Menu

dropdown label blog

Mar
18
2012
by : 1. Posted in : blog

dropdown label blog
Bab 3
Kehidupan Manusia Purba di Indonesia dan Dunia
1.1 Menghayati proses kelahiran manusia Indonesia dengan rasa bersyukur.
2.1 Menujukkan sikap tanggung jawab, peduli terhadap berbagai hasil budaya zaman praaksara, Hindu – Buddha dan Islam.
2.2 Meneladani sikap dan tindakan cinta damai, responsif, dan proaktif yang ditunjukkan oleh tokoh sejarah dalam mengatasi masalah sosial dan lingkungannya.
2.3 Berlaku jujur dan bertanggung jawab dalam mengerjakan tugas-tugas dari pembelajaran sejarah.
3.9 Menganalisis keterkaitan antara manusia purba Indonesia dan Dunia dengan manusia modern dalam fisik dan budaya.
3.10 Menganalisis keterkaitan kehidupan awal manusia Indonesia di bidang kepercayaan, sosial, budaya, ekonomi, dan teknologi serta pengaruhnya dalam kehidupan masa kini.
4.9 Menyajikan hasil analisis mengenai keterkaitan antara Manusia Purba Indonesia dan Dunia dengan manusia modern secara fisik dan budaya, dalam berbagai bentuk presentasi.
4.10 Menarik berbagai kesimpulan dari hasil evaluasi terhadap perkembangan teknologi pada zaman kehidupan praaksara terhadap kehidupan masyarakat masa kini, dalam bentuk tulisan.

A. Masa Praaksara (Belum Mengenal Tulisan)
Tingkat peradaban manusia dibagi dalam dua babak, zaman Prasejarah dan zaman Sejarah. Zaman Prasejarah (pra berarti “sebelum”) mendahului zaman Sejarah. Peristiwa yang menandai berakhirnya zaman Prasejarah dan dimulianya zaman Sejarah adalah adanya keterangan dalam bentuk tulisan.
Zaman Prasejarah atau biasa disebut juga zaman Prasejarah. Manusia yang diperkirakan hidup pada zaman Prasejarah adalah manusia prasejarah atau manusia purba. Zaman Prasejarah dalam bahasa Sanskerta disebut dengan istilah nirleka. Kata nirleka terdiri atas dua kata, yakni kata nir artinya tidak atau tidak ada, dan kata leka yang berarti tulisan.
Manusai purba yang hidup pada zaman Prasejarah belum bisa membaca dan menulis. Itu sebabnya mereka tidak mempunyai peninggalan tertulis. Padahal dengan membaca peninggalan tertulis yang sezaman, kita lebih mudah mengetahui kehidupan dan perkembangan kebudayaan pada saat itu. Oleh karena itu, untuk mempelajari zaman yang belum mengenal tulisan maka yang dapat kita lakukan adalah mempelajari benda-benda atau fakta yang tidak berkaitan dengan tulisan. Ini berarti kita meneliti, menafsirkan, dan memahami peristiwa-peristiwa penting di masa lampau yang berhubungan dengan kehidupan manusia purba hanya dengan meneliti dan mempelajari peninggalan-peninggalan kuno (benda-benda hasil kebudayaan material) yang mereka hasilkan.
Ilmu yang mempelajari zaman ketika manusia belum mengenal tulisan disebut ilmu prasejarah. Berbagai disiplin ilmu lainnya, seperti ilmu geologi, paleontropologi, dan paleontologi.
1. Geologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang lapisan bumi.
2. Paleontropologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari bentuk-bentuk fisik manusia dari mulai manusia pertama sampai dengan menjelang manusia memasuki zaman Sejarah.
3. Paleontologi adalah ilmu yang mempelajari tentang fosil-fosil. Pengertian dari fosil adalah sisa-sisa tulang belulang binatang atau tumbuhan zaman Prasejarah yang telah membatu dan tertanam di bawah lapisan tanah.
Berakhirnya masa Praaksara di tiap tempat berbeda-beda. Masa aksara berakhir ketika masyarakatnya sudah mengenal tulisan. Karena mengenal tulisan maka akan menghasilkan kebudayaan tertulis, seperti prasasti atau kitab. Penduduk kepulaauan Indonesia memasuki zaman Sejarah (masa Aksara) sekitar abad ke-4 M. Sedangkan Mesir dan Mesopotamia mengenal tulisan sekitat abad ke-3 M.
Belajar sejarah pada masa Praaksara memiliki pembelajara yang penting bagi suatu bangsa. Dengan mempelajari masa Praaksara di Indonesia maka akan memperdalam budaya dan kesadara kolektif terhadap budaya yang dimiliki nenek moyang bangsa Indonesia. Karena sadar dalam berbudaya maka bangsa Indonesia tidak kehilangan jati dirinya yang merupakan pembeda antara bangsa Indonesia dengan yang lainnya. Selain itu bangsa Indonesia tidak mudah terombang ambing dan di dikte dalam zaman Globalisasi saat ini.

B. Peristiwa Terbentuknya Kepulauan Indonesia
Sejarah terbetuknya bumi sangat panjang. Sebelum dapat dihuni makhluk hidup, bumi berproses secara berlahan-lahan. Gejala alam yang ekstrem berupa gunung meletus, gempa bumi, badai, dan banjir seringkali terjadi. Bumi saat itu yang tidak stabil sedang berproses ke arah stabil. Bumi menjadi sangat dingin sehingga seluruh permukaan berupa es. Selanjutnya terjadi pencairan es atau zaman glasial. Berlahan-lahan iklim bumi menjadi kondusif untuk kehidupan.
Perubahan penampakan kulit bumi yang berlangsung lama menciptakan lapisan-lapisan kulit bumi. Lapisan-lapisan tersebut dipelajari oleh geolog untuk mengetahui bagaimana proses pembentukan bumi sehingga dapat disusun sejarah perkembangan bumi. Sejarah perkembangan bumi dibagi menjadi empat zaman. Yaitu Arkaekum, Palaeozoikum, Mesozoikum, dan Neozoikum.
1. Zaman Arkaikum
Arkaikum adalah zaman tertua yang berumur ±2.500 juta tahun. Pada zaman ini kedaan bumi belum stabil akibat dari tenaga yang berasal dari dalam bumi (endogen) dan dari luar bumi (eksogen) yang sangat ekstrim. Pada saat itu kulit bumi masih panas sekali, yaitu masih dalam proses pembentukan. Dengan keadaan seperti itu maka di bumi belum ada kehidupan.
2. Zaman Palaeozoikum (Zaman Primer)
Zaman Palaeozoikum berlangsung kira-kira 340 juta tahun yang lalu. Pada zaman ini sudah mulai ada tanda-tanda kehidupan, yaitu binatang-binatang terkecil (mikroorganisme), binatang yang tidak bertulang punggung sampai beberapa jenis ikan, amphibi, dan reptil.
Zaman Palaeozoikum disebut juga zaman Primer karena untuk pertama kalinya terdapat kehidupan makhluk, seperti berikut.
a. Cambrium, mulai ada kehidupan yang amat primitif, seperti kerang dan ubur-ubur.
b. Silur, mulai ada kehidupan hewan bertulang belakang tertua, misalnya ikan.
c. Devoon, mulai ada kehidupan binatang jenis amphibi tertua.
d. Carbon, mulai ada binatang merayap sejenis reptil.
e. Pern, mulai ada hewan darat, ikan air tawar, dan amphibi.
3. Zaman Mesozoikum (Zaman Sekunder)
Zaman Mesozoikum disebut juga zaman Sekunder (zaman Kedua). Zaman Mesozoikum berlangsung ±140 juta tahun yang lalu. Pada zaman ini, kehidupan mengalami perkembangan yang sangat pesat. Kehidupan pada zaman Mesozoikum ini dapat dibagi menjadi zaman Tiras (masa ini terdapat kehidupan ikan, amphibi, dan reptil Jura masa ini terdapat reptil dan sebangsa katak) Calcium (masa ini terdapat burung-burung pertama dan tumbuhan berbunga).
Zaman Mesozoikum disebut juga zaman Reptil. Pada zaman Mesozoikum juga sudah muncul binatang bertubuh besar, misalnya dinosaurus, atlantasaurus, dan tyrannosaurus yang panjangnya berkisar 12–30 meter.
4. Zaman Neozoikum atau Zaman Kainozoikum
Zaman Neozoikum berumur ±60 juta tahun yang lalu. Pada zaman ini keadaan bumi sudah membaik, perubahan cuaca tidak begitu ekstrim dan kehidupan berkembang dengan pesat. Zaman ini dibedakan menjadi dua, yaitu zaman Tersier dan Zaman Kuarter.
a. Zaman Tersier (Zaman Ketiga)
Zaman Tersier dibagi menjadi beberapa kala, yaitu kala Paleosen, kala Eosen, kala Oligosen, kala Miosen, dan kala Pliosen. Pada zaman Tersier kehidupan dari jenis-jenis binatang raksasa mulai berkurang dan telah muncul binatang menyusui sejenis kera. Diperkirakan binatang menyusui sejenis kera tampak sejak kala Paleosen.
Pada kala Miosen diperkirakan telah muncul orangutan. Binatang tersebut diduga telah muncul di Afrika. Diperkirakan pada saat itu Benua Afrika masih bersatu dengan Jazirah Arab. Selanjutnya, orang utan menyebar ke Asia Barat Daya, Asia Selatan, dan Asia Tenggara. Di akhir kala Meiosen terjadi perubahan kerak bumi yang disebabkan oleh tenaga endogen. Benua Afrika lepas dari Benua Asia dan memunculkan laut Merah. Perubahan besar-besaran di bumi yang terjadi pada kala Miosen menyebabkan daerah Afrika berubah menjadi daerah sabana. Di Jazirah Arab menjadi gurun. Orangutan yang tidak dapat menyesuaikan diri dengan alam Afrika bermigrasi ke Asia Tenggara yang masih memiliki hutan lebat. Oleh karena itu, sampai sekarang kita masih melihat orangutan di pedalaman Kalimantan yang masih berhutan lebat.
Pada kala Pliosen diduga telah hidup binatang yang lebih besar daripada gorila. Binatang tersebut disebut Giganthropus, artinya kera manusia raksasa. Binatang tersebut diduga hidup di kaki Pegunungan Himalaya dan di dekat Simla (India Utara). Binatang ini diduga hidup berkelompok, tetapi tidak jelas mengapa bisa punah.
Pada kala Pliosen juga hidup makhluk yang disebut Australopithecus artinya manusia kera dari selatan. Ada puluhan fosil Australopithecus yang telah ditemukan di Afrika Selatan dan Afrika Timur.
b. Zaman Kuarter
Zaman Kuarter diduga berusia 600 ribu tahun yang lalu. Pada era Kuarter muncul dan berkembang tanda-tanda kehidupan dari manusia Praaksara. Era Kuarter dibedakan lagi menjadi dua kala, yaitu kala Pleistosen dan kala Holosen.
1) Kala Pleistosen atau Zaman Diluvium
Kala Pleistosen berlangsung 600 ribu tahun yang lalu. Zaman ini disebut sebagai zaman Es (Glasial). Di zaman Glasial terjadi perluasan lapisan es di di bagian utara bumi. Hal ini menyebabkan laut di Indonesia surut dan memunculakan Paparan Sunda dan Sahul. Pada zaman ini terjadi perpindahan manusia dan fauna dari Asia ke Indonesia. Zaman interglasial ditandai dengan mulai mencairnya salju yang bertumpuk di kutub utara. Hal itu disebabkan adanya pemanasan global.
Pada kala Pleistosen binatang berbulu tebal saja yang mampu bertahan hidup. Salah satunya adalah mamut (gajah berbulu tebal). Adapun binatang yang berbulu tipis bermigrasi ke daerah tropis yang berudara panas.
Selain binatang yang berbulu tipis, pada saat yang sama yang diduga mengalami migrasi adalah manusia Praaksara. Mereka juga berpindah dari Asia ke Indonesia. Teori ini dibuktikan dengan adanya penemuan fosil Sinanthropus pekinnensis (manusia dari Peking) yang sejenis dengan Pithecanthropus erectus dari Trinil, Ngawi, Jawa Timur. Di kala ini juga hidup manusia purba berjenis Meganthropus palaeojavanicus. Selain itu, banyak pula ditemukan peralatan manusia Praaksara dari Kebudayaan Pacitan di Cina, Burma, dan Malaysia.
Kala Pleistosen atau zaman Deluvium terdapat zaman glasial. Pada zaman ini es di Kutub Utara mulai mencair karena terjadi perubahan iklim. Air menyelemuti datar di Eropa Utara, Asia Utara, dan Amerika Utara. Apabila suhu turun maka lapisan es akan meluas dan permukaan laut akan menurun. Namun, apabila suhu naik, es akan mencair membentuk lautan di berbagai belahan bumi. Kala holosen atau zaman Aluvium berlangsung 20.000 tahun yang lalu. Pada Zaman ini muncul spesies Homo sapiens.
Perkembangan global ini sangat memengaruhi keadaan fisik alam di Indonesia. ketika lapisan es di Kutub Utara belum mencair, wilayah Indonesia bagian barat (Sumatra, Jawa, dan Kalimantan) masih menyatu dengan Benua Asia sebagai satu daratan. Sementara di Indonesia bagian timur menyatu dengan Benua Australia. Katika suhu memanas maka lapisan es akan mencair dan membentuk lautan. Lautan tersebut menenggelamkan daratan rendah di Indonesia kala itu. Akibatnya dataran-dataran tinggi yang tidak tenggelam menjadi pulau-pulau yang jumlahnya ribuan seperti sekarang ini. Wilayah Indonesia barat yang menyatu dengan Benua Asia dulu disebut dengan Paparan Sunda. Adapun wilayah yang terhubung dengan Australia disebut Paparan Sahul. Ketika dataran yang masih bersatu (Paparan Sunda-Paparan Sahul) masih menyatu terjadilah migrasi manusia yang pertama.
2) Kala Holosen atau zaman Alluvium
Kala Holosen dimulai 20.000 tahun yang lalu. Pada awal kala Holosen, es di kutub kembali mencair dan mengakibatkan permukaan laut kembali naik. Dataran rendah di Paparan Sunda dan Sahul tergenang air dan menjadi laut trasngresi. Maka muncullah ribuan pulau di Nusantara. Pada zaman ini mulai muncul spesies Homo sapiens atau manusia cerdas. Spesies ini merupakan nenek moyang dari manusia modern. Sejak saat itu kebudayaan sebagai hasil ciptaan manusia mengalami perkembangan pesat. Spesies ini memiliki tingkat kecerdasan lebih tinggi, karena manusia purba jenis Homo memiliki volume otak yang lebih besar.

C. Mengenal Manusia Purba
Manusia praaksara atau manusia prasejarah atau manusia purba itu mempunyai bentuk dan sifat yang berbeda bila dibandingkan dengan manusia zaman sekarang. Tengkorak manusia praaksara cenderung lebih kecil, namun memanjang, rahangnya tebal, namun tidak berdagu, serta tidak mempunyai dahi. Perbandingan semacam ini bisa kita peroleh setelah kita menganalisis serangkaian penemuan fosil, baik yang berupa tengkorak maupun tulang-tulang anggota badan lainnya.
Begitu pula saat kita nanti mendeskripsikan hasil-hasil budayanya. Data-data tentang hasil budayanya itu bisa kita peroleh setelah kita menganalisis fosil yang berwujud beragam bentuk peralatan yang diduga pernah mereka gunakan. Lalu, untuk menentukan usia fosil itu kita harus menganalisis lapisan bumi di mana fosil itu ditemukan, tentu dengan bantuan ilmu geologi. Dengan cara inilah, kita bisa mengklasifikasi jenis dan budaya manusia praaksara.
Lapisan Jenis Fosil
Holosen Homo sapiens
Pleistosen Atas (Lapisan Ngandong)
3.500 – 1.500 Homo wajakensis
Homo soloensis
Pleistosen Tengah (Lapisan Trinil)
80.000 – 35.000 Pithecanthropus erectus
Pithencanthropus robustus
Pleistosen Bawah (Lapisan Jetis)
450.000 – 350.000 Pithecanthropus mojokertoensis
Meganthropus palaeojavanicus

1. Sangiran
Sangiran merupakan salah satu situs penting dalam mengungkap kehidupan manusia purba di dunia. Sangiran berada di kabupaten Sragen utara kota Solo. Sangiran dikukuhkan oleh UNESCO sebagai warisan dunia. Situs ini berupa cekungan besar yang diwarnai dengan perbukitan. Situs ini mengandung petunjuk keberdaan kehidupan sejak 150.000 tahun yang lalu. Situs ini pertama kali ditemukan oleh P.E.C. Shemulling tahun 1864. Setelah itu Eugene Dubois menyusul melakukan penelitian di Sangiran. Tahun 1934 G.H.R von Koenigswald menemukan litik, sejak saat itu Sangiran mulai terkenal dan banyak ditemukan fosil Homo erectus dan Homo sapiens.
2. Trinil
Eguene Dubois melakukan peneilitian di Desa Trinil yang beada di pinggiran Bengawan Solo. Trinil termasuk dalam kabupaten Ngawi Provinsi Jawa Timur. Hasil ekskavasi yang dilakukan Eugene Dubois berhasil menemukan tengkorak Pithecanthropus erectus.
**tokoh Eugene Dubois
3. Jenis-Jenis Manusia Purba
Para ahli dari mancanegara telah melakukan banyak penelitian dan penggalian di Indonesia. Dari peneilitan dan penggalian tersebut diketemukan banyak fosil-fosil manusia purba. Para ahli menyimpulkan ada beberapa jenis manusia purba di Indonsia. Berikut adalah jenis-jenis manusia purba tersebut.
a. Meganthropus paleojavanicus
Meganthropus paleojavanicus adalah manusia praaksara yang tertua di Indonesia. Meganthropus paleojavanicus berasal dari kata-kata berikut ini.
1) Mega yang artinya adalah “besar”.
2) Anthropus yang artinya adalah “manusia”.
3) Paleo yang artinya adalah “paling tua/tertua”.
4) Javanicus yang artinya adalah “Jawa”.
Jadi, Meganthropus paleojavanicus artinya adalah “manusia bertubuh besar yang paling tua dari Pulau Jawa.”
Fosil, Meganthropus paleojavanicus pertama kali ditemukan oleh arkeolog, von Koenigswald dan Weidenreich pada kurun waktu 1936–1941 di situs Sangiran pada formasi Pucangan. Fosil yang ditemukan berupa fragmen tulang rahang atas dan bawah serta sejumlah gigi lepas. Hingga saat ini Meganthropus dikategorikan sebagai jenis manusia praaksara yang terpisah (berbeda) dari Homo erectus.
Meganthropus palaeojavanicus mempunyai bentuk paling primitif, bertubuh kekar, dan berahang besar. Gerahamnya menunjukkan ciri manusia, tetapi mendekati ciri kera. Meganthropus paleojavanicus berdasarkan umur lapisan tanah tempat ditemukan diperkirakan berusia sekitar 1 sampai dengan 2 juta tahun yang lampau. Geraham-gerahamnya menunjukkan corak-corak kemanusiaan, tetapi sebaliknya banyak pula sifat-sifat keranya. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri Meganthropus palaeojavanicus, antara lain berbadan tegap dan memiliki tonjolan tajam di belakang kepala; bertulang pipi tebal dengan tonjolan kening yang mencolok; tidak memiliki dagu; memiliki otot kunyah, gigi, dan memiliki rahang besar serta kuat; gerahamnya menunjukkan ciri manusia, tetapi mendekati ciri-ciri kera; tinggi badan sekitar 165–180 cm; volume otak berkisar 750–1350 cc; hidup pada 2 juta sampai dengan 1 juta tahun yang lalu.
b. Pithecanthropus
Fosil Pithecanthropus adalah jenis manusia praaksara yang paling banyak ditemukan di Indonesia. Pithecantropus artinya manusia kera. Fosil Pithecanthropus dengan cara stratifigrafi diketahui banyak yang berada di lapisan Pucangan dan Kabuh di daerah Mojokerto, Kedung Brubus Trinil Ngawi, Sangiran, Sambung Macan, dan di Ngandong Blora. Berdasarkan umur lapisan tanah, diperkirakan fosil Pithecanthropus berumur 30 ribu sampai dengan 2 juta tahun yang lampau. Pithecanthropus mempunyai ciri-ciri, antara lain berbadan tegap, tetapi tidak setegap Meganthropus; bertinggi badan kurang lebih 165–180 cm; tonjolan kening tebal dan melintang sepanjang pelipis; otot pengunyah tidak sekuat Meganthropus; berhidung lebar dan berdagu; diduga makanannya berupa daging binatang buruan dan tumbuhan. Pithecanthropus, artinya manusia kera. Jenis Pithecanthropus yang ditemukan di Indonesia, meliputi Pithecanthropus mojokertensis, Pithecanthropus erectus, dan Pithecanthropus soloensis.
1) Pithecanthropus mojokertensis
Pada tahun tahun 1936 telah ditemukan tengkorak anak manusia praaksara oleh Weinderich di Desa Jetis, Mojokerto. Fosil itu pun diberinya nama Pithecanthropus robustus. Adapun oleh G.H.R. von Koenigswald fosil tersebut dinamakan Pithecanthropus mojokertensis. Fosil yang ditemukan tergolong Pithecanthropus yang paling tua. Pithecanthropus mojokertensis, artinya manusia kera dari Mojokerto. Adapun ciri-ciri Pithecanthropus mojokertensis, antara lain tulang rahang dan gigi besar kuat; tidak berdagu; tinggi badan sekitar 165–170 cm; berjalan tegak; dan kening menonjol.
2) Pithecanthropus erectus
Fosil Pithecanthropus erectus ditemukan di DesaTrinil, Ngawi, Jawa Timur pada tahun 1890 oleh Eugene Dubois. Fosil yang ditemukan berupa tulang rahang, bagian atas tengkorak, geraham, dan tulang kaki. Fosil tersebut setelah diteliti dan direkonstruksi ternyata membentuk kerangka manusia yang mirip kera. Pithecanthropus erectus, artinya manusia kera yang berjalan tegak. Adapun ciri-ciri Pithecanthropus erectus meliputi berbadan tegak; tidak berdagu; tinggi badan sekitar 165–180 cm; volume otak 750–1.300 cc; kening menonjol; tulang rahang dan geraham cukup kuat; tulang tengkorak cukup tebal dan bentuknya menonjol.
3) Pithecanthropus soloensis
Fosil Pithecanthropus soloensis ditemukan oleh G.H.R von Koenigswald dan Oppenoorth di Ngandong, Blora dan Sangiran, Sragen. Penemuan fosil tersebut pada kurun waktu 1931–1933. Fosil yang ditemukan meliputi tulang tengkorak dan tulang kering. Pithecanthropus soloensis, artinya manusia kera dari Solo.
Penemuan pertama di Indonesia yang boleh dikatakan menjadi pangkal penyelidikan-penyelidikan selanjutnya adalah temuan Pithecanthropus soloensis ini. E. Dubois pada tahun 1890 berhasil menemukan fosil yang diduga sebagai Pithecanthropus soloensis di dekat Trinil, sebuah desa di pinggir Bengawan Solo, tidak jauh dari Ngawi, Jawa Timur.
c. Homo
Homo adalah jenis manusia praaksara yang telah memiliki bentuk tubuh hampir sama dengan manusia sekarang. Mereka telah mampu menggunakan akal pikiran serta memiliki sifat-sifat seperti yang dimiliki manusia sekarang.
Fosil Homo ditemukan pada lapisan Pleistosen Atas yang diduga hidup sekitar 40.000–25.000 tahun yang lalu. Fosil Homo mempunyai ciri-ciri, antara lain fisiknya sudah mirip dengan manusia sekarang; volume otak lebih berkembang dibandingkan Meganthropus dan Pithecanthropus; alat pengunyah, rahang, gigi, dan otot tengkuk sudah menyusut; tinggi badan berkisar 130 cm–210 cm; tonjolan kening sudah berkurang dan berdagu; mempunyai ciri ras Mongoloid dan Austromelanosoid. Fosil Homo yang ditemukan di wilayah Indonesia meliputi Homo wajakensis, Homo soloensis, dan Homo floresiensis.
1) Homo wajakensis
Pada tahun 1889 G.H.R. von Koenigswald menemukan fosil yang berupa ruas tulang leher dan tengkorak di Wajak, Tulungagung, Jawa Timur. Temuan ini kemudian diselidiki oleh Eugene Dubois. Pada tahun 1890 Eugene Dubois menemukan fosil berupa tengkorak, rahang atas dan bawah, tulang kering, dan tulang paha di lokasi yang sama ketika ditemukan von Koenigswald.
Fosil manusia praaksara tersebut kemudian dinamakan Homo wajakensis, artinya manusia dari Wajak. Homo wajakensis lebih tinggi tingkatannya daripada Pithecanthropus erectus. Manusia praaksara jenis Homo wajakensis diduga sudah mampu membuat peralatan dari batu dan tulang yang telah halus hasilnya. Mereka juga diduga telah mengenal cara mengolah makanan.
2) Homo soloensis
Fosil jenis Homo soloensis ditemukan pada sekitar tahun 1931–1934 oleh Ter Haar dan Oppenoorth di Ngandong, Blora, Jawa Tengah pada lembah Sungai Bengawan Solo. Fosil-fosil itu kemudian diselidiki oleh G.H.R. von Koenigswald. Fosil yang ditemukan berupa tulang tengkorak. Dari volume otaknya dapat diketahui bahwa fosil yang ditemukan sudah termasuk jenis manusia (Homo) bukan lagi manusia kera (Pithecanthropus). Simpulannya bahwa manusia praaksara tersebut lebih tinggi tingkatannya daripada Pithecanthropus erectus. Manusia praaksara itu kemudian diberi nama Homo soloensis.
**illustrasi manusia purba
3) Homo floresiensis
Homo floresiensis, ditemukan saat penggalian di Liang Bua, Flores oleh tim arkeologi gabungan dari Puslitbang Arkeologi Nasional, Indonesia dan University of New England, Australia pada tahun 2003. Tokoh yang melakukan penggalian adalah Pieter Brown dan Verhoven. Saat dilakukan penggalian pada kedalaman lima meter, ditemukan kerangka mirip manusia yang belum membatu (belum menjadi fosil) dengan ukurannya yang sangat kerdil. Manusia kerdil dari Flores ini diperkirakan hidup antara 94.000 dan 13.000 tahun SM. Homo floresiensis memiliki ciri sebagai berikut.
a) Tengkorak yang panjang dan rendah.
b) Berukuran kecil.
c) Volume otak 380 cc.

D. Perkembangan Teknologi
Perkembangan kebudayaan manusia purba seiring dengan corak hidupnya. Pembuatan alat-alat dari batu, kayu, tulang, dan tanduk merupakan kegiatan tersendiri yang makin lama makin menuju kepada penyempurnaan bentuk dan fungsi alat-alat tersebut.
a. Masa Berburu dan Meramu
pada masa ini manusia purba menggunakan alat yang dibuat secara kasar. Pada masa ini manusia purba hanya memepertahankan diri agar tetap hidup. Berikut merupakan alat-alat yang dihasilkan pada masa berburu dan meramu.
1) Kapak Perimbas
Kapak perimbas adalah sebuah alat dari batu yang bentuk seperti kapak. Cara pembuatannya masih kasar dan belum diasah. Kapak perimbas digunakan dengan cara digenggam karena tidak memiliki tangkai. Wilayah Nusantara tempat penemuan kapak perimbas, antara lain Pacitan (Jawa Timur), Sukabumi (Jawa Barat), Bengkulu, Lahat Sumatra, Bali, Flores, dan Timor.
2) Kapak Penetak
Kapak penetak memiliki bentuk yang hampir sama dengan kapak perimbas. Hanya saja yang membedakan, bentuk kapak penetak lebih besar daripada kapak perimbas. Cara pembuatan kapak penetak juga masih kasar. Kapak penetak digunakan untuk menebang pohon, membelah kayu, atau untuk memotong benda lainnya. Wilayah persebaran kapak penetak hampir di seluruh Nusantara.
3) Kapak Genggam
Bentuk kapak genggam hampir sama dengan kapak perimbas dan kapak penetak. Bentuk kapak genggam lebih kecil dibandingkan kapak perimbas dan dan kapak penetak. Kapak genggam dibuat sangat sederhana dan belum diasah. Cara menggunakannya dengan menggenggamnya pada bagian ujungnya yang lebih kecil. Wilayah penemuan kapak genggam juga hampir di seluruh Nusantara.
4) Pahat Genggam
Bentuk pahat genggam lebih kecil dibandingkan kapak genggam. Alat ini diduga berfungsi untuk menggali tanah tanah guna mencari umbi-umbian. Pada masa Berburu dan Meramu jenis manusia yang hidup, antara lain Meganthropus paleojavanicus, Pithecanthropus, dan Homo wajakensis.
b. Berburu dan Meramu tingkat lanjut
Berdasarkan bentuk dan bahan dari peralatan hidup di zaman ini, DR. P.V. van Stein Callenfels membagi kebudayaan Mesolithikum di Indonesia menjadi tiga corak, yaitu pebble culture (hasil kebudayaan berupa kapak genggam), bone culture (hasil kebudayaan berupa tulang), dan flake culture (hasil kebudayaan berupa alat serpih bilah).
1) Kapak Genggam Sumatralith (pebble culture)
Cara pembuatan kapak genggam sumateralith lebih halus daripada kapak perimbas. Kapak genggam sumateralit sesui namanya cara menggunakannya dengan digenggam karena tidak bertangkai. Pada kapak genggam sumateralith bagian yang tajam ada pada kedua sisinya. Kapak genggam sumateralith banyak ditemukan di wilayah Lhokseumawe (Aceh) dan Binjai (Sumatra Utara).
2) Alat Serpih (Flakes)
Alat serpih diduga merupakan batu pecahan sisa pembuatan kapak genggam yang dibentuk menjadi tajam. Alat serpih umumnya digunakan sebagai serut, gurdi, penusuk, dan pisau.
Alat serpih banyak ditemukan di Sangiran, Ngandong, Gombong (Jawa Tengah), Punung (Jawa Timur), Lahat (Sumatera), Cabbenge (Sulawesi Selatan), dan Mengeruda (Flores).
3) Alat-Alat dari Tulang (Bone Culture)
Alat-alat dari tulang dibuat dari tulang binatang buruan. Peralatan yang dapat dibuat dari tulang, antara lain pisau, belati, mata tombak, dan mata panah. Peralatan dari tulang banyak ditemukan di daerah Ngandong, Blora, Jawa Tengah.
4) Mata Panah
Mata panah merupakan salah satu peralatan berburu yang sangat penting. Fungsi lain dari mata panah adalah sebagai alat untuk menangkap ikan. Untuk menangkap ikan maka mata panah dibuat bergerigi. Mata panah yang pernah ditemukan selain terbuat dari batu juga dibuat dari tulang. Wilayah penemuan mata panah, antara lain di Gua Lawa, Gua Gede, Gua Petpuruh (Jawa Timur), Gua Cakondo, Gua Tomatoa Kacicang, dan Gua Saripa (Sulawesi Selatan).
Selain peninggalan di atas. Pada masa ini juga meninggalkan kebudayaan yang berada di lingkungan pantai dan gua.
1) Peninggalan di Pantai
Salah satu bukti adanya kehidupan manusia pada masa Prasejarah adalah ditemukannya kjokkenmoddinger suatu istilah yang berasal dari bahasa Denmark (kjokken = dapur, modding = sampah). Secara harfiah kjokkenmoddinger diartikan sebagai sampah-sampah dapur.
Kjokkenmoddinger banyak ditemukan di daerah tepi pantai. Adanya kjokkenmoddinger menunjukkan telah adanya penduduk pantai yang tinggal dalam rumah-rumah yang bertonggak.
Ditemukannya kjokkenmoddinger menunjukkan manusia purba hidupnya tergantung dari hasil-hasil laut, seperti siput dan kerang. Cara memakan siput itu dengan dipatahkan ujungnya, kemudian dihisap isi bagian kepalanya. Kulit-kulit siput itu tidak dimakan dan dibuang. Kulit-kulit siput dan kerang yang dibuang itu menumpuk selama ratusan atau ribuan tahun dan menjadi bukit kerang. Bukit-bukit inilah yang dinamakan kjokkenmoddinger.
Kjokkenmoddinger banyak ditemukannya di sepanjang pantai Sumatra timur laut, antara Aceh, Langsa, dan Medan. Pada kjokkenmoddinger itu ditemukan juga kapak genggam (pebble).

2) Peninggalan di gua
Abris sous roches merupakan gua-gua yang menyerupai ceruk-ceruk di dalam batu karang. Gua tersebut berfungsi untuk memberikan perlindungan kepada manusia Praaksara dari hujan dan panas. Alat-alat yang juga ditemukan di abris sous roches di antaranya alat-alat dari batu berupa ujung panah dan flakes, batu-batu penggiling, kapak-kapak yang sudah diasah, alat-alat dari tulang dan tanduk rusa, dan alat-alat dari logam (perunggu dan besi). Tulang belulang manusia pun ditemukan (jenis Papua-Melanesoid) dan binatang.
Abris sous roches banyak ditemukan di Gua Lawa dekat Sampung (Ponorogo, Madiun), Bojonegoro, dan Lamoncong (Sulawesi Selatan). Para peneliti yang mengadakan penelitian tentang hal ini, yaitu Stein Callenfels di Gua Lawa, van Heekeren di daerah Basuki, dan Fritz Sarasain dan Paul Sarasin di Lamoncong.
c. Masa Bermukim dan Berladang
Ciri kehidupan masa Bermukim dan Berladang peralatannya dari batu sudah diasah sampai halus dan berbentuk indah. Alat itu salah satu di antaranya digunakan untuk menebang pohon yang lahannya digunakan untuk bercocok tanam.
Peninggalan peralatan dari masa Bermukim dan Berladang, sebagai berikut.
1) Kapak Persegi atau Beliung Persegi
Kapak persegi terbuat dari batu persegi yang digunakan untuk mengolah kayu, mengolah tanah, dan sebagai alat upacara. Kapak persegi banyak ditemukan di Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Nusa Tenggara.
2) Kapak Lonjong
Kapak lonjong penampangnya berbentuk lonjong. Kapak lonjong ada yang berukuran besar dan ada pula yang berukuran kecil. Kapak lonjong biasanya digunakan sebagai cangkul dan kapak biasa. Kapak lonjong banyak ditemukan di Maluku, Papua, dan Sulawesi Utara.
3) Mata Panah
Mata panah umumnya digunakan untuk berburu dan masih digunakan sampai sekarang oleh masyarakat di Papua.
4) Gerabah
Gerabah adalah barang pecah belah yang terbuat dari tanah liat yang dibakar. Fungsi gerabah umumnya sebagai alat memasak dan peralatan untuk upacara.
d. Masa Perundagian
Pada masa perundagian muncul golongan yang ahli dalam membuat barang dari batu besar. Mereka memahat dan menyusun batu-batu besar menjadi dolmen, sarkofagus, punden berundak, waruga, dan menhir. Bangunan-bangunan besar tersebut berkaitan dengan sistem kepercayaan yang berkembang pesa pada masa itu.
1) Menhir
Menhir adalah tiang atau tugu batu. Bentuk menhir ada yang sudah dipahat halus dan ada juga yang masih kasar seperti aslinya. Fungsi menhir untuk menghormati roh nenek moyang atau sebagi tanda peringatan orang yang telah mati. Menhir banyak ditemukan di Sumatra Selatan, Sulawesi Tengah, dan Kalimantan.
2) Dolmen
Dolmen wujudnya berupa meja batu yang terdiri atas meja besar yang ditopang oleh beberapa batu lain yang lebih kecil. Fungsi dolmen sebagai tempat meletakkan sesajen untuk menghormati roh nenek moyang. Dolmen banyak ditemukan di Jawa Timur dan Sumatra Selatan.
3) Kubur Batu
Kubur batu adalah kotak yang tersusun atas empat lempengan batu besar atau lebih yang digunakan sebagai tempat mayat. Kubur batu umumnya letaknya di dalam tanah karena sebagai tempat mayat. Kubur batu banyak ditemukan di Nusantara terutama di Jawa Barat dan Sumatra Tengah.
4) Sarkofagus
Sarkofagus adalah tempat mayat yang terbuat dari dua buah batu besar mirip lesung. Batu yang satu sebagai wadah dan batu lainnya sebagai tutup. Sarkofagus banyak ditemukan di Bali. Sarkofagus yang berada di Bali sampai saat ini masih dikeramatkan karena dianggap mempunyai kekuatan gaib.
5) Waruga
Waruga adalah kubur batu berukuran kecil yang berbentuk kubus atau bulat. Waruga pada umumnya dibuat dari batu utuh dengan tutup bebentuk atap rumah. Waruga banyak ditemukan di Nusantara terutama di daerah Sulawesi Tengah dan Sulawesi Utara.
6) Punden Berundak
Punden berundak terbuat dari kepingan batu yang disusun bertingkat-tingkat. Punden berundak berfungsi sebagai tempat pemujaan roh nenek moyang. Bangunan punden berundak banyak ditemukan di daerah Lebak Si Beduk (Banten Selatan).
Pada masa ini terdapat golongan perajin. Para perajin tersebut sangat mahir membuat peralatan yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari dari bahan logam. Oleh karena itu, masa kehidupan ini pun dapat juga disebut sebagai zaman Logam. Zaman Logam yang dialami manusia purba yang hidup di Indonesia terdiri atas zaman Perunggu dan zaman Besi.
1) Zaman Perunggu
Pada saat itu manusia sudah mengenal logam campuran tembaga dan timah yang disebut perunggu. Alat-alat pada masa itu yang terbuat dari perunggu, misalnya nekara, moko, kapak perunggu, bejana perunggu, perhiasan perunggu, dan arca perunggu.
a) Nekara
Nekara adalah alat semacam tambur besar yang berbentuk seperti dandang terbalik atau ditelungkupkan. Nekara banyak ditemukan di Sumatra, Jawa, Bali, Pulau Sumbawa, Pulau Roti, Pulau Leti, Pulau Selayar, Kepulauan Kei, dan Papua. Nekara ini dianggap barang suci, yang hanya dipergunakan waktu upacara-upacara saja, yaitu dengan cara ditabuh untuk memanggil arwah atau roh nenek moyang.
b) Moko
Moko adalah nekara yang berukuran kecil. Moko diduga banyak dibawa pedagang Bugis dari daerah Gresik. Mereka kemudian membawa moko ke daerahnya sendiri serta ke Flores dan Alor.
c) Kapak Perunggu
Kapak perunggu pada mulanya bentuknya hampir sama dengan kapak batu. Akan tetapi, lama-kelamaan mengalami perubahan, ada yang berbentuk sepatu (kapak sepatu) dan ada yang berbentuk orang (kapak corong). Kapak sepatu dan kapak corong banyak ditemukan di daerah Sumatra, Jawa, Bali, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, dan di sekitar Danau Sentani Papua.
d) Bejana Perunggu
Bejana perunggu berbentuk mirip keranjang yang diikatkan di badan para pencari ikan sebagai tempat ikan hasil tangkapan. Bejana perunggu bentuk badannya ada yang polos dan ada pula yang dihias dengan pola huruf. Bejana perunggu banyak ditemukan di Madura dan Sumatra.
(gbr. Bejana Perunggu)
e) Perhiasan Perunggu
Banyak jenis perhiasan dari perunggu, misalnya gelang tangan, gelang kaki, cincin, serta kalung dengan bandulnya. Pada umumnya, perhiasan perunggu ada pola hiasnya. Perhiasan perunggu banyak ditemukan di daerah Bogor, Malang, Bali, dan Sumatra Selatan.
f) Arca Perunggu
Arca perunggu ada yang berbentuk orang dan ada pula yang berbentuk binatang. Arca tersebut banyak ditemukan di Bangkinang (Riau), Lumajang, dan Bogor.
2). Zaman Besi
Zaman Besi merupakan zaman terakhir dari masa Praaksara. Pada zaman Besi, manusia telah mampu melebur besi dari bijihnya dan mencetaknya sesuai kebutuhan. Benda-benda dari besi sering ditemukan sebagai bekal kubur.
Benda-benda yang ditemukan pada zaman Besi tidak begitu banyak karena mungkin alat-alat tersebut telah berkarat sehingga hancur. Alat-alat tersebut antara lain kapak, sabit, pisau, cangkul, pedang, tongkat, dan tembilang. Daerah ditemukan alat-alat ini adalah Bogor, Wanasari, Ponorogo, dan Besuki. Zaman Besi menandakan zaman terakhir dari zaman Praaksara.
Benda-benda dari besi hasil peninggalan zaman Besi sangat jarang ditemukan. Hal ini disebabkan alat-alat dari besi mudah hancur. Benda-benda dari besi yang ditemukan, misalnya mata kapak, sabit, pisau, cangkul, dan mata tombak yang ditemukan di Gunung Kidul (Yogyakarta), Bogor, Besuki, dan Punung (Jawa Timur).
Teknik pembuatan alat yang terbuat dari logam ada dua cara, yaitu sebagai berikut.
a) Teknik Bivalve
Dalam teknik yang pertama, yaitu dengan cara menggunakan cetakan-cetakan batu yang dapat dipergunakan berulang kali. Cetakan terdiri atas dua bagian yang diikat ke dalam rongga dalam cetakan dituangkan bijih besi yang sudah cair. Kemudian, cetakan itu dibuka setelah logamnya mengering.
b) Teknik a Cire Perdue
Proses pencetakan cara ini, yaitu dengan membuat model benda dari lilin. Model benda dari lilin ini kemudian ditutup dengan tanah liat sampai tidak terlihat bentuknya.
Setelah tertutup seluruhnya dengan menyisakan lubang kecil di ujungnya, tanah liat itu dibakar. Lilin akan mencair dan keluar dari lubang yang telah dibuat. Karena lilin mencair, tanah liat itu berongga. Bentuk rongga itu akan sama persis dengan bentuk lilin yang telah cair. Tanah liat yang berongga kemudian diisi dengan cairan logam melalui lubang kecil. Setelah cairan logam dingin, cetakan tanah liat dipecah. Keluarlah bentuk benda mirip dengan model benda yang terbuat dari lilin tadi.
E. Pola Hunian dan Dikenalnya Api
Hal pertama yang dibutuhkan manusia untuk bertahan hidup adalah makanan dan air. Dimana ada air di situ tanahnya subur dan terdapat banyak makanan. Di daerah sumber air juga akan banyak di datangani oleh hewan dan di air terdapat ikan. Hal inilah yang menjadi dasar utama bahwa manusia purba hidup berada di dekat sungai atau sumber air lainnya. Keberadaan air juga dapat dijadikan sarana penghubung atau transportasi untuk dapat melakukan mobilitas dari satu tempat ke tempat lainnya. Selain itu mereka juga memanfaatkan gua-gua disekitar aliran air sungai untuk dijadikan tempat tinggal.
Hal tersebut di atas diperkuat dengan penemuan barang-barang dan sisa-sisa peralatan yang banyak ditemukan di sekitar sungai. Dalam buku Indonesia dalam Arus Sejarah, Jilid I diterangkan pola hunian manusia purba yang memperlihatkan dua karakter hunian purba, yaitu 1) Kedekatan dengan sumber air, dan 2) hidup di alam terbuka.
Ketika persediaan makanan di daerah yang mereka huni menipis, manusia purba segera berpindah tempat mencari daerah yang memiliki banyak sumber makanan. Pola tersebut terus berlangsung hingga manusia purba menemukan cara bercocok tanam. Setelah bercocol tanam mereka mulai hidup menetap. Selain bercocok tanam manusia purba juga mulai memilihara dan menernakan binatang.
Pola hidup menetap juga ditunjang dengan penemuan api. Berdasarkan penelitian arkeologi api ditemukan pada 400.000 tahun yang lalu. Penemuan api dilakukan oleh manusia purba jenis Homo erectus. Penemuan api merupakan inovasi penting. Api memiliki banyak manfaat, yaitu untuk memasak makanan, menghalau binatang, penghangat badan, dan penerangan. Api juga digunakan untuk menaklukkan alam, yaitu dengan membuka lahan untuk dibuat sebagai lahan garapan dengan cara membakarnya. Pertama hutan ditebangi kemudian dibakar, metode ini dikenal dengan slash and burn.
Pembuatan api dilakukan dengan menggesekkan atau membenturkan benda padat dengan benda padat. Benda padat yang digunakan untuk membuat api adalah kayu kering dan batu api. Batu api dibenturkan akan menimbulkan percikan sedangkan kayu kering digesekkan akan menimbulkan panas, percikan api atau panas dikenakan pada rumput atau daun kering kemudian ditiup sehingga api membesar dan daun terbakar. Setelah cukup besar kayu kering kemudian ditaruh pada api.

F. Perkembangan Kehidupan Manusia Purba
Kehidupan manusia pada zaman Praaksara senantiasa mengalami perubahan dan perkembangan. Dari semula yang bersifat sederhana, kemudian berubah menjadi lebih maju.
1. Corak Kehidupan Secara Umum
Corak kehidupan manusia praaksara secara umum dapat dibedakan seperti berikut.
a. Pola Kehidupan Nomaden
Nomaden artinya berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Kehidupan masyarakat praaksara sangat bergantung kepada alam. Bahkan, kehidupan mereka tidak ubahnya seperti kelompok hewan karena bergantung pada apa yang disediakan alam. Apa yang mereka makan adalah bahan makanan apa yang disediakan alam. Buah-buahan, umbi-umbian, atau dedaunan yang mereka makan tinggal memetik dari pepohonan atau menggali dari tanah. Mereka tidak pernah menanam atau mengolah pertanian.
Berdasarkan pola kehidupan nomaden tersebut maka masa kehidupan masyarakat praaksara sering disebut sebagai ‘masa mengumpulkan bahan makanan dan berburu. Jika bahan makanan yang akan dikumpulkan telah habis, mereka kemudian berpindah ke tempat lain yang banyak menyediakan bahan makanan. Di samping itu, tujuan perpindahan mereka adalah untuk menangkap binatang buruannya.
Pada masa nomaden, masyarakat praaksara telah mengenal kehidupan berkelompok. Jumlah anggota dari setiap kelompok sekitar 10–15 orang. Bahkan, untuk mempermudah hidup dan kehidupannya, mereka telah mampu membuat alat-alat perlengkapan dari batu dan kayu, meskipun bentuknya masih sangat kasar dan sederhana. Ciri-ciri kehidupan masyarakat nomaden yaitu selalu berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain; sangat bergantung pada alam; belum mengolah bahan makanan; hidup dari hasil mengumpulkan bahan makanan dan berburu; belum memiliki tempat tinggal yang tetap; peralatan hidup masih sangat sederhana dan terbuat dari batu atau kayu.
b. Pola Kehidupan Seminomaden
Terbatasnya kemampuan alam untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat menuntut setiap manusia untuk mengubah pola kehidupannya. Oleh karena itu, masyarakat praaksara mulai mengubah pola hidup secara nomaden menjadi seminomaden. Kehidupan seminomaden adalah pola kehidupan yang berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain, tetapi sudah disertai dengan kehidupan menetap sementara. Hal ini berkaitan dengan kenyataan bahwa mereka sudah mulai mengenal cara-cara mengolah bahan makanan. Pola kehidupan seminomaden ditandai dengan ciri-ciri, antara lain masih berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain; masih bergantung pada alam; mulai mengenal cara-cara mengolah bahan makanan; telah memiliki tempat tinggal sementara; mulai menanam berbagai jenis tanaman; telah menanam berbagai jenis tanaman dan akan kembali ke tempat itu ketika musim panen tiba; peralatan hidupnya sudah lebih baik dibandingkan dengan peralatan hidup masyarakat nomaden; peralatan hidup selain terbuat dari batu dan kayu juga masih terbuat dari tulang namun lebih tajam dan halus.
c. Pola Kehidupan Menetap
Pola kehidupan menetap memiliki beberapa keuntungan atau kelebihan, di antaranya sebagai berikut.
1) Setiap keluarga dapat membangun tempat tinggal yang lebih baik untuk waktu yang lebih lama.
2) Setiap orang dapat menghemat tenaga karena tidak harus membawa peralatan hidup dari satu tempat ke tempat lain.
3) Para wanita dan anak-anak dapat tinggal lebih lama di rumah dan tidak akan merepotkan.
4) wanita dan anak-anak sangat merepotkan, apabila mereka harus berpindah dari satu tempat ke tempat lain.
5) Mereka dapat menyimpan sisa-sisa makanan dengan lebih baik dan aman.
6) Mereka dapat memelihara ternak sehingga mempermudah pemenuhan kebutuhan, terutama apabila cuaca sedang tidak baik.
7) Mereka memiliki waktu yang lebih banyak untuk berkumpul dengan keluarga, sekaligus menghasilkan kebudayaan yang bermanfaat bagi hidup dan kehidupannya.
8) Mereka mulai mengenal sistem astronomi untuk kepentingan bercocok tanam.
9) Mereka mulai mengenal sistem kepercayaan.
Dilihat dari aspek geografis, masyarakat zaman Praaksara cenderung untuk hidup di daerah lembah atau sekitar sungai dari pada di daerah pegunungan. Kecenderungan itu didasarkan pada beberapa kenyataan seperti berikut.
1) Memiliki struktur tanah yang lebih subur dan sangat menguntungkan bagi kepentingan bercocok tanam.
2) Memiliki sumber air yang baik sebagai salah satu kebutuhan hidup manusia.
3) Lebih mudah dijangkau dan memiliki akses ke daerah lain yang lebih mudah.
2. Aspek Kehidupan Ekonomi dan Sosial dalam Setiap Corak Kehidupan Masyarakat pada Masa Praaksara
Dalam setiap masa kehidupan manusia pada zaman Prasejarah atau zaman Praaksara terdapat ciri khas, misalnya dalam bidang ekonomi, sosial, dan budaya seperti berikut.
a. Kehidupan Ekonomi
Kehidupan ekonomi masyarakat prasejarah yang dimaksud adalah upaya untuk memenuhi kebutuhan dan kesejahteraan.
1) Masa Berburu dan Mengumpulkan Makanan (Tingkat Sederhana dan Lanjut)
Ciri-ciri kehidupan ekonomi pada masa Berburu dan Meramu Tingkat Sederhana, misalnya sebagai berikut.
a) Kebutuhan bahan makanan diperoleh dengan cara berburu dan mengumpulkan makanan dari alam (food gathering).Pada masa ini, kehidupan manusia hanya terpusat pada upaya mempertahankan diri di tengah-tengah alam yang penuh tantangan dengan kemampuannya yang masih sangat terbatas. Kegiatan pokoknya adalah berburu dan mengumpulkan makanan, dengan peralatan dari batu, kayu, dan tulang. Kehidupan manusia masih sangat tergantung pada alam lingkungan sekitarnya.
b) Untuk tempat tinggal, masyarakat prasejarah memenuhinya dengan cara membuat tempat berlindung dari daun-daunan. Selanjutnya, mereka memanfaatkan gua-gua yang terbentuk oleh alam untuk tempat tinggal. Gua-gua itu letaknya dekat dengan sumber air atau sumber makanan. Mereka akan meninggalkan tempat itu apabila dirasa alam sudah tidak menyediakan makanan lagi bagi kehidupannya. Mereka yang tinggal di gua-gua (abris sous rusche) dipinggir pantai akan memakan ikan, kerang, dan siput. Itu sebabnya di dekat tempat tinggal mereka dapat dijumpai dapur sampah yang berupa kulit kerang dan siput (kjokkenmaddinger).
2) Masa Bercocok Tanam
Ciri-ciri kehidupan ekonomi pada masa Bercocok Tanam sebagai berikut.
a) Kebutuhan bahan makan dipenuhi dengan cara bercocok tanam dan beternak (food producing) berusaha menghasilkan sendiri sumber bahan makanan). Bentuk pertama dalam bercocok tanam adalah dengan cara berhuma atau berladang. Kehidupan bercocok tanam yang pertama kali dikenal manusia adalah berhuma. Teknik pertanian berhuma adalah cara bercocok tanam dengan cara membersihkan hutan terlebih dahulu, selanjutnya baru ditanami. Setelah beberapa kali melakukan penanaman dan pemanenan jika tanah dirasakan sudah tidak subur lagi maka mereka membuka lahan baru. Cara yang dilakukan sama dengan cara di awal mereka membuka lahan. Mereka akan menebang hutan dan semak belukar untuk ditanami keladi, ubi, sukun, durian, duku, salak, dan tanaman lainnya. Mereka juga berupaya memenuhi kebutuhannya dengan cara beternak. Adapun binatang yang telah diternakkan, misalnya ayam, kerbau, babi, dan anjing. Walaupun kehidupan beternak telah dimulai, kebiasaan berburu masih saja tetap mereka lakukan.
b) Kebutuhan tempat tinggal dipenuhi dengan membuat tempat tempat tinggal sederhana dan kecil dengan beratapkan daun-daunan. Rumah dibangun dengan bertiang di beberapa sisi. Tujuannya untuk menghindarkan bahaya banjir dan serangan binatang buas. Pada perkembangannya, besar rumah disesuaikan dengan jumlah anggota keluarga. Rumah-rumah yang dibangun umumnya juga berdekatan dengan tempat mereka bercocok tanam.
c) Perdagangan dengan cara barter (saling bertukar barang sesuai dengan kebutuhan) juga mulai berkembang. Sementara itu, perahu dan rakit memegang peranan penting dalam transportasi untuk perdagangan.
3) Masa Perundagian
Ciri-ciri kehidupan ekonomi pada masa Perundagian sebagai berikut.
a) Kebutuhan bahan makan dipenuhi dari bercocok tanam di sawah dan beternak. Mereka sudah mulai mengenal sistem pengaturan air (irigasi) untuk keperluan bersawah dengan tanpa harus bergantung terus kepada alam (hujan). Adapun dalam beternak, binatang yang diternakkan makin beragam, misalnya kuda dan beragam unggas.
b) Teknik pembuatan rumah makin maju dan beragam daerah yang menjadi tempat tinggalnya. Lingkungan tempat tinggal mulai teratur sehingga membentuk sebuah pedesaan.
c) Sistem barter masih berlangsung dengan beragam barang yang dipertukarkan. Jangkauan sitem barter dalam memenuhi kebutuhan lebih jauh lagi, yaitu antarpulau.
b. Kehidupan Sosial
Kehidupan sosial masyarakat prasejarah tampak dalam kegiatan mengatur masyarakat.
1) Masa Berburu dan Mengumpulkan Makanan (Tingkat Sederhana dan Lanjut)
Pada masa Berburu dan Mengumpulkan Makanan (Tingkat Sederhana dan Lanjut), kelompok-kelompok manusia praaksara sering berpindah-pindah tempat (nomaden). Kehidupan yang demikian mengakibatkan hal-hal sebagai berikut.
a) Masyarakat tersusun atas kelompok berburu dan terdapat pembagian kerja. Misalnya saja, kaum laki-laki bertugas melakukan perburuan. Adapun kaum perempuan bertugas mengumpulkan makanan, mengurus anak-anak, dan memilih bibit tanaman yang berkualitas untuk ditanam.
b) Mereka mulai mengenal bahasa untuk berkomunikasi, walaupun masih sangat sederhana.
2) Masa Bercocok Tanam
a) Masyarakat tersusun atas kelompok-kelompok tani. Kehidupan gotong royong mulai dikenal, misalnya saat bercocok tanam dan memanen hasil. Kehidupan gotong royong juga dilaksanakan pada saat membangun rumah.
b) Pembagian kerja makin jelas. Laki-laki mengerjakan segala sesuatu yang berkaitan dengan tenaga (membutuhkan tenaga besar), misalnya membuka hutan, menyiapkan ladang, dan membangun rumah. Adapun pekerjaan yang dilakukan kaum perempuan, misalnya menabur benih, merawat rumah, dan mengurus anak.
c) Muncul seorang pemimpin di antara kelompok masyarakat. Orang yang dipilih sebagai pemimpin biasanya adalah orang yang dituakan dan mempunyai wibawa. Keberadaan pemimpin ini sangat penting untuk menegakkan aturan yang mulai muncul dan memimpin pelaksanaan gotong royong.
d) Terjadi perkembangan bahasa karena kehidupan dalam masyaraat yang makin beragam.
3) Masa Perundagian
Pada masa Perundagian, jumlah warga makin banyak sehingga kehidupan perlu diatur sedemikian rupa sehingga masyarakat lebih tertib dan teratur.
a) Di tengah-tengah masyarakat telah muncul beragam kelompok masyarakat. Keragaman kelompok yang ada di masyarakat itu, misalnya adanya kelompok petani, kelompok pedagang, dan kelompok tukang (undagi: tukang/perajin).
b) Beragamnya pekerjaan yang muncul di masyarakat dengan sendirinya menyebabkan pembagian kerja yang muncul makin tegas. Itu artinya masyarakat hanya bekerja di bidang keahliannya tidak seperti masa sebelumnya.
c) Makin tegasnya pembagian kerja yang terjadi menyebabkan terjadinya perbedaan status sosial. Seseorang akan diperlakukan sesuai dengan status sosial yang dimiliki. Hal itu dikenal sebagai primus interpares, yaitu pemimpin kelompok masyarakat manusia praaksara. Pemimpin ini diangkat oleh anggota kelompok dan bertugas mengatur segala aturan hidup di lingkungan kelompoknya. Pemimpin kelompok dipilih berdasarkan kekuatan fisik, kesaktian, dan kewibawaan seseorang dalam kelompok masyarakat. Dengan demikian, seorang pemimpin kelompok masyarakat akan mendapat perlakuan yang berbeda dengan pemimpin upacara kepercayaan.

G. Sistem Kepercayaan
Sistem kepercayaan mulai muncul pada zaman Neolitikum. Dari penggalian para arkeolog banyak ditemukan jenasah yang dikubur berasama dengan perhiasan dan karya seni. Adri hal tersebut disimpulkan bahwa manusia purba telah percaya akan adanya kehidupan setelah mati. Setelah mati mereka akan tetap dihormati oleh kerabat yang masih hidup.
Sistem kepercayaan kemudian berkembang pesat pada masa perundagian. Sistem kepercayaan yang tidak jauh berbeda dengan masa sebelumnya. Praktik kepercayaan yang mereka lakukan masih berupa pemujaan terhadap leluhur. Hal yang membedakannya adalah alat yang digunakan untuk praktik kepercayaan. Pada masa perundagian, benda-benda yang digunakan untuk praktik kepercayaan biasanya terbuat dari bahan perunggu sedangkan sebelumnya dari batu ataupun tanah liat. Sistem kepercayaan yang dilakukan oleh manusia pada zaman Perundagian masih memelihara hubungan dengan orang yang meninggal. Pada masa ini, praktik penguburan menunjukkan stratifikasi sosial orang yang terpandang dengan rakyat biasa. Kuburan orang-orang terpandang selalu dibekali dengan barang-barang yang mewah dan upacara yang dilakukan dengan cara diarak oleh orang banyak. Sebaliknya, apabila yang meninggal orang biasa, upacaranya sederhana dan kuburan mereka tanpa dibekali dengan barang-barang mewah.
Upacara sebagai bentuk ritual kepercayaan mengalami perkembangan. Mereka melakukan upacara tidak hanya berkaitan dengan leluhur, tetapi berkaitan dengan mata pencaharian hidup yang mereka lakukan. Misalnya, ada upacara khusus yang dilakukan oleh masyarakat pantai, khususnya para nelayan. Upacara yang dilakukan oleh masyarakat pantai ini, yaitu menyembah kekuatan yang dianggap sebagai penguasa pantai. Penguasa inilah yang mereka anggap memberikan kemakmuran kehidupannya. Sementara itu, di pedalaman ada upacara persembahan kepada kekuatan yang dianggap sebagai pemberi berkah terhadap hasil pertanian. Hukuman terhadap pelanggaran dari sistem kepercayaan itu mulai dilaksanakan. Pada masa Perundagian, manusia sudah mengenal sistem kepercayaan yang disebut animisme dan dinamisme.
1. Animisme
Animisme adalah suatu sistem kepercayaan yang menyatakan bahwa roh (jiwa) itu tidak hanya berada pada makhluk hidup saja, namun roh ada juga pada benda-benda tertentu. Roh-roh itu karena ada yang baik dan ada pula yang jahat agar hidup selaras dan tidak saling mengganggu perlu diberi sesajen.
2. Dinamisme
Dinamisme adalah suatu kepercayaan bahwa segala sesuatu mempunyai tenaga atau kekuatan yang dapat memengaruhi keberhasilan atau kegagalan usaha manusia dalam mempertahankan hidup.
Sebagai sarana untuk menghormati berbagai macam roh dan kekuatan gaib lainnya maka manusia membuat bangunan untuk memujanya. Oleh karena itu, berkembang bangunan dari batu besar (Megalithikum) sehingga muncul kebudayaan Megalithikum. Batu-batu besar menjadi lambang perlindungan bagi manusia yang berbudi luhur yang memberi peringatan bahwa kebaikan kehidupan di akhirat hanya dapat dicapai dengan perbuatan baik selama hidup di dunia. Bangunan itu biasanya dibuat dari batu inti utuh yang kemudian dibentuk dan dipahat. Hasil dari kepercayan tersebut akhirnya melahirkan tradisi megalitik seperti menhir, dolmen, punden berundak, dan sarkofogus.

H. Kedatangan Bangsa Deutero dan Protomelayu
Penduduk awal yang menempati wilayah Kepulauan Indonesia dan kelak menjadi nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari luar Kepulauan Indonesia. Hal yang menjadi pertanyaan sekarang adalah apakah wilayah Kepulauan Indonesia pada saat itu masih kosong ataukah sudah ada penghuninya? Bagaimana mereka yang dikenal sebagai nenek moyang bangsa Indonesia datang ke wilayah Kepulauan Indonesia? Berapa kali mereka datang ke Kepulauan Indonesia? Jalur mana saja yang mereka gunakan untuk mencapai wilayah Kepulauan Indonesia? Alat transportasi apa yang mereka gunakan untuk mencapai wilayah Indonesia? Berikut ini bersama-sama kita akan mempelajarinya.
1. Persebaran Ras Manusia Awal di Kepulauan Indonesia
Sebelum bangsa Melayu Austronesia masuk ke Indonesia, di wilayah Indonesia ternyata telah dihuni oleh sekelompok manusia. Mereka disebut dengan ras Weddoid dan ras Negrito. Ras Negrito diperkirakan datang dari Afrika. Namun, sebelum kedatangan ras Negroid dan ras Weddoid, di Indonesia telah ada ras Mongoloid dan ras Austroid. Ras Mongoloid berasal dari daerah Asia Tengah (Mongoloid). Pada zaman Giasial atau Es ini, ras Mongoloid tersebar di Indonesia bagian Barat meliputi pulau Sumatra, Jawa, dan Kalimantan. Adapun ras Austroid diduga pusatnya ada di Australia dan menyebar ke Indonesia Timur khususnya wilayah Papua/Irian Jaya. Jadi, awalnya ras nenek moyang bangsa Indonesia adalah ras Mongoloid dan ras Austroid. Selanjutnya, sekitar 2.000 SM masuk ras negroid dan Weddoid ke Indonesia.
Di Indonesia ras Negroid sebagian besar mendiami daerah Papua. Ras Weddoid diduga berasal dari Afrika. Keturunan ras ini diduga berada di Riau (pedalaman), yaitu suku Siak (Sakai), serta suku Papua Melanesoid yang mendiami Pulau Papua dan Pulau Melanesia.
Adapun ras Weddoid diperkirakan datang dari India bagian selatan. Ras Weddoid diduga datang dari India bagian selatan. Keturunan ras Weddoid diduga mendiami Kepulauan Neolithikum yang dibawanya.
2. Perpindahan Bangsa Melayu Rumpun Austronesia ke Indonesia
Bangsa Melayu rumpun Austonesia diduga berasal dari Yunan, mereka datang ke Indonesia dalam dua gelombang perpindahan seperti berikut.
a. Perpindahan Gelombang Pertama
Pada sekitar 1.500 SM datang kelompok manusia yang disebut bangsa Melayu Tua (Proto Melayu) dari ras Mongoloid (subras Malayan Mongoloid) dekat lembah Sungai Yang Tze Kiang, Cina Selatan masuk dan menyebar ke Indonesia, mereka masuk ke Indonesia diduga melalui jalur barat dan jalur timur sesuai dengan jenis kebudayaan Neolithikum yang dibawanya.
1) Jalur Barat
Bangsa Melayu Tua (Proto Melayu) bermigrasi melalui darat dari Yunan menuju Semenanjung Melayu/Malaysia terus bergerak ke Sumatra, Jawa, Bali, ada pula yang menuju Kalimantan, dan berakhir di Nusa Tenggara. Mereka datang membawa kebudayaan kapak persegi. Keturunan Proto Melayu yang melalui jalur ini adalah masyarakat/suku Batak, Nias (Sumatra Utara), Mentawai (Sumatra Barat), suku Dayak (Kalimantan), dan suku Sasak (Lombok). Mereka mengarungi laut dengan perahu bercadik satu.
2) Jalur Timur
Bangsa Proto Melayu datang menempuh jalur laut dari Yunan (Teluk Tonkin) menyusuri Pantai Asia Timur menuju Taiwan, Filipina, kemudian ke daerah Sulawesi, Maluku, ke Papua dan akhirnya sampai ke Australia. Mereka datang membawa kebudayaan kapak lonjong. Keturunan Proto Melayu yang melalui jalur ini adalah suku Toraja (Sulawesi Selatan), Suku Papua (Irian/Papua), Suku Ambon, Ternate, Tidore (Maluku). Mereka datang menggunakan perahu bercadik dua.
b. Perpindahan Gelombang Kedua
Gelombang kedua kedatangan suku bangsa dari Yunan terjadi pada sekitar 500 SM–400 SM. Mereka yang datang adalah bangsa Deutro Melayu (Melayu Muda). Bangsa Deuteo Melayu masuk ke Indonesia melalui jalur barat, yaitu dari Semenanjung Melayu terus ke Sumatra.
Kebudayaan Deutro Melayu relatif lebih maju dibandingkan dengan kebudayaan bangsa Proto Melayu. Hal itu karena mereka sudah mengenal benda-benda dari perunggu, seperti kapak corong, nekara, dan perhiasan perunggu. Bangsa Deutro Melayu akhirnya dapat mendesak ras Proto Melayu yang lebih dulu menetap di Indonesia.
Keturunan Deutro Melayu melahirkan suku Jawa, suku Minang, suku Melayu, dan suku Bugis.
Menurut Soekmono, manusia yang datang pertama kali di Kepulauan Indonesia adalah ras Austroloid sekitar 20.000 tahun yang lalu. Selanjutnya, disusul kedatangan ras Melanesia Mongoloid sekitar 10.000 tahun lalu. Ras yang datang terakhir ke Indonesia adalah ras Melayu Mongoloid sekitar tahun 2.500 SM pada zaman Neolitikum atau zaman Logam.
Ras Austroloid kemudian bermigrasi ke Australia dan sisanya hidup di Nusa Tenggara Timur dan Papua. Ras Melanesia Mongoloid berkembang di Maluku dan Papua, sedangkan ras Melayu Mongoloid menyebar di Indonesia bagian barat. Ras-ras tersebut tersebar dan membentuk berbagai suku bangsa di Indonesia. Kondisi tersebut juga mendorong terjadinya kemajemukan kelompok sosial di Indonesia.
Pada saat nenek moyang bangsa Indonesia datang secara bergelombang dari daerah Cina Selatan 2.000 tahun sebelum Masehi, keadaan geografis Indonesia yang cukup luas tersebut telah memaksa nenek moyang bangsa Indonesia untuk menetap di daerah yang terpisah satu sama lain. Isolasi geografis tersebut mengakibatkan penduduk yang menempati setiap pulau di Nusantara tumbuh menjadi kesatuan suku bangsa yang hidup terisolasi dari suku bangsa lain. Setiap suku bangsa tersebut tumbuh menjadi kelompok masyarakat yang disatukan oleh ikatan-ikatan emosional serta memandang diri mereka sebagai suatu kelompok masyarakat tersendiri. Kemudian, mereka mengembangkan kepercayaan bahwa mereka memiliki asal usul keturunan yang sama dengan didukung oleh suatu kepercayaan yang berbentuk mitos-mitos yang hidup di dalam masyarakat.

artikel lainnya dropdown label blog

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
Friday 10 April 2015 | blog

  MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR TELEMATIKA SUB SEKTOR OPERATOR KOMPUTER   MENGOPERASIKAN PIRANTI LUNAK PENGOLAH…

Thursday 15 October 2015 | blog

SUSUNAN PENGURUS LSO KOPMA UNS PERIODE 2006/2007 1. FKSEK Ketua : Deny Novian Utomo Adminkeu :…

Saturday 31 January 2015 | blog

DAFTAR PUSTAKA     Ess. 2004.  Tips Microsoft Power Point. Jakarta : PT. Elex Media Komputindo.…

Thursday 25 December 2014 | blog

PROGRAM PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI AKUNTANSI KOMPUTER   Kode Program Pelatihan  :        K.74.12.1.1.1.1.III.01     KEMENTERIAN TENAGA…