Advertisement
loading...

 

MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI

Advertisement

SEKTOR TELEMATIKA

SUB SEKTOR JARINGAN KOMPUTER

DAN SISTEM ADMINISTRASI

 

 

MENENTUKAN STRATEGI PERAWATAN

TIK.JK05.001.01

 

 

 

 

BUKU INFORMASI

 

 

 

DEPARTEMEN TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI R.I.

DIREKTORAT JENDERAL PEMBINAAN PELATIHAN DAN PRODUKTIVITAS

Jl. Jend. Gatot Subroto Kav.51 Lt.7.B Jakarta Selatan

 

DAFTAR ISI

Daftar Isi ………………………………………………………………………………….. ….    1

BAB I 3

PENGANTAR. 3

1.1    Konsep Dasar Competency Based Training (CBT) 3

1.2    Penjelasan Modul 3

1.2.1     Desain Modul 3

1.2.2     Isi Modul 3

1.2.3     Pelaksanaan Modul 4

1.2.4     Pengakuan Kompetensi Terkini (RCC) 5

1.2.5     Pengertian – Pengertian / Istilah. 5

BAB II 7

STANDAR KOMPETENSI 7

2.1    Peta Paket Pelatihan. 7

2.2    Pengertian Unit Standar Kompetensi 7

2.3    Unit Kompetensi Yang Dipelajari 7

2.3.1     Kode dan Judul Unit 8

2.3.2     Deskripsi Unit 8

2.3.3     Elemen Kompetensi 8

2.3.4     Batasan Variabel 10

2.3.5     Panduan Penilaian. 11

2.3.6     Kompetensi Kunci 12

BAB III 13

STRATEGI DAN METODE PELATIHAN. 13

3.1    Strategi Pelatihan. 13

3.2    Metode Pelatihan. 14

BAB IV. 15

MATERI UNIT KOMPETENSI 15

4.1    Tujuan Instruksional Umum.. 15

4.2    Tujuan Instruksional Khusus 15

4.3    Latar Belakang Penentuan Strategi Perawatan. 16

4.4    Identifikasi Dan Analisa Kebutuhan Perawatan. 16

4.5    Filosofi Perawatan. 17

4.6    Strategi Perawatan. 18

4.7    Sistem Organisasi 19

4.8    Backup. Error! Bookmark not defined.

4.9    Pelaksana. Error! Bookmark not defined.

4.10   Penutup. 35

BAB V. 38

SUMBER-SUMBER YANG DIPERLUKAN UNTUK PENCAPAIAN                          KOMPETENSI 38

5.1    Sumber Daya Manusia. 38

5.2    Sumber-sumber Kepustakaan ( Buku Informasi ) 39

5.3    Daftar Peralatan dan Bahan yang digunakan. 40

DAFTAR PUSTAKA. 41


BAB I

PENGANTAR

1.1     Konsep Dasar Competency Based Training (CBT)

Apakah pelatihan berdasarkan kompetensi?

Pelatihan berdasarkan kompetensi adalah pelatihan yang memperhatikan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang diperlukan di tempat kerja agar dapat melakukan pekerjaan dengan kompeten. Standar Kompetensi dijelaskan oleh Kriteria Unjuk Kerja.

Apakah artinya menjadi kompeten di tempat kerja?

Jika anda kompeten dalam pekerjaan tertentu, Anda memiliki seluruh keterampilan, pengetahuan dan sikap yang perlu untuk ditampilkan secara efektif di tempat kerja, sesuai dengan standar yang telah disetujui.

1.2     Penjelasan Modul

1.2.1  Desain Modul

Modul ini didesain untuk dapat digunakan pada Pelatihan Klasikal dan Pelatihan Individual / mandiri :

  • Pelatihan klasikal adalah pelatihan yang disampaikan oleh seorang pelatih.
  • Pelatihan individual / mandiri adalah pelatihan yang dilaksanakan oleh peserta dengan menambahkan unsur-unsur / sumber-sumber yang diperlukan dengan bantuan dari pelatih.

1.2.2  Isi Modul

Buku Informasi

Buku informasi ini adalah sumber pelatihan untuk pelatih maupun peserta pelatihan.

Buku Kerja

Buku kerja ini harus digunakan oleh peserta pelatihan untuk mencatat setiap pertanyaan dan kegiatan praktek baik dalam Pelatihan Klasikal maupun Pelatihan Individual / mandiri.

Buku ini diberikan kepada peserta pelatihan dan berisi :

  • Kegiatan-kegiatan yang akan membantu peserta pelatihan untuk mempelajari dan memahami informasi.
  • Kegiatan pemeriksaan yang digunakan untuk memonitor pencapaian keterampilan peserta pelatihan.
  • Kegiatan penilaian untuk menilai kemampuan peserta pelatihan dalam melaksanakan praktik kerja.

Buku Penilaian

Buku penilaian ini digunakan oleh pelatih untuk menilai jawaban dan tanggapan peserta pelatihan pada Buku Kerja dan berisi :

  • Kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh peserta pelatihan sebagai pernyataan keterampilan.
  • Metode-metode yang disarankan dalam proses penilaian keterampilan peserta pelatihan.
  • Sumber-sumber yang digunakan oleh peserta pelatihan untuk mencapai keterampilan.
  • Semua jawaban pada setiap pertanyaan yang diisikan pada Buku Kerja.
  • Petunjuk bagi pelatih untuk menilai setiap kegiatan praktik.
  • Catatan pencapaian keterampilan peserta pelatihan.

1.2.3  Pelaksanaan Modul

Pada pelatihan klasikal, pelatih akan :

  • Menyediakan Buku Informasi yang dapat digunakan peserta pelatihan sebagai sumber pelatihan.
  • Menyediakan salinan Buku Kerja kepada setiap peserta pelatihan.
  • Menggunakan Buku Informasi sebagai sumber utama dalam penyelenggaraan pelatihan.
  • Memastikan setiap peserta pelatihan memberikan jawaban / tanggapan dan menuliskan hasil tugas praktiknya pada Buku Kerja.

Pada Pelatihan individual / mandiri, peserta pelatihan akan :

  • Menggunakan Buku Informasi sebagai sumber utama pelatihan.
  • Menyelesaikan setiap kegiatan yang terdapat pada buku Kerja.
  • Memberikan jawaban pada Buku Kerja.
  • Mengisikan hasil tugas praktik pada Buku Kerja.
  • Memiliki tanggapan-tanggapan dan hasil penilaian oleh pelatih.

1.2.4  Pengakuan Kompetensi Terkini (RCC)

Apakah Pengakuan Kompetensi Terkini (Recognition of Current Competency)?

Jika anda telah memiliki pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk elemen unit kompetensi tertentu, anda dapat mengajukan pengakuan kompetensi terkini (RCC). Berarti anda tidak akan dipersyaratkan untuk belajar kembali.

Anda mungkin sudah memiliki pengetahuan dan keterampilan, karena anda telah :

  1. Bekerja dalam suatu pekerjaan yang memerlukan suatu pengetahuan dan keterampilan yang sama atau
  2. Berpartisipasi dalam pelatihan yang mempelajari kompetensi yang sama atau
  3. Mempunyai pengalaman lainnya yang mengajarkan pengetahuan dan keterampilan yang sama.

1.2.5  Pengertian – Pengertian / Istilah

Profesi

Profesi adalah suatu bidang pekerjaan yang menuntut sikap, pengetahuan serta keterampilan / keahlian kerja tertentu yang diperoleh dari proses pendidikan, pelatihan serta pengalaman kerja atau penguasaan sekumpulan kompetensi tertentu yang dituntut oleh suatu pekerjaan / jabatan.

Standarisasi

Standarisasi adalah proses merumuskan, menetapkan serta menerapkan suatu standar tertentu.

 

Penilaian / Uji Kompetensi

Penilaian atau Uji Kompetensi adalah proses pengumpulan bukti melalui perencanaan, pelaksanaan dan peninjauan ulang (review) penilaian serta keputusan mengenai apakah kompetensi sudah tercapai dengan membandingkan bukti – bukti yang dikumpulkan terhadap standar yang dipersyaratkan.

Pelatihan

Pelatihan adalah proses pembelajaran yang dilaksanakan untuk mencapai suatu kompetensi tertentu dimana materi, metode dan fasilitas pelatihan serta lingkungan belajar yang ada terfokus kepada pencapaian unjuk kerja pada kompetensi yang dipelajari.

Kompetensi

Kompetensi adalah kemampuan seseorang untuk menunjukkan aspek sikap, pengetahuan dan keterampilan serta penerapan dari ketiga aspek tersebut di tempat kerja untuk mencapai unjuk kerja yang ditetapkan.

Standar Kompetensi

Standar kompetensi adalah standar yang ditampilkan dalam istilah-istilah hasil serta memiliki format standar yang terdiri dari judul unit, deskripsi unit, elemen kompetensi, kriteria unjuk kerja, ruang lingkup serta pedoman bukti.

Sertifikat Kompetensi

Sertifikan kompetensi adalah pengakuan tertulis atas penguasaan suatu kompetensi tertentu kepada seseorang yang dinyatakan kompeten yang diberikan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi.

Sertifikasi Kompetensi

Sertifikasi kompetensi adalah proses penerbitan sertifikat kompetensi melalui proses penilaian / uji kompetensi.

 


BAB II

STANDAR KOMPETENSI

2.1     Peta Paket Pelatihan

Modul yang sedang Anda pelajari ini bertujuan untuk mencapai satu unit kompetensi. Adapun kompetensi ini termasuk dalam satu paket pelatihan, yang terdiri atas unit – unit kompetensi berikut:

  1. TIK.JK05.001.01     Menentukan Strategi Perawatan

2.2     Pengertian Unit Standar Kompetensi

Apakah Standar Kompetensi? Setiap Standar Kompetensi menentukan :

  1. Pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk mencapai kompetensi.
    1. Standar yang diperlukan untuk mendemonstrasikan kompetensi.
    2. Kondisi dimana kompetensi dicapai.

Di dalam unit kompetensi ini, Anda akan mempelajari bagaimana Menentukan Strategi Perawatan.

Sistem pelatihan berbasis kompetensi terfokus pada pencapaian kompetensi, bukan pada lamanya waktu. Namun, diharapkan pelatihan ini dapat dilaksanakan dan dicapai dalam jangka waktu tidak lebih dari seminggu, tiga sampai lima hari. Pelatihan ini diperuntukkan khusus bagi para technical support, walaupun tidak menutup kemungkinan bagi semua orang yang terlibat dalam penggunaan komputer.

Jika Anda belum mencapai kompetensi pada usaha/kesempatan pertama, Pelatih Anda akan mengatur rencana pelatihan dengan Anda. Rencana ini akan memberikan Anda kesempatan kembali untuk meningkatkan level kompetensi Anda sesuai dengan level yang diperlukan. Jumlah maksimum usaha / kesempatan yang disarankan adalah 3 (tiga) kali.

2.3     Unit Kompetensi Yang Dipelajari

Dalam sistem pelatihan Standar Kompetensi diharapkan menjadi panduan bagi peserta pelatihan untuk dapat :

  1. Mengidentifikasikan apa yang harus dikerjakan peserta pelatihan.
  2. Memeriksa kemajuan peserta pelatihan.
  3. Meyakinkan bahwa semua elemen (sub-kompetensi) dan kriteria unjuk   kerja telah dimasukkan dalam pelatihan dan penilaian.

2.3.1  Kode dan Judul Unit

Kode Unit     : TIK.JK05.001.01

Judul Unit     : Menentukan Strategi Perawatan

2.3.2  Deskripsi Unit

Unit ini menjelaskan kemampuan yang diperlukan untuk melakukan strategi-strategi perawatan dan proses-proses pendukung untuk menjaga kontinuitas operasi IT dan fungsi bisnis. Strategi Perawatan yang dibahas dalam unit ini mencakup Perawatan Hardware yang terdiri dari Komputer (End System), Media Transmisi dan Perangkat Jaringan (Intermediate System), Perawatan Software yang terdiri dari Sistem Operasi, Aplikasi, dan Utility. Unit ini bukan hanya membahas tentang Perawatan Hardware dan Software semata, tetapi membahas juga tentang Prosedur dan Perawatan terhadap Data.

2.3.3  Elemen Kompetensi

 

ELEMEN KOMPETENSI

KRITERIA UNJUK KERJA

01   Mengidentifikasi dan menganalisis kebutuhan perawatan perusahaan 1.1     Resiko kesalahan fungsi sistem terhadap kontinuitas bisnis diidentifikasi untuk menghitung kemungkinan kerugian.

1.2     Fungsi bisnis inti diidentifikasi dan persyaratan layanan ditentukan.

1.3     Filosofi perawatan dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan organisasi dan disampaikan ke klien eksternal.

02   Mengidentifikasi dan menganalisis komponen-komponen IT dan / atau perangkat lunak yang dirawat 2.1      Dokumentasi konfigurasi dan arsitektur sistem ditinjau ulang agar tetap kini.

2.2     Audit peralatan dan / atau perangkat lunak di lakukan jika informasi yang diperlukan tidak tersedia.

2.3     Status garansi dari beberapa komponen dan/atau perangkat lunak diidentifikasi dan didokumentasikan menurut aturan perusahaan atau proyek.

2.4     Komponen dan / atau perangkjat lunak IT kritis di identifikasi dan rekomendasi kemungkinan pengaturan layanan didokumentasikan.

03   Mengembangkan Service Level Agreements (perjanjian tingkat layanan) atau SLA 3.1      Persyaratan dan pendapat pengguna ditentukan untuk mengidentifikasi persyaratan perawatan.

3.2     Perjanjian tingkat layanan (SLA) disiapkan untuk  mencocokan pengguna dengan persyaratan bisnis.

04   Memformulasikan strategi perawatan. 4.1 Pilihan – pilihan perawatan diuji dengan mempertimbangkan kendala biaya, resiko pada kontinuitas bisnis dan SLA.

4.2 Strategi perawatan yang spesifik diidentifikasi berdasarkan  pada biaya, bisnis dan persyaratan SLA.

4.3 Jadwal perawatan pencegahan ditentukan     berdasarkan biaya, bisnis dan persyaratan SLA.

4.4   Strategi perawatan disetujui  oleh pengguna dan        perubahan dibuat pada SLA bila perlu

4.5 Strategi perawatan yang direkomendasikan         didokumentasikan dan disetujui oleh otoritas yang lebih tinggi menurut persyaratan perusahaan

05   Mendefinisikan proses serta standar pelanggan dan pemasok 5.1 Prosedur laporan untuk meminta layanan ditentukan bersama pelanggan dan pemasok yang berpengaruh terhadap kontinuitas dan kekritisan bisnis komponen dan/atau perangkat lunak IT.

5.2   Standar respon waktu ditentukan bersama pelanggan dan pemasok yang berpengaruh terhadap kontinuitas bisnis komponen dan/atau perangkat lunak IT.

5.3   Prosedur eskalasi diidentifikasi dan ditentukan bersama pelanggan dan pemasok yang berpengaruh terhadap kontinuitas bisnis komponen dan/atau perangkat lunak IT.

5.4   Help desk dan fungsi dukungan lain diatur menurut prosedur dan standar yang disetujui dan sesuai dengan praktek terbaik yang ada di industri.

Tabel 1 Elemen Kompetensi

2.3.4 Batasan Variabel

Batasan variabel dalam bahasan ini adalah:

1.  Unit ini berlaku untuk seluruh sektor teknologi informasi dan komunikasi.

2.  Dalam melaksanakan unit kompetensi ini harus didukung dengan tersedianya :

2.1     Peralatan perawatan

2.2     Peralatan troubleshooting jaringan komputer.

 

 

2.3.5 Panduan Penilaian

  1. 1.           Pengetahuan dan keterampilan penunjang

Untuk mendemontrasikan kompetensi, memerlukan bukti keterampilan dan pengetahuan di bidang berikut ini.

1.1     Pengetahuan dasar

1.1.1  Konsep jaringan komputer.

1.1.2  Konsep  troubleshooting PC.

1.2     Keterampilan dasar

1.2.1  Mengidentifikasi dan Menganalisis permasalahan jaringan.

1.2.2 Merencanakan dan mengembangkan program mengikuti standar pengembangan program.

2.       Konteks penilaian

Kompetensi harus diujikan di tempat kerja atau di tempat lain secara praktek dengan kondisi kerja sesuai dengan keadaan normal

3.       Aspek penting penilaian

Dalam melaksanakan penilaian pada unit kompetensi ini harus mempertimbangkan:

3.1         Kemampuan untuk melakukan perawatan.

3.2         Kemampuan untuk  melakukan backup dan recovery sistem

4.       Kaitan dengan unit-unit lainnya

4.1     Unit ini didukung oleh pengetahuan dan keterampilan dalam unit kompetensi yang berkaitan dengan:

4.1.1   TIK.JK05.002.01 :  Melaksanakan prosedur perawatan

4.2         Pengembangan pelatihan untuk memenuhi persyaratan dalam unit ini perlu dilakukan dengan hati-hati. Untuk pelatihan pra-kejuruan umum, institusi harus menyediakan pelatihan yang mempertimbangkan serangkaian konteks industri seutuhnya tanpa bias terhadap sektor tertentu. Batasan variabel akan membantu dalam hal ini. Untuk sektor tertentu/ khusus, pelatihan harus disesuaikan agar dapat memenuhi kebutuhan sektor tersebut.

 2.3.6 Kompetensi Kunci

Kompetensi kunci dalam bahasan ini dapat dilihat dalam tabel di bawah ini.

NO

KOMPETENSI KUNCI DALAM UNIT INI

TINGKAT

1

Mengumpulkan, mengorganisir dan menganalisa informasi

2

2

Mengkomunikasikan ide-ide dan informasi

2

3

Merencanakan dan mengorganisir aktivitas-aktivitas

2

4

Bekerja dengan orang lain dan kelompok

2

5

Menggunakan ide-ide dan teknik matematika

2

6

Memecahkan masalah

2

7

Menggunakan teknologi

2

Tabel 2 Kompetensi Kunci

 

 

 


BAB III

STRATEGI DAN METODE PELATIHAN

3.1        Strategi Pelatihan

Belajar dalam suatu Sistem Berbasis Kompetensi berbeda dengan yang sedang “diajarkan” di kelas oleh Pelatih. Pada sistem ini Anda akan bertanggung jawab terhadap belajar Anda sendiri, artinya bahwa Anda perlu merencanakan belajar Anda dengan Pelatih dan kemudian melakukan praktek sesuai dengan rencana yang telah dibuat.

Persiapan/perencanaan

  1. Membaca bahan/materi yang telah diidentifikasi dalam setiap tahap belajar dengan tujuan mendapatkan tinjauan umum mengenai isi proses belajar Anda.
  2. Membuat catatan terhadap apa yang telah dibaca.
  3. Memikirkan bagaimana pengetahuan baru yang diperoleh berhubungan dengan pengetahuan dan pengalaman yang telah Anda miliki.
  4. Merencanakan aplikasi praktik pengetahuan dan keterampilan Anda.

Permulaan dari proses pembelajaran

  1. Mencoba mengerjakan seluruh pertanyaan dan tugas praktik yang terdapat pada tahap belajar.
  2. Merevisi dan meninjau materi belajar agar dapat menggabungkan pengetahuan Anda.

Pengamatan terhadap tugas praktik

  1. Mengamati keterampilan praktik yang didemonstrasikan oleh Pelatih atau orang yang telah berpengalaman lainnya.
  2. Mengajukan pertanyaan kepada Pelatih tentang konsep sulit yang Anda temukan.

Implementasi

  1. Menerapkan pelatihan kerja yang aman.
  2. Mengamati indikator kemajuan personal melalui kegiatan praktik.
  3. Mempraktikkan keterampilan baru yang telah Anda peroleh.

Penilaian

Melaksanakan tugas penilaian untuk penyelesaian belajar Anda.

3.2        Metode Pelatihan

Terdapat tiga prinsip metode belajar yang dapat digunakan. Dalam beberapa kasus, kombinasi metode belajar mungkin dapat digunakan.

Belajar secara mandiri

Belajar secara mandiri membolehkan Anda untuk belajar secara individual, sesuai dengan kecepatan belajarnya masing-masing. Meskipun proses belajar dilaksanakan secara bebas, Anda disarankan untuk menemui Pelatih setiap saat untuk mengkonfirmasikan kemajuan dan mengatasi kesulitan belajar.

Belajar Berkelompok

Belajar berkelompok memungkinkan peserta untuk datang bersama secara teratur dan berpartisipasi dalam sesi belajar berkelompok. Walaupun proses belajar memiliki prinsip sesuai dengan kecepatan belajar masing-masing, sesi kelompok memberikan interaksi antar peserta, Pelatih dan pakar/ahli dari tempat kerja.

Belajar terstruktur

Belajar terstruktur meliputi sesi pertemuan kelas secara formal yang dilaksanakan oleh Pelatih atau ahli lainnya. Sesi belajar ini umumnya mencakup topik tertentu.

 

 

BAB IV

MATERI UNIT KOMPETENSI

4.1     Tujuan Instruksional Umum

  • Siswa memahami pentingnya perawatan terhadap infrastruktur jaringan komputer dan aplikasi yang jalan diatasnya.
  • Siswa mampu menceritakan dan menjelaskan bagaimana menentukan strategi perawatan terhadap suatu sistem, termasuk menentukan peralatan dan bahan yang dibutuhkannya.
  • Siswa mampu menceritakan dan menjelaskan tentang Backup Data.
  • Siswa dapat mengetahui komponen penyusun suatu Sistem Komputer dan mengetahui bagaimana cara merawatnya.
  • Siswa dapat mengetahui komponen penyusun suatu Sistem Jaringan dan mengetahui bagaimana cara merawatnya.
  • Siswa dapat mengetahui macam – macam perangkat lunak dan mengetahui cara merawatnya.
  • Siswa dapat membuat dokumentasi yang berkaitan dengan tugas perawatan suatu sistem.
  • Siswa dapat mengetahui komponen penyusun suatu Sistem Informasi dan bagaimana cara merawatnya.
  • Siswa dapat memilih media yang dipakai untuk menyimpan Data Cadangan (Backup).
  • Siswa mampu melakukan BackUp dan Restore terhadap Data yang berupa File di suatu System File.
  • Siswa mengetahui berbagai metoda Backup beserta kelebihan dan kekurangannya.
  • Siswa mengerti tentang kelebihan dan kekurangan dari Pro Active Maintenance dan Reactive Maintenance

4.2     Tujuan Instruksional Khusus

 

 

4.3     Latar Belakang Penentuan Strategi Perawatan

Makin meningkatnya level ketergantungan perusahaan / institusi pada umumnya terhadap pemanfaatan komputer beserta infrastruktur jaringan komputer dalam menjalankan bisnisnya merupakan hal yang tidak dapat dipungkiri lagi. Hal ini ditunjang berbagai faktor, diantaranya seperti makin murahnya perangkat komputer beserta perangkat pendukungnya, makin banyaknya anggota masyarakat / pegawai pada khususnya yang memiliki kemampuan untuk mengoperasikan berbagai perangkat lunak komputer, dan makin banyaknya institusi yang meyakini dan merasakan manfaat penggunaan komputer dalam menunjang proses bisnisnya. Globalisasi, pasar bebas dan perkembangan internet sebagai prasarana bisnis pun ikut meningkatkan peran komputer dan jaringan komputer dalam berbagai proses bisnis.

Gangguan yang terjadi pada operasional jaringan akan mengakibatkan kerugian yang tidak kecil, terutama pada perusahaan yang tingkat ketergantungannya sudah sangat tinggi misalnya bank dan bursa efek. Akibat dari terganggunya operasional jaringan dapat mengakibatkan ribuan bahkan jutaan transaksi akan hilang, sehingga mengakibatkan kerugian yang cukup besar bagi institusi atau perusahaan yang bersangkutan. Sebagai contoh kejadian putusnya jaringan telepon AT&T / Lucent selama sembilan jam pada bulan januari 1990 mengakibatkan kerugian 60 juta USD sampai 75 juta USD (sumber : Buku Manajemen Jaringan TCP/IP). Apalagi kalau kejadian tersebut terjadi tahun sekarang yang jelas – jelas lebih banyak lagi transaksi yang akan terganggu apabila kejadian tersebut terjadi lagi.

 

4.4     Identifikasi Dan Analisa Kebutuhan Perawatan

Dalam menentukan strategi perawatan terhadap infrastruktur jaringan komputer beserta aplikasi yang jalan diatasnya pada suatu institusi atau perusahaan perlu melalui berbagai tahap. Tahap pertama merupakan tahap yang sangat penting, yaitu penentuan dokumen acuan perawatan sistem yang melibatkan berbagai pihak, paling tidak melibatkan pihak pelaksana yang melaksanakan proses perawatan, dan bussiness owner / managerial people. Didalam dokumen tersebut paling tidak dicantumkan informasi tentang core bussiness dari institusi / lembaga sehingga dapat diketahui peran dari infrastruktur jaringan komputer dan aplikasinya secara global, daftar sistem dan sub sistem utama beserta nilai Availability atau nilai Toleransi terhadap Down dari tiap sistem atau sub sistem yang bersangkutan (misalnya sistem x dalam 1 tahun atau periode tertentu tidak boleh down lebih dari y jam), apabila memungkinkan adanya Appraisal tentang nilai kerugian yang timbul apabila sistem atau suatu sub sistem down dalam satuan waktu tertentu, maka nilainya dicantumkan juga dalam dokumen. Dicantumkan juga daftar penanggung jawab dari tiap sistem atau sub sistem yang harus dihubungi oleh petugas perawatan apabila akan menjalankan tugasnya berkaitan dengan perawatan dari sistem maupun sub sistem tersebut. Tahapan berikutnya merupakan tahap pelaksanaan dan dokumentasi, dan juga tahapan evaluasi.

