 : Menggunakan diagram     program dan deskripsi      program ) Black Hole data source

 

  • Tidak boleh terjadi aliran data antar penyimpanan data kecuali dihubungkan oleh suatu proses.
  • Tidak boleh terjadi aliran data antar entitas eksternal kecuali dihubungkan oleh suatu proses.

 

Diagram relasi entitas (ERD-Entity Relation Diagram)

 

Diagram relasi entitas merupakan diagram yang mempunyai tujuan utama untuk menggambarkan objek data dan bagaimana relasinya satu sama lain. Objek data digambarkan dalam suatu empat persegi panjang. Relasinya digambarkan dengan garis penghubung objek. Dalam kebanyakan penggambaran diagram relasi entitas, dalam garis penghubung objek tersebut disertakan gambar berlian dengan label relasinya. Koneksi antara objek data dan relasinya dibangun menggunakan variasi suatu simbol yang mengindikasi cardinality dan modality. Berikut merupakan contoh dari diagram relasi entitas. Cardinality adalah bilangan yang menyatakan relationship antar entity.

 

 

 

Gambar 17 (Elemen Kompetensi 2 : Menggunakan diagram     program dan deskripsi      program ) ERD

 

Diagram objek

Diagram Object (class hierarchy) dapat didefinisikan sebagai berikut:

  • Diagram yang menggambarkan model object yaitu model yang menggambarkan struktur statis dari suatu object dalam system dan relasinya.
  • Diagram menggambarkan struktur dan deskripsi class, package dan objek beserta hubungan satu sama lain seperti containment, pewarisan, asosiasi, dan lain-lain.

 

Diagram komponen

Component diagram menggambarkan struktur dan hubungan antar komponen piranti lunak, termasuk ketergantungan ( dependency ) di antaranya. Komponen piranti lunak adalah modul berisi code , baik berisi source code maupun binary code , baik library maupun executable , baik yang muncul pada compile time, link time , maupun run time . Umumnya komponen terbentuk dari beberapa class dan/atau package , tapi dapat juga dari komponen-komponen yang lebih kecil. Komponen dapat juga berupa interface , yaitu kumpulan layanan yang disediakan sebuah komponen untuk komponen lain.

 

2) Ketrampilan Kerja

Diperlukan pengertian luas dan menerapkan semua informasi mengenai diagram supaya bisa menampilkan diagram sesuai dengan yang diperlukan.

 

3) Sikap Kerja

Sikap Kerja ditunjukkan pada saat berada di lingkungan kerja, misalnya :

1. Menggunakan Contact Data untuk membuat DCD

2. Menggunakan ALiran data membuat DFD

3. Melengkapi semua entitas beserta relasinya dalam ERD

4. Semua objek seperti class modul dan inheritance digunakan melengkapi diagram

 

4.7 Menerapkan pointer

1) Pengetahuan Kerja

Pada bagian ini dijelaskan tentang Alat pengembangan program untuk aplikasi pada komputer tunggal (stand alone) dan alat pengembangan program untuk aplikasi pada komputer jaringan.

 

Alat pengembangan program untuk aplikasi pada komputer tunggal (stand alone)

 

Untuk mendapatkan kualitas interaksi aplikasi dengan lingkungannya, library, perangkat lunak atau bahasa pemograman lain, maka diperlukan teknologi bahasa pemograman. Alat pengembangan program untuk aplikasi pada komputer tunggal (stand alone), dapat bertindak sebagai compilers, debuggers, editors, IDEs, dan alat pengembangan lainnya yang dibeli terpisah dari sistem operasi atau produk lain. Alat pengembangan program bermacam-macam dengan tujuan dan kegunaan yang berbeda-beda. Alat pengembangan program untuk aplikasi pada komputer tunggal (stand alone), adalah:

  1. Alat untuk kompilasi dan linking: GNU toolchain, gcc, Microsoft Visual Studio, CodeWarrior, Xcode, ICC.
  2. Editor teks: emacs, vi
  3. Alat untuk melihat kesalahan pada database: gnats, Bugzilla, Trac, Atlassian Jira, LibreSource
  4. Penyimpanan, dengan menggunakan pemograman basis data seperti SQL Server 2000, Ms Access, dan lain-lain.

 

Alat pengembangan program untuk aplikasi pada komputer jaringan

 

Alat pengembangan alat pengembangan program untuk aplikasi pada komputer standalone dpat digunakan pada komputer terdistribusi sesuai dengan kegunaannya masing-masing.

 

Sama halnya dengan alat pengembangan program untuk aplikasi pada komputer standalone, pada komputer terdistribusi / client server juga terdapat berbagai macam alat pengembangan dengan tujuan dan kegunaan yang berbeda-beda. Berikut merupakan contoh alat pengembangan program untuk aplikasi pada komputer jaringan, yaitu:

  1. Code Sharing Sites: Freshmeat, Krugle, Sourceforge, ByteMyCode, Ucodit
  2. SMTP POP3 Email Component, SMTP VB, SMTP C++, SMTP .NET, POP3 VB, FTP Component .NET,FTP VB, FTP C++, GPS Comm Tools, Client Server Winsock TCP/IP Socket and Serial Communication Component Control Library (RS232, RS422,RS485, Bluetooth Serial.
  3. Bahasa pemograman untuk membangun aplikasi (Bahasa pemograman ini sama juga untuk aplikasi stand alone), seperti C++, C#, .NET, VB, VB.NET, VBA, Borland Delphi, Xbase++, Visual dbase, Visual Foxpro, PowerBasic.
  4. Penyimpanan data.

Penyimpanan data ini juga terdapat pada aplikasi stand alone, hanya untuk aplikasi terdistribusi dibutuhkan ukuran yang lebih besar, performansi yang lebih tangguh dan tingkat keamanan yang lebih tinggi, karena diakses lebih dari satu aplikasi / komputer. Contoh alat penyimpanan data ini adalah: SQL Server 2000, Oracle, My SQL, dan lain-lain.

 

2) Ketrampilan Kerja

Pengetahuan kerja dapat diterapkan ke ketrampilan kerja secara nyata. Misalnya berlatih menggunakan diagram DFD, ERD, class module beserta inheritancenya, dan lain-lain untuk mendukung data dari pengembangan program kemudian mengimplementasi konsep dasar tersebut ketika menggunakan alat pengembangan program yang dikuasai.

3) Sikap Kerja

Sikap kerja ditunjukkan oleh siswa ketika berada di lingkungan kerja, yaitu :

1.   Dapat menguasai penggunaan alat pengembangan program untuk aplikasi  pada  komputer tunggal (stand alone)’

2.   Alat pengembangan program untuk aplikasi pada komputer jaringan (client server atau terdistribusi) digunakan.


BAB V

SUMBER-SUMBER YANG DIPERLUKAN UNTUK PENCAPAIAN                          KOMPETENSI

 

5.1 Sumber Daya Manusia

Dalam proses pencapaian kompetensi sumber yang dapat diandalkan adalah sumber daya manusia. Sumber daya manusia yang dimaksud disiini adalah orang-orang yang dapat mendukung proses pencapaian kompetensi yang dimaksud, antara lain:

 

  • Pembimbing

Pembimbing Anda merupakan orang yang dapat diandalkan karena beliau memiliki pengalaman. Peran Pembimbing adalah untuk:

  1. Membantu Anda untuk merencanakan proses belajar.
  2. Membimbing Anda melalui tugas-tugas pelatihan yang dijelaskan dalam tahap belajar.
  3. Membantu Anda untuk memahami konsep dan praktik baru dan untuk menjawab pertanyaan Anda mengenai proses belajar Anda.
  4. Membantu Anda untuk menentukan dan mengakses sumber tambahan lain yang Anda perlukan untuk belajar Anda.
  5. Mengorganisir kegiatan belajar kelompok jika diperlukan.
  6. Merencanakan seorang ahli dari tempat kerja untuk membantu jika diperlukan.

 

  • Penilai

Penilai Anda melaksanakan program pelatihan terstruktur untuk penilaian di tempat kerja. Penilai akan:

  1. Melaksanakan penilaian apabila Anda telah siap dan merencanakan proses belajar dan penilaian selanjutnya dengan Anda.
  2. Menjelaskan kepada Anda mengenai bagian yang perlu untuk diperbaiki dan merundingkan rencana pelatihan selanjutnya dengan Anda.
  3. Mencatat pencapaian / perolehan Anda.

 

  • Teman kerja/sesama peserta pelatihan

Teman kerja Anda/sesama peserta pelatihan juga merupakan sumber dukungan dan bantuan. Anda juga dapat mendiskusikan proses belajar dengan mereka. Pendekatan ini akan menjadi suatu yang berharga dalam membangun semangat tim dalam lingkungan belajar/kerja Anda dan dapat meningkatkan pengalaman belajar Anda.

 

5.2.    Sumber-sumber Kepustakaan

 

Pengertian sumber-sumber adalah material yang menjadi pendukung proses pembelajaran ketika peserta pelatihan sedang menggunakan Pedoman Belajar ini.

Sumber-sumber tersebut dapat meliputi :

  1. Buku referensi (text book)/ buku manual servis
  2. Lembar kerja
  3. Diagram-diagram, gambar
  4. Contoh tugas kerja
  5. Rekaman dalam bentuk kaset, video, film dan lain-lain.

Ada beberapa sumber yang disebutkan dalam pedoman belajar ini untuk membantu peserta pelatihan mencapai unjuk kerja yang tercakup pada suatu unit kompetensi.

Prinsip-prinsip dalam CBT mendorong kefleksibilitasan dari penggunaan sumber-sumber yang terbaik dalam suatu unit kompetensi tertentu, dengan mengijinkan peserta untuk menggunakan sumber-sumber alternatif lain yang lebih baik atau jika ternyata sumber-sumber yang direkomendasikan dalam pedoman belajar ini tidak tersedia/tidak ada.

5.3     Daftar Peralatan dan Bahan yang digunakan

 

  1. Judul/Nama Pelatihan        :    Membuat Spesifikasi Program
  2. Kode Program Pelatihan    :    TIK.PR02.004.01

 

 

NO

UNIT

KOMPETENSI

KODE UNIT

DAFTAR PERALATAN

DAFTAR BAHAN

KETERANGAN

1.

Membuat Spesifikasi Program

TIK.PR02.004.01

- Unit PC (Personal Computer) yang digunakan sebagai media untuk membuat diagram model ari suatu pengembangan aplikasi

- Aplikasi untuk membuat atau men-generate diagram model, seperti Visio, Power Designer,dan lain-lain

 

- Buku tuntunan bagaimana menggambar diagram kontek data, diagram aliran data dan diagram relasi data serta tentang metode-metode pengembangan program.

- Buku panduan tentang penggunaan software untuk membuat atau menggambar diagram, seperti bulu panduan penggunaan Power Designer, dan lain-lain.

-CD Installer untuk menginstall Visio atau Power Designer atau tool diagram lainnya.

 

-

 

 

 

 

 

 


DAFTAR PUSTAKA

 

 

Testimoni

Advertisement
  1. Toko Kain Batik Cap Terbaik di Solo
  2. Toko Baju Batik Terbaik di Solo
  3. Aneka Kain Batik dengan Harga Murah
  4. Baju Batik Sarimbit Terbaik
  5. Dapatkan Kain Batik Berkualitas dengan Diskon 25%
  6. Aneka Baju Batik Seragam Kantor
  7. Pembuatan Seragam Batik Berlogo
slideseragambatik
Filed under : blog, tags: