Menu

Contoh proposal skripsi untuk jurusan fkip

Jun
19
2014
by : 1. Posted in : blog

BAB I

PENDAHULUAN

 

Latar Belakang.

Pertanian sebagai mata pencaharian utama dalam kehidupan manusia telah mengalami suatu proses perkembangan yang cukup panjang. Penemuan kepandaian dalam  bercocok tanam atau pertanian merupakan suatu peristiwa besar dalam perkembangan kebudayaan manusia, bahkan sering kali peristiwa itu disebut sebagai suatu “Revolusi” dalam peradaban manusia (Gordon Childe, 1953 dalam I Ketut Setiawan, 2003: 93-102). Masa ini amat penting dalam sejarah perkembangan masyarakat, karena pada masa ini beberapa penemuan baru berupa penguasaan sumber-sumber alam bertambah cepat. Berbagai macam tumbuh-tumbuhan mulai dipelihara, cara-cara untuk memanfaatkan  hutan belukar dengan menebang dan membakar pohon-pohon serta pemanfaatan lahan pertanian mulai dikembangkan, sehingga tercipta ladang-ladang dan persawahan yang memberi hasil pertanian (Soejono, 1975:153 dalam I Ketut Setiawan, 2003: 93-102).

Kehidupan bercocok tanam mendorong manusia bertempat tinggal menetap dan membangun perkampungan dengan organisasi yang semakin teratur. Dapat dipahami bahwa masyarakat yang semakin berkembang, tumbuh pula berbagai kelompok sosial. Kelompok sosial terbentuk berdasarkan kriteria kesatuan wilayah, mata pencaharian dan ketrampilan, serta kedudukan dan peranan dalam bidang pemerintahan (I Ketut Setiawan, 2003: 94). Di Bali terdapat tiga lingkup utama Kriteria tugas masyarakat: (1) Penataan aspek publik dari kehidupan komunitas, (2) Pengaturan fasilitas-fasilitas Irigasi, dan (3) pengorganisasian ritual rakyat. Untuk setiap. Untuk setiap tugas ini terdapat lembaga-lembaga terpisah (walau bukanya tidak terhubung) yang khusus ditunjukan untuk melaksanakannya: dusun (banjar), organisasi pembagian air (subak), dan jamaah pura (pemaksan).

 

1

Data pada Prasasti-prasasti pada masa Bali Kuno menunjukan bahwa telah ada kelas sosial berdasarkan kriteria jenis mata pencaharian. Kelompok ini adalah para petani, yang sekaligus menegaskan corak agraris kerajaan Bali Kuno. Dalam bentuknya yang Formal, mereka terikat dalam satuan-satuan kelompok sosial yang disebut Kasukawan (dalam prasasti-prasasti Bali Kuno) serta dewasa ini bernama subak.

Subak adalah organisasi petani yang bergerak dalam usaha pengaturan air irigasi untuk lahan sawah (I Ketut Setiawan, 1995: 71). Melengkapi Definisi sebelumnnya I Ketut Setiawan, 2003: 97 .Subak adalah organisasi petani lahan basah yang mendapat air irigasi dari suatu sumber bersama, memiliki satu atau lebih tempat suci /pura (untuk memuja Dewi Sri, manifestasi Tuhan sebagai Dewi Kesuburan) serta mempunyai kebebasan didalam mengatur rumah tangganya sendiri.

Subak telah ada sejak lama. Berdasarkan data Arkeologis khususnya data Epigrafi, organisasi ini setidak-tidaknya telah ada di Bali pada abad XI Masehi, pada masa pemerintahan Raja Anak Wungsu, Putra Raja Udayana Warmadewa (I Ketut Setiawan, 2003: 92).

Dalam rangka peningkatan produksi padi, pada tahun 1961 Subak pernah ditunjuk oleh pemerintah sebagai proyek pelaksana SSBM (Swasembada Bahan Makanan). Pada tahun 1964 Subak dijadikan proyek pelaksana Demas (demonstrasi masa ) dan selanjutnya dijadikan proyek pelaksana Bimas (bimbingan masa) sampai sekarang. Pada masa kini, ada subak yang telah berfungsi sebagai badan perkreditan, yang meminjamkan uang pada anggotannya dengan bunga rendah. Subak berkewajiban membuat dan memelihara jalan-jalan Subak atau jalan desa yang sekaligus berfungsi sebagai jalan Subak, sehingga komunikasi berjalan lancar (Wiliiam E.Collier, 1988: 69).

Disamping kegiatan-kegiatan intern, Subak merupakan organisasi yang boleh bergerak keluar, antara lain ia dapat berhubungan dengan pemerintah, semisalnya dalam hal mengajukan usul-usul kepada pemerintah daerah yang menyangkut hal peningkatan kemajuan subak. Sebaliknya subak dapat pula menjadi perantara antara pemerintah dan petani dalam hal menyampaikan perintah-perintahnya, memajukan/menyampaikan penyuluhan, lebih-lebih pada masa kini, yang menuntut agar teknologi bidang pertanian harus segera diterapkan. Sebagai misal, dalam penggunana varietas unggul, insektisida dan pupuk di masa belakang ini, peranan subak terlihat dengan jelas. Dengan demikian subak merupakan jembatan yang efektif dalam melaksanakan modernisasi pertanian dari pihak pemerintah (dinas pertanian, dinas koperasi, dan lain-lain) kepada para petani di desa-desa di Bali (Wiliiam E.Collier, 1988: 69-70).

Selama kurang lebih 9 abad telah bertahan dan terus tetap exis dalam dunia pertanian, tentu subak telah mengalami berbagai perkembangan dan perubahan mengikuti perkembangan teknologi pertanian yang saat ini berkembang pesat. Aktualisasi subak ini sangat menarik untuk diteliti dan upaya-upaya yang terus menerus dari anggota subak dan pemerintah Bali yang mampu melesatarikan warisan leluhur merupakan prestasi yang luar biasa. Hingga Subak dapat terus menjadi bagian sistem pertanian di Bali saat ini.

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penulis ingin meneliti lebih lanjut dalam sebuah skripsi yang berjudul ” SUBAK : PELESTARIAN BUDAYA DAN AKTUALISASI SISTEM PERTANIAN DI BALI”.

 

Perumusan Masalah.

Dari Latar Belakang diatas maka dapat diambil Rumusan masalah yang sesuai yaitu:

Mengapa sistem Subak ada di Bali?

Bagaimana pelestarian Subak?

Bagaimana Aktualisasi subak?

 

Tujuan Penelitian.

Berdasarkan rumusan masalah yang telah dibuat, maka tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

Mengetahui Subak di Bali.

Mengetahui cara pelestarian Subak.

Mengetahui aktualisasi Subak.

 

 

 

Manfaat Penelitian.

Manfaat Teoritis

Secara teoritis, hasil dari penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk:

Menambah pengetahuan serta wawasan ilmiah tentang Sejarah, pengembangan, serta upaya yang dilakukan dalam pelestarian subak di Bali.

Hasil penelitian dapat memberikan masukan dan sumbangan bagi pembaca sebagai tambahan sumber data bagi penelitian selanjutnya.

Memberi masukan dan sumbangan terhadap pihak terkait sebagai acuan untuk pengembangan subak.

 

Manfaat Praktis.

Secara praktis, hasil dari penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat guna :

Memenuhi salah satu syarat meraih gelar Sarjana Kependidikan Program Studi Pendidikan Sejarah Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Penelitian ini diharapkan dapat melengkapi koleksi penelitian ilmiah di perpustakaan khususnya mengenai subak di Bali.

Sebagai bahan referensi bagi pemecahan permasalahan yang relevan dengan penelitian ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

STUDI KEPUSTAKAAN

Kajian Teoritik.

1. Kelompok.

Anderson dan Parker dalam Phil. Astrid (1983: 51), mereka melakukan klasifikasi kelompok sebagai berikut:

Kesatuan Ekologi (ecological entities).

Kelompok berdasarkan dorongan naluri alamiah (human groups).

Organisasi (organization).

lembaga-lembaga masyarakat (institutional agencies).

himpunan (collectivities).

Organisasi merupakan “kesatuan-kesatuan manusia yang telah diatur secara sistematik dalam usaha mencapai tujuan tertentu: dalam setiap unit setiap anggota telah mempunyai tugas, hal mana telah ditentukan terlebih dahulu secara resmi” (Anderson dan Parker dalam Phil. Astrid, 1983: 52)

Dalam membahas organisasi dikenal adanya :

Organisasi yang suka rela (biasanya untuk memenuhi hobby seseorang).

 

5

Organisasi Paksaan (umpamannya “social communities” dengan ikatan-ikatan mahasiswa di Universitas yang tidak terjadi dengan suka rela).

Organisasi Selektif (membatasi keanggotaan pada orang-orang yang memenuhi kriteria tertentu, misalnya organisasi para purnawirawan dan lain-lain (Ibid dalam Phil. Astrid, 1983: 53).

Subak adalah suatu organisasi kemasyarakatan yang sepenuhnya khusus dan otonom, yang keanggotannya sama sekali tidak sama dengan keanggotaan organisasi lain yang manapun juga di masyarakat, dan karena itu dapat dainggap sebagai contoh yang terpenting dari kolektivisme pluralitas di Bali – kecenderungan untuk menggarap masalah-masalah dengan bekerja sama sambil membagi-bagi kesetiaan kelompok atas bagian-bagian (Clifford Geertz, 1977: 95). Berdasarkan pembahasan diatas maka Subak dapat dimasukan kedalam klasifikasi organisasi yang bersifat selektif, karena anggota subak harus memenuhi criteria tertentu.

 

2. Kebudayaan.

Kebudayaan = cultuur (bahasa Belanda) = culture (bahasa Inggris) = tsaqafah (bahasa Arab), berasal dari perkataan latin “Colere” yang artinya mengolah tanah atau bertani.

Kebudayaan adalah semua yang berasal dari hasrat dan gairah yang lebih tinggi dan murni yang berada di atas tujuan praktis dalam hubungan masyarakat misalnya musik, puisi, etik, agama, ilmu filsafat dan lain-lain (Joko Tri Prasetyo, 1991; 31).

Telah banyak pakar/ahli ilmu sosial yang memberikan definisi mengenai kebudayaan. E.B. Taylor dalam Joko Tri Prasetyo 1991: 29, memberikan definisi tentang kebudayaan, yaitu keseluruhan yang kompleks, yang didalamnya terkandung ilmu pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan kemampuan yang lain, serta kebiasaan yang didapat oleh manusia sebagai anggota masyarakat.

Definisi lain dikemukakan oleh R. Linton dalam Joko Tri Prasetyo, 1991: 31, dalam buku:”The Cultural Background of Personality”, kebudayaan adalah konfigurasi dari tingkah laku yang dipelajari dan hasil tingkah laku, yang unsur-unsur pembentukannya didukung dan diteruskan oleh anggota dari masyarakat tertentu.

 

Perubahan Budaya.

Budaya tidak lagi tertutup, tetapi telah terbuka. Sudah ada variasi-variasi budaya yang baru. Hal ini terjadi bukan saja pada budaya nasional, tetapi juga pada budaya daerah. Loyalitas orang terhadap nilai-nilai adat istiadat dan moral tidak lagi memusat tunggal pada budaya asli, tetapi menjadikan multi dimensi. Budaya menjadi bervariasi dan kompleks. Dalam keterbukaan itu terjadi perubahan sebagai berikut : (1) ada, unsur-unsur yan aus dan kemudian mati, (2) ada unsur-unsur baru yang kemudian hidup, (3) ada pula unsur-unsur yang telah mati menjadi hidup kembali karena ternyata bisa menyesuaikan dengan dinamika baru (Darma dalam Nani Tulali, 2003: 6).

Para ahli Antropologi mencatat perubahan itu terjadi : (1) menggeser hal-hal yang sudah ada, (2) menggantikannya, (3) mentransformasikan, dan (4) menambah yang baru yang kemudian berdampingan dengan hal-hal yang sudah ada (Masinabow dalam  Nani Tulali, 2003: 6).

 

Pelestarian Budaya.

Pelestarian budaya, pelestarian di sini diartikan upaya mempertahankan “keberadaan” suatu unsur atau suatu sistem budaya tertentu dalam masyarakat.

Warisan budaya dapat bertahan lama, karena terdapat fungsi yang dikandung oleh unsur-unsurnya. Secara kesatuan warisan budaya itu mempunyai fungsi yang terkait, yaitu merupakan satu sistem dimana berbagai unsur atau bagian di dalamnya berfungsi yang satu terhadap yang lain. Kalau satu unsur berubah, maka nilai dari unsur yang lain juga berubah. Oleh sebab itu budaya dipandang sebagai organisme, yang bagian-bagiannya  tidak hanya saling berhubungan melainkan juga memberi andil bagi pemeliharaan, stabilitas, dan kelestarian hidup organisme itu. Jadi dapat dikatakan semua sistem budaya memiliki syarat-syarat tertentu untuk memungkinkan eksistensinya. Atau sistem budaya itu memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi agar dia dapat terus hidup dan bila tidak terpenuhi maka sistem itu akan mengalami disintegrasi dan “mati” ( Radcliffe-Brown dan Kaplan dalam Nani Tulali, 2003: 9-10).

 

4. Sistem Pertanian.

Pertanian dalam arti luas mencakup (1) Pertanian Rakyat atau pertanian dalam arti sempit, (2) perkebunan, (3) kehutanan, (4) peternakan dan, (5) perikanan (Soetriono, 2003: 55).

Pembagian pertanian secara teknis ekonomis, pertama pertanian ekstratif yaitu mengambil hasil dari alam dan tanah tanpa usaha untuk mengembalikan sebagaian hasil tersebut untuk keperluan pengambilan di kemudian hari. Hal itu meliputi perikanan sungai, perikanan laut, dan pengambilan hasil hutan, baik yang sifatnya subsisten ataupun komersial. Kedua adalah pertanian generatif, yaitu pertanian yang memerlukan usaha pembibitan untuk pemebenihan, pengolahan, pemeliharaan, pemupukkan, irigasi dan lain-lain (Soetriono, 2003: 61).

Dalam dunia pertanian, irigasi/pengairan tanah merupakan hal yang tidak bisa diabaikan. Pengairan/irigasi merupakan salah satu factor penting dalam usaha peningkatan produksi pertanian melalui pancausahatani. Air adalah syarat mutlak bagi kehidupan dan pertumbuhan tanaman. Air dapat datang dari hujan atau harus melalui pengairan yang diatur manusia. Kedua hal tersebut harus disesuaikan agar tanaman benar-benar mendapatkan air secukupnya, tidak kurang tetapi tidak berlebihan (Soetriono, 2003: 90).

Di dalam irigasi inilah subak memiliki peranan penting, dalam perkembangan selanjutnya subak tidak hanya mengatur irigasi, subak juga menentukan kapan orang memulai menanam dan untuk palawija, bahkan juga menetapkan tanaman apa yang boleh ditanam. Dan akhirnya subak biasanya memelihara dua buah kuil, yang satu dipersembahkan untuk dewi kesuburan, yang lain untuk dewa air; di kuil-kuil itu para anggota menjalankan upacara-upacara musiman. Perperincian yang sesungguhnya dari cara kerja subak – menetapkan dan menarik denda dan sumbangan wajib, membuat ratusan bendungan bambu kecil-kecil untuk mengatur penyaluran air, mengatur pajak, dan menyimpan catatan tanah – adalah sangat kompleks (Clifford Geertz, 1977: 95).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kerangka Pemikiran.

Kerangka berfikir merupakan alur penalaran yang berdasarkan pada masalah penelitian yang digambarkan dengan skema secara holistic dan sitematik. Kerangka berfikir dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

 

Tempat dan Waktu Penelitian.

Tempat Penelitian.

Penulis mengadakan penelitian dengan mengambil lokasi di Gianyar, Bali. Lokasi ini dipilih sebagai tempat penelitian dengan alasan yaitu:

Pihak-pihak terkait yang memiliki data yang diperlukan penulis dan data tersebut dapat dipertanggung jawabkan.

Lokasi penelitian tersebut memiliki objek yang diteliti oleh penulis.

 

Waktu Penelitian.

Berdasarkan pertimbangan masalah yang akan diteliti penulis, maka waktu yang diperlukan untuk melaksanakan penelitian ini kurang lebih 7 bulan ( bulan ke-1 – bulan ke-7) yaitu : mulai dari pengajuan judul, pembuatan proposal penelitian, pengumpulan data, analisis data, pembuatan dan pengumpulan Laporan Penelitian.

 

Metode Penelitian.

Dalam penelitian ilmiah peranan metode penelitian sangat penting, karena keberhasilan yang akan dicapai tergantung dari metode yang  tepat. Kata metode berasal dari bahasa Yunani yaitu “Metodos” yang berarti cara atau jalan. Karena berhubungan dengan hal ilmiah, maka yang dimaksud metode yaitu cara kerja yang sistematis yang mengacu pada aturan buku yang sesuai dengan permasalahan ilmiah yang bersangkutan dan hasilnya dapat dipertanggung  jawabkan secara ilmiah (Koentjaraningrat, 1977: 12). Dalam usaha mendapatkan data yang diperlukan pada suatu penelitian, maka harus menggunakan metode yang sesuai dengan tujuan dan sifat penelitian itu sendiri. Adapun yang menyangkut mengenai metode penelitian meliputi:

 

 

10

Bentuk Penelitian.

Bentuk penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah Deskriptif Kualitatif, karena data yang dikumpulkan berupa kata-kata, kalimat, pencatatan dokumen, maupun arsip yang memiliki arti yang sangat lebih dari sekedar angka atau frekuensi. Penelitian Kualitatif adalah bentuk penelitian yang menghasilkan karya ilmiah yang menggunakan data diskriptif yang berupa kata-kata tertulis atau lisan dengan orang-orang atau perilaku yang dapat diamati terhadap status kelompok orang, suatu obyek, dan suatu kelompok kebudayaan (Laxy J. Moleong, 1991: 3).

Ciri-ciri pokok metode Diskriptif adalah :

Memusatkan perhatian pada masalah-masalah yang ada pada saat penelitian dilakukan (saat sekarang) atau masalah yang aktual.

Menggambarkan fakta-fakta tentang masalah yang diselididki sebagaimana adanya, diiringi dengan interpretasi nasional (Hadari Nawawi, 1995: 64).

Dari pernyataan tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa penelitian deskriptif adalah metode penilitian yang digunakan untuk meneliti peristiwa yang terjadi sekarang atau masih aktual, dengan cara interpretasi nasional dengan fakta-fakta sebagaimana adanya, data-data yang didapatkan berupa data diskriptif berupa kata-kata atau lisan terhadap suatu obyek tertentu.

Adapun langkah-langkah yang ditempuh dalam penelitian diskriptif sebagai berikut :

Memilih masalah yang diteliti.

Merumuskan dan mengadakan pembatasan masalah. Kemudian berdasarkan masalah tersebut diadakan studi pendahuluan yang menghimpun data dasar menyusun teori.

Membuat asumsi atau anggapan yang menjadi dasar perumusan hipotesis.

Merumuskan hipotesis.

Merumuskan dan memilih teknik pengumpulan data.

Mengumpulkan dan mengategorikan data untuk megklasifikasi data.

Menetapkan teknik pengumpulan data yang akan digunakan.

Melaksanakan penelitian atau pengumpulan data untuk menguji hipotesis.

Mengadakan analisis data (menguji hipotesis).

Menarik kesimpulan atau generalisasi.

Menyusun danmempublikasikan Laporan Penelitian (Mohammad Ali, 1982: 20)

 

Strategi Penelitian.

Ditinjau dari masalah yang diangkat didalam penelitian ini, tehnik serta alat yang digunakan maka dapat digunakan strategi penelitan Study Kasus. Study kasus atau penelitian kasus adalah penelitian tentang status subyrk penelitian yang berkenaan mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan etnografis adalah usaha untuk menguraikan kebudayaan atau aspek kebudayaan (Moh. Nazir, 1983: 66).

Menurut Hermawan Wasito (1993: 70), dalam metode study kasus, penelitian dilakukan terhadap satu aspek terrtentu yang telah ditentukan. Menurut Sutopo, (2002: 112) pada penelitian study kasus peneliti sudah memilih dan menetukan variable yang menjadi fokusnya sebelum memasuki lapangan penelitiannya. Sesuai dengan pengertian diatas bahwa penilitian ini sudah ditentukan yaitu tentang Subak di Bali.

 

Sumber Data.

Sumber data dalam penelitian Kualitatif dapat berupa manusia, peristiwa atau aktivitas, tempat atau lokasi, benda, beragam gambar dan rekaman, dokumen atau arsip.

Informan.

Jenis sumber data ini dalam penelitian pada umumnya dikenal sebagai responden. Manusia sebagai sumber data perlu dipahami, bahwa mereka terdiri dari siapa yang akan menjadi informan, peneliti wajib memahami posisi dengan beragam peran serta yang ada sehingga dapat diperoleh informasi pernyataan maupun kata- kata yang diperoleh dari informan Kunci (Key Informan). Informan yang diwawancarai sebagai sumber data adalah para Anggota dan Pengurus subak.

 

Tempat dan Peristiwa.

Tempat dalam artian ini adalah Subak di Bali sendiri yang menjadi fokus penelitian ini sebagai fokus dari penelitian tentu saja memiliki data-data yang penting yang tidak boleh diabaikan. Lingkungan yang berada di sekitar Subak sendiri juga menjadi data yang tidak kalah penting. Peristiwa yang dimaksud adalah peristiwa yang terjadi yang menyangkut Subak tersebut.

 

Dokumen.

Dokumen atau arsip merupakan bahan tertulis yang dapat digunakan sebagai sumber data yang dijadikan sumber informasi, dokumen-dokumen yang digunakan tentu saja yang berkaitan dengan masalah yang sedang dipelajari saat ini.

 

Teknik Sampling.

Teknik cuplikan cenderung menggunakan teknik cuplikan yang bersifat selektif dengan menggunakan pertimbangan berdasarkan konsep teoritas yang digunakan, keingintahuan pribadi peneliti, karakteristik empiris dan lain-lain. Oleh karena itu cuplikan yang akan digunakan dalam penelitian ini bersifat Purposive Sampling, dengan kecenderunagan peneliti untuk memilih informasi dan masalahnya secara labih mendalam dan dapat dipercaya untuk manjadi sumber data yang baik. Hal itu dipertimbangkan untuk mendapatkan data yang memilliki kebenaran dan pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan secara empiris.

Selain Purposive Sampling juga digunakan Snowball Sampling, yaitu teknik pengmbilan sampel sumber data, yang pada awal jumlahnnya sedikit, lama kelamaan menjadi banyak (Sugiyono, 2005: 54).

 

 

 

 

Teknik Pengumpulan Data.

Menurut Mohammad Nazir (1988: 211), pengumpulan data adalah prosedur yang sistematik dan standar untuk memperoleh data yang diperlukan. Selalu ada hubungan antara metode pengumpulan data dengan masalah penelitian yang ingin dipecahkan, yaitu memberi arah dan mempengaruhi metode pengumpulan data.

Berdasarkan sumber data yang digunakan dalam penelitian ini, maka teknik yang digunakan dalam pengumpulan data adalah sebagai berikut:

 

Wawancara Mendalam.

Teknik yang diguanakan dalam penelititan ini adalah wawancara mendalam atau in depth interviewing. Wawancara ini bersifat lentur dan terbuka, serta tidak tersetrukur ketat dalam suasana formal dan biasa  dilakukan berulang pada informan yang sama. Wawancara adalah teknik yang harus digunakan dalam penelitian kualitatif. Di dalam wawancara terdapat dua orang satu sebagai pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan yang satunya adalah yang diwawancarai (interviewee) yang memberikan jawaban.

 

Observasi Langsung.

Alasan metodologis penggunaan observasi/ pengamtan langung adalah untuk mengoptimalkan kemampuan peneliti dari segi motif, kepercayaan, perhatian pelaku tak sadar dan sebagainnya. Pengamatan lebih memungkinkan peneliti lebih merasakan apa yang dirasakan dan dihayati oleh subjek sehingga memungkinkan pula peneliti sebagai sumber data.

Observasi ini juga disebut observasi berperan pasif. Observasi ini akan dilakukan dengan cara formal dan informal untuk mengamati kegiatan pokok dengan observasi peneliti akan mendapatkan data dari sumber berupa tempat atau lokasi serta gambar dan juga peristiwa.

 

 

 

Mencatat Dokumen ( Content Analysis ) .

Teknik mencatat dokumen/analisis dokumen dilakukan paling awal guna melihat dan menghimpun informasi tentang dokumen yang mengandung data yang berguna bagi penilitian ini, hal ini dimaksudkan agar dalam pelaksanaan dan penyususnan laporan penilitian tidak mengalami kesulitan.

Dalam penelitian ini pencatatan/analisis dokumen dilakukan dengan menganalisa lingkunagan, buku-buku, media-media dan dinas-dinas dan pihak yang terkait dengan masalah yang berhubungan dengan masalah yang diteliti.

 

Validitas Data.

Validitas data dilakukan dengan Trianggulasi data atau sumber. Validitas data adalah alat ukur yang berfungsi untuk mengukur dengan tepat mengenai gejala-gejala yang hendak diukur. Dengan begitu dapat ditentukan data tersebut valid atau tidak untuk digunakan dalam  sumber penelitian.

Trianggulasi, menurut H.B. Sutopo (2002: 78), ada empat macam Trianggulasi yaitu: (1) Data Trianggulation, dimana peneliti menggunkan beberapa sumber untuk mengumpulkan data, (2) Investigator Trianggulation yaitu megumpulkan data semacam dilakuakan beberapa peniliti, (3) Methodological Trianggulation, penelitian dilakukan beberapa metode, (4) Theoretical Trianggulation, melakukan penelitian dan datanya dengan menggunakan beberapa persepektif yang berbeda.

Trianggulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data tersebut. Trianggulasi dengan sumber berarti membandingkan dan mengecek balik kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dengan metode kualitatif.

Hal itu akan dicapai dengan jalan :

Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara.

Membandingakan apa yang dikatakan orang di depan umum dengan apa yang dikatakan secara pribadi.

Membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakannya sepanjang waktu.

Membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat dan pandangan orang lain.

Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan (Lexy Maleong, 1995: 178).

Trianggulasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

Trianggulasi Sumber.

Trianggulasi Sumber untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber.

Trianggulasi Teknik.

Trianggulasi teknik untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda.

Trianggulasi Waktu.

Waktu sering juga mempengaruhi kredibilitas data. Data yang dikumpulkan dengan teknik wawancara dipagi hari pada saat narasumber masih segar, belum banyak masalah, akan memberikan data yang lebih valid sehingga kredibel (Sugiyono, 2005: 125-128).

 

Teknik Analisa Data.

Menurut Nugroho Notosusanto (1971: 14), teknik analisis data adalah analisis dengan kritik sumber sebagai metode untuk menilai sumber yang digumakan untuk mengadakan penulisan sejarah. Analisis dilakukan dengan meneliti semua bahan yang dipakai, setelah identitasnya dapat dibuktikan asli, baru dapat diteliti apakah pernyataan, fakta dan ceritanya dapat dipercaya.

Analisis data dalam peneltian kualitatif, dilakukan pada saat pengumpulan data berlangsung, dan setelah selesai pengmplan dalam periode tertentu. Pada saat wawancara, peneliti sudah melakukan analisis terhadap jawaban yang diwawancarai. Bila jawaban yang diwawancarai setelah dianalisis terasa belum memuaskan, maka peneliti akan melanjutkan pertanyaan lagi, sampai tahap tertentu, diperoleh data dianggap kredibel.

Ada dua model pokok dalam melaksanakan analisis data didalam penelitian kualitatif yaitu model analisis jalinan mengalir dan analisis interaktif (Miles dan Huberman dalam Sutopo, 2002: 94). Dalam penelitian ini data yang telah dikumpulkan dalam penelitian dianalisa secara kualitatif menggunakan model analisis interaktif.

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan model analisis interaktif yang menggunakan empat komponen sebagai berikut :

Pengumpulan data.

Kegiatan ini digunakan untuk memperoleh informasi yang berupa kalimat-kalimat yang dikumpulkan melalui kegiatan observasi, wawancara, dan dokumen. Data yang diperoleh masih berupa data yang mentah yang tidak teratur, sehingga diperlukan analisis agar data menjadi teratur.

Reduksi Data.

Proses seleksi pengfokusan, penyederhanaan, dan abstraksi dari Field Note (Catatan Lapangan) yang dilakukan selama penelitian, baik sebelum, selama, sampai akhir pengumpulan data. Reduksi data dilakukan sejak pengmbilan keputusan rencana kerja, pemilihan kasus, penyusunan proposal, membuat pertanyaan maupun pengumpulan data yang akan dilakukan. Hal ini akan berlanjut selama pengumpulan data berlangsung sampai akhir.

Sajian Data.

Merupakan rakitan dari organisasi informasi yang memungkinkan kesimpulan riset dapat dilakukan. Sajian data berupa matriks, gambar atau skema, jaringan kerja kegiatan dan table. Semuanya dirakit secara teratur guna mempermudah pemahaman informasi.

Penarikan Kesimpulan/Verifikasi data.

Kesimpulan terakhir akan diperoleh bukan hanya pada akhir pengumpulan data, melainkan dibutuhkan verifikasi yang berupa pengulangan dengan melihat kembali field note agar kesimpulan yang diambil lebih kuat dan bias dipertanggung jawabkan.

Keterkaitan komponen itu dilakukan secara interaktif dengan proses pengumpulan data sehingga kegiatan dilakukan secara caontinue sehingga proses analisis merupakan rangkaian interaktif yang bersifat siklus.

 

 

Gambar Skema Model Analisis Interaktif (Sutopo, 2002: 94).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Bagus Wirawan.1998. Sejarah Pembangunan 5 Tahun di Propinsi Bal 1969-1988.Jakarta: Depdibud.

Collier, William L. 1988. Irigasi, Kelembagaan dan Ekonomi.Jakarta: Yayasan Obor Indonesia dan PT. Gramedia.

Geertz,Clifford.1977.Penjaja dan Raja: Perubahan Sosial dan Modernisasi Ekonomi Di Dua Kota Indonesia. Jakarta: P.T. Gramedia.

Hadari Nawawi & Mimi Martini. 1991. Metode Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta : Gajah Mada. University Perss.

Hermawan Warsito. 1993. Pengantar Penelitian Metodologi Penelitian Kualitatif. Buku panduan mahasiwa. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Umum.

I ketut Setiawan. 2003. Mei. ”Sejarah dan Dinamika Organisasi Subak di Bali Kajian Berdasarkan Sumber-Sumber Prasasti.” Etnografi. No.03 vol 4, 80-92.

Joko Tri Prasetyo,dkk.1991. Ilmu Budaya Dasar. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Khairil Anwar.1995. “Strategi Ekologi Masyarakat Bali Kuno Abad IX-XI”. Kebudayaan. no 10, 4-10. Jakarta: Depdikbud.

Koentjaraningrat. 1976. Metode Penelitian Sejarah. Jakarta: Gramedia.

Laxy. J. Moleong. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.

Mohammad Ali, Drs.1982. Penelitian Kependidikan Prosedur dan Strategi. Bandung : Angkasa.

Moh Nazir. 1988.  Metode Penelitian. Jakarta : Ghalia Indonesia.

Nani Tuloli, dkk. 2003. Dialog buday, wahana Pelestarian dan Pengembangan Kebudayaan Bangsa. Jakarta: CV. Mitra Sari.

Soetriono,dkk.2003. Pengantar Ilmu Pertanian.Malang: Bayumedia.

Sugiyono.2005. Memahami Pnelitian Kualitatif. Bandung: C.V. Alfabeta.

Sutopo.HB.2002.Metodologi Penelitian Kualitatif. Surakarta : UNS Perss.

Suwardi Endraswara. 2006.Penelitian Kebudayaan: Ideologi, Epistemologi, dan Aplikasi.Sleman: Pusataka Widyatama.

Yin, Robert K. 1997. Studi Kasus (Desain dan Metode).Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.

artikel lainnya Contoh proposal skripsi untuk jurusan fkip

Monday 2 February 2015 | blog

SILABUS TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI SMA ”WARGA” SURAKARTA TAHUN PELAJARAN 2007/2008          …

Friday 12 September 2014 | blog

PEMBANGUNAN PASAR PENUNJANG BERAS & WAREHOUSE SYSTEM DI SENTRA AGRD PADA ZONA INDUSTRI [IDR. 36.250.000.000] Uraian…

Thursday 11 June 2015 | blog

MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI         MEMBUAT ANIMASI DIGITAL…

Thursday 6 November 2014 | blog

CHECKLIST PENGAMATAN PELAKSANAAN ASESMEN Nama ASESSI  : Tanggal  :                              2010 Nama   ASESOR : Waktu    : Nomor…