Menu
Pasang iklan SEO disini Murah, 300.000/6 Bulan dan dapatkan Trafik setiap harinya

Menerapkan Data Warehousing TIK.PR03.003.01

Jul
07
2015
by : Bupeko. Posted in : blog

 

 

MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI

SEKTOR TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI

 

 

 

 

MENERAPKAN

DATA WAREHOUSING

TIK.PR03.003.01

 

 

 

 

 

 

 

 

BUKU INFORMASI

 

 

 

 

 

 

 

DEPARTEMEN TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI R.I.

DIREKTORAT JENDERAL PEMBINAAN PELATIHAN DAN PRODUKTIVITAS

Jl. Jend. Gatot Subroto Kav.51 Lt.7.B Jakarta Selatan

 

DAFTAR ISI

 

Daftar Isi……………………………………………………………………………………… 2

 

BAB I  5

PENGANTAR  5

1.1 Konsep Dasar Competency Based Training (CBT) 5

1.2 Penjelasan Modul 5

1.2.1 Desain Modul 5

1.2.2 Isi Modul 6

1.2.3 Pelaksanaan Modul 6

1.3 Pengakuan Kompetensi Terkini (RCC) 7

1.4 Pengertian-Pengertian / Istilah  7

 

BAB II  9

STANDAR KOMPETENSI  9

2.1 Peta Paket Pelatihan  9

2.2 Pengertian Unit Standar Kompetensi 9

2.3 Unit Kompetensi Yang Dipelajari 10

2.3.1 Kode dan Judul Unit 10

2.3.2 Deskripsi Unit 10

2.3.3 Elemen Kompetensi 10

2.3.4 Batasan Variabel 12

2.3.5 Panduan Penilaian  12

2.3.6 Kompetensi Kunci 14

 

BAB III  15

STRATEGI DAN METODE PELATIHAN  15

3.1     Strategi Pelatihan  15

3.2     Metode Pelatihan  15

 

BAB IV  17

MATERI UNIT KOMPETENSI 17

4.1 Tujuan Instruksional Umum   17

4.2 Tujuan Instruksional Khusus 17

4.3 Kebutuhan Sumber dan Data  18

4.3.1 Data Sesuai Referensi Manajemen  18

4.3.2 Area Pokok  21

4.3.3 Eksplorasi Data operasional 21

4.3.4 Spesifikasi Sumber Warehouse  21

4.4 Langkah dan Proses Warehouse  23

4.4.1 Target Warehouse  23

4.4.2 Agen-Agen Warehouse  23

4.4.3 Identifikasi Proses 23

4.5 Desain Warehouse  25

4.5.1 Prinsip Desain User Interface  25

4.5.2 Strategi Keamanan Warehouse  27

4.5.3 Tabel Dimensi dan Table Fakta  28

4.5.4 Katalog Informasi Warehouse  30

4.6 ETL (Extract Transform Load) 30

4.6.1 Persiapan  ETL  31

4.6.2 Sumber Data ETL  31

4.6.3 Sumber Tabel ETL  31

4.6.4 Data Staging  32

4.6.5 Query untuk ETL  32

4.6.6 Alat Bantu untuk  ETL  33

4.6.7 Agen-agen ETL  33

4.7 MDX Query  34

4.7.1 Rancangan Tabel 34

4.7.2 Rancangan User Interface  34

4.7.3 Identifikasi MDX Query  34

4.8 Tes dan Implementasikan Warehouse  35

4.8.1 Implementasikan Data Warehouse  35

4.8.2 Kesesuaian Data Warehouse  35

 

BAB V  36

SUMBER-SUMBER YANG DIPERLUKAN UNTUK PENCAPAIAN                          KOMPETENSI  36

5.1 Sumber Daya Manusia  36

5.2 Sumber-sumber Kepustakaan (Buku Informasi) 37

5.3 Daftar Peralatan dan Bahan yang digunakan  38

DAFTAR PUSTAKA  39

 

BAB I

PENGANTAR

 

1.1  Konsep Dasar Competency Based Training (CBT)

  • Apakah pelatihan berdasarkan kompetensi?

Pelatihan berdasarkan kompetensi adalah pelatihan yang memperhatikan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang diperlukan di tempat kerja agar dapat melakukan pekerjaan dengan kompeten. Standar Kompetensi dijelaskan oleh Kriteria Unjuk Kerja.

 

  • Apakah artinya menjadi kompeten ditempat kerja?

Jika anda kompeten dalam pekerjaan tertentu, anda memiliki seluruh keterampilan, pengetahuan dan sikap yang perlu untuk ditampilkan secara efektif ditempat kerja, sesuai dengan standar yang telah disetujui.

 

1.2  Penjelasan Modul

Modul ini dikonsep agar dapat digunakan pada proses Pelatihan Konvensional/Klasikal dan Pelatihan Individual/Mandiri. Yang dimaksud dengan Pelatihan Konvensional/Klasikal, yaitu pelatihan yang dilakukan dengan melibatkan bantuan seorang pembimbing atau guru seperti proses belajar mengajar sebagaimana biasanya dimana materi hampir sepenuhnya dijelaskan dan disampaikan pelatih/pembimbing yang bersangkutan.

 

Sedangkan yang dimaksud dengan Pelatihan Mandiri/Individual adalah pelatihan yang dilakukan secara mandiri oleh peserta sendiri berdasarkan materi dan sumber-sumber informasi dan pengetahuan yang bersangkutan. Pelatihan mandiri cenderung lebih menekankan pada kemauan belajar peserta itu sendiri. Singkatnya pelatihan ini dilaksanakan peserta dengan menambahkan unsur-unsur

1.2.1  Desain Modul

Modul ini didesain untuk dapat digunakan pada Pelatihan Klasikal dan Pelatihan Individual / mandiri:

  • Pelatihan klasikal adalah pelatihan yang disampaiakan oleh seorang pelatih.
  • Pelatihan individual / mandiri adalah pelatihan yang dilaksanakan oleh peserta dengan menambahkan unsur-unsur / sumber-sumber yang diperlukan dengan bantuan dari pelatih.

 

1.2.2  Isi Modul

Buku Informasi

Buku informasi ini adalah sumber pelatihan untuk pelatih maupun peserta pelatihan.

 

Buku Kerja

Buku kerja ini harus digunakan oleh peserta pelatihan untuk mencatat setiap pertanyaan dan kegiatan praktek baik dalam Pelatihan Klasikal maupun Pelatihan Individual / mandiri.

 

Buku ini diberikan kepada peserta pelatihan dan berisi :

  • Kegiatan-kegiatan yang akan membantu peserta pelatihan untuk mempelajari dan memahami informasi.
  • Kegiatan pemeriksaan yang digunakan untuk memonitor pencapaian keterampilan peserta pelatihan.
  • Kegiatan penilaian untuk menilai kemampuan peserta pelatihan dalam melaksanakan praktik kerja.

 

Buku Penilaian

Buku penilaian ini digunakan oleh pelatih untuk menilai jawaban dan tanggapan peserta pelatihan pada Buku Kerja dan berisi:

  • Kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh peserta pelatihan sebagai pernyataan keterampilan.
  • Metode-metode yang disarankan dalam proses penilaian keterampilan peserta pelatihan.
  • Sumber-sumber yang digunakan oleh peserta pelatihan untuk mencapai keterampilan.
  • Semua jawaban pada setiap pertanyaan yang diisikan pada Buku Kerja.
  • Petunjuk bagi pelatih untuk menilai setiap kegiatan praktik.
  • Catatan pencapaian keterampilan peserta pelatihan.

 

1.2.3  Pelaksanaan Modul

Pada pelatihan klasikal, pelatih akan:

-    Menyediakan Buku Informasi yang dapat digunakan peserta pelatihan sebagai sumber pelatihan.

-    Menyediakan salinan Buku Kerja kepada setiap peserta pelatihan.

-    Menggunakan Buku Informasi sebagai sumber utama dalam penyelenggaraan pelatihan.

-    Memastikan setiap peserta pelatihan memberikan jawaban / tanggapan dan menuliskan hasil tugas praktiknya pada Buku Kerja.

 

Pada Pelatihan individual / mandiri, peserta pelatihan akan:

- Menggunakan Buku Informasi sebagai sumber utama pelatihan.

- Menyelesaikan setiap kegiatan yang terdapat pada buku Kerja.

- Memberikan jawaban pada Buku Kerja.

- Mengisikan hasil tugas praktik pada Buku Kerja.

- Memiliki tanggapan-tanggapan dan hasil penilaian oleh pelatih.

 

1.3 Pengakuan Kompetensi Terkini (RCC)

  • Apakah Pengakuan Kompetensi Terkini (Recognition of Current Competency)?

Jika anda telah memiliki pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk elemen unit kompetensi tertentu, anda dapat mengajukan pengakuan kompetensi terkini (RCC). Berarti anda tidak akan dipersyaratkan untuk belajar kembali.

 

  • Anda mungkin sudah memiliki pengetahuan dan keterampilan, karena anda telah:
  1. Bekerja dalam suatu pekerjaan yang memerlukan suatu pengetahuan dan keterampilan yang sama atau
  2. Berpartisipasi dalam pelatihan yang mempelajari kompetensi yang sama atau
  3. Mempunyai pengalaman lainnya yang mengajarkan pengetahuan dan keterampilan yang sama.

 

1.4 Pengertian-Pengertian / Istilah

Profesi

Profesi adalah suatu bidang pekerjaan yang menuntut sikap, pengetahuan serta keterampilan/keahlian kerja tertentu yang diperoleh dari proses pendidikan, pelatihan serta pengalaman kerja atau penguasaan sekumpulan kompetensi tertentu yang dituntut oleh suatu pekerjaan/jabatan.

 

Standarisasi

Standardisasi adalah proses merumuskan, menetapkan serta menerapkan suatu standar tertentu.

 

Penilaian / Uji Kompetensi

Penilaian atau Uji Kompetensi adalah proses pengumpulan bukti melalui perencanaan, pelaksanaan dan peninjauan ulang (review) penilaian serta keputusan mengenai apakah kompetensi sudah tercapai dengan membandingkan bukti-bukti yang dikumpulkan terhadap standar yang dipersyaratkan.

 

Pelatihan

Pelatihan adalah proses pembelajaran yang dilaksanakan untuk mencapai suatu kompetensi tertentu dimana materi, metode dan fasilitas pelatihan serta lingkungan belajar yang ada terfokus kepada pencapaian unjuk kerja pada kompetensi yang dipelajari.

 

Kompetensi

Kompetensi adalah kemampuan seseorang untuk menunjukkan aspek sikap, pengetahuan dan keterampilan serta penerapan dari ketiga aspek tersebut ditempat kerja untuk mwncapai unjuk kerja yang ditetapkan.

 

Standar Kompetensi

Standar kompetensi adalah standar yang ditampilkan dalam istilah-istilah hasil serta memiliki format standar yang terdiri dari judul unit, deskripsi unit, elemen kompetensi, kriteria unjuk kerja, ruang lingkup serta pedoman bukti.

 

Sertifikat Kompetensi

Adalah pengakuan tertulis atas penguasaan suatu kompetensi tertentu kepada seseorang yang dinyatakan kompeten yang diberikan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi.

 

Sertifikasi Kompetensi

Adalah proses penerbitan sertifikat kompetensi melalui proses penilaian / uji kompetensi.

 

BAB II

STANDAR KOMPETENSI

 

2.1 Peta Paket Pelatihan

Modul yang sedang Anda pelajari ini bertujuan untuk mencapai satu unit kompetensi. Adapun kompetensi ini termasuk dalam satu paket pelatihan, yang terdiri atas unit-unit kompetensi berikut:

  1. TIK.PR03.003.01  Menerapkan Data Warehousing
  2. TIK.PR02.020.01  Mengoperasikan Aplikasi Basis Data
  3. TIK.PR02.021.01  Menerapkan Basis Data
    1. TIK.PR03.001.01 Mengoperasikan Bahasa Pemrograman Data Description SQL – dasar
    2. TIK.PR03.002.01  Mengoperasikan Bahasa Pemrograman Data Description SQL – lanjut
    3. TIK.PR02.022.01  Menjelaskan Sistem Informasi Manajemen

 

2.2 Pengertian Unit Standar Kompetensi

Apakah Standar Kompetensi? Setiap Standar Kompetensi menentukan :

  1. Pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk mencapai kompetensi.
  2. Standar yang diperlukan untuk mendemonstrasikan kompetensi.
  3. Kondisi dimana kompetensi dicapai.

 

Di dalam unit kompetensi ini, Anda akan mempelajari penerapan data warehouse. Sistem pelatihan berbasis kompetensi terfokus pada pencapaian kompetensi, bukan pada lamanya waktu. Namun, diharapkan pelatihan ini dapat dilaksanakan dan dicapai dalam jangka waktu tidak lebih dari seminggu, tiga sampai lima hari. Pelatihan ini diperuntukkan khusus bagi para sistem analis dan programmer, walaupun tidak menutup kemungkinan bagi semua orang yang terlibat dalam penggunaan komputer.

 

Sistem pelatihan berbasis kompetensi terfokus pada pencapaian kompetensi, bukan pada lamanya waktu. Namun diharapkan pelatihan ini dapat dilaksanakan dan dicapai dalam jangka waktu tidak lebih dari seminggu, tiga sampai lima hari.

 

Jika Anda belum mencapai kompetensi pada usaha/kesempatan pertama, Pelatih Anda akan mengatur rencana pelatihan dengan Anda. Rencana ini akan memberikan Anda kesempatan kembali untuk meningkatkan level kompetensi Anda sesuai dengan level yang diperlukan. Jumlah maksimum usaha/kesempatan yang disarankan adalah 3 (tiga) kali.

 

2.3 Unit Kompetensi Yang Dipelajari

Dalam sistem pelatihan Standar Kompetensi diharapkan menjadi panduan bagi peserta pelatihan untuk dapat :

  1. Mengidentifikasikan apa yang harus dikerjakan peserta pelatihan.
  2. Memeriksa kemajuan peserta pelatihan.
    1. Menyakinkan bahwa semua elemen (sub-kompetensi) dan kriteria unjuk   kerja telah dimasukkan dalam pelatihan dan penilaian.

2.3.1 Kode dan Judul Unit

Kode Unit        : TIK.PR03.003.01

Judul Unit       : Menerapkan Data Warehousing

2.3.2 Deskripsi Unit

Unit ini akan menentukan kompetensi yang diperlukan untuk menerapkan data Warehouse . Karakteristik dari data warehouse yang merupakan kunci dari penerapan data warehouse akan dijelaskan beserta dengan contoh dari karakteristiknya. Struktur data warehouse yang dipakai adalah skema bintang yang selanjutnya dalam buku informasi ini akan disebut star join. Query yang diaplikasikan adalah MDX Query. Proses ETL yang merupakan proses kunci dalam perancangan data warehouse akan dijelaskan beserta contoh software database yang umumnya menerapkan fungsi tersebut. Dan pada akhirnya penerapan data warehouse harus dapat menunjang strategi dari manajemen.

 

2.3.3 Elemen Kompetensi

ELEMEN KOMPETENSI

KRITERIA UNJUK KERJA

01  Mengidentifikasi kebutuhan data dan sumber-sumber nya (yaitu table, view atau file) 1.1      Data yang di perlukan di identifikasi sesuai referensi pada pengetahuan tentang strategi manajemen

1.2      Area pokok di identifikasi dengan sesuai referensi pada proses bisnis dan data yang di perlukan

1.3      Data operasional di eksplorasi dan sumber-sumber Warehouse  di tetapkan

1.4      Spesifikasi sumber Warehouse  di kembangkan sesuai referensi pada table dan file-file yang ada

 

02 Menetapkan langkah-   langkah dan proses    Warehouse 2.1   Target Warehouse  di kembangkan dengan referensi pada proses bisnis dan data yang di butuhkan

2.2   Agen-agen Warehouse  di identifikasi sesuai dengan konfigurasi sistim

2.3   Setiap langkah dan proses-proses di identifikasi dan di kembangkan sesuai dengan kebutuhan

 

03 Mendesain Warehouse   sesuai fitur-fitur

3.1 User Interface Warehouse  di desain dan di kembangkan sesuai prinsip-prinsip desain user interface

3.2 Strategi keamanan Warehouse  di kembangkan dan di implementasikan sesuai dengan rencana keamanan perusahaan

3.3 Tabel dimensi dan table fakta di identifikasi dengan referensi data perusahaan yang di butuhkan

3.4 Katalog informasi Warehouse  di kembangkan dengan referensi pengetahuan perusahaan tentang strategi manajemen

04 Melakukan proses ETL   (Extract Transform Load)

4.1 Data Warehouse  sudah di persiapkan untuk proses ETL

4.2   Data-data sumber (operasional) telah di persiapkan untuk proses ETL

4.3   Setiap table pada data-data sumber yang akan di gunakan dalam proses ETL telah di persiapkan dengan membuat kolom dan/atau trigger khusus

4.4   Bila terdapat data staging maka table-tabel yang akan di gunakan di rancang dan di persiapkan

4.5   Semua Query dan /atau program untuk proses ETL telah di rancang dan di uji coba

4.6   Semua tool-tool (alat bantu) yang akan di gunakan dalam proses ETL telah di persiapkan, di konfigurasikan dan di uji coba.

4.7   Agen-agen ETL terlah di persiapkan, di jadwalkan dan di uji coba

 

05 Mengakses dan   menampilkan data dari     data Warehouse  dengan menggunakan MDX Query 5,1  Tabel fakta dan tabel dimensi yang akan di akses  dan di tampilkan sudah di identifikasi dan di rancang

5.2  User Interface data Warehouse  telah di identifikasi dan di rancang

5.3  MDX Query Yang akan di gunakan telah di identifikasi, di rancang dan di uji coba

 

06 Menguji dan      mengimplementasikan      Warehouse

6.1  Data Warehouse  di implementasikan sesuai kebutuhan dan sign off

6.2   Dirubah kedalam proses bisnis, di rekomendasikan jika perlu untuk menjamin kecocokan dengan data Warehouse  dan pengetahuan strategi manajemen

6.3  Data Warehouse  di implementasikan sesuai kebutuhan dan sign off

Tabel 1 Elemen Kompetensi

2.3.4 Batasan Variabel

Batasan variabel dalam bahasan ini adalah:

1.  Unit ini berlaku untuk seluruh sektor teknologi informasi dan komunikasi.

2. Dalam melaksanakan unit kompetensi ini harus didukung dengan tersedianya:

2.1      Struktur database yang digunakan dalam perusahaan

2.2      Microsoft Visio untuk merepresentasikan alur dokumentasi

 

2.3.5 Panduan Penilaian

Panduan Penilaian terdiri dari:

  1. 1.   Pengetahuan dan keterampilan penunjang

Pengetahuan dan keterampilan penunjang untuk mendemontrasikan kompetensi, diperlukan bukti keterampilan dan pengetahuan dibidang berikut ini:

1.1   Pengetahuan dasar yang di butuhkan:

1.1.1  Sistim operasi bisnis berhubungan dengan sumber-sumber data

1.1.2  Sistim dukungan keputusan berhubungan dengan pengetahuan strategi manajemen

1.1.3  Fungsi dan fitur-fitur data warehousing dan data mining

1.1.4  Fungsi dan fitur-fitur area subjek, sumber-sumber Warehouse, target-target Warehouse

1.1.5  Fungsi dan fitur-fitur dari agen Warehouse dan situs

1.1.6  Fungsi dan fitur-fitur dari langkah-langkah proses: transformer,    program, SQL dan menetapkan langkah program

 

1.2.1    Keterampilan dasar yang di butuhkan

1.2.2    Kegunaan SQL

1.2.3    Analisa keuntungan biaya

1.2.4    Pengumpulan data dan kemampuan analisis

1.2.5    Manajemen proyek

1.2.6    Analisis bisnis

1.2.7    Desain User Interface

1.2.8    Langkah-langkah dan proses pemodelan

1.2.9    Mengembangkan spesifikasi sumber Warehouse

 

2.  Konteks penilaian

Kompetensi harus di ujikan di tempat kerja atau tempat lain secara teori dan praktek dengan kondisi kerja sesuai dengan keadaan normal

 

3.  Aspek penting penilaian

Aspek yang harus diperhatikan:

3.1 Kemampuan mengidentifikasi kebutuhan data dan sumber-sumbernya (yaitu table, view atau file)

3.2   Kemampuan mendesain Warehouse  sesuai fitur-fitur

3.3   Kemampuan menguji dan mengimplementasikan data Warehouse

 

4. Kaitan dengan unit-unit lainnya

4.1     Unit ini di mendukung di dalam memahami spesifikasi program. Contoh mencakup namun tidak terbatas pada:

4.1.1   TIK.PR03.003.01     Menerapkan Data Warehousing

4.1.2      Memahami basis data dan penerapannya

4.1.3      Memahami sistim informasi

4.1.4      Mengoperasikan aplikasi basis data

4.1.5      Mengoperasikan bahasa pemrograman data description

 

4.2       Pengembangan pelatihan untuk memenuhi persyaratan dalam unit ini perlu dilakukan dengan hati-hati. Untuk pelatihan pra kejuruan umum, institusi harus menyediakan pelatihan yang mempertimbangkan serangkaian konteks industri seutuhnya tanpa bias terhadap sekor tertentu. Batasan variable akan membantu dalam hal ini. Untuk sektor tertentu/khusus, pelatihan harus disesuaikan untuk memenuhi kebutuhan sektor tersebut.

 

2.3.6 Kompetensi Kunci

Kompetensi kunci dalam bahasan ini dapat dilihat dalam tabel di bawah ini.

NO KOMPETENSI KUNCI DALAM UNIT INI

TINGKAT

1 Mengumpulkan, mengorganisir dan menganalisa informasi 3
2 Mengkomunikasikan ide-ide dan informasi 3
3 Merencanakan dan mengorganisir aktivitas-aktivitas 3
4 Bekerja dengan orang lain dan kelompok 2
5 Menggunakan ide-ide dan teknik matematika 1
6 Memecahkan masalah 3
7 Menggunakan teknologi 3

Tabel 2 Kompetensi Kunci

BAB III

STRATEGI DAN METODE PELATIHAN

 

3.1    Strategi Pelatihan

Belajar dalam suatu Sistem Berbasis Kompetensi berbeda dengan yang sedang “diajarkan” di kelas oleh Pelatih. Pada sistem ini Anda akan bertanggung jawab terhadap belajar Anda sendiri, artinya bahwa Anda perlu merencanakan belajar Anda dengan Pelatih dan kemudian melakukan praktek sesuai dengan rencana yang telah dibuat.

 

Persiapan/perencanaan

  1. Membaca bahan/materi yang telah diidentifikasi dalam setiap tahap belajar dengan tujuan mendapatkan tinjauan umum mengenai isi proses belajar Anda.
  2. Membuat catatan terhadap apa yang telah dibaca.
  3. Memikirkan bagaimana pengetahuan baru yang diperoleh berhubungan dengan pengetahuan dan pengalaman yang telah Anda miliki.
  4. Merencanakan aplikasi praktik pengetahuan dan keterampilan Anda.

 

Permulaan dari proses pembelajaran

  1. Mencoba mengerjakan seluruh pertanyaan dan tugas praktik yang terdapat pada tahap belajar.
  2. Merevisi dan meninjau materi belajar agar dapat menggabungkan pengetahuan Anda.

 

Pengamatan terhadap tugas praktik

  1. Mengamati keterampilan praktik yang didemonstrasikan oleh Pelatih atau orang yang telah berpengalaman lainnya.
  2. Mengajukan pertanyaan kepada Pelatih tentang konsep sulit yang Anda temukan.

 

Implementasi

  1. Menerapkan pelatihan kerja yang aman.
  2. Mengamati indikator kemajuan personal melalui kegiatan praktik.
  3. Mempraktikkan keterampilan baru yang telah Anda peroleh.

 

        Penilaian

Melaksanakan tugas penilaian untuk penyelesaian belajar Anda.

 

3.2    Metode Pelatihan

Terdapat tiga prinsip metode belajar yang dapat digunakan. Dalam beberapa kasus, kombinasi metode belajar mungkin dapat digunakan.

Belajar secara mandiri

Belajar secara mandiri membolehkan Anda untuk belajar secara individual, sesuai dengan kecepatan belajarnya masing-masing. Meskipun proses belajar dilaksanakan secara bebas, Anda disarankan untuk menemui Pelatih setiap saat untuk mengkonfirmasikan kemajuan dan mengatasi kesulitan belajar.

Belajar Berkelompok

Belajar berkelompok memungkinkan peserta untuk dating bersama secara teratur dan berpartisipasi dalam sesi belajar berkelompok. Walaupun proses belajar memiliki prinsip sesuai dengan kecepatan belajar masing-masing, sesi kelompok memberikan interaksi antar peserta, Pelatih dan pakar/ahli dari tempat kerja.

Belajar terstruktur

Belajar terstruktur meliputi sesi pertemuan kelas secara formal yang dilaksanakan oleh Pelatih atau ahli lainnya. Sesi belajar ini umumnya mencakup topik tertentu.

 

BAB IV

MATERI UNIT KOMPETENSI

 

4.1 Tujuan Instruksional Umum

  • Siswa mampu mengidentifikasi persyaratan yang memungkinkan dikembangkannya Data Warehouse .
  • Siswa mampu mengembangkan Data Warehouse  sesuai dengan kebutuhan manajemen.
  • Siswa mampu mengimplementasikan data Warehouse

 

4.2 Tujuan Instruksional Khusus

  • Siswa dapat mengidentifikasikan karakteristik dari data Warehouse .
  • Siswa mampu membuat struktur data Warehouse .
  • Siwa mampu mengidentifikasikan elemen dari struktur data Warehouse .
  • Siswa menengenal MDX Query.
  • Siswa dapat membuat tampilan dari data Warehouse .

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4.3 Kebutuhan Sumber dan Data

Data Warehouse adalah jantung dari lingkungan yang berarsitektur, dan merupakan fondasi dari pemrosesan DSS (Decision Support System). Tugas dari analis DSS dalam data Warehouse lebih mudah dari pada tugas analis pada lingkungan transaksional karena adanya sebuah sumber data single (data Warehouse), karena data granular dalam data Warehouse dengan mudah dapat diakses, dan karena data Warehouse membentuk sebuah fondasi dari kegunaan dan rekonsiliasi dari data.

 

Sebuah data Warehouse adalah sebuah kumpulan data yang berorientasi subyek, terpadu, nonvolatile, dan time-variant untuk mendukung keputusan manajemen. Data Warehouse berisi data perusahaan yang granular. Data yang ada di dalam data Warehouse dapat digunakan untuk beberapa tujuan beragam, termasuk untuk memenuhi persyaratan masa akan datang.

 

4.3.1 Data Sesuai Referensi Manajemen

Subyek orientasi dari data Warehouse ditunjukkan pada gambar 1. Sistem operasi diatur dengan aplikasi fungsional dari perusahaan. Untuk perusahaan asuransi, aplikasi mungkin berupa pemrosesan kesehatan, klaim, dan kehidupan. Area pokok dari perusahaan asuransi dapat berupa pelanggan, aturan-aturan, klaim, dan premium. Untuk sebuah perusahaan produksi, subyek area pokok dapat berupa produk, pesanan, vendor, bukti transaksi, dan bahan mentah. Untuk seorang pengecer, subyek area pokok dapat berupa produk, SKU, penjualan, vendor, dan lainnya. Setiap perusahaan memiliki memiliki sekumpulan subyek yang unik.

 

 

 

Gambar 1 Sebuah contoh dari orientasi subyek dari data

Subject Orientation
Operational Data Warehouse
Auto
Life
Health
Casualty
Application Subjects

Gambar 1.1 Sebuah contoh orientasi subyek dari data

 

Karakteristik kedua dari data Warehouse adalah terpadu. Dari Semua aspek   sebuah data Warehouse, integrasi, adalah yang paling penting. Data diambil dari sumber data yang beragam dan terpisah ke dalam data Warehouse. Setelah data diambil, data akan dikonversi, dibentuk ulang, diurutkan lagi, dirangkum, dan lainnya. Hasil dari data – setelah berada di dalam data Warehouse – memiliki sebuah image perusahaan secara fisik. Tabel 1 mengilustrasikan integrasi yang muncul ketika data berpindah dari lingkungan operasional yang berorientasi aplikasi ke data Warehouse.

 

 

Integration
Operational Data Warehouse
Application A m,f m,f
Application B 1,0  
Application C x,y  
Application D male, female  

Tabel 1.1 Contoh integrasi

 

Keputusan perancangan yang dibuat oleh perancang aplikasi selama beberapa tahun muncul dalam cara yang beragam. Dahulu ketika perancang aplikasi membangun sebuah aplikasi, mereka tidak pernah mempertimbangkan bahwa dat yang mereka operasikan akan diintegrasikan dengan data lainnya. Konsekuensinya, di antara beberapa aplikasi tidak ada konsistensi aplikasi dalam encoding, penamaan, atribut, dan lainnya. Setiap perancang aplikasi memiliki kebebasan dalam merancang. Hailnya adalah bahwa aplikasi yang dihasilkan sangat berbeda dari aplikasi lainnya.

 

Data yang dimasukkan ke data Warehouse memiliki ketidakkonsistenan dalam tingkat aplikasinya. Maka itu diperlukan konversi data untuk mengintegrasikan data yang dikumpulkan.

 

Karakteristik ketiga dari sebuah data Warehouse adalah non-volatile. Non-volatile menunjukkan bahwa data operasional yang secara regular diakses dan dimanipulasi satu record setiap waktunya. Data diupdate dalam lingkungan oiperasional sebagai hal yang regular, tapi data dalam data Warehouse memiliki sekumpulan karakteristik yang sangat berbeda. Data dalam data Warehouse di-load dan diakses, tapi tidak di-update. Bahkan, ketika data dalam data Warehouse di-load, data di-load dalam sebuah snapshot, sebuah format statis. Ketika melakukannya, sebuah record data histories disimpan dalam data Warehouse.

 

Karakteristik terakhir dari data Warehouse adalah time-variant. Variansi waktu mengimplikasikan bahwa setiap unit data dalam data Warehouse adalah akurat. Dalam beberapa kasus, sebuah record diberi stampel waktu. Tapi dalam kasus lainnya, sebuah record memiliki sebuah waktu transaksi. Tapi dalam setiap kasus, ada beberapa bentuk dari stampel waktu untuk menunjukan waktu selama record teersebuat akurat. Gambar 1.2 mengilustrasikan bagaimana variansi waktu dari data dalam data Warehouse.

 

Variansi Waktu
Operational Data Warehouse
  • Periode waktu- 60-90 hari
  • Update record
  • Struktur kunci bisa berisi atau tidak berisi elemen waktu
  • Periode waktu-5-10 tahun
  • Rangkuman data
  • Struktur kunci berisi elemen waktu

Gambar 1.2 Variansi Waktu

 

Lingkungan yang berbeda memiliki horizon waktu yang berbeda yang berhubungan dengannya. Sebuah horizon waktu adalah panjangnya waktu dari data direpresentasikan didalam sebuah lingkungan. Horizon waktu dari kumpulan data dalam data Warehouse secara siknifikan lebih panjang daripada system operasional. Horizon waktu 60 sampai 90 hari adalah normal bagi system operasional; horizon waktu 5 sampai 10 tahun adalah normal untuk data Warehouse. Sebagai hasil dari perbedaan dalam horizon waktu ini adalah data Warehouse berisi jauh lebih banyak data historis daripada lingkungan lainnya.

 

4.3.2 Area Pokok

Area pokok diidentifikasi dari data model yang berisi model data perusahaan dan model data yang disimpan. Model data diaplikasikan secara lengsung ke database operasional. Data yang disimpan di database operasional dalam bentuk ERD akan menjadi area pokok dari proses bisnis yang akan diekstraksi dan dimasukkan ke dalam data Warehouse.

 

4.3.3 Eksplorasi Data operasional

Database operasional berisi current-value data, atau data data yang memiliki keakuratan pada saat diakses. Sebagai contoh, sebuah bank mengetahui berapa banyak uang yang didepositokan seorang pelanggan dalam suatu waktu, sebuah perusahaan asuransi mengetahui policy apa yang sedang tren sekarang ini, atau sebuah perusahaan penerbangan mengetahui siapa saja yang melakukan reservasi sekarang ini. Maka itu, current-value data dapat di-update jika kondisi bisnis berubah. Neraca bank akan diubah ketika seorang pelanggan membuka deposito, dan segala perubahan lainnya yang akan terjadi pada perusahaan asuransi dan perusahaan penerbangan setiap adanya transaksi baru.

 

Data dalam data Warehouse sangat berbeda dengan current-value data. Data dalam data Warehouse dapat dianggap sebagai sekumpulan snapshot yang khusus, di mana setiap snapshot diambil dalam suatu periode waktu. Sebagai akibatnya, data Warehouse memiliki sebuah urutan aktivitas dan kejadian yang berurutan, yang tidak muncul dalam lingkungan current-value di mana hanya nilai yang current yang dapat ditemukan.

 

Struktur kunci dari data operasional mungkin berisi atau tidak berisi beberapa elemen waktu, seperti tahun, bulan, dan lainnya. Struktur kunci dalam data Warehouse  selalu berisi beberapa elemen waktu. Penempelan elemen waktu ke dalam recor data Warehouse dapat mengambil beberapa bentuk, seperti stempel waktu dalam setiap record, sebuah stempel waktu untuk sebuah database secara keseluruhan, dan lainnya.

 

 

4.3.4 Spesifikasi Sumber Warehouse

Ada dua model dasar dari rancangan database yang merupakan sumber data dalam data Warehouse, yaitu model relasional dan model multidimensi.

 

Pendekatan relasional untuk rancangan database dimulai dengan pengaturan data ke dalam table. Tabel relasional dapat memiliki property yang berbeda. Kolom dari data memiliki karakteristik fisik yang berbeda. Kolom yang berbeda dapat diberi indeks dan dapat berperan sebagai penunjuk (identifier).

 

Melalui unit penunjuk ini, dua atau lebih baris dari data dapat dihubungkan. Data dalam model relasional berstatus normal. Normalisasi data mengindikasikan rancangan database teleh menyyebabkan data dipecah menjadi tingkat granularitas terendah. Ketika dinormalisasi, data yang ada dalam sebuah table memiliki hubungan hanya dengan data lain dalam table itu saja.

 

Nilai dari model relasional untuk rancangan database utnuk data Warehouse adalah ada aturan bagaimana rancangan database dibangun, kejelasan artinya, dan kegunaan dari tingkat ke-detil-an data yang dinormalisasi. Dengan kata lain, model relasional menghasilkan sebuah rancangan untuk data Warehouse yang fleksibel. Banyak sudut pandang data yang berbeda yang dapat didukung ketika rancangan untuk data Warehouse berdasarkan model relasional.

 

Pendekatan lain dari pendekatan rancangan untuk membangun sebuah data Warehouse adalah pendekatan multidimensional. Pendekatan multidimensional terkadang disebut pendekatan star join. Struktur data star join merepresentasikan sebuah bintang dengan beberapa struktur data.

 

 

 

Gambar 1.3 Sebuah Star Join

 

4.4 Langkah dan Proses Warehouse

4.4.1 Target Warehouse

Data Warehouse yang dikembangkan memiliki target Warehouse  yang akan dikembangkan. Perancang harus mengatur usaha pengembangan data Warehouse yang beragam. Mereka harus mengetahui bagaimana menghubungkan beragam arsitektur dari data yang beragam dan membentuk sustu kesatuan data yang berfungsi untuk manajemen tingkat strategis.

 

4.4.2 Agen-Agen Warehouse

Ada dua komponen utama dari pembangunan data Warehouse: merancang interface dari sistem operasional dan merancang data Warehouse itu sendiri. Persyaratan untuk data Warehouse tidak dapat diketahui sampai ia digunakan, pendekatan rancangan yang telah berjalan di masa lalu tidak akan mengganggu dalam data Warehouse. Data Warehouse dirancang dalam langkah yang sekuensial, di mana suatu tahap pengembangan sangat bergantung pada tahap sebelumnya.

 

Pertama, suatu kumpulan data dipopulasikan. Kemudian digunakan oleh analis DSS. Berikutnya, berdasarkan feedback dari end user; data dimodifikasi atau ditambahkan. Kemudian bagian lain dari data Warehouse dibangun, dan seterusnya. Alur feedback berlanjut selama daur hidup data Warehouse.

 

Maka itu, data Warehouse tidak dapat dirancang sama dengan system yang berorientasi persyaratan. Di samping itu, persyaratan tertentu masih sangat penting.

 

4.4.3 Identifikasi Proses

Rancangan dimulai dari data operasional dengan pertimbangan peletakan data dalam data Warehouse. Ada banyak pertimbangan yang harus dibuat yang berhubungan dengan lingkungan operasional. Data yang berorientasi operasional dikunci dalam sistem operasional.

 

Ketika aplikasi yang telah ada sekarang dibangun, tidak ada pertimbangan akan integrasi di masa yang akan datang. Setiap aplikasi memiliki sekumpulan persyaratan masing-masing dan bersifat unik. Bukan hal yang mengejutkan bila beberapa data yang sama muncul dalam beberapa empat yang berbeda dengan nama yang sama, tetapi merefleksikan sebuah pertimbangan yang berbeda, dan seterusnya. Mengekstraksi data dari banyak tempat dan mengintegrasikannya menjadi sebuah gambaran yang terintegrasi adalah sebuah masalah yang kompleks. Tapi bukan hanya integrasi dari sistem operasional saja yang merupakan kesulitan dalam mengembangkan data Warehouse dari lingkungan operasional ke lingkungan data Warehouse. Masalah besar lainnya adalah efisiensi dari pengaksesan data dari sistem yang ada sekarang. Bagaimana program yang me-scan sistem mengetahui apakah sebuah file telah di-scan sebelumnya? Lingkungan sistem yang ada sekarang menyimpan data yang berjumlah sangat banyak, dan jika kita bermaksud untuk me-scan semuanya setiap kali sebuah data Warehouse  perlu untuk me-scan, adalah sebuah usaha yang tidak realistic dan membuang waktu.

 

Tiga tipe dari pengaksesan data:

  • Archival data
  • Data yang sudah ada dalam lingkungan operasional.
  • Perubahan yang terjadi terhadap lingkungan data Warehouse dari perubahan-perubahan yang telah muncul dalam lingkungan operasional sejak refresh terakhir.

 

Mengakses data dari lingkungan operasional saat data Warehouse pertama kali di-load memberikan sebuah tantangan yang minimal untuk dua alasan. Pertama, hal tersebut tidak dilakukan sama sekali. Organisasi menemukan bahwa data yang tua membuang biaya dalam banyak lingkungan. Kedua, bahkan ketika archival data di-load, hanya satu kali saja.

 

Mengakses data yang bukan archival data dari lingkungan operasional biasanya dilakukan dengan men-download  lingkungan sistem operasional ke sebuah file sekuensial, dan file sekuensial tersebut dapat di-download  ke data Warehouse  tanpa gangguan dari lingkungan online. Me-load data dengan adanya perubahan merepresentasikan tantangan yang lebih kompleks.

 

Ada lima teknik yang umumnya digunakan untuk mengurangi jumlah data operasional yang di-scan.

 

Teknik pertama yaitu me-scan data yang telah diberikan label waktu dalam lingkungan operasional untuk menandakan perubahan terakhir yang telah dilakukan terhadap sebuah record.

 

Teknik kedua adalah dengan mengurangi data yang akan di-scan adalah dengan scan sebuah delta file. Sebuah delta file hanya berisi perubahan-perubahan yang dilakukan pada sebuah aplikasi dari hasil transaksi yang berjalan pada lingkungan operasional. Dengan sebuah delta file, proses scan sangat berbeda karena data yang tidak perlu di-scan tidak perlu tersentuh.

 

Teknik ketiga adalah untuk scan sebuah log file atau sebuah file audit yang dihasilkan dari proses transaksi. Sebuah log file berisi data yang sama dengan delta file. Bagaimanapun, ada beberapa perbedaan utama. Terkadang log file digunakan untuk recovery.

 

Teknik ke-empat untuk mengatur jumlah data yang akan di-scan adalah untuk memodifikasi kode aplikasi.

 

Pilihan terakhir adalah dengan membentuk image sekarang dan sebelumnya dari file operasional. Dengan pilihan ini, ekstraksi dilakukan dengan mengambil sebagian image dari database.

 

4.5 Desain Warehouse

4.5.1 Prinsip Desain User Interface

Tahap selanjutnya adalah dengan mengembangkan User Interface yang sesuai dengan kebutuhan informasi pemakai. User Interface yang dikembangkan harus user friendly dan sesuai dengan prinsip-prinsip User Interface. User Interface dikembangkan melalui program aplikasi yang dikembangkan untuk mendukung aplikasi data Warehouse.

 

Berikut adalah contoh User Interface dari data Warehouse yang dikembangkan:

 

 

 

 

 

 

4.5.2 Strategi Keamanan Warehouse

Keamanan yang perlu diperhatikan ketika mengembangkan sebuah data Warehouse adalah akses yang lebih dari satu kali pada database yang akan diakses secara shared.  Maka itu diperlukan locking protocol yang dapat membantu menghindari deadlock.

 

Selain itu perlu juga dilakukan langkah pengaman dalam pengaksesan database dan data Warehouse. Hal tersebut dapat dilakukan dengan memberikan password sebagai hak akses bagi pengguna database dan data Warehouse.  

 

4.5.3 Tabel Dimensi dan Table Fakta

Struktur rancangan yang dibutuhkan untuk mengatur data dalam jumlah yang besar yang terdapat dalam sebuah entitas di dalam data mart disebut star join. Sebuah contoh sederhana dari star join, dengan mempertimbangkan struktur data, ditunjukkan dalam gambar. Order berada di pusat dan merupakan entitas yang akan sering dipopulasikan. Di sekitar Order adalah entitas Supplier, Shipment, Date, dan Part. Setiap entitas di sekelilingnya hanya memilki jumlah data yang sudah fix di awal. Pusat dari star join disebut fact table (table fakta). Dan entitas di sekelilingnya disebut table dimensi.

 

Tabel fakta adalah pusat dari tabel star join di mana data yang memiliki tingkat pemunculan yang tinggi diletakkan. Table fakta berisi data yang memiliki identitas unik.

 

Tabel fakta juga berisi foreign key yang mereferensi pada table di sekitarnya, yaitu table dimensi. Tabel dimensi adalah tempat menyimpan data tambahan yang berhubungan dengan tabel fakta.

 

Bisa terdapat banyak hubungan foreign key dalam sebuah table dimensi. Sebuah hubungan foreign key dibuat ketika ada sebuah kebutuhan untuk menguji data foreign key dengan data yang ada di dalam table fakta. Merupakan hal yang biasa jika sebuah star join memiliki 20 sampai 30 dimensi.

 

Gambar Perspektif tiga dimensi dari entitas

 

Vendor                                    Order

Vendor id

Vendor data

Vendor data

Order id

Order data

Order data

 

Vendor id

Nonkey data

Cust id

Nonkey data

Order id

Nonkey data

Product id

Nonkey data

 

                                                               Shipment

Order id

Order data

Order data

 

 

 

 

Customer                                                                                Product

Cust id

Cust data

Cust data

  Product id

Product data

Product data

Gambar contoh star join yang sederhana

 

Salah satu aspek menarik dari star join adalah, yaitu dalam banyak kasus, data tekstual dipisahkan dari data numeric. Data tekstual sering berakhir di dalam table dimensi, dan data numeric berakhir pada table fakta. Pemisahan seperti ini sangat sering muncul dalam setiap kasus.

 

Keuntungan dari pembuatan star join adalah untuk menggarisbawahi data untuk pemrosesan DSS. Dengan menggabungkan data dan dengan menciptakan redundansi yang selektif, perancang dapat menentukan data yang penting untuk kebutuhan analisis dan akses, yang tepatnya dibutuhkan untuk data mart. Perhatikan bahwa jika star join digunakan di luar lingkungan data mart, akan ada beberapa kekurangannya. Di luar lingkungan data mart, di mana perubahan-perubahan muncul dan di mana hubungan data diatur, sebuah star join akan sulit untuk dibangun dan di-maintain. Tapi karena data mart berisi data historis, dan arena jumlah data yang besar perlu untuk diatur, struktur data star join cocok untuk pemrosesan yang muncul dalam star join.

 

Maka star join merupakan dasar yang tepat untuk perancangan data mart. Star join mengimplikasikan sebuah dasar rancangan untuk entitas yang sangat besar yang akan muncul di dalam data mart. Model data diaplikasikan sebagai dasar rancangan untuk data yang berjumlah tidak banyak yang ada dalam data mart.

 

Data dalam data Warehouse bersifat sangat granular. Data di dalam data mart telah diringkas. Secara periodic data harus dipindahkan dari data Warehouse ke data mart. Perpindahan data dari data Warehouse ke data mart sama dengan perpindahan data dari lingkungan operasional ke lingkungan data Warehouse .

 

 

 

4.5.4 Katalog Informasi Warehouse

Informasi yang dibutuhkan untuk membuat data Warehouse  sangat bervariasi. Hal ini menyebabkan harus ada data yang telah di-ekstrak dan dipilih oleh manajemen untuk menampilkan data yang dibutuhkan. Maka itu diperlukan catalog yang berisi informasi apa saja yang dibutuhkan oleh pihak manajemen untuk ditampilkan dalam User Interface data Warehouse. Format dari katalog merupakan hak dari perancang. Tidak ada standar tertentu yang menjelaskan tentang catalog informasi yang ditampilkan.

 

 

4.6 ETL (Extract Transform Load)

ETL (Extract Transform Load) adalah proses pencarian data, mengintegrasikannya, dan menempatkannya ke dalam data Warehouse.

 

Ekstraksi adalah proses pemilihan data dari satu lingkungan dan mengirimkannya ke lingkungan lainnya.

 

Loading adalah penginputan data ke dalam data Warehouse yang sebelumnya masih kososng.

 

4.6.1 Persiapan  ETL

Dalam setiap lingkungan, data operasional bersifat kompleks dan sulit untuk ditangani. Untuk mendapatkan keuntungan yang nyata dari sebuah data Warehouse, yang harus dilakukan adalah Extract/Transform/Load (ETL). Software ETL dapat mengaoomatisasi proses tersebut.

 

Software ETL memiliki dua variasi—software yang menghasilkan kode dan software yang menghasilkan sebuah modul yang dapat dijalankan yang memiliki parameter. Software yang menghasilkan kode lebih kuat dari software yang menghasilkan modul yang dapat dijalankan. Software yang menghasilkan modul dapat mengakses data operasional dengan formatnya sendiri. Software yang menghasilkan modul biasanya membutuhkan data operasional yang telah diformat ulang sesuai dengan kebutuhan. Setelah diformat ulang, modul dapat membaca data operasional. Sayangnya, keterangan-keterangan penting hilang setelah data diformat ulang.

 

Dalam banyak kasus, software ETL mengautomatisasi proses konversi, fomat ulang, dan integrasi data dari lingkungan operasional. Hanya dalam keadaan yang tidak biasa di mana proses membangun dan me-maintain interface operasional atau data Warehouse secara manual masuk akal untuk dilakukan.

 

Sebuah software alternatif dari software ETL adalah extract/load/transform (software ELT). Keuntungan dari software ELT adalah bahwa transformasi data dapat dilakukan pada data yang berjumlah banyak. Kerugiannya adalah kegiatan extract dan load melewatkan proses transformasi. Ketika proses transformasi dilewatkan, nilai dari data Warehouse dikurangi.

 

4.6.2 Sumber Data ETL

Data operasional yang akan menjadi sumber untuk proses ETL akan mengalami proses ekstraksi yang diperlukan untuk menghilangkan data yang tidak diperlukan seperti redundansi sehingga menghasilkan data yang sesuai untuk proses transformasi.

 

4.6.3 Sumber Tabel ETL

Tabel dan data yang diperoleh dari data model atau dari ERD akan diatur lagi untuk menyesuaikan dengan arsitektur data dari data Warehouse yang dibuat. Data yang diperoleh dari ERD akan dibentuk lagi hubungan (relationship)-nya agar sesuai dengan arsitektur data dari data Warehouse. Biasanya ada penambahan dan pengurangan kolom atau trigger khusus dalam format sumber data yang digunakan.

 

4.6.4 Data Staging

Penambahan tabel merupakan tahapan dari ETL untuk menyempurnakan sumber data yang digunakan untuk data Warehouse. Maka bila terdapat data staging, yang perlu dipersiapkan adalah tabel-tabel yang akan digunakan.

 

4.6.5 Query untuk ETL

Software yang akan digunakan untuk proses ETL harus dikembangkan dahulu. Biasanya programmer menyebutnya sebagai proses atau sistem transformasi data. Dalam program Microsoft SQL Server, ada sistem yang disebut Data Transformation System (DTS) di mana data yang dibutuhkan untuk proses ETL mengalami proses transformasi dari data yang berasal dari database operasional ke data Warehouse . Proses DTS juga dapat dilakukan dari program aplikasi yang dikembangkan oleh programer untuk kebutuhan strategis manajemen sehingga proses ETL tidak perlu melibatkan program software database secara langsung dan hal ini berguna untuk mengamankan data dari hak akses data yang tidak diijinkan.

 

Dalam membuat proses DTS atau ELT, data diperoleh melalui proses query. Query dilakukan terhadap data operasional. Query yang dilakukan merupakan proses awal yang penting dalam DTS maupun ETL. Pemilihan query yang sesuai perlu dilakukan karena hal tersebut menentukan kualitas data yang dipilih untuk masuk ke dalam data Warehouse. Query yang dihasilkan tersebut harus diteliti dan dianalisa dulu karena jika pemilihan query salah, pengguna tidak akan mengetahuinya dan hal itu akan menyebabkan kesalahan data yang ditampilkan dalam data Warehouse.

 

Setelah menganalisa query yang dibuat, program ETL tersebut harus diuji coba untuk memeriksa hasilnya, apakah telah sesuai dengan yang diinginkan. Hasilnya dapat dilihat dari database data Warehouse. Selain itu juga dapat dilihat dari interface yang telah dirancang untuk menampilkan hasil query.

 

 

 

4.6.6 Alat Bantu untuk  ETL

Alat bantu yang dapat digunakan untuk proses ETL dapat berupa Data Transformation System (DTS) yang ada dalam software database ataupun dengan mengembangkannya sendiri dalam program aplikasi yang dikembangkan.

 

Berikut merupakan contoh Data Transformation System (DTS) yang ada dijalankan melalui program aplikasi

 

 

Setelah yakin bahwa alat bantu tersebut dapat digunakan, hal lain yang perlu diperhatikan adalah konfigurasi dari alat bantu tersebut. Konfigurasi perlu dilakukan untuk menyesuaikan dengan kebutuhan data dari data Warehouse. Hal ini perlu dilakukan karena pengaturan awal dari alat bantu tersebut pasti belum sesuai dengan kebutuhan data Warehouse. Maka itu perlu dilakukan konfigurasi pada alat bantu yang akan digunakan dalam proses ETL.

 

4.6.7 Agen-agen ETL

Perlengkapan yang diperlukan untuk proses ETL harus persiapkan untuk melakukan proses ETL. Pengujian dan integrasi dari agen-agen ETL perlu dilakukan sebelum data Warehouse benar-benar sempurna untuk dijalankan. Penjadwalan untuk uji coba ETL harus dilakukan sebelumnya.

 

 

4.7 MDX Query

Setelah proses ETL dilakukan, maka fungsi utama dari data Warehouse telah berhasil dilakukan. Tahap selanjutnya adalah bagaimana menampilkan data Warehouse ke pengguna yang merupakan pemakai pada tingkat eksekutif. Maka itu diperlukan rancangan interface untuk mengakomodasi kebutuhan data Warehouse bagi eksekutif.

 

Data dari data Warehouse yang ditampilkan harus sesuai dengan kebutuhan pengguna. Salah satu alat bantu yang dapat menampilkan data yang berasal dari data Warehouse adalah MDX Query. MDX Query merupakan alat bantu untuk menampilkan data yang berasal dari database melalui berbagai dimensi. Hal ini menunjang kebutuhan informasi yang dibutuhkan para eksekutif.

 

4.7.1    Rancangan Tabel

Dalam manampilkan rancangan yang dapat merefleksikan arsitektur data dalam data Warehouse yang menunjang kebutuhan informasi bagi manajemen strategis, maka tampilan harus dibuat berdasarkan arsitektur data yang ada.

 

Pengaksesan data yang akan ditampilkan dalam rancangan tampilan muka berasal dari tabel fakta dan tabel dimensi. Maka itu data yang akan ditampilkan akan sesuai dengan arsitektur data yang dibuat. Maka yang perlu dilakukan adalah mengidentifikasi tabel dimensi dan tabel fakta yang akan ditampilkan dalam rancangan interface.

 

 

4.7.2 Rancangan User Interface

User Interface yang dirancang harus sesuai dengan prinsip-prinsip perancangan User Interface. Maka perlu diperhatikan kebutuhan pengguna dan estetika dalam perancangan User Interface.

 

4.7.3 Identifikasi MDX Query

MDX Query yang digunakn untuk tampilan data dalam data Warehouse dirancang di dalam program aplikasi yang dikembangkan dan ditempelkan pada User Interface yang dirancang. MDX Query perlu diuji coba untuk memeriksa tampilan data yang ditampilkan kepada pengguna.

 

4.8 Tes dan Implementasikan Warehouse

Tahap selanjutnya setelah program aplikasi data Warehouse telah berjalan dengan baik dan sempurna, yaitu tahap pengujian dan implementasi.

 

Tahap pengujian dapat dilakukan sesuai dengan prinsip software quality assurance.

 

Tahapan dan hasil dari pengujian setiap tahapnya perlu didokumentasikan untuk mendapatkan software yang layak untuk digunakan. Setiap dokumentasi dari software selama tahap pengujian sangat berguna untuk melacak kesalahan pada software yang mungkin akan terjadi di kemudian hari.

 

 

4.8.1 Implementasikan Data Warehouse

Setelah pengujian tehadap software dilakukan dan kesalahan yang muncul telah diperbaiki, maka software siap untuk diimplementasikan untuk kemudian digunakan. Tahap implementasi memerlukan pendapat pengguna untuk selanjutnya digunakan oleh siapa saja dan pada saat kapan saja pengaksesan dapat dilakukan.

 

4.8.2 Kesesuaian Data Warehouse

Data Warehouse yang dikembangkan harus dapat menunjang kebutuhan bisnis dan harus berdasarkan proses bisni yang telah ada, Maka data Warehouse yang telah dikembangkan perlu untuk dicocokan dengan kebutuhan manajemen staregis. Jika data Warehouse yang terapkan tidak dapat menunjang kebutuhan informasi manajemen strategis, maka data Warehouse yang dikembangkan tersebut memiliki masalah dalam pengembangannya. Dan hal itu perlu diperbaiki dengan mengetahui keinginan manajemen terhadap kebutuhan informasi yang dibutuhkan oleh manajemen tingkat atas.

 

BAB V

SUMBER-SUMBER YANG DIPERLUKAN UNTUK PENCAPAIAN                          KOMPETENSI

 

5.1 Sumber Daya Manusia

Dalam proses pencapaian kompetensi sumber yang dapat diandalkan adalah sumber daya manusia. Sumber daya manusia yang dimaksud disiini adalah orang-orang yang dapat mendukung proses pencapaian kompetensi yang dimaksud, antara lain:

 

  • Pembimbing

Pembimbing Anda merupakan orang yang dapat diandalkan karena beliau memiliki pengalaman. Peran Pembimbing adalah untuk :

  1. Membantu Anda untuk merencanakan proses belajar.
  2. Membimbing Anda melalui tugas-tugas pelatihan yang dijelaskan dalam tahap belajar.
  3. Membantu Anda untuk memahami konsep dan praktik baru dan untuk menjawab pertanyaan Anda mengenai proses belajar Anda.
  4. Membantu Anda untuk menentukan dan mengakses sumber tambahan lain yang Anda perlukan untuk belajar Anda.
  5. Mengorganisir kegiatan belajar kelompok jika diperlukan.
  6. Merencanakan seorang ahli dari tempat kerja untuk membantu jika diperlukan.

 

  • Penilai

Penilai Anda melaksanakan program pelatihan terstruktur untuk penilaian di tempat kerja. Penilai akan :

  1. Melaksanakan penilaian apabila Anda telah siap dan merencanakan proses belajar dan penilaian selanjutnya dengan Anda.
  2. Menjelaskan kepada Anda mengenai bagian yang perlu untuk diperbaiki dan merundingkan rencana pelatihan selanjutnya dengan Anda.
  3. Mencatat pencapaian / perolehan Anda.

 

  • Teman kerja/sesama peserta pelatihan

Teman kerja Anda/sesama peserta pelatihan juga merupakan sumber dukungan dan bantuan. Anda juga dapat mendiskusikan proses belajar dengan mereka. Pendekatan ini akan menjadi suatu yang berharga dalam membangun semangat tim dalam lingkungan belajar/kerja Anda dan dapat meningkatkan pengalaman belajar Anda.

 

5.2 Sumber-sumber Kepustakaan (Buku Informasi)

Pengertian sumber-sumber kepustakaan adalah material yang menjadi pendukung proses pembelajaran ketika peserta pelatihan sedang menggunakan Pedoman Belajar ini.

 

Sumber-sumber tersebut dapat meliputi:

1.   Buku referensi (text book)

2.   Lembar kerja

3.   Diagram-diagram, gambar

4.   Contoh tugas kerja

5.   Rekaman dalam bentuk kaset, video, film dan lain-lain.

 

Ada beberapa sumber yang disebutkan dalam pedoman belajar ini untuk membantu peserta pelatihan mencapai unjuk kerja yang tercakup pada suatu unit kompetensi. Prinsip-prinsip dalam CBT mendorong kefleksibilitasan dari penggunaan sumber-sumber yang terbaik dalam suatu unit kompetensi tertentu, dengan mengijinkan peserta untuk menggunakan sumber-sumber alternatif lain yang lebih baik atau jika ternyata sumber-sumber yang direkomendasikan dalam pedoman belajar ini tidak tersedia/tidak ada.

 

Untuk referensi mengenai materi-materi yang dapat digunakan, Anda dapat melihat dari Daftar Pustaka yang terlampir dihalaman terakhir modul ini.

 

 

5.3  Daftar Peralatan dan Bahan yang digunakan

 

  1. Judul/Nama Pelatihan        :    Menerapkan Data Warehousing
  2. Kode Program Pelatihan    :    TIK.PR03.003.01

 

NO

UNIT

KOMPETENSI

KODE UNIT

DAFTAR PERALATAN

DAFTAR BAHAN

KETERANGAN

1.

Menerapkan Data Warehousing

TIK.PR03.003.01

- Unit PC (Personal Computer) dengan CD drive dan Floppy Disk.

- PC dengan sistem operasi Windows

- Keyboard dan mouse

- RAM dengan ukuran yang sesuai dengan kebutuhan.

 

- Buku informasi tentang database.

-Software database.

-software pengembangan aplikasi.

 

-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

  • Inmon William H. (2002). Building the Data Warehouse . 4th Ed., Wiley.

 

 

 

 

 

Testimoni

artikel lainnya Menerapkan Data Warehousing TIK.PR03.003.01



bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
Thursday 20 June 2013 | blog

Lihat disini ulasan luar biasa tentang facebook. log in di Facebook; datang ke tempat-tempat tertentu tidak…

Tuesday 2 December 2014 | blog

            PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI PENANGANAN SURAT/DOKUMEN KLASTER (MAIL HANDLING)    …

Saturday 23 May 2015 | blog

  MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR TELEMATIKA SUB SEKTOR PROGRAMMER KOMPUTER       MEMBUAT DOKUMEN…

Wednesday 11 September 2013 | blog

Download Power Point Slide nya di sini Saat pertama kali diluncurkan “The Facebook” hanya terbatas di…