Menu
Pasang iklan SEO disini Murah, 300.000/6 Bulan dan dapatkan Trafik setiap harinya

Membaca Dan Menafsirkan Naskah TIK.MM02.004.01

Mar
19
2015
by : Bupeko. Posted in : blog

 

MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI

SEKTOR TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI

 

 

 

 

 

 

MEMBACA DAN MENAFSIRKAN NASKAH

TIK.MM02.004.01

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BUKU INFORMASI

 

 

 

DEPARTEMEN TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI R.I.

DIREKTORAT JENDERAL PEMBINAAN PELATIHAN DAN PRODUKTIVITAS

Jl. Jend. Gatot Subroto Kav.51 Lt.7.B Jakarta Selatan

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

Daftar Isi                                                                                                        1

 

BAB I 4

PENGANTAR  4

1.1  Konsep Dasar Pelatihan Berbasis Kompetensi 4

1.2 Penjelasan Modul 4

1.2.1 Desain Modul 4

1.2.2 Isi Modul 5

1.2.3 Pelaksanaan Modul 5

1.3 Pengakuan Kompetensi Terkini 6

1.4 Pengertian Istilah-istilah  6

BAB II 9

STANDAR KOMPETENSI 9

2.1 Peta Paket Pelatihan  9

2.2 Pengertian Unit Standar 9

2.3 Unit Kompetensi Yang Dipelajari 10

2.3.1 Judul Unit Kompetensi 10

2.3.2 Kode Unit Kompetensi 10

2.3.3 Deskripsi Unit 10

2.3.4 Elemen Kompetensi 10

2.3.5 Batasan Variabel 12

2.3.5 Panduan Penilaian  14

2.3.6 Kompetensi Kunci 16

BAB III 17

STRATEGI DAN METODE PELATIHAN  17

3.1 Strategi Pelatihan  17

3.2 Metode Pelatihan  18

BAB IV  19

MATERI UNTI KOMPETENSI 19

MEMBACA dan MENAFSIRKAN NASKAH  19

4.1 Tujuan Instruksional Umum   19

4.2 Tujuan Instruksional Khusus 19

4.3  Uraian singkat tentang Materi : 19

4.4 Beberapa Pengertian dalam Unit Kompetensi Ini 20

4.5. Informasi Masing-Masing Elemen Kompetensi 20

4.5.1 Membaca dan menganalisa naskah untuk merencanakan realisasi produksi   20

4.5.2 Menciptakan rencana pengambilan gambar untuk merealisasi visualisasi narasi 26

BAB V  35

SUMBER- SUMBER YANG DIPERLUKAN  35

UNTUK PENCAPAIAN KOMPETENSI 35

5.1 Sumber Daya Manusia  35

5.2 Literatur 36

DAFTAR PUSTAKA  38

 

BAB I

PENGANTAR

 

1.1  Konsep Dasar Pelatihan Berbasis Kompetensi

  • Apakah pelatihan berdasarkan kompetensi?

Pelatihan berbasis kompetensi adalah pelatihan yang memperhatikan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang diperlukan di tempat kerja agar dapat melakukan pekerjaan secara kompeten. Lalu, apa arti kompeten di tempat kerja?

 

  • Apakah artinya menjadi kompeten ditempat kerja?

Jika Anda kompeten dalam pekerjaan tertentu, berarti Anda memiliki seluruh keterampilan, pengetahuan dan sikap yang perlu untuk ditampilkan secara efektif di tempat dimana Anda bekerja, sesuai dengan standar yang telah disetujui dan ditetapkan.

 

1.2 Penjelasan Modul

Modul ini dikonsep agar dapat digunakan pada proses Pelatihan Konvensional/Klasikal dan Pelatihan Individual/Mandiri. Yang dimaksud dengan Pelatihan Konvensional/Klasikal, yaitu pelatihan yang dilakukan dengan melibatkan bantuan seorang pembimbing atau guru seperti proses belajar mengajar sebagaimana biasanya dimana materi hampir sepenuhnya dijelaskan dan disampaikan pelatih/pembimbing yang bersangkutan.

 

Sedangkan yang dimaksud dengan Pelatihan Mandiri/Individual adalah pelatihan yang dilakukan secara mandiri oleh peserta sendiri berdasarkan materi dan sumber-sumber informasi dan pengetahuan yang bersangkutan. Pelatihan mandiri cenderung lebih menekankan pada kemauan belajar peserta itu sendiri. Singkatnya pelatihan ini dilaksanakan pseserta dengan menambahkan unsur-unsur atau sumber-sumber yang diperlukan baik dengan usahanya sendiri maupun melalui bantuan dari pelatih.

 

1.2.1 Desain Modul

Modul ini didesain untuk dapat digunakan pada Pelatihan Klasikal dan Pelatihan Individual / mandiri:

  • Pelatihan klasikal adalah pelatihan yang disampaikan oleh seorang pelatih.
  • Pelatihan individual / mandiri adalah pelatihan yang dilaksanakan oleh peserta dengan menambahkan unsur-unsur / sumber-sumber yang diperlukan dengan bantuan dari pelatih.

 

1.2.2 Isi Modul

Modul ini terdiri dari 3 bagian, antara lain sebagai berikut:

 

Buku Informasi

Buku informasi merupakan sumber materi pelatihan bagi pelatih maupun peserta pelatihan.

 

Buku Kerja

Buku kerja digunakan oleh peserta pelatihan untuk mencatat setiap pertanyaan dan kegiatan praktik baik dalam Pelatihan Konvensional maupun Pelatihan Individual/Mandiri.

 

Buku ini diberikan kepada peserta pelatihan dan berisi:

  • Kegiatan-kegiatan yang akan membantu peserta pelatihan untuk mempelajari dan memahami materi/informasi yang disajikan.
  • Kegiatan pemeriksaan yang digunakan untuk memantau pencapaian ketrampilan peserta pelatihan.
  • Kegiatan penilaian untuk menilai kemampuan peserta pelatihan dalam melaksanakan praktik kerja.

 

Buku Penilaian

Buku penilaian ini digunakan oleh pelatih untuk menilai jawaban dan tanggapan peserta pelatihan pada Buku Kerja dan berisi:

  • Kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh peserta pelatihan sebagai pernyataan keterampilan.
  • Metode-metode yang disarankan dalam proses penilaian keterampilan peserta pelatihan.
  • Sumber-sumber yang digunakan oleh peserta pelatihan untuk mencapai keterampilan.
  • Semua jawaban pada setiap pertanyaan yang diisikan pada Buku Kerja.
  • Petunjuk bagi pelatih untuk menilai setiap kegiatan praktik.
  • Catatan pencapaian keterampilan peserta pelatihan.

 

1.2.3 Pelaksanaan Modul

Pada Pelatihan Klasikal/Konvensional, pelatih akan:

-      Menyediakan Buku Informasi yang dapat digunakan peserta pelatihan sebagai sumber pelatihan.

-      Menyediakan salinan Buku Kerja kepada setiap peserta pelatihan.

-      Menggunakan Buku Informasi sebagai sumber utama dalam penyelenggaraan pelatihan.

-      Memastikan setiap peserta pelatihan memberikan jawaban/ tanggapan dan menuliskan hasil tugas praktiknya pada Buku Kerja.

 

Pada Pelatihan Individual/Mandiri, peserta pelatihan akan:

-      Menggunakan Buku Informasi sebagai sumber utama pelatihan.

-      Menyelesaikan setiap kegiatan yang terdapat pada buku Kerja.

-      Memberikan jawaban pada Buku Kerja.

-      Mengisikan hasil tugas praktik pada Buku Kerja.

-      Memiliki tanggapan-tanggapan dan hasil penilaian oleh pelatih.

 

1.3 Pengakuan Kompetensi Terkini

Jika Anda telah memiliki pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk elemen unit kompetensi tertentu, Anda dapat mengajukan pengakuan kompetensi terkini (RCC). Berarti Anda tidak akan dipersyaratkan untuk belajar kembali.

 

Anda mungkin sudah memiliki pengetahuan dan keterampilan, karena Anda telah:

  1. Bekerja dalam suatu pekerjaan yang memerlukan suatu pengetahuan dan keterampilan yang sama, atau
  2. Berpartisipasi dalam pelatihan yang mempelajari kompetensi yang sama, atau
  3. Mempunyai pengalaman lainnya yang mengajarkan pengetahuan dan keterampilan yang sama.

 

1.4 Pengertian Istilah-istilah

Berikut adalah pengertian dari beberapa istilah yang digunakan dalam Pelatihan Berbasis Kompetensi, antara lain:

 

Profesi

Profesi adalah suatu bidang pekerjaan yang menuntut sikap, pengetahuan serta ketrampilan/keahlian kerja tertentu yang diperoleh dari proses pendidikan, pelatihan serta pengalaman kerja atau penguasaan sekumpulan kompetensi tertentu yang dituntut oleh suatu pekerjaan/jabatan.

 

Standardisasi

Standardisasi adalah proses merumuskan, menetapkan serta menerapkan suatu standar tertentu.

 

Penilaian / Uji Kompetensi

Penilaian atau Uji Kompetensi adalah proses pengumpulan bukti melalui perencanaan, pelaksanaan dan peninjauan ulang (review) penilaian serta keputusan mengenai apakah kompetensi sudah tercapai dengan membandingkan bukti-bukti yang dikumpulkan terhadap standar yang dipersyaratkan.

 

Pelatihan

Pelatihan adalah proses pembelajaran yang dilaksanakan untuk mencapai suatu kompetensi tertentu dimana materi, metode dan fasilitas pelatihan serta lingkungan belajar yang ada terfokus kepada pencapaian unjuk kerja pada kompetensi yang dipelajari.

 

Kompetensi Kerja

Kompetensi  Kerja adalah kemampuan kerja setiap individu  yang mencakup aspek  pengetahuan ,  keterampilan dan sikap kerja  yang sesuai dengan standar yang ditetapkan

 

Pelatihan Berbasis Kompetensi Kerja

Pelatihan Berbasis Kompetensi Kerja adalah  pelatihan kerja yang menitikberatkan pada penguasaan kemampuan kerja yang mencakup pengetahuan, keterampilan dan sikap sesuai dengan standar yang ditetapkan dan persyaratan di tempat kerja.

 

Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia

Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia adalah rumusan kemampuan kerja yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan dan / atau keahlian serta sikap kerja yang relevan dengan pelksanaan tugas dan syarat jabatan yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

 

Sertifikasi Kompetensi Kerja

Sertifikasi kompetensi Kerja adalah proses pemberian sertifikat kompetensi yang dilakukan secara sitematis dan obyektif melalui uji kompetensi sesuai standar kompetensi kerja nasional Indonesia, standar internasional dan /atau standar khusus.

 

Sertifikat Kompetensi Kerja

Sertifikat Kompetensi Kerja adalah bukti tertulis yang diterbitkan oleh lembaga sertifikasi profesi terakreditasi yang menerangkan bahwa seseorang telah menguasai kompetensi kerja tertentu sesuai dengan SKKNI.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

STANDAR KOMPETENSI

 

2.1 Peta Paket Pelatihan

Modul yang sedang Anda pelajari ini bertujuan untuk mencapai satu unit kompetensi. Adapun kompetensi ini termasuk dalam satu paket pelatihan, yang terdiri atas unit-unit kompetensi berikut:

  1. TIK.MM02.004.01    Membaca dan Menafsirkan Naskah

 

2.2 Pengertian Unit Standar

Apakah Standar Kompetensi?

Setiap Standar Kompetensi menentukan :

  1. Pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk mencapai kompetensi.
  2. Standar yang diperlukan untuk mendemonstrasikan kompetensi.
  3. Kondisi dimana kompetensi dicapai.

 

Apakah yang akan anda pelajari dari Unit Kompetensi ini ?

Di dalam unit kompetensi ini, Anda akan mempelajari bagaimana menentukan berbagai aspek dalam pengambilan adegan sesuai dengan naskah.

 

Berapa lama unit kompetensi ini dapat diselesaikan ?

Sistem pelatihan berbasis kompetensi terfokus pada pencapaian kompetensi, bukan pada lamanya waktu. Namun diharapkan pelatihan ini dapat dilaksanakan dan dicapai dalam jangka waktu tidak lebih dari seminggu, tiga sampai lima hari. Pelatihan ini diperuntukkan bagi semua pengguna terutama yang tugasnya berkaitan dengan persiapan identifikasi, mengidentifikasi dan memeriksa identifikasi dari perangkat penyusun komputer.

 

Berapa banyak/kesempatan yang anda miliki untuk mencapai kompetensi ?

Jika Anda belum mencapai kompetensi pada usaha/kesempatan pertama, Pelatih Anda akan mengatur rencana pelatihan dengan Anda. Rencana ini akan memberikan Anda kesempatan kembali untuk meningkatkan level kompetensi Anda sesuai dengan level yang diperlukan. Jumlah maksimum usaha/kesempatan yang disarankan adalah 3 (tiga) kali.

 

 

 

 

 

2.3 Unit Kompetensi Yang Dipelajari

Dalam sistem pelatihan, Standar Kompetensi diharapkan menjadi panduan bagi peserta pelatihan untuk dapat :

  1. Mengidentifikasikan apa yang harus dikerjakan peserta pelatihan.
  2. Memeriksa kemajuan peserta pelatihan.
  3. Menyakinkan bahwa semua elemen (sub-kompetensi) dan kriteria unjuk   kerja telah dimasukkan dalam pelatihan dan penilaian.

2.3.1 Judul Unit Kompetensi

Judul Unit     : Membaca dan Menafsirkan Naskah

 

2.3.2 Kode Unit Kompetensi

Kode Unit     : TIK.MM02.004.01

2.3.3 Deskripsi Unit

Unit ini menjelaskan keahlian dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk membaca naskah, identifikasi elemen dasar yang akan berkontribusi pada realisaasi naskah dari draf akhir ke produksi film, televisi dan multimedia.

 

2.3.4 Elemen Kompetensi

 

ELEMEN KOMPETENSI

KRITERIA UNJUK KERJA

01  Membaca dan menganalisa naskah untuk merencanakan realisasi produksi 1.1   Visi karya tersebut diidentifikasi dengan              mempertimbangkan visi penulis dan sutradara.

 

1.2   Penentuan kebutuhan penulisan kembali dan pengorganisasian penulisan ulang dikolaborasikan dengan penulis.

 

1.3   Hubungan antara elemen visual dan dramatik naskah diidenifikasi dan didokumentasi untuk mengambil pendekatan naratif.

 

1.4   Fungsi karya tersebut dianalisa, dengan   melaksanakan tujuan dan mengekplorasi secara visual segala cara agar tujuan tersebut tercapai.

 

1.5  Sumber untuk menghasilkan dan mencatat ide tak terbatas digunakan dalam visualisasi naskah dan rencana pengambilan gambar.

 

1.6   Ide-ide yang terpilih  yang merefleksikan   riabilitas ide untuk proyek tersebut dipertimbangkan.

 

1.7    Semua ide berdasarkan refleksi              terdahulu dievaluasi dan semua ide untuk             dampak narasi visual dinilai.

 

02  Menciptakan rencana pengambilan gambar untuk merealisasi visualisasi narasi 2.1. Naskah dalam unit adegan dibagikan dan elemen dramatisnya dalam setiap unit adegan ditentukan.

 

2.2. Elemen dramatis dalam setiap adegan dianalisa dan hubungan antara narasi tulis dengan visualisasi ditentukan.

 

2.3. Keseluruhan narasi dan adegan dipertimbangkan untuk menentukan lokasi, karakter, dan elemen lainnya dalam setiap shot.

 

2.4. Shot plan dan realisasi hubungan antara aspek visual dan naratif naskah dibuat dan dipertimbangkan elemen berikut ini:

2.4.1      Keseluruhan narasi

2.4.2      Konteks setiap adegan dalam keseluruhan

narasi

2.4.3      Scene by scene 

2.4.4      Pementasan di panggung

2.4.5      Ukuran shot

2.4.6      Pilihan lensa

2.4.7      Angle kamera

2.4.8       Nilai kualitas foto setiap shot dari efek

setiap adegan

2.4.9       Shot plan yang membuat narasi dapat

dikontrol dan diangkat ke dalam produksi

secara keseluruhan

 

2.5 Shot plan untuk menerjemahkan naskah dari bentuk tulis menjadi visual digunakan.

 

 

 

2.3.5 Batasan Variabel

1.       Jenis produksi meliputi:

1.1.      Feature

1.2.      Dokumenter

1.3.      Film cerita

1.4.      Animasi

1.5.      Serial TV

1.6.      Iklan

1.7.      Video training

1.8.      Multimedia Interaktif

1.9.      Promotional presentations

2.       Sumber yang dibutuhkan meliputi:

2.1.      Riset lokasi

2.2.      Riset karakter

2.3.      Inspirasi

2.4.      Imajinasi

2.5.      Pengalaman hidup

2.6.      Kejadian nyata

2.7.      Materi dramatik

2.8.      Media massa

2.9.      Kejadian sejarah

2.10.     Photo

2.11.     Lukisan

2.12.     Sketsa

2.13.     Film

2.14.     Catatan pribadi / observasi

2.15.     Diskusi dengan personel lainnya

3.       Kebutuhan produksi meliputi :

3.1       Desain produksi

3.2       Pengarah artistik

3.3       Desain suara

3.4       Durasi

3.5       Jenis produksi (misal metode, approach, mode, cara mempresentasikan sesuatu)

3.6       Isi

3.7       Anggaran

3.8       Tenggat waktu

3.9       Lokasi

3.10      Tujuan

3.11      Perjanjian

3.12      HAKI

3.13      Jadwal

3.14      Kode etik

4.       Satu unit adegan diartikan:

4.1.      Akting

4.2.      Sekuen dramatik

4.3.      Scenes

5.       Elemen dramatis meliputi:

5.1.      Alur

5.2.      Cerita

5.3.      Gaya (metode, pendekatan, mode, cara presentasi)

5.4.      Lokasi

5.5.      Struktur dan struktur tiga adegan atau struktur lainnya

5.6.      Karakter

5.7.      Adegan (action)

5.8.      Klimaks – anti klimaks

5.9.      Beat atau perpindahan adegan

5.10.     Konflik

6.       Komponen teknis yang diperlukan:

6.1.      Lokasi

6.2.      Waktu / hari

6.3.      Interior atau exterior

6.4.      Iklim dan cuaca

7.       Personel yang terlibat meliputi:

7.1.      Produser

7.2.      Sutradara

7.3.      Penulis naskah

7.4.      Pengarah fotografi

7.5.      Pemain

7.6.      Kepala bagian

7.7.      Staf teknis lainnya

7.8.      Staf spesialis lainnya

2.3.5 Panduan Penilaian

  1. 1.               Pengetahuan dan keterampilan penunjang

Penilaian harus menyertakan bukti pengetahuan dan keahlian berikut ini :

1.1.      Kemampuan menempatkan dan menggunakan sumber yang ada untuk memperluas pengalaman kreatif.

1.2.      Kemampuan mendemontrasikan pendekatan originalitas dan inovatif pada proses penyutradaraan kreatif.

1.3.      Kemampuan bereksperimen dengan konvensi naratif dan elemen untuk mengembangkan suara dan memperluas praktik penyutradaraan.

1.4.      Kemampuan memperluas batasan kreatif.

1.5.      Kemampuan mendemontrasikan pendekatan orsinil dan inovatif dalam penggunaan dan pengorganisasian elemen narasi visual.

1.6.      Kemampuan menghasilkan ide dan mengembangkannya.

1.7.      Pengetahuan dan pemahaman konvensi dan praktek penyutradaraan.

1.8.      Pengetahuan akan konvensi naratif yang digunakan dalam sejarah pembuatan film.

1.9.      Pengetahuan akan teknik yang digunakan dalam merealisasikan narasi visual dari narasi tulis.

1.10.     Kemampuan menentukan bagaiman cerita dapat diangkat dari satu adegan ke adegan dalam keseluruhan proses produksi.

1.11.     Pengetahuan akan berbagai teknik penceritaan secara visual.

1.12.     Pengetahuan akan konvensi film dan literatur.

1.13.     Pemahaman akan keahlian penulis naskah.

1.14.     Pemahaman akan keahlian akting.

1.15.     Pemahaman akan kealhian sinematografi.

1.16.     Pemahaman akan kealhian editing.

1.17.     Pemahaman akan kealhian desain suara.

1.18.     Pemahaman akan keahlian desain produksi.

1.19.     Membaca dan menginterpretasi bentuk dokumentasi dan narasi.

1.20.     Kemampuan dalam melaukan riset dan mendokumentasi informasi.

1.21.     Pengetahuan akan kebutuhan keselamatan dan kesehatan kerja organisasi.

1.22.     Pengetahuan teknik komunikasi efektif termasuk mendengarkan, bertanya dan non verbal komunikasi yang efektif.

 

2.         Konteks penilaian

2.1.      Penilaian dapat dilakukan on the job, off the job atau campuran keduanya.

2.2.      Penilaian off the job harus dilaksanakan dalam suatu simulasi lingkungan tempat kerja. Penilaian dapat memasukkan suatu metode untuk menilai pertunjukan dan aplikasi pengetahuan keterampilan yang meliputi:

2.2.1.    Demonstrasi praktek (observasi langsung dapat dilakukan lebih dari satu kesempatan untuk mendapatkan konsistensi pertunjukan

2.2.2.    Role play

2.2.3.    Studi kasus

2.2.4.    Sampel kerja atau simulasi aktifitas tempat kerja

2.2.5.    Pertanyaan lisan/wawancara dengan tujuan evaluasi proses yang digunakan dalam mengembangkan dan merealisasikan konsep kreatif

2.2.6.    Proyek / laporan / logbook

2.2.7.  Laporan pihak ketiga dan hasil otentik

2.2.8.    Portofolio bukti yang menunjukkan proses yang digunakan         dalam mengembangkan dan merealisasikan konsep kreatif.

 

3.         Aspek penting penilaian

3.1       Unit kompetensi ini mengaplikasi sektor industri. Fokus penilaian akan tergantung pada sektor industri di mana pertunjukan tersebut dinilai. Penilaian harus berdasarkan variabel yang telah ditetapkan dalam statemen variabel, yang akan digunakan pada konteks yang telah ditetapkan.

3.2       Berikut ini hal penting untuk penilain kompetensi unit ini ;

3.2.1. Perkembangan kemampuan untuk menghasilkan ide asli dan mengembangkannya dari konsep menjadi hasil produksi

3.2.2. Pengetahuan dan pemahaman konvensi dan praktek penyutradaraan dan perannya dalam mengangkat cerita menjadi sebuah hasil produksi

 

4.         Kaitan dengan unit-unit lainnya

4.1       Keterkaitan unit kompetensi untuk penilaian akan bervariasi dengan project atau skenario tertentu. Unit ini penting untuk suatu range pelayanan teknologi Informasi dan oleh karena itu harus dinilai secara keseluruhan dengan unit technical / support.

4.2       Pengembangan pelatihan untuk memenuhi persyaratan dalam unit ini perlu dilakukan dengan hati-hati. Untuk pelatihan pra-kejuruan umum, institusi harus menyediakan pelatihan yang mempertimbangkan serangkaian konteks industri seutuhnya tanpa bias terhadap sektor tertentu. Batasan variabel akan membantu dalam hal ini. Untuk sektor tertentu / khusus, pelatihan harus disesuaikan agar dapat memenuhi kebutuhan sektor tersebut.

 

2.3.6 Kompetensi Kunci

 

NO

KOMPETENSI KUNCI DALAM UNIT INI

TINGKAT

1 Mengumpulkan, mengorganisir dan menganalisa informasi

3

2 Mengkomunikasikan ide-ide dan informasi

3

3 Merencanakan dan mengorganisir aktivitas-aktivitas

3

4 Bekerja dengan orang lain dan kelompok

2

5 Menggunakan ide-ide dan teknik matematika

1

6 Memecahkan masalah

2

7 Menggunakan teknologi

1

 

 

BAB III

STRATEGI DAN METODE PELATIHAN

 

 

3.1 Strategi Pelatihan

Belajar dalam suatu Sistem Berbasis Kompetensi berbeda dengan yang sedang “diajarkan” di kelas oleh Pelatih. Pada sistem ini Anda akan bertanggung jawab terhadap belajar Anda sendiri, artinya bahwa Anda perlu merencanakan belajar Anda dengan Pelatih dan kemudian melaksanakannya dengan tekun sesuai dengan rencana yang telah dibuat.

 

Persiapan/perencanaan

  1. Membaca bahan/materi yang telah diidentifikasi dalam setiap tahap belajar dengan tujuan mendapatkan tinjauan umum mengenai isi proses belajar Anda.
  2. Membuat catatan terhadap apa yang telah dibaca.
  3. Memikirkan bagaimana pengetahuan baru yang diperoleh berhubungan dengan pengetahuan dan pengalaman yang telah Anda miliki.
  4. Merencanakan aplikasi praktik pengetahuan dan keterampilan Anda.

 

Permulaan dari proses pembelajaran

  1. Mencoba mengerjakan seluruh pertanyaan dan tugas praktik yang terdapat pada tahap belajar.
  2. Merevisi dan meninjau materi belajar agar dapat menggabungkan pengetahuan Anda.

 

Pengamatan terhadap tugas praktik

  1. Mengamati keterampilan praktik yang didemonstrasikan oleh Pelatih atau orang yang telah berpengalaman lainnya.
  2. Mengajukan pertanyaan kepada Pelatih tentang konsep sulit yang Anda temukan.

 

Implementasi

  1. Menerapkan pelatihan kerja yang aman.
  2. Mengamati indikator kemajuan personal melalui kegiatan praktik.
  3. Mempraktikkan keterampilan baru yang telah Anda peroleh.

 

Penilaian

Melaksanakan tugas penilaian untuk penyelesaian belajar Anda.

3.2 Metode Pelatihan

Terdapat tiga prinsip metode belajar yang dapat digunakan. Dalam beberapa kasus, kombinasi metode belajar mungkin dapat digunakan.

 

Belajar secara mandiri

Belajar secara mandiri membolehkan Anda untuk belajar secara individual, sesuai dengan kecepatan belajarnya masing-masing. Meskipun proses belajar dilaksanakan secara bebas, Anda disarankan untuk menemui Pelatih setiap saat untuk mengkonfirmasikan kemajuan dan mengatasi kesulitan belajar.

 

Belajar Berkelompok

Belajar berkelompok memungkinkan peserta untuk datang bersama secara teratur dan berpartisipasi dalam sesi belajar berkelompok. Walaupun proses belajar memiliki prinsip sesuai dengan kecepatan belajar masing-masing, sesi kelompok memberikan interaksi antar peserta, Pelatih dan pakar/ahli dari tempat kerja.

 

Belajar terstruktur

Belajar terstruktur meliputi sesi pertemuan kelas secara formal yang dilaksanakan oleh Pelatih atau ahli lainnya. Sesi belajar ini umumnya mencakup topik tertentu.

 

 

 

 

 

 

BAB IV

MATERI UNTI KOMPETENSI

MEMBACA DAN MENAFSIRKAN NASKAH

 

 

4.1     Tujuan Instruksional Umum

  • Siswa mampu menjelaskan tentang naskah
  • Siswa dapat  menafsirkan naskah yang bagus

 

 

4.2     Tujuan Instruksional Khusus

  • Siswa dapat menjelaskan persiapan untuk membuat laporan kerja
  • Siswa mengerti bagaimana bentuk sebuah laporan kerja perakitan, perawatan dan perbaikan
  • Siswa mengetahui dan mampu memeriksa hasil pembuatan laporan kerja
  • Siswa dapat menggunakan laporan untuk mengetahui hasil kerja perakitan, perawatan dan perbaikan

 

4.3     Uraian singkat tentang Materi :

Membaca dan Menafsirkan Naskah

Menurut Library and Information Science, suatu naskah adalah semua barang tulisan tangan yang ada pada koleksi perpustakaan atau arsip; misalnya, surat-surat atau buku harian milik seseorang yang ada pada koleksi perpustakaan.Dalam konteks lain, penggunaan istilah “naskah” tidak semata untuk sesuatu yang ditulis tangan.

Dalam penerbitan buku, majalah, dan musik, naskah berarti salinan asli karya yang ditulis oleh seorang pengarang atau komponis. Dalam perfilman dan teater, naskah berarti teks pemain drama, yang digunakan oleh perusahaan teater atau kru film saat dibuatnya pertunjukan atau pembuatan film.

Suatu naskah manuskrip  secara khusus, adalah semua dokumen tertulis yang ditulis tangan, dibedakan dari dokumen cetakan atau perbanyakannya dengan cara lain. Kata ‘naskah’ diambil dari bahasa Arab nuskhatum yang berarti sebuah potongan kertas.

 

4.4     Beberapa Pengertian dalam Unit Kompetensi Ini

  • manuscript adalah ( dalam bahasa latin manu scriptus ) ditulis tangan.
  • physical arrangement a dalah persiapan seseorang pada mental dirinya.
  • acting area  adalah tempat untuk berakting
  • guided imagery adalah cara untuk mengontrol atau mengendalikan imajinasi.
  • Storyboard  adalah rangkaian ilustrasi.

 

4.5. Informasi Masing-Masing Elemen Kompetensi

4.5.1 Membaca dan menganalisa naskah untuk merencanakan realisasi produksi

1) Pengetahuan Kerja

Sebelum memerankan drama, kegiatan awal yang perlu kita lakukan ialah membaca dan memahami teks drama atau biasanya disebut dengan naskah.Teks drama adalah karangan atau tulisan yang berisi nama-nama tokoh, dialog yang diucapkan, latar panggung yang dibutuhkan, dan pelengkap lainnya (Kontum, lighting, dan musik pengiring). Dalam teks drama, yang diutamakan ialah tingkah laku (acting) dan dialog (percakapan antartokoh) sehingga penonton memahami isi cerita yang dipentaskan secara keseluruhan. Oleh karena itu, kegiatan membaca teks drama dilakukan sampai dikuasainya naskah drama yang akan diperankan.

Dalam teks drama yang perlu kamu pahami ialah pesan-pesan dan nilai-nilai yang dibawakan oleh pemain. Dalam membawakan pesan dan nilai-nilai itu, pemain akan terlibat dalam konflik atau pertentangan. Jadi, yang perlu kamu baca dan pahami ialah rangkaian peristiwa yang membangun cerita dan konflik-konflik yang menyertainya.

2) Ketrampilan Kerja

Visi karya tersebut diidentifikasi dengan mempertimbangkan visi penulis dan sutradara.

Setiap karya sastra selalu disisipi visi dan misi oleh penulisnya. Dengan demikian pula dengan naskah. Hanya saja, amanat dalam karya sastra tidak ditulis secara eksplisit, tetapi secara implicit. Penonton menafsirkan pesan moral yang terkandungdalam naskah yang dibaca atau drama yang ditontonnya.

Bagaimana menentukan Visi dan misi dari naskah dalam sebuah drama dengan data yang mendukung ? Data yang mendukung dapat kamu peroleh dari narasi pengarang, dialog antarpelaku,adegan atau rangkaian adegan yang saling terkait, yang semuanya didukung oleh unsur-unsur drama yang lain seperti latar, latur, dan pusat pengisahan.

Langkah pertama adalah memilih naskah drama. Untuk selanjutnya, hal-hal yang harus dilakukan meliputi:

A. Mengenal kadar emosi naskah tersebut dengan cara:

  1. Penguasaan suasana hati atau jiwa atau mood dengan gerakan dan irama naskah yang mau dipentaskan.
  2. Mengenal jenis dan isi naskah
  3. Memilih pemain yang cocok untuk peran-peran dalam naskah
  4. Menentukan gaya pementasan atau pertunjukan
  5. Menguasai pentas dan pemeran-pemerannya.

B. Mengerti dengan baik apa yang dimaksud oleh naskah yang hendak dipentaskan.

C. Menguasai kerja penyutradaraan dengan baik dan benar.

 

Penentuan kebutuhan penulisan kembali dan pengorganisasian penulisan ulang dikolaborasikan dengan penulis.

 

Kebutuhan pokok seorang penulis dalam membuat naskah adalah ide. Ide adalah rancangan yang tersususn di dalam pikiran atau gagasan. Selayaknya bahwa ide itu bukan cuman nyangkut di kepala, penulis berani berdiskusi dengan penerbit mengenai ide-ide yang bermunculan. Pola diskusi ini selain akan mematangkan ide namun juga dengan sense seorang editor penerbitan dapat diwujudkan dalam bentuk buku yang menarik. Semakin berkembanglah skill para penulis dan calon penulis tersebut dan semakin percaya diri untuk menulis. Tapi, setelah pandai menulis kemana tulisan akan dipasarkan? Perkembangan media cetak elektonik memang luar biasa, menjamu industri penerbitan tak kalah mencengangkan, namun ini tidak cukup menopang seorang penulis yang skillnya oke untuk tetap eksis. Banyak hal yang komplek dalam dunia penulisan salah satunya adalah kemampuan penulis untuk berpromosi akan diri dan karyanya adalah salah satu factor menentukan eksistensi penulis tersebut.

 

Penulis terus berupaya menciptakan differensiasi pada tema-tema yang ditulis sesuai dengan kebutuhan padar. Kembali pada konsep Philip Kotler yaitu sense and respond artinya penulis sepakat dan konsisten untuk mempelajari pasar lalu meresponnya dengan baik, menulis tema sesuai dengan kebutuhan namun tentu saja tidak keluar dari kontek ‘manfaat’ pada setiap karyanya.

 

Setelah sebuah naskah tersusun maka tahap berikutnya adalah mengorganisasikan penulisan ulang dari naskah yang telah ditentukan itu. Penulis dan sutradara harus bisa berkolaborasi dalam tahap menangkap inti dari sebuah naskah yang sedang didalamin itu.

 

Hubungan antara elemen visual dan dramatik naskah diidenifikasi dan didokumentasi untuk mengambil pendekatan naratif.

Elemen visual dalam suatu naskah berupah bloking. Bloking adalah ungkapan visual dari suatu naskah, perwujudan konkrit dari gerak yang diakibatkan oleh dialog, keterangan yang memerintahkan pemain untuk bergerak (movement). Secara singkat bloking adalah phisical arrangement pemain dan gerakan-gerakannya dari acting area yang satu ke acting area yang lain.

Tetapi bloking tidak sekedar pergerakan atau penempatan namun juga merupakan bagian dari suatu peristiwa yang mendukung peristiwa dalam setiap adegan. Oleh karena itu, bloking harus menciptakan suasana, logis dan bermotivasi jelas.

Bloking memiliki dua fungsi utama yaitu:

  1. Fungsi dramatis Sebagai alat untuk menentukan pola adegan dan sarana untuk mengembangkan kejadian, emosi, gerakan, ucapan, tempo dan klimaks.
  2. Fungsi teknis Menciptakan komposisi panggung yang baik dari hasil penciptaan pola dan pengaturan bentuk visual di atas pentas/panggung.

Elemen utama film adalah visualisasi. Tidak ada media lain yang bisa menyampaikan pesan non verbal sebaik gambar bergerak. Karena itu, ini lah yang harus dimaksimalkan. Sebisa mungkin semua dikomunikasikan lewat visualisasi. Jadi yang harus ditanamkan ketika kita menggarap sebuah film adalah semangat bahasa visual. Namun bukan berarti kita tidak butuh dialog. Dialog tetap perlu, namun perlu diingat bahwa dialog dalam film hanya sekedar tambahan. Semangat dasarnya tetap bahasa visual.

 

Sebuah naskah yang menarik didukung oleh elemen visual dan unsur dramatik dari naskah tersebut. Pada saat kita membaca sebuah naskah maka kita harus bisa berimajinasi untuk mengetahui bagaimana visualisasi yang terdapat di dalam naskah itu. Untuk menarik perhatian pembaca maka penulis sebisa mungkin mendramatisir sebuah naskah sehingga menarik perhatian dari pembaca tersebut. Dalam membaca suatu naskah kita harus bisa menangkap unsur dramatik seperti perasaan takut, perasaan cemas, tegang, rasa bangga, dan bahagia. Setelah kita bisa menidentifikasi kedua unsur tersebut maka kita dapat melakukan pendekatan naratif.

 

Fungsi karya tersebut dianalisa, dengan   melaksanakan tujuan dan mengekplorasi secara visual segala cara agar tujuan tersebut tercapai.

 

Suatu karya selalu mengandung fungsi yang ingin di sampai kan kepada pembaca. Maka itu kita perlu menganalisis karya tersebut dengan menghayati lebih mendalam. Sebelum dapat menjiwai naskah tersebut , selama latihan kita dapat ‘ bernegosiasi’ terhadap naskah yang disodorkan padanya dengan berbagai cara. Dengan mengganti kata-kata pada beberapa kalimat, mengganti kalimat yang dirasa tidak enak diucapkan maupun tidak sesuai dengan karakter yang dimainkan . Namun pada akhirnya semua improvisasi itu tidak mengubah jalan cerita dari naskah yang diberikan.

 

Sama seperti situasi di atas, anak dan orang dewasa mendalami / menjiwai apa yang disebut naskah kehidupan. Kebanyakan dari kita sangat menjiwai peran yang dimainkan, seperti peran sebagai lelaki dan peran sebagai perempuan. Sebagai seorang laki-laki haruslah kuat dan jangan menangis dan sebagai seorang perempuan harus lah lemah lembut dan tidak pemarah. Sebagian dari naskah kehidupan tersebut kadangkala mempunyai peran sedikit bahkan tidak berperan sama sekali terhadap keadaan yang sekarang. Kesulitan pada banyak orang adalah mereka tidak tahu bagaimana cara mengubahnya dan mungkin juga ragu apakah mereka mampu mengubahnya.

Hipnosis merupakan salah satu cara yang efektif dalam melakukan dialog dengan alam bawah sadar kita. Cara ini seringkali disalah artikan sebagai lepas kontrol dan tergantung pada ahli hipnotisnya. Sebenarnya efek ini bukan berdasarkan kehilangan kontrol diri tetapi lebih pada keadaan menghilagkan kontrol yang kaku terhadap pikiran sadar normal yang sesuai naskah kehidupan. Maka bukan berarti anda dibawah kontrol ahli hipnotisnya tetapi lebih pada mengontrol diri pada fungsi diri sendiri. Hipnosis ini seperti telah diuraikan di atas dapat dilakukan sendiri ( self-hypnosis ) .

Begitu lah kira-kira contoh untuk mengekplorasi secara visual supaya tercapai apa yang diinginkan dari tujuan naskah yang kita baca tersebut.

Sumber untuk menghasilkan dan mencatat ide tak terbatas digunakan dalam visualisasi naskah dan rencana pengambilan gambar

Berikut ini dibahas juga mengenai guided imagery dengan metode self-hypnosis untuk lebih memahami dan menghayati diri anda sendiri.

Panduan latihan self-hypnosis untuk introspeksi diri

Berbaring atau duduklah secara nyaan, tutuplah mata anda dan bayangkan mata anda terfokus pada satu titik di antara dua alis anda. Setelah itu mulailah menghitung mundur perlahan dari 300. Jangan konsentrasi pada pikiran-pikiran yang mengganggu., perlahan biarkan semua pikiran itu pergi dan kembalikan perhatian anda pada menghitung mundur tadi ; sesuaikan nafas anda.

Bayangkan anda sedang menuruni anak tangga yang tinggi. Setiap anda menuruninya rasakan anda bertambah rileks. Saat tiba di bawah dasar anak tangga bayangkan anda berada di stasiun kereta bawah tanah.. Anda berdiri di atas eskalator yang kebetulan tidak berfungsi dan anda akan menuruninya lagi. Selangkah demi selangkah anda turuni eskalator tersebut sambil anda menghitungnya. Sampailah pada suatu saat anda berhenti sejenak, anda mulai merasa lelah dan berat.

Saat berhenti sejenak itu , anda menyadari bahwa eskalator disebelahnya ternyata berfungsi dan bergerak berjalan turun. Saat itupula anda melihat seseorang di eskalator yang sedang berjalan itu. Saat anda perhatikan dengan seksama orang tersebut sebenarnya adalah diri anda sendiri.

Apakah reaksi anda ?catatlah apa yang anda rasakan dan pikirkan saat anda melihat diri sendiri. Catat juga secara mendetil bagaimana penampilan, baju, ekspresi muka dsb. Kemudian ikuti sosok tersebut, amati perilakunya dan cobalah bicara dengannya. Perhatikan bagaimana diri anda yang lain dalam menanggapi ajakan bicara anda. Jika memungkinkan aturlah pertemuan berikutnya dengannya.

Setelah anda selesai, anda dapat kembali ke atas dengan menggunakan eskalator yang tersedia dan membawa anda dengan cepat ke permukaan, dimana anda dapat membuka mata anda . Teknik ini dapat membantu anda untuk relaksasi dan introspeksi diri , melihat kepada diri anda yang sebenarnya.

Dari Panduan latihan self-hypnosis untuk introspeksi diri kita mendapatkan ide yang akan kita visualisasikan dan kemudian kita ketahap mengubah ide kita ke dunia nyata. Pada tahap pengubahan itu mungkin akan mengalami sedikit perubahan yang akan disesuaikan dengan situasi pada masa sekarang.

Ide-ide yang terpilih  yang merefleksikan   viabilitas ide untuk proyek tersebut dipertimbangkan.

 

Ide-ide yang telah kita filter dan kita pilih yang terbaik dan dapat menyampaikan tujuan karya kita. Setiap ide yang kita saring harus bisa mengambarkan situasi yang ingin di capai oleh pembuat naskah. Otak memiliki kapasitas yang terbatas untuk merekam ingatan manusia, itu sebabnya adalah satu pilihan bijak jika kita mulai menuliskan ide-ide dalam sebuah catatan yang dapat kita lihat setiap saat.

 

Ide kita bukan sekedar ide, ada baiknya ide kita muncul karena kita yakin dapat menerjemahkan ide kita dengan baik serta mengcreate buku yang sama okenya dengan ide yang kita buat. Jika memang ide itu ide menarik namun kita tidak yakin dapat membuatnya setidaknya kita memiliki alternatif jika penerbit memilih ide tersebut.

Dalam bedah naskah penulis skenario tentu harus menjelaskan ide dengan transparan penuh kejujuran, kalau ide itu buatan sendiri diakui sebagai karya asli, tapi kalaulah ide itu berasal dari naskah karya orang lain harus menyebutkan sebagai saduran, adaptasi atau istilah apapun dengan mengakui keberadaan naskah yang mendasarinya, tentu harus seizin dengan pengarang asli. Hak cipta sebagai kekayaan intelektual memang haruslah dihargai, bila karya orang lain diakui sebagai karya sendiri berarti menjiplak yang tentu akan dituntut sesuai dengan hukum yang berlaku.

Semua ide berdasarkan refleksi terdahulu dievaluasi dan semua ide untuk dampak narasi visual dinilai.

 

Ide-ide yang telah kita kumpulkan setelah itu kita merefleksikan terlebih dahulu untuk di evaluasi. Tujuan nya adalah untuk bisa mendapatkan nilai dari segi narasi visual. Contoh nya adalah komik. Sudah tidak disangsikan kalau komik adalah salah satu media komunikasi cetak yang efektif. Bentuknya yang berupa narasi visual, dilengkapi teks dan gambar sebagai penguat visual, seakan mengajak pembaca untuk berimajinasi. Mungkin kita lebih banyak mengenal komik sebagai media baca yang menghibur, dengan persepsi kalau hanya anak-anak saja yang membaca komik.

 

3) Sikap Kerja

Beberapa hal yang perlu diterapkan pada sikap kerja yaitu :

  1. Menentukan visi penulis dan sutradara
  2. Menganalisa fungsi naskah tersebut
  3. Menentukan penulisan ulang jika diperlukan
  4. Menggunakan berbagai sumber dan ide untuk pengambilan gambar

4.5.2  Menciptakan rencana pengambilan gambar untuk merealisasi visualisasi narasi

1)  Pengetahuan Kerja

Biasanya di Amerika dan Jepang ada sebuah sesi bernama story meeting di mana para storyboard artist berkumpul dan membahas sebuah cerita. Dari rapat tersebut akan diputuskan adegan yang paling sesuai. Tidak jarang ada perdebatan hebat di situ. Storyboard umumnya masih dalam fase yang amat kasar. Tidak jarang dalam sebuah panel storyboard, gambarnya dibuat agak asal-asalan. Storyboard untuk film animasi umumnya terlihat seperti komik.

Perbedaannya dengan komik, dalam storyboard masih ada catatan-catatan kecil di sekitar gambar entah untuk diperbaiki atau dipertimbangkan. Tidak jarang, terutama di dunia animasi Amerika, panel demi panel storyboard sebuah film dibentangkan dari ujung satu gedung ke ujung yang lain. Sampai 1984, studio Disney masih melakukan hal ini. Beberapa studio animasi mengambil jalan yang lebih praktis, yaitu membukukan storyboard-storyboard tersebut untuk pegangan tim produksi.

Untuk mengetes efektivitas sebuah storyboard, biasanya diadakan screening Leica Reel. Leica Reel merupakan kumpulan storyboard yang direkam dengan kamera. Yang bagus terlihat di atas kertas, belum tentu bagus di layar bioskop. Itulah alasan diadakannya Leica Reel.

Setelah storyboard dirapatkan dan disepakati, maka proses layout dan animasi dimulai. Layout adalah blueprint dari komposisi sebuah adegan. Ada dua jenis layout, yaitu tonal dan linear. Layout tonal dibuat untuk mengatur daerah sinar dan bayangan sebuah adegan. Sementara itu, layout linear dibuat untuk menggambarkan detail sebuah adegan. Biasanya setelah layout tersebut diberi dan disetujui, maka departemen background akan mengambil alih dan memproduksi versi berwarnanya. Tidak jarang komputer banyak berperan dalam proses ini. Walaupun masih diwarnai dengan tangan, Tom Cardone-anggota tim produksi film animasi Hercules-mengakui komputer cukup berperan. “Kalau dulu, perbaikan sebuah background bisa memakan waktu dua hari. Sekarang, 45 menit pun jadi.”

2) Ketrampilan Kerja

Naskah dalam unit adegan dibagikan dan elemen dramatisnya dalam setiap unit adegan ditentukan

 

Naskah dibagi menjadi bagian-bagian yang berupa adegan. Adegan dalam sebuah cerita menjadi menarik apabila ada karakter inti (Tokoh Utama) terlibat dalam sebuah peristiwa yang menarik. Sebuah cerita harus mempunyai bagian awal, tengah dan akhir, walaupun tidak harus dengan urutan seperti itu. Secara Umum jenis Penokohan dalam cerita bisa dibagi menjadi 3 :

 

  1. a.           Tokoh Protagonis

Biasanya tokoh inilah yang menjadi “pahlawan” dalam cerita dan ditempatkan sebagai tokoh utama. Kepribadiannya cenderung baik hati, suka menolong, pokoknya “Orang yang paling baik”.

 

  1. b.           Tokoh Antagonis

Tokoh yang digambarkan sebagai lawan tokoh protagonis biasanya penjahat, kepala bandit dsb. Kepribadiannya cenderung Jahat, suka menyakiti orang lain.

 

  1. c.            Tokoh Gray (Abu-abu)

Tokoh yang tidak jelas apakah dia Protagonis atau Antagonis, kecenderungan penokohan pada film animasi saat ini adalah penempatan tokoh “Gray” sebagai tokoh utama karena bisa mengembangkan cerita secara lebih dalam tanpa harus keluar dari cerita yang sudah ada atau kita buat.

 

Karakterisitik para tokoh itu lah yang akan membagun dramatis nya sebuah crita menjadi menarik. Karakter adalah Langkah penting dalam membuat tokoh adalah kepribadian, tujuannya untuk menciptakan unsur drama (Serial TV, Film (konvensial atau Animasi) akan terasa tidak mempunyai getaran))  serta memberikan kelemahan yang bersifat non fisik jadinye nanti-nantinye sih bisa ngembangin ceritanya juga

 

Elemen dramatis dalam setiap adegan dianalisa dan hubungan antara narasi tulis dengan visualisasi ditentukan.

Pemain pemula di tim kreatif seringkali merasa kebingungan ketika mulai membuat suatu campaign. Dari mana harus mulai? Apa yang harus dilakukan? Apakah langsung membuat scetch, storyline dan script? Atau bagaimana? Dalam review pertama, seringkali finished script belum lah diperlukan! Sebab yang lebih penting adalah ide, ide dan ide! Konsep dan konsep. urutan ini bisa menjadi clue yang membantu:

1. biggest issue against the brand
2. concept statement
3. slogan crafting
4. campaign idea to convey

Urutan pertama adalah analisa, yang biasanya dilakukan dengan sangat komprehensif (oleh client service dept.) dengan analisa SWOT dll. dsb. Ya emang perlu sih. Tapi cobalah kita tangkap esensinya saja, coba tangkap isu terbesar yang dirasakan oleh konsumen pada saat itu. Itulah yang dilakukan oleh Neil French ketika mengkomunikasikan Panadol. Ia hanya peduli dengan isu yang berkembang saat itu: di mana orang harus menelan dua pil aspirin sekaligus untuk menghilangkan sakit kepala; fakta yang membuat orang seringkali berfikir..’kenapa sih ngga membuat obat yang lebih ampuh, sehingga kita tak perlu menelan dua pil?’ Nah, itulah yang dilakukan Panadol: menciptakan formula khusus agar orang cukup menelan satu pil saja.

Yang kedua, yakni pembuatan concept statement, ini sebenarnya hanyalah bentuk pemikiran kita, yang nantinya harus di implementasikan dalam berbagai materi. Statement ini kurang lebih juga merupakan cerminan dari strategy yang dipilih, yakni yang merupakan WHAT TO SAY brand. Cara paling indah, tajam, dan kelak sangat bermanfaat bagi kampanye brand adalah penciptaan slogan yang memorable and unique. Untuk contoh kampenye Panadol, French menggunakan slogan yang sangat sederhana: one is enough. Ya, slogan memang seharusnya menjadi cerminan paling sederhana dari positioning brand (lihat artikel 10).

Setelah itu, ide eksekusi deh… apa saja sih cara yang paling unique and memorable untuk menyampaikan pesan ‘one is enough’ pada saat itu di tempat itu? Di sinilah kepekaan dan wawasan insan kreatif diperlukan. Mr French dengan jeli memotret slogan ‘one is enough’ itu dengan menampilkan sosok mirip George Bush dan anaknya, yang sedang menggemparkan dunia dengan serangan ke Irak dan Afghanistan itu. Jadilah sebuah iklan yang simple, mengundang senyum, namun juga menyampaikan pesan produk secara sangat jelas: one is enough

Keseluruhan narasi dan adegan dipertimbangkan untuk menentukan lokasi, karakter, dan elemen lainnya dalam setiap shot.

 

Tema adalah suatu pesan yang akan kita sampaikan kepada audiens ketika mereka nanti menonton atau membaca karya kita.Sebuah cerita tanpa tema maka akan menjadi “tong kosong”.Cerita secara umum dapat kita artikan sebagai suatu informasi tentang suatu kejadian atau peristiwa. Sedangkan Plot adalah bagaimana jalannya cerita yang ingin kita sampaikan.

 

Setelah menentukan tema dan cerita maka kita harus menentukan 5 W+H antara lain :

 

1 Where and When

Dimana dan Kapan ceritamu terjadi atau berlangsung, dalam pembuatan animasi harus diceritakan secara lengkap agar memudahkan Background dan Character design dalam membuat Latar belakang atau lingkungan serta karakter (busana, senjata, peralatan dsb) nantinya.

 

2 Who

Karakter-karakter yang kita buat dalam cerita, baik karakter utama maupun pendukung.

 

3 What

Apa yang terjadi di dalam cerita dan karakter-karakter dalam cerita yang kita buat? (Plot cerita).  Apa tujuan karakter kita (terutama karakter utama) dalam cerita itu? gunanya untuk membangun motivasi sang tokoh yang nantinya akan mengembangkan kepribadian karakter tersebut.

 

4 Why

Mengapa semuanya terjadi? Mengapa Karakter mengingin- kan apa yang mereka mau? Dan yang paling penting bagi kita para penulis adalah “Mengapa audiens atau penonton mau menonton Program kita?”

 

5 How

Bagaimana Karakter kita mendapatkan apa yang mereka inginkan? Bagaimana mereka bereaksi terhadap kegagalan atau keberhasilan.

 

Setiap Scene yang nanti kita buat setidaknya harus mempunyai salah satu pertanyaan di atas, gunanya untuk membuat penonton mengerti setiap peristiwa yang belum terkumpul.

 

Tapi setiap cerita atau tema yang ingin kita ceritakan biasanya sudah diceritakan oleh pengarang atau penulis lain. Jadi tugas kita adalah bagaimana kita meramu sedemikian cerita atau tema yang sudah ada menjadi suatu yang terlihat “baru” dan “berbeda”. Umumnya ada 3 Plot dasar yang bisa kita gunakan yaitu :

 

-          The Mysterious Stranger (orang asing yang misterius).

 

Seseorang atau sesuatu datang ke suatu tempat atau lingkungan. Cerita akan terbangun dari satu atau 2 pertanyaan yaitu : “Akibat apa yang dibawa oleh karakter tersebut pada lingkungan itu” atau sebaliknya. Kalau tidak digunakan untuk hal tersebut, biasanya karakter tersebut dipakai sebagai pengantar untuk memperkenalkan karakter utama serta lingkungan di dalam cerita.

 

-          The Quest (Pencarian).

 

Maksudnya pencarian apa saja : Jati diri, benda-benda ajaib atau cinta. Semua misteri terbangun di sekitar pencarian dan menuju pada penyelesaian cerita. Jadi bisa saja kita membuat subkategori dari yang sudah tersebut di atas.

 

-          The Genesis Story (Cerita inti).

 

Bagaimana akhirnya sesuatu atau seseorang nanti, inilah cerita asli yang di dalam film animasi atau komik.

 

Shot plan dan realisasi hubungan antara aspek visual dan naratif naskah dibuat dan dipertimbangkan elemen berikut ini:

 

  • Keseluruhan narasi

 

Sinopsis Umum dan tema cerita adalah isi keseluruhan cerita, jadi berawal darimana dan berakhir sampai mana, konflik dalam cerita, percintaan, misi yang ingin disampaikan dsb. Setelah jelas isi keseluruhan cerita maka kita membuat sinopsis per episode (biasanya minimal tiga belas episode), dan disini kita harus pandai dalam membuat episode yang berkesinambungan serta mengakhiri setiap episode sehingga membuat penonton penasaran. Di dunia media dikenal istilah Cliff hanger yaitu akhir episode digantung tetapi disambung ke episode berikutnya.

 

  • Konteks setiap adegan dalam keseluruhan narasi

 

Adegan yang diambil adalah adegan yang sesuai dengan karakter yang ingin diciptakan dalam keseluruhan narasi. Karakter yang akan muncul di dalam cerita, dan harus dibuat secara mendetil dari tinggi dan berat badan, model rambut, kepribadian (ini yang paling penting), hobi, pakaian dan latar belakang tokoh (Untuk mengembangkan tokoh serta cerita).

 

Secara Umum jenis Penokohan dalam cerita bisa dibagi menjadi 3 :

  1. Tokoh Protagonis

Biasanya tokoh inilah yang menjadi “pahlawan” dalam cerita dan ditempatkan sebagai tokoh utama. Kepribadiannya cenderung baik hati, suka menolong, pokoknya “Orang yang paling baik”.

 

  1. Tokoh Antagonis

Tokoh yang digambarkan sebagai lawan tokoh protagonis biasanya penjahat, kepala bandit dsb. Kepribadiannya cenderung Jahat, suka menyakiti orang lain.

 

  1. Tokoh Gray (Abu-abu)

Tokoh yang tidak jelas apakah dia Protagonis atau Antagonis, kecenderungan penokohan pada film animasi saat ini adalah penempatan tokoh “Gray” sebagai tokoh utama karena bisa mengembangkan cerita secara lebih dalam tanpa harus keluar dari cerita yang sudah ada atau kita buat.

 

  • Scene by scene 

 

Pengambilan gambar pada drama dengan cara pengambilan adegan secara partial atau sebagian-sebagian yang dipotong-potong menjadi sangat pendek-pendek sesuai dengan yang akan diceritakan, sehingga adegan yang salah bisa diulang-ulang hingga mencapai seperti yang dikehendaki oleh sutradara. Sedangkan dalam dunia teater pengambilan gambar adegan dari awal hingga akhir penampilan atau show harus sempurna, karena  tidak ada jeda atau pengulangan bagi adegan yang salah, salah pada salah  satu adegan atau dialog, maka rusaklah semua performa yang sedang ditampilkan.

 

  • Pementasan di panggung

 

Faktor – faktor yang harus di perhatikan di dalam panggung adalah :

 

  • pengucapan vokal harus sangat kuat, karena penampilan dilakukan di atas panggung dan vokal harus terdengar hingga penonton di barisan yang paling belakang.
  • emosi atau perasaan harus ekstreem, karena penampilan dilakukan di atas panggung dan emosi atau perasaan harus terlihat hingga penonton di barisan yang paling belakang.
  • make up harus ekstreem, karena penampilan dilakukan di atas panggung dan make up harus terlihat hingga penonton di barisan yang paling belakang.
  • adegan dari awal hingga akhir penampilan atau show harus sempurna, karena tidak ada jeda atau pengulangan bagi adegan yang salah, salah pada salah satu adegan atau dialog, maka rusaklah semua performa yang sedang ditampilkan.

 

  • Ukuran shot

 

Sebuah program video sedang ditayangkan dimana ia hanya mempunyai ukuran bingkai atau frame ukuran full shot sepanjang satu babak atau scene. Adakah babak tersebut menarik?. Sudah tentu ia amat membosankan.

 

Sesebuah program video akan menjadi lebih menarik jika dalam sesuatu babak tersebut terdapat pelbagai side shot-shot (shot size/frame) dan juga sudut-sudut rakaman kamera(camera angle). Satu shot bermakna satu rakaman video bermula dari butang record ditekan hinggalah butang stop atau pause ditekan. Sequences pula membawa arti beberapa shot-shot yang disatukan untuk memberi makna. Side hot-shot mempunyai makna atau bahasa tertentu dalam pembikinan program video atau filem. Setiap shot tersebut berfungsi dalam membawa perhatian kepada peristiwa dalam screen.

 

Contoh satu sequence atau satu urutan peristiwa yang menjelaskan beberapa ukuran shot; Satu shot pandangan umum atau wide shot(WS) dalam sebuah stadium yang dipenuhi oleh penonton. Satu long shot(LS) seorang pemain sedang mahu membuat tendangan penalti di depan pintu gol lawan. Satu mid shot(MS) dimana pemain tersebut memberi tumpuan kepada bola yang hendak ditendang. Satu close up shot(CU) bola yang akan ditendang. Satu extreme close-up shot muka penjaga gol yang kelihatan risau menunggu bola yang akan ditendang oleh pemain tersebut. Bukankah side shot-shot ini akan memberi makna dan akan menarik perhatian penonton?

 

  • Pilihan lensa

 

Setiap orang bisa membuat karya film video asalkan tahu dan paham proses pembuatannya dan cara-cara penggunaan peralatannya. Asalkan ada kemauan dan peralatan tidak susah untuk mempelajarinya. Apalagi saat ini kamera video sudah bukan barang asing lagi. Dalam lingkup keluarga pun sudah dikenal handycam, peralatan sederhana yang sudah dipenuhi beberapa fasilitas.

Pertama kali yang perlu kita ketahui untuk pengambilan gambar adalah pengenalan terhadap kamera. Kamera merupakan salah satu bagian penting dalam sebuah pengambilan gambar. Tanpa menyepelekan bagian yang lain, tanpa kamera sebuah produksi tidak bisa berjalan, karena di kamera inilah gambar dan suara direkam ke dalam film atau pita video.

Ada berbagai macam jenis kamera yang beredar, mulai dari kamera handycam sampai kamera professional broadcast. Kamera handycam disebut juga kamera keluarga karena lebih banyak digunakan untuk kepentingan keluarga dan pengoperasiannya juga mudah, meskipun ada beberapa jenis handycam yang bisa digunakan untuk kualitas broadcast (seperti : Sony seri DSR DVCam dan Canon XL-1). Sedangkan kamera professional dipakai oleh seorang yang professional dibidangnya, karena penggunaannya perlu beberapa ketrampilan dan pengetahuan khusus tentang fasilitas kamera itu sendiri.

 

 

  •  Angle kamera

 

Ada 5 jenis angle kamera yaitu:

 

1. High Angle (Bird eye view) Posisi kamera lebih tinggi dari obyek yang diambil.
2. Normal Angle Posisi kamera sejajar dengan ketinggian mata obyek yang diambil.
3. Low Angle (Frog eye view) Posisi kamera lebih rendah dari obyek yang diambil.
4. Obyektive Kamera Tehnik pengambilan di mana kamera menyajikan sesuai dengan kenyataannya.
5. Subyektive Kamera Tehnik pengambilan di mana kamera berusaha melibatkan penonton dalam peristiwa. Seolah-olah lensa kamera sebagai mata si penonton atau salah satu pelaku dalam adegan.

 

  • Nilai kualitas foto setiap shot dari efek setiap adegan

 

Nilai kualitas foto dalam shot dipengaruhi oleh focus pada camera. Secara sederhana kita artikan saja ketajaman dari suatu titik ataupun benda yang kita lihat dengan mata telanjang. Begitu juga bila mata kita melihat sebuah benda melalui viewfinder kamera, maka benda yang tampak di viewfinder tersebut mungkin tajam, mungkin pula tidak. Untuk mengatur agar benda yang kita lihat malalui viewfinder nampak tajam, kita harus mengatur focus dengan cara memutar gelang pengatur jarak yang ada pada lensa.

 

  • Shot plan yang membuat narasi dapat dikontrol dan diangkat ke dalam produksi secara keseluruhan

 

Shot plan yang kualitasnya jelek akan di edit supaya kelihatan menaroik dan akan di lakukan editing di setiap shot plan. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam melakukan pengeditan, yaitu :

- Pemotongan Gambar

- Pemberian efek tulisan

- Transisi Gambar

- Pemberian efek suara

- Penggabungan (Rendering)

 

Shot plan untuk menerjemahkan naskah dari bentuk tulis menjadi visual digunakan

 

Setelah shot plan diterjemahkan dari bentuk tulisan menjadi visual maka kita akan ke tahap perekaman. Tahap perekaman merupakan hasil transfer materi ke dalam aplikasi pengolah video atau yang dikenal dengan istilah capture. Proses transfer dari kamera ke komputer memerlukan konsentrasi untuk mendapatkan kualitas gambar yang maksimal. Proses ini bisa menggunakan alat penghubung yang dikoneksikan dari kamera ke komputer. Dalam PC, konektor bisa dihubungkan melalui USB, FireWire atau PCI.

 

3) Sikap Kerja

Beberapa hal yang harus diperhatikan oleh peserta pelatihan yaitu :

  1. Membagikan naskah ke dalam unit adegan dan elemen dramatis
  2. Mempertimbangkan lokasi, karakter, dan elemen lainnya dalam setiap shot.
  3. Membuat shot plan yang sesuai dengan naskah
  4. Menentukan jenis lensa, ukuran shot dan angle kamera melalui penafsiran naskah

 

 

 

BAB V

SUMBER- SUMBER YANG DIPERLUKAN

UNTUK PENCAPAIAN KOMPETENSI

 

 

5.1     Sumber Daya Manusia

Dalam proses pencapaian kompetensi sumber yang dapat diandalkan adalah sumber daya manusia. Sumber daya manusia yang dimaksud disiini adalah orang-orang yang dapat mendukung proses pencapaian kompetensi yang dimaksud, antara lain:

 

  • Pembimbing

Pembimbing Anda merupakan orang yang dapat diandalkan karena beliau memiliki pengalaman. Peran Pembimbing adalah untuk :

  1. Membantu Anda untuk merencanakan proses belajar.
  2. Membimbing Anda melalui tugas-tugas pelatihan yang dijelaskan dalam tahap belajar.
  3. Membantu Anda untuk memahami konsep dan praktik baru dan untuk menjawab pertanyaan Anda mengenai proses belajar Anda.
  4. Membantu Anda untuk menentukan dan mengakses sumber tambahan lain yang Anda perlukan untuk belajar Anda.
  5. Mengorganisir kegiatan belajar kelompok jika diperlukan.
  6. Merencanakan seorang ahli dari tempat kerja untuk membantu jika diperlukan.

 

  • Penilai

Penilai Anda melaksanakan program pelatihan terstruktur untuk penilaian di tempat kerja. Penilai akan :

  1. Melaksanakan penilaian apabila Anda telah siap dan merencanakan proses belajar dan penilaian selanjutnya dengan Anda.
  2. Menjelaskan kepada Anda mengenai bagian yang perlu untuk diperbaiki dan merundingkan rencana pelatihan selanjutnya dengan Anda.
  3. Mencatat pencapaian / perolehan Anda.

 

  • Teman kerja/sesama peserta pelatihan

Teman kerja Anda/sesama peserta pelatihan juga merupakan sumber dukungan dan bantuan. Anda juga dapat mendiskusikan proses belajar dengan mereka. Pendekatan ini akan menjadi suatu yang berharga dalam membangun semangat tim dalam lingkungan belajar/kerja Anda dan dapat meningkatkan pengalaman belajar Anda.

 

5.2     Literatur

Disamping dengan belajar dengan orang-orang seperti yang disebutkan diatas, Anda tentu perlu juga terus menambah wawasan dan pengetahuan Anda dari sumber-sumber bacaan seperti buku-buku yang berkaitan dengan kompetensi yang Anda pilih, jurnal-jurnal, majalah, dan sebagainya.

 

Literatur dalam hal ini tentu bukan saja material berupa bacaan atau buku melainkan termasuk pula material-material lainnya yang menjadi pendukung proses pembelajaran ketika peserta pelatihan sedang menggunakan Pedoman Belajar ini. Misalnya rekaman dalam bentuk kaset, video, dan sebagainya.

 

Buku referensi, lembar kerja, tugas-tugas kerja juga dapat digunakan dalam proses pencapaian kompetensi. Peserta boleh mencari dan menggunakan sumber-sumber alternatif lain yang lebih baik atau sebagai pendukung tambahan atau jika ternyata sumber-sumber yang direkomendasikan dalam pedoman belajar ini tidak tersedia/tidak ada.

 

Untuk referensi mengenai materi-materi yang dapat digunakan, Anda dapat melihat dari Daftar Pustaka yang terlampir dihalaman terakhir modul ini.

5.3 Daftar Peralatan dan Bahan Yang Digunakan

 

  1. Judul/Nama Pelatihan             :    Membaca dan Menafsirkan Naskah

 

  1. Kode Program Pelatihan         :    TIK.MM02.004.01

 

 

 

NO

UNIT

KOMPETENSI

KODE UNIT

DAFTAR PERALATAN

DAFTAR BAHAN

KETERANGAN

Membaca dan Menafsirkan Naskah

TIK.MM02.004.01

-     Perangkat komputer berupa 1 unit PC (Personal Computer),mouse dan keyboard

-     Buku Naskah

-     Alat tulis

-     Buku manual atau buku informasi

-     Referensi dari daftar pustaka

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Testimoni

artikel lainnya Membaca Dan Menafsirkan Naskah TIK.MM02.004.01



bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
Saturday 10 October 2015 | blog

Perjanjian kontrak kerja barter no.004/tec-med/spk/vii/2005 antara jawa pos radar kudus dengan pt. Tecma mitratama advertindo pada…

Sunday 21 June 2015 | blog

Nama sekolah : sma warga surakarta mata pelajaran : basa jawa kelas/semester : xii/gasal standar kompetensi…

Monday 16 February 2015 | blog

  MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI           MEMPERBAIKI…

Sunday 11 October 2015 | blog

Departemen agama madrasah aliyah negeri 2 bekasi jl.amaraden no.2 cibening setu kabupaten bekasi telp.02170200822 soal mid…