Menu

Contoh penulisan skripsi bab 2 tentang sistem pengairan di bali

Jun
19
2014
by : 1. Posted in : blog

BAB II

STUDI KEPUSTAKAAN

 

Kajian Teoritik.

1. Kelompok Sosial.

Kerja sama tampak sangat mendasar dalam sifat dasar manusia, demikianlah organisasi kelompok merupakan dasar dari kerja sama yang efektif. Umat manusia membentuk bermacam-macam jenis kelompok, dan masing-masing disesuaikan untuk memecahkan berbagai jenis masalah yang dihadapi oleh manusia. Kelompok sosial penting bagi manusia karena memberi identitas dan bantuan kepada para anggotannya, sebagai akibat hubungan orangtua-anak dan saling ketergantungan pria-wanita, secara tradisional keluarga merupakan titik tolak untuk bekerja sama dan menangani masalah-masalah yang dihadapi oleh semua kelompok manusia. Hubungan kekerabatan saja tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan akan organisasi sosial dalam masyarakat, golongan umur merupakan kekuatan yang dapat dimanfaatkan untuk pembentukan kelompok-kelompok sosial, selain itu kelompok sosial yang didasarkan atas kepentingan bersama para anggotannya juga memegang peranan vital (William A. Haviland, 1993: 40). Kelompok merupakan inti kehidupan dalam masyarakat, dari kelompok kita memperoleh orientasi kita ke dunia. Keanggotaan dan partisipasi dalam kelompok sosial pun memberikan kepada kita perasaan memiliki (James M. Henslin, 2006: 120).

Kelompok sosial, secara singkat dirumuskan sebagai sejumlah orang yang saling berhubungan secara teratur, atau dengan rumusan lain: kelompok sosial ialah suatu kumpulan yang nyata, teratur, dan tetap dari orang-oarang yang melaksanakan peranan yang saling berkaitan guna mencapai tujuan yang sama, dalam kelompok sosial kebersamaan dan hubungan seorang dengan yang lain lebih baik. Aspek sosialitas dalam kelompok sosial lebih sempurna. Kelompok sosial memiliki ciri-ciri: (1) Merupakan kesatuan yang nyata, yang pada dasarnya dapat dikenal semua pihak, (2) Mempunyai struktur sosial (social structure) setiap orang dalam kelompok memperoleh kedudukan tertentu dalam kelompok itu, (3) Memiliki sejumlah peranan sosial (sosial role) yang tidak sama tingginya sesuai dengan tingkatan yang ada dalam kelompok itu. Semua peranan itu diatur menurut skema tertentu yang memadukan peranan yang satu dengan yang lain, (4) Mempunyai norma-norma kelakuan yang mengatur bagaimana peranan-peranan itu harus dilakuakan. Norma-norma itu tidak selalu ditulis, (5) Setiap anggota merasa mempunyai kepentingan dan mempertahankan nilai-nilai hidup yang sama (Hendropuspito, 1989: 41-42).

Kelompok sosial serupa dengan kategori sosial dalam arti bahwa para anggotanya sadar bahwa mereka mempunyai sesuatu kesamaan yaitu kesadaran jenis. Kelompok sosial berbeda dengan kategori sosial dalam satu aspek yang penting—hubungan sosial di antara individu. Para anggota suatu kelompok sosial berinteraksi satu sama lain—artinya, di antara dua orang atau lebih terdapat usaha saling mempengaruhi yang bersifat timbal-balik dalam hal persamaan, sikap, dan tindakan. Kenalan, teman, kerabat, anggota klik, teman kerja sesama anggota tim, tetangga, dan langganan merupakan ilustrasi mengenai kelompok sosial (Kamanto Sunarto, 1985:213).

Kehidupan bersama manusia sosial  mendapatkan perwujudan dalam kelompok-kelompok yang beraneka ragam dan tidak terhitung jumlahnya, diantaranya yang penting sekali adalah keluarga. Organisasi-organisasi di berbagai lapangan kehidupan (ekonomi, politik, kesenian, keagamaan), dan masyarakat-masyarakat setempat (ketetanggaan, desa, kota). Kelompok-kelompok sosial timbul karena manusia dengan sesamanya mengadakan hubungan yang langgeng untuk suatu tujuan atau kepentingan (Selo Sumarjan, 1964: 401).

Anderson dan Parker dalam Phil. Astrid (1983: 51), mereka melakukan klasifikasi kelompok sebagai berikut: (1) Kesatuan Ekologi (ecological entities), (2) Kelompok berdasarkan dorongan naluri alamiah (human groups), (3) Organisasi (organization), (4) Lembaga-lembaga masyarakat (institutional agencies), (4) Himpunan (collectivities). Jenis-jenis kelompok sosial menurut Hendropuspito (1989: 44-51) adalah:

Kelompok Besar dan Kecil.

Kelompok Besar, kelompok yang melaksanakan tugas-tugas sosial yang penting dan universal, menyangkut kebutuhan dasar yang harus dipenuhi agar dapat bertahan hidup dan anggota yang banyak dan bersatu. Kelompok Kecil, kelompok yang dibentuk atas dasar kebutuhan atau kepentingan yang mini, dan jumlah anggotanya juga terbatas.

Kelompok Primer dan Sekunder.

Kelompok Primer (Primary Group), satuan hidup yang ditandai dengan hubungan yang akrab-mesra di antara anggotanya, misalnya keluarga. Kelompok Sekunder (Secondary Group) adalah kelompok yang hubungan antar anggotannya tidak akrab, bahkan renggang dan asing satu sama lain, misalnya anggota asosiasi dan perserikatan.

Kelompok Dalam (Ingroup) dan Kelompok Luar (Outgroup).

Pengertian kelompok dalam, muncul dari para anggota kelompok yang merasa sebagai “orang-orang kita” atau “kelompok kita” khususnya kalau mereka hendak berbuat atau menceritakan sesuatu di hadapan orang lain yang bukan anggota kelompok, orang yang bukan anggota kelompok (dilihat dari pihak pembicara) disebut kelompok luar, dapat pula disebut kelompok lain, dengan pengertian “saya“ bukan kelompok itu.

Kelompok Keanggotan (Membership Group) dan Kelompok Patokan (Reference Group).

Kelompok keanggotan ialah kelompok di mana seseorang secara resmi dan secara fisik menjadi anggota, orang lain dapat mengenal dengan pasti dengan melalui tanda anggota. Kelompok patokan ialah kelompok yang dengannya seseorang mempunyai ikatan batin, seseorang menerima pengaruh dari suatu kelompok dan menyesuaikan hidupnya dengan kelompok itu karena kelompok itu dipandang berguna untuk mengembangkan hidupnya, sehingga cara berpikir dan bertindaknya berpedoman pada kelompok tersebut.

Kelompok Penekan (Presure Group).

Kelompok penekan adalah kelompok yang anggotanya bertujuan memperjuangkan kepentingan mereka di tengah masyarakat dengan menggunakan tekanan sosial.

Kelompok Dasar (Basic Group).

Kelompok dasar adalah kelompok yang dibentuk secara spontan dari bawah untuk melindungi anggotanya terhadap tekanan negatif dari masyarakat besar dan sekaligus berfungsi sebagai sumber kegiatan bagi pembaharuan masyarakat besar.

Sedangkan dasar-dasar pembentukan Kelompok Sosial adalah: (1) Kepentingan Yang sama (Common Interest), (2) Darah dan Keturunan yang sama (Common Ancestry), (3) Daerah yang sama, (4) Ciri Badaniah yang sama.

Organisasi merupakan “kesatuan-kesatuan manusia yang telah diatur secara sistematik dalam usaha mencapai tujuan tertentu, dalam setiap unit setiap anggota telah mempunyai tugas, dimana tugas tersebut telah ditentukan terlebih dahulu secara resmi” (Anderson dan Parker dalam Phil. Astrid, 1983: 52). Dalam membahas organisasi dikenal adanya : (1) Organisasi yang suka rela (biasanya untuk memenuhi hobby seseorang), (2) Organisasi Paksaan (umpamannya “social communities” dengan ikatan-ikatan mahasiswa di Universitas yang tidak terjadi dengan suka rela), (3) Organisasi Selektif (membatasi keanggotaan pada orang-orang yang memenuhi kriteria tertentu, misalnya organisasi para purnawirawan dan lain-lain (Ibid dalam Phil. Astrid, 1983: 53).

Subak adalah suatu organisasi kemasyarakatan yang sepenuhnya khusus dan otonom, yang keanggotannya sama sekali tidak sama dengan keanggotaan organisasi lain yang manapun juga di masyarakat, dan karena itu dapat daiaggap sebagai contoh yang terpenting dari kolektivisme pluralitas di Bali – kecenderungan untuk menggarap masalah-masalah dengan bekerja sama sambil membagi-bagi kesetiaan kelompok atas bagian-bagian (Clifford Geertz, 1977: 95). Subak merupakan suatu organisasi yang otonom. Pengguanaan air dari suatu sungai untuk kepentingan sawah-sawah di suatu Subak harus mendapat ijin dari pemerintah. Kerap kali pemerintah membantu Subak dengan jalan membuat bendungan atau memberi dalam bentuk uang, dan lain-lain. Apabila bendungan dan pemasukan air ke saluran Subak dilakukan oleh Dinas Pekerjaan Umum Seksi Pengairan. Pembuatan dan pemeliharaan saluran-saluran subak hingga air masuk ke petak sawah petani merupakan tanggung jawab Subak ( Teken, dkk, dalam W. Collier, 1988: 70).

Manusia sejak dilahirkan telah langsung tercakup dalam satu jenis kelompok yang ada di mana-mana tau yang universal sifatnya yaitu keluarga, dia termasuk kedalam kelompok itu berdasarkan hubungan biologis. Keluarga-keluarga mendiami daerah tertentu dan bersama dengan keluarga yang mempunyai tempat tinggal berdekatan itu, satuan-satuan tersebut tercakup dalam desa. Demikianlah pengelompokan manusia di mana-mana terjadi menurut yang telah membudaya. Sebagai satuan kekerabatan dan bentuk-bentuk perluasannya seperti klen, digunakan cara menarik garis keturunan yang unilineal/unilateral atau yang hanya memperhitungkan seorang orang tua, ayah atau ibu sebagai penghubung garis keturunan (Ihromi, 2006: 82). Masyarakat Bali menganut sistem kekerabatan Patrilineal.

Patrilineal adalah paling umum dari semua tipe pengelompokan keturunan yang utama, yang meliputi hampir setengah dari sistem keturunan di dunia. Sistem keturunan Patrilineal ialah sistem di mana keturunan ditelusuri melalui laki-laki/ayah, dengan menggunkan prinsip keturunan menurut garis laki-laki, maka masyarakat Patrilineal mampu mengorganisasi para anggotanya ke dalam kelompok-kelompok yang tidak tumpang tindih, saling eksklusif, dan rapi yang bersifat persekutuan. Masyarakat-masyarakat Agraris sering memilih Patrilokalitas dan Patrilini, karena kaum pria mendominasi produksi ekonomi dalam masyarakat-masyarakat demikian. Anggota-anggota pria membentuk tim-tim kerja kooperatif dan dari pengaturan rumah tangga demikian itu mudah. Dalam masyarakat demikian, keluarga batih menjadi tersubordinasikan terhadap kelompok-kelompok kerabat yang lebih besar. Kelompok-kelompok yang berskala besar demikina mendominasi jarinagan kehidupan sosial, dan mereka merumuskan tempat setiap individu yang ada di dunia. Individu-individu saling bertalian berdasarkan keanggotaan mereka didalam kelompok-kelompok persekutuan itu—-sebagai anggota dari kelompok yang sama/kelompok yang berbeda dari jenis sanak keluarga tertentu di dalam kelompok yang sama. Semua kegiatan sosial dilaksanakan dalam kerangka kekerabatan. Kelompok-kelompok demikian menjadi penting pada tahap evolusi sosial budaya karena kelompok-kelompok itu muncul untuk mengatur akses individu-individu untuk memperoleh tanah dan produk tanah tersebut (Stephen K. Anderson, 2003: 432-452).

 

2. Kebudayaan.

Kebudayaan = cultuur (bahasa Belanda) = culture (bahasa Inggris) = tsaqafah (bahasa Arab), berasal dari perkataan latin “Colere” yang artinya mengolah tanah atau bertani. Kebudayaan adalah semua yang berasal dari hasrat dan gairah yang lebih tinggi dan murni yang berada di atas tujuan praktis dalam hubungan masyarakat misalnya musik, puisi, etik, agama, ilmu filsafat dan lain-lain (Joko Tri Prasetyo, 1991; 31).

Kebudayaan adalah seluruh karakteristik para anggota sebuah masyarakat, termasuk peralatan, pengetahuan, dan cara berpikir dan bertindak yang telah terpolakan, yang dipelajari dan disebarkan serta bukan merupakan hasil dari pewarisan biologis. Definisi ini menekankan bahwa sebuah totalitas kompleks yang memuat tiga rangkaian gejala yang saling berhubungan: peralatan dan teknik-ringkasnya, teknologi yang telah ditemukan manusia untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya; dan berbagai kepercayaan, nilai dan aturan yang diciptakan manusia sebagai alat untuk mendefenisikan hubungan mereka, satu dengan lainnya dan dengan lingkungan alamnya (Stephen K.  Sanderson, 2003:44).

Telah banyak pakar/ahli ilmu sosial yang memberikan definisi mengenai kebudayaan, Ralph Linton dalam Ihromi (2006: 18) mendefinisakan kebudayaan adalah seluruh cara kehidupan dari masyarakat yang manapun dan tidak hanya mengenai sebagaian dari cara hidup itu yaitu bagian yang oleh masyarakat dianggap lebih tinggi atau lebih diinginkan. Dalam arti cara hidup masyarakat itu kalau diterapkan pada cara hidup kita sendiri. Tiap masyarakat mempunyai kebudayaan, bagaimanapun sederhananya kebudayaan itu dan setiap manusia adalah makhluk berbudaya, dalam arti mengambil bagian dalam suatu kebudayaan.

Kebudayaan memiliki unsur universal yaitu unsur-unsur terbesar yang terjadi karena pecahan tahap pertama dan merupakan unusr-unsur yang pasti bisa ditemukan di semua kebudayaan di dunia, baik yang hidup dalam masyarakat pedesaan yang kecil terpencil maupun dalam masyarakat kekotaan yang besar dan komplek. Unsur-unsur universal itu, yang sekalian merupakan isi dari semua kebudayaan yang ada di dunia ini, adalah : (1) Sistem religi dan upacara keagamaan, (2) Sistem dan organisasi kemasyarakatan, (3) Sistem pengetahuan, (4) Bahasa, (5) Kesenian, (6) Sistem mata pencaharian hidup, dan (7) Sistem teknologi dan peralatan (Koentjoroningrat, 1974: 2).

Kebudayaan mempunyai ciri atau sifat yaitu: (1) Warisan yang bersifat memaksa, kebudayaan adalah suatu warisan yang diturunkan oleh angkatan terdahulu kepada angkatan berikutnya, samapai pada generasi sekarang ini, (2) Unsur pemersatu terpenting, (3) Dasar pembagian umat manusia, (4) Memiliki sifat universal, (5) Cenderung menyebar (Diffusive). Sedangkan fungsi kebudayaan adalah: (1) Membentuk manusia yang beradab, (2) Sistem kesatuan makna, (3) Pola Dasar kehidupan bersama, (4) Mengemban tugas edukatif (Hendropuspito, 1989: 152-158).

Dalam upaya untuk mempermudah pemahaman dan tindakan pelestarian dan pemanfaatan, maka diajukan dua klasifikasi wujud warisan budaya yaitu warisan budaya fisik dan warisan budaya nonfisik, kedua klasifikasi ini meliputi warisan lama dan warisan yang kontemporer. Warisan lama ialah yang telah berpuluh tahun bahkan berabad-abad diturunkan pada beberapa generasi sampai kini. Warisan kontemporer adalah ciptaan baru yang mungkin kerena pengaruh budaya asing, berwawasan iptek, ciptaan baru berdasarkan yang lama (kreasi baru), atau memang ciptaan murni yang baru (inovasi) (Nani Tuloli, 2003: 8).

Koentjoroningrat (1974: 5) berpendapat bahwa kebudayaan mempunyai paling sedikit tiga wujud, ialah : (1) Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan dan sebagainya, (2) Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat, (3) Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia, tiap-tiap unsur kebudayaan universal menjelma dalam tiga wujud kebudayaan yaitu: (a) Ideas (kompleks ide, gagasan), (b) Activities (sistem sosial), dan  (c) Artifact (karya benda manusia).

Ada empat karakteristik utama kebudayaan. Pertama, kebudayaan mendasarkan diri kepada sejumlah simbol. Simbol sangat essensial bagi kebudayaan karena ia merupakan mekanisme yang diperlukan untuk menyimpan dan mentransmisikan sejumlah besar informasi yang membentuk kebudayaan. Kedua, kebudayaan itu dipelajari dan tidak tergantung kepada pewarisan biologis dalam transmisinya. Ketiga, kebudayaan adalah sistem yang dipikul bersama oleh para anggota suatu masyarakat; yakni, merupakan representatif dari para anggota masyarakat yang dipandang lebih secara kolektif daripada individual. Terakhir, kebudayaan cenderung terintegrasi, berbagai bagian atau komponen kebudayaan cenderung manyatu sedemikian rupa sehingga konsisten satu dengan lainnya, disamping konflik, friksi dan kontradiksi yang juga ada (Stephen K.  Sanderson, 2003:44).

 

Perubahan Budaya.

Sistem budaya tidak pernah berhenti. Ia juga mengalami perubahan dan perkembangan, baik karena dorongan-dorongan dalam maupun luar. Interaksi antara komponen-komponen budaya dapat melahirkan bentuk-bentuk simbol baru. Demikian juga interaksi budaya dengan pengaruh-pengaruh luar sering dapat mengubah sistem budaya, baik komponennya atau bahkan keseluruhannya. Budaya dapat juga mengalami perubahan dengan masuknya atau hilangnya dasar-dasar ekologinya.

Budaya tidak lagi tertutup, tetapi telah terbuka. Sudah ada variasi-variasi budaya yang baru. Hal ini terjadi bukan saja pada budaya nasional, tetapi juga pada budaya daerah. Loyalitas orang terhadap nilai-nilai adat istiadat dan moral tidak lagi memusat tunggal pada budaya asli, tetapi menjadikan multi dimensi. Budaya menjadi bervariasi dan kompleks. Dalam keterbukaan itu terjadi perubahan sebagai berikut : (1) ada, unsur-unsur yang aus dan kemudian mati, (2) ada unsur-unsur baru yang kemudian hidup, (3) ada pula unsur-unsur yang telah mati menjadi hidup kembali karena ternyata bisa menyesuaikan dengan dinamika baru (Darma dalam Nani Tulali, 2003: 6). Para ahli Antropologi mencatat perubahan itu terjadi : (1) menggeser hal-hal yang sudah ada, (2) menggantikannya, (3) mentransformasikan, dan (4) menambah yang baru yang kemudian berdampingan dengan hal-hal yang sudah ada (Masinabow dalam  Nani Tulali, 2003: 6).

Semua kebudayaan pada suatu waktu berubah karena bermacam-macam sebab. Salah satu sebabnya adalah perubahan lingkungan yang dapat menuntut perubahan kebudayaan yang bersifat adaptif. Perubahan kebudayaan dapat lamban, memakan waktu ama, atau dapat cepat, memakan waktu yang relative singkat. Proses atau mekanisme yang telibat dalam perubahan kebudayaan itu adalah: (1) Penemuan Baru, mengacu pada penemuan cara kerja, alat, atau prinsip baru oleh seseorang Individu, yang kemudian diterima oleh orang-orang lain dan dengan demikian menjadi milik rakyat, (2) Difusi, tiru-meniru kebudayaan, “penemu-nya” adalah yang memasukan unsure kebudayaan baru dari masyarakat lain, (3) Hilangnya unsur kebudayaan, (4) Akulturasi, perubahan-perubahan besar dalam kebudayaan yang terjadi sebgai akibat dari kontak antarkebudayaan yang berlangsung lama, (5) Perubahan Paksa, kolonialisme/penaklukan dan pemberontakan /revolusi (6) Modernisasi (William A. Haviland, 1993: 250-270)

Williams dalam Kuntowijoyo (1987: 5) menyebutkan bahwa dalam sosiologi budaya kita menemukan adanya tiga komponen pokok, yaitu lembaga-lembaga budaya, isi budaya dan efek budaya atau norma-norma. Dengan kata lain, lembaga budaya menanyakan siapa yang menghasilkan produk budaya, siapa yang mengontrol, dan bagaimana kontrol itu dilakukan, isi budaya menanyakan apa yang dihasilkan atau simbol-simbol apa yang diusahakan; dan efek budaya menayakan konsekuensi apa yang diharapakan dari proses budaya.

Teori Ecumene Cultur oleh Ulf Hannerz dalam Piotr Sztompka  (2008:109) Eucemene sebagai kawasan interaksi, interpenetrasi, dan pertukaran cultural yang berlangsung terus-menerus. Perkembangan bertahap eucemene yang dicapai zaman kita kini benar-benar berdemensi global. Kultur tradisional muncul dalam batas komunitas; terpaku pada ruang dan waktu tertentu dan diciptakan, diperagakan, dan dicipta ulang dalam interaksi langsung tatap muka. Sedangkan kultur modern melintasi jarak ruang dan waktu; melalui teknologi kumunikasi dan transportasi tanpa terikat ruang dan waktu.

Dalam era globalisasi saat ini pengaruh Budaya Barat atau Amerika (Westernisasi/Amerikanisasi) sangat besar, akibat kontak yang tidak terbatas ruang dan waktu. Pengaruh tersebut akan sangat terasa bagi budaya-budaya lokal. Menurut Eisentandt dalam Piotr Sztompka ( 2008: 112) tanggapan masyarakat terhadap eksapansi kultur Barat tergantung pada kombinasi faktor sebagai berikut: (1) “Tempat masuk” masyarakat tertentu ke dalam masyarakat global akan menentukan aspek kultur asli apa yang akan rusak dan pilihan baru mana yang akan terbuka (dengan kata lain, dari mana pengaruh kultur itu mengalir); (2) Tipe teknologi dan organisasi ekonomi yang ada dalam masyarakat tertentu (dengan kata lain, dalam kondisi bagaimana masyarakat pinggiran menghadapai tekanan dari luar); (3) Pemikiran ontologis mendasar mengenai tatanan kosmis, sosial dan kultural dalam saling ketergantungannya maupun komposisi kekuatan elite yang menghubungkan dan mendukung pandangan ontologis tersebut; (4) Tangggapan masyarakat tertentu sepanjang sejarahnya (misalnya tanggapan Konstruktif atau menyesuaikan diri).

Globalisasi merupakan konteks bagi kebudayaan untuk beraktualisasi. Problemnya adalah, globalisasi sering mengubah eksistensi kebudayaan dari berbagai etnik, sementara pada tingkat global terjadi desakralisasi kebudayaan akibat faktor materialisme, teknologi, dan ekonomi (Nunus Supadi, 2007: 248). Pembelajaran kebudayaan perlu dilakukan melalui berbagai institusi, dengan meningkatkan peran lembaga pendidikan. Sosialisasi dan aktualisasi pemahaman kebudayaan yang tepat dan mendalam (perlu) dilakukan melalui berbagai cara dengan memberikan pengalaman kebudayaan secara langsung.

Dari berbagai kajian diatas maka Subak yang telah ada sejak jaman Raja Anak Wungsu, tentu telah mengalami berbagai perubahan. Adanya globalisasi seharusnya telah merubah unsur-unsur di dalam Subak. Subak sekarang telah memliki variasi-variasi baru yang sesuai dengan perkembangan jaman sebagai wujud aktualisasi Subak dalam sistem pertanian di Bali. Tapi Subak juga masih memiliki keasliannya yang tidak berubah sebagaimana duiungkapakan Piotr Sztompka (2008: 68) bahkan perubahan yang paling revolusioner yang paling menyeluruh dan paling radikal pun tetap meninggalkan berbagai aspek kehidupan masyarakat yang tak berubah. Di sisi lain, kelangsunganya pun tak pernah absolut.

 

Pelestarian Budaya.

Secara umum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata pelestarian berasal dari kata lestari yang artinya tetap seperti sedia kala tidak mengalami perubahan. Sedangkan kata lestari menjadi kata pelestarian berarti proses, cara mengusahakan agar sesuatu itu tetap seperti sedia kala tidak berubah (Badudu, 1996: 807). Sedangkan menurut Widjaya (1988: 19) pelestarian diartikan sebagai segala kegiatan yang dilakukan secara terus-menerus, terarah dan terpadu guna mewujudkan tujuan tertentu yang mencerminkan adanya sesuatu yang tetap abadi, bersifat dinamis, luwes dan selektif. Pelestarian budaya, pelestarian di sini diartikan upaya mempertahankan “keberadaan” suatu unsur atau suatu sistem budaya tertentu dalam masyarakat. Warisan budaya dapat bertahan lama, karena terdapat fungsi yang dikandung oleh unsur-unsurnya.

Budaya mempunyai fungsi yang terkait, yaitu merupakan satu sistem dimana berbagai unsur atau bagian di dalamnya berfungsi yang satu terhadap yang lain. Kalau satu unsur berubah, maka nilai dari unsur yang lain juga berubah. Oleh sebab itu budaya dipandang sebagai organisme, yang bagian-bagiannya  tidak hanya saling berhubungan melainkan juga memberi andil bagi pemeliharaan, stabilitas, dan kelestarian hidup organisme tersebut. Jadi dapat dikatakan semua sistem budaya memiliki syarat-syarat tertentu untuk memungkinkan eksistensinya, atau sistem budaya tersebut memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi agar dia dapat terus hidup dan bila tidak terpenuhi maka sistem itu akan mengalami disintegrasi dan “mati” ( Radcliffe-Brown dan Kaplan dalam Nani Tulali, 2003: 9-10).

Kebudayaan dapat menjadi tidak fungsional jika simbol dan normanya tidak lagi didukung lembaga-lembaga sosialnya, atau oleh modus organisasi sosial dari budaya itu. Kontradiksi-kontradiksi budaya dapat terjadi sehingga dapat melumpuhkan dasar-dasar sosialnya, kontradiksi budaya dapat juga timbul karena adanya kekuatan-kekuatan budaya yang bertentangan dalam masyarakat ( Kuntowijoyo, 1987: 7). Kebudayaan dapat terus lestari karena fungsi budaya dalam masyarakat atau dalam arti masih dibutuhkan masyarakat. Kebudayaan yang tidak fungsional/tidak dibutuhkan maka akan ditinggalkan, ditelantarkan sehingga kebudayaan tersebut akan hilang.

Isu pelestarian nilai-nilai budaya sangat bergantung kepada potensi individual sebagai pendukung/pelaku kebudayaan. Semakin kondusif potensi individual maka semakin berkelanjutan eksistensi kebudayaan (cultural sustinbility). Kebudayaan bukan suatu etinitas abstrak tanpa pijakan, tetapi sangat berpijak pada kondisi pendukungnya (Nunus Supardi, 2007: 249).

 

Kebudayaan Bali.

Kebudayaan Bali pada hakikatnya dilandasi oleh nilai-nilai yang bersumber pada ajaran agama Hindu. Masyarakat Bali mengakui adanya perbedaaan ( rwa bhineda ), yang sering ditentukan oleh faktor ruang ( desa ), waktu ( kala ) dan kondisi riil di lapangan ( patra ). Konsep desa, kala, dan patra menyebabkan kebudayaan Bali bersifat fleksibel dan selektif dalam menerima dan mengadopsi pengaruh kebudayaan luar (elka.umm.ac.id: 2007).

Ajaran agama Hindu yang mempengaruhi Kebudayaan Bali adalah Jawa-Hindu. Perbedaan pengaruh dari kebudayaan Jawa-Hindu di berbagai daerah di Bali dalam zaman Majapahit dahulu, menyebabkan adanya dua bentuk masyarakat di Bali, yaitu Masyarakat Bali-Aga dan Bali-Majapahit (wong Majapahit). Agama Hindu juga mempengaruhi sistem pelapisan masyarakat Bali. Sistem pelapisan Wangsa yang ada pada kitab suci agama Hindu adalah sistem empat kasta: Brahmana, Ksatrya, Vaisya dan Sudra. Gelar-gelar yang dipakai masyarakat Bali didapatkan dari sistem pelapisan wangsa, gelar-gelar bagi klen Brahmana adalah Ida Bagus bagi laki-laki dan Ida Ayu bagi wanita, gelar bagi klen Satria adalah Cokorda, dan untuk Weisa adalah Gusti (I Gusti Ngurah Bagus dalam Koentjoroningrat, 1971: 279).

Clifford Geertz (1992: 173) menjelaskan:

“Perbedaan fungsi antara gelar dan Varna ini jelas dari cara dipakainya bentuk-bentuk simbolis yang dikaitkan dengan keduanya. Di antara kalangan Triwangsa, di mana, di samping beberapa perkecualian, teknonimi tidak dipakai, sebuah gelar individu dipakai sebagai sebutan dan acuan pokoknya. Orang memanggil seseorang Ida Bagus, Nyakan, atau Gusti (bukan Brahmana, Satria, atau Waisya) dan mengacu padanya dengan sebutan yang sama, kadang-kadang dengan menambahkan sebuah nama urut kelahiran demi spesifikasi yang lebih pasti lagi (Ida Bagus Made, Nyakan Nyoman, dan seterusnya). Di antara para Sudra, gelar-gelar dipakai hanya sebagai acuan, tak pernah untuk panggilan…”.

 

Suku bangsa Bali merupakan suatu kelompok manusia yang terikat oleh kesadaran akan kesatuan budayanya, sedangkan kesadaran itu diperkuat oleh adanya bahasa yang sama. Walaupun ada kesadaran yang demikian, namun kebudayaan Bali mewujudkan banyak variasi dan perbedaan setempat. Di samping itu agama Hindu yang telah lama terintegrasikan ke dalam kebudayaan Bali, dirasakan pula sebagai suatu unsur yang memperkuat adanya kesadaran akan kesatuan itu.

Mata pencaharian pokok dari orang Bali adalah bertani. Dapat dikatakan 70% dari penduduk Bali berpenghidupan bercocok tanam, dan hanya 30% hidup dari peternakan, berdagang, menjadi buruh, pegawai atau lainnya (Koentjoroningrat, 1971: 284), besarnya jumlah penduduk yang berada di sektor pertanian inilah yang menjadikan Subak mendapat perhatian yang besar dan memiliki peranan penting dalam masyarakat Bali.

 

3. Sistem Pertanian.

Istilah sistem boleh dipakai dengan berbagai cara : kita menyebut sistem hidrolik, sistem elektrik, dan kita kenakan pada fenomena-fenomena organik seperti sistem saraf; juga, sebagaimana seorang ahli hukum berbicara tentang sistem undang-undang atau seorang ahli ekonomi berbicara tentang sistem perbankan begitu jugalah ahli sosiologi menggunakannya dalam membincangkan fenomena-fenomina sosial. Setiap sistem mempunyai beberapa sifat yang sama, terutama bagian-bagiannya yang begitu erat hubungannya satu sama lain dari segi struktur hingga perubahan dalam satu bagaian lain. Dalam suatu organisasi sosial seperti keluarga, kita semua tahu perubahan dalam kelakuan seseorang anggota keluarga akan berpengaruh bagi anggota-anggota lain (Duncan Mitchell, 1984: 53).

Pertanian dalam arti luas mencakup (1) Pertanian Rakyat atau pertanian dalam arti sempit, (2) perkebunan, (3) kehutanan, (4) peternakan dan, (5) perikanan (Soetriono, 2003: 55). Pembagian pertanian secara teknis ekonomis, pertama pertanian ekstratif yaitu mengambil hasil dari alam dan tanah tanpa usaha untuk mengembalikan sebagaian hasil tersebut untuk keperluan pengambilan di kemudian hari. Hal itu meliputi perikanan sungai, perikanan laut, dan pengambilan hasil hutan, baik yang sifatnya subsisten ataupun komersial. Kedua adalah pertanian generatif, yaitu pertanian yang memerlukan usaha pembibitan untuk pembenihan, pengolahan, pemeliharaan, pemupukkan, irigasi dan lain-lain (Soetriono, 2003: 61).

Menurut Eric R. Wolf (1983: 35) pertanian dibedakan dalam dua jenis, yang satu ditandai oleh pengguanaan tenaga kerja manusia dan hewan, dan yang lainnya oleh semakin besarnya ketergantungan kepada energi yang berasal dari bahan baker dan kepada ketrampilan-ketrampilan yang diberikan oleh ilmu pengetahuan. Jenis ekotipe yang pertama yang terutama mengandalkan organisme-organisme manusia dan hewan kita namakan paleoteknik, dan yang kedua neoteknik. Ekotipe paleoteknik dibagi menjadi lima sistem yaitu : (1) Swidden systems, sistem dimana tanah yang sudah tandus dibiarkan menganggur untuk jangka waktu lama (long-term fallowiing systems), (2) Sectorial fallowing systems (sistem tanam sebagian), (3) Shortterm fallowing systems (sistem tanam bergilir dengan siklus singkat), (4) Permanent cultivation/Hydroulic systems (sistem tanam permanen), (5) Permanent cultivation of favored plots (penanaman permanen lahan-lahan pilihan).

Pertanian di Indonesia menganut sistem ke-4, Permanent cultivation/hydroulic systems dimana sungai disadap airnya untuk irigasi. Sistem ini sangat bergantung pada pembangunan sarana-sarana pengairan. Pertanian hidrolik memberikan landasan yang kokoh bagi suatu masyarakat petani pedesaan. Menurut Eric R. Wolf (1983: 45) pertanian hidrolik pada umumnya terbatas pada daerah-daerah kering yang mempunyai curah hujan kurang dari sepuluh inci per tahun, dan pada daerah-daerah tropis di mana penduduk telah membersihkan tanah-tanah alluvial dari vegetasi aslinya yang lebat dan menanaminya dengan tanaman yang memerlukan banyak air seperti padi. Khususnya di daerah kering, air sebagai pemberi kehidupan yang merupakan faktor sangat penting bagi keberhasilan pertanian. Bagaiamana memperoleh jumlah air yang cukup, merupakan masalah yang sangat menentukan dan yang selalu dihadapi oleh petani.

Usaha tani di Indonesia, selain terikat pada undang-undang pemerintah, juga terikat pada hukum tak tertulis dari masyarakat tempat ia bekerja, dan hanya beberapa usaha saja (dan itu hanya usaha-usaha yang dijalankan oleh orang-orang asing) yang agag bebas dari keterikatan tersebut  (G.J. Vink, 1984: 13). Dalam dunia pertanian, irigasi/pengairan tanah merupakan hal yang tidak bisa diabaikan. Pengairan/irigasi merupakan salah satu faktor penting dalam usaha peningkatan produksi pertanian melalui pancausahatani. Air adalah syarat mutlak bagi kehidupan dan pertumbuhan tanaman. Air dapat datang dari hujan atau harus melalui pengairan yang diatur manusia. Kedua hal tersebut harus disesuaikan agar tanaman benar-benar mendapatkan air secukupnya, tidak kurang tetapi tidak berlebihan (Soetriono, 2003: 90).

Di dalam irigasi inilah subak memiliki peranan penting, dalam perkembangan selanjutnya subak tidak hanya mengatur irigasi, subak juga menentukan kapan orang memulai menanam dan untuk palawija, bahkan juga menetapkan tanaman apa yang boleh ditanam. Dan akhirnya subak biasanya memelihara dua buah kuil, yang satu dipersembahkan untuk dewi kesuburan, yang lain untuk dewa air; di kuil-kuil itu para anggota menjalankan upacara-upacara musiman. Perperincian yang sesungguhnya dari cara kerja subak – menetapkan dan menarik denda dan sumbangan wajib, membuat ratusan bendungan bambu kecil-kecil untuk mengatur penyaluran air, mengatur pajak, dan menyimpan catatan tanah – adalah sangat kompleks (Clifford Geertz, 1977: 95).

Sekarang telah ada Dinas Pekerjaan Umum (DPU), Dinas yang dimiliki pemerintah yang salah satu tugasnya adalah mengurusi drainase berupa sungai, kanal, selokan dll. Menurut Effendi Pasandaran, (1991: 20), secara tradisional desa tetap dianggap sebagai pengelola baik untuk irigasi yang dibangun masyarakat maupun bagian (unit tersier) dari sistem irigasi yang dibangun oleh pemerintah. Pengelolaan sangat erat kaitannya dengan prinsip-psinsip yang digunakan masyarakat desa dalam membangun saluran irigasi dan penetapan unit-unit pengelolaan di dalam desa.

Di dalam desa suatu blok sawah pada hakekatnya merupakan unit dasar pengelolaan air. Didalam blok keputusan yang menyangkut tata tanam dilakukan berdasarkan musyawarah dengan memperkembangkan ketersediaan air dari berbagai sumber dan ketersediaan tenaga kerja (Effendi Pasandaran, 1991: 20). Di Subak Bali alokasi air menurut proporsi blok yang didukung oleh instrumen yang memungkinkan kontrol yang luas terhadap dari anggota Subak.

Usaha merehabiltasi sistem irigasi dengan teknik-teknik yang berasal dari luar Subak tidak begitu saja diterima. Misalnnya teknik pembagian air yang menggunakan pintu sorong atau romijn lengkap dengan skala ukurannya memerlukan operator yang mengatur pembagian air. Untuk mengatasi masalah yang dihadapi, Subak membuat ambang proporsional di depan pintu bagi dan membiarkan pintu terbuka terus. Cara ini, walaupun dari segi perhitungan teknis dianggap kurang tepat, namun dari segi pertanggungan jawab sosial dapat diterima oleh Subak (Effendi Pasandaran, 1991: 20).

Di dalam pertanian tentu ada masyarakat yang melakukan pekerjaan bertani, masyarakatnya disebut Masyarakat Agraria, Masyarakat Agraria (Agrarian Society) adalah suatu masyarakat yang anggotanya menopang kehidupan mereka dengan menggunakan metode pertanian yang paling intensif dan maju, seperti membajak dan memanfaatkan tenaga binatang untuk membajak. Bajak ditemukan sekitar lima atau enam ribu tahun yang lalu, kemudian terjadi revolusi sosial kedua. Bajak membawa surplus makanan yang luar biasa besarnya, sehingga memungkinkan penduduk tumbuh dikota berkembang. Dalam masyarakat agraria (agricultural society) yang baru ini, berkembang pesat jumlah orang yang melibatkan diri dalam kegiatan di luar pertanian — untuk mengembangkan hal-hal popular dikenal sebagai ‘kebudayaan’, seperti filsafat, seni, musik, kesusateraan dan arsitektur. Perubahannya sedemikian besarnya sehingga periode ini sering dirujuk sebagai “awal mula peradaban” (James M. Henslin, 2006: 98).

Masyarakat Agraria di Negara-negara berkembang sangat berbeda-beda bentuk strukturnya (J.W. Schrool, 1982: 232). Salah satu ciri kuat dalam masyarakat agraris adalah jurang yang luas dalam kekuasaan, hak istimewa, dan prestise yang terjadi antar kelas dominant dan subordinatnya. Tentu saja, masyarakat agraris adlah masyarakat pra-industri. Sistem stratifikasi masyarakat agraris pada umumnya terdiri dari strata sosial berikut (1) Elit ekonomi-politik yang terdiri dari penguasa dan keluarganya serta kelas tuan tanah; (2) kelas penyewa; (3) kelas pedagang; (4) kelas rohaniawan; (5) kelas petani; (6) kelas seniman; (7) kelas “sampah masyarakat”. Empat kelas yang pertama dianggap kelompok kelas yang memiliki hak istimewa, tetapi kelompok-kelompok yang memiliki hak istimewa terpenting tentu saja elit ekonomi politik: kelas penguasa dan pemerintah. Para petani merupakan kelas terbesar sehingga merupakan kelas paling tereksploitasi ( Stephen K. Sanderson, 2003: 153).

Masyarakat agraria menyandarkan hidup pada pertanian murni. Tanah dibersihkan dari tanaman dan ditanami dengan bajak dan binatang-binatang di pergunakan  menarik bajak. Ladang dipupuk secara besar-besaran, terutama dengan pupuk kandang, ketika tanah ditanami dengan cara ini, maka tanah dapat digunakan secara berkesinambungan. Dengan demikian, periode kosong sangat pendek, bahkan tidak ada lagi. Para petani sering menanami sebidang tanah tertentu setiap tahun, dan dalam beberapa kasus, panen dapat dipungut dari ladang yang sama lebih dari satu kali dalam satu tahun. Sejarah menyangkut cara hidup ini sekarang pada umumnya/bentuknya sudah sangat berubah, berbagai masyarakat yang paling tidak secara parsial, tidak mengalami Industrialisasi dan menjadi bagaian dari ekonomi kapitalis dunia, karena hal tersebut, tidak ada lagi masyarakat agraria murni yang tersisa di dunia sekarang (Stephen K. Sanderson, 2003: 98). Masyarakat agraria adalah petani intensif , yang menggunakan teknik irigasi, pupuk, dan bajak kayu atau logam ditarik binatang penarik yang dikekang untuk menghasilkan pangan di sebidang tanah yang lebih luas (William A. Haviland, 1993: 27).

 

Kerangka Pemikiran.

Kerangka berfikir merupakan alur penalaran yang berdasarkan pada masalah penelitian yang digambarkan dengan skema secara holistik dan sitematik. Kerangka berfikir dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

 

Keterangan :

Subak sebagai sistem budaya telah ada selama kurang lebih 9 abad dan merupakan kebudayaan asli Bali yang hanya ada di Bali. Intensifikasi dapat dimungkinkan dengan berkembangnya sistem Subak. Subak merupakan salah satu asset kelembagaan yang telah terbukti efektivitasnya di dalam mengelola irigasi, maka Subak terus dipertahankan oleh penduduk Bali. Keberadaan sistem Subak sangat bergantung kepada anggotanya, bila mana anggotanya sudah tidak memerlukan sistem Subak maka akan ditinggalkan dan akhirnya punah.

Budaya sekarang telah terbuka, tidak tertutup lagi. Di masa globalisasi, modernisasi sehingga tidak terbatasnya saluran informasi, tentu Subak telah mengalami beberapa perubahan yang memunculkan variasi dari unsur-unsur Subak. Penduduk Bali telah berupaya untuk melestarikan Subak agar tidak hilang/punah, sehingga subak mampu bertahan hingga sekarang.

Pertanian telah berkembang pesat dewasa ini. Modernisasi pertanian mutlak diperlukan agar efisein dalam pengelolaan lahan dan mendapatkan hasil panen yang melimpah/memuaskan. Alat pertanian, pola tanam, pupuk dan teknik irigasi di kembangkan untuk mencapai tujuan tersebut, dalam upaya melestarikan Subak dan menyesuaikan dengan perkembangan pertanian maka terjadilah aktualisasi Subak dalam masyarakat Bali.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

tags: ,

artikel lainnya Contoh penulisan skripsi bab 2 tentang sistem pengairan di bali

Thursday 26 June 2014 | blog

Camry merupakan salah satu menarik naik dan selalu menjadi sekitar lebih dari sekedar mengambilkanmu untuk tujuan.…

Tuesday 20 October 2015 | blog

Kandang sapi, rt 01/ 34, jebres surakarta hp : (0271)7052633 / 08121504332 proposal ramadhan bersama al…

Thursday 4 September 2014 | blog

I. Berilah tanda (X) pada salah satu alternatif jawaban yang tepat! 1. Gambar natural/alam umumnya merupakan…

Tuesday 23 December 2014 | blog

  MODUL PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SUB BIDANG METODOLOGI PELATIHAN KERJA     MELAKUKAN PEMBENTUKAN SIKAP INSTRUKTUR…