Menu

Dasar Perpajakan Definisi Dan Pungsi Pajak

Nov
22
2014
by : 1. Posted in : blog

 

BAB   I

 

DASAR PERPAJAKAN

 

DEFINISI  DAN  PUNGSI  PAJAK

 

 

     Definisi

 

      1)  Difinisi Pajak

Pajak   adalah  iuran  kepada  Negara  yang  dapat dipaksakan terhadap pajak terutang oleh wajib pajak   membayarnya   menurut   peraturan  perudang-undang  dengan  tidak mendapat  prestasi kembali, yang  langsung  dapat ditunjuk dan gunanya adalah  unutk  membiayai pengeluaran-pengeluaran   umum   berhubungan   dengan   tugas   Negara    untuk    menyelenggarakan pemerintahan.

 

2)  Definisi Wajib pajak

Wajib pajak menurut undang-undang nomor 9 tahun 1994 pasal 1a adalah   orang   pribadi atau badan yang menurut ketentuan peraturan perudangan-undangan perpajakan ditentukan untuk melakukan kewajiban perpajakan, termasuk pemungut pajak atau potangan pajak tertentu

a)   Orang pribadi adalah

Orang     pribadi    yang   menjalankan  kegiatannya   berdasarkan   profesi / keahlian   sehingga  ia   memdapatkan penghasilan dari profesinya.       Seperti berikut dibawah ini  :

Akuntan,   Arsitek,   dokter,    Notaris,    Pejabat    Pembuat   Akta  Tanah   (PPAT)    kecuali    PPAT    tersebut     adalah     Camat,   pengacara,   dan   konsultan,   yang    melakukan  pekerjaan  bebas.

Orang   pribadi  yang  menjalankan   usaha   tatap  yang   menejelenggarakan  pembukaun.  Seperti    :

Perusahaan Jasa ( usaha Jasa ) dan  Perusahaan Dagang

Perusahaan Jasa   :

- Bengkel

- Salon Kecantikan

- Penjahit  Pakaian

- Loundry dll.

Perusahan  dagang  :

- Toko

-  Warung

-  Super Market dll.

 

b)   Badan    adalah    suatu    badan     usaha      yang     meliputi    perseroan

terbatas, perseroan comanditer, perseoan lainnya, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) atau Daerah dengan nama dan bentuk apapun, persekutuan, perkumpulan Firma, Kongsi, Koperasi, yayasan atau organisasi yang sejenis, lembaga dana pensiun, bentuk usaha tetap, serta bentuk    badan   lainya        (Undang  -  undang     Perpajakan No. 9 tahun 1994 Pasal  1b)

  

 3) Ciri-Ciri Pajak

a)  Pajak dipungut berdasarkan Undang-undang serta aturan pelaksanaannya.

b) Pembayaran  Pajak  tidak   dapat  ditunjuk  adanya  kontra  prestasi  individual  oleh  pemerintah  atau  tidak  mendapat  prestasi  langsung

c)  Pajak dipungut oleh  Negara/Pemerintah dan Pajak dapat dipaksakan

d)  Untuk  pembiayaan   rumah       tangga   negara   dan  pengeluaranya  yang        bermanfaat   bagi  masyarakat luas.

 

      Fungsi Pajak

1) Budgtair  adalah   Pajak  digunakan   sebagai  alat   untuk  mencari uang sebanyak- banyaknya dari masyarkat  kepada kas Negara

2) Fungsi Mengatur (regularend)

Pajak   sebagai   alat   untuk   mengatur    atau     melaksanakan    kebijaksanaan

pemerintah dalam bidang sosial dan ekonomi

contoh    :

a)  Pajak  yang  tinggi  dikenakan   pada  minuman   keras   untuk   mengurangi  konsumsi  minuman   keres  dan   untuk   mengurangi  kerawanaan  sosial    yang  diakibatkan  oleh  minuman keras

b)   Pajak    yang    tinggi    dikenakan     pada    barang-barang    mewah  untuk   mengurangi gaya  yang  konsumtif.

 

c)  Tarif    pajak   untuk   ekspor   sebesar   0 %,    untuk    mendorong   ekspor

produk  Indonesia di pasaran dunia guna untuk meningkatkan devisa negara.

 

PEMUNGUTAN PAJAK

Agar   pemungutan   pajak   tidak    menimbulkan hambatan atau perlawanan,  maka pemungutan  pajak harus memenuhi syarat sebagai berikut :

Syarat Pemungutang Pajak             

1. Pemungutan pajak harus adil

Sesuai  dengan   tujuan   hukum,   yakni   mencapai   keadilan,  undang-undang  dan   peraturan   pelaksanaan    pemungutan    baik    punggutan    yang    dilakukan  oleh  pemerintah  pusat maupun pemerintah   daerah  harus  adil.  Adil  dalam   perudang- undangan   diantaranya   mengenakan    pajak  secara  umum  dan   merata,   serta   disesuaikan  dengan  kemampuan  masing-masing  Wajib Pajak.  Sedang  adil dalam   pelaksanaanya    yakni   dengan     memberikan     hak    bagi    Wajib  Pajak   untuk  mengajukan keberatan,  penundaan   dalam   pembayaran dan  mengajukan  banding   kepada  Majelis  Pertimbangan  Pajak  (MPP).

 

2. Pemungutan    pajak    harus    berdasarkan      undang-undang    dan   peraturan      yang   berlaku.   Pemungutan   pajak    di  Indonesia  diatur dalam  UUD 1945  pasal  23  ayat  2 .  Hal  ini   memberikan   jaminan  hukum  untuk     menyatakan    keadilan,    baik   bagi    negara  maupun  bagi warganya.

 

3. Tidak menganggu perekonomian (syarat Ekonomis)

Pemungutan   tidak    boleh    menganggu    kalancaran  kegiatan  produksi maupun      perdagangan, sehingga tidak menimbulkan kelesuan perekonomian masyarakat.

 

4. Pemungutan pajak harus efisien (syarat Finansil)

Sesuai   dengan  fungsi   budgetair,   biaya   pemungutan  pajak harus  dapat ditekan     sehingga  lebih   rendah dari hasil pemungutannya.

 

 

 

5. Sistim pemungutan pajak harus sederhana

Sistem    pemungutan    yang    sederhana    akan   memudahkan   dan   mendororng    masyarakat  dalam  memenuhi  kewajiban  perpajakan. Syarat ini telah  dipenuhi   oleh     undang-undang   perpajakan   yang baru.   Contoh : – Bea   meterai  disederhanakan  dari 167  tarif   menjadi  dua  tarif   yaitu  berdasarkan   Peraturan   Pemerintah   ( PP No. 7 tahun l995 )  bae  meterai   terdiri    dari    dua    tarif      yaitu :      bea     meterai     tetap   Rp.  1.000,00  dan Rp. 2.000,00 dengan  demikian  maka     bea   meterai   lebih mudah    diingat  dan dilaksanakan olah masyarakat pemakai karena hanya menegenal satu jenis bea.

- Tarif   PPN    yang    beraneka-ragam    disederhanakan    menjadi    satu    tarif     yaitu 10 %.

- Pajak     perseroan     untuk     badan   dan   pajak   pendapatan  untuk   perseorangan  disederhanakan  menjadi    Pajak    Penghasilan   ( PPh )    yang   berlaku  bagi badan    maupun untuk orang pribadi .

 

 

    TEORI-TEORI  PEMUNGUTAN  PAJAK

Atas   dasar   apakah   negara   mempunyai   kewenangan  memungut  pajak  dari  rakyat ?  dari pertanya  tersebut  dapat  dijelaskan  dari  teori-teori yang mendukung dalam pemungutan   pajak,  teori  yang  menjelaskan  atau memberikan justifikasi pemberian hak kepada negara untuk  memungut pajak. adalah :

 

1) Teori Asuransi

Negara  melindungi   keselamatan  jiwa,  harta,  benda  dan hak-hak rakyatnya. Oleh    karena  itu rakyat  harus  membayar  pajak    diibaratkan   sebagai   permi  asuransi  karena  memperoleh  jaminan  perlindungan dari negara/pemerintah.

 

2) Teori Kepentingan

Pembagian    beban     pajak     kepada    rakyat    didasarkan     pada     kepentingan  (misalnya  perlindungan)   masing-masing    orang,     semakin     besar  kepentingan  seseorang terhadap negara, makin tinggi  pajak  yang harus dibayar kepada negara.

 

 

3) Teori Daya Pikul

Beban   pajak   untuk   semua  orang   harus   sama    beratnya,  artinya  pajak  yang  harus dibayar  sesuai   dengan   daya    pikul    seseoarang. Untuk  mengukur   daya  pikul  ada dua   pendekantan  yang harus diperhatikan yaitu :

a)  Berdasarkan  unsur   obyektif   dengan   melihat  besarnya   penghasilan   atau  kekayaan  seseorang.

b)  Berdasarkan   unsur    Subyektif    dengan    memperhatikan   besar   kecilnya  jumlah  tangggungan

 

Contoh  :

WAJIB PAJAK

STATUS

PENGASILAN

 X

Bujangan

Rp. 7 Juta/tahun

Y

Kawin anak 3

Rp. 7 Juta/tahun

 

 

Secara  obyektif  PPh  untuk  tuan  X   dan  Tuan  Y  dikenakan   PPh  sama karena penghasilannya sama. Tapi secara Subyaktif  PPh   yang  dikenakan  kepada  Tuan Y   lebih  kecil dari pada   Tuan  X  Karena Taun Y beban hidupnya lebih  besar  dari pada

Tuan  X,  sebab Tuan X  masih  bujangan     jadi beban hidupnya kecil maka dikenakan pajak lebih besar.

 

4) Teori Asas Daya Beli

Dasar  keadilan  pemungutan  pajak  terletak pada akibat pemungutan pajak. Artinya      memungut  pajak  berarti menarik  daya beli   dari rumah tangga  masyarakat  untuk      rumah  tangga negara. Selanjutnya    negara   akan   menyalurkan   kembali   kepada      masyarakat.   Dengan    demikian    kepetingan    seluruh   rakyat/masyarakat    lebih     diutamakan.

 

5) Teori Bakti

Dasar kedilan  pemungutan pajak terletak pada  hubungan rakyat dengan  negaranya.      Sebagai  warga  negara  yang    berbakti ke pada negara    maka rakyat harus selalu menyadari bahwa  membayar pajak adalah  sebagai suatu kewajiban rakyat.

 

 

C.  MACAM-MACAM PUNGGUTAN

Berbagai macam Pungutan di Indonesia

Pungutan    yang    dilakukan    di Indonesia,   baik   pungutan   yang    dilakuakan    oleh  emerintah Pusat maupun oleh Pemerintah Daerah. Berbagai pungutan dapat    kita   golongkan menjadi tiga yaitu :

1)   Pajak   

Pajak terdiri dari  : a.  Pajak Lansung

-  PPh

-  PBB

b.  Pajak Tak Langsung

-  PPN

-  Bea Meterai  dan Bea Lelang   dll.

 

a) Pajak Langsung

Secara teknis perpajakan, yang dimaksud dengan Pajak Lansung adalah yang dipungut secara belakala berdasarkan kohir. Kohir adalah tembusan Surat Ketetapan Pajak (SKP) di mana tercatat nama Wajib Pajak, NPWP, Alamat dan sebagainya, dengan jumlah pajak  yang  terutang  yang ter dapat dalam SPPT sebagai dasar penangihan pajak terutang. Dalam pengertian ekonomis, pajak langsung adalah pungutan langsung dari wajib pajak  itu sendiri dan tidak dan dilimpahkan kepada orang lain.

 

b.  Pajak Tak Langsung

Pajak  tidak  langsung  adalah  pajak  yang  pada  umumnya  tidak berkohir dan pemungutanya  bersifat insidentil apabila terjadi suatu  peristiwa  maka  terjadilah utang pajak  dan  pajak tak langsung dapat  dilimpahkan kepada orang lain (konsumen)

 

Pajak Pusat

Pajak yang dipungut oleh Pemerintah Pusat,  yang berhak mengut pajak yaitu Departemen Keuangan diantaranya Dirktorat Perpajakan dan Direktorat Bea dan Cukai.

Direktorat Jenderal Perpajakan diantaranya memungut :

- Pajak Penghasilan   ( PPh )

- Pajak  Pertambahan  Nilai  ( PPN )     dan      Pajak      Penjualan  Barang Mewah   (PPnBM)

- Pajak Bumi  dan Bangunan ( PBB )

 

Pajak Daerah

Pajak Daerah ialah Pajak yang dipungut oleh pemerintah Daerah Tingkat  I  dan  Pemerintah  Daerah Tingkat II aturan pemungutanya harus berdasarkan Peraturan Daerah ( PERDA )

Pajak yang dipungut oleh Pemerinatah Daerah Tingkat I yaitu :

- Pajak Rumah Tangga ( PRT )

- Pajak Kendaraan Bermotor ( PKB )

- Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor  ( BBNKB )

Pajak yang dipungut oleh Pemerintah Daerah Tingkat II Yaitu :

- Pajak Bangsa Asing

- Pajak Penerangan Jalan

- Pajak Potongan Hewan

- Pajak Pembanguna I

 

 Bea dan Cukai

Yang  memungut  Bea dan Cukai   adalah   Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Departemen Keuangan Republik Indonesia.

Pada hakekatnya Bea dan Cukai juga merupakan pajak, yaitu  pajak  tidak langsung   dan merupakan pungutan Pemerintah.

 

Macam Bea dan Cukai  yaitu :

a.  Bea Masuk

b.  Bea Keluar

c.  Cukai

d.  Bea Meterai

 

a)  Bea masuk

Pungutan   yang   dilakukan    terhadap   barang    yang    memasuki   daerah

pabean,  berdasarkan  harga / nilai barang itu. ( Tarip “ad valarum ) atau tarip yang sudah di tentukan. Daerah   Pabean   adalah   daerah   tertentu dalam batas mana bea dipungut. Pada   dasarnya   seluruh   wilayah  Indonesia  merupakan  wilayah  pabean,

kecuali  :

- Pelabuan Bebas

- Bonded  Warehouse    ( dimana   atas pemasukan  barang    ke d aerah   tidak dipungut )

 

b) Bea keluar

Bea   Keluar   Pungutan    yang    dilakukan    atas   sejumlah  barang   yang

keluar dari daerah pabean   berdasarkan  tarif    yang    telah    ditentukan  bagi masing-masing barang menurut   masing-masing golongan.  Bea   keluar   sudah tidak digunakan lagi, sebagai gantinya dikenakan pajak Ekspor   dan   Pajak   Ekspor    tambahan    berdasarkan    Peraturan    Pemerintah   No. 16    Tahun 1970 tentang pemyempuranaan Pelaksanaan Ekspor, Impor  dan  lalu  lintas   Devisa    diantaranya   ialah   10%   (Nilai Rupiah) dari  seluruh penjualan  devisa,   kecuali barang jadi dan kewajiban rakyat.    Besarnya   pajak   1%   dari   selisih   harga   patokan  dan harga jaul dengan harga    patokan Ekspor.

 

c) Cukai.

Cukai   adalah  pungutan  yang  dikenakan  atas  barang  tertentu berdasarkan  tarip  yang  sudah ditetapakan untuk masing – masing jenis barang tertentu.  Cukai  tidak  dikenakan  atas  semua barang . Barang-barang yang dikenakan cukai  diantaranya ialah :

- Tembakau

- Gula

- Minyak Bensin

- Minuman Keras

 

3) Pungutan lainya :

a)  Retribusi

Retribusi   adalah  pungutan   yang   dilakuan   sehubungan   dengan  sesuatu jasa   atau  fasilitas  yang  diberikan  oleh  pemerintah  secara  langsung dan nyata  kepada pembayar

Contoh   :  Retribusi jalan tol, Pasar Parkir  dan lain-lain

b)  Iuran

Iuran adalah pungutan yang dilakukan sehubungan dengan sesuatu jasa atau fasiltas yang diberikan oleh pemerintah secara langsung dan nyata kepada kelompok atau golongan.    Contoh   : Iuran televisi, Iuran sampah dan Iuran Keamanan dan lain-lain.

c) Sumbangan

Sumbangan adalah pungutan yang mengandung pikiran bahwa biaya-biaya yang dikeluarkan untuk pertasi Pemerintah tertentu, tidak boleh dikeluarkan dari kas umum, karen prestasi itu tidak ditujukan kepada penduduk seluruhnya, melainkan hanya untuk sebagian tertentu saja.

Contoh    :  PMI dan lainya

 

SUMBER   PENDAPATAN  NEGARA

A.  Sumber pendapatan Negara

    Sumber Pendapatan Negara meliputi  :

1) Pajak

 

2) Non Pajak terdiri dari :

a)  Kekayaan  Alam

b)  Hasil Usaha Negara (misalanya : BUMN )

c) Penerimaan     lain        yang       berupa :      hasil      lelang,     barang            sitaan,    denda dan lain-lain.

d)  Perdagangan luar Negeri ( Devisa )

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

MACAM-MACAM PUNGUTAN

Macam  -  macam    pungatan    sebagai    sumber   pendapatan   negaran    kalau

digambarkan   secar sekematis  adalah  sebagai  berikut :

 

 

 

 

 

 

 

Pajak Langsung

 

 

 

Pajak Tak Langsung

 

 

Pajak

 

 

Pajak Pusat

 

Daerah Tingkat I

Pajak Daerah

 

 

Daerah Tingkat II

 

 

 

Masuk

Bea

 

 

Pungutan          Bea dan Cukai                                       Keluar

 

 

Cukai

 

 

 

 

Retribusi

Lainnya                 Iuran

 

 

 

Sumbangan

 

 

 

 

 

 

 

HUKUM PAJAK

 

Menurut Prof. Rachmat Soemitro, SH,  Hukum  Pajak mempunyai  kedudukah diantara hukum-hukum sebagai berikut :

1. Hukum Perdata, mengatur hubungan antara satu individu dengan individulainya.

2. Hukum Publik mengatur hubungan antara pemerintah dengan rakyatnya.

 

Hukum in dapat dirinci lagi sebagai berikut :

  • Hukum Tata Negara
  • Hukum Tata Usaha ( Hukum Administratif  )
    • Hukum Pajak
    • Hukum Pidana

 

Dengan demikian kedudukan hukum pajak merupakan bagian dari hukum publik. Dalam mempelajari bidang hukum,  berlaku yang disebut Lex Specials  derogat Lex Generalis,  yang artinya pertama hukum khusus lebih diutamakan dari pada peraturan umum atau jika ketentuan belum atau tidak diatur dalam peraturan khusus, maka akan berlaku ketentuan yang diatur dalam peraturan umum. Dalam hal ini peraturan khusus adalah hukum pajak , sedangkan peraturan umum adalah hukum publik atau hukum lainya yang sudah ada sebelumnya. Hukum pajak menganut paham imperatif   yakni pelaksanaan tidak dapat ditunda. Misalnya dalam hal pengajuan keberatan, sebelumnya ada keputusan dari Direktur Jenderal Pajak bahwa kebertan tersebut diterima, maka wajib pajak yang akan mengajukan  keberatan terlebih dahulu membayar pajak, sesuai dengan yang telah ditetapkan . Berbeda dengan hukum pidana yang menganut paham oportunitas,  yakni pelaksanaan dapat ditunda setelah ada keputusan lain.

Hukum Pajak dan Hukum Pajak Formil. Hukum pajak mengatur hubungan antara pemerintah (fiscus) selaku pemungut pajak dengan wajib pajak sebagai rakyat . Hukum Pajak terdiri dari :

  1. 1.      Hukum pajak materiil,  memuat norma-norma yang menerangkan antara lain keadaan, perbuatan, peristiwa hukum yaang dikenai pajak (obyek pajak), siapa yang dikenakan pajak (subyek), berupa besar pajak yang dikenakan sesuai dengan tarif  yang teleh ditentukan, segala sesuatu yang timbul dan hapusnya utang pajak, dan hubungan hukum antara pemerintah dan wajib pajak.

Contohnya : Undang-undang Pajak Penghasilan

 

2.  Hukum pajak formil, memuat tata cara untuk mewujudkan hukum materiil menjadi kenyataan ( cara melaksanakanya hukum pajak materiil ) Hukum pajak ini memuat aturan sebagai berikut :

a.  Tata cara penyelengaraan (prosedur) penetapan suatu utang pajak

b. Hak-hak piscus untuk  mengadakan pengawasan terhadap para wajib pajak  mengenai keadaan, perbuatan dan peristiwa yang menimbulakan utang pajak.

c.  Kewajiban  Wajib   Pajak   misalnya   menyelenggarakan  pembukuan/pencatatan dan hak-hak Wajib Pajak misalnya mengajukan keberatan dan banding

Pengelompokan Pajak Sebagai Sumber Pendapatan Negara

      1.  Pengelompokan Pajak Secara  Sekematis   :

 

 

 

 

Pajak Langsung

 

 

 

Golongan

 

 

 

 

 

Pajak Tak Langsung

 

 

 

Subyektif

 

 

 

 

Pengelompokan Pajak

Menurut                                     Sifatnya

 

 

 

 

Obyektif

 

 

 

 

Pusat

 

 

Kewenangan

Memungutnya

 

Daerah

a)  Menurut Golongannya

- Pajak   Langsung yaitu Pajak yang harus dipikul sendirian oleh wajib pajak dan

tidak dapat dibebankan dan dilimpahkan  kepada orang lain.

Contoh   :  Pajak Penghasilan,  Pajak Bumi dan Bangunan

-  Pajak  Tidak   Langsung   yaitu   pajak  yang  akhirnya  dapat  dipebankan  dan

dilimpahkan kepada orang lain.

Contoh         : Pajak Pertambahan Nilai  (PPN)  dan  Pajak  Penjualan  Barang

Mewah  (PPnBM)

 

b)  Menurut Sifatnya  :

- Pajak   Subjektif  yaitu pajak yang  berpangkal  atau  berdasarkan  pada subyeknya, alam arti memperhatikan keadaan subyek pajak yaitu orang lain.

Contoh     : Pajak Penghasilan

- Pajak   Objektif    yaitu    penentuan   pajak    berdasarkan   obyeknya,   tanpa

memperhatikan keadaan Wajib Pajak.

Contoh    :  Pajak Pertambahan Nilai  dan PPnBM

 

c)   Menurut Lembaga Yang Berwenang memungutnya

- Pemerintah Pusat/Pajak Pusat yaitu pajak yang dipungut oleh pemerintah    pusat  dan  digunakan untuk membiayai anggaran rumah tangga pemerintah.

-  Pajak   Daerah   yaitu   pajak  yang  dipungut oleh pemerintah Daerah Tingkat  I dan  Derah Tingkat II     ( Propinsi dan Kotamadya/Kabupaten )  digunakan untuk membiayai Rumah Tangga Dearah.

 

CARA , ASAS  DAN  SYSTEM  PEMUNGUTAN  PAJAK

 Cara Pemungutan Pajak

 Tata  cara pemungutan pajak :

1)  Rial Stelsel  ( Cara Nyata )

Pengenaan pajak didasarkan pada obyek (penghasilan  yang nyata), sengingga pemungutannya baru dapat dilakukan  pada akhir tahun pajak, yakni setelah penghasilan yang sebenarnya sudah diketahui oleh piskus. Stelsel nyata mempunya kelebihan dan kekurangan,  kelebihan stesel nyata ialah pajak dikenakan pada wajib pajak lebih realistis, sedangkan kekuranganya adalah utang pajak,  baru dapat diketahui pada ahir tahun atau pada akhir periode.

 

2)  Fictieve Stelsel ( Cara anggapan )

Pengenaan pajak didasarkan pada suatu anggapan yang diatur oleh  undang  undang Perpajakan misalnya, penghasilan suatu tahun pajak dianggap sama dengan tahun sebelumnya, sehingga  pada  awal tahun pajak sudah dapat ditetapkan besar pajaknya yang terutang untuk tahun pajak berjalan. Kelebihannya ialah  pajak dapat dibayar selama tahun berjalan, tanpa harus menunggu pada akhir tahun. Sedangkan kekuranganya ialah utang pajak ditetapkan didak berdasarkan penghasilan yang sebenarnya.

 

3)  Stelsel Combination  ( Cara Campuran )

Stelsel ini merupakan kombinasi  antara  stelsel nyata dan  stelsel anggapan. Pada awal tahun, besernya pajak dihitung berdasarkan suatu anggapan, kemudian pada akhir  tahun besarnya pajak disesuiakan dengan  kenyataan yang sebenarnya. Bila besarnya pajak menurut kenyataan  lebih besar dari  pada  pajak  menurut anggapan. maka waji bajak harus menambah utang pajak, dan sebaliknya apabila lebih kecil maka piskus akan mengembalikan kelebihanya.

 

 Asas Pemungutan Pajak

 Asas pemungutan pajak terdiri dari :

 a.  Asas domisili ( asas tempat tinggal )

Pemerintah berhak mengenakan pajak atas seluruh penghasilan Wajib Pajak yang bertempat  tinggal di wilayahnya, baik penghasilan yang berasal dari dalam maupun dari luar negeri. Asas ini berlaku untuk Wajib Pajak dalam  negeri.

 

 b.  Asas sumber

Pemerintah berhak mengenekan pajak atas penghasilan yang bersumber dari wilayahnya tanpa memperhatikan tempat tinggal Wajib Pajak.

 

 c.  Asas kebangsaan

Pemungutan Pajak dihubungkan dengan kebangsaan suatu negara. Misalanya pajak bangsa asing ,  orang asing ( bukan WNI ) yang tinggal diwilayah Indonesia maka akan dikenakan  Wajib Pajak  luar negeri (Pajak Bangsa Asing).

System Pemungutan Pajak

System pemungutan pajak terdiri dari :

1)  Official Assessment System

System  pemungutan   pajak  yang  memberi   kewenangan   kepada    pemerintah (fiskus) untuk besarnya pajak yang terutang oleh Wajib Pajak.

Ciri-cirinya adalah  :

a)   Besarnya  pajak    terutang    ditentukan   oleh    pemerintah  (fiskus)  jadi

kewenangan mementukan besarnya  pajak terutang adalah fiskus.

b) Wajib Pajak pasif

c) Utang pajak timbul setelah dikeluarkan surat ketetapan pajak oleh fiskus.

 

2). Self Assessment Sytem

System pemungut pajak yang memberi wewenang kepada Wajib Pajak  untuk  menentukan sendiri besarnya pajak yang terutang.

 

Ciri-ciri Self Assessment Sytem

a) Wewenang   untuk    menentukan    besarnya    pajak   terutang  ada pada       wajib  Pajak itu sendiri

b) Wajib   Pajak   aktif,   menghitung pajak terutang dan meneyetorkan serta         melaporkan  sendiri  pajak yang terutang.

c)   Fiskus tidak ikut campur hanya mengawasi.

 

3) With Holding System

Suatu sistem pemungutan pajak yang memberikan wewenang kepada pihak ketiga   ( bukan fiskus dan bukan Wajib Pajak yang bersangkutan )  untuk menentukan besarnya pajak yang terutang . Jadi Perusahaan / Instansi yang menghitung  besarnya pajak terutang  Wajib pajak .

 

 Ciri-cirinya   :   Wewenang menentukan besar/kecilnya pajak yang terutang  adalah pihak ketiga (yaitu Perusahaan/Lembaga/Instansi), Wajib Pajak hanya membayar pajak yang terutang dan fiskus menerima setoran pajak.

 

 

 

 

Timbul dan Hapusnya Utang Pajak

Timbulnya utang Pajak

ada dua ajaran yang mengatur timbulnya utang pajak  :

1)   Ajaran Formil :   Utang  pajak   timbul    karena    dikeluarkannya    Surat Ketetapan Pajak ( SKP ) oleh fiskus. Ajaran ini diterapakan pada  official   assessment system.

 

2)  Ajaran Materiil  : Utang pajak timbul  Karena berlakunya undang-undang. Seseorang dikenai pajak karena suatu keadaan dan perbuatan. Ajaran ini diterapkan pada sel assessment sytem.

 

Hapusnya Utang Pajak

Hapusnya utang pajak disebabkan ada beberapa hal :

1)   Pembayaran,

2)   Kompensasi,

3)   Daluwarsa,

4)   Pembebasan dan Penghapusan

 

Hambatan Pemungutan Pajak

Hambatan terhadap pemungutan pajak dapat dikelompokan menjadi :

 a.  Perlawanaan pasif

Masyarakat enggan (pasif) membayar pajak, yang dapat disebabkan antara        lain :

1)  Perkembangan intelektual dan maral masyarakat.

2)  Sistem perpajakan yang (mungkin) sulit dipahami masyarakat.

3)  Sistem kontrol tidak dapat dilakukan atau dilaksnakan dengan baik.

 

b.  Perlawanan aktif

Perlawanan aktif  meliputi semua usaha  dan perbuatan yang secara langsung ditujukan  kepada fiskus  dengan tujuan untuk menghindari pajak

Bentuknya antara lain :

1)  Tak avoidance,   usaha   meringankan    beban    pajak    dengan    tidak

melanggar undang-undang perpajakan.

2)   Tax evasion,    usaha    meringankan     beban     pajak    dengan   cara

yang    melanggar  undang-undang Perpajakan ( menggelapkan pajak )

BAB   II

 

KETENTUAN UMUM

DAN

TATA CARA PERPAJAKAN

(UNDANG-UNDANG PERPAJAKAN NOMOR 9 TAHUN 1994)

 

 

PENGERTIAN-PENGERTIAN UU  PAJAK  NO. 9 /1994

 

A.  Pengertian  Masa dan Tahun Pajak

 

      Pengertian Masa Pajak

Masa Pajak adalah jangka waktu yang lamanya sama dengan  satu bulan takwim kecuali ditetapkan lain oleh Menteri Keuangan

 

       Pengertian Tahun Pajak

Tahun Pajak adalah jangka  waktu satu tahun takwim kecuali ditapakan lain oleh

Menteri Keuangan ;

Tahun Pajak tediri dari dua yaitu   :

a. Tahun Takwin atau Tahun Kalender

Wajib  Pajak   yang  menggunkan  tahun  takwim  ialah   pembukuanya   dimulai

tanggal 1 Januari 1995  dan    tutup buku pada  tanggal  31 Desember 1995  disebut  tahun  pajak 1995.

b. Tahun buku  mengunakan tahun  pajak tidak sama  dengan tahun takwim dengan  syarat  konsisten (taat asas) selama 12 (dua belas) bulan, lebih baik melapor kepada Kantor Pelayanan Perpajakan (KPP) setempat.

contoh :

Pembukuan  dimulai  tanggal 1 April  1995  dan berakhir tanggal 31 maret 1996, disebut tahu pajak 1995 karena lebih dari 6 ( enem ) bulan jatuh tempo pada tahun 1995.

 

 

 

 

1 April 1995                                      31 Maret 1996

 

Pembukuan dimulai tanggal 1 Juli 1995  dan berakhir  tanggal 30 Juni 1996 disebut tahun   buku   1995    karena   pas  6 (enem)  bulan  pertama  jatuh

tempo 1995

 

 

1  Juli  1995                30 Juni 1996

 

 

Pembukuan dimulai tanggal 1 Oktober l995 dan berakhir tanggal 30 September 1996  disebut tahun pajak 1996 , karena lebih dari  6 (enam) bulan pada jatuh tempo 1996

 

 

 

                               1 Oktober l995                30 September 1996

Pengertian  Nomor  Wajib  Pajak    (  N P W P )  

 

Nomor Wajib Pajak (NPWP)

1. Nomor Wajib Pajak ialah  (NPWP) ialah suatu sarana dalam  administrasi perpajkan  yang dipergunkan sebagai tanda pengenal diri atau suatu indentitas wajib pajak sebelum memenuhi kewajiban  dalam perpajakan Wajib Pajak harus sudah memiliki NPWP

 

2. Fungsi NPWP ialah

a. Sebagai  tanda pengenal diri atau indentitas Wajib Pajak.

b. Untuk   menjaga   ketertiban    dalam   pembayaran    pajak    dan   dalam

pengawasan  administrasi perpajakan.

 

3. Pencantuman NPWP

NPWP harus ditulis dalam setiap dokumen perpajakan, atara lain pada :

a.  Formulir pajak yang dipergunkan Wajib Pajak

b.  Surat menyurat dalam hubungan dengan perpajakan

c.  Dalam  hubungan   dengan   instansi  tertentu  yang  mewajibkan  mengisi

NPWP

4. Pendaftaran Nomor Wajib Pajak Menurut U.U Perpajak  No 9 Tahun 1994

Pasal  2  Sebagai Berikut :

a.  Ayat 1 (satu)   Setiap   Wajib   Pajak   mendaftarkan   diri   pada    kantor   Direktorat   Jenderal   Pajak   yang ada   diwilayah   kerja meliputi tempat tinggal atau tempat kedudukan Wajib Pajak dan Kepada diberikan Nomor Wajib Pajak.

Jadi kalau menganalisa Pasal 2  ayat  1 Semua Wajib Pajak harus mendaftarkan diri ke Direktorat Jenderal  Pajak yaitu melalui Kantor Pelayanaan Pajak (KPP) setempat dimana ia bertempat tinggal bisa berdasarkan   sistem   Self Assessment (mendaftarkan diri sendiri) untuk dicatat sebagai Wajib Pajak dan sekaligus mendapatkan NPWP. Kewajiban untuk mendaftarkan diri berlaku untuk  wanita kawin yang dikenakan pajak secara terpisah (hidup perpisah) karen cerai dan lain sebagainya, pemisahan harta harus berdasarkan surat keputusan hakim atau dikenhendaki secara tertulis berdasarkan perjanjian suami istri tentang pemisahan pengahsilan (harta). Dan si istri diwajibkan untuk mendaptarkan diri ke Kantor Palayanaan Pajak (KPP) setempat, apabila si istri tidak mendaftarkan diri Ke KPP untuk mendapatkan NPWP maka si istri akan dikenakan sanksi perpajakan. Wajib pajak orang pribadi dan Badan  yang telah memenuhi syarat untuk mendapatkan NPWP, maka Direktorat Jenderlar Pajak akan menerbitkan NPWP secara jabatan untuk Badan Usaha dan secara perorangan untuk Orang Pribadi.

 

b. Penghapusan NPWP

NPWP dapat dihapuskan disebabkan sebagai berikut :

-   Wajib Pajak Meninggal dunia

-   Wanita Kawin tidak memisahkan harta           

-   Warisan yang sudah bagikan

-   Badan   Usaha   yang   pailit   (Gulung Tikar) dan  dibubarkan  sampai         dengan penyelesaian likuidasi.

 

c. Sanksi NPWP

Wajib Pajak secara sengaja tidak mendaftar atau menyalah gunakan NPWP tanpa hak sehingga dapat menimbulakan kerugian bagi pendapatan  negara  dikenakan sanksi denda setinggi-tingginya 4 (empat) kali jumlah pajak kurang bayar atau jumlah pajak yang tidak dibayar, dan atau akan dikenakan sanksi pidana penjara selama-lamanya 6 (enam)  tahun penjara.

 

Nomor Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak (NPPKP)

1. U.U.  Perpajakan  No. 9   Tanun   1994  Pasal   2   ayat   2   tetang   Nomor

Pengukuhan  Pengusaha Kena Pajak  (NPPKP)

Setiap Pengusaha yang dikenakan Pajak Pertambahan Nilai berdasarkan Undang-undang Perpajakan Pertambahan Nilai 1984, wajib pajak melaporkan usahanya  pada kantor Direktorat Jenderal Pajak  yang wilayah usahanya pada kantor  Direktorat Jenderal Pajak yang wilayah kerjanya  meliputi tempat tinggal atau tempat kedudukan Pengusaha, dan tempat kegiatan usaha dilakukan untuk dikukuhkan menjadi Pengusaha Kena Pajak dan Kepadanya diberikan Nomor Pengukuhan Pengusaha Kenapajak.

2. Bagi  pengusaha  orang  pribadi  berkewajiban  melaporkan  usahanya  pada      kantor  Direktorat Jenderal Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat duduk atau tempat kegiatan usahanya  wajib melaporkan usahanya ke Direktoran Jenderal Pajak setempat  untuk dikukuhkan menjadi Pengusaha Kena Pajak (PKP)  bagi badan usaha yang tidak melaporkan usahanya akan dikenakan sanksi Perpajakan.

 

3. Fungsi NPPKP

a.  Untuk mengetahui identitas PKP sebenarnya.

b.  Untuk    memenuhi    kewajiban    Pajak    Pertambahan   Nilai dan Pajak

Penjualam atas Barang Mewah.

c.  Untuk pengawasan administrasi perpajakan

 

4. Sanksi

Bagi Wajib Pajak dengan sengaja tidak mendaftarkan diri, atau menyalah gunakan NPPKP tapa hak sehingga dapat merugikan pendapatan negara  diancam pidana atau denda, ancaman pidana penjara selama-lamanya enem tahun dan denda setinggi-tingginya empat kali dari jumlah pajak terutang.

 

Surat Pemberitahuan (SPT) 

Pengertian SPT

Surat Pemberitahuan  ialah surat yang digunakan oleh Wajib pajak untuk melaporkan perhitungan dan pembayaran pajak yang terutang menurut ketentuan undang-undang perpajakan.

 

Pengelompokan  SPT

Surat Pemberitahuan (SPT) dapat dikelompokan sebagai berikut :

1)  SPT   Pasal  Pasal 21  Yang  Mengisi  dan   menyampaikan  SPT   Pasal 21   setiap     pemotong pajak  atau PPh Pasal 26 yang terdiri dari :

Pemberi   Kerja   baik   orang  pribadi maupun badan baik iduk ataupun

cabang, perwakilan maupun unit (termasuk organisasi internasional yang tidak dikecualikan sebagai Pemotong pajak berdasarkan keputusan Menteri Keuangan) serta bentuk usaha tetap, yang membayar gaji, honoraium, tunjangan, dan pembayaran lain dengan nama apapun.

 

 2)   SPT  Orang Pribadi

Yang mengisi dan menyapaikan SPT Orang Pribadi ialah Wajib Pajak       Orang Pribadi yang menerima penghasilan atau memperoleh penghasilan  dari kegiatan usaha dan pekerja bebas.

 

3)   SPT.  Badan

Yang  mengisi  dan  menyampaikan SPT Badan ialah orang pribadi yang     berstatus   sebaga  i bentuk   usaha   tetap,   Wajib   Pajak  Badan   yang  memperoleh atau menerima penghasilan semata-mata dari penghasilan   yang telah dikenakan pajak yang bersifat final.

 

4)  SPT PPN dan PPnBM

Yang mengisi  dan   meyampaikan  SPT PPN  dan   PPnBM  ialah orang    pribadi  atau  badan  dalam  bentuk  apapun  yang menghasilkan barang,    mengimpor barang, mengekspor barang, melakukan usaha perdagangan,    memanfaatkan  barang   tidak   berwujud   dari   luar    daerah   pabean,   melakukan  usaha jasa, atau memanfaatkan jasa dari luar daerah pabean.

 

Fungsi SPT

Fungsi SPT Bagi Wajib Pajak dan SPT Pengusaha Kena Pajak

1)  Fungsi SPT Bagi Wajib Pajak  (WP)

a)        Sebagai  sarana untuk melaporkan mempertanggungjawabkan penghitungan jumlah  pajak yang sebernarnya terutang.

b)        Untuk melaporkan pembayaran atau pelunasan pajak yang telah dilaksanakan sendiri dan atau melalui pemotongan atau pungutan pihak lain dalam satu Tahun Pajak atau Bagian Tahun Pajak .

c)        Untuk melaporkan pembayaran dari pemotongan atau pemungutan tentang pemotongan atau pemungutan pajak Orang Pribadi atau Badan dalam satu masa pajak atau tahun pajak menurut perturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku.

 

2)  Fungsi SPT  Bagi Pengusaha Kena Pajak (PKP)

a)      Sebagai sarana untuk menyampaikan dan mempertanggung jawabkan  penghitungan jumlah Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) yang sebenarnya terutang.

b)      Untuk melaporkan pengkreditan Pajak Masukan terhadap pajak keluaran.

c)      Sebagai saran untuk melaporkan dan mempertanggungjawabkan pajak yang dipotong atau dipungut dan disetorkan.

 

Jenis Surat Pemberitahuan (SPT) Terdiri dari  :

1)  Surat  Pemberitahuan  (SPT) Masa  Pajak

a)   SPT    diisi   dengan    benar   jelas  dan   disamapaikan  dalam   jangka  waktu    satu   bulan    takwin   dalam    Masa   Pajak  atau  sutau   saat menurut satu  bulan   kalender.

b)  Batas   waktu   penyempaian   SPT  Masa  Pajak   20  (duapuluh)  hari   setelah  akhir masa pajak. (UU KUP Nomor 9 Tahun 1994 Pasal 3 ayat 3   poin   “a “)

c)  Sanksi   administrasi,   apabila  SPT Masa Pajak tidak dismapaikan baik          dengaja mapun tidak disengaja akan dikenakan sanksi administrasi   sebesar Rp. 25.000,00 (dua puluh lima ribu rupiah). UU KUP  Nomor

9  Tahun 94 Pasal 7 .

 

2.  Surat Pemberitahuan (SPT) Tahun Pajak

a)   SPT Tahun Pajak diisi secara benar dan disampaikan untuk  Tahun Takwin atau Tahun Buku setelah berakhir tahun pajak.

b)  Batas waktu untuk Surat Pemberitahun Tahun Pajak, selambat-lambanya tiga bulan setelah berakhir Tahun Pajak.  UU KUP  Nomor   9   Tahun 1994 Pasal  3 ayat  3   poin  “b”)

c)   Sanksi administrasi apabila SPT Tahun Pajak tidak disampaikan baik tidak sengaja maupun tidak sengaja akan dikenakan sanksi administrasi berupa denda sebesar Rp. 50.000 (limah puluh ribu rupiah ) UU KUP Nomor  9 Tahun 1994 pasal 7

SURAT SETORAN PAJAK (SSP)

1. Pengertian :

Surat Setoran Pajak (SSP) adalah surat yang oleh Wajib Pajak digunakan unutk melakukan pembayaran atau penyetoran pajak yang terutang ke kas negara atau ke tempat pembayaran lain yang telah ditetapkan oleh Menteri Keuangan.

 

2. Fungsi Surat Setoran Pajak (SSP)

a)      Sebagai sarana pembayaran pajak

b)      Sebagai bukti dan laporan pembayaran pajak

3. Tempat Pembayaran dan Penyetoran Pajak

a)      Bank-bank  yang telah ditunjuk oleh Direktoran Jendenderal Anggaran

b)      Kantor Pos dan Giro

 

4. Batas Waktu Pembayaran Pajak

a)      Pembayaran Masa Pajak

-          PPh Pasal 21 batas waktu 10 (sepuluh) bulan takwin berikutnya setelah masa pajak berakhir.

-          PPh  Pasal  22  Impor batas waktu pembayaran bersamaan dengan pembayaran Bea Masuk. Apabila Bea Masuk dibebaskan atau ditunda, harus dilunasi pada saat penyelesaian dokumen impor.

-          PPh Pasal 22 Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) batas waktu pembayaran satu hari setelah pemunngutan pajak dilakukan.

-          PPh  Pasal 22  Bendaharawan  batas waktu pembayaran pada hari yang sama dengan pelaksanaan pembayaran.

-        PPh  Pasal 23 dan 25 batas waktu pembayaran tanggal 10 bulan takwim berikutnya setelah bulan saat terutangnya pajak.

-          PPh  Pasal 25 batas waktu pembayaran tanggal 15 takwim bulan berikutnya setalah Masa pajak beakhir.

-          PPN dan PPnBM batas waktu pembayaran tanggal 15 takwim bulan berikutnya setalah Masa pajak beakhir.

-          PPN dan PPnBM-Impor batas waktu pembayaran bersamaan dengan pembayara Bea Masuk  . Apabila Bea Masuk dibebaskan atau ditunda, harus dilunasi pada saat penyelesaian dokumen impor.

-          PPN dan PPnBM -DJBC batas waktu pembayaran satu hari setelah pemunngutan pajak dilakukan.

-          PPN dan PPnBM-Bendaharawan batas waktu pembayaran tanggal 7 bulan takwim berikutnya setelah Masa Pajak berakhir.

b)        Pembayaran pajak yang terutang berdasarkan SPT Tahunan harus dibayar lunas selambat-lambatnya tanggal 25 bulan ketiga setalah Tahun Pajak atau bagian dari Tahun Pajak berakhir,  Sebelum SPT itu  disampaikan

c)        STP, SKPKB, SKPKBT, Surat Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan Keberatan, dan surat Putusan Banding  yang menyebabkan jumlah pajak harus dibayar bertambah, harus dilunasi dalam  jangka waktu 1 (satu) bulan sejak tanggal surat itu diterbitkan.

 

Apabila dalam pembayaran atau penyetoran jatuh tempo pada hari libur maka pembayaran atau penyetoran harus dilakukan pada hari kerja berikutnya setiap keterlambatan penyetoran pajak akan dikenakan bunga sebesar 2 % setiap bulanya untuk seluruh masa pajak, yang dihitung sejak saat jatuh tempo.

 

SURAT KETETAPAN PAJAK  (SKP)

Surat Ketetapan Pajak (SKP)

Surat Ketatapan Pajak terdiri dari :

1.  Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar  disingakat menjadi (SKPKB)

2.  Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambah disingkat menjadi (SKPKBT)

3.  Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar disingkat menjadi  (SKPLB)

4.  Surat Ketetapan Pajak Nihil disingkat menjadi (SKPN)

 

1. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar

Surat Keputusan yang mentukan besarnya jumlah  pajak terutang, jumlah kredit pajak, jumlah kekurangan pembayaran pokok pajak, besarnya sanksi administrasi dan jumlah pajak yang harus dibayar.

a. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB) dikeluarkan apabila :

-          Berdasarkan hasil pemeriksaan atau ada keterangan lain ternyata jumlah pajak terutang kurang atau tidak dibayar

-          SPT tidak disampaikan pada waktunya, setelah ditegor secara tertulis  tidak juga disampaikan pada waktu tanggal yang telah ditentukan dalam surat tegoran

-          Tidak dipenuhi sebagaimana  yang dimaksud dalam pasal 28 dan     pasal 29  sehingga tidak dapat diketahui besarnya pajak terutang

-          Dalam hal Pajak Pertambhan Nilai  (PPN) bila dilakukan konpensasi selisih lebih besar dan mengenakan tarip 0% memberikan restitusi, padah semua itu tidak benar

 

b. Sanksi Administrasi

-        Apabila SKPKB dikelurkan karena alasan jumlah pajak yang terutang kurang atau  tidak dibayar maka akan dikenakan jumlah kekurangan atau pajak yang tidak dibayar harus dibayar dan ditambah bunga 2 %  sebulan      (maksimum  24 bulan) dihitung mulai berakhirnya masa pajak, atau Tahun Pajak sampai dengan diterbitkanya  SKPKB.

-          Apabila SKPKB dikeluarkan karena tidak menyampaikan SPT, kewjiban yang dimaksud dengan pasal 28 dan 29, PPN bila dilakukan kompensasi  selisih lebih besar dan mengenakan tarif 0% memberikan restitusi yang tidak benar maka akan dikenakan sanksi administrasi berupa kenaikan sebasar :

  • 50% dari PPh   yang kurang bayar atau tidak dibayar
    • 100% dari PPh  yang tidak bayar atau kurang potong atau pungut atau disetorkan
    • 100% dari PPN  dan PPnBM yang tidak dibayar atau kurang bayar

 

  1. c.       Fungsi SKPKB

-        Koreksi atas jumlah pajak yang terutang  menurut SPT

-        Sarana untuk membrikan sanksi

-        Alat untuk menagih pajak

 

2.  Surat Ketetapan Pajak Kurang Basyar Tambah (SKPKBT)

SKPKBT merupakan surat keputusan yang menetukan tambahan atas pajak yang telah ditetapkan

a. SKPKB ditebitkan/dikuluarkan apabila :

-          Berdasarkan data baru, data yang semula belum terungkap yang menyebabkan  penambahan pajak yang terutang dalam surat ketetapan pajak sebelumnya.

-          Ditemukan lagi data yang semula belum terungkap pada saat penerbiatan SKPKBT. Dengan demikian SKPKBT dapat diterbitkan lebih dari dua kali

 

  1. b.      Fungsi SKPKBT  sebagai  :

-        Koreksi atas ketetapan pajak sebelumnya

-        Sarana untuk menerapkan sanksi

-        Alat untuk menagih pajak

 

c.   Sanksi SKPKBT

jumlah  kekurangan    pajak   yang    terutang  dalamb  SKPKBT ditambah

 

dengan  sanksi administrasi berupa kenaikan denda sebesar 100% dari jumlah pajak yang tidak bayar atau kurang bayar.

Sanksi administrasi berupa kenaikan denda tidak dikenakan apabila SKPKBT diterbitkan berdasarkan keterangan tertulis dari Wajib Pajak, dengan syarat yang telah ditetapkan oleh Direktorat Janderal Pajak bagi Wajib Pajak yang belum memulai melakukan tindakan pemeriksaan.

 

3.   Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB)

     Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar merupakan surat keputusan  yang dikeluarkan oleh  Direktorat Jenderal Pajak melalui Kantor Pelayanaan Pajak (KPP) setempat,  surat ketetapan ini mentukan jumlah kelebihan pajak yang dibayar oleh Wajib Pajak  atau  jumlah kredit pajak lebih besar dari pada utang pajak yang sebenarnya, maka piskus harus mengembalikan kelebihan utang  kepada Wajib Pajak.

a. Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB) dikelurkan apabila :

Direktur Jenderal Pajak setelah melakukan pemeriksaan , menerbitkan  Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar  apabila jumlah pajak yang dibayar lebih besar dari pada pajak yang terutang yang sebenarnya.

b. Fungsi Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB)

Sebagai alat untuk mengembalikan kelebihan pembayaran pajak, yang melibihi dari utang pajak yang sebenarnya, maka piskus mengembalikan kelebihan utang pajak kepada Wajib Pajak, disertai dengan SKPLB sebagai bukti untuk mengambil kelebihan pajak.

 

c. Tata Cara Pengambilan Kelebihan Pembayaran Pajak

-  Wajib Pajak mengajukan permohonaan kepada Direktur Jenderal Pajak.

-  KPP atas nama Direktur Jenderal  menerbitkan SKLB dalam jangka waktu telambat lambatnya  12 (dua belas) bulan sejak permohonaan diterima oleh Direktur Jenderal Pajak.

-  Apabila SKLB tidak diterbitkan dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan, maka Wajib Pajak Memberitahukan Kepada Direktur Jenderal Pajak bahwa permohonan (sudah dianggap dikabulakan )  oleh Direktorat Jenderal Pajak

Dalam waktu 1 (satu) bulan sejak surat pemberitahuan diterima, oleh Ditjen Pajak menerbitkan SKPLB  ini dikirim kepada Wajib Pajak dengan tembusan kepada KPP yang bersangkutan.

-  KPP menerbitkan Surat Perintah Membayar Kembali Pajak  (SPMKP) dalam jangka waktu satu bulan setelah menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar ( SKPLB)

-  Apabila Wajib Pajak  mempunyai utang pajak lain. kelebihan pembyaran pajak diperhitungkan kembali untuk membayar/melunasi pajak yang terutang. Wajib Pajak dapat mengajukan permohonan   agar kelebihan pembayaran pajak agar diperhitungkan kembali dengan utang pajak yang akan datang atau dikompensasikan.

-   Kelebihan pembayaran pajak dilakukan setelah jangka waktu  1 (satu) bulan  sejak dikelurkan SKPLB, maka piskus akan membayar atau membrikan bunga  sebesar 2% (dua persen) setiap bulan dari keterlambatan pengembalian kelebihan  pembayaran pajak.

 

4.  Surat Ketetapan Pajak Nihil (SKPN)

a. Pengertian Surat Ketetapan Nihil (SKPN)

SKPN merupakan surat ketetapan yang menentukan jumlah pajak yang terutang sama besarnya dengan jumlah kredit pajak, atau  jumlah pajak yang terutang nihil

 

b. SKPN dikeluarkan

Berdasarkan hasil analisa dan pemeriksaan yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pajak jumlah pajak yang dibayar sama besarnya dengan jumlah pajak yang terutang, atau jumlah pajak yang terutang nihil, tidak ada pembyaran pajak.

 

      SURAT TAGIHAN PAJAK (STP)

1. STP  merupakan  surat ketetapan pajak untuk melakukan penagihan :

a. Pajak

b. Sanksi administrasi berupa bunga

  1. Denda

 

2. STP ditebitkan/dikeluarkan disebabkan :

a.  Pajak Penghasilan dalam  tahun bejalan tidak atau kurang bayar

b. Kekurangan diakibatkan karana salah tulis atau salah dalam menghitung pajak

c. Wajib Pajak tidak mengirimkan  SPT  masa  dan SPT  Tahun pajak  maka

dikenakan denda

d. Wajib Pajak  yang dikenakan sanksi administrasi berupa bunga

e. Pengusaha yang dikenakan pajak berdasarkan Undang-undang Pajak Pertambahan Nilai tetapi tidak melaporkan  kegiatan usahanya untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak

f. Pengusaha yang tidak dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak tetapi tidak membuat faktur atau pengusaha yang dikukuhkan  sepagai Pengusaha Kena Pajak  tetapi tidak membuat atau tidak mengisi Faktur dengan lengkap.

 

3. Fungsi STP Sebagai  :

a.  koreksi atas jumlah pajak yang terutang  dalam SPT

b. alat untuk mengenakan sanksi administrasi bunga dan denda

  1. alat untuk menagih pajak

 

 

 

 

STP mempunyai  kekuatan hukum yang sama dengan surat ketetapan pajak yang lainnya, dan apabila  Wajib Pajak   yang telah menrima STP tidak mau membayar, maka piskus akan  melakukan :

a.  Menerbitkan kembali STP

b.  Apabila STP yang kedua tidak dibayar lagi, maka akan dikeluarkan surat tegoran (yang  memungkinkan akan diberikan lebih dari satu kali)

c. Apabila Wajib Pajak  masih tidak mau membayar maka akan dikeluarkan Surat Paksa (SP).

artikel lainnya Dasar Perpajakan Definisi Dan Pungsi Pajak

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
Tuesday 14 January 2014 | blog

DAFTAR PESERTA TRAINING of TRAINER (T0T) SRAGEN TECHNOPARK GANESHA SUKOWATI   1.         KEPALA SEKOLAH SMA /…

Saturday 28 February 2015 | blog

MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR TELEMATIKA SUB SEKTOR JARINGAN KOMPUTER DAN SISTEM ADMINISTRASI     MENGINSTALASI…

Wednesday 17 December 2014 | blog

  MODUL PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SUB BIDANG METODOLOGI PELATIHAN KERJA       MEMFASILITASI PROSES PEMBELAJARAN…

Wednesday 5 November 2014 | blog

      Ref.: MGT-427.02.2013   11  Februari 2013   Ibu Putu Utariani Managing Director Respati…