Hal – hal yang harus dirawat secara umum adalah perangkat keras, perangkat lunak dan data. Perawatan terhadap Data sering terabaikan, padahal hilangnya Data memberikan permasalahan yang tidak kecil terhadap operasional bisnis institusi. Selain itu perlu disadari bahwa karakteristik data ini adalah seiring dengan waktu dan / atau bertambahnya data yang ada di sistem, makin makin tinggi pula lah nilai atau value dari data tersebut. Berbeda dengan perangkat keras yang nilainya terus menurun karena aus atau rusak. Begitu pula dengan perangkat lunak yang nilainya bisa terus menurun karena fungsinya digantikan oleh perangkat lunak yang lain ataupun karena sudah tersedianya perangkat lunak yang versi nya lebih baru.

 

4.5     Filosofi Perawatan

Perawatan, dalam hal ini perawatan infrastruktur komputer beserta aplikasi yang jalan diatasnya sebenarnya merupakan kegiatan yang dilaksanakan supaya komponen – komponen infrastruktur komputer dan aplikasi yang jalan diatasnya dapat menjalankan fungsinya sesuai dengan yang diharapkan.

Sebenarnya proses perawatan merupakan tanggung jawab semua pihak atau semua sumber daya manusia yang ada di institusi, dan hal ini harus disosialisasikan dan dapat disadari paling tidak diketahui oleh seluruh lapisan, dari lapisan managerial sampai lapisan pelaksana. Untuk menunjang hal tersebut dapat juga dibuat suatu aturan atau Standar Prosedur Operasional tindakan perawatan yang dapat dilakukan oleh semua pihak dan dinyatakan pula punishment apabila hal tersebut tidak dilaksanakan. Mengenai reward-nya sebenarnya sudah jelas yaitu tidak terganggunya kegiatan kerja semua pihak, kecuali apabila pihak manajemen memiliki kebijakan untuk memberikan reward terhadap sumber daya manusia yang paling konsisten dalam melaksanakan aturan tersebut.

 

4.6     Strategi Perawatan

Dalam melaksanakan perawatan, paling tidak dikenal 2 pendekatan, yaitu Reactive Maintenance yang bersifat Represive dan Pro Active Maintenance yang bersifat Preventive. Reactive Maintenance dilakukan karena adanya permintaan dari pengguna sistem sehubungan dengan permasalahan pada infrastruktur jaringan komputer dan/atau aplikasinya yang menghambat tugasnya atau dengan kata lain perawatan dilakukan setelah terjadinya suatu permasalahan. Sedangkan Pro Active Maintenance dilakukan tanpa menunggu adanya permasalahan yang diajukan oleh pengguna sistem, jadi biasanya dilakukan terjadwal atau dilakukan karena hasil kesimpulan analisa terhadap data – data hasil monitoring terhadap sistem memanfaatkan Network Management System yang menggunakan protokol manajemen seperti Simple Network Management Protocol.

 

 

 

 

 

4.7     Sistem Organisasi

Dalam melakukan perawatan dari sistem dan sub sistem yang telah ditetapkan kriterianya pada dokumen acuan perawatan sistem, perlu diketahui dan dipahami tentang Sistem, dalam hal ini Sistem Informasi beserta komponen penyusunnya.

Sistem Organisasi terdiri dari Subsistem Manajerial (bagian yang berfikir, bagian yang mengendalikan) dan Subsistem Logistical / Produksi (bagian yang melakukan kerja produksi, bagian yang dikendalikan). Kemudian Subsistem Manajerial dibagi berdasarkan fungsi transformasi yang dilakukan : Sistem Informasi (bagian yang melakukan transformasi data menjadi informasi), Sistem Decision Making (bagian yang melakukan transformasi informasi menjadi keputusan) dan Sistem Ordering (bagian yang melakukan transformasi keputusan menjadi perintah).

Kemungkinan pemanfaatan sistem komputer (otomatisasi) di tiap sistem :

Sistem Informasi

  • Melakukan data capturing langsung dari event kerja.
  • Membantu strukturisasi dan kompaksi store dan mempercepat retrieve / search.
  • Membantu komputasi pada proses transformasi data menjadi informasi
  • Membantu koleksi dan distribusi data / informasi.

Sistem Decision Making

  • Melahirkan alternatif keputusan
  • Membantu memperhitungkan konsekuensi dari suatu alternatif keputusan
  • Bekerjasama secara interaktif dengan pengambil keputusan, terutama untuk jenis keputusan yang bersifat kompleks (mungkin semi terprogram)
  • Sudah langsung membuat keputusan tanpa campur tangan manusia secara langsung.

Sistem Ordering

  • Kompilasi keputusan menjadi perintah
  • Mendistribusikan perintah dalam struktur organisasi

Sistem Logistical / Produktif

  • Otomatisasi kerja logistical / produktif

Kriteria umum Sistem Informasi : debit (jumlah data dan informasi yang mengalir (bits) per satuan waktu, makin rendah makin baik, tetapi tanpa mengorbankan fungsinya), response time (waktu antara event, reaksi terhadap event, sampai dengan proses terhadap event selesai dilakukan, makin cepat makin baik, tapi harus diperhitungkan masalah biaya),cost (makin rendah makin baik, tetapi tanpa mengorbankan fungsinya), pemenuhan fungsi (sulit dikuantifikasikan, harus didefinisikan bentuk dan macamnya per kasus).

Parameter umum Sistem Informasi : metoda / teknik (tercermin dalam cara kerja sistem, dapat meliputi semua jenis teknologi yang terkait, cara pengorganisasian … ), karakteristik peralatan dan bahan (kualitas peralatan dan bahan, daya tahan, ketersediaan, dukungan teknis, … ), karakteristik sumber daya manusia (skill teknikal, kemampuan kerja sama, daya tahan, … ).

Terdapat 2 variabel dalam dimensi karakter kebutuhan Informasi, yaitu : sifat keterdefinisian (merupakan suatu kontinyum dari terdefinisi dengan baik sampai dengan tidak (dapat) didefinisikan dengan cukup baik), dan sifat terhadap waktu (keterjadwalan, terjadwal vs sewaktu waktu).

Dari penjelasan sebelumnya, maka berikut ini ditampilkan contoh dari jenis Sistem Informasi :

  • Routine Processing System (melayani kebutuhan yang terdefinisi dan terjadwal)
  • Decision Support System (melayani kebutuhan yang tidak dapat didefinisikan dengan baik (pada saat perancangan) … bisa terjadwal bisa tidak … )
  • Classical Management Information System  (tekanan pada sifat responsnya yang cepat)
  • Distributed Data Processing System (melayani kebutuhan yang tersebar secara geografis, dengan resources yang tersebar)
  • Transaction Processing System (berfungsi bereaksi terhadap (melayani) event yang bersifat transaksional / membawa perubahan terhadap state system)

Menurut sub-fungsi, maka komponen Sistem Informasi adalah, sub-fungsi : data capturing & collecting, data / information transmission & distribution, data storage & retrieval, dan data manipulation / computation. Sedangkan menurut jenis resources Sistem Informasi terdiri dari:

1. Brainware

2. Hardware

3. Software

4. Standar Prosedur Operasional / sistem-prosedur

 

4.8     Identifikasi dan Analisa Komponen IT / Perangkat Lunak

Untuk dapat melakukan perawatan dengan baik, diperlukan pemahaman tentang apa yang dirawat. Dalam tulisan ini yang dirawat adalah komponen Information Technology dan perangkat lunak.

Komponen Information Technology yang dimaksud adalah seluruh komponen perangkat keras yang berkaitan dengan teknologi informasi baik yang membentuk infrastruktur jaringan maupun yang beridiri sendiri atau Stand Alone.

Untuk memahami komponen IT atau lebih detilnya perangkat keras, maka yang pertama harus dimiliki / dibaca / dipelajari adalah Arsitekturnya.

Arsitektur dari suatu sistem merupakan penggambaran keterkaitan antara komponen – komponen dari suatu sistem. Secara infrastruktur, dokumentasi arsitektur yang harus ada paling tidak adalah gambar atau peta dari jaringan yang didalamnya terdapat :

  • penggambaran topologi dari jaringan,
  • lokasi semua End System (Node di jaringan yang tidak memiliki fungsi untuk mem-forward data),
  • lokasi Intermediate System (Node di jaringan yang memiliki fungsi untuk mem-forward data),
  • media transmisi yang menghubungkannya.
  • Peripheral lainnya

 

Contoh dari Topologi jaringan :

 

 

 

Terjadinya mutasi End System / Node ataupun Intermediate System, baik yang berupa Komputer atau bukan, peristiwa penambahan atau pengurangan perangkat keras akan berpengaruh terhadap arsitektur sistem. Sering terjadi dokumen tentang arsitektur sistem yang dimiliki oleh suatu institusi tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya di lapangan. Hal ini harus dihindari. Secara periodik seharusnya dilakukan tes kesesuaian dokumen arsitektur sistem dengan keadaan sebenarnya di lapangan. Sebenarnya hal ini bisa tidak dilakukan apabila setiap ada kegiatan yang berpengaruh terhadap arsitektur sistem, dilakukan pula perubahan terhadap dokumentasi arsitektur sistem. Pendataan biasanya dilakukan dengan cara pemeriksaan fisik, tapi sekarang sudah banyak alat bantu yang berupa program aplikasi yang mampu menggambarkan topologi dari jaringan. Teknik yang lebih baik lagi adalah dengan memanfaatkan pemakaian protocol manajemen jaringan seperti SNMP (Simple Network Management Protocol), baik di End System maupun Intermediate System. Dengan melakukan hal ini, maka kita bisa memiliki dokumentasi arsitektur sistem yang selalu up to date.

Konfigurasi dari semua komputer yang terhubung ke jaringan pun harus didokumentasikan dengan baik, seperti konfigurasi perangkat keras (Kelas Processor, besarnya storage, besarnya Internal Memory, Cache Memory, Tipe/Jenis dan Merk Motherboard, Expansion Card yang terpasng, versi BIOS, jenis – jenis interface yang dimiliki beserta versinya) ataupun konfigurasi perangkat lunak (Versi Major dari Client Side, Client Service Pack yang terpasang, Client Patch yang terpasang, vendor, Versi Major dari Server Side, Server Service Pack yang terpasang, Server Patch yang terpasang IP Address, Windows Internet Name Service, Medium Access Contol Address, Default Gateway, Domain Name Service, Hostname / Computername, driver beserta versi driver yang terpasang, Serial Number atau Product Number, Versi Browser, Konfigurasi Firewall dll).

Konfigurasi yang berkaitan dengan perangkat lunak yang sudah dijelaskan diatas sebenarnya baru menyentuh konfigurasi perangkat lunak di sisi Sistem Operasi dan / atau Internetwork Operating System.

Dokumen tentang konfigurasi software selain Sistem Operasi, seperti Aplikasi (jenis teknologi yang dipakainya apakah Two Tier atau Three Tier, daftar komputer tempat dimana aplikasi tersebut di-install, Versi dari Apliasi). Web Server (Aplikasi Web Server yang digunakan beserta versinya Internet Inforation Server; Apache dll, port yang dipakai apakah port default (Port 80) atau non default, Server Side Scripting yang di support, Virtual Directory, daftar user yang hosting, kuota masing – masing user, domain name yang dilayani, subdomain yang dilayani, IP Address atau Hostname tempat dimana Web Server di-install), Database Server (Database Engine yang digunakan beserta versinya, port yang dipakai apakah port default; misal Port 1521 untuk Oracle; Port 1433 untuk Microsoft SQL Server; Port 5432 untuk PostgreSQL; atau non default, Structured Query Language Dialect yang digunakan ; seperti Transact SQL; PL/SQL; PG/SQL, Database Name yang terdaftar, daftar user, hak masing – masing user, Aplikasi yang dilayani, IP Address atau Hostname tempat dimana Database Server di-install), FTP Server (aplikasi FTP Service yang digunakan beserta versinya, port yang dipakai apakah port default; misal Port 20 dan 21; atau non default, daftar user, hak masing – masing user, IP Address atau Hostname tempat dimana FTP Server di-install), Communication Server (aplikasi Communication Service yang digunakan beserta versinya, daftar user, hak masing – masing user, IP Address atau Hostname tempat dimana Communication Server di-install, Policy dan Auditing yang diterapkan), Mail Server (Mail Engine yang digunakan beserta versinya, port yang dipakai apakah port default; misal Port 25 untuk SMTP; Port 110 untuk POP3; atau non default, daftar user, hak masing – masing user, IP Address atau Hostname tempat dimana Mail Server di-install, Domain yang ditangani, Policy dan Auditing yang diterapkan).

Secara rutin semua hal tersebut harus diaudit. Hal ini dapat dilakukan secara Remote, tanpa harus berkunjung ke lokasi / komputersoftware tersebut di-install.

Selain konfigurasi komputer, juga harus dicatat konfigurasi dari Intermediate System yang dalam hal ini kebanyakan berupa Concentrator. Dokumentasi konfigurasi untuk Intermediate System diantaranya : Jumlah Port, Layer 2 network protocol yang dipakai, Access Control List, Policy, Routing Table dll.

Semua perangkat keras maupun perangkat lunak yang sudah dibeli harusnya memiliki dokumen tentang garansi yang diberikan oleh Vendor, Supplier, atau Konsultan Pengembang Perangkat Lunak. Semua dokumen ini harus dikelola dengan baik, karena apabila ada permasalahan dengan perangkat lunak ataupun perangkat keras yang terjadi pada masa garansi, maka kita bisa menghubungi pihak yang memberikan garansi untuk mendapatkan pelayanan, sehingga permasalahan yang terjadi dapat diselesaikan. Dokumen tentang garansi dari perangkat lunak dan / atau perangkat keras yang bermasalah tersebut, dapat dipakai sebagai bukti apabila Vendor / Supplier / Konsultan pengembang perangkat lunak mencoba untuk melalaikan kewajibannya. Apabila memungkinkan, sebaiknya dibuat aplikasi yang dapat memberikan informasi tentang status garansi dari suatu perangkat keras ataupun perangkat lunak yang dimiliki.

Khusus untuk perangkat lunak, salah satu hal yang harus diperhatikan berkaitan dengan garansi perangkat lunak adalah ada kaitannya dengan gratis atu tidak gratis suatu perangkat lunak. Karena banyak perangkat lunak yang gratis dalam klausul pemakaiannya tidak memberikan jaminan apapun. Sedangkan bagi software yang tidak gratis, maka garansinya pun biasanya hanya terbatas pada masalah update. Ini pun dapat kita peroleh apabila ketentuan License atau Lisensi dari perangkat lunak yang bersangkutan dipenuhi. Karena Lisensi sebenarnya banyak jenisnya ada yang lisensi per prosesor, per komputer, ada juga yang lisensi per perusahaan. Walaupun perlu kita tahu bahwa sebenarnya lisensi tidak selalu tidak gratis, namun ada juga lisensi untuk freeware, seperti Mozilla Licensed, General Public License, Open License dll. Untuk masalah Customized Software atau Customized Application biasanya garansi yang diberikan berhubungan erat dengan Term Of Refference yang sudah disepakati pada saat proses awal persetujuan pengembangan dari aplikasi. Garansi yang diberikan biasanya hanya meliputi hal – hal telah dinyatakan dalam Term Of Refference dan itu pun biasanya hanya berlaku pada cakupan waktu tertentu (sejak deployment atau pemasangan aplikasi atau instalasi aplikasi dilaksanakan). Pengecualian terhadap hal itu terjadi apabila dibuat suatu perjanjian atau kontrak pemeliharaan antara pihak Konsultan pengembang perangkat lunak dengan manajemen institusi berkaitan dengan pemakaian perangkat lunak untuk menunjang proses bisnis. Kontrak yang dibuat dapat juga mencakup penambahan fungsi yang sebelumnya tidak terdapat dalam Term Of Refference pelaksanaan pekerjaan awal.

Diantara komponen perangkat keras yang ada, biasanya terdapat perangkat keras yang memiliki peran dan fungsi yang lebih dari yang lain. Untuk topologi jaringan bertipe STAR atau STAR BUS, maka komponen jenis Concentrator (baik berupa HUB, SWITCH, ROUTER, Gateway) memiliki peran cukup kritis karena apabila tidak berfungsi dapat menyebabkan infrastruktur jaringan tidak dapat berfungsi penuh, sehingga semua aplikasi yang memanfaatkannya pun tidak dapat berfungsi pula. Selain Concentrator, perangkat keras Server pun memegang peran yang cukup kritis karena menjadi platform dari suatu layanan yang disediakannya kepada semua pengguna jaringan. Perangkat keras lainnya sangat tergantung pada kasus per kasus yang dihadapi pada tiap institusi.

Dari sisi perangkat lunak, peran kritis biasanya dimiliki oleh perangkat lunak yang menjalankan layanan bagi jalannya bisnis suatu institusi, misalnya Database Server, Application Server dan Authentication Service yang dijalankan oleh sistem operasi sekelas Network Operating System. Dengan makin meningkatnya peran email sebagai sarana komunikasi, maka peran Mail Server pun menjadi sangat kritis. Demikian pula halnya dengan perangkat lunak, bahwa tingkat kekritisan suatu perangkat lunak tergantung kasus per kasus dari tiap institusi.

Karena peran kritis yang dimiliki oleh suatu perangkat keras atau perangkat lunak, maka hal tersebut harus didokumentasikan dan disiapkan pula prosedur yang harus dilakukan apabila terjadi gangguan fungsi pada perangkat keras dan / atau perangkat lunak tersebut. Diantara yang dapat kita lakukan adalah menyediakan stand by device / system ataupun backup device / system yang dapat menggantikan fungsi perangkat yang mengalami gangguan.

4.9     Service Level Agreements

Perawatan melibatkan orang atau badan yang melakukan perawatan, perangkat keras dan / atau perangkat lunak yang dirawat, dan pengguna dari perangkat keras dan / atau perangkat lunak yang dirawat.  Karena proses perawatan melibatkan paling tidak 2 pihak dan perawatan merupakan pekerjaan yang termasuk pada kelompok jasa, maka harus ada acuan tentang pelaksanaan proses perawatan untuk menghindari konflik yang mungkin terjadi karena ada pihak yang merasa dirugikan pada pelaksanaan proses perawatan. Acuan ini dikenal dengan istilah Service Level Agreements.

Didalam dokumen Service Level Agreements harus dicantumkan beberapa hal, yang meliputi permintaan dari End User berkaitan dengan layanan yang mereka perlukan, response time maksimum apabila terjadi permasalahan pada perangkat lunak dan / atau perangkat keras yang memerlukan perawatan (menunjukkan maksimum waktu penyelesaian terhadap suatu masalah dari mulai adanya permintaan, sampai dengan penyelesaian terhadap permasalahan yang terjadi), availability dari suatu perangkat keras dan / atau perangkat lunak (ketersediaan untuk tetap berfungsi, misalnya 24/7 : perangkat harus beroperasi terus menerus). Toleransi terhadap Availability, artinya kalau pun terjadi sesuatu yang membuat suatu perangkat tidak dapat beroperasi, diharapkan tidak melebihi suatu patokan waktu tertentu. Dicantumkan juga masalah jangka waktu layanan yang diatur dalam Service Level Agreements. Pada prinsipnya pembuatan atau isi dokumen Service Level Agreements dipengaruhi oleh kebijakan institusi, kepentingan bisnis institusi, harapan / keinginan / kebutuhan End User, Critical Level suatu perangkat, dan juga biaya yang harus dikeluarkan.

4.10   Formulasi Strategi Perawatan

Setelah mengetahui komponen yang harus dirawat dengan Critical Level nya masing – masing, berikutnya harus dipelajari tentang berbagai cara perawatan yang dapat dilakukan terhadap masing – masing perangkat keras dan / atau perangkat lunak. Salah satu sumber awal informasi cara perawatan adalah petunjuk pemeliharaan yang dibuat oleh Vendor / Supplier / Konsultan pengembang perangkat lunak. Sumber lainnya dapat dicari dari berbagai literatur, baik non elektronis maupun elektronis (cari di Internet). Tak kalah bernilainya adalah pengalaman praktis yang dimiliki oleh pelaksana perawatan baik yang terdokumentasi dalam suatu Log / Frequently Ask Question maupun yang tak terdokumentasi. Kesemua alternatif yang ada sebaiknya dilakukan uji coba atau test case dalam skala Lab atau simulasi yang harus kita sediakan sarana prasarananya. Hal yang harus diperhatikan dalam pemilihan berbagai cara perawatan untuk tiap perangkat keras dan / atau perangkat lunak adalah efisiensi (berkaitan dengan cara), efektifitas (berkaitan dengan keberhasilan), dan biaya. Trade Off antara biaya dan pemenuhan kebutuhan bisnis yang ditunjang oleh perangkat yang dirawat sering terjadi dan harus dipertimbangkan dengan matang.

Selain faktor efisiensi, efektifitas, dan biaya, service level agreements yang sudah ada pun harus dipertimbangkan dalam memilih cara perawatan yang akan digunakan dalam proses perawatan perangkat keras dan / atau perangkat lunak. Kemungkinan terhadap perubahan terhadap isi dari Service Level Agreement pun dapat terjadi, tentunya dengan kesepakatan semua pihak.

Tindakan Preventive Maintenance atau Proactive Maintenance yang sejalan dengan istilah “Lebih baik mencegah daripada mengobati”, selain karena supaya perangkat keras dan / atau perangkat lunak tetap Available, juga mengurangi atau bahkan mencegah terjadinya System Failure atau Downtime, yang pengaruhnya juga pada pengurangan biaya perbaikan.

Salah satu hal yang sangat erat dengan Proactive Maintenance adalah melaksanakan proses Backup terhadap Data yang dimiliki oleh suatu institusi. Hal – hal yang harus diperhitungkan dalam masalah Backup ini adalah berbagai Metoda Backup, karakteristik media penyimpanan, Backup Schedulling, dan Backup Location.

Metoda Backup

Ada beberapa metoda :

    1. Full
    2. Incremental
    3. Differential
    4. Copy
    5. Kombinasi dari metoda diatas

Full : Merupakan proses Backup yang dilakukan terhadap File atau Folder yang dipilih, setelah Backup dilakukan maka terhadap File atau Folder yang telah di Backup dilakukan perubahan attribut dari status File atau Folder, sehingga terdapat informasi waktu Backup

Incremental : Merupakan proses Backup yang dilakukan terhadap File atau Folder yang dipilih yang telah berubah isinya setelah proses Backup terahir, setelah Backup dilakukan maka terhadap File atau Folder yang telah di Backup dilakukan perubahan attribut dari status File atau Folder, sehingga terdapat informasi waktu Backup

Differential : Merupakan proses Backup yang dilakukan terhadap File atau Folder yang dipilih yang telah berubah isinya setelah proses Backup terahir, setelah Backup dilakukan maka terhadap File atau Folder yang telah di Backup TIDAK dilakukan perubahan attribut dari status Backup File atau Folder.

Copy : Merupakan metoda yang paling banyak orang lakukan, yaitu proses Backup terhadap File atau Folder yang dipilih tanpa memperhatikan status / attribut Backup dari File atau Folder.

Untuk kecepatan proses Backup dapat dilakukan dengan mengkombinasikan metoda Full Backup dengan Incremental. Sedangkan untuk kecepatan proses Restore dapat dilakukan dengan mengkombinasikan metoda Full Backup dengan Differential.

Untuk proses Backup yang menggunakan metoda Full Backup, Incremental Backup, maupun Differential Backup digunakan Software khusus untuk keperluan Backup. Ada juga di beberapa sistem operasi yang menyediakan utility untuk proses Backup tersebut.

 

Media Backup

Pemilihan media yang dipakai untuk proses Backup harus mempertimbangkan karakteristik dari media yang digunakan. Tape menyimpan data dalam format magnetik dengan metoda akses Sequential, Floppy menyimpan data dalam format magnetik dengan metoda akses Random dengan media yang lentur. Harddisk menyimpan data dalam format magnetik dengan metoda akses Random dengan media yang kokoh. CD/DVD menyimpan data dalam format optic dengan metoda akses Random dengan media yang tidak lentur dan mudah tergores. Pertimbangkan masalah pilihan format, apakah magnetik yang terpengaruh medan magnet atau optis, juga berkaitan dengan masalah masa penyimpanan dari data (retensi). Masalah kecepatan juga harus jadi pertimbangan, selain itu juga masalah kapasitas dari media yang dipilih harus disesuaikan dengan kebutuhan.

Backup Schedulling

Penentuan jadwal Backup harus mempertimbangkan tinggi rendahnya intensitas perubahan terhadap data tiap waktu (informasi didapatkan dari hasil pengamatan atau dari data statistik) sehingga dapat dipilih waktu untuk melakukan Backup. Apabila dihubungkan dengan pertimbangan masalah jumlah media yang dibutuhkan untuk Backup dapat dipakai Ten Tape (Media) Rotation yang menggunakan hanya sejumlah 10 media yang masing – masing media digunakan untuk Backup tiap satuan waktu tertentu. Kalau kebijakannya harian, maka masing – masing media diberi label Hari 1, 2, 3 dan seterusnya. Setelah semuanya terpakai, maka media yang pertama akan digunakan ulang.

Backup Location

Lokasi penyimpanan dari media yang berisi data cadangan sebaiknya paling tidak ada di dua tempat, yaitu On Site Location dan Off Site Location. Untuk Off Site Location disarankan untuk menyewa Locker yang disediakan oleh pihak Bank supaya keamana dari data cadangan lebih terjamin.

Berdasarkan pengalaman yang dimiliki para pelaksana, dengan mempertimbangkan saran dari Vendor / Supplier / Konsultan pengembang perangkat lunak, dan juga faktor biaya maka dokumentasi tentang jadwal perawatan untuk tiap perangkat keras dan / atau perangkat lunak harus dibuat. Berikut ini contoh sederhana dari dokumen jadwal perawatan Komputer (yang merupakan komponen utama dari perangkat keras) :

 

 

 

 

Komponen

Frekuensi

Kegiatan

Mouse Sebulan satu kali Bersihkan bola mouse  dan roller
Keyboard Sebulan satu kali Bersihkan dari debu dan kotoran
Monitor Sebulan satu kali Bersihkan layar monitor
Sistem Unit Setahun satu kali Bersihkan dari debu dan kotoran
Floppy disk drive Jika diperlukan Bersihkan dengan Cleaner Kit

 

Untuk membuat jadwal tersebu kita bisa mengacu pada daftar peralatan yang harus dirawat secara rutin :

  • Mouse
  • Keyboard
  • Floppy drive
  • CD-ROM drive
  • DVD-ROM drive
  • Hard disk drive
  • Monitor
  • Power Supply
  • Printer

Sebenarnya selain terhadap perangkat keras dan / atau perangkat lunak, pemeliharaan yang cukup penting juga harus dilakukan terhadap data. Pemeliharaan terhadap data lebih detilnya dapat dibaca di sub judul Backup.

Semua dokumen yang telah dibahas diatas harus dikomunikasikan baik kepada End User maupun kepada pihak manajemen. Terutama untuk meminta persetujuan tentang isi dari dokumen – dokumen tersebut.

 

4.11   Definisi Standar Proses Perawatan

Standar yang dibuat meliputi standar untuk End User maupun standar untuk pemasok. Sebenarnya yang dimaksud standar disini lebih sering kita ketahui sebagai Standar Prosedur Operasional. Bagi End User, apa yang harus dilakukan apabila ingin mendapatkan pelayanan yang berkaitan dengan masalah perawatan perangkat keras dan / atau perangkat lunak serta data dapat diketahui dengan mengacu pada standar prosedur operasional yang berlaku. Salah satu aturan yang harus dipenuhi apabila ingin mendapatkan layanan yang berkaitan dengan masalah perawatan adalah proses pengisian dokumen permintaan perawatan. Selain itu dapat diketahui juga siapa yang harus menandatangani dokumen itu sebagai penanggung jawab permintaan perawatan, kepada siapa dokumen itu harus dilaporkan atau disampaikan sebelum mendapatkan layanan perawatan yang diharapkan. Demikian pula bagi pemasok, mereka harus tahu tentang prosedur yang harus dilakukan sebelum melakukan proses perawatan. Permintaan perawatan dari End User yang bagaimana yang harus di response, dokumen apa saja yang harus disiapkan dan dibawa ke tempat pelaksanaan perawatan, harus ditandatangani oleh siapa izin melaksanakan kegiatannya, dan harus melaporkan kepada siapa setiap kegiatan yang dilakukan, dan juga siapa yang berhak menentukan atau menilai apakah pelaksanaan perawatannya sudah selesai atau belum.

Dengan melihat fakta bahwa pelaksana perawatan, tidak hanya dilakukan internal people tapi juga dapat dilaksanakan oleh pihak pemasok, maka penentuan response time harus dibicarakan dan ditentukan bersama oleh semua pihak terkait, termasuk juga strategi memenuhi response time yang telah ditetapkan harus ditentukan bersama supaya kelangsungan kegiatan bisnis bisa tetap terjaga.

Untuk menjaga kelangsungan kegiatan bisnis agar tetap berjalan hal – hal yang tidak biasa atau abnormal pun harus dibicarakan. Banyak kejadian, ketika melakukan proses perawatan dengan cara yang biasa dilakukan menurut sistem prosedur operasional, ternyata hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Alternatif – alternatif solusi pun harus dibuat dan ditetapkan bersama. Contoh kasus adalah ketika media transmisi yang berupa kabel untuk transaksi keuangan rusak, sementara perbaikan secara normal baru bisa selesai 2 hari, maka harus ada prosedur yang memberikan solusi antara berupa koneksi secara wireless yang infrastrukturnya sudah terpasang tapi dengan status stand by. Untuk mengurangi traffic data, maka transaksi di sisi aplikasi pun harus diatur supaya tidak Real Time melainkan berupa Batch Process atau Time Based Synchronization, semua pihak pun mengetahui bahwa fungsi – fungsi tertentu akan memberikan layanan yang tidak seperti layanan pada saat keadaan normal. Jadi prosedur eskalasi pun diidentifikasi dan ditentukan. Sehingga semua pihak di institusi mengetahui, mengerti dan memahaminya.

Untuk melayani permintaan layanan dari End User dan membantu pihak pemasok dalam melaksanakan tugasnya, maka harus ditunjuk sekelompok orang untuk melaksanakan tugas tersebut. Secara umum hal ini dikenal dengan Helpdesk. Helpdesk merupakan ujung tombak dari bagian pelayanan perawatan, karena berhubungan langsung dengan pengguna perangkat keras dan / atau perangkat lunak, pemilik data ataupun dengan pemasok. Adanya bagian HelpDesk, yang siap dihubungi apabila ada permasalahan sangat membantu untuk meningkatkan tingkat layanan dan kepuasan dan kelancaran dari bisnis proses. Bagian Helpdesk juga harus mampu memberikan solusi awal terhadap permasalahan yang dialami End User, dan mampu untuk memahami permasalahan – permasalahan yang terjadi sehingga dapat mengkomunikasikan problem yang ada ke pihak pelaksana atau pun pemasok.

Pelaksana yang ditugaskan khusus untuk melakukan proses perawatan bisa dilakukan oleh staff atau pun pihak luar yang dikenal dengan proses Outsource Maintenance. Pada umumnya yang dilakukan adalah kombinasi keduanya, yaitu adanya staff khusus dan adanya pihak dari luar, yang biasanya dikarenakan sangat komplek nya masalah perawatan dari infrastruktur jaringan komputer beserta software nya. Dalam hal ini harus dipertimbangkan masalah : Bagian mana saja yang dapat di-outsource. Service Level Agreement yang dibuat atas kesepakatan End User, pihak manajemen dan pihak yang melakukan outsourcing maintenance, termasuk didalamnya dicantumkan juga toleransi response time untuk tiap sistem yang mengalami kerusakan.

Di bagian Helpdesk ini pula sebaiknya semua dokumentasi yang berkaitan dengan masalah perawatan dikelola.

Proses perawatan untuk perangkat lunak cukup menarik dibahas pada saat popularitas open source yang biasanya free atau lebih tepatnya freeware makin meningkat dan sudah banyak dimanfaatkan di institusi yang memiliki infrastruktur teknologi informasi. Karena salah satu proses pemeliharaan perangkat lunak adalah dengan melakukan update terhadap perangkat lunak yang ada, baik yang bersifat major maupun minor (semacam Service Pack atau pun Patch). Hal ini menarik karena untuk perangkat lunak yang gratis kapanpun tersedia update, maka sebenarnya proses pemeliharaan perangkat lunak pun dapat dilakukan. Hal ini perlu diatur, apakah proses update perangkat lunak itu by request atau by resource availability. Hal ini berbeda penanganannya apabila kita membicarakan Proprietary Software yang tidak gratis dan masih banyak dimanfaatkan oleh banyak institusi dengan berbagai alasan. Karena tidak selalu proses update itu bersifat gratis. Untuk minor update biasanya gratis, tapi ada juga yang membership based update yang memberikan layanan update berdasarkan waktu, baik untuk major update maupun minor update.

 

4.12   Penutup

Dari semua yang telah diuraikan diatas, dokumentasi merupakan hal yang mutlak diperhatikan. Write what you have done, Do what you have written, harus dibiasakan dilakukan. Kelengkapan sistem prosedur operasional juga harus diperhatikan, yang penyusunannya juga harus mempertimbangkan faktor biaya dan harus disetujui oleh pihak manajemen.

Audit terhadap semua komponen yang dirawat dan terhadap pelaksanaan perawatan pun harus dilakukan. Mekanisme pelaporan yang berkaitan dengan perawatan pun harus ditentukan dan disepakati semua pihak.

Berikut ini informasi tambahan untuk pelaksanaan proses perawatan :

Perangkat yang dipakai untuk perawatan komputer dapat digolongkan menjadi dua kelompok utama, yaitu :

  1. Peralatan dan Material

Seperti : Vacuum Cleaner, Liquid Cleaning Compound, UPS (Un Interruptable Power Supply), dan suppressor

  1. Software Utility

Seperti : Scandisk dan Disk Defragmenter

Vacuum Cleaner dipakai untuk melakukan pembersihan terhadap debu dan kotoran lainnya. Salah satu sumber dari debu adalah dari asap rokok. Liquid Compound Cleaner yang salah satunya adalah Contact Cleaner dipakai untuk memelihara kebersihan Card dan Motherboard, terutama bagian permukaannya (tempat terdapatnya Address Bus dan Data Bus), juga bagian – bagian yang berupa Socket tempat memasangkan berbagai perangkat tambahan, seperti Extended Slot. UPS dipakai untuk melindungi komputer dari overvoltage (spike/impulse, yaitu lonjakan listrik melebihi tegangan normal selama beberapa mikrodetik, biasanya 400-5.600 volt dan surge, yang terjadi ketika tegangan melebihi 110 persen dari tegangan normal selama lebih dari beberapa detik) dan undervoltage (brownout/sag, yang terjadi ketika tegangan turun dari tegangan normal selama beberapa detik dan blackout, yang terjadi ketika tegangan benar – benar tidak ada). Terdapat 2 jenis UPS, yaitu Standby UPS yang menyediakan backup power (hanya menangani blackout) dan Online UPS yang menangani spike, surge, dan brownout. Suppressor yang mampu menangani spike, surge, dan tidak berfungsi sebagai backup power. Di negara kita ada lagi yang perlu diperhatikan berkaitan dengan perawatan komputer, yaitu pemasangan Grounding tiap komputer yang kalau tidak dilakukan seringkali mengakibatkan kejadian error komputer yang sangat sulit untuk dipecahkan karena efeknya tidak berpola, selain itu kondisi tersebut juga bisa terjadi karena suhu operasi komponen komputer terutama prosesor yang mengalami Over Heat  karena kurangnya pendingin. Perangkat lain yang juga diperlukan adalah penangkal petir.

Untuk pemeliharaan Hard disk dapat digunakan Tools Scandisk dan Disk Defragmenter terutama apabila file system yang dipakai belum memiliki kemampuan khusus yang mereduksi terjadinya fragmentasi ataupun memiliki fungsi Automatic Defragmenter.

ElectroStatic Discharge (ESD)

ESD merupakan suatu fenomena yang terjadi ketika 2 obyek yang mengandung ion berbeda (positif dan negatif) bersentuhan satu sama lain. Kejadian ini mengakibatkan adanya aliran static energy dari 1 obyek ke obyek lainnya supaya terjadi keseimbangan energy. Manusia tidak dapat merasakan kejutan ESD yang besarnya dibawah 3.000 volt. Padahal komponen komputer (seperti chip) dapat terpengaruh ESD yang besarnya hanya 10 volt. Penyebab terjadinya ESD pada komputer adalah adanya kotoran debu dan udara kering. Karena ESD merupakan kejadian alamiah, jadi tidak dapat dihilangkan, yang dapat kita lakukan adalah mengurangi kemungkinan terjadinya ESD terhadap kita dan komputer. Beberapa hal yang dapat kita lakukan adalah :

  • Tidak memakan perhiasan yang terbuat dari metal
  • Memakai sepatu yang sol nya terbuat dari karet
  • Tidak memakai pakaian yang terbuat dari material sintetis
  • Yakinkan karpet yang dipakai bebas dari debu

Perangkat lain yang dapat dipakai untuk menghindari ESD adalah wrist straps yang dipakai pada saat kita melaksanakan pemeliharan komputer, mats yang dapat dipakai alas untuk komponen komputer yang sedang dipelihara, kantung anti-static untuk menyimpan komponen komputer dan melindunginya dari ESD, dan anti-static spray yang disemprotkan ke karpet.

Untuk komputer, terutama Server sebaiknya dibuat dokumen yang mencatat tentang : komponen hardware yang ada didalamnya, partisi harddisk beserta ukurannya, IRQ tiap komponen, DMA dan Base Memory tiap komponen, MAC Address tiap Network Interface Card, IP Address dari komputer dan lokasi fisik dari tiap komputer. Dokumentasikan juga garansi dari tiap komputer.


BAB V

SUMBER-SUMBER YANG DIPERLUKAN

UNTUK PENCAPAIAN KOMPETENSI

5.1     Sumber Daya Manusia

Pelatih

Pelatih Anda dipilih karena dia telah berpengalaman. Peran Pelatih adalah untuk :

  1. Membantu Anda untuk merencanakan proses belajar.
  2. Membimbing Anda melalui tugas-tugas pelatihan yang dijelaskan dalam tahap belajar.
  3. Membantu Anda untuk memahami konsep dan praktik baru dan untuk menjawab pertanyaan Anda mengenai proses belajar Anda.
  4. Membantu anda untuk menentukan dan mengakses sumber tambahan lain yang Anda perlukan untuk belajar Anda.
  5. Mengorganisir kegiatan belajar kelompok jika diperlukan.
  6. Merencanakan seorang ahli dari tempat kerja untuk membantu jika diperlukan.

Penilai

Penilai Anda melaksanakan program pelatihan terstruktur untuk penilaian di tempat kerja. Penilai akan :

  1. Melaksanakan penilaian apabila Anda telah siap dan merencanakan proses belajar dan penilaian selanjutnya dengan Anda.
  2. Menjelaskan kepada Anda mengenai bagian yang perlu untuk diperbaiki dan merundingkan rencana pelatihan selanjutnya dengan Anda.
  3. Mencatat pencapaian / perolehan Anda.

Teman kerja / sesama peserta pelatihan

Teman kerja Anda / sesama peserta pelatihan juga merupakan sumber dukungan dan bantuan. Anda juga dapat mendiskusikan proses belajar dengan mereka. Pendekatan ini akan menjadi suatu yang berharga dalam membangun semangat tim dalam lingkungan belajar/kerja Anda dan dapat meningkatkan pengalaman belajar Anda.

 

5.2     Sumber-sumber Kepustakaan ( Buku Informasi )

Pengertian sumber-sumber adalah material yang menjadi pendukung proses pembelajaran ketika peserta pelatihan sedang menggunakan Pedoman Belajar ini.

Sumber-sumber tersebut dapat meliputi :

  1. Buku referensi (text book) /  buku manual servis
  2. Lembar kerja
  3. Diagram-diagram, gambar
  4. Contoh tugas kerja
  5. Rekaman dalam bentuk kaset, video, film dan lain-lain.

Ada beberapa sumber yang disebutkan dalam pedoman belajar ini untuk membantu peserta pelatihan mencapai unjuk kerja yang tercakup pada suatu unit kompetensi.

Prinsip-prinsip dalam CBT mendorong kefleksibilitasan dari penggunaan sumber-sumber yang terbaik dalam suatu unit kompetensi tertentu, dengan mengijinkan peserta untuk menggunakan sumber-sumber alternative lain yang lebih baik atau jika ternyata sumber-sumber yang direkomendasikan dalam pedoman belajar ini tidak tersedia/tidak ada.

5.3     Daftar Peralatan dan Bahan yang digunakan

Judul/Nama Pelatihan        :    Menentukan Strategi Perawatan

Kode Program Pelatihan    :    TIK.JK05.001.01

NO

UNIT

KOMPETENSI

KODE UNIT

DAFTAR PERALATAN

DAFTAR BAHAN

KETERANGAN

1.

Menentukan Strategi Perawatan

TIK.JK05.001.01

- Komputer

- Infrastruktur jaringan

- CableTester/Multitester

- Vacuum Cleaner

- Liquid Compound Cleaner

- Backup Utility

- Scandisk, Disk Defragmenter

 

- Media BackUp

- User Manual peralatan yang dipakai

- Dokumen yang berhubungan dengan masalah perawatan

-

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

  • Pengembangan Sistem Informasi, Kusmayanto Kadiman dan Sayid Budiseno, Pusat Komputer PIKSI ITB.
  • A+ Certification Bible, Ed Tetz and Friends, Hungry Minds
  • Modul Kuliah Komunikasi Data dan Jaringan, Titis Sutisna (titiss@yahoo.com), Jurusan Teknik Komputer dan Informatika Politeknik Negeri Bandung
  • Manajemen Jaringan TCP/IP, Riza Taufan dan Onno W. Purbo, PT. Elex Media Komputindo
  • SMC Product Feature Presentation

Testimoni

Advertisement
  1. Toko Kain Batik Cap Terbaik di Solo
  2. Toko Baju Batik Terbaik di Solo
  3. Aneka Kain Batik dengan Harga Murah
  4. Baju Batik Sarimbit Terbaik
  5. Dapatkan Kain Batik Berkualitas dengan Diskon 25%
  6. Aneka Baju Batik Seragam Kantor
  7. Pembuatan Seragam Batik Berlogo
slideseragambatik
Filed under : blog, tags: