Advertisement
loading...

 

MODUL PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI

Advertisement

SUB BIDANG METODOLOGI PELATIHAN KERJA

 

MEMIMPIN KEGIATAN PEMBELAJARAN

PLK.MP03.001.01

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BUKU INFORMASI

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DEPARTEMEN TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI R.I.

DIREKTORAT JENDERAL PEMBINAAN PELATIHAN DAN PRODUKTIVITAS

Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 51 Lt. 6.A Jakarta Selatan

 

 

 

KATA PENGANTAR

 

Dalam rangka mewujudkan pelatihan kerja yang efektif dan efesien dalam rangka meningkatkan kualitas dan produktivitas tenaga kerja diperlukan suatu sistem pelatihan yang sama. Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 31 tentang Sistem Pelatihan Kerja Nasional yang mengamanatkan bahwa pelatihan kerja berbasis kompetensi.

Dalam rangka menerapkan pelatihan berbasis kompetensi tersebut diperlukan adanya standar kompetensi kerja sebagai acuan yang diuraikan lebih rinci ke dalam program, kurikulum dan silabus serta modul pelatihan.

Untuk memenuhi salah satu komponen dalam proses pelatihan tersebut maka disusunlah modul pelatihan berbasis kompetensi “Memimpin Kegiatan Pembelajaran yang mengacu pada Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) Sektor Jasa Kemasyarakatan, Sosial, Budaya dan Perorangan Sub Sektor jasa Kegiatan Lainnya Bidang Jasa Lainnya Sub Bidang Metodologi Pelatihan Kerja yang telah ditetapkan dengan Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi R.I. Nomor KEP.140/MEN/VI/2008.

Modul pelatihan berbasis kompetensi ini, terdiri dari 3 buku yaitu Buku Informasi, Buku Kerja dan Buku Penilaian. Ketiga buku tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh, dimana buku yang satu dengan yang lainnya saling mengisi dan melengkapi, sehingga dapat digunakan untuk membantu pelatih dan peserta pelatihan untuk saling berinteraksi.

Demikian modul pelatihan berbasis kompetensi ini kami susun, semoga bermanfaat untuk menunjang proses pelaksanaan pelatihan di lembaga pelatihan kerja.

Jakarta,     Desember 2009


DAFTAR ISI

 

 

KATA PENGANTAR —————————————————————————   1

DAFTAR ISI ———————————————————————————–   2

BAB I    STANDAR KOMPETENSI KERJA NASIONAL INDONESIA (SKKNI) DAN SILABUS PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI (PBK) —————————————————   3

  1. Standar Kompetensi Kerja Nasional (SKKNI) ——————————-   3
  2. Unit Kompetensi Prasyarat —————————————————-   6
  3. Silabus Pelatihan Berbasis Kompetensi (PBK) ——————————-   7

BAB II   MATERI PELATIHAN MERUMUSKAN PERMASALAHAN PELATIHAN DI DAERAH  10

  1. Latar Belakang ——————————————————————  10
  2. Tujuan —————————————————————————  10
  3. Ruang Lingkup ——————————————————————  11
  4. Pengertian Istilah ————————————————————–  11
  5. Diagram Alir Memimpin Kegiatan Pembelajaran—————————– 14
  6. Materi Pelatihan Memimpin Kegiatan Pembelajaran.
    1. Mengaplikasikan model kepemimpinan yang baik dalam proses pembelajaran
    2. Mengaplikasikan Model keteladanan yang baik dalam lingkungan pembelajaran

 

BAB III SUMBER-SUMBER YANG DIPERLUKAN UNTUK PENCAPAIAN KOMPETENSI —–

  1. Sumber-sumber Perpustakaan ————————————————  40

1. Daftar Pustaka —————————————————————  40

2. Buku Referensi —————————————————————  40

  1. Daftar Peralatan/Mesin dan Bahan ——————————————  41
  2. Daftar Peralatan/Mesin————————————————— 41
  3. Daftar Bahan————————————————————— 41

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

STANDAR KOMPETENSI KERJA NASIONAL (SKKNI)

DAN SILABUS PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI (PBK)

 

  1. A.       STANDAR KOMPETENSI KERJA NASIONAL (SKKNI)
KODE UNIT : PLK.MP03.001.01
JUDUL UNIT : Memimpin Kegiatan Pembelajaran
DESKRIPSI UNIT :

 

Unit ini merupakan kompetensi yang berhubungan dengan pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja dalam memimpin kegiatan pembelajaran

 

 

ELEMEN KOMPETENSI

KRITERIA UNJUK KERJA

1. Mengaplikasikan model kepemimpinan yang baik dalam proses pembelajaran 1.1.  Model kepemimpinan diidentifikasi

1.2.  Karakteristik peserta pelatihan diidentifikasi

1.3.  Model kepemimpinan dikuasai sesuai dengan perkembangan ilmu.

1.4.  Proses kegiatan pembelajaran  dikondisikan sesuai dengan model kepemimpinan yang tepat

  1. Mengaplikasikan Model keteladanan yang baik dalam lingkungan pembelajaran
2.1   Sikap-sikap keteladanan diidentifikasi

2.2   Model keteladanan yang sesuai dengan situasi pembelajaran dipahami dengan baik

2.3   Sikap teladan diaktualisasikan baik di lingkungan pembelajaran maupun di lingkungan kerja.

 

BATASAN VARIABEL

1.  Konteks variabel :

Unit ini berlaku untuk membuat daftar peralatan dan penyimpanannya, mengaktualisasikan model kepemimpinan yang baik dalam proses pelatihan,  mengaktualisasikan model keteladanan yang baik dalam lingkungan kerja pelatihan yang digunakan memimpin kegiatan pembelajaran pada bidang metodologi pelatihan.

 

2. Perlengkapan (alat dan bahan) untuk memimpin kegiatan pembelajaran mencakup :

2.1.      Format daftar hadir peserta pelatihan

2.2.      Format daftar hadir (DJMI) instruktur

2.3.      Learning material

2.4.      Alat bantu melatih

2.5.      Alat peraga

2.6.      Buku literatur/referensi

2.7.      Alat tulis kantor

 

  1. Tugas pekerjaan untuk memimpin kegiatan pembelajaran sebagai bagian dari program pelatihan meliputi :

3.1.      Memimpin proses kegiatan pelatihan dengan baik sesuai dengan situasi dan kondisi kelas.

3.2.      Mengaktualisasikan sikap teladan dalam lingkungan kerja.

 

  1. Peraturan untuk memimpin kegiatan pembelajaran sebagai bagian dari program pelatihan adalah :

4.1.      Pedoman pelatihan berbasis kompetensi.

4.2.      Kode etik instruktur.

 

PANDUAN PENILAIAN :

 

  1. Penjelasan prosedur penilaian :

Alat, bahan dan tempat penilaian serta unit kompetensi yang harus dikuasai sebelumnya yang diperlukan sebelum menguasai unit kompetensi ini dengan unit-unit kompetensi yang terkait :

1.1.   PLK.MP02.003.01      Merancang strategi dan penilaian pembelajaran

1.2.  PLK.MP02.009.01      Memfasilitasi proses pembelajaran

1.3.  PLK.MP02.010.01      Menilai kemajuan kompetensi peserta pelatihan secara individu

 

  1. Kondisi penilaian :

2.1       Kondisi penilaian merupakan aspek dalam penilaian yang sangat berpengaruh atas tercapainya kompetensi tersebut yang terkait dengan Mengaktualisasikan model kepemimpinan yang baik dalam proses pelatihan,  Mengaktualisasikan model keteladanan yang baik dalam lingkungan kerja pelatihan yang digunakan Memimpin kegiatan pembelajaran sebagai bagian dari program pelatihan.

2.2       Penilaian dapat dilakukan dengan cara : lisan, tertulis, demonstrasi/ praktik.

2.3       Penilaian dapat dilaksanakan secara : simulasi di workshop dan/atau di tempat kerja.

 

  1. Pengetahuan yang dibutuhkan :

Pengetahuan yang dibutuhkan untuk mendukung unit kompetensi ini sebagai berikut :

3.1       Identifikasi karakteristik peserta pelatihan

3.2       Model kepemimpinan sesuai dengan perkembangan ilmu.

3.3       Model keteladanan yang sesuai dengan situasi pembelajaran dengan baik

 

  1. Keterampilan yang dibutuhkan :

Keterampilan yang dibutuhkan untuk mendukung unit kompetensi ini sebagai berikut :

4.1       Memimpin proses kegiatan pelatihan dengan baik sesuai dengan situasi dan kondisi kelas

4.2       Mengaktualisasikan sikap teladan dalam lingkungan kerja.

 

  1. Aspek Kritis :

Aspek kritis yang merupakan kondisi kerja untuk diperhatikan dalam mendukung unit kompetensi ini, sebagai berikut :

5.1       Perbedaan persepsi.

5.2       Gaya kepemimpinan yang bervariasi.

5.3       Kesabaran

 

KOMPETENSI KUNCI

 

No

Kompetensi Kunci dalam Unit Ini

Tingkat

1

Mengumpulkan, menganalisa dan mengorganisasikan informasi

2

2

Mengkomunikasikan informasi dan ide-ide

2

3

Merencanakan dan mengorganisasikan kegiatan

2

4

Bekerjasama dengan orang lain dan kelompok

2

5

Menggunakan gagasan secara matematis dan teknis

2

6

Pemecahan masalah

2

7

Penggunaan teknologi

1

 

 

  1. B.       UNIT KOMPETENSI PRASYARAT.

Sebelum mengikuti pelatihan unit kompetensi Merumuskan Permasalahan Pelatihan di Daerah ini peserta harus sudah kompeten untuk unit kompetensi sebagai berikut:

1.   PLK.MP02.003.01      Merancang strategi dan penilaian pembelajaran

2.   PLK.MP02.009.01      Memfasilitasi proses pembelajaran

3.  PLK.MP02.010.01      Menilai kemajuan kompetensi peserta pelatihan secara individu

 

 

 

 

 

 

1.1.  SILABUS PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI (PBK)

 

  Unit Kompetensi : Memimpin Kegiatan Pembelajaran
  Kode Unit Kompetensi : PLK.MP03.001.01
  Perkiraan Waktu Pelatihan : 20 jampel @ 45 menit

 

 

Tabel Silabus Unit Kompetensi  :

 

ELEMEN KOMPETENSI

KRITERIA

UNJUK KERJA

INDIKATOR

UNJUK KERJA

MATERI PELATIHAN

JAM PELATIHAN

Pengetahuan

Keterampilan

Sikap

Penge-tahuan

Kete-rampilan

  1. Mengaplikasikan model kepemimpinan yang baik dalam proses pembelajaran
1.1  Model kepemimpinan diidentifikasi – Dapat menyatakan pengertian kepemimpinan

– Dapat menjelaskan pedoman mengidentifikasi model kepemimpinan

– Mampu mengidentifikasi model kepemimpinan

– Harus cermat, teliti, dan taat asas

– Pengertian kepemimpinan

– Pedoman mengidentifikasi jenis/model kepemimpinan

 

– Mengidentifikasi model kepemimpinan – Cermat

– Teliti

– Taat asas

4

6

  1.2  Karakteristik peserta pelatihan diidentifikasi – Dapat menyebutkan dan menjelaskan karakteristik peserta pelatihan

– Dapat menjelaskan pedoman mengidentifikasi karakteristik peserta pelatihan

– Harus cermat, teliti, dan taat asas

– Karakteristik peserta pelatihan

– Pedoman mengidentifikasi karakteristik peserta pelatihan

– Mengidentifikasi karakteristik peserta pelatihan – Cermat

– Teliti

– Taat asas

   
  1.3  Model kepemimpinan dikuasai sesuai dengan perkembangan ilmu – Dapat menjelaskan cara menguasai model kepemimpinan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi

– Mampu menguasai model kepemimpinan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi

– Harus cermat, teliti, dan taat asas

– Cara menguasai model kepemimpinan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi – Menguasai model kepemimpinan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi – Cermat

– Teliti

– Taat asas

  1.4  Proses kegiatan pembelajaran  dikondisikan sesuai dengan model kepemimpinan yang tepat – Dapat menyatakan pengertian motivasi belajar

– Dapat menjelaskan kebutuhan perlengkapan proses pembelajaran

– Mampu mengkondisikan proses kegiatan pembelajaran sesuai dengan model kepemimpinan yang tepat

– Harus cermat, teliti, dan taat asas

 

– Pengertian motivasi belajar

– Kebutuhan perlengkapan saat proses pembelajaran

– Mengkondisikan proses kegiatan pembelajaran sesuai dengan model kepemimpinan yang tepat – Cermat

– Teliti

– Taat asas

  1. Mengaplikasikan model keteladanan yang baik dalam lingkungan pembelajaran
2.1  Sikap-sikap keteladanan diidentifikasi – Dapat menyatakan pengertian keteladanan

– Dapat menjelaskan sikap-sikap keteladanan

– Mampu mengidentifikasi sikap-sikap keteladanan

– Harus cermat, teliti, dan taat asas

– Pengertian keteladanan

– Sikap-sikap keteladanan dalam lingkungan pembelajaran dan lingkungan kerja

– Mengidentifikasi sikap-sikap keteladanan – Cermat

– Teliti

– Taat asas

4

6

  2.2  Model keteladanan yang sesuai dengan situasi pembelajaran dipahami dengan baik

2.3  Sikap teladan diaktualisasikan baik di lingkungan pembelajaran maupun di lingkungan kerja

– Dapat menyebutkan dan menjelaskan model-model keteladanan

– Harus yakin

– Dapat menjelaskan kebiasaan-kebiasaan yang efektif dalam lingkungan pembelajaran

– Mampu Mengaktualisasi-kan sikap keteladanan di lingkungan pembelajaran dan lingkungan kerja

– Harus rendah hati, percaya diri, wajar, dan taat asas

– Model keteladanan dalam lingkungan pembelajaran

– Kebiasaan-kebiasaan yang efektif dalam lingkungan pembelajaran

– Mengaktualisasikan sikap keteladanan di lingkungan pembelajaran dan lingkungan kerja – Yakin/per-caya diri

– Rendah hati

– Percaya diri

– Wajar

– Taat asas

 

 

 

 

BAB II

MATERI PELATIHAN

MEMIMPIN KEGIATAN PEMBELAJARAN

 

 

  1. A.      Latar Belakang

Dewasa ini pelaksanaan  proses pembelajaran sangat beragam akibat perkembangan teknologi yang sangat padat yang memungkinkan proses pembelajaran lebih efektif dan efisien. Namun demikian pengendalian teknologi tetap sangat ditentukan oleh kemampuan SDM/tenaga kerja yang mengelolanya. Kegagalan proses pembelajaran pada umumnya diakibatkan oleh kemampuan tenaga kerja yang tidak sesuai dengan kualifikasi jabatan atau tugas/pekerjaan yang akan dilakukan, termasuk bagaimana memimpin kegiatan pembelajaran. Seseorang yang berprofesi Educative/Instruktur  harus  menguasai dan mampu melakukan proses kegiatan pembelajaran dengan memahami teori-teori dan teknik memimpin, demi tercapainya tuntutan kebutuhan peningkatan produktivitas organisasi atau kualitas output Pendidikan dan pelatihan.

Pembinaan kualitas dan produktivitas tenaga kerja sangat ditentukan oleh keberhasilan pembinaan jalur pendidikan formal, pelatihan kerja, dan pengembangan di tempat kerja.

Berkenaan dengan  tuntutan  tersebut diatas, maka setiap Tenaga Kepelatihan perlu dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan memimpim kegiatan pembelajaran agar kualitas out put pelatihan dapat memnuhi kebutuhan pasar kerja yang ada.

 

  1. B.      Tujuan

Adapun tujuan memimpin kegiatan pembelajaran adalah sebagai berikut:

  1. Mengaplikasikan model kepemimpinan yang baik dalam proses pembelajaran
  2. Mengaplikasikan model keteladanan yang baik dalam lingkungan pembelajaran

 

  1. C.      Ruang Lingkup

Ruang lingkup Memimpin Kegiatan Pembelajaran dalam unit kompetensi ini meliputi

kegiatan  Motivasi dan penerapan kepemimpinan yang efektif.

 

 

  1. D.     Pengertian-pengertian

 

  1. Profesi

Profesi adalah suatu bidang pekerjaan yang menuntut sikap, pengetahuan serta keterampilan/keahlian kerja tertentu yang diperoleh dari proses pendidikan, pelatihan serta pengalaman kerja atau penguasaan sekumpulan kompetensi tertentu yang dituntut oleh suatu pekerjaan/jabatan.

  1. Standardisasi

Standardisasi adalah proses merumuskan, menetapkan serta menerapkan suatu standar tertentu.

  1. Pelatihan

Pelatihan adalah proses pembelajaran yang dilaksanakan untuk mencapai suatu kompetensi tertentu di mana materi, metode dan fasilitas pelatihan serta lingkungan belajar yang ada terfokus kepada pencapaian unjuk kerja pada kompetensi yang dipelajari.

  1. Kompetensi

Kompetensi adalah kemampuan seseorang untuk menunjukkan aspek sikap, pengetahuan dan keterampilan serta penerapan dari ketiga aspek tersebut di tempat kerja untuk mencapai unjuk kerja yang ditetapkan.

  1. Standar Kompetensi

Standar kompetensi adalah standar yang ditampilkan dalam istilah-istilah hasil serta memiliki format standar yang terdiri atas judul unit, deskripsi unit, elemen.

  1. Menganalisis

Menganalisis adalah menyelidiki dengan menguraikan bagian-bagiannya.

  1. Mengidentifikasi

Mengidentifikasi adalah menentukan atau menetapkan identitas orang, benda, dsb.

  1. Kebutuhan pelatihan

Kebutuhan pelatihan adalah kesenjangan antara kompetensi yang dipersyaratkan oleh suatu jabatan dengan kompetensi yang dimiliki calon peserta pelatihan.

 

 

  1. Program Pelatihan

Program pelatihan adalah suatu rumusan tertulis yang memuat secara sistematis tentang pemaketan unit-unit kompetensi sesuai dengan area kompetensi jabatan pada area pekerjaan sebagai acuan dalam penyelenggaraan Pelatihan Berbasis Kompetensi.

  1. Pelatihan Kerja

Pelatihan kerja adalah keseluruhan kegiatan untuk memberi, memperoleh, meningkatkan serta mengembangkan kompetensi kerja, produktivitas, disiplin, sikap dan etos kerja pada tingkat keterampilan dan keahlian tertentu sesuai dengan jenjang dan kualifikasi kompentensi/jabatan/ pekerjaan serta spesifikasi pekerjaan.

  1. Pelatihan Berbasis Kompetensi (yang selanjutnya disebut PBK)

PBK adalah proses pelatihan yang dilaksanakan untuk mencapai suatu kompetensi tertentu dimana materi, metode dan fasilitas pelatihan serta lingkungan pelatihan yang ada terfokus kepada pencapaian unjuk kerja.

  1. Lembaga Pelatihan Kerja (LPK)

Lembaga Pelatihan Kerja yang selanjutnya disebut LPK adalah suatu lembaga pemerintah/swasta/badan hukum atau perorangan untuk tempat diselenggarakannya proses pelatihan kerja bagi peserta pelatihan.

  1. Peserta Pelatihan

Peserta pelatihan adalah angkatan kerja yang telah memenuhi persyaratan teknis dan administrasi untuk mengikuti pelatihan tertentu dengan program pelatihan berbasis kompetensi.

  1. Instruktur

Instruktur adalah seseorang yang berfungsi sebagai fasilitator, pelatih, pembimbing teknis, supervisor yang bertugas untuk menyampaikan materi pelatihan kepada peserta pelatihan di LPK atau di tempat kerja selama proses pelatihan.

 

 

 

 

 

  1. E.      DIAGRAM  ALIR MEMIMPIN KEGIATAN PEMBELAJARAN

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. F.      MEMIMPIN KEGIATAN PEMBELAJARAN
  2. 1.  Mengaplikasikan model kepemimpinan yang baik dalam proses pembelajaran

 

  1. a.  Pengetahuan

 

1) Pengertian Kepemimpinan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Inti dari administrasi adalah manajemen

Inti menejemen adalah kepemimpinan

Inti kepemimpinan adalah pengambilan keputusan

 

Yang dimaksud dengan  kepemimpinan adalah proses menggerakkan orang dalam mengoptimalkan sumber-sumber untuk mencapai tujuan

Kemampuan untuk mengambil keputusan dalam menggerakkan orang atau keputusan-keputusan lainnya merupakan kualitas seorang pemimpin.

 

 

2)  Pedoman Mengidentifikasi Model/Tipe Kepemimpinan.

 

a)     Model kepemimpinan

 

Kepemimpinan dalam berbagai organisasi dikenal ada beberapa Model/tipe, walaupun tidak terdapat keseragaman pendapat para pakar dibidang manajemen, tetapi paling tidak saling melengkapi antara pendapat pakar yang satu dengan yang lain. Dr. Sondang P. Siagian (1984:99) dalam bukunya “Peranan Staf Dalam Managemen” menyebutkan ada lima model/tipe pemimpin, yaitu : tipe otokratis, tipe militeristis, tipe paternalistis, model/tipe kharismatis dan tipe demokratis. Sedang Dr. Kartini Kartono (1994:69-73) dalam bukunya “Pemimpin dan Kepemimpinan” menyebutkan ada delapan, yang sesungguhnya melengkapi apa yang sudah disebutkan Dr. Sondang P. Siagian. Tambahannya itu adalah pemimpin : model/tipe populistis, model/tipe administrative dan model/tipe laissez faire. Sehingga secara lengkap Dr. Kartini Kartono menyebutkan delapan model/tipe pemimpin sebagai berikut :

∞   Kharismatik,

∞   Paternalistis dan maternalistis,

∞   Militeristis,

∞   Otokratis/otoritatif (authoritative, dominator),

∞   Laissez faire,

∞   Populistis,

∞   Administrative

∞   Demokratis (group developer)

Mengenai arti masing-masing Model/tipe pemimpin tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :

-     Model/Tipe Kharismatis

Pemimpin kharismatik memiliki energi, daya tarik dan wibawa luar biasa untuk mempengaruhi orang lain. Sehingga para pengikutnya merasa amat tertarik untuk mencontoh penampilan, ucapan dan perbuatannya. Ia mempunyai pengikut sangat besar jumlahnya dan pengawal yang dapat dipercaya. Sampai sekarang orang tidak banyak tahu sebab-sebabnya. Dia dianggap mempunyai kekuatan gaib (supernaturan power) dan kemampuan “super human” yang diperoleh dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Pemimpin tipe ini mempunyai inspirasi, keberanian dan berkeyakinan teguh pada pendiriannya sendiri. Totalitas kepribadian pemimpin memancarkan pengaruh dan daya tarik amat besar. Tokoh-tokoh besar semacam ini dapat disebut mulai dari zaman kuno seperti Jengis Khan, sampai jaman modern seperti Mahatma Gandhi, Adolf Hitler, J.F. Kennedy, Sukarno, Yaser Arafat, Margaret Thacher dsb.

 

 

Model/Tipe Paternalistis

Model/Tipe paternalistis artinya tipe ke-bapa-an dengan sifat antara lain :

* Menganggap bawahan sebagai manusia yang belum dewasa atau anak yang

perlu dikembangkan.

* Bersikap terlalu melindungi (over protective)

* Jarang memberikan kesempatan kepada bawahan untuk mengambil inisiatif

dan keputusan sendiri.

* Hampir tidak pernah memberikan kesempatan kepada pengikutnya untuk

mengembangkan imajinasi dan kreativitas.

* Selalu bersikap maha tahu dan maha benar.

Sifat pemimpin tipe maternalistis hampir serupa dengan paternalistis hanya

dalam melindungi disamping over protective juga disertai rasa kasih sayang

berlebihan.

 

-   Model/Tipe Militeristis

Model/Tipe kepemimpinan ini sifatnya sok kemiliter-militeran. Gaya luarnya saja yang mencontoh gaya militer, tetapi bila dilihat lebih seksama, tipe ini lebih mirip dengan tipe kepemimpinan otoriter. Perlu dipahami bahwa tipe kepemimpinan militer tidak sama dengan kepemimpinan organisasi militer (tokoh militer).

 

Ciri-ciri pemimpin yang bersifat militeristis adalah :

* Lebih banyak menggunakan sistem komando/perintah, keras, sangat otoriter (berdasar kekuasaan), kaku dan sering kurang bijaksana.

*  Menghendaki kepatuhan mutlak dari bawahan.

*  Sangat senang formalitas, upacara ritual, tanda kebesaran yang berlebihan.

Menuntut disiplin keras dan kaku dari bawahannya (disiplin robot)

*  Tidak menghendaki saran, usul, sugesti dan kritik dari bawahan.

*  Komunikasi bersifat satu arah.

 

 

 

-   Model/Tipe Otokratis

Mendasarkan diri pada kekuasaan dan paksaan yang mutlak harus dipatuhi. Pemimpin selalu ingin berperan sebagai “pemain tunggal”, berambisi merajai situasi. Setiap perintah dan kebijakan dikeluarkan tanpa konsultasi dengan bawahan. Anak buah tak pernah diberi informasi tentang rencana dan tindakan yang akan dilakukan. Pujian dan kritik kepada bawahan atas dasar pertimbangan pribadi pemimpin.

Pemimpin selalu jauh berdiri dari kelompoknya, ada sikap menyisihkan diri dan ekslusivisme, ingin berkuasa absolute. Dengan keras mempertahankan prinsip-prinsip : business, efektifitas, efisiensi dan hal-hal yang sifatnya lugas. Pemimpin mau bersikap baik terhadap bawahan, asal bawahan bersedia patuh secara mutlak dan menyadari tempatnya sendiri-sendiri.

 

-   Model/Tipe Laissez Faire

Model/Tipe kepemimpinan seperti ini, sang pemimpin praktis tidak memimpin, karena ia membiarkan kelompoknya dan setiap orang berbuat semau sendiri. Semua pekerjaan dan tanggung jawab harus dilakukan oleh bawahannya sendiri. Sebagai pemimpin dia hanya sebagai simbol, dan biasanya tidak mempunyai keterampilan teknis. Sebab duduknya sebagai Direktur, Pemimpin, Ketua Dewan dan sebagainya biasanya diperoleh karena menyuap atau sistem nepotisme. Pemimpin tipe ini tidak punya wibawa dan tak mengontrol anak buah, tak mampu melaksanakan koordinasi kerja. Sehingga organisasi di bawah kepemimpinannya kacau balau, morat marit mirip dengan organisasi tanpa kepala, karena karyawan bekerja semaunya sendiri.

 

-   Model/Tipe Populistis

Menurut Profesor Peter Worsley dalam bukunya “The Third World” mendefinisikan kepemimpinan populis sebagai kepemimpinan yang dapat membangunkan solidaritas rakyat. Kepemimpinan populis berpegang teguh kepada nilai masyarakat tradisional. Juga tak mempercayai dukungan kekuatan serta bantuan luar negeri. Kepemimpinan jenis ini mengutamakan penghidupan nasionalisme. Selanjutnya menurut Profesor S.N. Eisenstadt populisme erat dikaitkan dengan modernitas tradisional. Contoh mantan Presiden pertama R.I. Ir. Soekarno.

 

-  Model/Tipe Administratif

Kepemimpinan Model/tipe administratif mampu menyelenggarakan tugas administrasi secara efektif. Sedang para pemimpinnya terdiri dari para teknokrat dan administrator yang mampu menggerakkan dinamika pembangunan. Dengan demikian dapat dibangun sistem administrasi dan birokrasi yang efisien untuk memerintah. Melalui kepemimpinan administratif ini diharapkan ada perkembangan teknis yaitu teknologi, industri, manajemen modern dan perkembangan sosial ditengah masyarakat.

 

-   Model/Tipe Demokratis

Kepemimpinan demokratis berorientasi kepada manusia dan memberikan bimbingan yang efisien terhadap para pengikutnya. Koordinasi pekerjaan ada pada semua bawahan, dengan penekanan rasa tanggung jawab internal dan kerjasama yang baik. Kekuatan kepemimpinan tipe ini bukan pada individu pemimpin, tetapi terletak pada partisipasi aktif warga kelompok.

 

Kepemimpinan demokratis menghargai potensi setiap individu, mau mendengar nasehat bawahan dan bersedia mengakui keahlian mereka dibidangnya masing-masing. Mampu memanfaatkan kapasitas anggota seefektif mungkin pada saat yang tepat . Oleh karena itu sering disebut kepemimpinan “group developer”.

 

b)      Teknik Memimpin

 

Teknik atau cara kepemimpinan yang dilakukan seorang pemimpin dalam mempengaruhi bawahannya tidak sama satu sama lain. Hal ini antara lain karena latar belakang : tipologi psikologis seorang pemimpin, organisasi, pengikut dan lingkungan. Cara kepemimpinan apapun yang dilakukan oleh seorang pemimpin yang penting berhasil mencapai tujuannya.

Cara kepemimpinan seseorang dapat dipengaruhi oleh latar belakang tipologi psikologis seorang pemimpin yang bersangkutan. Menurut ahli psikologi Carl Gustav Jung, pada dasarnya manusia dapat dikelompokkan menjadi dua tipologi yakni tipologi introvert dan tipologi extrovert. Masing-masing tipologi ini mempunyai kekuatan dan kelemahan.

Seorang yang bertipologi introvert sekalipun ia mempunyai kekuatan seperti : independent, rajin, suka bekerja sendiri, tetapi juga mempunyai kelemahan karena ia cenderung bersifat tertutup, egois, suka menghindari orang lain, dan tidak suka diinterupsi. Kelemahan orang introvert ini akan menghambat dalam melaksanakan tugas kepemimpinan yang menuntut selalu berinteraksi dengan orang lain (bawahan). Sehingga kecenderungan tindakannya akan bersifat otoriter dengan komunikasi biasanya hanya satu arah.

Sebaliknya seorang yang bertipologi extrovert dengan kekuatan yang dimiliki seperti misalnya : mampu bekerjasama dengan orang lain, bersifat terbuka, mengerti lingkungan diluar dirinya, suka berinteraksi dan dapat dimengerti. Tetapi juga mempunyai beberapa kelemahan seperti : kurang independent, tak dapat bekerja tanpa orang lain, terlalu membutuhkan variasi dsb. Orang extrovert tampaknya lebih menguntungkan posisinya apabila menduduki posisi pimpinan karena dapat masuk tipe kepemimpinan demokratis dengan komunikasi bersifat dua arah.

Kedua tipologi ini memang tidak selamanya jelek dan dapat diperbaiki asal seorang pemimpin yang termasuk tipologi introvert maupun extrovert mau secara perlahan menghilangkan kelemahan-kelemahan yang dipunyainya dalam berinteraksi dengan orang lain.

Dalam kenyataannya tidak ada seseorang yang seratus persen masuk tipologi introvert maupun extrovert karena yang ada kebanyakan termasuk tipologi ambiverse dan orangnya disebut ambivert yaitu tipologi dimana sifat introvert dan extrovert bergabung secara seimbang.

 

Cara mengidentifikasi model kepemimpinan

 

Cara mengidentifikasi model kepemimpinan adalah :

 

» Menuliskan nama model/tipe kepemimpinan

» Menuliskan ciri-ciri penerapan tiap model/tipe kepemimpinan

» Menuliskan keuntungan penerapan tiap model/tipe

kepemimpinan

» Menuliskan kerugian penerapan tiap model/tipe kepemimpinan

» Penerapan model/tipe kepemimpinan se  cara umum/gabungan

 

Cara tersebut dapat menggunakan tabel dibawah ini :

 

Tabel  identifikasi model kepemimpinan

No

Model

Ciri

Keuntungan

Kerugian

Keterangan

           
           
           

  

3) Karakteristik peserta pelatihan

a)  Karakteristik peserta pelatihan

 

 

Karakteristik peserta pelatihan dapat dilihat pada table dibawa ini :

 

KARATERISTIK PESERTA

APA DAMPAKNYA TERHADAP PERENCANAAN

Bahasa, kemampuan baca tulis dan kemampuan berhitung Ini adalah suatu isu besar yang perlu dipertimbangkan dalam perencanaan anda karena ini akan mempengaruhi cara penyajian yang anda gunakan, kegiatan dan tugas tugas yang sesuai. Anda juga harus meniapkan untuktingkat kemampuan yang berbed. Ini adalah isu yang sangat sensitif, jadi harus berhati hati, jangan buat orang merasatidak enak atau tidak tepat
Latar belakang budaya dan bahasa Perhatikan budaya dan kemampuan berbahasa. Mungkin ada beberapa kegiatan yang anda gunakan tidaksesuai dengan latar belakang budaya dan kemampuan berbahasa.
Pendidikan dan pengetahuan umum Cari informasi tentang tingkat pendidikan sehingga anda dapat menentukan cara penyampaian serangkaian sesi pelatihan
Jenis kelamin Jenis kelamin dapat mempengaruhi rencana penyampaian jika mempunyai kelompok yang terdiri seluruhnya wanita, pria atau campur, terutama dalam menggunakan metode roleplay, demonstrasi dsb
Usia Usia dapat mempengaruhi rencana tergantung dari apa yang akan disampaikan, bagaimana penyampaiannyadan kecepatan penyampaiannya
Kemampuan fisik Anda harus memperhatika peserta yang mempunyai kemampuan fisik yang lemah apabila anda merencanakan ada kemampuan fisik pada penyajian anda
Pengalaman sebelumnya tentang topic yang aka disajikan Tingkat pengalaman yang berbeda juga dapat bermanfaat apabila anda mengetahui siapa yang mempunyai pengalaman tersebut sebelumnya
Pengalaman dalam pelatihan berdasarkan kompetensi Pelatihan berdasarkan kompetensi adalah cara unik dalam belajar, dan dapat juga menjadi suatu kesulitan belajar terutama dalam proses pengujian
Jadwal kerja suatu organisasi Apabila anda melatih  pada suatu organisasi, anda juga harus menyadari tanggung jawab peserta selama pelatihan berlangsung
Pengalaman belajar sebelumnya Ini sangat membantu apabila anda mengetahui cara belajar peserta sebelumnya

 

 

b)   Prinsip Belajar

Untuk dapat berhasil dengan baik, proses belajar-mengajar harus mematuhi beberapa prinsip. Banyak sekali prinsip yang dikemukakan para ahli psikologi maupun pendidikan. Berikut ini diketengahkan sembilan prinsip belajar yang banyak diakui kebenarannya.

 

 

 

 

  1. 1.     Kemanfaatan

Kemanfaatan  memungkinkan peserta latihan dimotivasi untuk mempelajari suatu yang memberi manfaat baginya dan sesuatu yang bermanfaat bagi individu itu sendiri. Kemanfaatan ini diharapkan agar semua yang diajarkan dikelas/dibengkel akan bermanfaat bagi peserta. Setiap peserta dimotivasi dalam hal yang berkaitan dengan pengalamannya, masa depannya dan nilai-nilai apa yang menarik hatinya.

Untuk membuat pengajaran bermanfaat bagi peserta :

  1. Hubungan pengajar/instruktur dengan pengalaman peserta dengan menjelaskan pada peserta pelatihan bagaimana kaitan-kaitan pelajaran dengan pengalaman peserta.
  2. Hubungan pengajaran dengan nilai-nilai dan yang disenangi peserta. Ikut sertakan peserta dalam membuat keputusan tertentu mengenai pelajaran. Peserta akan mau bekerja keras bila pendapat-pendapat mereka dihargai.
  3. Hubungkan pengajaran/instruksi dengan masa depan peserta. Instruktur mempunyai pemikiran tentang situasi-situasi yang mungkin didapatkan peserta pada masa yang akan datang, meliputi kebutuhan-kebutuhan keterampilan dalam kehidupan sehari-hari atau pada pasar kerja. Dalam memberikan pelajaran, kaitkan selalu pelajaran dengan kegiatan-kegiatan dimasa mendatang.

 

  1. 2.     Persyaratan awal yang diperlukan

Persyaratan awal yang ditetapkan peserta dimungkinkan mempelajari sesuatu yang baru. Persyaratan ini dapat berupa jenis kelamin, usia, kecerdasan, tinggi dan berat badan, postur tubuh dan sebagainya. Ada juga yang harus menempuh tes atau serangkaian tes tertentu, guna mengecek kemampuan atau pengalaman tertentu.

Persyaratan awal ini dapat dipergunakan untuk pelajaran per pelajaran, suatu subjek atau bidang studi atau untuk keseluruhan bidang keterampilan yang dipelajari atau dilatihkan.

Hasil belajar peserta dimasa lalu adalah merupakan faktor penting yang menentukan kesuksesan atau kegagalan peserta mempunyai kesempatan belajar yang baik bila peserta mengetahui informasi dan dapat melaksanakan keterampilan yang mendasari penampilan yang baru.

Instruktur tidak boleh mengabaikan persyaratan yang diperlukan, karena dalam kenyataaannya bahwa peserta dalam satu kelas belum tentu sama persyaratan yang diperlukan (pre-requisites). Instruktur yang kurang memperhitungkan pentingnya persyaratan yang diperlukan ini berakibat sebagai berikut:

  1. Beberapa peserta pelatihan akan bosan, karena peserta tersebut memiliki persyaratan melebihi persyaratan yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu keterampilan.
  2. Beberapa peserta lainnya akan frustasi karena peserta tersebut memiliki persyaratan dibawah persyaratan yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu keterampilan.

 

  1. 3.     Keteladanan (Modelling)

Peserta lebih memungkinkan untuk memperoleh tingkah laku yang baru, jika kepada peserta disajikan dengan suatu penampilan contoh untuk diamati dan ditiru. Dalam belajar peserta memerlukan lebih banyak keteladan.

Beberapa petunjuk yang dapat membantu Instruktur dalam keteladanan (contoh dan model), yaitu :

  1. Instruktur harus menyebutkan aspek-aspek yang penting dari kemampuan yang akan didemonstrasikan. Tekankan setiap langkah-langkah atau keputusan-keputusan penting.
  2. Peserta harus menyaksikan manfaat yang didemonstrasikan terhadap tingkah lakunya (tindak tanduknya)
  3. Contoh dan model harus dipandang sebagai hal yang penting.
  4. Contoh dan model banyak digunakan bila instruktur mengajarkan keterampilan teknik dan sosial.

 

  1. 4.     Komunikasi yang terbuka (Open Communication)

Peserta lebih memungkinkan untuk memahami materi pelajaran jika penyajian teratur, sehingga penjelasan Instruktur terbuka terhadap penilaian peserta. Atur dan rencanakan semua informasi dalam persiapan mengajar atau rencana pelajaran yang ingin disampaikan.

 

Beberapa petunjuk yang dapat membantu Instruktur dalam hal komunikasi terbuka :

  1. Sebutkan tujuan belajar dan apa yang akan dikerjakan kepada peserta pelatihan.
  2. Sampaikan kaitan pelajaran, berikan petunjuk pada peserta pelatihan. Yakinkan bahwa peserta pelatihan sudah mengerti terhadap apa yang dibicarakan.
  3. Hindari pembicaraan yang tidak berguna.
  4. Rangsang semua indera dengan alat bantu mengajar sehingga peserta pelatihan dapat melihat, mendengarkan apa yang dipelajari.
  5. Memberikan peserta pelatihan pertanyaan-pertanyaan untuk mengecek komunikasi.

 

  1. 5.     Hal-hal yang menimbulkan Kesenangan Baru (Novelty)

Peserta pelatihan lebih tertarik untuk belajar jika penyajiannya mampu menimbulkan kesenangan baru dengan mempertimbangan apa yang biasanya dilihat dan didengar. Ganti cara penyajian konvensional, dengan penyajian yang rasional seperti menggunakan OHP, Slide Proyektor, LCD Proyektor dan lain-lain. Hal yang menimbulkan kesenangan baru antara lain dapat menggunakan  metoda :

  1. Ceramah diganti dengan metode lain
  2. Memberi bermacam-macam tugas
  3. Bermacam-macam bentuk tes, dan
  4. Contoh yang berbeda dalam penyajian.

 

  1. 6.     Praktek yang tepat (Appropriate Practice)

Peserta lebih memungkinkan untuk belajar, jika mengerjakan bagian yang penting dalam praktek untuk mencapai tujuan pengajaran sesuai dengan kebutuhan industri pasar kerja.

 

Beberapa petunjuk yang dapat digunakan dalam praktek :

  1. Instruksikan peserta untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan pekerjaan yang dipraktekkan.
  2. Instruksikan peserta untuk menyusun informasi – informasi yang didapatkan dari hasil membaca dan praktek.
  3. Atur situasi pelaksanaan praktek dibengkel sehinga mendekati suasana di industri.
  4. Berikan penilaian secepat mungkin setelah peserta menjawab pertanyaan dan selesai mengerakan tugas praktek.

 

  1. 7.     Praktek yang didistribusikan (Distributed Practice)

Peserta dapat belajar/berlatih lebih baik jika jam praktek diatur dalam periode waktu yang pendek, berurutan dangan pengaturan/penggunaan mesin dan peralatan yang terencana, sehingga masing-masing peserta dapat memperoleh kesempatan mengerjakan pekerjannya dengan memadai.

 

  1. 8.     Bantuan dikurangi sedikit demi sedikit (Padding)

Peserta lebih memungkinkan untuk belajar, jika bantuan dalam pengajaran/instruksi dikurangi sedikit demi sedikit secara bertahap. Pada permulaan pengajaran peserta pelatihan dibantu dengan memberikan dorongan dan petunjuk-petunjuk. Setelah peserta terbiasa, bantuan pengajaran dapat dikurangi. Jika bantuan terlalu cepat dikurangi, peserta akan membuat banyak kesalahan.

 

  1. 9.     Kondisi dan akibat yang menyenangkan dan tidak menyenangkan

Dalam proses pelatihan, selalu diupayakan adanya sarana yang memadai, baik manusia sebagai Instruktur dan tenaga kepelatihan maupun sarana fisik berupa gedung, kelas, bengkel, peralatan, dll. Pelaksanaan pelatihan harus dikelola secara professional berdasarkan pada asas-asas pedoman yang telah ditetapkan. Untuk mengkondisikan akibat yang menyenangkan dan yang tidak menyenangkan, akibat yang menyenangkan kita jaga kelangsungannya, sedangkan yang tidak menyenangkan dicegah atau dihindari untuk jangan sampai terjadi.

 

Kondisi dan akibat yang menyenangkan

  1. Menciptakan tugas-tugas yang menarik selama pelatihan.
  2. Memberikan pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja
  3. Mengatur kondisi ruang belajar/ruang praktek yang menyenangkan.
  4. Memberikan penghargaan pada hasil yang dicapai.
  5. Pengorganisasian sarana, pengaturan penugasan Instruktur, pemakaian bahan dan alat yang memuaskan semua pihak.
  6. Pengaturan iklim sosial dan emosional yang menunjang proses pelatihan.

 

Kondisi dan akibat yang tidak menyenangkan

  1. Pengorganisasian yang tidak terencana dengan baik
  2. Kurang pengawasan
  3. Ruang kelas/bengkel praktek pengap, terlalu panas, kurang ventilasi.
  4. Frustasi karena pelajaran terlalu sulit
  5. Perlakuan diskriminasi dan terciptanya iklim sosial serta emosional yang tidak terjaga.

c)  Andragogik /Adult Learning

 

Andragogi adalah suatu model proses pembelajaran peserta pelatihan orang dewasa. Proses pembelajaran dapat terjadi dengan baik apabila metode dan teknik pembelajaran melibatkan peserta pelatihan. Keterlibatan ego peserta pelatihan adalah kunci keberhasilan pendidikan orang dewasa.

Untuk itu sumber belajar hendaknya mampu membantu peserta pelatihan untuk :

  1. mengidentifikasi kebutuhan
  2. merumuskan tujuan belajar
  3. memikul tanggung jawab dalam perencanaan dan penyusunan pengalaman belajar, dan
  4. mengevaluasi kegiatan belajar

Dengan demikian setiap sumber belajar harus melibatkan partisipasi peserta sebanyak mungkin  dalam kegiatan proses pembelajaran.

Menurut pandangan andragogi setiap peserta pelatihan mampu membantu peserta pelatihan dalam :

  1. Menciptakan suasana yang kondusif untuk belajar melalui kerjasama dalam merencanakan
  2. Menemukan kebutuhan belajar
  3. Merumuskan tujuan dan materi yang dapat memenuhi kebutuhan belajar
  4. Merancang pola belajar dalam sejumlah pengalaman belajar untuk peserta pelatihan
  5. Melaksanakan kegiatan belajar dengan menggunakan metode, teknik dan sarana belajar yang tepat
  6.  Menilai kegiatan belajar serta mendiagnosis kembali kebutuhan belajar.

d)   Andragigi memandang bahwa :

(1) Orang dewasa mempunyai konsep diri

Orang dewasa memandang dirinya memiliki kemampuan untuk membuat keputusan tentang sesuatu dengan menghadapi segala resiko keputusannya, serta mengatur hidupnya secara mandiri. Harga diri adalah penting bagi setiap orang dewasa. Setiap orang dewasa memerlukan perilaku yang bersifat menghargai dalam hal pengambilan keputusan yang menyangkut diri dan kebutuhannya. Sikap yang terkesan menggurui cenderung akan ditanggapi negatif baik secara ekplisit maupun implisit. Mereka cenderung akan menghindar, menolak dan merasa tersinggung apabila diperlakukan seperti anak-anak. Mereka akan menolak situasi belajar yang kondisinya bertentangan dengan konsep dirinya sebagai individu yang mandiri. Sebaliknya jika mereka diperlakukan dengan penuh penghargaan dalam situasi belajar maka mereka akan melibatkan diri sepenuhnya dalam proses belajar tersebut. Karakteristik orang dewasa ini memberikan implikasi praktis dalam proses belajar-membelajarkan. Mereka perlu dilibatkan secara penuh dalam mendiagnosis kebutuhan belajar dan dalam merancang kegiatan belajarnya. Kegiatan belajar hendaknya bercorak partisipatif. Peserta pelatihan berfungsi sebagai pembimbing, fasilitator dan nara sumber.

 

(2) Orang dewasa mempunyai akumulasi pengalaman

Setiap orang dewasa mempunyai pengalaman yang berbeda-beda sebagai akibat perbedaan latar belakang kehidupan pada masa sebelumnya. Makin lama ia hidup makin bertambah pula pengalaman yang ia miliki, dan makin berbeda pula pengalamannya dari pengalaman orang lain. Pengalaman orang dewasa mencakup antara lain pengalaman situasi, interaksi dan pengalaman diri. Pengalaman situasi merupakan sederetan situasi dimasa lalu yang diperoleh dan dapat digunakan untuk merespon situasi masa kini. Pengalaman interaksi menunjukkan pertambahan kemahiran orang dewasa dalam melihat dirinya sendiri dari sisi pandangan orang lain.

 

Pengalaman diri adalah kemahiran orang dewasa dalam memadukan kesadaran melihat dirinya dari sisi pandangan orang lain pada masa kini dengan berbagai situasi pada masa lalu. Dalam kegiatan belajar, orang dewasa mampu berpartisipasi berdasarkan pengalamannya. Mereka dapat menjadi sumber yang kaya untuk belajar. Belajar sesuatu yang baru bagi mereka mempunyai kecenderungan mengambil makna dari pengalamannya yang lama. Implikasi praktis dalam proses pembelajaran orang dewasa adalah bahwa mereka perlu dilibatkan untuk berperan sebagai nara sumber. Pengenalan konsep-konsep baru dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari akan lebih tepat apabila dijelaskan melalui pengalaman mereka sendiri (experiential learning).

 

(3) Orang dewasa mempunyai masa kesiapan untuk belajar

Masa kesiapan belajar orang dewasa seirama dengan adanya peran sosial yang mereka tampilkan. Peran ini akan berubah sejalan dengan perubahan usianya. Kesiapan orang dewasa akan ikut berubah pula, apabila ia telah siap melakukan peran sebagai orang petani, maka tugas pertamanya adalah memperoleh pekerjaan dalam bidang pertanian. Pada saat telah siap untuk belajar sesuatu yang berkaitan dengan tugas pekerjaaannya, walaupun dia belum siap untuk belajar peran sosial lainnya. Dengan demikian implikasi praktis dalam proses pembelajaran disusun berdasarkan urutan tugas perkembangan perannya, bukan berdasarkan urutan logik mata pelajaran. Penyesuaian materi dan kegiatan belajar dengan kebutuhan belajar yang relevan dengan tugas perkembangan peranan orang dewasa perlu diutamakan.

 

(4) Orang dewasa mempunyai pandangan untuk segera menerapkan hasil belajarnya.

Orang dewasa berpartisipasi dalam kegiatan belajar karena ia merespon sesuatu yang sedang dirasakan dalam kehidupannya.

Ia senantiasa berorientasi pada kenyataan. Oleh karena itu kegiatan membelajarkan orang dewasa perlu menekankan pada peningkatan kemampuannya untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupannya. Implikasi dalam proses pembelajaran adalah adanya program belajar yang berorientasi pada pemecahan masalah. Pengalaman belajar dirancang berdasarkan masalah yang dihadapi oleh orang dewasa.

 

(5) Orang dewasa itu dapat belajar

Thorndike mengemukakan bahwa kemampuan belajar pada manusia akan menurun perlahan-lahan setelah mencapai usia 20 tahun. Namun studi Lorge mengungkapkan bahwa penurunan kemampuan itu hanya dalam kecepatan belajarnya, bukan dalam intensitas intelektualnya. Hasil penelitian lainnya menunjukkan bahwa dasar kemampuan untuk belajar pada manusia tetap ada sepanjang hayatnya. Apabila orang dewasa tidak menampilkan kemampuan belajar yang sebenarnya maka hal itu mungkin disebabkan oleh adanya perubahan-perubahan faktor fisiologik, seperti menurunnya pendengaran, penglihatan, atau tenaga sehingga kemampuan fisik orang dewasa akan mempengaruhi kecepatan belajarnya. Implikasi terhadap proses pembelajaran adalah bahwa sumber belajar yang dapat mendorong dan membantu orang dewasa untuk belajar sesuai dengan langkah yang mereka inginkan dan mereka tetapkan sendiri.

 

(6) Belajar merupakan proses yang terjadi dalam diri orang dewasa

Setiap peserta pelatihan akan mengontrol langsung proses belajarnya sendiri dengan melibatkan semua potensi dirinya, termasuk potensi intelektual, emosi dan fisiknya. Belajar mengarah pada proses pemenuhan kebutuhan dan pencapaian tujuan. Ia merasakan adanya kebutuhan untuk belajar dan melihat tujuan pribadinya akan tercapai melalui interaksi antara diri dengan lingkungannya. Kualitas belajar akan dipengaruhi oleh kuantitas dan kualitas interaksi dengan lingkungannya. Dengan demikian seni melatih orang dewasa merupakan upaya mengelola lingkungan dan interaksi dalam proses belajar. Implikasi dalam proses pembelajaran perlu menggunakan metode dan teknik yang melibatkan peserta pelatihan secara intensif didalam mendiagnosis kebutuhan belajar, merumuskan tujuan, merangsang dan melaksanakan kegiatan serta menilai proses, hasil dan dampak belajarnya.

 

(7) Perbedaan kondisi belajar memerlukan prinsip membelajarkan yang berbeda pula

Dalam proses pembelajaran orang dewasa ditemukan adanya kondisi belajar tertentu yang terungkap melalui transaksi. Hal ini dirasakan sesuai dengan kebutuhan dan linkungan belajar yang menyenangkan. Peserta pelatihan memandang tujuan belajar sebagai tujuan dirinya sendiri dan berpartisipasi dalam perencanaan dan pelaksanaan belajar. Proses belajar memanfaatkan pengalaman peserta pelatihan, dan merasakan kemajuan yang dicapai sesuai tujuan belajarnya. Kondisi ini berkaitan dengan prinsip pembelajaran orang dewasa.

Keberhasilan proses pembelajaran orang dewasa akan ditentukan oleh keterlibatan kedirian (ego) dalam tahap-tahap sebagai berikut :

1. Menciptakan iklim belajar yang cocok

2. Menciptakan situasi perencanaan partisipatif

3. Mendiagnosis kebutuhan belajar

4. Merumuskan tujuan belajar

5. Merancang kegiatan belajar

6. Melaksanakan kegiatan belajar

7. Menilai proses dan perolehan dalam memenuhi kebutuhan belajar.

 

Kegiatan ini dilakukan dengan bimbingan sumber belajar yang berfungsi sebagai fasilitator dan nara sumber. Secara singkat orang dewasa belajar dengan baik jika :

  • · pelatih memandu dan bukan mendikte proses belajar
  • · lingkungan belajar harus bebas dan netral. Orang dewasa sering kali menolak informasi baru apabila mereka merasa terancam, dimanipulasi atau dikritik
  • · mereka merasa bukan orang yang paling lemah

 

4)          Pedoman mengidentifikasi karakteristik peserta pelatihan .

 

Cara mengidentifikasi karakteristik pesereta pelatihan  Dapat menggunakan table berikut kondisi peserta ditulis berdasarkan kondisi real dari jumlah peserta dalam satu kelas. Setiap karaktristik peserta ditulis dampaknya terhadap perencanaan dalam proses pembelajaran hasil-hasil tersebut diberikan tanggapan dalam kolom keterangan :

 

Tabel Identifikasi Karakteristik Peserta Pelatihan

No

KARATERISTIK PESERTA

KONDISI

DAMPAK TERHADAP PERENCANAAN PEMBELAJARAN

KETERANGAN

1

Bahasa, kemampuan baca tulis dan kemampuan berhitung      

2

Latar belakang budaya dan bahasa      

3

Pendidikan dan pengetahuan umum      

4

Jenis kelamin      

5

Usia      

6

Kemampuan fisik      

7

Pengalaman sebelumnya tentang topic yang aka disajikan      

8

Pengalaman dalam pelatihan berdasarkan kompetensi      

9

Jadwal kerja suatu organisasi      

10

Pengalaman belajar sebelumnya      

 

 

 

 

5) Cara Menguasai model kepemimpinan sesuai dengan   perkembangan IPTEK

 

Jenis Teknik/Gaya Kepemimpinan

 

a)  Teknik Kepemimpinan Otoriter, Partisipatif dan delegatif

Menurut Drs. Malayu S.P. Hasibuan (1996:209-210) ada tiga teknik kepemimpinan yakni gaya kepemimpinan otoriter, partisipatif dan delegatif.

 

(1)    Gaya Otoriter

Gaya kepemimpinan otoriter tampak bila seseorang pemimpin menganut sistem sentralisasi wewenang. Falsafah gaya ini adalah bahwa bawahan adalah untuk pemimpin (atasan) dan menganggap dirinya paling berkuasa, paling pintar dan paling mampu. Pengarahan pada bawahan dilakukan melalui interuksi. Orientasi kepemimpinannya hanya meningkatkan produktivitas kerja, tetapi kurang memperhatikan perasaan dan kesejahteraan karyawan. Pimpinan menganut sistem manajemen tertutup. Kaderisasi kurang mendapat perhatian.

 

(2)    Gaya Partisipatif

Gaya ini tampak apabila seorang pemimpin dalam melaksanakan kepemimpinannya dilakukan secara persuasif, menciptakan kerjasama yang serasi, menumbuhkan loyalitas dan partisipasi bawahan. Pemimpin memotivasi bawahan agar mereka merasa ikut memiliki dengan berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan. Pemimpin menerapkan manajemen terbuka dan kaderisasi mendapat perhatian serius.

 

(3)    Gaya Delegatif

Gaya kepemimpinan ini menekankan kepada perlunya mendelegasikan wewenang kepada bawahan, sehingga bawahan dapat mengambil keputusan dan kebijakan dengan agak bebas dalam melaksanakan pekerjaannya.

Pemimpin tidak peduli cara apa yang akan dilakukan bawahan dalam mengerjakan pekerjaannya. Disini pimpinan menyerahkan tanggungjawab atas pelaksanaan pekerjaan kepada bawahan, dan hanya melakukan sedikit kontak dengan para bawahan. Oleh karena itu dalam gaya delegatif ini para bawahan dituntut memiliki kematangan (mature) pekerjaan dan kematangan kemauan (psikologis). Kedua kematangan pekerjaan itu dikaitkan dengan kemampuan untuk melakukan sesuatu yang didasarkan pada pengetahuan dan keterampilan. Kematangan psikologis dikaitkan dengan kemauan atau motivasi untuk melakukan sesuatu yang erat kaitannya dengan rasa yakin dan keterikatan.

 

b) Gaya Managerial Grid dan Blake & Mouton

Robert Blake dan J.S Mouton dalam “Managerial Grid” (jaringan manajemen) nya mengemukakan gaya kepemimpinan yang menekankan kepada dua perilaku kepedulian yang diperlihatkan seorang pemimpin yaitu : kepedulian pada tujuan organisasi (prestasi) dan kepedulian kepada bawahan (manusia).

 

Kepedulian kepada tujuan organisasi adalah perilaku yang mengutamakan kepentingan organisasi, efisiensi kerja, disiplin kerja dan pencapaian tujuan organisasi. Sedang kepedulian terhadap bawahan merupakan perilaku kepemimpinan yang mengutamakan partisipasi para bawahan, suasana kerja yang baik, hubungan antar manusia yang saling memuaskan.

c)  Gaya Kepemimpinan Tiga Dimensi

Penemu teori gaya kepemimpinan tiga dimensi (Three Dimensional Theory) adalah Profesor William J. Reddin dari Kanada, dalam bukunya “Managerial Effectiveness” Teori ini sebenarnya memperluas teori Blake dan Mouton dengan menambahkan komponen efektifitas dalam model teorinya. Sehingga keseluruhan menjadi tiga komponen yaitu :

(1)                 Orientasi Tugas (Task Orientation)

Pemimpin tipe ini dapat dilihat dari kualitas keinginannya untuk menyelesaikan tugas. Atas dasar ini ada pemimpin yang kuat untuk menyelesaikan tugas dengan cepat, tapi ada pula pemimpin yang lemah keinginannya untuk menyelesaikan tugas.

 

(2)                 Orientasi Hubungan (Relationship Orientation)

Pemimpin tipe ini juga dapat dilihat dari kualitas perhatiannya terhadap hubungannya dengan orang lain baik vertical maupun horizontal terutama hubungan dengan bawahan. Dengan demikian ada pemimpin yang mempunyai hubungan erat dengan orang lain, dan ada pula hubungan sangat bersifat formal saja.

 

(3)                 Orientasi Efektivitas

Pemimpin dengan tipe efektivitas adalah kemauannya untuk mencapai produktivitas kerja yang tinggi. Atas dasar pemikiran ini maka ada pemimpin yang efektif dan ada pula pemimpin yang tidak efektif.

 

d)  Gaya Kepemimpinan Kontinum ( A Continuum of Leadership Style)

Rensis Likert dan Kurt Lewin mengembangkan “A Continuum of Leadership Style” dalam menelaah leadership style atau cara-cara kepemimpinan sebagai berikut :

(1)                 Exploitative Autocracy (Coercive Leader Style)

Cara melaksanakan kepemimpinan dengan jalan memberikan perintah, paksaan, ancaman hukuman dan komando saja. Falsafah kepemimpinannya bahwa bawahan adalah untuk pemimpin bukan pemimpin untuk bawahan.

 

(2)                 Benevolent Autocracy Style

Seorang pemimpin dalam melaksanakan kepemimpinannya berdasarkan kebaikan (benevolent leader). Ia menggunakan berbagai cara seperti : pujian, melakukan diplomasi tindakan yang bijaksana dan berusaha mendapatkan hasil yang diharapkan.

 

(3)                 Consultative Leadership Style

Seorang pemimpin mengajak para bawahan untuk ikut berpartisipasi memberikan saran, pendapat, pertimbangan sebelum keputusan ditetapkan oleh pemimpin.

 

(4)                 Participative Group Leadership Style

Seorang pemimpin dalam menjalankan kepemimpinannya menitik beratkan keikutsertaan kelompok atau bawahan yang serius dalam proses pengambilan keputusan. Tetapi keputusan tetap berada ditangan pemimpin.

 

Cara menguasai atau menerapkan model kepemimpinan yang sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dilakukan penyesuaian beberapa model dengan situasi dan kondisi perkembangan iptek.

 

6) Pengertian  Motivasi Belajar.

a)  Defenisi Motivasi

Motif adalah dorongan yang timbul dari dalam diri yang menyebabkan seseorang bertindak melakukan sesuatu. Sedangkan motivasi adalah pendorongan suatu usaha yang disadari untuk mempengaruhi tingkah laku seseorang agar tergerak hatinya untuk bertindak melakukan sesuatu sehingga mencapai hasil atau tujuan tertentu.

Motivasi umumnya menyangkut tiga komponen utama, yaitu menggerakkan, mengarahkan dan menopang tingkah laku manusia.

Dengan kata lain : “Motivasi adalah upaya yang disadari untuk menggerakkan, mengarahkan dan menjaga tingkah laku seseorang untuk bertindak melakukan sesuatu sehingga dapat mencapai hasil atau tujuan tertentu”.

 

b)  Motivasi Belajar

Apa saja yang diperbuat oleh manusia didalam hidupnya selalu ada motivasi. Didalam proses pelatihan, motivasi sangat penting dan sangat mutlak untuk belajar. Banyak peserta pelatihan tidak berkembang karena tidak diperolehnya motivasi yang tepat. Jika seseorang mendapat motivasi yang tepat, maka timbul tenaga yang luar biasa sehingga hasilnya lebih sempurna.

Seseorang peserta pelatihan tekun mempelajari buku pelajaran sampai larut malam, tanpa merasa kelelahan apalagi mengantuk. Mengapa dia belajar seperti itu? Atau dengan perkataan lain, apakah yang mendorongnya? Apa motifnya?

Sartain dalam bukunya : Psychology Understanding of Human Behavior, mengatakan motif adalah suatu pernyataan yang kompleks di dalam suatu organisme yang mengarahkan tingkah laku / perbuatan ke suatu tujuan atau perangsang. Dengan kata lain dalam modul ini diartikan :

“Motif adalah sesuatu yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu”

 

Klasifikasi Motif

(1)   Sartain, membagi motif menjadi 2 golongan :

(a)   Psychological Drives, yaitu dorongan-dorongan yang bersifat jasmaniah, seperti lapar, haus dan sebagainya.

(b)   Social Motives, yaitu dorongan-dorongan yang ada hubungannya dengan manusia yang lain dalam masyarakat, seperti dorongan estetis, dorongan etika dan sebagainya.

 

(2)   Woodworth, mengklasifikasikan motif sebagai berikut :

(a)       Motif-motif yang tidak dipelajari (Unlearned Motives), merupakan motif yang timbul disebabkan oleh kekurangan/kebutuhan tubuh seperti lapar, haus, sakit dan lain-lainnya yang menimbulkan dorongan diri untuk dipenuhi.

(b)       Motif yang dipelajari (Learned Motives), perasaan suka atau tidak suka merupakan aspek yang didasari motif-motif untuk mendekatkan diri atau menjauhkan diri dari sesuatu.

 

(3)    Para ahli lainnya membedakan motif-motif itu :

(a)   Motif Intrinsik, contohnya seseorang peserta pelatihan mempelajari psikologi pelatihan, karena dia benar-benar tertarik dan ingin menguasai isinya.

(b)   Motif Ekstrinsik, seseorang peserta pelatihan belajar bukan didorong oleh keinginan untuk terampil, melainkan agar lulus ujian atau karena ingin mrndapatkan sertifikat saja.

 

Tugas seorang Instruktur adalah membangkitkan motivasi para peserta pelatihan. Upayakan agar motif mereka dalam berlatih adalah motif intrinsik, sehingga mereka akan aktif bekerja tanpa selalu harus dipaksa.

Fungsi Motif adalah :

  • Ø Mendorong manusia untuk bertindak/berbuat.
  • Ø Menentukan arah perbuatan/tujuan.
  • Ø Menyeleksi perbuatan yang kita lakukan.

 

c)  Teori-teori Motivasi

(1)    Teori Kenikmatan (Hedonisme)

Hedone adalah bahasa Yunani yang berarti kesukaan, kesenangan atau kenikmatan. Menurut teori ini manusia pada hakekatnya adalah makhluk yang mementingkan kehidupan yang penuh kenikmatan dan kesenangan.

 

(2)    Teori Naluri

Menurut teori ini kebiasaan, tindakan atau tingkah laku manusia digerakkan atau didorong oleh tiga macam naluri yang ada didalam diri manusia, yaitu mempertahankan diri, mengembangkan diri dan mengembangkan jenis.

 

(3)    Teori Reaksi yang dipelajari

Teori ini berpandangan bahwa tindakan atau perilaku manusia ini tidak berdasarkan naluri, tetapi berdasarkan pola tingkah laku yang dipelajari dari kebudayaan dimana ia hidup.

 

(4)    Teori Daya Pendorong

Teori ini perpaduan antara teori naluri dan teori reaksi yang dipelajari. Daya mendorong adalah naluri yang kekuatannya dipengaruhi oleh budaya.

 

(5)    Teori Kebutuhan

Teori kebutuhan Abraham Maslow, mengemukakan bahwa kebutuhan manusia ada lima tingkatan :

  • Kebutuhan Fisiologis (Psychological Needs), kebutuhan ini merupakan kebutuhan dasar yang bersifat primer dan vital menyangkut fungsi-fungsi biologi dasar dari orgasme manusia seperti kebutuhan sandang, papan, seks dan sebagainya.
  • Kebutuhan rasa aman dan perlindungan (Safety ang Security Needs), kebutuhan terjaminnya keamanannya, terhindar dari bahaya dan ancaman penyakit, kemiskinan, kelaparan, perlakuan tidak adil dan sebagainya.
  • Kebutuhan social (Social Needs), Kebutuhan untuk dicintai, diperhitungkan sebagai pribadi, diakui sebagai anggota kelompok dan sebagainya.
  • Kebutuhan dan Penghargaan (Esteem Needs), Kebutuhan untuk dihargai karena prestasi, kemampuan, kedudukan atau status, pangkat dan sebaginya.
  • Kebutuhan akan Aktualisasi Diri (Self Actualization Needs), kebutuhan untuk mempertinggi potensi-potensi yang dimiliki, pengembangan diri secara maksimum.

 

Gambar. Tingkat kebutuhan menurut Teori kebutuhan Abraham Maslow

 

7)  Kebutuhan perlengkapan saat proses pembelajaran.

Standar Sarana dan Prasarana

Setiap satuan pendidikan wajib memiliki sarana yang meliputi perabot, peralatan pendidikan, media pendidikan, buku dan sumber belajar lainnya, bahan habis pakai, serta perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan.

Setiap satuan pendidikan wajib memiliki prasarana yang meliputi lahan, ruang kelas, ruang pimpinan satuan pendidikan, ruang pendidik, ruang tata usaha, ruang perpustakaan, ruang laboratorium, ruang bengkel kerja, ruang unit produksi, ruang kantin, instalasi daya dan jasa, tempat berolahraga, tempat beribadah, tempat bermain, tempat berkreasi, dan ruang/tempat lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan.

Berikut ini, Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia yang berkaitan dengan Standar Sarana dan Prasarana.

# Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No 24 Tahun 2007 tentang Standar Sarana dan Prasarana untuk Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI), Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTs), dan Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah (SMA/MA).
# Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No 40 Tahun 2008 tentang Standar Sarana Prasarana untuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK).

LATAR BELAKANG
Pelaksanaan pendidikan nasional harus menjamin pemerataan dan peningkatan mutu pendidikan di tengah perubahan global agar warga Indonesia menjadi manusia yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, cerdas, produktif, dan berdaya saing tinggi dalam pergaulan nasional maupun internasional. Untuk menjamin tercapainya tujuan pendidikan tersebut, Pemerintah telah mengamanatkan penyusunan delapan standar nasional pendidikan sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Standar nasional pendidikan adalah kriteria minimum tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia.Pelaksanaan pembelajaran dalam pendidikan nasional berpusat pada peserta didik agar dapat:
(a) belajar untuk beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
(b) belajar untuk memahami dan menghayati,
(c) belajar untuk mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif,
(d) belajar untuk hidup bersama dan berguna bagi orang lain, dan
(e) belajar untuk membangun dan menemukan jati diri melalui proses belajar yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.
Untuk menjamin terwujudnya hal tersebut diperlukan adanya sarana dan prasarana yang memadai. Sarana dan prasarana yang memadai tersebut harus memenuhi ketentuan minimum yang ditetapkan dalam standar sarana dan prasarana.Standar sarana dan prasarana ini untuk lingkup pendidikan formal, jenis pendidikan umum, jenjang pendidikan dasar dan menengah yaitu: Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI), Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTs), dan Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah (SMA/MA). Standar sarana dan prasarana ini mencakup:

  1. Kriteria minimum sarana yang terdiri dari perabot, peralatan pendidikan, media  pendidikan, buku dan sumber belajar lainnya, teknologi informasi dan komunikasi, serta perlengkapan lain yang wajib dimiliki oleh setiap sekolah/madrasah.

 

2. Kriteria minimum prasarana yang terdiri dari lahan, bangunan, ruang-ruang, dan instalasi daya dan jasa yang wajib dimiliki oleh setiap sekolah/madrasah.

 

PENGERTIAN

 

1. Sarana adalah perlengkapan pembelajaran yang dapat dipindah-pindah.

2. Prasarana adalah fasilitas dasar untuk menjalankan fungsi sekolah/madrasah.

3. Perabot adalah sarana pengisi ruang.

4. Peralatan pendidikan adalah sarana yang secara langsung digunakan untuk pembelajaran.

5. Media pendidikan adalah peralatan pendidikan yang digunakan untuk membantu komunikasi dalam pembelajaran.

6. Buku adalah karya tulis yang diterbitkan sebagai sumber belajar.

7. Buku teks pelajaran adalah buku pelajaran yang menjadi pegangan peserta didik dan guru untuk setiap mata pelajaran.

8. Buku pengayaan adalah buku untuk memperkaya pengetahuan peserta didik dan guru.

9. Buku referensi adalah buku rujukan untuk mencari informasi atau data tertentu.

10. Sumber belajar lainnya adalah sumber informasi dalam bentuk selain buku meliputi jurnal, majalah, surat kabar, poster, situs (website), dan compact disk.

11. Bahan habis pakai adalah barang yang digunakan dan habis dalam waktu relatif singkat.

12. Perlengkapan lain adalah alat mesin kantor dan peralatan tambahan yang digunakan untuk mendukung fungsi sekolah/madrasah.

13. Teknologi informasi dan komunikasi adalah satuan perangkat keras dan lunak yang berkaitan dengan akses dan pengelolaan informasi dan komunikasi.

14. Lahan adalah bidang permukaan tanah yang di atasnya terdapat prasarana sekolah/madrasah meliputi bangunan, lahan praktik, lahan untuk prasarana penunjang, dan lahan pertamanan.

15. Bangunan adalah gedung yang digunakan untuk menjalankan fungsi sekolah/madrasah.

16. Ruang kelas adalah ruang untuk pembelajaran teori dan praktik yang tidak memerlukan peralatan khusus.

17. Ruang perpustakaan adalah ruang untuk menyimpan dan memperoleh informasi dari berbagai jenis bahan pustaka.

18. Ruang laboratorium adalah ruang untuk pembelajaran secara praktik yang memerlukan peralatan khusus.

19. Ruang pimpinan adalah ruang untuk pimpinan melakukan kegiatan pengelolaan sekolah/madrasah.

20. Ruang guru adalah ruang untuk guru bekerja di luar kelas, beristirahat, dan menerima tamu.

21. Ruang tata usaha adalah ruang untuk pengelolaan administrasi sekolah/madrasah.

22. Ruang konseling adalah ruang untuk peserta didik mendapatkan layanan konseling dari konselor berkaitan dengan pengembangan pribadi, sosial, belajar, dan karir.

23. Ruang UKS adalah ruang untuk menangani peserta didik yang mengalami gangguan kesehatan dini dan ringan di sekolah/madrasah.

24. Tempat beribadah adalah tempat warga sekolah/madrasah melakukan ibadah yang diwajibkan oleh agama masing-masing pada waktu sekolah.

25. Ruang organisasi kesiswaan adalah ruang untuk melakukan kegiatan kesekretariatan pengelolaan organisasi peserta didik.

26. Jamban adalah ruang untuk buang air besar dan/atau kecil.

27. Gudang adalah ruang untuk menyimpan peralatan pembelajaran di luar kelas,  peralatan sekolah/madrasah yang tidak/belum berfungsi, dan arsip sekolah/madrasah.

28. Ruang sirkulasi adalah ruang penghubung antar bagian bangunan sekolah/madrasah.

29. Tempat berolahraga adalah ruang terbuka atau tertutup yang dilengkapi dengan sarana untuk melakukan pendidikan jasmani dan olah raga.

30. Tempat bermain adalah ruang terbuka atau tertutup untuk peserta didik dapat melakukan kegiatan bebas.

31. Rombongan belajar adalah kelompok peserta didik yang terdaftar pada satu satuan kelas.
PRASANA SEKOLAH
* Sebuah SD/MI sekurang-kurangnya memiliki prasarana sebagai berikut:
1. Ruang Kelas,
2. Ruang Perpustakaan,
3. Laboratorium IPA,
4. Ruang Pimpinan,
5. Ruang Guru,
6. Tempat Beribadah,
7. Ruang UKS,

8. Jamban,
9. Gudang,
10. Ruang Sirkulasi,
11. Tempat Bermain/Berolahraga.

 

 

* Sebuah SMP/MTs sekurang-kurangnya memiliki prasarana sebagai berikut:
1. Ruang Kelas,
2. Ruang Perpustakaan,
3. Ruang Laboratorium IPA,
4. Ruang Pimpinan,
5. Ruang Guru,
6. Ruang Tata Usaha,
7. Tempat Beribadah,
8. Ruang Konseling,
9. Ruang UKS,
10. Ruang Organisasi Kesiswaan,
11. Jamban,
12. Gudang,
13. Ruang Sirkulasi,
14. Tempat Bermain/Berolahraga.

 

*  Sebuah SMA/MA sekurang-kurangnya memiliki prasarana sebagai berikut:
1. Ruang Kelas,
2. Ruang Perpustakaan,
3. Ruang Laboratorium Biologi,
4. Ruang Laboratorium Fisika,
5. Ruang Laboratorium Kimia,
6. Ruang Laboratorium Komputer,
7. Ruang Laboratorium Bahasa,
8. Ruang Pimpinan,
9. Ruang Guru,
10. Ruang Tata Usaha,
11. Tempat Beribadah,
12. Ruang Konseling,
13. Ruang UKS,
14. Ruang Organisasi Kesiswaan,
15. Jamban,
16. Gudang,
17. Ruang Sirkulasi,
18. Tempat Bermain/Berolahraga

 

 

 

 

 

 

a)  Perlengkapan pembelajaran

 

………………………………………………..

 

 

b) Macam dan Jenis perlengkapan pembelajaran

 

………………………………………………..

 

 

c)  Kebutuhan perlengkapan dalam proses pembelajaran

 

 

………………………………………………..

 

 

  1. b.  Keterampilan

1)  Mengidentifikasi model kepemimpinan

 

Tabel  identifikasi model kepemimpinan

 

No

 

Model

 

C i r i

 

Keuntungan

 

Kerugian

 

Keterangan

           
           
           

 

2)  Mengidentifikasi karakteristik peserta pelatihan

 

Tabel  identifikasi karakteristik peserta pelatihan  

No

KARATERISTIK PESERTA

KONDISI

DAMPAKNYA TERHADAP PERENCANAAN PEMBELAJARAN

KETERANGAN

1

Bahasa, kemampuan baca tulis dan kemampuan berhitung      

2

Latar belakang budaya dan bahasa      

3

Pendidikan dan pengetahuan umum      

4

Jenis kelamin      

5

Usia      

6

Kemampuan fisik      

7

Pengalaman sebelumnya tentang topic yang aka disajikan      

8

Pengalaman dalam pelatihan berdasarkan kompetensi      

9

Jadwal kerja suatu organisasi      

10

Pengalaman belajar sebelumnya      

 

 

 

 

3)  Menguasai model kepemimpinan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi

 

(a)  Penguasaan terhadap perkembangan iptek bidang administrasi, management dan kepemimpinan.

 

 

………………………………………………..

 

(b) Penguasaan model-model kepemimpinan sesuai dengan perkembangan Iptek

 

………………………………………………..

 

 

4)  Mengkondisikan proses kegiatan pembelajaran sesuai dengan model kepemimpinan yang tepat

 

(a)   Penyesuaian kondisi proses pembelajaran dengan model –model kepemimpinan

 

………………………………………………..

 

(b)   Cara mengkondisikan proses pembelajaran dengan model –model kepemimpinan

 

 

 

………………………………………………..

 

 

Sikap

 

1)  Mengidentifikasi model kepemimpinan harus dilakukan secara cermat

2)  Mengidentifikasi karakteristik peserta pelatihan harus dilakukan secara cermat

3)  Menguasai model kepemimpinan sejalan dengan perkembangan ilmu

pengetahuan dan teknologi harus dilakukan secara cermat

4)  Mengkondisikan proses kegiatan pembelajaran sesuai dengan model

kepemimpinan   yang tepat dan teliti

 

  1. 2.  Mengaplikasikan model keteladanan yang baik dalam lingkungan    pembelajaran
    1. a.  Pengetahuan

1)  Pengertian keteladanan

Keteladanan adalah perintah tanpa kata-kata. Orang senang mengikuti
keteladan daripada perintah.
Menjadi teladan adalah cara sederhana tapi efektif untuk mengesankan dan
mempengaruhi karyawan anda.

2)  Sikap-sikap keteladanan dalam lingkungan pembelajaran dan lingkungan

kerja.
Sebenarnya, prinsip keteladanan itu ringkas, yaitu, “Meminta orang lain
untuk melakukan apa yang anda lakukan dan katakan”. Namun demikian
penerapannya tidak cukup mudah. Anda memerlukan konsistensi dan

integritas.
Anda perlu mengetahui di bidang-bidang mana saja anda harus memberikan keteladanan. R. Bruce McAfee dan Betty J. Ricks dalam tulisannya,

“Leadership By Example: ‘Do as I Do!” menunjukkan enam bidang kunci dimana anda harus bertindak dengan sikap memberi teladan.

  • Ketaatan pada aturan.
    Tunjukkan keteladanan anda dengan menaati aturan-aturan yang berlaku.
    Sampaikan bahwa aturan tidak selamanya dibuat untuk membatasi ruang

gerak, namun untuk menciptakan kondisi kerja yang positif.

  • Pencapaian kinerja kerja.
    Anda tidak dapat mengharapkan karyawan anda bekerja lebih baik dari   anda. Bila anda ingin karyawan meningkatkan prestasinya, tingkatkan terlebih dahulu prestasi anda.
  • Sikap terhadap institusi dan pekerjaan.
    Milikilah sikap positif terhadap perusahaan dan pekerjaan. Tunjukkan
    sikap positif dan optimis   terhadap apa yang dilakukan oleh perusahaan.
    Bila anda bersikap skeptis dan pesimis, maka anda gagal menumbuhkan

kesan baik pada karyawan.

  • Kesehatan dan penampilan fisik.
    Semua orang senang melihat kebugaran dan penampilan segar. Berilah
    teladan dengan merawat kesehatan dan penampilan diri anda.
  • Pakaian dan kerapihan.

Pakaian yang anda kenakan dan gaya anda berpakaian dapat mempengaruhi orang lain. Berpakaian dengan rapi dan profesional menunjukkan  penghargaan anda pada pekerjaan dan lingkungan kerja

  •  Aspek komunikasi interpersonal.
    Perhatikan gaya anda berbicara dan bahasa tubuh anda saat berkomunikasi
    secara personal dengan   orang lain. Tunjukkan sikap tenang, wibawa dan

menghargai lawan bicara anda.

3)  Model keteladanan dalam lingkungan pembelajaran

a)  Macam dan jenis-jenis lingkungan pembelajaran

lingkungan pembelajarann pada dasarnya terdiri dari 2 macam yaitu :

 

PERTAMA : Lingkungan pembelajaran teori/kelas

Penyampaian materi pembelajaran dalam memimpin kegiatan pembelajaran atau pemberian informasi dilakukan melalui metode ceramah dan tanya jawaban untuk memperoleh pengarahan, pemahaman dan pola pikir yang bersifat teoritis dimana Instruktur berinteraksi dengan peserta pelatihan mulai dari persiapan, penyajian, aplikasi dan evaluasi yang telah dijelaskan dalam modul strategi pembelajaran dan penilaian.

Dalam interaksi tersebut Instruktur menggunakan sarana dan fasilitas ruang kelas beserta perlengkapan lain baik yang diperlukan bagi Instruktur maupun Peserta Pelatihan.

 

KEDUA : Lingkungan pembelajaran praktek (Bengkel/Workshop)

Penyampaian materi praktek atau tugas-tugas pekerjaan dalam memimpin kegiatan pembelajaran praktek atau pemberian informasi, demonstrasi tentang tugas praktek bagi peserta pelatihan selama dalam ruangan praktek/Workshop hal ini akan dilakukan pembuktian dari hasil materi pembelajaran teori swehingga memerlukan fasilitas peralatan dan mesin, bahan praktek dan tahapan proses pekerjaan, keselamatan kerja serta penilaian hasil pekerjaan praktek dari masing-masing peserta.

Interaksi instruktur dengan Peserta Pelatihan terbagi dalam berbagai aktivitas namun demikian pengawasan terhadap jalanya proses pembelajaran praktek relatif luas karna menyangkut sarana dan fasilitas baik penggunaan maupun pemeliharaan dan keselamatan kerjanya.

 

Dari kedua macam lingkungan pembelajaran diatas maka dalam memimpin kegiatan pembelajaran pada dasarnya terbagi menjadi tiga jenis pembelajaran yaitu:

v   Pembelajaran kelompok besar/kelas

pembelajaran kelompok/kelas bersifat instruksional atau pemberian informasi baik pemahaman materi maupun instruksi kerja praktek Instruktur berinteraksi penuh pada kelompok/kelas.

v   Pembelajaran kelompok kecil

Pembelajaran kelompok kecil terdiri dari pembagian jumlah peserta dalam satu kelas menjadi kelompok atau group dimana kegiatan pembelajaran dikelompok-kelompokan menjadi tugas kelompok baik topik-topik pembahasan materi maupun tugas-tugas pekerjaan praktek. Instruktur berinteraksi melalui perwakilan kelompok atau sebagai Penyelia/supervisor.

 

 

v   Pembelajaran individual

Kegiatan pembelajaran individual adalah Intruktur membagi tugas individu kepada peserta pelatihan tugas-tugas tersebut menjadi aktivitas penuh bagi peserta sehingga Instruktur hanya melayani peserta secara pribadi sesuai dengan proses pembelajaran sehingga Intruktur biasa disebut sebagai fasilitator.

b)  Model keteladanan yang sesuai dengan lingkungan pembelajaran

Model-model keteladanan dalam lingkungan pembelajaran akan terlihat pada aktivitas Instruktur pada setiap jenis pembelajaran baik diruang kelas maupun di bengkel. Model keteladanan juga merupakan cerminan atau tampilan Instruktur selama proses pembelajaran berlangsung.

Oleh sebab itu model keteladanan tercermin dalam tiga jenis pembelajaran kelompok besar/kelas, kelompok kecil/group dan individual baik di ruang kelas maupun di workshop.

 

 

4)  Kebiasaan-kebiasaan yang efektif dalam lingkungan pembelajaran

Karakter kita pada dasarnya adalah gabungan dari kebiasaan-kebiasaan kita. “Taburlah gagasan, tuailah perbuatan; taburlah perbuatan, tuailah kebiasaan, tuailah karakter; taburlah karakter, tuailah takdir,” begitu bunyi pepatah.

                

Gbr. Tujuh Sikap Perilaku / Kebiasaan

 

Kebiasaan adalah faktor yang kuat didalam hidup kita. Karena konsisten, dan sering merupakan pola yang tak disadari, maka kebiasaan terus menerus, setiap hari, mengekpresikan karakter karakter kita dan menghasilkan keefektifan kita.

 

a)  Definisi Kebiasaan

Definisi kebiasaan sebagai titik pertemuan dari pengetahuan, keterampilan dan keinginan. Pengetahuan adalah paradigma teoretis, apa yang harus dilakukan dan mengapa. Keterampilan adalah bagaimana melakukannya. Dan keinginan adalah motivasi, keinginan untuk melakukan.

Untuk menjadikan sesuatu sebagai kebiasaan didalam hidup kita, kita harus mempunyai ketiganya. Dengan memperbaiki pengetahuan, keterampilan dan keinginan, kita dapat menerobos ketingkat baru keefektifan pribadi dan antar pribadi ketika kita mendobrak paradigma lama yang mungkin merupakan sumber rasa aman semu selama ini.

 

b)  Prinsip dan Pola Perilaku yang Dihayati

Tujuh kebiasaan bukanlah seperangkat formula pemberi semangat yang terpisah atau sepotong-potong. Selaras dengan hukum alam pertumbuhan, ketujuh kebiasaan memberikan pendekatan yang meningkat, berurutan dan sangat terpadu terhadap perkembangan keefektifan pribadi dan antar pribadi. Mereka menggerakkan kita secara progresif pada Kontinum Kematangan dari ketergantungan (dependence) menuju kemandirian (independence) hingga kesalingtergantungan (interdependence).

 

Orang yang bergantung membutuhkan orang lain untuk mendapatkan apa yang mereka kehendaki. Orang yang mandiri dapat memperoleh apa yang mereka kehendaki melalui usaha mereka sendiri. Orang yang saling tergantung menggabungkan upaya mereka dengan upaya orang lain untuk mencapai keberhasilan terbesar mereka.

Tentu saja kita mungkin perlu mengubah keadaan kita. Akan tetapi masalah ketergantungan adalah masalah pribadi yang sedikit kaitannya dengan keadaan. Bahkan dengan keadaan yang lebih baik, ketidakmatangan dan ketergantungan sering tetap ada.

Tujuh kebiasaan adalah kebiasaan keefektifan. Karena didasarkan atas prinsip-prinsip, ketujuh kebiasaan tersebut memberikan hasil jangka panjang yang menguntungkan semaksimum mungkin. Ketujuh kebiasaan itu menjadi dasar dari karakter seseorang dan juga merupakan kebiasaan keefektifan yang selaras dengan hukum alam.

 

Kebiasaan 1. Jadilah Proaktif

Dalam menemukan prinsip dasar sifat manusia yang digambarkan sebuah peta diri yang akurat dan dari peta tersebut mulai mengembangkan kebiasaan yang pertama dan paling mendasar dari manusia yang sangat efektif didalam lingkungan apapun, yaitu kebiasaan proaktivitas. Kata ini berarti lebih dari sekadar mengambil inisiatif. Kata ini berarti bahwa sebagai manusia, kita bertanggung jawab atas hidup kita sendiri.

Karena itu pada dasarnya proaktif, jika hisup kita merupakan fungsi dari pengkondisian dan kondisi, ini adalah karena kita, melalui keputusan sadar atau kelalaian, memilih untuk memberikan kekuatan pada hal-hal itu untuk mengendalikan diri kita.

 

Kebiasaan 2. Mulai dengan akhir dalam pikiran

Memulai dengan akhir dalam pikiran berarti memulai dengan pengertian yang jelas mengenai tempat tujuan anda. Ini berarti mengetahui kemana anda akan pergi sehingga anda lebih baik mengerti dimana anda berada sekarang dan dengan begitu anda tahu langkah-langkah yang anda ambil selalu berada pada arah yang benar.

Cara yang paling efektif untuk mulai dengan akhir dalam pikiran adalah dengan mengembangkan pernyataan visi pribadi atau filosofi.

 

 

Kebiasaan 3. Dahulukan yang harus didahulukan

Kebiasaan ini adalah pemenuhan, aktualisasi, kemunculan wajar dari kebiasaan 1 dan 2. Ini adalah latihan kehendak bebas untuk menjadi berpusat pada prinsip. Kebiasaan 1 dan 2 mutlak esensial dan merupakan prasyarat untuk kebiasaan 3. Anda tidak dapat menjadi berpusat pada prinsip tanpa lebih dahulu sadar akan dan mengembangkan sifat proaktif anda.

Selain kesadaran diri, imajinasi dan suara hati, anugerah manusia keempatlah – kehendak bebas – yang benar-benar memungkinkan manajemen diri yang efektif. Kehendak bebas adalah kemampuan untuk mengambil keputusan dan membuat pilihan serta bertindak sesuai dengan keputusan dan membuat pilihan serta bertindak sesuai dengan keputusan dan pilihan tersebut.

 

Kebiasaan 4. Berpikir Menang/Menang

Menang/Menang adalah kerangka pikiran dan hati yang terus menerus mencari keuntungan bersama didalam semua interaksi manusia. Menang/Menang berarti bahwa kesepakatan atau solusi memberikan keuntungan dan kepuasan yang timbale balik. Dengan solusi Menang/Menang, semua pihak merasa senang dengan keputusannya dan merasa terikat dengan rencana tindakannya. Menang/Menang melihat kehidupan sebagai arena yang koperatif, bukan kompetitif. Kebanyakan orang cenderung berpikir secara dikotomi : kuat atau lemah, keras atau lunak, menang atau kalah. Akan tetapi cara berpikir seperti ini pada dasarnya cacat. Cara berpikir seperti ini didasarkan pada kekuasaan dan posisi dan bukan pada prinsip.

Menang/Menang didasarkan pada paradigma bahwa ada banyak untuk setiap orang, bahwa keberhasilan satu orang tidak dicapai dengan mengorbankan atau menyingkirkan keberhasilan orang lain.

 

Kebiasaan 5. Berusaha mengerti lebih dahulu, baru dimengerti

Berusaha lebih dahulu untuk mengerti, baru dimengerti. Mengetahui bagaimana untuk dimengerti adalah separuh lagi dari kebiasaan 5, dan sama pentingnya dalam mencapai solusi menang/tidak menang. Sebelum mendefinisikan kematangan sebagai keseimbangan antara keberanian dan pertimbangan. Berusaha untuk dimengerti, membutuhkan keberanian. Menang/Menang memerlukan kadar yang tinggi dari keduanya. Jadi dalam situasi kesalingtergantungan penting sekali bagi kita untuk dimengerti.

 

Kebiasaan 6. Wujudkan sinergi

Jika dimengerti dengan benar, sinergi adalah aktivitas tertinggi didalam semua kehidupan, ujian dan manifestasi sebenarnya dari dari semua kebiasaan lain digabungkan menjadi satu.

Bentuk-bentuk tertinggi dari sinergi menfokuskan empat anugerah manusia yang unit, motif Menang/Menang, dan keterampilan komunikasi empatik pada tantangan terbesar yang kita hadapi dalam hidup. Hasilnya nyaris merupakan mukjizat.

Sinergi adalah intisari dari kepemimpinan yang berpusat pada prinsip. Sinergi adalah intisari dari keorangtuaan yang berpusat pada prinsip. Sinergi berfungsi sebagai katalisator, menyatukan dan melepaskan kekuatan terbesar didalam diri manusia.

 

Kebiasaan 7. Asahlah Gergaji

Kebiasaan 7 adalah meluangkan waktu untuk mengasah gergaji. Ini melingkungi kebiasaan-kebiasaan lain pada paradigma tujuh kebiasaan lain. Kebiasaan ini memelihara dan meningkatkan aset terbesar yang anda miliki, yaitu anda. Kebiasaan ini memperbaharui keempat dimensi sifat anda : fisik, spiritual, mental dan sosial/emosional.

“Asahlah Gergaji” pada dasarnya berarti mengekpresikan keempat motivasi. Ini berarti menjalankan keempat dimensi sifat anda, secara teratur dan konsisten dengan cara-cara yang bijaksana dan seimbang.

 

Keterampilan  

1)  Mengidentifikasi sikap-sikap keteladanan

 

Tabel  identifikasi sikap-sikap keteladanan

 

NO

PARAMETER

K R I T E R I A

H A S I L

TANGGAPAN  

SESUAI

TDK.SESUAI

1

Ketaatan pada aturan - Kedinasan/Tatib

- Pekerjaan(SOP)

 

 

 

2

Pencapaian kinerja Target hasil   (Indikator kerja):

-   kualitas

-   Kuantitas

-   Waktu

 

3

Sikap terhadap lembaga,Orang dan pekerjaan -  Loyalitas

-   Berfikir positip

-   Konsisten

-   Inovatif

 

 

4

Kesehatan dan penampilan fisik -     Kebugaran

-     Perawatan kesehatan

-     Energik

 

5

Pakaian dan kerapian -      Bersih

-  Rapih

-  cara berpakaian

-  dll

 

6

Aspek komunikasi & Interpersonal -  Gaya bicara

-  Bahasa tubuh

-  Sikap tenang

- Menghargai lawan

Bicara.

 

 

 

Tabel hasil identifikasi  sikap-sikap keteladanan

No

Parameter

Tanggapan

Rumusan hasil

 

Rekomendasi

1

       

2

       

3

       

4

       

5

       

6

       

7

       

 

2)   Mengaktualisasikan sikap keteladanan di lingkungan pembelajaran dan lingkungan kerja

 

Tabel  Aktualisasi keteladanan dilingkungan Pembelajaran/Kerja

No

Parameter

 Kebiasaan

Parameter Keteladanan

Lingkungan Pembelajaran

 

Lingkungan

Kerja

1

       

2

       

3

       

4

       

5

       

6

       

7

       

 

  1. b.  Sikap

1)   Mengidentifikasi sikap-sikap keteladanan harus dilakukan dengan cermat dan    teliti

2)   Mengaktualisasikan sikap keteladanan di lingkungan pembelajaran dan                lingkungan kerja  harus dilakukan  secara wajar dan percaya diri

 

 


BAB III

SUMBER-SUMBER LAIN

YANG DIPERLUKAN UNTUK PENCAPAIAN KOMPETENSI 

 

  1. A.      SUMBER-SUMBER PERPUSTAKAAN

 

  1. Daftar Pustaka
    1. Agus Sumardi, Drs., Dasar-dasar Statistik, STIA  LAN RI Bandung
    2. Dame Munthe, Drs., Analisis Jabatan dalam Praktik, Bandung, Mandar Maju, 1993
    3. Departemen Tenaga Kerja RI, Metodologi Latihan Kerja, Modul MLK 5,Program Pelatihan, Jakarta, 1991
    4. ________, Teknik Survey Kebutuhan Pelatihan, Jakarta
    5. ________, Teknik Survey Kebutuhan Pelatihan, Diklat Ahli Desain Kurikulum,Jakarta
    6. ________, Analisis Target Populasi, Diklat Ahli Desain Kurikulum,Jakarta
    7. ________, Dasar-dasar Statistika, Diklat Fungsional Tingkat Pratama,Jakarta
    8. ________, Pedoman Pelaksanaan Training Need Analysis, Peraturan Dirjen Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas
    9. Oemar Hamalik, Prof.Dr., Sistem dan Pengembangan Kurikulum Lembaga Pendidikan dan Pelatihan, Bandung, Trigenda Karya, 1993
    10. ________, Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum,  Bandung, Remaja Rosda Karya, 2007
    11. ________, Manajemen Pengembangan Kurikulum, Bandung, Remaja Rosda Karya, 2007
    12. ________, Pengembangan Sumber Daya Manusia, Pelatihan Ketenagakerjaan, Bandung, Bumi Aksara, 2005
    13. Lalu Husni, S.H., M.Hum., Pengantar Hukum Ketenagakerjaan Indonesia, Edisi Revisi, Jakarta, PT Raja Grafindo Persada, 2003
    14. Stephen R. Covey, The Seven habits Of Highly Effective People,  Binarupa aksara, Jakarta Barat 2007

 

  1. Buku Referensi
    1. Sondang P. Siagian, Prof. Dr., Manajemen Sumber Daya Manusia
    2. Malayu S.P. Hasibuan, Drs., Manajemen Sumber Daya Manusia
    3. Sudrajat, S.E., Kiat Mengentaskan Pengangguran Melalui Wirausaha
    4. Sudjana,Metoda Statistika

 

 

  1. B.      DAFTAR PERALATAN/MESIN DAN BAHAN     

 

  1. Daftar Peralatan/Mesin

 

No.

Nama Peralatan/Mesin

Keterangan

Laptop, infocus, laserpointer Untuk di ruang teori
Laptop Untuk setiap peserta
Fasilitas internet, komunikasi telepon  
Kalkulator Untuk setiap peserta
Printer  
Hechmachine (stapler/penjepret) 24 dan 10  
Pelubang kertas  
Penjepit kertas ukuran kecil dan sedang  
Standar chart dan kelengkapannya  

 

  1. Daftar Bahan

 

No.

Nama Bahan

Keterangan

Modul Pelatihan (buku informasi, buku kerja, buku penilaian) Setiap peserta
RPJM Daerah  
Data daerah dalam angka yang relevan  
Kertas bergaris  
Kertas HVS A4  
Spidol whiteboard  
Spidol marker  
CD (writer dan CD-R)  
Kertas chart (flip chart)  
  1. 10.
Tinta printer  
  1. 11.
ATK siswa Setiap peserta

 

 

 

TIM PENYUSUN

 

 

No.

Nama

Institusi

Keterangan

Bambang Purwoprasetyo Asosiasi Instruktur Metodologi Pelatihan (AIMP)  
Robert B. Sitorus Asosiasi Instruktur Metodologi Pelatihan (AIMP)  
Rubito Asosiasi Instruktur Metodologi Pelatihan (AIMP)  
Ali Darokah BBPLKDN Bandung  
Annoordin BBPLKDN Bandung  
Herwadi BBPLKDN Bandung  
Rahmat Sudjali Badan Nasional Sertifikasi Profesi  
Darma Setiawan Badan Nasional Sertifikasi Profesi  
Sjahruddin Kaliky BBLKI Serang  
  1. 10.
Bambang Trianto BBLKI Serang  
  1. 11.
Muh. Yasir BBPLKLN Cevest Bekasi  
  1. 12.
Karyaman BBPLKLN Cevest Bekasi  
  1. 13.
Subandi Dit. Stankomproglat  
  1. 14.
Bayu Priantoko Dit. Stankomproglat  
  1. 15.
Atiek Chrisnarini Biro Hukum Depnakertrans  
  1. 16.
Senggono BLK Pasar Rebo  

 

Testimoni

Advertisement
  1. Toko Kain Batik Cap Terbaik di Solo
  2. Toko Baju Batik Terbaik di Solo
  3. Aneka Kain Batik dengan Harga Murah
  4. Baju Batik Sarimbit Terbaik
  5. Dapatkan Kain Batik Berkualitas dengan Diskon 25%
  6. Aneka Baju Batik Seragam Kantor
  7. Pembuatan Seragam Batik Berlogo
slideseragambatik
Filed under : blog, tags: