Advertisement
loading...

 

 

MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI

SEKTOR TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI

 

 

 

 

MENERAPKAN KETRAMPILAN DALAM PENGELOLAAN KOMUNIKASI DASAR

TIK.PR01.011.01

 

 

 

 

 

BUKU INFORMASI

 

 

 

 

 

 

DEPARTEMEN TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI R.I.

DIREKTORAT JENDERAL PEMBINAAN PELATIHAN DAN PRODUKTIVITAS

Jl. Jend. Gatot Subroto Kav.51 Lt.7.B Jakarta Selatan

 

 

DAFTAR ISI

 

Daftar Isi

 

BAB I. 4

PENGANTAR. 4

1.1 Konsep Dasar Pelatihan Berbasis Kompetensi 4

1.2    Desain Modul 4

1.2.1. Isi Modul 4

1.2.2. Pelaksanaan Modul 5

1.3 Pengakuan Kompetensi Terkini (RCC) 5

1.4 Pengertian-pengertian Istilah. 6

 

BAB II. 8

STANDAR KOMPETENSI. 8

2.1. Peta Paket Pelatihan. 8

2.2. Pengertian Unit Standar Kompetensi 8

2.3. Unit Kompetensi yang Dipelajari 9

2.3.1 Judul unit kompetensi 9

2.3.2 Kode unit kompetensi 9

2.3.3 Deskripsi unit 9

2.3.4 Elemen kompetensi 9

2.3.5 Batasan variabel 10

2.3.6 Panduan Penilaian. 11

2.3.7 Kompetensi Kunci 12

 

BAB III. 13

STRATEGI DAN METODE PELATIHAN. 13

3.1.  Strategi Pelatihan. 13

3.2    Metode Pelatihan. 13

 

BAB IV. 15

MATERI UNIT KOMPETENSI. 15

MENERAPKAN KETRAMPILAN DALAM PENGELOLAAN KOMUNIKASI DASAR. 15

4.1 Tujuan instruksional umum.. 15

4.2 Tujuan instruksional khusus 15

4.3 Uraian singkat materi 15

4.4 Beberapa pengertian dalam unit kompetensi ini, yaitu : 15

4.4.1  Pengertian Komunikasi 15

4.4.2 Komponen Komunikasi 19

4.4.3 Tujuan Komunikasi 24

4.4.4 Prinsip-prinsip komunikasi 26

4.4.5 Persepsi dalam konteks komunikasi 32

4.4.6 PROSES KOMUNIKASI 38

4.4.7 Definisi Informasi 40

4.5 Informasi masing-masing elemen kompetensi 42

4.5.1 Kontribusi pada perencanaan komunikasi 42

4.5.2 Mengadakan aktivitas-aktivitas pengelolaan informasi 52

4.5.3 Mengkomunikasikan informasi proyek. 54

4.5.4 Berkontribusi untuk menetapkan hasil pengelolaan komunikasi 58

 

BAB V. 60

SUMBER-SUMBER YANG DIPERLUKAN UNTUK PENCAPAIAN KOMPETENSI. 60

5.1 Sumber Daya Manusia. 60

5.2 Literatur 61

5.3 Daftar Peralatan dan Bahan yang digunakan. 61

 

DAFTAR PUSTAKA. 62

 

 

 

 


BAB I

PENGANTAR

 

 

1.1 Konsep Dasar Pelatihan Berbasis Kompetensi

 

  • Apakah pelatihan berdasarkan kompetensi?

Pelatihan berdasarkan kompetensi adalah pelatihan yang memperhatikan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang diperlukan di tempat kerja agar dapat melakukan pekerjaan dengan kompeten. Standar Kompetensi dijelaskan oleh Kriteria Unjuk Kerja.

 

  • Apakah artinya menjadi kompeten ditempat kerja?

Jika Anda kompeten dalam pekerjaan tertentu, Anda memiliki seluruh keterampilan, pengetahuan dan sikap yang perlu untuk ditampilkan secara efektif ditempat kerja, sesuai dengan standar yang telah disetujui.

 

1.2     Desain Modul

 

Modul ini didisain untuk dapat digunakan pada Pelatihan Klasikal dan Pelatihan Individual/mandiri :

  • Pelatihan klasikal adalah pelatihan yang disampaiakan oleh seorang pelatih.
  • Pelatihan individual/mandiri adalah pelatihan yang dilaksanakan oleh peserta dengan menambahkan unsur-unsur/sumber-sumber yang diperlukan dengan bantuan dari pelatih.

 

1.2.1. Isi Modul

 

a.       Buku Informasi

Buku informasi ini adalah sumber pelatihan untuk pelatih maupun peserta pelatihan.

 

b.       Buku Kerja

Buku kerja ini harus digunakan oleh peserta pelatihan untuk mencatat setiap pertanyaan dan kegiatan praktik baik dalam Pelatihan Klasikal maupun Pelatihan Individual / mandiri.

Buku ini diberikan kepada peserta pelatihan dan berisi :

Kegiatan-kegiatan yang akan membantu peserta pelatihan untuk mempelajari dan memahami informasi.

  • Kegiatan pemeriksaan yang digunakan untuk memonitor pencapaian keterampilan peserta pelatihan.
  • Kegiatan penilaian untuk menilai kemampuan peserta pelatihan dalam melaksanakan praktik kerja.

 

c.       Buku Penilaian

Buku penilaian ini digunakan oleh pelatih untuk menilai jawaban dan tanggapan peserta pelatihan pada Buku Kerja dan berisi :

  • Kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh peserta pelatihan sebagai pernyataan keterampilan.
  • Metode-metode yang disarankan dalam proses penilaian keterampilan peserta pelatihan.
  • Sumber-sumber yang digunakan oleh peserta pelatihan untuk mencapai keterampilan.
  • Semua jawaban pada setiap pertanyaan yang diisikan pada Buku Kerja.
  • Petunjuk bagi pelatih untuk menilai setiap kegiatan praktik.
  • Catatan pencapaian keterampilan peserta pelatihan.

 

1.2.2. Pelaksanaan Modul

 

Pada pelatihan klasikal, pelatih akan :

  • Menyediakan Buku Informasi yang dapat digunakan peserta pelatihan sebagai sumber pelatihan.
  • Menyediakan salinan Buku Kerja kepada setiap peserta pelatihan.
  • Menggunakan Buku Informasi sebagai sumber utama dalam penyelenggaraan pelatihan.
  • Memastikan setiap peserta pelatihan memberikan jawaban / tanggapan dan menuliskan hasil tugas praktiknya pada Buku Kerja.

Pada Pelatihan individual / mandiri, peserta pelatihan akan :

  • Menggunakan Buku Informasi sebagai sumber utama pelatihan.
  • Menyelesaikan setiap kegiatan yang terdapat pada buku Kerja.
  • Memberikan jawaban pada Buku Kerja.
  • Mengisikan hasil tugas praktik pada Buku Kerja.
  • Memiliki tanggapan-tanggapan dan hasil penilaian oleh pelatih.

 

1.3 Pengakuan Kompetensi Terkini (RCC)

 

  • Apakah Pengakuan Kompetensi Terkini (Recognition of Current Competency).

Jika Anda telah memiliki pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk elemen unit kompetensi tertentu, Anda dapat mengajukan pengakuan kompetensi terkini (RCC). Berarti Anda tidak akan dipersyaratkan untuk belajar kembali.

  • Anda mungkin sudah memiliki pengetahuan dan keterampilan, karena Anda telah :
  1. Bekerja dalam suatu pekerjaan yang memerlukan suatu pengetahuan dan keterampilan yang sama atau
  2. Berpartisipasi dalam pelatihan yang mempelajari kompetensi yang sama atau
  3. Mempunyai pengalaman lainnya yang mengajarkan pengetahuan dan keterampilan yang sama.

 

1.4 Pengertian-pengertian Istilah

 

Profesi

Profesi adalah suatu bidang pekerjaan yang menuntut sikap, pengetahuan serta keterampilan/keahlian kerja tertentu yang diperoleh dari proses pendidikan, pelatihan serta pengalaman kerja atau penguasaan sekumpulan kompetensi tertentu yang dituntut oleh suatu pekerjaan/jabatan.

 

Standardisasi

Standardisasi adalah proses merumuskan, menetapkan serta menerapkan suatu standar tertentu.

 

Penilaian / Uji Kompetensi

Penilaian atau Uji Kompetensi adalah proses pengumpulan bukti melalui perencanaan, pelaksanaan dan peninjauan ulang (review) penilaian serta keputusan mengenai apakah kompetensi sudah tercapai dengan membandingkan bukti-bukti yang dikumpulkan terhadap standar yang dipersyaratkan.

 

Pelatihan

Pelatihan adalah proses pembelajaran yang dilaksanakan untuk mencapai suatu kompetensi tertentu dimana materi, metode dan fasilitas pelatihan serta lingkungan belajar yang ada terfokus kepada pencapaian unjuk kerja pada kompetensi yang dipelajari.

 

Kompetensi

Kompetensi adalah kemampuan seseorang untuk menunjukkan aspek sikap, pengetahuan dan keterampilan serta penerapan dari ketiga aspek tersebut ditempat kerja untuk mwncapai unjuk kerja yang ditetapkan.

 

Standar Kompetensi

Standar kompetensi adalah standar yang ditampilkan dalam istilah-istilah hasil serta memiliki format standar yang terdiri dari judul unit, deskripsi unit, elemen kompetensi, kriteria unjuk kerja, ruang lingkup serta pedoman bukti.

 

Sertifikat Kompetensi

Adalah pengakuan tertulis atas penguasaan suatu kompetensi tertentu kepada seseorang yang dinyatakan kompeten yang diberikan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi.

 

Sertifikasi Kompetensi

Adalah proses penerbitan sertifikat kompetensi melalui proses penilaian / uji kompetensi.

 


BAB II

STANDAR KOMPETENSI

 

 

2.1. Peta Paket Pelatihan

Modul yang sedang Anda pelajari ini adalah untuk mencapai satu unit kompetensi, yang termasuk dalam satu paket pelatihan, yang terdiri atas unit-unit kompetensi berikut:

  1. TIK.PR01.003.01  Merencanakan dan mengorganisasikan kerja                    individu
  2. Mengoperasikan software aplikasi spesifik

 

2.2. Pengertian Unit Standar Kompetensi

 

Apakah Standar Kompetensi?

Setiap Standar Kompetensi menentukan :

  1. Pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk mencapai kompetensi.
    1.  Standar yang diperlukan untuk mendemonstrasikan kompetensi.
    2.  Kondisi dimana kompetensi dicapai.

 

Apa yang akan Anda pelajari dari Unit Kompetensi ini?

Diharapkan anda dapat melakukan teknik pengelolaan komunikasi dalam kerangka kerja proyek dan dapat menerapkan aplikasi tool-tool untuk keahlian secara individual.

 

Berapa lama Unit Kompetensi ini dapat diselesaikan?

Pada sistem pelatihan berdasarkan kompetensi, fokusnya ada pada pencapaian kompetensi, bukan pada lamanya waktu. Namun diharapkan pelatihan ini dapat dilaksanakan dalam jangka waktu tiga sampai tujuh hari. Pelatihan ini dijutukan bagi semua user terutama yang tugasnya berkaitan dengan programming, seperti operator, programmer, staff support, dan staff admin.

 

Berapa banyak/kesempatan yang Anda miliki untuk mencapai kompetensi?

Jika Anda belum mencapai kompetensi pada usaha/kesempatan pertama, Pelatih Anda akan mengatur rencana pelatihan dengan Anda. Rencana ini akan memberikan Anda kesempatan kembali untuk meningkatkan level kompetensi Anda sesuai dengan level yang diperlukan.

Jumlah maksimum usaha/kesempatan yang disarankan adalah 3 (tiga) kali.

2.3. Unit Kompetensi yang Dipelajari

Dalam sistem pelatihan, Standar Kompetensi diharapkan menjadi panduan bagi peserta pelatihan  untuk dapat :

  • mengidentifikasikan apa yang harus dikerjakan peserta pelatihan.
  • memeriksa kemajuan peserta pelatihan.
    • menyakinkan bahwa semua elemen (sub-kompetensi) dan criteria unjuk   kerja telah dimasukkan dalam pelatihan dan penilaian.

2.3.1 Judul unit kompetensi

Menerapkan ketrampilan dalam pengelolaan komunikasi dasar

2.3.2 Kode unit kompetensi

TIK.PR01.011.01

2.3.3 Deskripsi unit

Unit ini menentukan kompetensi yang diperlukan untuk menerapkan keterampilan di dalam pengelolaan komunikasi proyek  dan menyediakan hubungan kritis diantara individu, gagasan, dan informasi pada semua tingkatan di dalam siklus hidup proyek. Pengelolaan komunikasi proyek menjamin ketepatan waktu, pengumpulan, diseminasi, penyimpanan yang tepat, dan pengaturan informasi proyek melalui struktur formal dan proses-proses untuk membantu pengambilan keputusan, serta pengendalian jaringan komunikasi informal yang membantu pencapaian sasaran proyek.

2.3.4 Elemen kompetensi

 

ELEMEN KOMPETENSI

 

KRITERIA UNJUK KERJA

01    Kontribusi pada perencanaan komunikasi 1.1      Persyaratan informasi yang relevan di identifikasi dan kontribusi dibuat pada pengembangan seluruh kebutuhan informasi proyek

1.2     Kontribusi dibuat dalam proses tim, pada pengembangan dan implementasi rencana pengelolaan komunikasi, kemudian ditetapkan jaringan komunikasi

 

02    Mengadakan aktivitas-        aktivitas pengelolaan         informasi 2.1   Informasi dikelola (dikumpulkan, divalidasi,       disimpan, didapatkan kembali, disaring dan    diseminasi) seperti yang telah diatur dalam      prosedur dan proses pengambilan keputusan

 

2.2               Informasi dijaga dalam struktur yang   disetujui untuk menjamin keamanan dan auditabilitas data

 

03      Mengkomunikasi      informasi proyek 3.1   Komunikasi dalam proyek dengan klien dan         stakeholder lainnya dilakukan dengan     jaringan yang telah disepakati, proses-  proses dan prosedur untuk menjamin         kejelasan dari pemahaman sasaran

 

3.2  Laporan ditulis dan disiarkan menurut      otorisasi, atau diusulkan untuk menyiarkan       oleh oleh otorisasi proyek yang lebih tinggi           sesuai dengan proses dan prosedur

 

04    Berkontribusi untuk         menetapkan penilaian        hasil pengelolaan          komunikasi 4.1 Hasil proyek di tinjau untuk menetapkan keefektifan dari aktivitas pengelolaan komunikasi

 

4.2   Hal-hal pengelolaan komunikasi dan respon-      respon dilaporkan pada otoritas proyek yang     lebih tinggi untuk aplikasi proyek dimasa       depan

 

 

2.3.5 Batasan variabel

     

          1. Unit ini berlaku untuk seluruh sektor teknologi informasi dan komunikasi

 

          2. Menerapkan keterampilan dalam pengelolaan komunikasi dasar bersifat               internal pada bidang teknologi informasi dan komunikasi

 

2.3.6 Panduan Penilaian

 

  1. 1.   Pengetahuan dan keterampilan penunjang untuk mendemontrasikan kompetensi, memerlukan bukti keterampilan dan pengetahuan dibidang berikut ini :

 

1.1   Pengetahuan dasar :.

1.1.1  Kebutuhan untuk pengelolaan komunikasi dalam kerangka kerja pengelolaan proyek yang luas

1.1.2    Tempat pengelolaan komunikasi di dalam kontek siklus hidup proyek dan fungsi pengelolaan proyek lainnya

1.1.3  Aplikasi tool-tool dan teknik-teknik pengelolaan komunikasi untuk                        keahlian secara individual

1.1.4  Usulan, mendapat persetujuan dan menyampaikan laporan pada                         otoritas yang lebih tinggi

1.1.5    Bagaimana, kapan dan mengapa proses-proses pengelolaan komunikasi di implementasikan

1.1.6    Pentingnya kontribusi secara individu pada proses pengelolaabn komunikasi

 

1.2           Substansi didalam keahlian ini :

1.2.1  Input untuk daftar kebutuhan informasi proyek

1.2.2  Input pada perencanaan pengelolaan komunikasi

1.2.3  Catatan penggunaan jaringan komunikasi formal dan informal

1.2.4    Catatan koleksi, validasi, penyimpanan, retrieval, analisis dan atau diseminasi dari informasi

1.2.5    Catatan usulan dan penyampaian laporan pada otoritas yang lebih tinggi

 

  1. 2.   Konteks penilaian

Kompetensi harus diujikan di tempat kerja atau di tempat lain secara teori

 

 

  1. 3.   Aspek penting penilaian

Aspek yang harus diperhatikan

3.2.1    Kemampuan  menerapkan metode pengelolaan kualitas untuk menilai dan menentukan bermacam kualitas, kemampuan, biaya dan waktu

3.2.2    Kemampuan pemeriksaan proses kualitas untuk menetapkan terpenuhinya standar  kualitas dan sasarannya

3.2.3    Meninjau dan menganalisis kriteria unjuk kerja untuk menetapkan keefektifan sistim

 

  1. 4.   Kaitan dengan unit-unit lainnya

4.1 Unit ini didukung oleh pengetahuan dan keterampilan dalam unit kompetensi    yang berkaitan dengan :

    1. TIK.PR01.003.01  Merencanakan dan mengorganisasikan kerja                    individu
    2. Mengoperasikan software aplikasi spesifik

 

4.2   Pengembangan pelatihan untuk memenuhi persyaratan dalam unit ini perlu        dilakukan dengan hati-hati. Untuk pelatihan pra kejuruan umum, institusi         harus menyediakan pelatihan yang mempertimbangkan serangkaian konteks industri seutuhnya tanpa bias terhadap sekor tertentu. Batasan        variable akan membantu dalam hal ini. Untuk sektor tertentu/khusus,        pelatihan harus disesuaikan untuk memenuhi kebutuhan sektor tersebut.

 

2.3.7 Kompetensi Kunci

 

 NO

KOMPETENSI KUNCI DALAM UNIT INI

TINGKAT

1

Mengumpulkan, mengorganisir dan menganalisa informasi

1

2

Mengkomunikasikan ide-ide dan informasi

1

3

Merencanakan dan mengorganisir aktivitas-aktivitas

1

4

Bekerja dengan orang lain dan kelompok

-

5

Menggunakan ide-ide dan tehnik matematika

1

6

Memecahkan masalah

1

7

Menggunakan teknologi

-

 

 

 

 

 

 

 

 

 


BAB III

STRATEGI DAN METODE PELATIHAN

 

3.1.  Strategi Pelatihan

Belajar dalam suatu sistem Berdasarkan Kompetensi berbeda dengan yang sedang “diajarkan” di kelas oleh Pelatih. Pada sistem ini Anda akan bertanggung jawab terhadap belajar Anda sendiri, artinya bahwa Anda perlu merencanakan belajar Anda dengan Pelatih dan kemudian melaksanakannya dengan tekun sesuai dengan rencana yang telah dibuat.

 

Persiapan/perencanaan

  1. Membaca bahan/materi yang telah diidentifikasi dalam setiap tahap belajar dengan tujuan mendapatkan tinjauan umum mengenai isi proses belajar Anda.
  2. Membuat catatan terhadap apa yang telah dibaca.
  3. Memikirkan bagaimana pengetahuan baru yang diperoleh berhubungan dengan pengetahuan dan pengalaman yang telah Anda miliki.
  4. Merencanakan aplikasi praktik pengetahuan dan keterampilan Anda.

 

Permulaan dari proses pembelajaran

  1. Mencoba mengerjakan seluruh pertanyaan dan tugas praktik yang terdapat pada tahap belajar.
  2. Merevisi dan meninjau materi belajar agar dapat menggabungkan pengetahuan Anda.

 

Pengamatan terhadap tugas praktik

  1. Mengamati keterampilan praktik yang didemonstrasikan oleh Pelatih atau orang yang telah berpengalaman lainnya.
  2. Mengajukan pertanyaan kepada Pelatih tentang konsep sulit yang Anda temukan.

 

Implementasi

  1. Menerapkan pelatihan kerja yang aman.
  2. Mengamati indicator kemajuan personal melalui kegiatan praktik.
  3. Mempraktikkan keterampilan baru yang telah Anda peroleh.

 

Penilaian

Melaksanakan tugas penilaian untuk penyelesaian belajar Anda.

 

3.2        Metode Pelatihan

Terdapat tiga prinsip metode belajar yang dapat digunakan. Dalam beberapa kasus, kombinasi metode belajar mungkin dapat digunakan.

 

Belajar secara mandiri

Belajar secara mandiri membolehkan Anda untuk belajar secara individual, sesuai dengan kecepatan belajarnya masing-masing. Meskipun proses belajar dilaksanakan secara bebas, Anda disarankan untuk menemui Pelatih setiap saat untuk mengkonfirmasikan kemajuan dan mengatasi kesulitan belajar.

 

Belajar Berkelompok

Belajar berkelompok memungkinkan peserta untuk dating bersama secara teratur dan berpartisipasi dalam sesi belajar berkelompok. Walaupun proses belajar memiliki prinsip sesuai dengan kecepatan belajar masing-masing, sesi kelompok memberikan interaksi antar peserta, Pelatih dan pakar/ahli dari tempat kerja.

 

Belajar terstruktur

Belajar terstruktur meliputi sesi pertemuan kelas secara formal yang dilaksanakan oleh Pelatih atau ahli lainnya. Sesi belajar ini umumnya mencakup topik tertentu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


BAB IV

MATERI UNIT KOMPETENSI

MENERAPKAN KETRAMPILAN DALAM PENGELOLAAN KOMUNIKASI DASAR

 

4.1 Tujuan instruksional umum

  • Siswa mampu menjelaskan bagaimana menerapkan ketrampilan dalam pengelolaan komunikasi dasar

 

4.2 Tujuan instruksional khusus

  • Siswa mengerti dan mampu melakukan perencanaan komunikasi.
  • Siswa mampu melakukan pengelolaan informasi (melakukan pengumpulan informasi yang dibutuhkan).
  • Siswa dapat mengkomunikasikan informasi proyek.
  • Siswa dapat menilai hasil proyek dalam pengelolaan komunikasi.

 

4.3 Uraian singkat materi

Menerapkan ketrampilan dalam pengelolaan komunikasi dasar :

Bagaimana menerapkan keterampilan di dalam pengelolaan komunikasi proyek, menyediakan hubungan kritis diantara individu, gagasan, dan informasi pada semua tingkatan di dalam siklus hidup proyek.

 

Pengelolaan komunikasi proyek menjamin ketepatan waktu, pengumpulan, diseminasi, penyimpanan yang tepat, dan pengaturan informasi proyek melalui struktur formal dan proses-proses untuk membantu pengambilan keputusan, serta pengendalian jaringan komunikasi informal yang membantu pencapaian sasaran proyek

 

4.4 Beberapa pengertian dalam unit kompetensi ini, yaitu :

4.4.1  Pengertian Komunikasi

Pengertian komunikasi sudah banyak didefinisikan oleh banyak orang, jumlahnya sebanyak orang yang mendefinisikannya. Dari banyak pengertian tersebut jika dianalisis pada prinsipnya dapat disimpulkan bahwa komunikasi mengacu pada tindakan, oleh satu orang atau lebih, yang mengirim dan menerima pesan yang terdistorsi oleh gangguan (noise), terjadi dalam suatu konteks tertentu, mempunyai pengaruh tertentu, dan ada kesempatan untuk melakukan umpan balik.

 

Gambar berikut menggambarkan apa yang dapat kita namakan model universal komunikasi. Ini mengandung elemen-elemen yang ada dalam setiap tindak komunikasi, terlepas dari apakah itu bersifat intrapribadi, antarpribadi, kelompok kecil, pidato terbuka, atau komunikasi masa.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1 Model Universal Komunikasi (Elemen Kompetensi 1 : Kontribusi pada perencanaan komunikasi)

Pengertian komunikasi  ditinjau dari dua sudut pandang, yaitu komunikasi dalam pengertian secara umum dan pengertian secara paradigmatik, sehingga akan menjadi jelas bagaimana pelaksanaan teknik komunikasi itu.

 Pengertian komunikasi secara umum

Setiap orang yang hidup dalam masyarakat, sejak bangun tidur sampai tidur lagi, secara kodrati senantiasa terlibat dalam komunikasi. Terjadinya komunikasi adalah sebagai konsekuensi hubungan sosial (social relations). Masyarakat paling sedikit terdiri dari dua orang yang saling berhubungan satu sama lain yang, karena berhubungan, menimbulkan interaksi sosial (social interaction). Terjadinya interaksi sosial disebabkan interkomunikasi (intercommunication).

Komunikasi dalam pengertian umum dapat dilihat dari dua segi:

 

Pengertian komunikasi secara etimologis.

Secara etimologis atau menurut asal katanya, istilah komunikasi berasal dari bahasa Latin communication dan perkataan ini bersumber pada kata communis. Perkataan communis tersebut dalam pembahasan kita ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan partai komunis yang sering dijumpai dalam kegiatan politik. Arti communis di sini adalah sama, dalam arti kata sama makna, yaitu sama makna mengenai suatu hal.

Jadi, komunikasi berlangsung apabila antara orang-orang yang terlibat terdapat kesamaan makna mengenai suatu hal yang dikomunikasikan. Jelasnya, jika seseorang mengerti tentang sesuatu yang dinyatakan orang lain kepadanya, maka komunikasi berlangsung. Dengan lain perkataan, hubungan antara mereka itu bersifat komunikatif. Sebaliknya jika ia tidak mengerti, komunikasi tidak berlangsung. Dengan lain perkataan, hubungan antara orang-orang itu ddak komunikatif.

Pengertian komunikasi secara terminologis.

Secara terminologis komunikasi berarti proses penyampaian suatu pernyataan oleh seseorang kepada orang lain. Dari pengertian itu jelas bahwa komunikasi melibatkan sejumlah orang, di mana seseorang menyatakan sesuatu kepada orang lain. Jadi, yang terlibat dalam komunikasi itu adalah manusia. Karena itu, komunikasi yang dimaksudkan di sini adalah komunikasi manusia atau dalam bahasa asing human communication, yang sering kali pula disebut komunikasi sosial atau social comunication. Komunikasi manusia sebagai singkatan dari komunikasi antarmanusia dinamakan komunikasi sosial atau komunikasi kemasyarakatan karena hanya pada manusia-manusia yang bermasyarakat terjadinya komunikasi. Masyarakat terbentuk dari paling sedikit dua orang yang saling berhubungan dengan komunikasi sebagai penjalinnya. Robinson Crusoe, yang hidup menyendiri di sebuah pulau terpencil, tidak hidup bermasyarakat karena dia hidup sendirian. Oleh sebab itu dia tidak berkomunikasi dengan siapa-siapa.

Dari pengertian di atas/ komunikasi yang dibahas di sini tidak termasuk komunikasi hewan, komunikasi transendental, dan komunikasi fisik.

Komunikasi hewan adalah komunikasi antarhewan. Gajah dengan gajah berkomunikasi, bumng dengan bumng berkomunikasi, dan sebagainya. Pada kenyataannya memang ada manusia berkomunikasi dengan hewan, misalnya polisi dengan anjing pelacak, petani pembajak sawah dengan kerbau piaraannya, dan sebagainya. Tetapi komunikasi tersebut tidak termasuk pembahasan di sini.

Komunikasi transendental adalah komunikasi dengan sesuatu yang bersifat “gaib”, termasuk komunikasi dengan Tuhan. Orang yang sedang sembahyang, baik yang sedang melakukan kewajibannya sebagai umat beragama ataupun yang tengah meminta sesuatu, misalnya sembahyang hajat atau sembahyang istikharah di kalangan pemeluk agama Islam, adalah tengah berkomunikasi dengan Tuhan. Tetapi komunikasi jenis ini bukan komunikasi sosial, komunikasi antarmanusia.

Komunikasi fisik adalah komunikasi yang menghubungkan tempat yang satu dengan tempat yang lain, misalnya dua tempat yang dihubungkan oleh kereta apt, bis, pesawat terbang, dan lain-lain kendaraan, yang mengangkut manusia. Tetapi ini bukan komunikasi sosial atau komunikasi antarmanusia. Jadi, bukan masalah yang dibahas di sini, meskipun ada kalanya terdapat kaitannya pula dengan komunikasi antarmanusia, misalnya surat berisikan pesan seseorang kepada orang lain yang diangkut oleh kereta api atau pe­sawat terbang.

Jadi, teknik berkomunikasi yang menjadi pokok permasalahan dalam pembahasan di sini adalah komunikasi antara seseorang dengan orang lain, komunikasi manusia atau komunikasi sosial yang, sebagaimana ditegaskan di atas, mengandung makna “proses penyampaian suatu pernyataan oleh seseorang kepada orang lain”.

 Pengertian komunikasi secara paradigmatis

Telah dijelaskan di muka dalam pengertian secara umum komunikasi adalah proses penyampaian suatu pernyataan yang dilakukan oleh seseorang kepada orang lain sebagai konsekuensi dari hubungan sosial. Komunikasi dalam pengertian ini sering terlihat pada perjumpaan dua orang. Mereka saling memberikan salam, bertanya tentang kesehatan dan mengenai keluarga, dan sebagainya. Atau dapat disaksikan pada dua orang yang, meskipun tidak saling mengenai sebelumnya, tetapi karena duduk berdekatan, lalu terlibat dalam percakapan, misalnya di dalam kereta api, bis, atau pesawat terbang. Pada kedua contoh situasi komunikasi itu tidak terdapat tujuan apa-apa, tetapi sekadar membunuh waktu karena rasanya tidak enak duduk bersama-sama berjam-jam tanpa saling menyapa.

Dalam pengertian paradigmatis, komunikasi mengandung tujuan ter-tentu; ada yang dilakukan secara lisan, secara tatap muka, atau melalui me­dia, baik media massa seperti surat kabar, radio, televisi, atau film, maupun media nonmassa, misalnya surat, telepon, papan pengumuman, poster, spandoek, dan sebagainya.

Jadi komunikasi dalam pengertian paradigmatis bersifat intensional (in­tentional), mengandung tujuan; karena itu harus dilakukan dengan perencanaan. Sejauh mana kadar perencanaan itu, bergantung kepada pesan yang akan dikomunikasikan dan pada komunikan yang dijadikan sasaran.

Mengenai pengertian komunikasi secara paradigmatis ini banyak definisi yang dikemukakan oleh para ahli, tetapi dari sekian banyak definisi itu dapat disimpulkan secara lengkap dengan menampilkan maknanya yang hakiki, yaitu:

Komunikasi adalah proses penyampaian suatu pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberi tahu atau untuk mengubah sikap, pendapat, atau perilaku, baik langsung secara lisan, maupun tak langsung melalui media.

Dalam definisi tersebut tersimpul tujuan, yakni memberi tahu atau mengubah sikap (attitude), pendapat (opinion), atau perilaku (behavior).

Jadi ditinjau dari segi si penyampai pernyataan, komunikasi yangbertujuan bersifat informatifdan persuasif. Komunikasi persuasif (persuasive communi­cation) lebih sulit daripada komunikasi informatif (informative communicattion), karena memang tidak mudah untuk mengubah sikap, pendapat, atau penlaku seseorang atau sejumlah orang.

Demikian pengertian komunikasi secara umum dan secara paradigmatis yang penting untuk dipahami sebagai landasan bagi penguasaan teknik berkomunikasi. Adalah komunikasi secara paradigmatis yang dipelajari dan diteliti ilmu Komunikasi.

4.4.2 Komponen Komunikasi

a.    Lingkungan komunikasi

Lingkungan (konteks) komunikasi setidak-tidaknya memiliki tiga dimensi:

 

1. Fisik, adalah ruang dimana komunikasi berlangsung yang nyata atau berwujud.

  1. 1.   Sosial-psikoilogis, meliputi, misalnya tata hubungan status di antara mereka yang terlibat, peran yang dijalankan orang, serta aturan budaya masyarakat di mana mereka berkomunikasi. Lingkungan atau konteks ini juga mencakup rasa persahabatan atau permusuhan, formalitas atau informalitas, serius atau senda gurau,
  2. 2.   Temporal (waktu), mencakup waktu dalam hitungan jam, hari, atau sejarah dimana komunikasi berlangsung.

 

Ketiga dimensi lingkungan ini saling berinteraksi; masing-masing mempengaruhi dan dipengaruhi oleh yang lain. Sebagai contoh, terlambat memenuhi janji dengan seseorang (dimensi temporal), dapat mengakibatkan berubahnya suasana persahabatan-permusuhan (dimensi sosial-psikologis), yang kemudian dapat menyebabkan perubahan kedekatan fisik dan pemilihan rumah makan untuk makan malam (dimensi fisik). Perubahan-perubahan tersebut dapat menimbulkan banyak perubahan lain. Proses komunikasi tidak pernah statis.

 

b.  Sumber-Penerima

Kita menggunakan istilah sumber-penerima sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan untuk menegaskan bahwa setiap orang yang terlibat dalam komunikasi adalah sumber (atau pembicara) sekaligus penerima (atau pendengar). Anda mengirimkan pesan ketika anda berbicara, menulis, atau memberikan isyarat tubuh. Anda menerima pesan dengan mendengarkan, membaca, membaui, dan sebagainya.

Tetapi, ketika anda mengirimkan pesan, anda juga menerima pesan. Anda menerima pesan anda sendiri (anda mendengar diri sendiri, merasakan gerakan anda sendiri, dan melihat banyak isyarat tubuh anda sendiri) dan anda menerima pesan dari orang lain (secara visual, melalui pendengaran, atau bahkan melalui rabaan dan penciuman). Ketika anda berbicara dengan orang lain, anda memandangnya untuk mendapatkan tanggapan (untuk mendapatkan dukungan, pengertian, simpati, persetujuan, dan sebagainya). Ketika anda menyerap isyarat-isyarat non-verbal ini, anda menjalankan fungsi penerima.

 

c.  Enkoding-Dekoding

Dalam ilmu komunikasi kita menamai tindakan menghasilkan pesan (misalnya, berbicara atau menulis) sebagai enkoding (encoding). Dengan menuangkan gagasan-gagasan kita ke dalam gelombang suara atau ke atas selembar kertas, kita menjelmakan gagasan-gagasan tadi ke dalam kode tertentu. Jadi, kita melakukan enkoding.

Kita menamai tindakan menerima pesan (misalnya, mendengarkan atau membaca) sebagai dekoding (decoding). Dengan menerjemahkan gelombang suara atau kata-kata di atas kertas menjadi gagasan, anda menguraikan kode tadi. Jadi, anda melakukan dekoding.

Oleh karenanya kita menamai pembicara atau penulis sebagai enkoder (encoder), dan pendengar atau pembaca sebagai dekoder (decoder). Seperti halnya sumber-penerima, kita menuliskan enkoding-dekoding sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan untuk menegaskan bahwa anda menjalankan fungsi-fungsi ini secara simultan. Ketika anda berbicara (enkoding), anda juga menyerap tanggapan dari pendengar (dekoding).

 

d.  Kompetensi Komunikasi

Kompetensi komunikasi mengacu pada kemampuan anda untuk berkomunikasi secara efektif (Spitzberg dan Cupach, 1989). Kompetensi ini mencakup hal-hal seperti pengetahuan tentang peran lingkungan (konteks) dalam mempengaruhi kandungan (content) dan bentuk pesan komunikasi (misalnya, pengetahuan bahwa suatu topik mungkin layak dikomunikasikan kepada pendengar tertentu di lingkungan tertentu, tetapi mungkin tidak layak bagi pendengar dan lingkungan yang lain). Pengetabuan tentang tatacara perilaku nonverbal (misalnya kepatutan sentuhan, suara yang keras, serta kedekatan fisik) juga merupakan bagian dari kompetensi komunikasi.

Dengan meningkatkan kompetensi anda, anda akan mempunyai banyak pilihan berperilaku. Makin banyak anda tahu tentang komunikasi (artinya, makin tinggi kompetensi anda), makin banyak pilihan, yang anda punyai untuk melakukan komunikasi sehari-hari. Proses ini serupa dengan proses mempelajari perbendaharaan kata: Makin banyak kata anda ketahui (artinya, makin tinggi kompetensi perbendaharaan kata anda), makin banyak cara yang anda miliki untuk mengungkapkan diri.

 

e.  Pesan

Pesan komunikasi dapat mempunyai banyak bentuk. Kita mengirimkan dan menerima pesan ini melalui salah satu atau kombinasi tertentu dari panca indra kita. Walaupun biasanya kita menganggap pesan selalu dalam bentuk verbal (lisan atau tertulis), ini bukanlah satu-satunya jenis pesan. Kita juga berkomunikasi secara nonverbal (tanpa kata). Sebagai contoh, busana yang kita kenakan, seperti juga cara kita berjalan, berjabatan tangan, menggelengkan kepala, menyisir rambut, duduk, dan. tersenyum. Pendeknya, segala hal yang kita ungkapkan dalam melakukan komunikasi.

 

f.   Saluran

Saluran komunikasi adalah media yang dilalui pesan. Jarang sekali komunikasi berlangsung melalui hanya satu saluran, kita menggunakan dua, tiga, atau empat saluran yang berbeda secara simultan. Sebagai contoh, dalam interaksi tatap muka kita berbicara dan mendengarkan (saluran suara), tetapi kita juga memberikan isyarat tubuh dan menerima isyarat ini secara visual (saluran visual). Kita juga memancarkan dan mencium bau-bauan (saluran olfaktori). Seringkali kita saling menyentuh, ini pun komunikasi (saluran taktil).

 

g.  Umpan Balik

Umpan balik adalah informasi yang dikirimkan balik ke sumbernya. Umpan balik dapat berasal dari anda sendiri atau dari orang lain. Dalam diagram universal komunikasi tanda panah dari satu sumber-penerima ke sumber-penerima yang lain dalam kedua arah adalah umpan balik. Bila anda menyampaikan pesan misalnya, dengan cara berbicara kepada orang lain anda juga mendengar diri anda sendiri. Artinya, anda menerima umpan balik dari pesan anda sendiri. Anda mendengar apa yang anda katakan, anda merasakan gerakan anda, anda melihat apa yang anda tulis.

Selain umpan balik sendiri ini, anda menerima umpan balik dari orang lain. Umpan balik ini dapat datang dalam berbagai bentuk: Kerutan dahi atau senyuman, anggukan atau gelengan kepala, tepukan di bahu atau tamparan di pipi, semuanya adalah bentuk umpan balik.

 

h.  Gangguan

Gangguan (noise) adalah gangguan dalam komunikasi yang mendistorsi pesan. Gangguan menghalangi penerima dalam menerima pesan dan sumber dalam mengirimkan pesan. Gangguan dikatakan ada dalam suatu sistem komunikasi bila ini membuat pesan yang disampaikan berbeda dengan pesan yang diterima.

Gangguan ini dapat berupa gangguan fisik (ada orang lain berbicara), psikologis (pemikiran yang sudah ada di kepala kita), atau semantik (salah mengartikan makna). Tabel dibawah menyajikan ketiga macam gangguan ini secara lebih rinci.

 

Macam Definsi Contoh
Fisik Interferensi dengan transmisi fisik isyarat atau pesan lain Desingan mobil yang lewat, dengungan komputer, kacamata
Psikollogis Interferensi kognitif atau mental Prasangka dan bias pada sumber-penerima, pikiran yang sempit
Semantik Pembicaraan dan pendengar memberi arti yang berlainan Orang berbicara dengan bahasa yang berbeda, menggunakan jargon atau istilah yang terlalu rumit yang tidak dipahami pendengar

 

Gangguan dalam komunikasi tidak terhindarkan. Semua komunikasi mengandung gangguan, dan walaupun kita tidak dapat meniadakannya samasekali, kita dapat mengurangi gangguan dan dampaknya. Menggunakan bahasa yang lebih akurat, mempelajari keterampilan mengirim dan menerima pesan nonverbal, serta meningkatkan keterampilan mendengarkan dan menerima serta mengirimkan umpan balik adalah beberapa cara untuk menanggulangi gangguan.

 

i.   Efek Komunikasi

Komunikasi selalu mempunyai efek atau dampak atas satu atau lebih orang yang terlibat dalam tindak komunikasi. Pada setiap tindak komunikasi selalu ada konsekuensi. Sebagai contoh, anda mungkin memperoleh pengetahuan atau belajar bagaimana menganalisis, melakukan sintesis, atau mengevaluasi sesuatu; ini adalah efek atau dampak intelektual atau kognitif. Kedua, anda mungkin memperoleh sikap baru atau mengubah sikap, keyakinan, emosi, dan perasaan anda; ini adalah dampak afektif. Ketiga, anda mungkin memperoleh cara-cara atau gerakan baru seperti cara melemparkan bola atau melukis, selain juga perilaku verbal dan noverbal yang patut; ini adalah dampak atau efek psikomotorik.

 

j.   Etik dan Kebebasan Memilih

Karena komunikasi mempunyai dampak, maka ada masalah etik di sini. Karena komunikasi mengandung konsekuensi, maka ada aspek benar-salah dalam setiap tindak komunikasi. Tidak seperti prinsip-prinsip komunikasi yang efektif, prinsip-prinsip komunikasi yang etis sulit dirumuskan.

Seringkali kita  dapat mengamati dampak komunikasi, dan berdasarkan pengamatan ini, merumuskan prinsip-prinsip komunikasi yang efektif. Tetapi, kita tidak dapat mengamati kebenaran atau ketidakbenaran suatu tindak komunikasi.

Dimensi etik dari komunikasi makin rumit karena etik begitu terkaitnya dengan falsafah hidup pribadi seseorang sehingga sukar untuk menyarankan pedoman yang berlaku bagi setiap orang. Meskipun sukar, pertimbangan etik tetaplah merupakan bagian integral dalam setiap tindak komunikasi. Keputusan yang kita ambil dalam hal komunikasi haruslah dipedomani oleh apa yang kita anggap benar di samping juga oleh apa yang kita anggap efektif.

Apakah komunikasi itu etis atau tidak etis, landasannya adalah gagasan kebebasan memilih serta asumsi bahwa setiap orang mempunyai hak untuk menentukan pilihannya sendiri. Komunikasi dikatakan etis bila menjamin kebebasan memilih seseorang dengan memberikan kepada orang tersebut dasar pemilihan yang akurat. Komunikasi dikatakan tidak etis bila mengganggu kebebasan memilih seseorang dengan menghalangi orang tersebut untuk mendapatkan informasi yang relevan dalam menentukan pilihan. Oleh karenanya, komunikasi yang tidak etis adalah komunikasi yang memaksa seseorang (1) mengambil pilihan yang secara normal tidak akan dipilihnya atau (2) tidak mengambil pilihan yang secara normal akan dipilihnya. Sebagai contoh, seorang pejabat rekruting perusahaan mungkin saja membesar-besarkan manfaat bekerja di Perusahaan X dan dengan demikian mendorong anda untuk menentukan pilihan yang secara normal tidak akan anda ambil (jika saja anda mengetahui fakta-fakta sebenarnya).

Dalam etik yang didasarkan atas kebebasan memilih ini, ada beberapa persyaratan. Kita mengasumsikan bahwa orang-orang ini sudah cukup umur dan berada dalam kondisi mental yang memungkinkan mereka melaksanakan pilihan secara bebas. Selanjutnya, kita mengasumsikan bahwa kebebasan memilih dalam situasi mereka tidak akan menghalangi kebebasan memilih orang lain. Sebagai contoh, anak-anak berusia 5 atau 6 tahun tidak akan siap untuk menentukan pilihan sendiri (memilih menu mereka sendiri, memilih waktu untuk tidur, memilih jenis obat), sehingga harus ada orang lain yang melakukannya untuk mereka. Begitu juga, seseorang yang menderita keterbelakangan mental membutuhkan orang lain untuk mengambilkan keputusan tertentu bagi mereka.

Di samping itu, situasi lingkungan kehidupan seseorang dapat membatasi kebebasan memilih ini. Sebagai contoh, anggota tentara seringkali harus melepaskan kebebasan memilih dan makan nasi bungkus, bukan roti keju, mengenakan seragam militer, bukan jins, lari pagi, bukan tidur. Dengan menjadi tentara, seseorang setidak-tidaknya harus melepaskan sebagian hak mereka untuk menentukan pilihan sendiri. Akhirnya, kebebasan memilih yang kita miliki tidak boleh menghalangi orang lain untuk menentukan pilihan mereka sendiri.

Kita tidak bisa membiarkan seorang pencuri memiliki kebebasan untuk mencuri, karena dengan memberikan kebebasan ini kita menghalangi korban pencurian untuk menikmati kebebasan memilih mereka—hak untuk memiliki barang dan hak untuk merasa aman dalam rumah mereka.

 

4.4.3 Tujuan Komunikasi

          Ada empat tujuan atau motif komunikasi yang perlu dikemukakan di sini. Motif atau tujuan ini tidak perlu dikemukakan secara sadar, juga tidak perlu mereka yang terlibat menyepakati tujuan komunikasi mereka. Tujuan dapat disadari ataupun tidak, dapat dikenali ataupun tidak. Selanjutnya, meskipun. teknologi komunikasi berubah dengan cepat dan drastis (kita mengirimkan surat elektronika, bekerja dengan komputer, misalnya) tujuan komunikasi pada dasarnya tetap sama, bagaimanapun hebatnya revolusi elektronika dan revolusi-revolusi lain yang akan datang. (Arnold dan Bowers, 1984; Naisbit.1984).

 

a.  Menemukan

Salah satu tujuan utama komunikasi menyangkut penemuan diri (personal discovery) Bila anda berkomunikasi dengan orang lain, anda belajar mengenai diri sendiri selain juga tentang orang lain. Kenyataannya, persepsi-diri anda sebagian besar dihasilkan dari apa yang telah anda pelajari tentang diri sendiri dari orang lain selama komunikasi, khususnya dalam perjumpaan-perjumpaan antarpribadi.

Dengan berbicara tentang diri kita sendiri dengan orang lain kita memperoleh umpan balik yang berharga mengenai perasaan, pemikiran, dan perilaku kita. Dari perjumpaan seperti ini kita menyadari, misalnya bahwa perasaan kita ternyata tidak jauh berbeda dengan perasaan orang lain. Pengukuhan positif ini membantu kita merasa “normal.”

Cara lain di mana kita melakukan penemuan diri adalah melalui proses perbandingan sosial, melalui perbandingan kemampuan, prestasi, sikap, pendapat, nilai, dan kegagalan kita dengan orang lain. Artinya, kita mengevaluasi diri sendiri sebagian besar dengan cara membanding diri kita dengan orang lain.

Dengan berkomunikasi kita dapat memahami secara lebih baik diri kita sendiri dan diri orang lain yang kita ajak bicara. Tetapi, komunikasi juga memungkinkan kita untuk menemukan dunia luar—dunia yang dipenuhi objek, peristiwa, dan manusia lain. Sekarang ini, kita mengandalkan beragam media komunikasi untuk mendapatkan informasi tentang hiburan, olahraga, perang, pembangunan ekonomi, masalah kesehatan dan gizi, serta produk-produk baru yang dapat dibeli. Banyak yang kita peroleh dari  media ini berinteraksi dengan yang kita peroleh dari interaksi antarpribadi kita. Kita mendapatkan banyak informasi dari media, mendiskusikannya dengan orang lain, dan akhirnya mempelajari atau menyerap bahan-bahan tadi sebagai hasil interaksi kedua sumber ini.

 

b.  Untuk berhubungan

Salah satu motivasi kita yang paling kuat adalah berhubungan dengan orang lain (membina dan  memelihara hubungan dengan orang lain). Kita ingin merasa dicintai dan disukai, dan kemudian kita juga ingin mencintai dan menyukai orang lain. Kita menghabiskan banyak waktu dan energi komunikasi kita untuk membina dan memelihara hubungan sosial. Anda berkomunikasi dengan teman dekat di sekolah, di kantor, dan barangkali melalui telepon. Anda berbincang-bincang dengan orangtua, anak-anak, dan saudara anda. Anda berinteraksi dengan mitra kerja.

 

c.  Untuk meyakinkan

Media masa ada sebagian besar untuk meyakinkan kita agar mengubah sikap dan perilaku kita. Media dapat hidup karena adanya dana dari iklan, yang diarahkan untuk mendorong kita membeli berbagai produk. Sekarang ini mungkin anda lebih banyak bertindak sebagai konsumen ketimbang sebagai penyampai pesan melalui media, tetapi tidak lama lagi barangkali anda-lah yang akan merancang pesan-pesan itu—bekerja di suatu surat kabar, menjadi editor sebuah majalah, atau bekerja pada biro iklan, pemancar televisi, atau berbagai bidang lain yang berkaitan dengan komunikasi. Tetapi, kita juga menghabiskan banyak waktu untuk melakukan persuasi antarpribadi, baik sebagai sumber maupun sebagai penerima. Dalam perjumpaan antarpribadi sehari-hari kita berusaha mengubah sikap dan perilaku orang lain. Kita berusaha mengajak mereka melakukan sesuatu, mencoba cara diit yan baru, membeli produk tertentu, menonton film, membaca buku, rnengambil mata kuliah tertentu, meyakini bahwa sesuatu itu salah atau benar, menyetujui atau mengecam gagasan tertentu, dan sebagainya. Daftar ini bisa sangat panjang. Memang, sedikit saja dari komunikasi antarpribadi kita yang tidak berupaya mengubah sikap atau perilaku.

 

d.  Untuk bermain

Kita menggunakan banyak perilaku komunikasi kita untuk bermain dan menghibur diri. Kita mendengarkan pelawak, pembicaraan, musik, dan film sebagian besar untuk hiburan. Demikian pula banyak dari perilaku komunikasi kita dirancang untuk menghibur orang lain (menceritakan lelucon mengutarakan sesuatu yang baru, dan mengaitkan cerita-cerita yang menarik). Adakalanya hiburan ini  merupakan tujuan akhir, tetapi adakalanya ini merupakan cara untuk mengikat perhatian orang Iain sehingga kita dapat mencapai tujuan-tujuan lain.

Tentu saja, tujuan komunikasi bukan hanya ini; masih banyak tujuan komunikasi yang lain. Tetapi keempat tujuan yang disebutkan di atas tampaknya merupakan tujuan-tujuan yang utama. Selanjutnya tidak ada tindak komunikasi yang didorong hanya oleh satu faktor; sebab tunggal tampaknya tidak ada dunia ini. Oleh karenanya, setiap komunikasi barangkali didorong oleh kombinasi beberapa tujuan bukan hanya satu tujuan.

 

4.4.4 Prinsip-prinsip komunikasi

 

Dalam pembahasan yang lalu kita mendefinisikan komunikasi dan menjelaskan beberapa komponen komunikasi. Selanjutnya kita akan menggali sifat atau hakikat atau karakteristik komunikasi dengan menyajikan delapan prinsip komunikasi. Memahami prinsip-prinsip ini sangat penting untuk memahami komunikasi dalam segala bentuk dan fungsinya.

 

1.  Komunikasi Adalah Paket Isyarat

Perilaku komunikasi, apakah ini melibatkan pesan verbal, isyarat tubuh, atau kombinasi dari keduanya, biasanya terjadi dalam “paket”. Biasanya, perilaku verbal dan nonverbal saling memperkuat dan mendukung. Semua bagian dari sistem pesan biasanya bekerja bersama-sama untuk mengkomunikasikan makna tertentu. Kita tidak mengutarakan rasa takut dengan kata-kata sementara seluruh tubuh kita bersikap santai. Kita tidak mengungkapkan rasa marah sambil tersenyum. Seluruh tubuh—baik secara verbal maupun nonverbal—bekerja bersama-sama untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan kita.

 

Dalam segala bentuk komunikasi, apakah antarpribadi, kelompok kecil, pidato di muka umum, atau media masa, kita kurang memperhatikan sifat paket dari komunikasi. Ia berlalu begitu saja. Tetapi bila ada ketidakwajaran—bila jabatan tangan yang lemah menyertai salam verbal, bila gerak-gerik gugup menyertai pandangan yang tajam, bila kegelisahan menyertai ekspresi nyaman dan santai—kita memperhatikannya. Selalu saja kita mulai mempertanyakan ketulusan, dan kejujuran orang yang bersangkutan.

 

Pesan yang Kontradiktif

Bayangkanlah seseorang yang mengatakan “Saya begitu senang bertemu dengan anda,” tetapi. berusaha menghindari kontak mata langsung dan melihat kesana-kemari untuk mengetahui siapa lagi yang hadir. Orang ini mengirimkan pesan yang kontradiktif. Kita menyaksikan pesan yang kontradiktif (juga dinamai “pesan berbaur” oleh beberapa penulis) pada pasangan yang mengatakan bahwa mereka saling mencintai tetapi secara nonverbal melakukan hal-hal yang saling menyakiti, misalnya datang terlambat untuk suatu janji penting, mengenakan pakaian yang tidak disukai pasangannya, menghindari kontak mata, atau tidak saling menyentuh.

Pesan-pesan tersebut ada juga yang mengatakan sebagai “diskordansi” (discordance) merupakan akibat dari keinginan untuk mengkomunikasikan dua emosi atas perasaan yang berbeda. Sebagai contoh, anda mungkin menyukai seseorang dan ingin mengkomunikasikan perasaan positif ini, tetapi anda juga tidak menyukai orang itu dan ingin mengkomunikasikan perasaan negatif ini juga. Hasilnya adalah anda mengkomunikasikan kedua perasaan itu, satu secara verbal dan lainnya secara nonverbal.

 

2.  Komunikasi Adalah Proses Penyesuaian

Komunikasi hanya dapat terjadi bila para komunikatornya menggunakan sistem isyarat yang sama. Ini jelas kelihatan pada orang-orang yang menggunakan bahasa berbeda. Anda tidak akan bisa berkomunikasi dengan orang lain jika sistem bahasa anda berbeda. Tetapi, prinsip ini menjadi sangat relevan bila kita menyadari bahwa tidak ada dua orang yang menggunakan sistem isyarat yang persis sama. Orang tua dan anak, misalnya, bukan hanya memiliki perbedaan kata yang berbeda, melainkan juga mempunyai arti yang berbeda untuk istilah yang mereka gunakan.

Sebagian dari seni komunikasi adalah mengidentifikasikan isyarat orang lain, mengenali bagaimana isyarat-isyarat tersebut digunakan, dan memahami apa artinya. Mereka yang hubungannya akrab akan menyadari bahwa mengenali isyarat-isyarat orang lain memerlukan waktu yang sangat lama dan seringkali membutuhkan kesabaran. Jika kita ingin benar-benar memahami apa yang dimaksud seseorang, bukan sekadar mengerti apa yang dikatakan atau dilakukannya, kita harus mengenal sistem isyarat orang itu.

 

3.  Komunikasi Mencakup Dimensi Isi Dan Hubungan

Komunikasi, setidak-tidaknya sampai batas tertentu, berkaitan dengan dunia nyata atau sesuatu yang berada di luar (bersifat ekstern bagi) pembicara dan pendengar. Tetapi, sekaligus, komunikasi juga menyangkut hubungan di antara kedua pihak. Sebagai contoh, seorang atasan mungkin berkata kepada bawahannya, “Datanglah ke ruang saya setelah rapat ini.” Pesan sederhana ini mempunyai aspek isi (kandungan, atau content) dan aspek hubungan (relational).

Aspek isi mengacu pada tanggapan perilaku yang diharapkan—yaitu, bawahan menemui atasan setelah rapat. Aspek hubungan menunjukkan bagaimana komunikasi dilakukan. Bahkan penggunaan kalimat perintah yang sederhana sudah menunjukkan adanya perbedaan status di antara kedua pihak Atasan dapat memerintah bawahan. Ini barangkali akan lebih jelas terlihat bila kita membayangkan seorang bawahan memberi perintah kepada atasannya. Hal ini akan terasa janggal dan tidak layak karena melanggar hubungan normal antara atasan dan bawahan.

Dalam setiap situasi komunikasi, dimensi isi mungkin tetap sama tetapi aspek hubungannya dapat berbeda, atau aspek hubungan tetap sama sedangkan isinya berbeda. Sebagai contoh, atasan dapat mengatakan kepada bawahan “Sebaiknya anda menjumpai saya setelah rapat ini” atau “Dapatkah kita bertemu setelah rapat ini?” Dalam kedua hal, isi pesan pada dasarnya sama—artinya, pesan dikomunikasikan untuk mendapatkan tanggapan perilaku yang sama—tetapi dimensi hubungannya sangat berbeda. Dal kalimat pertama, jelas tampak hubungan atasan-bawahan, bahkan terasa kesan merendahkan bawahan. Pada yang kedua, atasan mengisyaratkan hubungan yang lebih setara dan memperlihatkan penghargaan kepada bawahan.

 

Ketidakmampuan Membedakan Dimensi Isi dan Hubungan

Banyak masalah di antara manusia disebabkan oleh ketidakmampuan mereka mengenali perbedaan antara dimensi isi dan hubungan dalam komunikasi. Perbedaan/perselisihan yang menyangkut dimensi isi relatif mudah dipecahkan: Relatif mudah untuk memeriksa fakta yang dipertengkarkan. Sebagai contoh, kita dapat memeriksa buku atau bertanya kepada seseorang tentang apa yang sesungguhnya terjadi. Tetapi, pertengkaran yang menyangkut dimensi hubungan jauh lebih sulit diselesaikan, sebagian karena kita jarang sekali mau mengakui bahwa per tengkaran itu sesungguhnya menyangkut soal hubungan, bukan soal isi.

 

4.  Komunikasi Melibatkan Transaksi Simetris dan Komplementer

Hubungan dapat berbentuk simetris atau komplementer. Dalam hubungan simetris dua orang saling bercermin pada perilaku lainnya. Perilaku satu orang tercermin pada perilaku yang lainnya. Jika salah seorang mengangguk, yang lain mengangguk, jika yang satu menampakkan rasa cemburu, yang lain memperlihatkan rasa cemburu; jika yang satu pasif, yang lain pasif. Hubungan ini bersifat setara (sebanding), dengan penekanan pada meminimalkan perbedaan di antara kedua orang yang bersangkutan.

Cara lain melihat hubungan simetris adalah dalam bentuk persaingan dan perebutan pengaruh di antara dua orang. Masing-masing orang dalam hubungan simetris perlu menegaskan kesebandingan atau keunggulannya dibanding yang lain. Hubungan simetris bersifat kompetitif; masing-masing pihak berusaha mempertahankan kesetaraan atau keunggulannya dari yang lain. Jika, misalnya, salah satu pihak mengatakan bahwa sesuatu itu harus dilakukan dengan cara tertentu, pihak yang lain akan menangkapnya sebagai pernyataan bahwa ia tidak cukup kompeten untuk memutuskan bagaimana sesuatu itu harus dilakukan. Terjadilah perebutan pengaruh. Tentu saja, kericuhan ini sebenarnya tidak menyangkut tentang bagaimana sesuatu itu harus dilakukan. Kericuhan lebih menyangkut tentang siapa yang berhak memutuskan. Kericuhan ini lebih menyangkut siapa pihak yang lebih kompeten. Seperti dapat dengan mudah dipahami, tuntutan pengakuan akan kesetaraan (atau keunggulan) seringkali menimbulkan pertengkaran dan permusuhan.

Dalam hubungan komplementer kedua pihak mempunyai perilaku yang berbeda. Perilaku salah seorang berfungsi sebagai stimulus perilaku komplementer dari yang lain. Dalam hubungan komplementer perbedaan di antara kedua pihak dimaksimumkan. Orang menempati posisi yang berbeda; yang satu atasan, yang lain bawahan; yang satu aktif, yang lain pasif; yang satu kuat, yang lain lemah . Pada masanya, budaya membentuk hubungan seperti ini —misalnya, hubungan antara guru dan murid, atau antara atasan dan bawahan—. Walaupun hubungan komplementer umumnya produktif di mana perilaku salah satu mitra melengkapi atau menguatkan perilaku yang lain, masih ada masalah. Salah satu masalah dalam hubungan komplementer, yang dikenal baik oleh banyak mahasiswa, adalah yang disebabkan oleh kekakuan yang berlebihan. Sementara hubungan komplementer antara seorang ibu yan melindungi dan membimbing dengan anaknya yang sangat bergantung kepadanya pada suatu saat sanglt penting dan diperlukan untuk kehidupan si anak, hubungan yang sama ketika anak ini beranjak dewasa menjadi penghambat bagi pengembangan anak itu selanjutnya. Perubahan yang begitu penting untuk pertumbuhan tidak dimungkinkan terjadi.

 

5.  Rangkaian Komunikasi Dipunkuasi

Peristiwa komunikasi merupakan transaksi yang kontinyu. Tidak ada awal dan akhir yang jelas. Sebagai pemeran serta atau sebagai pengamat tindak komunikasi, kita membagi proses kontinyu dan berputar ini ke dalam sebab dan akibat, atau ke dalam stimulus dan tanggapan. Artinya, kita mensegmentasikan arus kontinyu komunikasi ini ke dalam potongan-potongan yang lebih kecil. Kita menamai beberapa di antaranya sebagai sebab atau stimulus dan lainnya sebagai efek atau tanggapan.

Setiap tindakan merangsang tindakan yang lain. Masing-masing tindakan berfungsi sebagai stimulus bagi yang lain. Tetapi, tidak ada stimulus awal. Masing-masing kejadian dapat dianggap sebagai stimulus dan masing-masing kejadian dapat pula dianggap sebagai efek, tetapi tidak bisa ditentukan mana yang stimulus dan mana yang tanggapan. Jika kita menghendaki komunikasi efektif—jika kita ingin memahami maksud orang lain—maka kita harus melihat rangkaian kejadian seperti yang dipunktuasi orang lain. Selanjutnya, kita harus menyadari bahwa punktuasi kita tidaklah mencerminkan apa yang ada dalam kenyataan, melainkan merupakan persepsi kita sendiri yang unik dan bisa keliru.

 

Komunikasi adalah proses transaksional

Komunikasi adalah transaksi. Dengan transaksi dimaksudkan bahwa komunikasi merupakan suatu proses, hahwa komponen-komponennya saling terkait, dan bahwa para komunikatornya beraksi dan bereaksi sebagai suatu kesatuan atau keseluruhan.

 

Komunikasi adalah Proses

Komunikasi merupakan suatu proses, suatu kegiatan. Walaupun kita mungkin membicarakan komunikasi seakan-akan ini merupakan suatu yang statis, yang diam, komunikasi tidak pernah seperti itu. Segala hal dalam komunikasi selalu berubah —kita, orang yang kita ajak berkomunikasi, dan lingkungan kita—.

 

Komponen-komponen Komunikasi Saling Terkait

Dalam setiap proses transaksi, setiap komponen berkaitan secara integral dengan setiap komponen yang lain. Komponen komunikasi saling bergantung, tidak pernah independen: Masing-masing komponen dalam kaitannya dengan komponen yang lain. Sebagai contoh, tidak mungkin ada sumber tanpa penerima, tidak akan ada pesan tanpa sumber, dan tidak akan umpan balik tanpa adanya penerima. Karena sifat saling bergantung ini, perubahan pada sembarang komponen proses mengakibatkan perubahan pada komponen yang lain. Misalnya, anda sedang berbincang-bincang dengan sekelompok teman, kemudian ibu anda datang masuk ke kelompok. Perubahan “khalayak” ini akan menyebabkan perubahan-perubahan lain. Barangkali anda atau teman-teman anda akan mengubah bahan pembicaraan atau mengubah cara membicarakannya. Ini juga dapat mempengaruhi berapa sering orang tertentu berbicara, dan seterusnya. Apa pun perubahan yang pertama, perubahan-perubahan lain akan menyusul sebagai akibatnya.

 

Komunikator bertindak sebagai satu kesatuan

Setiap orang yang terlibat dalam komunikasi beraksi dan bereaksi sebagai satu kesatuan yang utuh. Secara biologis kita dirancang untuk bertindak sebagai makhluk yang utuh. Kita tidak dapat bereaksi, misalnya, hanya pada tingkat emosional atau intelektual saja, karena kita tidak demikian terkotak-kotak. Kita pasti akan bereaksi secara emosional dan intelektual, secara fisik dan kognitif. Kita bereaksi dengan tubuh dan pikiran. Barangkali akibat terpenting dari karakteristik ini adalah bahwa aksi dan reaksi kita dalam komunikasi ditentukan bukan hanya oleh apa yang dikatakan, melainkan juga oleh cara kita menafsirkan apa yang dikatakan. Reaksi kita terhadap sebuah film, misalnya, tidak hanya bergantung pada kata-kata dan gambar dalam film tersebut melainkan pada semua yang ada pada kita —pengalaman masa lalu kita, emosi kita saat itu, pengetahuan kita, keadaan kesehatan kita, dan banyak lagi faktor lain. Jadi, dua orang yang mendengarkan sebuah pesan seringkali menerimanya dengan arti yang sangat berbeda. Walaupun kata-kata dan simbol yang digunakan sama, setiap orang menafsirkannya secara berbeda.

 

6. Komunikasi Tak Terhindarkan

Anda mungkin menganggap bahwa komunikasi berlangsung secara sengaja, bertujuan, dan termotivasi secara sadar. Dalam banyak hal ini memang demikian. Tetapi, seringkali pula komunikasi terjadi meskipun seseorang tidak merasa berkomunikasi atau tidak ingin berkomunikasi. Dalam situasi interaksi, anda tidak bisa tidak berkomunikasi. Tidaklah berarti bahwa semua perilaku merupakan komunikasi; misalnya, jika sang murid melihat ke luar jendela dan guru tidak melihatnya, komunikasi tidak terjadi.

Selanjutnya, bila kita dalam situasi interaksi, kita tidak bisa tidak menanggapi pesan dari orang lain. misalnya, jika kita melihat seseorang melirik ke arah kita, kita pasti bereaksi dengan cara tertentu. Seandainyapun kita tidak bereaksi secara aktif atau secara terbuka, ketiadaan reaksi ini sendiri pun merupakan reaksi, dan itu berkomunikasi. Kita tidak bisa tidak bereaksi. Sekali lagi, jika kita tidak menyadari lirikan itu, jelas bahwa komunikasi tidak terjadi.

 

7. Komunikasi Bersifat Tak Reversibel

Anda dapat membalikkan arah proses beberapa sistem tertentu. Sebagai contoh, anda dapat mengubah air menjadi es dan kemudian mengembalikan es menjadi air, dan anda dapat mengulang-ulang proses dua arah ini berkali-kali sesuka anda. Proses seperti ini dinamakan proses reversibel. Tetapi ada sistem lain yang bersifat tak reversibel (irreversible). Prosesnya hanya bisa berjalan dalam satu arah, tidak bisa dibalik. Anda, misalnya, dapat mengubah buah anggur menjadi minuman anggur (sari anggur), tetapi anda tidak bisa mengembalikan sari anggur menjadi buah anggur. Komunikasi termasuk proses seperti ini, proses tak reversibel. Sekali anda mengkomunikasikan sesuatu, anda tidak bisa tidak mengkomunikasikannya. Tentu saja, anda dapat berusaha mengurangi dampak dari pesan yang sudah terlanjur anda sampaikan; anda dapat saja, misalnya, mengatakan, “Saya sangat marah waktu itu; saya tidak benar-benar bermaksud mengatakan seperti itu.” Tetapi apa pun yang anda lakukan untuk mengurangi atau meniadakan dampak dari pesan anda, pesan itu sendiri, sekali telah dikirimkan dan diterima, tidak bisa dibalikkan. (Ada pepatah Indonesia yang mengatakan, nasi telah menjadi bubur.) l

Prinsip ini mempunyai beberapa implikasi penting komunikasi dalam segala macam bentuknya. Sebagai contoh, dalam interaksi antarpribadi, khususnya dalam situasi konflik, kita perlu hati-hati untuk tidak mengucapkan sesuatu yang mungkin nantinya ingin kita tarik kembali. Pesan yang mengandung komitmen—pesan “aku cinta kepadamu” dengan segala macam variasinya— juga perlu diperhatikao , lika tidak, kita mungkin terpaksa mengikatkan diri kita pada suatu posisi yang mungkin nantinya kitt sesali. Dalam situasi komunikasi publik atau komunikasi masa, di mana pesan-pesan didengar oleli ratusan, ribuan, bahkan jutaan orang, sangatlah penting kita menyadari bahwa komunikasi kita bersifat tak reversibel.

 

4.4.5 Persepsi dalam konteks komunikasi

 

Proses Persepsi

 

Persepsi bersifat kompleks. Tidak ada hubungan satu lawan satu antara pesan yang terjadi di “luar sana” dengan pesan yang akhirnya memasuki otak kita. Apa yang terjadi di dunia luar dapat sangat berbeda dengan apa yang mencapai otak kita Mempelajari bagaimana dan mengapa pesan-pesan ini berbeda sangat penting untuk memahami komunikasi.

 

1. Terjadinya Stimulasi Alat Indra (Sensory Stimulation)

Pada tahap pertama alat-alat indra distimulasi (dirangsang): Kita mendengar suara musik. Kita melihat seseorang yang sudah lama tidak kita jumpai. Kita mencium parfum orang yang berdekatan dengan kita, Kita mencicipi sepotong kue. Kita merasakan telapak tangan yang berkeringat ketika berjabat tangan.

 

2.  Stimulasi terhadap Alat Indra Diatur

Pada tahap kedua, rangsangan terhadap alat indra diatur berbagai prinsip. (makalah persepsi)

 

3.  Stimulasi Alat Indra Ditafsirkan-Dievaluasi

Tahap ketiga dalam proses perseptual adalah penafsiran-evaluasi. Kita menggabungkan kedua istilah ini ini untuk menegaskan bahwa keduanya tidak bisa dipisahkan. Langkah ketiga ini merupakan proses subyektif yang melibatkan evaluasi di pihak penerima. Penafsiran-evaluasi kita tidak semata-mata didasarkan pada rangsangan luar, melainkan juga sangat dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu, kebutuhan, keinginan, sistem nilai, keyakinan tentang yang seharusnya, keadaan fisik, dan emosi pada saat itu, dan sebagainya yang ada pada kita.

 

Perbedaan individual ini janganlah sampai membutakan kita akan validitas beberapa generalisasi tentang persepsi. Meskipun generalisasii ini belum tentu berlaku untuk seseorang tertentu, tampaknya ia berlaku untuk sebagian cukup besar orang.

 

Proses Yang Mempengaruhi Persepsi

 

Antara kejadian stimulasi dengan evaluasi atau penafsiran terhadap stimulasi, persepsi dipengaruhi oleh berbagai proses psikologis penting. Diantarannya : teori kepribadianl implisit (implicit personality theory), ramalan yang terpenuhi dengan sendirinya (self-fulfilling prophecy), aksentuasi perseptual (perceptual accentuation), primasi-resensi (primacy-recency), konsistensi (consistency), dan stereotiping (stereotyping). Lihat Gambar dibawah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

     Teori Kepribadian Implisit

Bacalah pernyataan singkat berikut. Tandailah karakteristik dalam tanda kurung yang kelihatannya paling cocok untuk melengkapi kalimat tersebut:

Agus bergairah, memiliki rasa ingin tahu yang besar, dan (cerdas, kurang cerdas)

Dewi berani, tegar, dan (ekstrovert, introvert)

Sitha periang, lincah, dan   (langsing, gemuk)

Hari ramah, posiif, dan (menarik, tidakm menarik)

 

Kata-kata tertentu tampaknya benar dan lainnya kelihatannya salah. Yang membuatnya kelihatannya salah dan kelihatan benar adalah teori kepribadian imlisit. Sistem aturan yang mengatakan kepada kity mana karakteistik yang sesuai untuk karakteristik yang lain.

 

Kebanyakan teori orang mengatakan bahwa seseorang yang bergairah dan mempunyai rasa ingin tahu yang besar pasti juga cerdas. Tentu saja tidak ada alasan logis untuk mengatakan bahwa orang yang tidak cerdas tidak bergairah dan tidak mempunvai rasa ingin tahu yang besar.

 

Efek halo” yang banyak dikenal merupakan fungsi dari teori kepribadian implisit kita. Jika kita percaya bahwa seseorang memiliki sejumlah kualitas positif, kita menyimpulkan bahwa  ia juga memiliki kualitas positif yang  lain. “Efek halo terhalik” juga ada. Jika kita tahu bahwa seseorang memiliki sejumlah kualitas negatif, kita cenderung menyimpulkan bahwa orang itu memiliki kualitas negatif yang lain.

 

Hambatan Potensial

¨      Mempersepsikan kualitas-kualitaa dalam diri seorang yang menurut “teori” seharusnya dimilikinya, padahal kenyataannya tidak demikian.

¨      Mengabaikan kualitas atau karakteristik yang tidak sesuai dengan teori ita.

¨      Penggunaan teori kepribadian implisit ini, bersama dengan efek halo dan efek halo terbalik seringkali membawa kita pada ramalan yang terpenuhi dengan sendirinnya.

 

b. Ramalan yang Terpenuhi dengan Sendirinya

Ramalan yang terpenuhi dengan sendirinya terjadi bila kita membuat perkiraan atau merumuskan keyakinan yyang menjadi kenyataan karena kita meramalkannya dan bertindak seakan-akan itu benar.

 

Ada empat langkah dasar dalam proses ini:

Kita membuat prediksi atau merumuskan keyakinan tentang seseorang atau situasi.

kita bersikap kepada orang atau situasi tersebut seakan-akan ramalan atau keyajkinan kita benar.

karena kita bersikap demikian, ia menadi kenyataan .

kita mengamati efek diri kita terhadap seseorang atau akibat terhadap situasi, dan apa yang kita saksikan memperkuat keyakinan kira.

 

Hambatan Potensial

¨      Mempengaruhi  perilaku orang lain sehingga sesuai dengan ramalan kita

¨      Melihat apa yang diramalkan ketimbang apa yang sebenarnya, misalnya. ini dapat membuat kita karena ramalan itu kita buat, bukan karena adanya kegagalan yang aktual, menganggap diri kita gagal.

 

c.  Aksentuasi Perseptual

“Tiada rotan akar pun jadi” adalah pepatah yang banyak kita jumpai dalam komunikasi: Untuk menjadi calon aktor, peran sekecil apapun dan seperti apa pun dalam sebuah film adalah lebih baik ketimbang tidak mendapat peran apapun. Bayam barangkali rasanya tidak enak tetapi bila anda lapar rasanya akan sama lezat dengan ayam panggang.

 

Proses tersebut yang dinamai aksentuasi perseptual, membuat kita melihat apa yang kita harapkan dan kita inginkan. Kita melihat orang yang kita sukai sebagai lebih tampan dan lebih pandai ketimbang orang yang tidak kita sukai. Kontra argumen yang jelas adalah bahwa sebenarnya kita lebih menyukai orang pandai dan tampan dan oleh karenanya kita mencari-cari orang seperti ini, bukan karena orang yang kita sukai itu kelihatan tampan dan pandai. Proses umum yang sering terjadi setiap hari. Orang yang haus melihat bayangan air (fatamorgana).

 

Hambatan Potensial

¨      Mendistorsi persepsi kita tentang realitas; membuat kita melihat apa yang kita butuhkan atau inginkan ketimbang apa yang nyatanya ada, dan tidak melihat apa yang tidak ingin kita lihat Misalnya, anda mungkin tidak merasa akan gagal dalam mata kuliah komunikasi karena anda memusatkan perhatian pada apa yang anda inginkan.

¨      Menyaring atau mendistorsi informasi yang mungkin merusak atau mengancam citra-diri kita dan dengan demikian sangat mernpersulit upaya peningkatan-diri

¨      Memandang orang lain memiliki karakteristik atau kualitas negatif yang sebenarnya ada pada diri kita.

¨      Melihat dan mengingat kualitas atau karakteristik positif lebih daripada yang negatif, dan dengan demikian mendistorsi persepsi kita tentang orang lain

¨      Merasakan perilaku tertentu dari orang lain sebagai menunjukkan bahwa ia menyukai kita hanya karena sebenarnya kita ingin disukai. Sebagai contoh, sikap bersahabat dan ramah dari seorang wiraniaga kita terima sebagai tanda bahwa yang bersangkutan menyukai kita, padahal sebenarnya itu hanya bagian dari strategi persuasi tertentu.

 

d.  Primasi-Resensi

Anggaplah sementara bahvva anda sedang suatu mengambil mata kuliah di mana separuh kegiatan kelas sangat membosankan dan separuh lainnya sangat menyenangkan. Pada akhir semester anda diminta mengevaluasi mata kuliah ini dan pengajarnya. Apakah evaluasi anda akan lebih baik jika kegiatan kelas yang membosankan terjadi selama tengah pertama semester dan kegiatan yang  menyenangkan terjadi selama tengah kedua semester itu? Ataukah evaluasi anda akan lebih baik jika urutannya dibalik? Jika yang muncul pertama lebih kuat pengaruhnya, kita mengalami apa yang dinamakan efek primasi (Primacy Effect). Jika yang muncul terakhir (atau paling baru) lebih kuat pengaruhnya kita mengalami efek resensi (Recency Effect)

Implikasi praktis dari efek primasi-resensi ini adalah bahwa kesan pertama yang tercipta tampaknya paling penting. Melalui kesan pertama ini, orang lain akan menyaring tambahan informasi untuk merumuskan gambaran tentang seseorang yang mereka persepsikan.

 

Hambatan Potensial

¨      Merumuskan gambaran menyeluruh tentang seseorang berdasarkan kesan awal yang belum akurat.

¨      Mendistorsi persepsi yang datang kemudian untuk tidak merusak kesan pertama kita.

 

e.  Konsistensi

Anda mempunyai kecenderungan yang kuat untuk menjaga keseimbangan atau konsistensi di antara persepsi-persepsi anda. Konsistensi menggambarkan kebutuhan anda untuk memelihara keseimbangan daintara sikap-sikap anda. Anda memperkirakan bahwa hal-hal tertentu selalu muncul bersama-sama dan hal-hal lain akan muncul bersama-sama.

Selanjutnya kita berharap seseorang yang kita sukai memiliki karakteristik yang kita sukai atau kita puja, dan kita berharap mmusuh-musuh kita tidak memiliki karakteristik yang kita sukai atau kita puja. Sebaliknya kita berharap orang yang kita sukai tidak memiliki sifat-sifat yang tidak menyenangkan dan orang yang tidak kita sukai memiliki sifat-sitat yang tidak menyenangkan.

 

Hambatan Potensial

¨      Mengabaikan atau mendistorsi persepsi tentang perilaku yang tidak konsisten dengan gambaran kita mengenai seseorang secara utuh.

¨      Mempersepsikan perilaku spesifik sebagai terpancar dari kualitas positif orang yang kita sukai dan dari kualitas negatif orang yang tidak kita sukai. Oleh karenanya kita tidak mampu melihat perilaku positif maupun negatif.

¨      Melihat perilaku tertentu sebagai positif jika perilaku yang lain ditafsirkan sebagai positif (efek halo) atau sebaliknya

 

f.   Stereotyping

Jalan pintas yang sering digunakan dalam persepsi adalah stereotiping (stereotyping). Stereotipe spsiologis atau psikologis adalah citra yang melekat atas sekelompok orang. Kita semua mempunyai stereotipe tentang kelompok bangsa. kelompok agama, kelompok ras, atau barangkali tentang kaum penjahat, kaum waria, atau guru.

 

Hambatan Potensial

Stereotipe dapat menimbulkan dua hambatan utama. Kecenderungan kita untuk mengelompokkan orang ke dalam kelas-kelas dan bereaksi terhadap seseorang terutama sebagai anggoata kelas-kelas ini dapat membuat kita:

¨      Mempersepsikan orang seakan-akan memiliki kualitas-kualitas tertentu dan, karenanya tidak mampu mengenali sifat multi aspek dari semua orang dan semua kelompok.

¨      Mengabaikan ciri khas yang dimilili seseorang dan karenanya tidak mampu menarik manfaat dari konstruibusi khusus yang dapat diberikan setiap pihak dalam suatu interaksi

 

Membuat Persepsi Lebih Akurat

Efektifitas komunikasi dan hubungan bergantung sebagian besar pada keakuratan kita dalam mempersepsi suatu pesan yang muncul. Kita dapa meningkatkan akurasi kita dengan (1) menerapkan strategi untuk mengurangi ketidakpastian, dan (2) mengikuti beberapa pedoman atau prinsip yangh diusarankan.

 

Strategi Untuk Mengurangi Ketidakpastian

Asumsi umum yang digunakan disini adalah bahwa komunikasi merupakan proses bertahap  (gradual) di mana orang saling mengurangi ketida kpastian tentang yang lain. Dengan tiap-tiap interaksi kita semakin mengenal pihak lain dan secara berangsur-angsur mulai mengenal orang itu pada tingkat yang lebih bermakna.

 

Ada 3 strategi utama untuk mengurangoiketidakpastian : strategi pasif, aktif, dan interaktif.

Strategi pasif,  Bila kita mengamati orang lain tanpa orang itu sadar bahwa dia sedang kita amati. Yang paling bermanfaat dalam observasi pasif ini adalah mengamati seseorang dalam tugas aktif tertentu, misalnya dalam interaksinya dengan orang lain dalam situasi informal.

 

Strategi Aktif,  Bila kita secara aktif mencari informasi tentang seseorang dengan cara apapun selain berinteraksi dengan orang itu. Sebagai contoh, anda dapat bertanya kepada orang lain tentang orang itu (“Seperti apa rupanya?” “Apakah bekerja di luar?, dan sebagainya). Kita juga dapat memenipulasi lingkungan dengan cara tertentu sehingga dapat mengamati seseorang secara lebih spesifik dan jelas.

 

Strategi interaktif, Bila kita sendiri berinteraksi dengan seseorang. Kita juga mendapatkan pengetahuan tentang orang lain dengan mengungkapkan informasi tentang diri kita sendiri. Pengungkapan-diri mencipatkan lingkungan yang santai mendorong pengungkapan dari orang lain yang ingin ebih kita kenal.

 

Ketiga strategi ini bermanfaat untuk mengurangi ketidakpastian anda mengenai orang lain. Sayang nya banyak orag mnerasa bahwa mereka sudh cukup mengena; seseorang setelah menerapkan hanya startegoi pasif. Strategi aktif lebih bersifat megungkapkan, dan startegi interaktif lebih banyak labi mengunkapkannya.Menerapkan ketiga macam strategi ini akan membuat persepsi anda seakurat mungkin.

 

Pedoman Untuk Meningkatkan Akurasi Persepsi

Disamping menghindari hambatan-hambatan potensial; dalam beragai proses persepsi yang dikemukakan sebelumnya dan menerapkan ketiga strategi untuk mengurangi ketidakpastian, berikut ini beberapa saran yang akan membantu meningkatkan akurasi persepsi antarpribafdi anda.

  1. Carilah berbagai petunjuk yang menunjuk ke arah yang sama. Makin banyak petunjuk perseptual yang menuju ke arah yag sama, makin  besar kemungkinan kesimpulan anda benar..
  2. Berdasarkan pengamatan kita atas perilaku, rumuskan hipotesis. Ujilah hipotesis ini terhadap informasi dan bukti-bukti tambahan; jangan menarik kesimpulan yang nantinya akan kita coba konfirmasikan.
  3. Perhatikan khususnya petunjuk-petunjuk yang kontradiktif, petunjuk yang akan menolak hipotesis awal kita. Akan lebih mudah menerima yang mendukung hipotesis ketimbang menerima petunjuk yang menentangnya.
  4. Jangan menarik kesimpulan sampai kita memiliki kesempatan untuk menproses beragam petunjuk.
  5. 5.    Hindari membaca pikiran oirang lain. Kita hanya dapat membuat asumsi berdasarkan perilaku yang tampak. Motif, sikap, atau nilai seseorang tidak terbuka bagi inspeksi pihak luar.
  6. 6.    Jangan menganggap orang lain seperti diri kita, berpikir seperti cara diri kita, atau bertindak seperti yang koita lakukan. Sadarilah keragaman dan keunikan manusia.
  7. Waspadalah terhadap bias diri kita sendiri. Sebagi contoh, hanya menerima hal-hal positif pada diri oarang yang kita sukai dan hanya menerima hal-hal pelayanan negatif pada diri orang yang tidak kita sukai.

4.4.6 PROSES KOMUNIKASI

Dari pengertian komunikasi sebagaimana diutarakan di atas, tampak ada-nya sejumlah komponen atau unsur yang dicakup, yang merupakan persyaratan terjadinya komunikasi. Dalam “bahasa komunikasi” komponen-komponen tersebut adalah sebagai berikut:

- komunikator – orang yang menyampaikan pesan;

- pesan  – pernyataan yang didukung oleh lambang;

- komunikan  – orang yang menerima pesan;

- media  - sarana atau saluran yang mendukung pesan bila komunikan jauh tempatnya atau banyak jumlahnya;

- efek  - dampak sebagai pengaruh dari pesan. Teknik berkomunikasi adalah cara atau “seni” penyampaian suatu pesan yang dilakukan seorang komunikator sedemikian rupa, sehingga menimbulkan dampak tertentu pada komunikan. Pesan yang disampaikan komunikator adalah pemyataan sebagai paduan pikiran dan perasaan, dapat berupa ide, informasi, keluhan, keyakinan, imbauan, anjuran, dan sebagainya.

Pernyataan tersebut dibawakan oleh lambang, umumnya bahasa. Dikatakan bahwa umumnya bahasa yang dipergunakan untuk menyalurkan pemyataan itu, sebab ada juga lambang lain yang dipergunakan, antara lain kial – yakni gerakan anggota tubuh – gambar, warna, dan sebagainya. Melambaikan tangan, mengedipkan mata, mencibirkan bibir, atau menganggukkan kepala adalah kial yang merupakan lambang untuk menunjukkan perasaan atau pikiran seseorang. Gambar, apakah itu foto, lukisan, sketsa, karikatur, diagram, grafik, atau lain-lainnya, adalah lambang yangbiasa digunakan untuk menyampaikan pemyataan seseorang. Demikian pula warna, seperti pada lampu lalu lintas: merah berarti berhenti, kuning berarti siap, dan hijau berarti berjalan; kesemuanya itu lambang yang dipergunakan polisi lalu lintas untuk menyampaikan instruksi kepada para pemakai jalan. Di antara sekian banyak lambang yang biaa digunakan dalam komunikasi adalah bahasa, sebab bahasa dapat menunjukkan pemyataan seseorang mengenai hal-hal, selain yang kongkret juga yang abstrak, baik yang terjadi saat sekarang maupun waktu yang lalu dan masa yang akan datang. Tidak demikian kemampuan lambang-lambang lainnya.Yang penting dalam komunikasi ialah bagaimana caranya agar suatu pesan yang disampaikan komunikator itu menimbulkan dampak atau efek tertentu pada komunikan. Dampak yang ditimbulkan dapat diklasifikasikan menurut kadarnya, yakni:

a. dampak kognitif,

b. dampak afektif,

c. dampak behavioral

Dampak kognitif adalah yang timbul pada komunikan yang menyebabkan dia menjadi tahu atau meningkat intelektualitasnya. Di sini pesan yang disampaikan komunikator ditujukan kepada pikiran si komunikan. Dengan lain perkataan, tujuan komunikator hanyalah berkisar pada upaya mengubah pikiran diri komunikan.

Dampak afektif lebih tinggi kadarnya daripada dampak kognitif. Di sini tujuan komunikator bukan hanya sekadar supaya komunikan tahu, tetapi tergerak hatinya; menimbulkan perasaan tertentu, misalnya perasaan iba, terharu, sedih, gembira, marah, dan sebagainya.

Yang paling tinggi kadarnya adalah dampak behavioral, yakni dampak yang timbul pada komunikan dalam bentuk perilaku, tindakan, atau kegiatan.

Untuk contoh mengenai ketiga jenis dampak di atas dapat diambil dari berita surat kabar. Pernah sebuah surat kabar membuat berita yang dilengkapi foto mengenai seorang wanita yang menderita tumor yang menahun sehingga pemtnya besar tak terperikan. Peristiwa yang diberitakan lengkap dengan fotonya itu menarik perhatian banyak pembaca. Berita tersebut dapat menimbulkan berbagai jenis efek. Jika seorang pembaca hanya tertarik untuk membacanya saja dan kemudian ia menjadi tahu, maka dampaknya hanya berkadar kognitif saja. Apabila ia merasa iba atas penderitaan perempuan yang hidupiya tidak berkecukupan itu, berita tersebut menimbulkan dampak afektif. Tetapi kalau si pembaca yang tersentuh hatinya itu, kemudian pergi ke redaksi surat kabar yang memberitakannya dan menyerahkan sejumlah uang untuk disampaikan kepada si penderita, maka berita tadi menimbulkan dampak behavioral.

4.4.7 Definisi Informasi

Informasi adalah salah satu jenis utama sumberdaya yang tersedia bagi manajer dan merujuk pada suatu perusahaan ataupun organisasi baik para pemimpinnya maupun anggota lainya. Informasi dapat dikelola seperti halnya sumberdaya lain, dan perhatian pada topik ini bersumber dari dua pengaruh. Perrtama, bisnis telah menjadi semakin rumit dan kedua, komputer telah mencapai kemampuan yang semakin baik.

”Knowledge is Power”. Pepatah ini sudah sering kita dengar, tapi Bill Gates ternyata tidak sependapat. Menurut Bill Gates dalam bukunya Business @ the Speed of Thought, informasi yang di-share-lah yang memiliki kekuatan dahsyat, karena informasi ini telah berubah dari informasi pasif (yang hanya berada di kepala masing-masing orang, ataupun yang tersimpan dalam file) menjadi informasi aktif, yaitu informasi yang bisa memberi nilai tambah bagi kegiatan misalnya bisnis perusahaan. Informasi sudah menjadi salah satu sumber daya dari sekian banyak sumber daya.

Berikut ini akan disampaikan beberapa pengertian informasi dari berbagai sumber.

  1. Menurut Gordon B. Davis dalam bukunya Management Informations System : Conceptual Foundations, Structures, and Development menyebut informasi sebagai data yang telah diolah menjadi bentuk yang berguna bagi penerimanya dan nyata, berupa nilai yang dapat dipahami di dalam keputusan sekarang maupun masa depan.
  2. Menurut Barry E. Cushing dalam buku Accounting Information System and Business Organization, dikatakan bahwa informasi merupakan sesuatu yang menunjukkan hasil pengolahan data yang diorganisasi dan berguna kepada orang yang menerimanya.
  3. Menurut Robert N. Anthony dan John Dearden dalam buku Management Control Systems, menyebut informasi sebagai suatu kenyataan, data, item yang menambah pengetahuan bagi penggunanya.
  4. Menurut Stephen A. Moscove dan Mark G. Simkin dalam bukunya Accounting Information Systems : Concepts and Practise mengatakan informasi sebagai kenyataan atau bentuk bentuk yang berguna yang dapat digunakan untuk pengambilan keputusan bisnis.

 

Dari keempat pengertian seperti tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa informasi merupakan hasil dari pengolahan data menjadi bentuk yang lebih berguna bagi yang menerimanya yang menggambarkan suatu kejadian-kejadian nyata dan dapat digunakan sebagai alat bantu untuk pengambilan suatu keputusan.

 

Perbedaan data dan informasi :

Data adalah kenyataan yang menggambarkan suatu kejadian–kejadian dan

kesatuan yang nyata. Atau data adalah : representasi dunia nyata yang mewakili

suatu objek seperti manusia (pegawai, mahasiswa, pelanggan), hewan,

peristiwa, konsep, keadaan dll, yang direkam dalam bentuk angka, huruf,

simbol, teks, gambar, bunyi atau kombinasinya.

 

Sedangkan informasi adalah data yang diolah menjadi bentuk yang lebih berguna dan lebih berarti bagi yang menerimanya

 

Siklus informasi :

Data yang masih merupakan bahan mentah yang harus diolah untuk

menghasilkan informasi melalui suatu model. Model yang digunakan untuk

mengolah data tersebut disebut model pengolahan data atau dikenal dengan

siklus pengolahan data (siklus informasi).

 

Kebutuhan informasi didasarkan pada :

1. kegiatan bisnis yang semakin komplek.

2. Kemampuan komputer yang semakin meningkat.

Output komputer berupa informasi dapat digunakan oleh manager, non manager ataupun perorangan dalam suatu perusahaan

 

Kualitas informasi tergantung pada tiga hal yaitu :

1. Akurat, berarti informasi harus bebas dari kesalahan-kesalahan dan tidak

menyesatkan bagi orang yang menerima informasi tersebut. Akurat juga

berarti informasi harus jelas mencerminkan maksudnya. Dalam prakteknya,

mungkin dalam penyampaian suatu informasi banyak terjadi gangguan

(noise) yang dapat merubah atau merusak isi dari informasi tersebut.

Komponen akurat meliputi :

-      Completeness, berati informasi yang dihasilkan atau dibutuhkan harus

memiliki kelengkapan yang baik, karena bila informasi yang dihasilkan

sebagian-sebagian akan mempengaruhi dalam pengambilan keputusan.

-      Correctness, berati informasi yang dihasilkan atau dibutuhkan harus

memiliki kebenaran.

-      Security, berati informasi yang dihasilkan atau dibutuhkan harus memiliki

keamanan.

 

2. Tepat waktu, informasi yang diterima harus tepat pada waktunya, sebab

informasi yang usang (terlambat) tidak mempunyai niali yang baik, sehingga

bila digunakan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan akan dapat

berakibat fatal. Saat ini mahalnya nilai informasi disebabkan harus cepatnya

informasi tersebut didapat, sehingga diperlukan teknologi-teknologi mutakhir

untuk mendapatkan, mengolah dan mengirimkannya.

 

3. Relevan, informasi harus mempunyai manfaat bagi si penerima. Relevansi

informasi untuk tiap-tiap orang satu dengan yang lainnya berbeda. Misalnya

informasi mengenai sebab-musabab kerusakan mesin produksi kepada

akuntan perusahaan adalah kurang relevan dan akan lebih relevan bila

ditujukan kepada ahli teknik perusahaan.

 

4. Ekonomis, informasi yang dihasilkan mempunyai manfaat yang lebih besar

dibandingkan dengan biaya mendapatkannya dan sebagian besar informasi tidak dapat tepat ditaksir keuntungannya dengan satuan nilai uang tetapi

dapat ditaksir nilai efektivitasnya.

 

4.5 Informasi masing-masing elemen kompetensi

4.5.1 Kontribusi pada perencanaan komunikasi

1.Pengetahuan kerja

Bagaimana mempersiapkan dan merencanakan program-program komunikasi berdasarkan temuan fakta-fakta di lapangan beserta masalah yang dihadapi.

Terdiri dari :

 

PROBLEM ANALYSIS

Analisis masalah adalah langkah awal dalam melakukan suatu perencanaan komunikasi. Masalah adalah  adanya gap antara idealita (kondisi ideal yang diharapkan) dan realita yang terjadi.

Analisis masalah baru dapat dilakukan ketika kita sudah memperoleh data riil di lapangan. Data yang diperlukan dalam analisis masalah ini adalah : kenyataan / realitas yang ada, segmentasi audience, perilaku audience, serta kekuatan di lapangan.

Metodologi Riset

  • Secara garis besar ada 3 bentuk metodologi riset untuk mendapatkan data yang dibutuhkan di lapangan :

–        Survey lapangan : menggunakan kuesioner untuk menginterview sejumlah besar orang yang diseleksi melalui metode sampling tertentu, dan mewakili karakteristik spesifik dari target audience tertentu

–        Penelitian Focus Group Discussion (FGD) : merupakan interview terhadap sekelompok kecil orang yang diasumsikan sebagai karakteristik yang mewakili segmentasi target audience

–        Wawancara Mendalam : seperti FGD, tetapi menginterview sejumlah kecil orang, tetapi melibatkan mereka sebagai individu. Biasanya metodologi ini digunakan sebagai tindaklanjut FGD disebut sessi individual

Survey Lapangan

  • Survey ini membutuhkan kuesioner untuk mendapatkan data dari responden di lapangan
  • penentuan responden menggunakan metode sampling tertentu
  • jumlah responden serta penentuan responden sangat berpengaruh thd validitas hasil penelitian
  • penelitian ini menghasilkan :

–        kesimpulan yg cenderung statistik : “hanya 24% siswa SMA di Jogja yang mengenal UMY”

–        memberikan ketepatan kesimpulan yang diinginkan : “sekitar 20 – 30% remaja putri di Jogja suka ke perpustakaan”

–        memberikan rasa percaya diri peneliti dari hasil yang ditelitinya : “97% mahasiswi di Jogja tidak perawan”

Focus Group Discussion (FGD)

  • Menginterview satu atau lebih kelompok yang terdiri dari 10 – 14 orang
  • metode ini sangat disukai karena sangat menghemat biaya dan waktu
  • Jumlah orang yang diinterview tidak menentukan kesimpulan, tetapi karakteristik audience yang terwakili dalam kelompok sangat dibutuhkan
  • tidak ada kuesioner formal, tetapi pewawancara menggunakan pertanyaan informal untuk mengawali diskusi dalam kelompok, setiap anggota diharapkan mau berbicara secara terbuka

Wawancara Mendalam

  • Setiap responden dilakukan wawancara mendalam terhadap suatu topik tertentu
  • hal ini dilakukan bila dalam FGD ada orang-orang yang lebih dominan bicara, sehingga ditindaklanjuti dengan wawancara mendalam
  • selain itu bila ada pakar-pakar tertentu yang menguasai suatu permasalahan yang diteliti
  • menghabiskan waktu dan tenaga
  • kadang jika wawancaranya panjang, yang diwawancarai akan merasa kelelahan

MENENTUKAN OBJECTIVE

Sebelum menentukan bentuk kegiatan dari perencanaan komunikasi harus ditentukan dulu objective atau tujuan dari perencanaan komunikasi ini. Untuk menetapkan objective harus diketahui  terlebih dulu segmentasi audience yang akan menjadi target dari kegiatan.

Ada tiga jenis objective yang harus dipenuhi :

-      Global Objective (tujuan umum)

-      Intermediate objective (tujuan antara)

-      terminal objective (tujuan akhir)

Global Objective

l  Memuat sedikit kata-kata yang berisi efek umum yang diharapkan dari suatu kampanye

l  Harus mampu menggambarkan tujuan umum secara jelas : segmentasi audiencenya, fokus atau topik umum dan periode waktu tertentu

l  Contoh global objective :

–        Sampai tanggal 31 Desember tahun ini, ibu-ibu yang baru saja melahirkan di tiga desa akan diajari mempersiapkan makanan tambahan dan memberikan ASI secara higienis .

l  Dari tujuan umum diatas bisa dilihat adanya :

–        target audience : ibu-ibu yg baru melahirkan di tiga desa

–        date line waktu : 31 desember tahun ini

–        fokus kegiatan : mengajari bagaimana mempersiapkan makanan tambahan & ASI secara higienis

Intermediate Objective

l  Tujuan antara memuat tugas-tugas yang harus dilengkapi selama eksekusi program dengan maksud agar bisa mencapai tujuan umum dan tujuan akhir

l  Tujuan antara menyebutkan hasil spesifik (implementasi strategi media, memproduksi rekaman video, mendapatkan penawaran dari kontrak, menghasilkan release, distribusi materi, menghasilkan evaluasi riset)

l  Contoh intermediate objective :

–        membuat materi iklan selesai tanggal …

–        cetak brosur selesai tgl ….

–        Distribusi brosur selesai tgl …

Terminal Objective

l  Tujuan akhir harus memuat standar yang harus dicapai ketika kegiatan kampanye selesai

l  standar yang dimaksud harus bisa dilihat dan diukur. Mereka harus dalam bentuk karakteristik kuantitatif dan kualitatif.

l  Contoh terminal objective :

–        Pada akhir kampanye, 60% dari hasil pilkada memilih pasangan Bambang – Wisnu sebagai walikota dan wakil walikota Palembang

Menggunakan Terminal Objective secara efisien

l  Hubungan terminal objective dengan pesan

–        Terminal objective mengontrol perkembangan kampanye pesan

–        pesan yg disampaikan harus berkaitan dgn isi dari tujuan

–        misal : ada lima perilaku yang diinginkan dari target audience, maka isi pesan harus secara jelas menyampaikan informasi tentang bagaimana melakukan kelima perilaku tersebut

l  Terminal Objective untuk segmentasi audience

–        dalam suatu kampanye bisa jadi ada lebih dari satu segmen. Oleh sebab itu diperlukan terminal objective yg berbeda pula u masing-masing segmen

 

Gambar 2 Global Objective (Elemen Kompetensi : Kontribusi pada perencanaan komunikasi )

MERENCANAKAN KAMPANYE PESAN

  • Setelah menentukan tujuan, langkah selanjutnya adalah mengembangkan rencana untuk pesan. Jika komunikasi yang direncanakan tidak berkaitan dengan tujuan akhir, maka kampanye tidak bisa mencapai hasil yang diinginkan.
  • Terminal Objective mengidentifikasi tampilan kriteria yang harus diproduksi oleh pesan kampanye.

–        Misal jika terminal objective menyatakan bahwa audience harus bisa mengetahui tima layanan yang dimiliki oleh klien, maka kelima layanan ini harus tampil pada pesan di kampanye.

  • Kreatifitas adalah proses yang membuat pesan yag telah ditetapkan dalam TO dan membuatya menjadi lebih efektif melalui eksekusi yang imajinatif

 

Gambar 3 Hubungan antara Objective, Isi Pesan dan Konsekuensi Hasil Kampanye (Elemen Kompetensi : Kontribusi pada perencanaan komunikasi )

  • Feedback dapat digunakan untuk memastikan bahwa :

–        Tema pesan berkaitan dengan TO

–        tema yang terlalu besar tidak dapat memberikan kontribusi bagi tujuan yang telah ditetapkan

  • Pengecekan ulang diperlukan untuk mengetahui apakah suatu kampanye akan memberikan hasil yang diinginkan

Mengoptimalkan Isi Pesan

Beberapa hal yang harus dipertimbangkan :

  • Keterbatasan memori : isi pesan tdk dpt dilaksanakan jika tidak dpt diingat. George A Miller dengan teori ‘The Magical Number Seven, plus minus two’. Teori ini mengatakan bahwa ketika orang berhadapan dengan sejumlah obyek, fenomena, fakta atau pernyataan, jumlah yg bisa mereka ingat adalah 7. Sebagian besar bisa mengingat antara 5 (7-2) dan 9 (7+2)
  • Copy platform / struktur point dari copy : pesan bagi individu biasanya terbentuk dari sejumlah copy points yang terbatas, dimana fakta atau pernyataan harus ditransmisikan. Ketika sebuah kampanye melibatkan sejumlah TO, anda harus membagi isi pesan menjadi beberapa pesan yg berbeda yg berada dalam slogan yg sama.

 

Gambar 4 Mengoptimalkan isi pesan (Elemen Kompetensi : Kontribusi pada perencanaan komunikasi )

 

Mempertimbangkan Kreativitas

  • Meletakkan struktur dibawah kreativitas : Manajemen yg efisien mensyaratkan bahwa (1) isi pesan yg spesifik mengikuti logika analisis masalah dan (2) isi pesan kampanye berkaitan langsung dgn terminal objective
  • Pesan yg membangkitkan minat : Sebelum formula AIDA, harusnya didahului dengan Arousal (membangkitkan minat)
  • Lingkungan pesan yg kompetitif : Setiap hari orang dibanjiri pesan. Untuk menghindarinya, perlu diketahui bahwa semua orang memiliki proses penangkapan pesan yg terseleksi, menggunakan serangkaian kriteria yg subyektif – misal kemampuan, manfaat potensial, kesamaan dgn sikap atau perilaku, atau kepuasan – untuk menseleksi pesan
  • Efek Gestalt : Teori gestalt mengatakan bahwa obyek atau fenomena yg dipersepsikan sama cenderung diasimilasikan atau dikelompokkan dan diintegrasikan, sehingga perlu dibuat struktur informasi yg sederhana

HAL-HAL YG MEMBUAT PESAN MENARIK

  • Perencanaan penjualan yang unik
  • pemakaian kata-kata yg sangat menarik
  • faktor-faktor visualisasi

–        ukuran fisik dari layout : iklan yg besar banyak dibaca & diingat

–        warna : iklan cetak yg berwarna meningkatkan keterbacaan 50%

–        sederhana, bold image : teori gestalt menyarankan desain grafiis yg simpel tetapi bold adalah efektif

–        compleks image

–        keganjilan atau sesuatu yg dilebih-lebihkan

–        gambar yg afektif / penuh perasaan

  • Continuity : menyatukan pesan yg berbeda. Kelengkapan continuity adalah slogan, identitas simbol yg terstandard, personality, musik atau sound effect
  • Pesan video : uraian pesan harus terpapar secara alami, tanpa tipuan. Mengandung human interest yg kuat – khususnya berkaitan dgn target audience, kalimat singkat & percakapan
  • menggunakan bahasa yang tepat

 

MEDIA PLANNING

Setelah kampanye pesan dirumuskan, langkah selanjutnya adalah perencanaan media (Media Planning).

  • Semua media dapat digunakan dalam perencanaan media.
  • Prinsipnya bagaimana menyampaikan pesan secara efisien kepada target audience
  • harus diketahui : karakter media yang dapat menjangkau target audience, menganalisa biaya yg efektif, frekuensi pesan, strategi penyampaian, dll
  • Media yg digunakan bisa media massa dan saluran komunikasi yg lain seperti konferensi, newsletter, pameran, event, dll

Menggunakan Media secara Efektif

  • Pertimbangkan keuntungan dan kekurangan suatu media
  • cocokkan media dengan segmentasi audience.
  • Konsep menjangkau audience :

–        pilih media yang potensial diakses target audience

–        bila menggunakan media TV pertimbangkan rating, kepemilihan media TV & program TV yg paling banyak ditonton oleh target audience

  • Konsep frekuensi: jumlah pengulangan pesan dalam suatu periode waktu. Kenapa pesan harus diulang ?
  • Konsep frekuensi: jumlah pengulangan pesan dalam suatu periode waktu. Kenapa pesan harus diulang ?

–        Pesan yg hanya disampaikan sekali tidak akan dapat menjangkau potensi audience yg maksimal

–        semakin banyak pesan diulang, semakin besar efek yang diharapkan

–        penggunaan media mix (lebih dari satu media) memungkinkan lebih banyak audience yg dijangkau

  • Karena budget terbatas, maka perlu dipertimbangkan frekuensi medianya. Jika jangkauan ingin ditingkatkan maka frekuensi berkurang. Tapi jika frekuensi ingin ditingkatkan maka jangkauan dikurangi.
  • Namun jika frekuensi banyak dikurangi maka kampanye tidak efektif

 

 

Easy : audience telah familiar dengan pesan, ekspos pesan lebih mudah

X : prosentase respon dari target audience

 

Gambar 5 Frekuensi pesan (Elemen Kompetensi : Kontribusi pada perencanaan komunikasi )

 

Difficult : audience kurang familiar dengan pesan/subyek, adanya kompetisi dari sumenr lain, perlu perencanaan ekspos pesan yang lebih intens

Tiga Strategi Media Planning

  • Continuity : target audience secara berkesinambungan terpapar oleh pesan

–        Media outdoor (baliho) cenderung memberikan continuity pesan bagi target audience. Cenderung mahal

  • Pulsing (teratur) : mengkombinasikan tingkatan continuity dari waktu ke waktu dengan kegiatan besar periodik dalam frekuensi yg lebih besar
  • Flighting : strategi menggunakan media dengan cara menghentikan pesan – menayangkan lagi – menghentikan – menayangkan lagi, dst. Hal ini bisa digunakan jika anggaran terbatas untuk melakukan continuity
  • Media mix : penggunaan media yg berbeda, diharapkan target audience bisa terekspos pesan dimana saja

MENYUSUN ANGGARAN

Budget atau anggaran adalah penting dalam perencanaan suatu kegiatan. Suatu kegiatan akan sukses ketika perhitungan budget juga tepat.

Beberapa fungsi penyusunan anggaran :

  • Penggunaan management : seorang manager atau planner, perlu mengetahui total budget beserta biaya-biaya yg dikeluarkan. Untuk mendapatkan biaya riil yg dibutuhkan suatu kampanye, seorang manager harus mengetahui informasi mendetail pada semua faktor dlm budget
  • Penggunaan administratif : sebagai manager atau planner, anda akan dihargai sbg bagian dr administrasi dari suatu kampanye. Dengan budget yg detail, anda akan memiliki kontrol, dan anda akan dapat menyusun sistem akutansi yg bisa mengatakan berapa banyak dibutuhkan untuk setiap kategori biaya
  • Penggunaan presentasi : dlm beberapa kasus, seseorang yg membuat keputusan untuk membiayai suatu kampanye hanya ingin mengetahui informasi umum saja. Tetapi ada pula klien yg ‘sadar biaya’ atau manager atasan kita cenderung ingin mengetahui biaya detail. Mereka ingin mengetahui biaya riil dari suatu kampanye, apakah ada versi alternatif berkaitan dengan budget untuk efektivitas biaya dari suatu perencanaan

KATEGORI BIAYA

  • Key personnel : administrator (penyelenggara), staff, kebutuhan untuk mempekerjakan orang baru
  • temporary employees : seseorang yg bekerja full time tetapi hanya dikontrak untuk waktu yg terbatas, dan pekerja part time untuk membantu staff yg sudah ada
  • contracted personal services : konsultan dan kontraktor independen yg memberikan layanan seperti riset, copy writing, desain grafis, dll
  • fringe benefits : berbagai keuntungan yg didapat pekerja dlm kontrak atau diatur oleh pemerintah, seperti asuransi jiwa, asuransi kesehatan, dll
  • Production services : produksi audio visual, cetak leaflet, brosur, gandakan CD, dll
  • maintenance services : biaya perbaikan dari peralatan yg dimiliki (komputer, kamera, dll) yg kemungkinan rusak selama masa kampanye
  • disposable material : barang-barang yang habis dipakai selama kampanye, seperti kertas, pensil, foto copy, dll
  • capital acquisition : mesin ketik, komputer, mesin fax, mobil, dll – barang-barang yang masih bisa dipakai setelah kampanye selesai
  • media budget : penggunaan media cetak, elektronik, dll
  • traffic cost : surat menyurat, atau distribusi materi lain – seperti mengirimkan rekaman suara, video tape, dll
  • Transportation cost : kebutuhan transportasi selama kampanye, seperti kebutuhan bensin, tiket kereta, dll
  • communication cost : pengeluaran untuk biaya telepon, voucher pulsa, sewa satelit, dll
  • office or other work space : sewa tempat untuk kantor, atau tempat untuk seminar, dll
  • entertainment : makan siang atau malam selama bekerja, layanan katering untuk rapat-rapat,, dll
  • contingency reserve : dana cadangan tak terduga, untuk mengantisipasi kenaikan harga-harga. Biasanya prosentase dari total budget 5 sampai 10%.

EVALUASI PROGRAM

Setelah program direncanakan dengan baik, ada satu hal penting yang harus dilakukan yaitu evaluasi. Kepentingan evaluasi adalah untuk mengetahui seberapa jauh program ini berhasil. Penentuan evaluasi tidak bisa lepas juga dari terminal objective yang telah ditentukan sebelumnya.

Pentingnya evaluasi dalam Perkom :

n        Menentukan apakah perlengkapan komunikasi yang digunakan benar-benar menjangkau target audience, mengekpos pesan kampanye secara tepat

n        memastikan apakah anggota dari target audience benar-benar mendengar, melihat atau membaca pesan kampanye dan memahami isi pesannya

n        Mengetahui apakah target audience menampakkan pemahaman mereka terhadap pengetahuan, pengaruh pd perilaku & motivasi yang seharusnya muncul sebagai dampak dari kampanye

n        menentukan apakah anda bisa mencari alternatif penjelasan dari hasil kampanye, termasuk sumber atau perilaku yang menarik dari audience

Dua tahap Proses Evaluasi

1. Menentukan kriteria pengukuran : termasuk pengaruh/perubahan yang diharapkan setelah program kampanye diimplementasikan

2. Menentukan desain penelitian : menjelaskan bagaimana riset akan dilakukan thd segmentasi khalayak, kelompok mana yang akan dites, dalam kondisi seperti apa, dan bagaimana anda akan menganalisis data

Menentukan Kriteria Pengukuran

 

Gambar 6 Tahap Evaluasi (Elemen Kompetensi : Kontribusi pada perencanaan komunikasi )

 

Persiapan Presentasi

  • Tinjau kembali keseluruhan perencanaan
  • Tentukan orang-orang yg akan melakukan presentasi
  • buat perencanaan presentasi audio visual
  • Perhatikan tempat untuk mengadakan presentasi. Pastikan peralatan yang dibutuhkan tersedia di sana
  • Latihan. Terutama alokasi waktu selama presentasi
  • ciptakan penutup presentasi yg menarik sehingga mempersuasi klien untuk menyetujui usulan program yg dipresentasikan
  • bersiap terhadap pertanyaan yg akan diajukan. Kuasai isi perencanaan

 

2.Ketrampilan kerja

Beberapa ketrampilan kerja telah disebutkan di bagian Pengetahuan Kerja.

 

3.Sikap kerja

Sikap kerja ditunjukkan pada saat melakukan aktivitas di lingkungan kerja, yaitu :

1. Mengidentifikasi jenis informasi yang dapat dikontribusikan untuk proyek

2. Bekerja sama dalam tim untuk membuat kontribusi informasi yang berguna sebagai implementasi perencanaan untuk proyek.

4.5.2 Mengadakan aktivitas-aktivitas pengelolaan informasi

 

1.Pengetahuan kerja

Pengolahan Informasi

  • Pengolahan informasi meliputi beberapa tahap yaitu :
  1. Pengumpulan data (Mencari Informasi)
  2. Memilah Data atau informasi
  3. Menyimpan Data atau Informasi
  4. Mengambil kembali untuk diolah menjadi informasi baru
  5. Mempresentasikannya.
  • Informasi merupakan hasil dari pengolahan data menjadi bentuk yang lebih berguna bagi yang menerimanya yang menggambarkan suatu kejadian-kejadian nyata dan dapat digunakan sebagai alat bantu untuk pengambilan suatu keputusan.
  • Sistem Informasi yang akurat dan efektif akan mampu menyediakan informasi yang berkualitas, tepat, cepat dan akurat sesuai dengan yang membutuhkannya.
  • Sistem Informasi yang akurat dan efektif, dalam kenyataannya selalu berhubungan dengan istilah “computer-based” atau pengolahan informasi yang berbasis pada komputer.

 

Mencari Informasi

Dalam pengolahan data menjadi sebuah informasi, langkah pertama yang harus dilakukan adalah pengumpulan data itu sendiri. Disini dibutuh sebuah kejelian untuk mendapat data-data tersebut.

 

Memilah dan Menyimpan Informasi

Setelah data-data untuk informasi tersebut didapatkan, langkah selanjutnya adalah memilah data tersebut, yaitu mengambil data-data yang dianggap aktual, terpercaya, akurat dan uptodate. Sehingga data-data yang tidak diperlukan dapat disisihkan dari data yang akan diambil.

Data-data yang dianggap perlu, dikelompokkan kemudian disimpan, ingat dalam penyimpanan harus memperhatikan aspek pengarsipan, sehingga jika diperlukan nantinya secara cepat dapat diambil kembali.

 

Pengolahaan Informasi Menjadi Informasi Baru

Dari data-data yang telah disimpan, dapat dibeda menjadi dua jenis :

-      Data informasi yang langsung dapat ditampilkan.

-      Data informasi yang harus diolah dulu, baru bisa ditampil menjadi informasi baru.

Mengolah data untuk menjadi sebuah informasi baru, dapat dilakukan dengan pengeditan, penambahan, pengkonversian, penggabungan dari banyak data dan sebagainya.

Merepresentasikan

Data yang telah diolah tersebut, akan menjadi sebuah informasi baru, dan dapat direpresentasikan dalam bentuk apapun.

 

2.Ketrampilan kerja

Semua ketrampilan kerja yang dibutuhkan telah tercermin dalam butir pengetahuan kerja di atas.

 

 

3.Sikap kerja

1. Mengumpulkan dan menyimpan informasi sesuai dengan prosedur yang ditentukan

2. Menyimpan informasi di tempat yang aman supaya terjaga strukturnya.

 

4.5.3 Mengkomunikasikan informasi proyek

1. Pengetahuan kerja

Komunikasi dalam proyek dengan klien dan stakeholder lainnya dilakukan dengan jaringan yang telah disepakati, proses-proses dan prosedur untuk menjamin kejelasan dari pemahaman sasaran

 

Laporan ditulis dan disiarkan menurut otorisasi, atau diusulkan untuk menyiarkan oleh oleh otorisasi proyek yang lebih tinggi sesuai dengan proses dan prosedur

 

Laporan proyek dibuat berdasarkan standar yang telah disepakati.

Contoh laporan proyek secara garis besar :

-      Struktur organisasi perusahaan

-      Struktur organisasi proyek

-      Tugas dan tanggung jawab elemen perusahaan (deskripsi pekerjaan)

-      Jaringan proyek

-      Sistem informasi perusahaan

-      Peranan elemen perusahaan dalam pelaksanaan proyek

-      Latar belakang

-      Tujuan proyek

-      Lokasi proyek

-      Pengusul proyek

-      Jangka waktu proyek

-      Isi proyek

-      Output dan indikator

-      Aktivitas/kegiatan proyek

-      Primary beneficiaries

-      Manajemen Resiko

-      Rencana kontijensi dan pemulihan bencana

-      Kesimpulan dan saran

 

Laporan ini kemudian dikomunikasikan kepada klien dan stakeholder lainnya.

 

Tiga faktor yang menentukan berhasil/gagalnya suatu proyek :

-          Metodologi Manajemen Proyek yg terdiri dari 7 fase : Definisi, Analisis, Desain, Pemrograman, Sistem Tes, Penerimaan tes dan Operasi/Implementasi.

-          Metode praktis terdiri dari : Estimasi, Penjadwalan, Prototyping, Pembangunan Aplikasi, Perencanaan dan Kontroling dengan Komputer.

-          Orang yang terdiri dari : Organisasi, susunan, kepegawaian.

 

Project Planning (Perencanaan Proyek).

-          Preliminary Project Plan (PPP).

-          Work Breakdown Structures (WBS)

-          Network Diagram

-          Calculating Project Cost

-          Project Schedule

-          PPP Outline

 

Metodologi Manajemen Proyek

 

Fase 1/Definisi

 

  • Proposal
  • 2 fase Proyek software proposal

-          Analisa Proposal

-          Pembuatan Proposal

  • Menulis Proposal
  • Informal Proposal
  • Persetujuan Internal Proposal
  • Presentasi Proposal
  • Negosiasi dan Kontrak
  • Negosiasi

-          Ilmu Pengetahuan dan Seni Bernegosiasi

-          3 Item penting yang perlu dinegosiasikan dalam proyek software

  • Kontrak

-           Term dan kondisi

-           Kontrak harga tetap (Fixed Price / FP)

-           Kontrak biaya tambahan (Cost Plus /CP)

 

Fase 2/Analisis

 

  • Pendahuluan
  • Analisa alur data Yourdon / Metode peta Bubble
  • Spesifikasi fungsi (Functional Specifications / FS)
  • Penulisan teknis untuk pembaca non teknis
  • CASE Software tools untuk menganalisa

 

Fase 3/ Desain

 

Sistem Desain :

  • Pendahuluan
  • Struktur desain (Top Down / Bottom Up)
  • Desain Top Level
  • Desain siap pakai (Desain Walk Throughs)
  • Desain Medium Level
  • Desain Kamus
  • Struktur Modul
  • Desain File
  • RDBMS
  • Proses Desain
  • Dokumentasi Teknis
  • Desain Waktu
  • Outline Spesifikasi Desain
  • Desain Testing

 

Penerimaan Tes

(Acceptance Test Plan / ATP)

  • Pendahuluan
  • Periode percobaan (Trial Period)
  • Solusi
  • Tabel Tes / Metode Tes
  • Menulis Hasil Tes

 

Fase 4 / Programing

 

Programing :

  • Pendahuluan
  • Langkah-langkah pemrograman : Perencanaan integrasi, Mendesain modul, desain modul siap pakai, Bagaimana mengetes modul, Kode setiap modul, Mengetes modul, mengetes level terendah dari integrasi. Menyimpan semua hasil tes dan user dokumentasi.
  • Programing CASE tools : Programming language, Language Sensitive Editor (LSE), Debugger, Code Management System (CMS), Module Management System (MMS), Test Manager (TM).

 

Metode Praktis (Estimasi)

 

Estimasi :

  • Pendahuluan.
  • Teknik estimasi.
  • Estimasi fase analisa.
  • Rasio.
  • Proses estimasi.

 

MetodePraktis(Penjadwalan)

 

Penjadwalan :

  • Pendahuluan.
  • Peta PERT.
  • Distribusi sumber.
  • Tiga batasan.
  • Penjadwalan/Gantt Chart.
  • Fokus pada critical path.

 

Metode Praktis (Prototipe)

 

Prototipe :

  • Pendahuluan.
  • Metode Prototipe.
  • Software untuk prototipe.
  • Bagaimana metode prototipe sesuai dengan 7 fase yang ada.

 

Orang (Organisasi)

 

Organisasi :

  • Pendahuluan.
  • Mengorganisasi tim proyek.
  • Tugas proyek manajer (PM).
  • Tugas pimpinan proyek (PL).
  • Memiliki beberapa tugas.
  • Menjalankan beberapa proyek pada saat yang sama.
  • Tugas programmer.
  • Tanggung jawab PM, PL dan programmer.
  • Tugas manajer fungsional (FM).
  • Tugas pemakai akhir/user.

 

Orang (Susunan Kepegawaian)

 

Susunan kepegawaian :

  • Pendahuluan.
  • Memilih anggota tim proyek.
  • Kepribadian.
  • Memberikan tugas perorangan.
  • Memotivasi orang.

 

Orang (Pengontrolan Proyek Dengan Monitoring)

 

Pengontrolan Proyek dengan Monitoring :

  • Pendahuluan.
  • Monitoring proyek.
  • Penemuan dan pemecahan masalah.
  • Penemuan dan pemecahan masalah (sebelum masalah muncul).
  • Penemuan dan pemecahan masalah selama pembuatan.
  • Penemuan dan pemecahan masalah menjelang akhir proyek.

 

Orang (Pengontrolan Proyek Dengan Pertemuan, Tinjauan dan Laporan)

 

Pengontrolan proyek dengan pertemuan, tinjauan dan laporan :

  • Pendahuluan.
  • Status pertemuan.
  • Status laporan.
  • Tinjauan pertemuan.
  • Pertemuan khusus pada saat tertentu.

 

2.Ketrampilan kerja

1. Komunikasi dalam proyek dengan klien dan stakeholder lainnya dilakukan dengan jaringan yang telah disepakati, proses-proses dan prosedur untuk menjamin kejelasan dari pemahaman sasaran

 

2.  Laporan ditulis dan disiarkan menurut otorisasi, atau diusulkan untuk menyiarkan oleh oleh otorisasi proyek yang lebih tinggi sesuai dengan proses dan prosedur

 

3.Sikap kerja

Sikap kerja diperlihatkan ketika beraktivitas di lingkungan kerja yaitu :

1. Membuat laporan untuk klien dan stakeholder lainnya

 

4.5.4 Berkontribusi untuk menetapkan hasil pengelolaan komunikasi

1. Pengetahuan kerja

 

Hasil proyek di tinjau untuk menetapkan keefektifan dari aktivitas pengelolaan komunikasi. Setelah pengelolaan komunikasi diketahui efektivitasnya maka dilakukan implementasi pengelolaan komunikasi.

 

Implementasi pengelolaan komunikasi dilakukan untuk mendapatkan respon-respon.

 

Hal-hal pengelolaan komunikasi dan respon-respon dilaporkan pada otoritas proyek yang        lebih tinggi untuk aplikasi proyek dimasa        depan

Kesimpulan : pertama-tama meninjau hasil proyek untuk menetapkan keefektivan dari aktivitas pengelolaan komunikasi setelah itu dilakukan implementasi. Dari implementasi tersebut terdapat berbagai respon dan semuanya dilaporkan kepada otoritas proyek yang lebih tinggi untuk kepentingan aplikasi proyek di masa depan agar lebih baik.

2.Ketrampilan kerja

1.  Hasil proyek di tinjau untuk menetapkan keefektifan dari aktivitas pengelolaan komunikasi

 

2 Hal-hal pengelolaan komunikasi dan respon-respon dilaporkan pada otoritas proyek yang lebih tinggi untuk aplikasi proyek dimasa depan

 

3.Sikap kerja

Sikap kerja diperlihatkan ketika beraktivitas di lingkungan kerja yaitu :

1. Menganalisa hasil proyek dan mengimplementasi pengelolaan komunikasi

 


BAB V

SUMBER-SUMBER YANG DIPERLUKAN

UNTUK PENCAPAIAN KOMPETENSI

 

5.1 Sumber Daya Manusia

Dalam proses pencapaian kompetensi sumber yang dapat diandalkan adalah sumber daya manusia. Sumber daya manusia yang dimaksud disiini adalah orang-orang yang dapat mendukung proses pencapaian kompetensi yang dimaksud, antara lain:

 

  • Pembimbing

Pembimbing Anda merupakan orang yang dapat diandalkan karena beliau memiliki pengalaman. Peran Pembimbing adalah untuk:

  1. Membantu Anda untuk merencanakan proses belajar.
  2. Membimbing Anda melalui tugas-tugas pelatihan yang dijelaskan dalam tahap belajar.
  3. Membantu Anda untuk memahami konsep dan praktik baru dan untuk menjawab pertanyaan Anda mengenai proses belajar Anda.
  4. Membantu Anda untuk menentukan dan mengakses sumber tambahan lain yang Anda perlukan untuk belajar Anda.
  5. Mengorganisir kegiatan belajar kelompok jika diperlukan.
  6. Merencanakan seorang ahli dari tempat kerja untuk membantu jika diperlukan.

 

  • Penilai

Penilai Anda melaksanakan program pelatihan terstruktur untuk penilaian di tempat kerja. Penilai akan:

  1. Melaksanakan penilaian apabila Anda telah siap dan merencanakan proses belajar dan penilaian selanjutnya dengan Anda.
  2. Menjelaskan kepada Anda mengenai bagian yang perlu untuk diperbaiki dan merundingkan rencana pelatihan selanjutnya dengan Anda.
  3. Mencatat pencapaian / perolehan Anda.

 

  • Teman kerja/sesama peserta pelatihan

Teman kerja Anda/sesama peserta pelatihan juga merupakan sumber dukungan dan bantuan. Anda juga dapat mendiskusikan proses belajar dengan mereka. Pendekatan ini akan menjadi suatu yang berharga dalam membangun semangat tim dalam lingkungan belajar/kerja Anda dan dapat meningkatkan pengalaman belajar Anda.

 

 

5.2 Literatur

Disamping dengan belajar dengan orang-orang seperti yang disebutkan diatas, Anda tentu perlu juga terus menambah wawasan dan pengetahuan Anda dari sumber-sumber bacaan seperti buku-buku yang berkaitan dengan kompetensi yang Anda pilih, jurnal-jurnal, majalah, dan sebagainya.

 

Literatur dalam hal ini tentu bukan saja material berupa bacaan atau buku melainkan termasuk pula material-material lainnya yang menjadi pendukung proses pembelajaran ketika peserta pelatihan sedang menggunakan Pedoman Belajar ini. Misalnya rekaman dalam bentuk kaset, videp, dan sebagainya.

 

Buku referensi, lembar kerja, tugas-tugas kerja juga dapat digunakan dalam proses pencapaian kompetensi. Peserta boleh mencari dan menggunakan sumber-sumber alternatif lain yang lebih baik atau sebagai pendukung tambahan atau jika ternyata sumber-sumber yang direkomendasikan dalam pedoman belajar ini tidak tersedia/tidak ada.

 

Untuk referensi mengenai materi-materi yang dapat digunakan, Anda dapat melihat dari Daftar Pustaka yang terlampir dihalaman terakhir modul ini.

 

5.3 Daftar Peralatan dan Bahan yang digunakan

 

  1. Judul/Nama Pelatihan        :    Menerapkan ketrampilan dalam pengelolaan komunikasi dasar
  2. Kode Program Pelatihan    :    TIK.PR01.011.01

 

NO

UNIT

KOMPETENSI

KODE UNIT

DAFTAR PERALATAN

DAFTAR BAHAN

KETERANGAN

1.

Menerapkan ketrampilan dalam pengelolaan komunikasi dasar TIK.PR01.011.01   -     Komputer berupa CPU, monitor, keyboard, mouse

-      Peralatan tulis

-   CD atau Flash disk untuk menyimpan data

- Kertas

- Buku Informasi

- Buku kerja

- Buku penilaian

-

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

  • Buku :
  1. KOMUNIKASI ORGANISASI
    Pengarang : R.WAYNE PACE/DON F. FAULES
  2. Komunikasi Bisnis, 6/e jilid 1
    Penulis: Bovee
  3. Komunikasi Bisnis, 6/e jilid 2
    Penulis: Bovee
  4. ILMU KOMUNIKASI SUATU PENGANTAR
    Pengarang : DEDDY MULYANA
  5. ILMU KOMUNIKASI TEORI DAN PRAKTEK ONONG UCHJANA EFFENDY

 

 

 

Testimoni

Filed under : blog, tags: