Menu
Pasang iklan SEO disini Murah, 300.000/6 Bulan dan dapatkan Trafik setiap harinya

Kriteria penulisan sejarah

Aug
24
2015
by : Bupeko. Posted in : blog

Terika kasih atas artikel anda yang bermanfaat ni ya semoga bisa saling melengkapi. Untuk mendapatkan kain batik berkualitas dan seragam batik sekolah dan kantor murah klik Toko1 dan Toko2 semoga bermanfaat.

Penulisan Sejarah Menurut Tema Penulisan
Pembagian ini berdasarkan atas ruang lingkup aspek kehidupan manusia. Pembagian sejarah secara tematis ini sifatnya relatif. Artinya kemungkinan ahli satu dengan ahli yang lain berbeda-beda pembagiannya. Secara tematis maka penulisan sejarah dapat meliputi hal berikut.
a. Sejarah politik
Sejarah politik objeknya adalah negara, yang merupakan perwujudan yang lengkap dari kehidupan masyarakat dan kesatuan organis, maka sejarah politik merupakan objek penelitian sejarah yang utama.
Dalam sejarah ”sejarah konvensional”, sejarah politik memiliki kedudukan yang dominan dalam historiografi Barat. Akibatnya timbul tradisi yang kokoh bahwa sejarah konvensional adalah sejarah politik (Kartodirdjo, 1992: 46). Karakteristik utama dalam sejarah konvensional adalah bersifat deskriptif-naratif, terutama sejarah makro yang mencakup proses pengalaman kolektif di tingkat nasional maupun unit politik besar lainnya. Di situ proses politik diungkapkan melalui satu dimensi politik belaka. Penggambaran unidimensional yang demikian dipaparkan secara datar dan tidak ada relief-relief yang menggambarkan kompleksitas pengalaman manusia yang holistik. Itulah kering dan dangkalnya sejarah politik ”gaya lama” yang pernah berjaya berabad-abad. Sebagai karaktersitik lainnya dalam sejarah politik ”gaya lama” tersebut biasanya mengutamakan diplomasi dan peran serta peranan tokoh-tokoh besar dan pahlawan-pahlawan yang berpengaruh besar.
Hal ini berbeda dengan penulisan ”sejarah politik gaya baru” yang sifatnya multidimensional, di mana sejarah politik dibuat lebih menarik, mengingat dalam eksplanasinya lebih luas dan mendalam dan tidak terjebak dalam determinisme historis. (Kartodirdjo, 1992: 49). Cakrawala analisisnya lebih luas dan mendalam karena yang dibahas seperti soal struktur kekuasaan, kepemimpinan, para elit, otoritas, budaya politik, proses mobilisasi, jaringan-jaringan politik dalam hubungannya dengan sistem dan proses-proses sosial, ekonomi dan sebagainya. Dengan demikian kait-mengait aspek-aspek kehidupan (seperti aspek ekonomi dan politik maupun dengan aspek-aspek budaya) serta saling ketergantungannya akan menunjukkan kompleksitas. Di situlah keunggulan ”sejarah politik gaya baru”.

b. Sejarah etnis
Pada umunya sejarah etnis (ethnohistory) ditulis untuk merekonstruksi sejarah dari kelompok-kelompok etnis sejak sebelum datangnya bangsa Eropa sampai dengan interaksi mereka dengan orang-orang Eropa. Sejarah etnis tersebut mulai digunakan secara umum sejak oleh pakar antropologi, arkeologi, dan sejarawan, sejak tahun 1940-an. (Sjamsuddin, 1996: 215). Contoh sejarah etnis adalah; Sejarah Etnis Aztec, Maya, Aborigin, maupun Maori. Sumber-sumber yang mereka gunakan, selain dari bahan-bahan etnografis yang ditulis tentang kelompok etnis-etnis tersebut, juga dari tradisi-tradisi lisan (oral traditions) yang masih bertahan di antara kelompok etnis tersebut. Di sinilah para ahli sejarawan etnis harus melakukan penelitian lapangan seperti yang dilakukan antropolog. Begitu juga untuk teknik-teknik sejarah lisan (oral history), harus mereka kuasai betul.
Untuk penulisan sejarah lisan (oral history), seorang sejarawan harus pandai menginterpretasikan keterangan-keterangan dari kesaksian-kesaksian lisan mengenai masa lampau. Hal ini berbeda dengan ”tradisi lisan” (oral tradition) yang banyak dikembangkan oleh Jan Vansina dalam buku De la tradition orale: essai de method historique (1961) atau dalam bahas Inggris-nya Oral Tradition (1973), sejarah lisan lebih terkait dengan pengalaman-pengalaman pada masa lampau mutakhir daripada dengan transmisi ingatan-ingatan antar generasi (Henige, 1982). Di antara teori yang umum dalam metode sejarah lisan. Adalah metode ”riwayat hidup” yang dikembangkan oleh Mazhab Chicago dalam kaitannya dengan pengalaman para imigran, budaya, kejahatan dan penyimpangan pemuda (Plumer, 1983). Dalam hal ini dapat digunakan ”analisis silang” dengan kesaksian lisan yang biasanya menggunakan sampel yang lebih besar dengan wawancara yang terstruktur.
Adapun ruang lingkup sejarah etnis ini mencakup kajian-kajian yang meliputi aspek-aspek sosial, ekonomi, kebudayaan, kepercayaan-kepercayaan masyarakat, interaksi-interaksi dalam lingkungan masyarakat/ kelompok, kekerabatan, perubahan-perubahan sosial-budaya, migrasi, dan sebagainya. Untuk menyusun sejarah etnis yang baik, diperlukan suatu pembahasan yang bersifat interdisipliner guna mengungkap secara mendalam dari berbagai aspek kehidupan.
c. Sejarah ekonomi;
Sejarah ekonomi yang dibicarakan perkembangan evolusi yang terbagi menjadi kurun ekonomi famili, kurun ekonomi desa, kurun ekonomi bangsa sejak awal kehidupan manusia hingga kini. Sebenarnya sejarah ekonomi ini lebih merupakan kombinasi dua disiplin ilmu yang telah berevolusi cukup lama. Di universitas-universitas Eropa Barat sejarah ekonomi dipandang sebagai disiplin tersendiri. Sedangkan di universitas-universitas Amerika Serikat, sejarah ekonomi dimasukkan ke dalam depatemen sejarah atau ekonomi. Dan, sejak tahun 1960-an terjadi perubahan yang dimulai dari Amerika Serikat, di mana aspek kuantifikasinya model ini makin meningkat. Kini di Amerika Serikat bidang ini didominasi oleh ilmuwan yang mendapat pendidikan dasar sebagai ekonom (Engerman, 2000: 269).
Status sejarah ekonomi sebagai bidang studi tersendiri dikukuhkan dengan dibentuknya Economic History Society pada tahun 1926, dan jurnalnya Economic History Review yang mulai terbit tahun 1927. Faktor penting lainnya adalah dibentuknya National Beureu of Economic Research pada tahun 1920. Diantara pendirinya adalah Gay, ahli sejarah bisnis dan Ekonomi dari Harvard, dan ia dikenal sebagai direktur terlama. Tokoh lainnya adalah Mithel yang mahasiswa terkenalnya adalah Kuznets, yang berjasa mengumpulkan berbagai data tentang siklus bisnis dan pertumbuhan ekonomi. Kemudian di Amerika Serikat dibentuk Economic History Association tahun 1941, yang sampai Perang Dunia II karya-karyanya masih berorientasi sejarah semata-mata (Engerman, 2000: 270).
Pada tahun 1950-an dan 1960-an, terjadi perubahan penting. Karya sejarawan ekonomi saat itu, seperti; Davis, Fogel, Gallman, North dan Parker lebih bercirikan sebagai karya ekonom; sehingga memunculkan istilah baru, yakni Clieometri atau Ekonometri yang sering juga disebut Quantohistory. Sebetulnya istilah ”Cliometri” diambil dari ”Clio” yang artinya dalam mitologi Yunani 8 dikenal sebagai Dewi Sejarah. Sedangkan ”metri” berarti meter, ukuran, atau hitungan. Jadi Cliometri adalah sejarah yang menggunakan hitungan-hitungan (kuantifikasi) statitistik dan sebagainya (Sjamsuddin, 1996: 210). Karya Cliometri yang paling kontroversial adalah karya Fogel bersama North yang memenagkan hadiah Nobel ekonomi di tahun 1993 yang dibantu oleh Engerman, mengenai aspek ekonomi perbudakan Amerika yang berjudul Time on the Cross (1974). Kesimpulan yang dikemukakan dalam buku tersebut khususnya yang berkenaan dengan profitabilitas, kelayakan dan efesiensi perbudakan, menimbulkan perdebatan sengit di kalangan para ahli Cliometri dan sejarawan pada umumnya (Engerman, 2000: 124).
Lalu, bagaimana dengan keadaan di Indonseia? Inilah keprihatinan kita. Begawan ekonomi Indonesia-pun (Sumitrodjojohadikusumo) beberapa tahun yang lalu telah melontarkan kehkawatirannya yang mendalam jika sejarah ekonmi terus diabaikan terutama di fakultas-fakultas ekonomi yang sampai saat itu menurutnya sangat mencemaskan. Mungkin satu hal yang bisa kita banggakan di tahun 1977 di mana The Kian Wie telah menulis Plantation Agriculture and Export and Export Growth: An Economic History East Sumatra 1863-1942 (Abdullah dan Surjomihardjo, 1985: 55).
**gb. perkebunan masa kolonial
Kepeloporan sejarah ekonomi ini sekarang berada di Amerika Serikat, dan negara-negara lain lebih banyak sekedar mengikutinya. Namun, sebagai konsekuensi sdari persinggungan dua disiplin, sejarah ekonomi tidak pernah luput diramaikan oleh perdebatan pendekatan dan metodenya. Sampai tahun 1960-an, perdebatan terpusat pada kegunaan teori abstrak yang dikomparasikan dengan rinci khas uraian sejarah. Timbul reaksi dari Mazhab Austria (Marginalis) yang dipimpin Menger dan aliran Ricardo yang ekstim menggunakan metode-metode ilmu ekonomi. Sementara itu pendekatan yang lebih tradisional masih juga mendapatkan tempat, namun Menger dan Schmoller mempertanyakan kegunaan dan arti penting pendekatan induksi dan deduksi sebagai dasar penelitian ilmiah, merupakan cerminan serunya perdebatan para ekonom dan sejarawan. Ironisnya di Amerika Serikat sendiri sekarang ini para ahli sejarah ekonomi mempertanyakan terlalu abstraknya teori ekonomi natematis yang dikhawatirkan akan memutuskan atau mengaburkan kaitan antara teori teori dengan dunia nyata. Mereka menghimbau lebih ditekankannya aspek-aspek empiris-historis, yang sudah terbukti berhasil pada cabang-cabang lain dari ilmu ekonomi (Engerman, 2000: 271).
d. Sejarah sosial;
Sejraha sosial sangat erat hubungannya dengan sejarah konstitusi, sejarah ekonomi, dan sejarah kebudayaan yang mengemukakan dinamika perkembangan kehidupan bermasyarakatnya manusia.
Menurut definisi yang cukup banyak dirujuk, pengertian sejarah sosial dibuat oleh Trevelyn dalam bukunya English Social History, A Survey of Six Centuries (1942), ia mengemukakan bahwa ”sejarah sosial adalah sejarah tanpa nuansa politik”. Akan tetapi definisi ini-pun sering dikutip dengan tidak benar, sebab yang ditulis oleh Tevelyan sesungguhnya adalah : ”sejarah sosial bisa didefinisikan secara negatif sebagai sejarah dari sekelompk masyarakat tanpa mengikutsertakan politiknya”. Ia sendiri mengakui bahwa definisi itu masih belum memadai, namun karena saat itu dikalangan sejarawan sedang menguat kajian-kajian politik tanpa menampilkan sosok masyarakat yang utuh, akibatnya muncul dorongan kuat untuk melakukan perimbangan. Mengingat tanpa sejarah sosial, maka keberadaan sejarah ekonomi akan gersang dan dangkal.
**gb Pemberontakan oleh Petani pada masa kolonial
Memang terdapat berbagai macam tentang pengertian sejarah sosial. Bagi sejarawan Amerika Robert J. Bezucha (1972: x), mengartikan bahwa sejarah sosial itu sejarah budaya yang mengkaji kehidupan sehari-hari anggota-anggota masyarakat dari lapisan yang berbeda-beda dari periode yang berbeda-beda; merupakan sejarah dari masalah-masalah sosial; sejarah ekonomi ”lama”. Kemudian sejarawan Inggris Hobsbawm (1972: 2) menyebutnya sejarah sosial mengkaji sejarah: sejarah dari orang-orang miskin atau kelas bawah; gerakan- gerakan sosial; berbagai kegiatan manusia seperti tingkah laku, adat istiadat, kehidupan sehari-hari; sejarah sosial dalam hubungannya dengan sejarah ekonomi. Sedangkan dari sejarawan Prancis seperti Lucien Febre dan Marc Bloch yang merupakan tokoh penting dalam jurnal Ananales d’historie, economique et sociale (1929) yang sangat berpengaruh, mengemukakan bahwa sejarah sosial sosial berhubungan dengan sejarah ekonomi.
Terdorong oleh oleh jurnal Annales tersebut, sejarah sosial mendapat legitimasi dan kemashuran yang lebih besar dalam kehidupan akademis Prancis, jika dibanding dengan tempat-tempat lainnya (Prost, 1992). Di Inggeris sejarah sosial tidak sepesat di Prancis, namun beberapa sejarawan seperti G.D.H Cole (1948), kemudian Asa Briggs (1991), dan Peter Burke (1991; 1993) masih tetap berlanjut aktip dan produktif menulis sejarah sosial, sejalan dengan hubungan eratnya antara sejarah ekonomi dan sosial meski mulai terpisah pada tahun 1960- an (Thame, 2000: 984). Sedangkan di Indonesia, sejarah sosial mulai berkembang tahun 1960-an ketika Sartono Kartodirdjo mempertahankan disertasinya yang berjudul Pemberontakan Petani Banten tahun 1888 (1966) (Sjamsuddin, 1996: 204).

e. Sejarah intelektual atau sejarah ide-ide;
Sejarah intelektual yaitu sejarah yang hanya memandang perkembangan pikiran dan perasaan dari tingkat sederhana ke tingkat tinggi.
Sejarah Intelektual, secara filosofis hubungannya lebih erat dengan aliran fenomenologi. Dalam arti luas fenomnologi mengkaji tentang fenomena-fenomena atau apa saja yag tampak. Dalam hal ini fenomenologi merupakan sebuah pendekatan yang berpusat pada analisis terhadap gejala yang membanjiri kesadaran manusia (Bagus, 2000: 234). Jadi singkatnya aliran ini berasumsi bahwa kesadaran adalah realitas primer, realitas tersebut adalah segala sesuatu yang diciptakan oleh manusia yakni kebudayaannya. Dalam hal ini berbeda dengan sejarah mentalitas, yang mengkaji ”kepercayaan dan sifat- sifat rakyat” (Himmelfarb, 1987: 4).
Sedangkan sesuatu fakta, ragamnya bisa berupa artifact (benda), socifact (hubungan sosial), dan mentifact (kejiwaan). Terutama yang terakhir tersebut langsung menyangkut semua fakta seperti yang terjadi dalam jiwa, pikiran, atau kesadaran manusia. Oleh karena itu semua fakta yang nampak sebenarnya bersumber pada ekspresi dari apa yang terjadi dalam mental orang, antara lain; pikiran, ide, kepercayaan, angan-angan, dan segala macam unsur kesadaran (Kartodirdjo, 1992: 177). Dipandang dengan perspektif itu sangatlah esensial untuk mengkaji mentifact dalam segala bentuknya, terutama perkembangannya yang kesemuanya itu menjadi obyek studi sejarah mentalitas, intelektual, dan ide-ide. Dan, perlu dicatat di sini bahwa bahwa tidak semua bentuk kesadaran meninggalkan bekasnya, baik dokumen maupun monumen. Karena itu tidak terhitung banyaknya mentifact yang musnah terbawa ke liang lahat yang tidak tercatat atau tidak berbekas. Di sinilah sang sejarawan dituntut keahliannya untuk dapat ”merekam” kesadaran tersebut yang menyangkut alam pikiran manusia masa lalu menjadi pusat perhatian sejarah intelektual. Alam pikiran itu sendiri mempunyai struktur-struktur yang bertahan lama dan dapat ”direkam”. Contoh konkretnya bahwa sejarawan dituntut dapat merekan ideologi-ideologi politik liberalisme, sosialisme, konservatisme, gagasan-gagasan tokoh Thomas Hobbes, John Locke, J.J. Rouseau, Hegel dan sebagainya. Demikian juga revolusi intelektual baik itu yang menyangkut ilmu-ilmu kealaman (seperti Newton, Galileo Galilei, Charles Darwin) maupun ilmu-ilmu sosial (seperti Adam Smith, Sigmund Freud, Karl Mark, dan sebagainya).
**gb. revolusi Prancis
f. Sejarah kebudayaan
Sejarah kebudayaa memiliki arti yang sangat luas. Kartodirdjo (1992: 195), mengemukakan semua perwujudan baik yang berupa struktur maupun proses dari kegiatan manusia dalam dimensi ideasional, etis, dan estetis, adalah kebudayaan. Hal ini sejalan dengan Sjamsuddin (1996: 213) yang mengemukakan, Semua bentuk manifestasi keberadaan manusia berupa bukti atau saksi seperti artifact (fakta benda), menifact (fakta mental-kejiwaan) dan socifact (fakta atau hubungan sosial), termasuk dalam kebudayaan. Jadi memang sejarah kebudayaan itu sangat luas. Tentu saja hal ini berbeda dengan apa yang banyak diajarkan di tingkat persekolahan ruang lingkup sejarah kebudayaan itu lebih berkisar pada arkeologi. Di dalamnya termasuk peninggalan-9 peninggalan zaman Hindu-Budha, Islam, penjajahan Belanda seta Jepang, yang berkaitan dengan kepercayaan, seni bangunan, seni sastera, seni pahat, dan lain-lain. Namun dalam pengertian sejjarah kebudayaan gaya baru tidak sesempit itu. Aspek-aspek seperti; gaya hidup, etika, dan etiket pergaulan, kehidupan kelurga sehari-hari pendidikan, pelbagai adat istiadat, upacara adat, siklus kehidupan, dan lain sebaginya (Kartodirdjo, 1992: 195).
**gb. suku Asmat
Banyak tokoh dan karya-karyanya yang menunjukkan para sejarawan begitu tinggi perhatiannya pada sejarah kebudayaan. Di antaranya adalah cendekiawan Prancis Voltaire yang dalam karyanya berjudul Essay on Manners and Customs. Jacob Burchardt (1818-1897), sejarawan budaya dan seni Swiss, menulis Die Kutrur der Renaissance in Italilien (1860) yang telah diterjemahkan dalam baha Inggris The Civilization of the Renaissance in Italy. Buku ini mempengaruhi ditulis setelah berkunjung ke Italy dan pemikirannya banyak terpengaruh oleh pemikiran tentang Renaissance, di mana pemikirannya banya dipengaruhi leh Hegel dan Schopenhauer (Shadily, 1986: 555). Kemudian sejarawan kebudayaan Belanda, Johan Huizinga (1872-1945), ia menulis buku yang terkenal yang terjemahan Inggris-nya The waning of the midle ages (1919), Erasmus (1924), Homo Ludens (1938). Dalam buku Homo Ludens tersebut, Huizinga menyebutkan manusia adalah mahluk yang suka bermain, dan untuk mekanisme permainannya itu manusia memiliki serangkat aturan-aturan, kode, atau simbol yang dipahami dan disepakatinya. Sedangkan untuk sejarawan budaya Inggeris yang ternama Arnold Toynbee (1889-1975) yang menulis A Study of Fistory terdiri atas 12 jilid yang memuat tentang 21 pusat peradaban di dunia (misalnya peradaban, Mesi kuno, India, Sumeria, Babilonia, dan peradaban Barat atau Kristen. Enam peradaban muncul serentak dari masyarakat primitif: Mesir, India, Sumeria, Maya, Cina, Minoan (di P.Kreta), sementara yang lain terpisah-pisah, dan semua peradaban tersebut berasal dari enam peradaban asli sebelumnya (Lauer, 2003: 50) Kemunculannya pusat-peradaban tersebut erat kaitannya antara tantangan dan tanggapan yang dilakukan oleh kelompok minoritas yang kreatif (Al-Sharqawi, 1986: 167).
g. Sejarah pendidikan;
Sejarah yaitu sejarah yang menyajikan perkembangan kemampuan berpikir manusia dari tingkat awal sampai dengan pendidikan yang ada di era ini bagi umat manusia di wilayah tertentu.
Di negara-negara Barat (Amerika dan Eropa) perhatian sejarah pendidikan telah begitu nampak sejak abadke-19, dan pentingnya sejarah pendidikan tersebut digunakan untuk berbagai macam tujuan, terutama sekali untuk membangkitkan kesadaran bangsa dan kesatuan budayaan, pengembangan profesi guru, atau kebanggaan terhadap lembaga-lembaga dan tipe pendidikan tertentu (Siver, dalam Sjamsuddin, 1996: 219).
Dalam pembahasannya, sejarah pendidikan itu memiliki substansi yang luas, baik yang menyangkut tradisi dan pemikiran-pemikiran berharga dari para pemimpin besar pendikan, sistem pendidikan, pendidikan dalam hubungannya dengan sejumlah elemen-elemen penting dan problematis khususnya dalam perubahan sosial yang menyangkut aliran-aliran; perenialisme, esensialisme, rekonstruksionisme, konstruktivisme, dan progresifisme. Pendekatan pembelajarannya bisa menyangkut tentang psikologi belajar behaviorisme, gestalt, humanisme, kognitifisme, bahkan sampai psikologi belajar kecerdasan majemuk Gardner.
Perlu diketahui, bahwa esensi pendidikan itu sendiri sebenarnya sangat luas mengingat ia berperan sebagai transmisi kebudayaan (ilmu pengetahuan, teknologi, ide-ide, dan nilai-nilai spiritual dan estetika, dari generasi ke generasi. Oleh karea itu usia sejarah pendidikan pada hakikatnya sama tuanya dengan sejarah pada umumnya. Dan, dalam pendekatan sejarah pendidikanpun sama halnya dengan pendekatan historiografi sejarah secara umum, yakni lebih menekankan pendekatan diakronik (Sjamsuddin, 1996: 220). Pendekatan diakronik yang lazim digunakan dalam sejarah dapat diibaratkan penampang batang kayu yang vertikal, yang menunjukkan perkembangan dari titik awal bergerak dari fase ke fase berikutnya, dengan perkataan lain mengungkapkan genesis suatu fenomenon. Sedangkan pendekatan sinkronik yang lazim digunakan dalam ilmu-ilmu sosial lainnya, dapat diibaratkan penampang lintang atau horisontal. Artinya dalam pendekatan ini memandang fenomena sebagai suatu unit atau sistem.Fungsi dan strukturnya diterangkan bagaimana bekerjanya bagian-bagian unit itu saling berkaitan dalam fungsinya secara bersama-sama mendukung fungsi unit itu (Kartodirdjo, 1992: 211).

h. Sejarah keluarga
Sejarah keluarga yaitu sejarah yang berorientasi pada kalangan keluarga tertentu, sehingga mengarahkan diri pada dinamika sebuah keluarga dengan silsilah-silsilah yang beruntun.
Sejarah Keluarga (Family History) sebagai suatu bidang riset mulai muncul pada tahun 1950-an, sebagai bagian tumbuhnya minat terhadap sejarah ekonomi dan sosial (Wall, 2000: 340-341). Di mana para ahli sejarah mencari informasi mengenai keluarga dari berbagai sumber, mulai dokumen-dokumen legal, catatan kasus-kasus pengadilan, sejarah nama-nama keluarga, lukisan lama, naskah perjanjian dan sebagainya, dan juga berbagai penggalian arkeologis di lokasi-lokasi milik pribadi guna mengungkap cikal-bakal kehidupan keluarganya (Gotein, 1978; Rawson, 1986; Gardner, 1986).
Pada umumnya orang yang berminat menelaah dalam sejarah keluarga adalah mereka yang ingin mencari pemahaman mengenai cikal bakal keluarganya sendiri. Umumnya para sejarawan keluarga tidak merasa puas hanya mengumpulkan nama dan tanggal-tanggal peristiwanya. Namun mereka juga ingin mempelajari sejarah nenek moyangnya dalam berbagai aspek kehidupan, seperti; masa anak-anak dan remaja, pergaulan dengan teman, tetangga, pekerjaan, pernikahan, kebiasaan-kebiasaan, sampai akhir hayatnya. Di Inggeris, kepustakaan mengenai studi ini cukup banyak dan sangat berharga, (Federation of Family History Societies, 1993; Hey, 1993). Selain itu federasi peminat Sejarah Keluarga juga menerbitkan newsletter setiap enam bulan sekali yang berjudul Family History News Digest, yang merinci berbagai kegiatan dan publikasi mereka. Di tahun 1994 tercatat lebih dari 80 perkumpulan penggemar Sejarah Keluarga yang aktif.
Kontribusi yang sangat berharga dari sejarawan keluarga Anderson dalam bukunya Approaches to the History of the Western Family 1500-1914 (1980), adalah ia mengidentifikasi empat pendekatan pokok yang digunakan untuk mengkaji asal-usul keluarga, yaitu pendekatan; (1) psikohistori, (2) demografi, (3) sentimen keluarga, (4) ekonomi rumah tangga. Dalam kajian pendekatan pertama, menyajikan perspektif yang jernih tentang motivasi, kesadaran dan kealpaan generasi lampau, namun banyak kesimpulan yang sulit diterima. Dalam pendekatan kedua, lebih mementingkan data-data perjuangan hidup masa lampau. Fokus mereka tertuju pada bentuk struktur rumah tangga, usia pernikahan pertama, pola pengasuhan anak dan pola kehidupan sehari-hari. Berbeda dengan pendekatan ketiga, mengemukakan tentang perasaan-perasaan kedekatan hubungan kelurga yang bersifat akrab, hangat, dan egaliter atau mungkin juga terbalik keadaannya. Sedangkan pendekatan keempat, lebih menekankan penelaahan lingkungan mikro-ekonomi, pekerjaan, sampai hal-hal hubungan aspek ekonomi dengan non-ekonomi, seperti bagaimana hubungan antara perkawinan muda yang tidak ada hubungannya dengan pola pewarisan harta kelurga, dan sebagainya. Tentu saja tidak hanya satu model dalam pengkajian Sejarah Keluarga. Burgiere merupakan sejarawan keluarga dari Prancis dalam bukunya yang berjudul Histoire de la famille (1986) menegaskan bahwa pendekatan dalam penyususnan Sejarah Keluarga aspek-aspek sentimen keluarga dan psikohistori dapat diabaikan.

Testimoni

artikel lainnya Kriteria penulisan sejarah



bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
Monday 4 May 2015 | blog

Sukokek vektor kartun abadikan foto keluarga sahabat atau fototerima jasa pembuatan kartun prewed bagi yang akan…

Sunday 5 April 2015 | blog

Imajimoo Pin and Craft: Ukuran, Jenis, dan Laminasi Pin www.imajimoo.com/.../ukuran-jenis-dan-laminasi-pin....Translate this page Untuk jenis, terbagi lagi…

Wednesday 19 August 2015 | blog

MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI             MEMBUAT…

Monday 19 January 2015 | blog

    MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI SUB SEKTOR OPERATOR KOMPUTER  …