Advertisement
loading...

 

MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI

Advertisement

SEKTOR TELEMATIKA

SUB SEKTOR JARINGAN KOMPUTER

DAN SISTEM ADMINISTRASI

 

 

MELAKSANAKAN DAN

MENJAGA ETIKA PROFESI

TIK.JK01.004.01

 

 

 

BUKU INFORMASI

 

 

 

 

 

 

 

DEPARTEMEN TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI R.I.

DIREKTORAT JENDERAL PEMBINAAN PELATIHAN DAN PRODUKTIVITAS

Jl. Jend. Gatot Subroto Kav.51 Lt.7.B Jakarta Selatan

 

DAFTAR ISI

 

 

DAFTAR ISI. 2

 

BAB I PENGANTAR. 5

1.1 Konsep Dasar Pelatihan Berbasis Kompetensi 5

1.2 Penjelasan Modul 5

1.2.1 Desain Modul 5

1.2.2 Isi Modul 6

1.2.3 Pelaksanaan Modul 6

1.3 Pengakuan Kompetensi Terkini 7

1.4 Pengertian Istilah-istilah. 7

 

BAB II STANDAR KOMPETENSI. 9

2.1 Peta Paket Pelatihan. 9

2.2 Pengertian Unit Standar 9

2.3 Unit Kompetensi Yang Dipelajari 9

2.3.1 Kode dan Judul Unit 10

2.3.2 Deskripsi Unit 10

2.3.3 Elemen Kompetensi 10

2.3.4 Batasan Variabel 11

2.3.5 Panduan Penilaian. 11

2.3.6 Kompetensi Kunci 12

 

BAB III STRATEGI DAN METODE PELATIHAN. 13

3.1 Strategi Pelatihan. 13

3.2 Metode Pelatihan. 14

 

BAB IV MATERI UNIT KOMPETENSI. 15

4.1 Tujuan Instruksional Umum.. 15

4.2 Tujuan Instruksional Khusus 15

4.3 Melindungi Kepentingan Pelanggan. 16

4.3.1 Kelangsungan Pelayanan dan Aliran Informasi Sesuai Dengan Tuntutan Kerja Dijamin  17

4.3.2 Keutuhan dan Keamanan Informasi Pada Saat Dibutuhkan Oleh Pribadi dan Perusahaan Dijamin  18

4.3.3 Bila Terjadi konflik Secepat Mungkin Diidentifikasi dan Dijelaskan Secepatnya Pada Pihak yang Relevan. 19

4.3.4 Kepentingan Pelanggan Termasuk Kerahasiaan dan Hal Miliknya Dijaga. 23

4.4 Menghasilkan Layanan yang Berkualitas 23

4.4.1 Layanan yang Sesuai Kebutuhan Operasional dan Keuntungan Pelanggan dan Atasan Disediakan. 23

4.4.2 Kualitas Pelayanan yang Dihasilkan Untuk Pelanggan dan Atasan Dijamin. 24

4.4.3 Pekerjaan Dilakukan Sesuai Standar Layanan yang Berlaku. 24

4.4.4 Proses yang Berkualitas Ketika Mengembangkan Pelayanan Dijaga. 25

4.4.5 Layanan Terbaik Untuk Memenuhi Kebutuhan Pelanggan dan Atasan Diberikan  25

4.5 Menjamin Kualitas Kinerja. 25

4.5.1 Keterampilan, Pengetahuan, dan Kualifikasi Kinerja Dilakukan. 26

4.5.2 Pelayanan yang Diberikan oleh Seseorang Difasilitasi 26

4.5.3 Informasi Kepada Atasan dan Pelanggan yang Berkualitas dan Sesuai Standar Disediakan  26

4.5.4 Tempat Kerja yang Realistis, Tahapan Pekerjaan, Anggaran Biaya, dan Kemampuan untuk Menyelesaikan Tahapan Proyek Direncanakan. 26

4.6 Menjaga Hubungan yang Harmonis 28

4.6.1 Kolega dan Karyawan Diperlakukan Secara Wajar dan Profesional 28

4.6.2 Layanan bagi Kolega, Pelanggan, dan Karyawan Dilakukan Sesuai  Prosedur 28

4.6.3 Keterampilan Profesional dan Pengetahuan Ditingkatkan Secara Terus Menerus 29

 

BAB V SUMBER-SUMBER YANG DIPERLUKAN UNTUK PENCAPAIAN KOMPETENSI  30

5.1 Sumber Daya Manusia. 30

5.2 Literatur 31

5.3 Daftar Peralatan dan Bahan. 31

 

DAFTAR PUSTAKA. 32

 

BAB I

PENGANTAR

 

 

 

1.1 Konsep Dasar Pelatihan Berbasis Kompetensi

  • Apakah pelatihan berdasarkan kompetensi?

Pelatihan berdasarkan kompetensi adalah pelatihan yang memperhatikan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang diperlukan di tempat kerja agar dapat melakukan pekerjaan dengan kompeten. Standar Kompetensi dijelaskan oleh Kriteria Unjuk Kerja (KUK).

 

  • Apakah artinya menjadi kompeten ditempat kerja?

Jika Anda kompeten dalam pekerjaan tertentu, Anda memiliki seluruh keterampilan, pengetahuan dan sikap yang perlu untuk ditampilkan secara efektif ditempat kerja, sesuai dengan standar yang telah disetujui.

 

 

1.2 Penjelasan Modul

Modul ini dikonsep agar dapat digunakan pada proses Pelatihan Konvensional/Klasikal dan Pelatihan Individual/Mandiri. Yang dimaksud dengan Pelatihan Konvensional/Klasikal, yaitu pelatihan yang dilakukan dengan melibatkan bantuan seorang pembimbing atau guru seperti proses belajar mengajar sebagaimana biasanya dimana materi hampir sepenuhnya dijelaskan dan disampaikan pelatih/pembimbing yang bersangkutan.

 

Sedangkan yang dimaksud dengan Pelatihan Mandiri/Individual adalah pelatihan yang dilakukan secara mandiri oleh peserta sendiri berdasarkan materi dan sumber-sumber informasi dan pengetahuan yang bersangkutan. Pelatihan mandiri cenderung lebih menekankan pada kemauan belajar peserta itu sendiri. Singkatnya pelatihan ini dilaksanakan pseserta dengan menambahkan unsur-unsur atau sumber-sumber yang diperlukan baik dengan usahanya sendiri maupun melalui bantuan dari pelatih.

 

 

1.2.1 Desain Modul

Modul ini dirancang untuk dapat digunakan pada Pelatihan Klasikal dan Pelatihan Individual/mandiri :

  • Pelatihan klasikal adalah pelatihan yang disampaikan oleh seorang pelatih.
  • Pelatihan individual/mandiri adalah pelatihan yang dilaksanakan oleh peserta dengan menambahkan unsur-unsur/sumber-sumber yang diperlukan dengan bantuan dari pelatih.

 

 

1.2.2 Isi Modul

Modul ini terdiri dari 3 bagian, antara lain sebagai berikut:

 

Buku Informasi

Buku informasi ini adalah sumber pelatihan untuk pelatih maupun peserta pelatihan.

 

Buku Kerja

Buku kerja ini harus digunakan oleh peserta pelatihan untuk mencatat setiap pertanyaan dan kegiatan praktik baik dalam Pelatihan Klasikal maupun Pelatihan Individual / mandiri.

 

Buku ini diberikan kepada peserta pelatihan dan berisi:

  • Kegiatan-kegiatan yang akan membantu peserta pelatihan untuk mempelajari dan memahami informasi.
  • Kegiatan pemeriksaan yang digunakan untuk memonitor pencapaian keterampilan peserta pelatihan.
  • Kegiatan penilaian untuk menilai kemampuan peserta pelatihan dalam melaksanakan praktik kerja.

 

Buku Penilaian

Buku penilaian ini digunakan oleh pelatih untuk menilai jawaban dan tanggapan peserta pelatihan pada Buku Kerja dan berisi:

  • Kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh peserta pelatihan sebagai pernyataan keterampilan.
  • Metode-metode yang disarankan dalam proses penilaian keterampilan peserta pelatihan.
  • Sumber-sumber yang digunakan oleh peserta pelatihan untuk mencapai keterampilan.
  • Semua jawaban pada setiap pertanyaan yang diisikan pada Buku Kerja.
  • Petunjuk bagi pelatih untuk menilai setiap kegiatan praktik.
  • Catatan pencapaian keterampilan peserta pelatihan.

 

 

1.2.3 Pelaksanaan Modul

Pada Pelatihan Klasikal/Konvensional, pelatih akan :

-      Menyediakan Buku Informasi yang dapat digunakan peserta pelatihan sebagai sumber pelatihan.

-      Menyediakan salinan Buku Kerja kepada setiap peserta pelatihan.

-      Menggunakan Buku Informasi sebagai sumber utama dalam penyelenggaraan pelatihan.

-      Memastikan setiap peserta pelatihan memberikan jawaban/ tanggapan dan menuliskan hasil tugas praktiknya pada Buku Kerja.

 

Pada Pelatihan Individual/Mandiri, peserta pelatihan akan :

-      Menggunakan Buku Informasi sebagai sumber utama pelatihan.

-      Menyelesaikan setiap kegiatan yang terdapat pada buku Kerja.

-      Memberikan jawaban pada Buku Kerja.

-      Mengisikan hasil tugas praktik pada Buku Kerja.

-      Memiliki tanggapan-tanggapan dan hasil penilaian oleh pelatih.

 

 

1.3 Pengakuan Kompetensi Terkini

  • Apakah Pengakuan Kompetensi Terkini (Recognition of Current Competency)?

Jika Anda telah memiliki pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk elemen unit kompetensi tertentu, Anda dapat mengajukan pengakuan kompetensi terkini (RCC). Berarti Anda tidak akan dipersyaratkan untuk belajar kembali.

 

  • Anda mungkin sudah memiliki pengetahuan dan keterampilan, karena Anda telah:
  1. Bekerja dalam suatu pekerjaan yang memerlukan suatu pengetahuan dan keterampilan yang sama atau
  2. Berpartisipasi dalam pelatihan yang mempelajari kompetensi yang sama atau
  3. Mempunyai pengalaman lainnya yang mengajarkan pengetahuan dan keterampilan yang sama.

 

 

1.4 Pengertian Istilah-istilah

Berikut adalah pengertian dari beberapa istilah yang digunakan dalam Pelatihan Berbasis Kompetensi, antara lain:

 

Profesi

Profesi adalah suatu bidang pekerjaan yang menuntut sikap, pengetahuan serta keterampilan/keahlian kerja tertentu yang diperoleh dari proses pendidikan, pelatihan serta pengalaman kerja atau penguasaan sekumpulan kompetensi tertentu yang dituntut oleh suatu pekerjaan/jabatan.

 

Standardisasi

Standardisasi adalah proses merumuskan, menetapkan serta menerapkan suatu standar tertentu.

 

Penilaian / Uji Kompetensi

Penilaian atau Uji Kompetensi adalah proses pengumpulan bukti melalui perencanaan, pelaksanaan dan peninjauan ulang (review) penilaian serta keputusan mengenai apakah kompetensi sudah tercapai dengan membandingkan bukti-bukti yang dikumpulkan terhadap standar yang dipersyaratkan.

 

Pelatihan

Pelatihan adalah proses pembelajaran yang dilaksanakan untuk mencapai suatu kompetensi tertentu dimana materi, metode dan fasilitas pelatihan serta lingkungan belajar yang ada terfokus kepada pencapaian unjuk kerja pada kompetensi yang dipelajari.

 

Kompetensi

Kompetensi adalah kemampuan seseorang untuk menunjukkan aspek sikap, pengetahuan dan keterampilan serta penerapan dari ketiga aspek tersebut ditempat kerja untuk mencapai unjuk kerja yang ditetapkan.

 

Sertifikasi Kompetensi

Adalah proses penerbitan sertifikat kompetensi melalui proses penilaian / uji kompetensi.

 

Sertifikat Kompetensi

Adalah pengakuan tertulis atas penguasaan suatu kompetensi tertentu kepada seseorang yang dinyatakan kompeten yang diberikan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi.

 

Standar Kompetensi

Standar kompetensi adalah standar yang ditampilkan dalam istilah-istilah hasil serta memiliki format standar yang terdiri dari judul unit, deskripsi unit, elemen kompetensi, kriteria unjuk kerja, ruang lingkup serta pedoman bukti.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

STANDAR KOMPETENSI

 

 

 

2.1 Peta Paket Pelatihan

Modul yang sedang Anda pelajari ini bertujuan untuk mencapai satu unit kompetensi. Adapun kompetensi ini termasuk dalam satu paket pelatihan, yang terdiri atas unit-unit kompetensi berikut:

  1. TIK.JK01.001.01     Melakukan komunikasi di tempat kerja
    1. TIK.JK01.002.01     Melaksanakan pekerjaan secara individu dalam lingkungan organisasi teknologi informasi

 

 

2.2 Pengertian Unit Standar

Apakah Standar Kompetensi? Setiap Standar Kompetensi menentukan :

  1. Pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk mencapai kompetensi.
  2. Standar yang diperlukan untuk mendemonstrasikan kompetensi.
  3. Kondisi dimana kompetensi dicapai.

 

Di dalam unit kompetensi ini, Anda akan mempelajari mengenai  pengertian profesi dan tata cara menjaga etika profesi untuk melengkapi pengetahuan mengenai etika berorganisasi.

 

Sistem pelatihan berbasis kompetensi terfokus pada pencapaian kompetensi, bukan pada lamanya waktu. Namun diharapkan pelatihan ini dapat dilaksanakan dan dicapai dalam jangka waktu tidak lebih dari seminggu, tiga sampai lima hari. Pelatihan ini diperuntukkan bagi semua pengguna terutama yang tugasnya berkaitan dengan pengelolaan, pemeliharaan dan perancangan Website.

 

Jika Anda belum mencapai kompetensi pada usaha/kesempatan pertama, Pelatih Anda akan mengatur rencana pelatihan dengan Anda. Rencana ini akan memberikan Anda kesempatan kembali untuk meningkatkan level kompetensi Anda sesuai dengan level yang diperlukan. Jumlah maksimum usaha/kesempatan yang disarankan adalah 3 (tiga) kali.

 

 

2.3 Unit Kompetensi Yang Dipelajari

Dalam sistem pelatihan, Standar Kompetensi diharapkan menjadi panduan bagi peserta pelatihan untuk dapat:

  1. Mengidentifikasikan apa yang harus dikerjakan peserta pelatihan.
  2. Memeriksa kemajuan peserta pelatihan.
  3. Menyakinkan bahwa semua elemen (sub-kompetensi) dan criteria unjuk   kerja telah dimasukkan dalam pelatihan dan penilaian.

2.3.1 Kode dan Judul Unit

Kode Unit     : TIK.JK01.004.01

Judul Unit     : Melaksanakan dan Menjaga Etika Profesi

 

 

2.3.2 Deskripsi Unit

Unit ini menentukan kompetensi yang diperlukan untuk menjaga profesionalisme dan etika ketika berhubungan dengan kolega, pelanggan, dan atasan.

 

 

2.3.3 Elemen Kompetensi

 

ELEMEN KOMPETENSI

KRITERIA UNJUK KERJA

01 Melindungi kepentingan pelanggan 1.1     Kelangsungan pelayanan dan aliran informasi sesuai dengan tuntutan kerja dijamin

 

1.2     Keutuhan dan keamanan informasi  pada saat dibutuhkan oleh pribadi dan perusahaan dijamin

 

1.3     Bila terjadi konflik secepat mungkin dan diidentifikasi dan dijelaskan secepatnya pada pihak yang relevan

 

1.4     Kepentingan pelanggan termasuk kerahasiaan dan hak miliknya dijaga

 

02 Menghasilkan layanan yang berkualitas 2.1  Layanan yang sesuai kebutuhan operasional dan keuntungan pelanggan dan atasan disediakan

 

2.2  Kwalitas pelayanan yang dihasilkan untuk pelanggan dan atasan dijamin

 

2.3  Pekerjaan dilakukan sesuai  standar layanan yang berlaku

 

2.4  Proses yang berkualitas ketika mengembangkan pelayanan dijaga

 

2.5  Layanan terbaik untuk memenuhi kebutuhan pelanggan dan atasan diberikan

 

03 Menjamin kualitas kinerja
3.1  Keterampilan, pengetahuan, dan kualifikasi kinerja dilakukan

 

3.2  Pelayanan yang diberikan oleh seseorang difasilitasi

 

3.3  Informasi kepada atasan dan pelanggan yang berkualitas dan sesuai standar disediakan

 

3.4  Tempat kerja yang realistis, tahapan pekerjaan, anggaran biaya, dan kemampuan untuk menyelesaikan tahapan proyek  direncanakan

 

04 Menjaga hubungan kerja yang harmonis 4.1 Kolega dan karyawan diperlakukan secara wajar dan profesional

4.2  Layanan bagi  kolega, pelanggan, dan karyawan dilakukan sesuai prosedur

4.3  Keterampilan professional dan pengetahuan ditingkatkan secara terus menerus

 

Tabel 1 Elemen Kompetensi

 

 

2.3.4 Batasan Variabel

1. Unit ini berlaku untuk seluruh sektor teknologi informasi dan komunikasi

2. Unit ini mencakup aspek kesehatan dan keselamatan kerja, legalitas layanan, kode etik industri

 

 

2.3.5 Panduan Penilaian

Panduan penilaian terdiri dari:

1. Pengetahuan dan keterampilan penunjang

Untuk mendemontrasikan kompetensi, diperlukan bukti keterampilan dan pengetahuan dibidang berikut ini:

1.1  Pengetahuan Dasar

1.1.1    Persyaratan keorganisasian pada pelayanan kustomer

1.1.2    Aspek kesehatan dan keselamatan kerja

1.1.3    Aspek Kewenangan dan kesehatan

1.1.4    Hak cipta dan properti intelektual

 

1.2            Keterampilan Dasar

1.2.1    Keterampilan pengembangan profesional dalam hubungan untuk mengidentifikasi keterampilan personal yang selalu dimutakhirkan dan ditingkatkan

1.2.2    Mengidentifikasi kursus, seminar, informasi industri yang relevan untuk diikuti

 

 

2.  Konteks penilaian

Unit harus diujikan di tempat kerja atau di tempat lain secara teori dengan kondisi kerja sesuai dengan keadaan normal

 

 

3. Aspek penting penilaian

Aspek yang harus diperhatikan:

3.1     Kemampuan menyediakan informasi bagi atasan dan pelanggan sesuai dengan standar

3.2     Kemampuan memberikan pelayanan bagi  kolega, pelanggan, dan karyawan sesuai prosedur

 

 

4.  Kaitan dengan unit-unit lainnya

4.1 Unit ini tidak di dukung oleh pengetahuan dan keterampilan dalam unit-unit kompetensi yang lain.

4.1.1 TIK.JK01.001.01   Melakukan Komunikasi di tempat kerja

4.1.2 TIK.JK01.002.01    Melaksanakan pekerjaan secara individu dalam lingkungan organisasi teknologi informasi

 

4.2  Pengembangan pelatihan untuk memenuhi persyaratan dalam unit ini perlu dilakukan dengan hati-hati. Untuk pelatihan pra-kejuruan umum, institusi harus menyediakan pelatihan yang mempertimbangkan serangkaian konteks industri seutuhnya tanpa bisa terhadap sektor tertentu. Batasan variabel akan membantu dalam hal ini. Untuk sektor tertentu/ khusus, pelatihan harus disesuaikan agar dapat memenuhi kebutuhan sektor tersebut.

 

 

2.3.6 Kompetensi Kunci

 NO KOMPETENSI KUNCI DALAM UNIT INI TINGKAT

1

Mengumpulkan, mengorganisir dan menganalisa informasi

3

2

Mengkomunikasikan ide-ide dan informasi

3

3

Merencanakan dan mengorganisir aktivitas-aktivitas

3

4

Bekerja dengan orang lain dan kelompok

3

5

Menggunakan ide-ide dan tehnik matematika

2

6

Memecahkan masalah

3

7

Menggunakan teknologi

2

 

BAB III

STRATEGI DAN METODE PELATIHAN

 

 

3.1 Strategi Pelatihan

Belajar dalam suatu Sistem Berbasis Kompetensi berbeda dengan yang sedang “diajarkan” di kelas oleh Pelatih. Pada sistem ini Anda akan bertanggung jawab terhadap belajar Anda sendiri, artinya bahwa Anda perlu merencanakan belajar Anda dengan Pelatih dan kemudian melaksanakannya dengan tekun sesuai dengan rencana yang telah dibuat.

 

Persiapan/perencanaan

  1. Membaca bahan/materi yang telah diidentifikasi dalam setiap tahap belajar dengan tujuan mendapatkan tinjauan umum mengenai isi proses belajar Anda.
  2. Membuat catatan terhadap apa yang telah dibaca.
  3. Memikirkan bagaimana pengetahuan baru yang diperoleh berhubungan dengan pengetahuan dan pengalaman yang telah Anda miliki.
  4. Merencanakan aplikasi praktik pengetahuan dan keterampilan Anda.

 

Permulaan dari proses pembelajaran

  1. Mencoba mengerjakan seluruh pertanyaan dan tugas praktik yang terdapat pada tahap belajar.
  2. Merevisi dan meninjau materi belajar agar dapat menggabungkan pengetahuan Anda.

 

Pengamatan terhadap tugas praktik

  1. Mengamati keterampilan praktik yang didemonstrasikan oleh Pelatih atau orang yang telah berpengalaman lainnya.
  2. Mengajukan pertanyaan kepada Pelatih tentang konsep sulit yang Anda temukan.

 

Implementasi

  1. Menerapkan pelatihan kerja yang aman.
  2. Mengamati indikator kemajuan personal melalui kegiatan praktik.
  3. Mempraktikkan keterampilan baru yang telah Anda peroleh.

 

Penilaian

Melaksanakan tugas penilaian untuk penyelesaian belajar Anda.

3.2 Metode Pelatihan

Terdapat tiga prinsip metode belajar yang dapat digunakan. Dalam beberapa kasus, kombinasi metode belajar mungkin dapat digunakan.

 

Belajar secara mandiri

Belajar secara mandiri membolehkan Anda untuk belajar secara individual, sesuai dengan kecepatan belajarnya masing-masing. Meskipun proses belajar dilaksanakan secara bebas, Anda disarankan untuk menemui Pelatih setiap saat untuk mengkonfirmasikan kemajuan dan mengatasi kesulitan belajar.

 

Belajar Berkelompok

Belajar berkelompok memungkinkan peserta untuk dating bersama secara teratur dan berpartisipasi dalam sesi belajar berkelompok. Walaupun proses belajar memiliki prinsip sesuai dengan kecepatan belajar masing-masing, sesi kelompok memberikan interaksi antar peserta, Pelatih dan pakar/ahli dari tempat kerja.

 

Belajar terstruktur

Belajar terstruktur meliputi sesi pertemuan kelas secara formal yang dilaksanakan oleh Pelatih atau ahli lainnya. Sesi belajar ini umumnya mencakup topik tertentu.

 

 

BAB IV

MATERI UNIT KOMPETENSI

 

 

 

 

4.1 Tujuan Instruksional Umum

  • Siswa mampu menceritakan dan menjelaskan etika dan norma yang berlaku di tempat kerja
  • Siswa dapat menjelaskan tata cara pelayanan atas dasar profesi yang benar dan baik

 

 

 

4.2 Tujuan Instruksional Khusus

  • Siswa mengerti dan mampu menjelaskan apa yang dimaksud dengan etika profesi
  • Siswa dapat memahami arti klien atau pelanggan
  • Siswa mengerti mengenai standar keselamatan kerja
  • Siswa mengerti mengenai dasar hukum perlindungan atas keselamatan kerja
  • Siswa dapat memahami tentang standar pekerjaan secara umum
  • Siswa dapat menjelaskan area kerja yang sesuai dengan standar kesehatan
  • Siswa memahami cara penyelesaian konflik yang terjadi dalam organisasi
  • Siswa mengerti mengenai cara perlindungan terhadap informasi dalam organisasi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4.3 Melindungi Kepentingan Pelanggan

Profesi adalah pekerjaan yang membutuhkan pelatihan dan penguasaan terhadap suatu pengetahuan khusus. Suatu profesi biasanya memiliki asosiasi profesi, kode etik, serta proses sertifikasi dan lisensi yang khusus untuk bidang profesi tersebut. Contoh profesi adalah pada bidang hukum, kedokteran, keuangan, militer, dan teknik. Seseorang yang memiliki suatu profesi tertentu disebut professional.

 

Dalam memberikan jasa profesi kepada pelanggan atau kliennya, baik yang bersifat perorangan, kelompok, lembaga atau organisasi atau institusi sesuai dengan keahlian dan kewenangannya, yang wajib diperhatikan adalah:

  1. Mengutamakan dasar-dasar profesional

 

  1. Memberikan jasa kepada semua pihak yang membutuhkannya

 

  1. Melindungi klien atau pemakai jasa dari akibat yang merugikan sebagai dampak jasa/praktik yang diterimanya

 

  1. Mengutamakan ketidak berpihakan dalam kepentingan pemakai jasa atau klien dan pihak-pihak yang terkait dalam pemberian pelayanan tersebut

 

  1. Dalam hal pemakai jasa atau klien yang menghadapi kemungkinan akan terkena dampak negatif yang tidak dapat dihindari akibat pemberian jasa  maka pemakai jasa atau klien tersebut harus diberitahu.

 

 

Pelanggaran etika bisa terjadi dimana saja, termasuk dalam dunia bisnis. Untuk meraih keuntungan, masih banyak perusahaan yang melakukan berbagai pelanggaran moral dan mengorbankan kepentingan pelanggan. Praktik curang ini bukan hanya akan merugikan pelanggan, melainkan juga perusahaan lain, masyarakat dan juga negara. Akibatnya praktik korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) muncul dan tumbuh subur di banyak perusahaan.

 

Pelanggaran etika bisnis diperusahaan memang banyak sekali terjadi, karena itulah penegakan etika perlu sekali untuk digalakkan. Hubungan dan cara kerja perusahaan yang tidak transparandapat menimbulkan hubungan istimewa atau kolusi dan memberikan peluang untuk korupsi.

 

Bila begitu, pertanyaannya adalah dari manakah upaya penegakan etika bisnis sebaiknya dimulai? Etika bisnis paling gampang diterapkan di perusahaan sendiri. Pemimpin perusahaan memulai langkah ini karena mereka menjadi panutan bagi karyawannya. Selain itu, etika bisnis harus dilaksanakan secara transparan. Pemimpin perusahaan seyogyanya bisa memisahkan perusahaan dengan milik sendiri. Dalam operasinya, perusahaan mengikuti aturan berdagang yang diatur oleh tata cara undang-undang.

 

Etika bisnis tidak akan dilanggar jika ada aturan dan sanksi yang jelas, karena bila tingkah laku yang salah dibiarkan, lama-kelamaan tingkah laku yang salah ini akan menjadi kebiasaan. Semakin dibiarkan lagi, norma yang salah ini akan berkembang menjadi budaya. Oleh karena itu, penting sekali untuk memberikan pelajaran berupa sanksi bagi para pelanggar aturan.

 

Berikut beberapa upaya yang dapat diterapkan oleh perusahaan untuk membangun budaya transparansi, antara lain:

a)    Penegakan budaya berani bertanggungjawab atas segala tingkah lakunya, dimana individu yang mempunyai kesalahan tidak boleh bersembunyi di balik institusi.

 

b)   Ada ukuran-ukuran jelas yang dipakai untuk mengukur kinerja. Jadi tolak ukur yang dipakai bukan secara subjektif, misalnya atas kedekatan dengan atasan, melainkan gunakan tolah ukur yang objektif, seperti kinerja.

 

c)    Pengelolaan sumber daya manusia yang baik

 

d)   Visi dan misi perusahaan jelas dan bisa mencerminkan tingkah laku organisasi.

 

 

4.3.1 Kelangsungan Pelayanan dan Aliran Informasi Sesuai Dengan Tuntutan Kerja Dijamin

Dalam sebuah masyarakat berbasis informasi saat ini, informasi telah menjadi aset yang sangat berharga bagi suatu organisasi, baik itu pemerintah maupun swasta. Karena itu informasi menjadi sangat penting untuk dilindungi dari hal-hal yang tidak diinginkan, dimana perlindungan informasi ini secara langsung maupun tidak akan menentukan kesuksesan organisasi.

 

Oleh karena itu, bila terjadi suatu kejahatan terhadap informasi seperti manipulasi, pencurian dan serangan informasi akanberpengaruh terhadap prestasi dan kinerja organisasi.

 

Manajemen keamanan informasi adalah sub bagian dari manajemen keamanan dengan focus utama adalah pengamanan informasi. Perbedaannya dengan manajemen keamanan komputer dan manajemen keamanan IT adalah bahwa manajemen keamanan informasi lebih menitikberatkan pada sarana dan prasarana yang digunakan untuk pengamanan informasi.

 

Tugas manajemen keamanan informasi adalah:

  1. Merencanakan keamanan informasi
  2. Mengaplikasikan keamanan informasi
  3. Memonitor dan melakukan evaluasi

 

Pengamanan informasi adalah melindungi informasi dari segala kemungkinan ancaman terhadap informasi yang akan berpengaruh terhadap kinerja dan prestasi organisasi dengan cara meminimalisir kerugian yang dapat ditimbulkan serta memaksimalkan keuntungan dari investasi dan peluang organisasi tersebut.

 

 

4.3.2 Keutuhan dan Keamanan Informasi Pada Saat Dibutuhkan Oleh Pribadi dan Perusahaan Dijamin

Dengan menerapkan keamanan informasi, sebuah organisasi dapat menjaga kerahasiaan, integritas dan ketersediaan informasi secara kontinyu. Integritas informasi disini bermakna bahwa informasi tersebut tetap utuh dan tidak mengalami perubahan oleh pihak lain yang tidak berwenang.

 

Suatu organisasi/ instansi perlu mengklasifikasikan informasi yang dihasilkan dan/atau yang diperoleh untuk mendapatkan perlindungan yang sesuai. Klasifikasi informasi ini ditentukan sendiri oleh organisasi tersebut dengan memperhatikan resiko dan keuntungan yang ditimbulkan dari pengolahan informasi tersebut.

 

Klasifikasi informasi secara umum dibedakan menjadi:

  • Umum (bebas)
  • Terbatas (dinas)
  • Rahasia (pribadi)

 

Ada 3 teknik perlindungan terhadap informasi, yaitu:

1)    Melindungi secara organisasi, seperti dengan cara menunjuk personil khusus dengan regulasi yang jelas, melakukan pendidikan dan pelatihan masalah keamanan informasi untuk meningkatkan kesadaran karyawan tentang pentingnya pengamanan informasi yang baik.

 

2)    Melindungi secara logic, seperti dengan cara menerapkan password, kriptografi, memasang antivirus, dan cara lainnya.

 

3)      Secara fisik, seperti dengan cara menyimpan dalam suatu ruangan khusus yang dikunci, dalam lemari besi, dan lain-lain.

 

 

4.3.3 Bila Terjadi konflik Secepat Mungkin Diidentifikasi dan Dijelaskan Secepatnya Pada Pihak yang Relevan

Perselisihan atau konflik seringkali timbul dalam bentuk yang beragam, mulai dari bentuk yang ringan seperti perbedaan pendapat, hingga ke bentuk yang berat seperti konflik yang melibatkan hukum (baik perdata maupun pidana).

 

Pada dasarnya konflik timbul akibat adanya pertentangan kepentingan yang menimbulkan perselisihan. Untuk menghindari munculnya gejala konflik, dibuatlah tata tertib, yaitu ketentuan atau kaedah hukum yang harus ditaati oleh setiap pribadi yang terlibat di dalamnya.

 

Adapun yang dimaksudkan dengan kepentingan seperti disebut di atas adalah hak-hak dan kewajiban-kewajiban perdata yang diatur dalam hukum perdata materil. Hukum perdata (materil) itu menjelma dalam undang-undang atau ketentuan yang tidak tertulis, merupakan pedoman bagi masyarakat tentang bagaimana orang selayaknya berbuat atau tidak berbuat di dalam   masyarakat.

 

Pelaksanaan dari hukum perdata (materil) dapat berlangsung secara diam-diam diantara para pihak yang berinteraksi, tanpa harus melalui instansi resmi. Namun acapkali terjadi hukum perdata (materil) itu dilanggar, sehingga ada pihak yang dirugikan dan terjadilah gangguan keseimbangan kepentingan.

 

Dalam hal ini maka hukum materil perdata yang telah dilanggar itu haruslah dipertahankan dan ditegakkan. Untuk melaksanakan hukum perdata (materil) terutama dalam hal ada pelanggaran atau untuk mempertahankan berlangsungnya hukum perdata (materil) dalam hal ada tuntutan hak diperlukan rangkaian peraturan hukum lain, yaitu yang disebut hukum formil atau hukum acara perdata.

 

Hukum Acara Perdata merupakan keseluruhan peraturan yang bertujuan melaksanakan dan mempertahankan atau menegakkan hukum perdata materil dengan perantaraan kekuasaan negara. Perantaraan negara dalam mempertahankan dan menegakkan hukum perdata materil itu terjadi melalui peradilan. Cara ini yang disebut dengan Litigasi.

 

Di samping melalui Litigasi, juga dikenal  alternatif    penyelesaian  sengketa perdata di luar pengadilan yang lazim disebut non litigasi. Hal yang terakhir ini dimungkinkan selain karena peraturan perundang-undangan, juga karena pada dasarnya dalam cara Litigasi, inisiatif berperkara ada pada diri orang yang berperkara (dalam hal ini penggugat).

 

Dengan kalimat lain ada atau tidak adanya sesuatu perkara, harus diambil oleh seseorang atau beberapa orang yang merasa, bahwa haknya dilanggar, yaitu oleh penggugat.

 

Namun dewasa ini, cara penyelesaian sengketa/ perselisihan melalui jalur pengadilan justru mendapat kritik tajam, beberapa alasan dikemukakan oleh para pengritik, seperti:

  •   Fungsi dari pengadilan yang dianggap terlalu mengalami beban yang Aerlampau padat (overloaded).
  •   Kelambanan dan membuang waktu (waste of time)
  •   Biaya penyelesaian yang mahal
  •   Kekurang-pekaan atau kurang responsif terhadap kepentingan umum
  •   Sistem penyelesaian yang terlalu formal dan terlalu teknis

 

 

Berikut ini beberapa pandangan cara pnyelesaian sengketa/ konflik di luar pengadilan:

  1. a.   Konsultasi

Konsultasi merupakan tidakan yang bersifat personal antara suatu pihak tertentu (yang disebut klien) dengan pihak yang merupakan konsultasi, yang memberikan pendapatnya kepada klien tersebut untuk memenuhi keperluan dan kebutuham kliennya tersebut. Tidak ada suatu rumusan yang mengharuskan si klien mengikuti pendapat yang disampaikan konsultan.

 

Jadi dalam hal ini konsultan hanyalah memberikan pendapat (hukum), sebagaimana diminta oleh kliennya, yang untuk selanjutnya keputusan mengenai penyelesaian sengketa tersebut akan diambil sendiri oleh para pihak meskipun adakalanya pihak konsultan juga diberikan kesempatan untuk merumuskan bentuk-bentuk penyelesaian sengketa yang dikehendaki oleh para pihak yang bersengketa tersebut.

 

  1. b.   Negosiasi dan perdamaian

Menurut pasal 6 ayat 2 Undang Undang nomor 30 tahun 1999 pada dasarnya para pihak dapat berhak untuk menyelesaikan sendiri sengketa yang timbul di antara mereka. Kesepakatan mengenai penyelesaian tersebut selanjutnya harus dituangkan dalam bentuk tertulis yang disetujui oleh para pihak.

 

Negosiasi adalah mirip dengan perdamaian sebagaimana diatur dalam pasal 1851 s/d 1864 KUH Perdata, dimana perdamaian itu adalah suatu persetujuan dengan mana kedua belah pihak, dengan menyerahkan, menjanjikan atau menahan suatu barang, mengakhiri suatu perkara yang sedang bergantung atau mencegah timbulnya suatu perkara.

 

Perbedaan lain adalah bahwa negosiasi merupakan salah satu lembaga alternatif penyelesaian sengketa yang dilaksanakan di luar pengadilan, sedangkan perdamaian dapat dilakukan baik sebelum proses persidangan pengadilan dilakukan maupun setelah sidang peradilan dilaksanakan, baik di dalam maupun di luar pengadilan.

 

  1. c.    Mediasi

Berdasarkan pasal 6 ayat 3 Undang Undang Nomor 39 tahun 1999, atas kesepakatan tertulis para pihak, sengketa atau beda pendapat diselesaikan melalui bantuan “seorang atau lebih penasehat ahli” maupun melalui seorang mediator.

 

Kesepakatan penyelesaian sengketa atau beda pendapat secara tertulis adalah final dan mengikat bagi para pihak untuk dilaksanakan dengan itikad baik. Kesepakatan tertulis wajib didaftarkan di Pengadilan Negeri dalam waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak penandatanganan, dan wajib dilakasanakan dalam waktu lama 30 (tiga puluh) hari sejak pendaftaran.

 

Mediator dapat dibedakan mejadi:

  • Mediator yang ditunjuk bersama oleh para pihak
  • Mediator yang ditunjuk oleh lembaga arbitrase atau lembaga alternatif penyelesaian sengketa yang ditunjuk oleh para pihak

 

  1. d.   Konsiliasi dan perdamaian

Konsiliasi adalah suatu bentuk alternatif penyelesaian sengketa di luar pengadilan adalah suatu tindakan atau proses untuk mencapai perdamaian di luar pengadilan. Untuk mencegah dilaksanakan proses legitasi, melainkan juga dalam setiap tingkat peradilan yang sedang berjalan, baik di dalam maupun di luar pengadilan, dengan pengecualian untuk hal-hal atau sengketa dimana telah diperoleh suatu putusan hakim yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap.

 

  1. e.   Pendapat hukum oleh lembaga arbitrase

Pasal 52 Undang Undang nomor 30 tahun 1999 menyatakan bahwa para pihak dalam suatu perjanjian berhak untuk memohon pendapat yang mengikat dari Lembaga Arbitrase atas hubungan hukum tertentu dari suatu perjanjian.

 

Ketentuan ini pada dasarnya merupakan pelaksanaan dari pengertian tentang Lembaga Arbitrase yang di berikan dalam pasal 1 angka 8 Undang Undang nomor 30 tahun 1999.

 

Lembaga Arbitrase adalah badan yang dipilih oleh para pihak yang bersengketa untuk memberikan putusan mengenai sengketa tertentu, lembaga tersebut juga dapat memberikan pendapat yang mengikat mengenai suatu hubungan hukum tertentu dalam hal belum timbul sengketa. Pendapat hukum yang diberikan lembaga arbitrase bersifat mengikat (binding) oleh karena pendapat yang diberikan tersebut akan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjanjian pokok (yang dimintakan pendapatnya  pada  lembaga  arbitrase  tersebut).

 

Setiap  pendapat  yang  berlawanan terhadap pendapat hukum yang diberikan tersebut berarti pelanggaran terhadap perjanjian (breach of contract – wanprestasi). Oleh karena itu tidak dapat dilakukan perlawanan dalam bentuk upaya hukum apapun.

 

  1. f.     Arbitrase                                                                                

Menurut pasal 1 angka 1 Undang Undang nomor 30 tahun 1999 Arbitrase adalah cara penyelesaian suatu sengketa perdata di luar pengadilan umum yang didasarkan pada Perjanjian Arbitrase yang dibuat secara tertulis oleh para pihak yang bersengketa.

 

Arbitrase dapat berwujud dalam 2 bentuk, yaitu:

  • Klausula arbitrase yang tercantum dalam suatu perjanjain tertulis yang dibuat para pihak sebelum timbul sengketa (Factum de compromitendo)

 

  • Suatu perjanjian Arbitrase tersendiri yang dibuat para pihak setelah timbul sengketa (Akta Kompromis)

 

Dalam penjelasan umum Undang Undang nomor 30 tahun 1999 dapat terbaca beberapa keunggulan penyelesaian sengketa melalui arbitrase dibandingkan dengan pranata peradilan.

 

Keunggulan itu adalah:

  • Dijamin kerahasiaan sengketa para pihak

 

  • Dapat dihindari kelambatan yang diakibatkan karena hal prosedural dan administratif

 

  • Para pihak dapat memilih arbiter yang menurut pengalaman serta latar belakang yang cukup mengenai masalah yang disengketakan, jujur dan adil

 

  • Para pihak dapat menentukan pilihan hukum untuk menyelesaikan masalahnya serta proses dan tempat penyelenggaraan arbitrase

 

  • Putusan arbiter merupakan putusan yang mengikat para pihak dan dengan melalui tata cara (prosedur) sederhana saja ataupun langsung dapat dilaksanakan

 

 

4.3.4 Kepentingan Pelanggan Termasuk Kerahasiaan dan Hal Miliknya Dijaga

Prinsip kerahasiaan pelanggan, yang tentunya harus dipegang erat terutama oleh para profesional yang bergerak di bidang jasa. Semua hal yang disampaikan dan didiskusikan oleh klien, sudah sepatutnya diperlakukan sesuai etika profesional untuk menjaga kerahasiaan pribadi.

 

Informasi hanya tersedia untuk dikembalikan ke pihak klien, kecuali bila mereka memperoleh ijin dari klien untuk membuka informasi, atau bilamana diharuskan oleh kondisi tertentu yang berkaitan dengan keharusan secara hukum.

 

 

4.4 Menghasilkan Layanan yang Berkualitas

Perusahaan perlu untuk meningkatkan kemampuan produk lebih cepat daripada pesaingnya untuk mengejarnya dan melampaui pesaingnya. Untuk itu perusahaan harus tahu kebutuhan dan keinginan pelanggan dan menterjemahkan kebutuhan dan keinginan pelanggan itu kedalam produknya. Disinilah perlunya Manajemen Kualitas.

 

Manajemen kualitas adalah sarana untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang apa yang dibutuhkan pelanggan dan usaha apa yang harus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut.

 

 

4.4.1 Layanan yang Sesuai Kebutuhan Operasional dan Keuntungan Pelanggan dan Atasan Disediakan

Pada perusahaan yang memproduksi barang, perusahaan tersebut akan memberikan kepuasan pada pelanggan dengan membuat dan mengirimkan produk yang bagus kepadanya. Inilah alasan mengapa dikatakan bahwa kualitas dapat memberikan kepuasan pada pelanggan. Selain itu yang perlu dititikberatkan adalah pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan operasional yang memang dibutuhkan oleh pelanggan.

 

 

4.4.2 Kualitas Pelayanan yang Dihasilkan Untuk Pelanggan dan Atasan Dijamin

Dalam hal kualitas yang perlu dijaminkan ke pelanggan dan atasan ada 2 hal yang perlu diperhatikan, yaitu :

  1. Jaminan kualitas (Quality assurances)

Quality assurances adalah tindakan untuk menjamin bahwa produk yang dijanjikan akan dikirim ke pelanggan dalam keadaan 100% memuaskan.

 

  1. Manajemen kualitas (Quality management)

Quality management adalah sistem dan tindakan untuk mencapai keberhasilan manajemen secara efisien dengan meyakinkan bahwa produk yang dijanjikan akan diproduksi secara ekonomis.

 

Dalam quality management terdapat 2 elemen pokok, yaitu:

1.a) Jaminan kualitas yang dikontrol setiap hari

Dilakukan guna menjaga kualitas produk dan pelayanan di atas tingkat tertentu. Kualitas yang dibutuhkan oleh pelanggan akan dipastikan pada tahap-tahap memperoleh bahan baku, pembuatan, penerimaan order/penjualan, logistic, penggunaan oleh pelanggan dan pembuangan.

 

1.b) Penyelesaian masalah

Dilakukan guna meningkatkan kualitas semua pekerjaan. Identifikasi kebutuhan pelanggan, perencanaan/ desain, pengembangan produk baru, peningkatan pekerjaan termasuk dalam proses produksi, dan kesungguhan merespon komplain/ keluhan.

 

Proses produksi dan pengiriman produk dengan memuaskan pelanggan (quality assurance) dan membuat pengembangan berdasarkan kebutuhan-kebutuhan dan keinginan baru dari pelanggan dan menanggulangi semua masalah yang terjadi (problem resolution) merupakan dua elemen pokok dalam manajemen kualitas.

 

4.4.3 Pekerjaan Dilakukan Sesuai Standar Layanan yang Berlaku

Proses kerja yang berlaku diterapkan sesuai dengan standar layanan, yaitu dengan adanya:

  • Imbalan jasa yang memadai (berupa gaji dan tunjuangan)
  • Suasana kerja yang memadai dimana hubungan atasan bawahan berjalan dengan lancar dan tidak ada unsur tekanan di dalamnya
  • Keadilan terhadap semua orang di perusahaan, tanpa ada pembedaan atau diskriminasi. Selain itu, informasi juga perlu didistribusikan secara adil, karena karyawan akan menghargai dan ikut menanggung beban bila mereka mengetahui kondisi perusahaan yang sesungguhnya.

 

Pemerataan kesempatan berkembang, dimana perusahaan seharusnya membangun suatu sistem yang memungkinkan karyawan untuk terus mengembangkan diri. Pengembangan diri juga perlu berdampak pada peningkatan imbalan atau penghargaan. Jadi perusahaan harus memiliki wawasan yang jauh ke depan dalam mempertahankan karyawannya sebagai suatu aset, bukan hanya pekerja.

 

 

4.4.4 Proses yang Berkualitas Ketika Mengembangkan Pelayanan Dijaga

Dalam mengembangkan pelayanan, terapkan proses yang berkualitas guna membangun daya saing yang berbasis biaya rendah, kecepatan menghasilkan produk bermutu dan transaksi yang mudah dan cepat.

 

Prinsip yang dianut perusahaan adalah Operation excellence value, yaitu perusahaan yang bersaing di pasar dengan mengandalkan kemampuan menghasilkan produk dan atau jasa dengan mengkombinasikan antara mutu, harga, kecepatan/ ketepatan, pengiriman/ penyampaian produk/ jasa, waktu respon yang singkat dan transaksi bisnis yang sederhana atau tidak menyulitkan pelanggan.

 

 

4.4.5 Layanan Terbaik Untuk Memenuhi Kebutuhan Pelanggan dan Atasan Diberikan

Tinggi rendahnya mutu pelayanan akan mencerminkan kualitas dan nilai (value) dari perusahaan. Untuk mempertahankan posisi perusahaan dalam persaingan yang kian ketat, bukan hanya uang yang menjadi ujung tombak, tetapi ada hal yang lebih daripada itu. Salah satunya adalah kualitas

 

 

4.5 Menjamin Kualitas Kinerja

Akurasi dan perhatian pada detail dan presisi akan membuahkan hasil kerja yang berkualitas dan bernilai tinggi, dimana pada akhirnya pekerjaan bukan lagi hanya dihargai dengan uang tapi oleh apresiasi yang tinggi dari pelanggannya. Untuk menjamin adanya kualitas kinerja, diperlukan komitmen perusahaan akan kesediaan untuk melakukan perbaikan yang berkesinambungan. Jadi setiap kali pekerjaan yang berkualitas dipersembahkan kepada pelanggan, maka harapan pelanggan terhadap kualitas pekerjaan akan semakin meningkat pula.

 

4.5.1 Keterampilan, Pengetahuan, dan Kualifikasi Kinerja Dilakukan

Salah satu keunggulan perusahaan terletak pada manajemen pengetahuan (knowledge management). Program ini menitikberatkan pada upaya memberdayakan dan meningkatkan pengetahuan dalam perusahaan (baik terhadap atasan maupun bawahan) dengan program yang jelas. Yang umumnya dilakukan oleh perusahaan dalam meningkatkan knowledge management adalah dengan melakukan pelatihan (training) secara berkala dan terus menerus kepada tiap-tiap pekerjanya.

 

Di sini perusahaan seharusnya melihat pekerja sebagai aset yang harus dijaga dan ditingkatkan keterampilan, pengetahuan, dan kinerjanya, bukan hanya sebagai alat pelaksana proses kerja.

 

 

4.5.2 Pelayanan yang Diberikan oleh Seseorang Difasilitasi

Dalam menjalankan hubungan kerja, perusahaan memfasilitasi pelayanan yang diberikan baik kepada pelanggan, maupun kepada pekerjanya. Fasilitas yang diberikan dapat berupa ruangan kerja yang sesuai dengan standar kelayakan, transportasi yang diperlukan untuk menunjang pekerjaannya, tunjangan kesehatan untuk pekerja dan keluarganya, serta fasilitas-fasilitas lainnya.

 

 

4.5.3 Informasi Kepada Atasan dan Pelanggan yang Berkualitas dan Sesuai Standar Disediakan

Informasi yang disediakan kepadaatasan dan pelanggan harus berkualitas, dalam arti informasi tersebut telah diverifikasi kebenarannya. Jangan sampai informasi yang belum jelas itu didistribusikan kepada pelanggan yang akibatnya bisa menimbulkan salah persepsi dan merugikan kedua belah pihak.

 

Dalam konteks hubungan perusahaan dan pekerja, informasi perlu disebarkan secara adil, agar timbul rasa penghargaan dan kebersamaan dalam memiliki sehingga pekerja mau ikut menanggung beban dan berusaha dengan segenap kemampuan mereka bila mereka mengetahui kondisi perusahaan yang sesungguhnya.

 

 

4.5.4 Tempat Kerja yang Realistis, Tahapan Pekerjaan, Anggaran Biaya, dan Kemampuan untuk Menyelesaikan Tahapan Proyek Direncanakan

Semua pekerja akan bisa bekerja dengan tenang bila area tempat kerjanya mendukung, dalam arti lingkungan tempat kerjanya aman, sehat, dan nyaman. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah penerapan ergonomi di tempat kerja, artinya ergonomi dapat berperan dalam peningkatan tempat kerja ke arah yang lebih produktif bagi pekerja dalam melakukan pekerjannya.

 

Pengertian ergonomi adalah ilmu pengetahuan yang terkait dengan kecocokan manusia dengan pekerjaannya. Untuk mengkaji kesesuaian seseorang dengan pekerjaannya, ada beberapa aspek yang patut dipertimbangkan, antara lain:

  • Pekerjaan yang sedang dilakukan

 

  • Peralatan yang digunakan (ukuran, bentuk, dan bagaimana peralatan tersebut cocok dengan tugasnya)

 

  • Informasi yang digunakan (bagaimana informasi tersebut dihadirkan, diakses, dan diubah)

 

  • Lingkungan fisik (seperti suhu, kelembaban, pencahayaan, kebisingan, getaran)

 

  • Lingkungan sosial (seperti kerjasama tim dan manajemen yang mendukung)

 

  • Aspek fisik pekerja (seperti ukuran, bentuk tubuh, kebugaran, postur, indra manusia)

 

  • Aspek psikologis pekerja (seperti kemampuan mental, kepribadian, pengetahuan, dan pengalaman)

 

Kesehatan kerja meliputi berbagai upaya penyerasian antara pekerja dengan pekerjaan dan lingkungan kerjanya baik secara fisik maupun mental dalam hal metode kerja, proses kerja dan kondisi yang bertujuan untuk:

1)   Memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan kerja masyarakat pekerja di semua lapangan kerja setinggi-tingginya baik secara fisik, mental maupun kesejahteraan sosialnya.

 

2)   Mencegah timbulnya gangguan kesehatan pada masyarakat pekerja yang diakibatkan oleh kondisi lingkungan kerjanya.

 

3)   Memberikan pekerjaan dan perlindungan bagi pekerja di dalam pekerjaannya dari kemungkinan bahaya yang disebabkan oleh faktor-faktor yang membahayakan kesehatan.

 

4)   Menempatkan dan memelihara pekerja disuatu lingkungan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan fisik dan mentalnya.

 

Tahap-tahap pekerjaan secara umum dapat dibagi dalam beberapa langkah berikut ini:

 

  • Persiapan

Dalam tahap ini dilakukan kajian terhadap dokumen-dokumen yang mengidentifikasikan keberadaan/ status pekerjaan. Selain itu juga dilakukan diskusi dan konsultasi dengan atasan atau sejawat mengenai pekerjaan tersebut.

 

  • Pelaksanaan

Data yang dikumpulan dikompilasi dan dianalisa untuk mengetahui permasalahan yang dihadapi dan pemecahan yang telah dilakukan. Setelah itu lakukan langkah-langkah yang tepat guna menyelesaikan tugas yang diberikan tersebut.

 

  • Pelaporan

Yaitu melaporkan hasil pekerjaan kepada atasan, berupa laporan mengenai keseluruhan kegiatan, penyimpangan yang ditemukan, permasalahan yang dihadapi, dabn solusi yang dilakukan, serta hasil yang dicapai.

 

 

4.6 Menjaga Hubungan yang Harmonis

            Hubungan kerja yang harmonis akan membuat para pekerja merasa betah bekerja di perusahaan untuk jangka waktu yang panjang. Implikasinya untuk perusahaan adalah hasil kerja di persembahkan untuk perusahaan lebih berkualitas, dan di sisi lain dari segi turn over pekerja, tingkat turn over akan menurun.

 

 

4.6.1 Kolega dan Karyawan Diperlakukan Secara Wajar dan Profesional

Prinsip keadilan perlu diterapkan dalam hubungan yang profesional antara kolega dan karyawan. Tidak ada diskriminasi yang dilakukan, dan tidak diberlakukan sistem favoritisme (anak emas) dalam hubungan profesional di kantor.

 

4.6.2 Layanan bagi Kolega, Pelanggan, dan Karyawan Dilakukan Sesuai Prosedur

Layanan yang diberikan kepada pelanggan dan karyawan dilakukan sesuai dengan norma dan aturan yang berlaku. Layanan yang diberikan haruslah bersifat profesional. Seringkali kita mendengar bahwa bagi beberapa perusahaan, terutama perusahaan yang  menitikberatkan pada masalah marketing, dilakukan beberapa hal yang di luar jalur profesional, seperti merayu pelanggan, menjatuhkan imeh perusahaan lain, dab cara-cara curang lainnya. Layanan yang seperti itu sebenarnya justru akan menjatuhkan perusahaan itu sendiri, karena perusahaan telah kehilangan nilai (value) yang menjadi inti dari mereka sendiri.

 

 

4.6.3 Keterampilan Profesional dan Pengetahuan Ditingkatkan Secara Terus Menerus

Perusahaan seharusnya melihat pekerja-pekerjanya sebagai suatu aset yang perlu perlu dipertahankan, bukan hanya sebagai alat untuk melaksanakan proses pekerjaan. Karena itulah, peningkatan keterampilan profesional dan pengetahuan perlu ditingkatkan secara berkesinambungan. Peningkatan keahlian bisa dilakukan melalui pelatihan, seminar, kursus, hingga pengiriman pekerja untuk melakukan studi banding dengan perusahaan lain.

 

 

BAB V

SUMBER-SUMBER YANG DIPERLUKAN UNTUK

PENCAPAIAN KOMPETENSI

 

 

5.1 Sumber Daya Manusia

Dalam proses pencapaian kompetensi sumber yang dapat diandalkan adalah sumber daya manusia. Sumber daya manusia yang dimaksud disiini adalah orang-orang yang dapat mendukung proses pencapaian kompetensi yang dimaksud, antara lain:

 

  • Pembimbing

Pembimbing Anda merupakan orang yang dapat diandalkan karena beliau memiliki pengalaman. Peran Pembimbing adalah untuk:

  1. Membantu Anda untuk merencanakan proses belajar.
  2. Membimbing Anda melalui tugas-tugas pelatihan yang dijelaskan dalam tahap belajar.
  3. Membantu Anda untuk memahami konsep dan praktik baru dan untuk menjawab pertanyaan Anda mengenai proses belajar Anda.
  4. Membantu Anda untuk menentukan dan mengakses sumber tambahan lain yang Anda perlukan untuk belajar Anda.
  5. Mengorganisir kegiatan belajar kelompok jika diperlukan.
  6. Merencanakan seorang ahli dari tempat kerja untuk membantu jika diperlukan.

 

  • Penilai

Penilai Anda melaksanakan program pelatihan terstruktur untuk penilaian di tempat kerja. Penilai akan:

  1. Melaksanakan penilaian apabila Anda telah siap dan merencanakan proses belajar dan penilaian selanjutnya dengan Anda.
  2. Menjelaskan kepada Anda mengenai bagian yang perlu untuk diperbaiki dan merundingkan rencana pelatihan selanjutnya dengan Anda.
  3. Mencatat pencapaian / perolehan Anda.

 

  • Teman kerja/sesama peserta pelatihan

Teman kerja Anda/sesama peserta pelatihan juga merupakan sumber dukungan dan bantuan. Anda juga dapat mendiskusikan proses belajar dengan mereka. Pendekatan ini akan menjadi suatu yang berharga dalam membangun semangat tim dalam lingkungan belajar/kerja Anda dan dapat meningkatkan pengalaman belajar Anda.

 

5.2 Literatur

Pengertian sumber-sumber kepustakaan adalah material yang menjadi pendukung proses pembelajaran ketika peserta pelatihan sedang menggunakan Pedoman Belajar ini.

 

Sumber-sumber tersebut dapat meliputi:

1.   Buku referensi (text book)

2.   Lembar kerja

3.   Diagram-diagram, gambar

4.   Contoh tugas kerja

5.   Rekaman dalam bentuk kaset, video, film dan lain-lain.

 

Ada beberapa sumber yang disebutkan dalam pedoman belajar ini untuk membantu peserta pelatihan mencapai unjuk kerja yang tercakup pada suatu unit kompetensi. Prinsip-prinsip dalam CBT mendorong kefleksibilitasan dari penggunaan sumber-sumber yang terbaik dalam suatu unit kompetensi tertentu, dengan mengijinkan peserta untuk menggunakan sumber-sumber alternatif lain yang lebih baik atau jika ternyata sumber-sumber yang direkomendasikan dalam pedoman belajar ini tidak tersedia/tidak ada.

 

Untuk referensi mengenai materi-materi yang dapat digunakan, Anda dapat melihat dari Daftar Pustaka yang terlampir dihalaman terakhir modul ini.

 

 

5.3 Daftar Peralatan dan Bahan

 

  1. Judul/Nama Pelatihan      :   Melaksanakan dan Menjaga Etika Profesi
    1. Kode Program Pelatihan  :   TIK.JK01.004.01

 

NO

UNIT

KOMPETENSI

KODE UNIT

DAFTAR PERALATAN

DAFTAR BAHAN

KETERANGAN

1.

Melaksanakan dan Menjaga Etika Profesi

TIK.JK01.004.01

Buku tentang etika dan pedoman tata cara berorganisasi Satu paket buku etika, tata cara organisasi, dasar hukum perlindungan terhadap keselamatan dan kesehatan pekerja Aplikasi tambahan (buku etika, organisasi, dasar hukum perlindungan pekerja) bersifat optional.

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

 

Testimoni

Advertisement
  1. Toko Kain Batik Cap Terbaik di Solo
  2. Toko Baju Batik Terbaik di Solo
  3. Aneka Kain Batik dengan Harga Murah
  4. Baju Batik Sarimbit Terbaik
  5. Dapatkan Kain Batik Berkualitas dengan Diskon 25%
  6. Aneka Baju Batik Seragam Kantor
  7. Pembuatan Seragam Batik Berlogo
slideseragambatik
Filed under : blog, tags: