Menu

Contoh penulisan latar belakang obyek penelitian subak di bali

Jun
19
2014
by : 1. Posted in : blog

Kalo kita sampai pada pembuatan skripsi bab ini ya bab IV kita akan diminta untuk memaparkan latar belakagnya, dalam kesempatan yang baik ini penulis akan memberikan contoh penulisan latar belakang skripsi dengan judul latar belakang pertanian subak di bali. Semoga bermanfaat adanya :

BAB IV

HASIL PENELITIAN

 

LATAR BELAKANG SISTEM SUBAK ADA DI BALI.

Geografi Bali.

Letak Geografis.

Secara geografis Provinsi Bali terletak pada 8°3’40″ – 8°50’48″ Lintang Selatan dan 114°25’53″ – 115°42’40″ Bujur Timur. Relief dan topografi Pulau Bali di tengah-tengah terbentang pegunungan yang memanjang dari barat ke timur. Provinsi Bali terletak di antara Pulau Jawa dan Pulau Lombok. Batas fisiknya adalah sebagai berikut:

Utara    :Laut Bali.

Timur   :Selat Lombok (Provinsi Nusa Tenggara Barat).

Selatan             :Samudera Indonesia.

Barat    :Selat Bali (Propinsi Jawa Timur) (http: // balitourismdirectory. blogspot. Com /2008 /01/ letak- geografis- batas admin- istrasi- dan. html).

 

Iklim.

Pulau Bali termasuk dalam wilayah negara republik indonesia yang dilalui garis khatulistiwa menyebabkan Bali beriklim tropis. Seperti halnya daerah tropis maka Bali memiliki 2 musim yaitu musim kemarau dan musim penghujan. Temperatur/ suhunya berkisar antara 23-32C (www.BMG.com/Wilayah III Denpasar) . Iklim tropis mempengaruhi sistem pertanian yang diterapkan di Bali, bila kita menggunakan pembagian sistem pertanian menurut Eric. R. Wolf (1983: 35) termsuk Permanent cultivation/ hydroulic systems, dimana pertanian ini bergantung pada Irigasi. Hal tersebut diperkuat oleh Pernyataan  Geertz (1988: 29):

“…Tanah tropis yang tipis itu diatasi dengan memasukan zat hara ke sawah dengan air irigasi untuk menggantikan zat makanan yang diambil dari tanah; dengan penambatan nitrogen oleh ganggang kehijauan yang berkembang biak di dalam air hangat; dengan pembusukan kimiawi dan bakteri dari bahan organik, termasuk sisa-sisa tanaman yang sudah dituai tertinggal di dalam air; pengisian udara pada tanah dengan gerakan air sawah yang pelan-pelan; dan, tentu saja dengan fungsi-fungsi ekologis lainnya yang dilaksanakan oleh irigasi”.

Iklim tropis yang di miliki Bali telah mendorong didirikannya Subak untuk keperluan pengairan/irigasi. Iklim tropis memungkinkan di gunakan sistem pertanian permanen, karena hanya ada 2 musim (penghujan dan kemarau) yang tidak akan mengganggu pola penanaman dan jenis tanaman yang ditanam, sehingga cocok untuk persawahan/budidaya Padi. Berbeda bila termasuk dalam iklim dingin yang mempunyai 4 musim (panas, semi, hujan, dingin/salju) hal ini akan mempengaruhi pola tanam dan jenis tanaman yang ditanam, banyak tanaman yang tidak mampu hidup di musim salju kecuali menggunakan Rumah Kaca yang suhu, cahaya dll dapat diatur. Musim semi, panas dan hujan tentu memiliki tanaman yang berbeda dan perlakuan yang berbeda pula.

Pertanian Permanent cultivation/ hydroulic systems sebagaimana dinyatakan Eric R. Wolf (1983: 35) Sistem ini sangat bergantung pada pembangunan sarana-sarana pengairan, oleh karena itu Subak menjadi sangat penting keberadaannya dalam membangun dan merawat sarana-prasarana pengairan, mengatur pembagian air agar adil dan merata. Pengairan akan mengatur pembuangan air saat musim hujan agar air tidak berlebih karena dapat menenggelamkan tanaman/merusaknya, dan saat musim kemarau mengalirkan air dari sungai-sungai ke sawah agar tidak kekurangan air.

 

Kondisi Alam.

Pulau Bali luasnya 5808,8 Km2 dibelah dua oleh suatu pegunungan yang membujur dari barat ke timur, sehingga membentuk dataran yang agak sempit di sebelah utara, dan dataran yang lebih besar di sebelah selatan. Pegunungan tersebut yang untuk sebagaian besar masih tertutup oleh hutan rimba yang leba, mempunyai arti penting dalam pandangan hidup dan kepercayaan penduduk. Di wilayah pegunungan itulah terletak kuil-kuil (pura) yang dianggap suci oleh orang Bali, seperti Pura Pulaki, Pulau Batukau, dan terutama sekali Pura Besakih, yamg terletak di kaki gunung Agung (I Gusti Ngurah Bagus dalam Koentjoroningrat, 1971:280). Pulau Bali merupakan salah satu daerah subur di Nusantara. Kondisi fisik dan geografisnya berupa paduan gunung-gunung berapi (Gunung Batur dan Gunung Agung) dengan lembah-lembah sungai ditunjang oleh keadaan iklim yang memadai, mendorong tumbuhnya kehidupan berpola agraris. Ekologi yang khas pada lembah-lembah sungai telah melahirkan bentangan persawahahan yang subur. Berbagai data arkeologi (terutama prasasti-prasasti) dapat menggambarkan kegiatan eksploitasi dan konservasi sumber daya alam, terutama pada aktivitas persawahan itu sendiri (Ketut Setiawan dalam Kebudayaan, 1996: 68).

Mengutip pernyataan Clifford Geertz dalam Koentjoroningrat (ed) (1984:247), Geertz menyatakan :

“…Dilihat dari sudut geografis, tanah pusat ini di sebelah utara pedalaman, terdiri dari suatu daerah tanah pegunungan dengan gunung-gunung berapi setinggi 1500 sampai 3000 meter, yang menurun menjadi dataran yang lebarnya rata-rata delapan sampai enam belas kilometer samapai pantai selatan. Seluruh daerah ini, yang luasnya kira-kira 3500 kilometer persegi, terpotong-potong pada jarak-jarak sejauh beberapa ratus meter satu dengan yang lain oleh berpuluh-puluh sungai kecil yang mengalir ke arah laut, dan menyebabkan adanya tebing-tebing tinggi, bagaikan lipatan-lipatan dari suatu kipas yang terbuka. Perkampungan-perkampungan letaknya berturut-turut sepanjang tebing-tebing yang menurun, dan terpisah satu sama lain oleh semak-semak dan kebun-kebun kelapa. Hubungan-hubungan antara perkampungan-perkampungan yang mempunyai satu jalur tebing yang sama (atau hubungan-hubungan antara utara dan selatan), adalah selalu lebih erat daripada hubungan antara perkampungan-perkampungan yang berlainan jalur tebing (atau hubungan antara barat dan timur). Hal itu antara lain disebabkan oleh karena perkampungan-perkampungan yang menempati jalur yang sama mendapat airnya dari sungai yang sama, dan ini menyebabkan terjadinya kesatuan-kesatuan ekologis dari perkampungan-perkampungan yang tertentu”.

 

Gunung Agung adalah titik tertinggi di Bali setinggi 3.148 m. Gunung berapi ini terakhir meletus pada Maret 1963. Gunung Batur juga salah satu gunung yang ada di Bali. Sekitar 30.000 tahun yang lalu, Gunung Batur meletus dan menghasilkan bencana yang dahsyat di bumi. Berbeda dengan di bagian utara, bagian selatan Bali adalah dataran rendah yang dialiri sungai-sungai. Berdasarkan relief dan topografi, di tengah-tengah Pulau Bali terbentang pegunungan yang memanjang dari barat ke timur dan diantara pegunungan tersebut terdapat gugusan gunung berapi yaitu Gunung Batur dan Gunung Agung serta gunung yang tidak berapi yaitu Gunung Merbuk, Gunung Patas, dan Gunung Seraya. Adanya pegunungan tersebut menyebabkan Daerah Bali secara Geografis terbagi menjadi 2 (dua) bagian yang tidak sama yaitu Bali Utara dengan dataran rendah yang sempit dan kurang landai, dan Bali Selatan dengan dataran rendah yang luas dan landai. Kemiringan lahan Pulau Bali terdiri dari lahan datar (0-2%) seluas 122.652 ha, lahan bergelombang (2-15%) seluas 118.339 ha, lahan curam (15-40%) seluas 190.486 ha, dan lahan sangat curam (>40%) seluas 132.189 ha (www.astrobali.com).

Gunung-gunung berapi menyediakan zat-zat makanan untuk tumbuh-tumbuhan yang tidak tersedia di dalam tanah yang tipis. Air berasal dari sungai-sungai yang pendek, deras dan mengandung lumpur, yang mengalir dari deretan gunung berapi itu dan mengangkut mineral yang dihasilkannya. Tanah berupa dataran tertutup yang melandai dengan drainase yang baik, terbentuk oleh alur sungai di antara pegunungan tersebut, menimbulkan serangkaian filter alam yang jelas batasanya dan sangat cocok untuk teknik irigasi tradisional. Kondisi-kondisi yang menyangkut iklim, topografi, dan Geologi itu semuanya belum pasti menyebabkan adanya teknik tradisional (Geertz, 1983: 39-41).

Kebudayaan sangat di pengaruhi oleh kondisi geografis. Sebagaimana definisi budaya oleh Stephen K.  Sanderson (2003:44) yang menekankan kepada sebuah totalitas kompleks yang memuat tiga rangkaian gejala yang saling berhubungan: peralatan dan teknik-ringkasnya, teknologi yang telah ditemukan manusia untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Penyesuaian masyarakat Bali dengan lingkungan alamnya telah menghasilkan budaya pengelolaan air yang bernama Subak.

Deretan pegunungan yang berada di tengah Bali, seperti yang diuraikan Geertz telah memaksa suku Bali untuk berusaha keras membendung air dari sungai-sungai yang mengalir dari gunung ke arah laut dan mengarahkanya ke sawah-sawah yang mereka miliki. Kondisi relief daerah Bali yang miring telah memudahkan usaha itu, tapi suku Bali harus melakukan manipulasi relief yang berbukit-bukit agar sesuai untuk keperluannya. Usaha mengalirkan air tersebut dilakukan secara konsisten dan beriringan dengan perawatan fasilitas-fasilitas. Konsistensi telah lambat-laun telah menyempurnakan sistem, organisasi dan peraturan-peraturan yang telah menjadikan Subak seperti saat ini.

Gunung-gunug berapi yang telah memungkinkan adanya air yang mengandung zat-zat makanan yang baik untuk tumbuhan dan kesuburan tanah, karena deposit alluvial dari endapan gunug berapi dan endapan lainnya. Kondisi tersebutlah yang memungkinkan/mendukung daerah Bali dijadikan daerah persawahan (pembudidayaan Padi). Suku Bali telah teryakinkan untuk terus mengelolanya guna memenuhi kebutuhan hidup akan bahan makanan.

Beban pemeliharaan fasilitas irigasi terasa berat jika terdapat di lokasi di mana ketersediaan air juga terbatas, keadaan ini sering dijumpai di daerah perbukitan di mana anak sungai tidak besar dan jurang-jurangnya sangat dalam. Justru keadaan ekologis ini telah mendorong terbentuknya subak-subak yang canggih di Bali. Hal tersebut mengakibatkan faktor pemeliharaanya mengharuskan tingkat pengelolaan yang lebih intensif, bila terjadi kerusakan/kebocoran akan sulit menelusuri aliran yang panjang ditambah tanah yang sering longsor dan jurang yang terjal, maka petani harus bersatu dalam hal pengerahan tenaga untuk menanggulangi masalah fisik yang mengganggu ketersediaan air (Ambler dalam Effendi Pasandaran, 1991: 299-300).

Kondisi iklim, topografi, dan Geologi yang berbeda-beda tiap wilayah menyebabkan tiap kawasan memiliki masalah teknis yang berbeda-beda dalam hal irigasi, semua sukar dipecahkan secara tradisional. Kondisi ini yang menyebabkan Subak tidak muncul di daerah lain selain di Bali. Sistem kepercayaan yang dianut oleh masyarakat Bali juga memberikan andil bagi munculnya sistem subak di Bali, yaitu konsep Tri Hita Karana  (tiga penyebab kebahagiaan) yang merupakan landasan dari sistem subak.

 

Apabila orang menegaskan sifat adaptasi atau komunitas dari dari segi geografis, maka tidak dapat dihindarkan lagi bahwa dia juga harus menegaskan sifat adaptasi mereka dari segi kebudayaan, dan demikian pula sebaliknya. Singkatnya, variable-variabel kebudayaan, biologis, dan fisis yang tertentu dari gambaran suatu ekosistem jelas saling berhubungan dan tunduk pada cara analisis umum sama seperti ekosistem-ekosistem di mana organisme manusia itu kebetulan tidak memainkan peranan (Geertz, 1983: 10).

 

Penduduk Bali.

Kepercayaan yang Dianut.

Sebagaian besar dari orang Bali menganut agama hindu-Bali, walaupun demikian, ada pula suatu golongan kecil orang-orang Bali yang menganut agama Islam terutama di daerah pinggir pantai di beberapa desa di pedalaman, di beberapa kota seperti Karangasem, Klungkung, dan Denpasar, sedang penganut-penganut agama Kristen dan Katolik terutama terdapat di daerah Denpasar, Jembrana, Singaraja.

Pengaruh kebudayaan Jawa-Hindu pada zaman Majapahit telah menyebabkan 2 (dua) bentuk masyarakat Bali, ialah Bali-Aga dan Bali-Majapahit. Masyarakat Bali-Aga pada umumnya mendiami desa-desa di daerah pegunungan dan kurang mendapat pengaruh dari Majapahit. Sekarang ini komunikasi modern, pendidikan, serta proses modernisasi telah membawa banyak perubahan pada desa-desa yang di tempati masyarakat Bali-Aga. Orang Bali-Majapahit pada umumnya diam di daerah dataran merupakan bagian paling besar dari penduduk Bali (I Gusti Ngurah Bagus dalam Koentjoroningrat, 1971: 279).

 

Sistem Masyarakat.

Mata pencaharian pokok dari masyarakat Bali adalah bertani, 70% dari penduduk Bali hidup dengan bercocok tanam. Sisanya sebesar 30% hidup dengan berternak, berdagang, menjadi buruh, pegawai atau lainnya. Di daerah Bali bagian selatan yang merupakan daerah dataran yang lebih luas, dengan curah hujan yang cukup, sehingga penduduknya mayoritas bercocok tanam di sawah.

Sistem kekerabatan orang Bali bersifat Patrilineal dan adat menetap sudah

 

Teknologi penanaman padi sawah umumnya diperoleh melalui proses ujicoba selama berabad-abad. Arti penting dari teknologi tersebut adalah kemampuan lahan menyerap tenaga kerja yang semakin lama semakin besar tanpa kehilangan kemampuan berproduksi (Effendi Pasandaran, 1991: 5).

 

 

 

Sejarah Subak.

Air sebagai sumber daya alam tampaknya telah dikelola dengan baik pada masa Bali Kuno, dikatakan demikian karena tersurat dalam prasasti Tengkulak A 945 Saka/1023 Masehi dijumpai ungkapan amabati, amaluku, atanem, amatun, ahani, anutu yang berarti “membuka lahan, membajak, menanam, menyiangi, menuai, menumbuk”. Prasasti Dawan 975 Saka terdapat istilah rotting banyu yang berarti semacam “pajak air”. Jabatan Samgat Nayakan air yaitu petugas yang mengelola air irigasi tersurat dalam prasasti Bungli Pura Kehen B, sedangkan jabatan ser danu “petugas yang mengelola danau sebagai sumber air untuk irigasi telah disebutkan dalam prasasti Trunyan AI yang terbit tahun 833 Saka (I Ketut Setiawan dalam Etnografi, no. 03 Vol. 4, Mei 2003: 93-102).

Subak di Bali merupakan warisan kebudayaan irigasi yang sudah cukup tua (Effendi Pasandran, 1991: 4). Berdasarkan sumber prasasti-sumber prasasti diperoleh keterangan bahwa pada pertengahan abad XI Masehi Organisasi subak sudah dikenal di Bali. Hal itu didasarkan atas keterangan dalam prasastis Pandak Bandung bertahun 993 Saka/1071 Masehi yang dikeluarkan oleh Raja Anak Wungsu yang menyebut kasuwakan talaga (Persubakan Talaga). Selanjutnya, dalam prasasti Klungkung A, B, C bertahun 994 Saka/1072 Masehi menyebut kasuwakan rawas. Sementara itu, dalam prasasti Bugbug bertahun 1103 Saka/1181 Masehi yang dikeluarkan oleh Raja Jayapangus disebut kasuwakan bunglunan dan prang (persubakan Bunglunan dan persubakan Prang) yang berada di wilayah Desa Bugbug. Prasasti Pengotan C II (tanpa tahun) yang diduga dikeluarkan oleh Raja Jayangpus. Dengan demikian, berdasarkan data tertulis (prasasti) bahwa subak munccul pada masa pemerintahan Raja Anak Wungsu, putra bungsu Raja Udayana Warmmadewa (I Ketut Setiawan dalam Kebudayaan/no 10/ th 1995: 69).

Menurut R. Chambers dalam I Ketut Setiawan, (2003: 98) organisasi pengelola air irigasi muncul sebagai akibat dari sistem fisik irigasi, untuk menjamin kelancaran irigasi diperlukan suatu organisasi, walaupun lembaga itu tidak dibentuk secara formal dalam pengertian umum. Petani biasanya tidak bersedia meluangkan waktu untuk membentuk organisasi yang rumit dan kompleks, jika ekologi setempat dan luas arealnya tidak menuntut adanya organisasi seperti itu.

Hal tersebut di perkuat dengan pernyataan I Ketut Setiawan dalam Kebudayaan (1995: 70), munculnya organisasi subak di Bali berkaitan dengan faktor ekologis, karena menghadapi tantangan ekologis yang berat, petani diharuskan bekerja keras untuk mendapatkan air, dengan demikian, nilai air manjadi mahal dan hal itu sekaligus menuntut pembagian air yang teliti dan adil. Makin mudah untuk mengambil air dari sungai dan membawanya ke lahan serta makin besar ketersediaan air, maka makin tidak terdorong petani untuk membentuk suatu organisasi yang kuat dan rapi. Sebaliknya, makin sulit tantangan ekologis yang dihadapi oleh petani makin kuat dan formal sistem pemeliharaannya, dan pada gilirannya sistem operasinya pula. Medan yang sulit di Pulau Dewata telah ikut mendorong organisasi subak untuk mencari jalan ke luar melalui pembuatan terowongan air (Arung), sangsi-sangsi pelanggaran, dan membagi air secara adil dan merata melalui alat pembagi air yang proporsional.

PELESTARIAN SUBAK DI BALI.

Air Syarat Mutlak Bagi Pertanian.

Dalam dekade abad ini PBB mengembangkan program yang disebut Air Untuk Kehidupan (Water for Life). Hal ini menunjukkan bahwa air memang telah menjadi sumberdaya yang sangat terbatas, dan selanjutnya memerlukan antisipasi penanganan yang tepat, agar tidak menimbulkan konflik yang bersifat vertikal dan horisontal. Keterbatasan air ditunjukkan dengan adanya kenyataan bahwa saat ini sekitar 1,5 milyar penduduk dunia tidak memiliki akses terhadap air, dan sekitar 2 milyar yang hidup dalam sanitasi yang tidak memadai (Biswas dalam Windia, W. 2006: 1).

Kasus di Bali menunjukkan hal yang sepadan. Perkembangan pembangunan sektor non-pertanian menyebabkan sektor pertanian menjadi terdesak. Hak guna air yang sejak dahulu kala menjadi hak petani, saat ini mulai mengalami destorsi. Sementara itu petani tidak memiliki akses untuk mengadakan pembelaan, karena mereka tidak memiliki wadah koordinasi untuk memperjuangkan hak-haknya. Sementara itu lembaga sedahan-agung yang seharusnya eksis untuk membela kepentinan petani/subak, saat ini kelembagaannya menjadi subordinat dari Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda). Oleh karenanya diperlukan langkah langkah-langkah untuk membentuk wadah koordinasi antar sistem subak yang mendapatkan air irigasi dari satu sumber air (satu bendung). Tujuannya adalah agar wadah ini dapat memperjuangkan hak-hak dan keberatan-keberatan petani dalam mempertahankan eksistensinya. Di Bali, wadah koordinasi seperti itu disebut dengan subak-gde (Wayan Windia dan Ketut Suamba, 2006: 1).

Sebagaimana pernyataan Kuntowijoyo (1987: 7) Kebudayaan dapat menjadi tidak fungsional jika simbol dan normanya tidak lagi didukung lembaga-lembaga sosialnya, atau oleh modus organisasi sosial dari budaya itu. Kontradiksi-kontradiksi budaya dapat terjadi sehingga dapat melumpuhkan dasar-dasar sosialnya, kontradiksi budaya dapat juga timbul karena adanya kekuatan-kekuatan budaya yang bertentangan dalam masyarakat. Kebudayaan dapat terus lestari karena fungsi budaya dalam masyarakat atau dalam arti masih dibutuhkan masyarakat. Kebudayaan yang tidak fungsional/tidak dibutuhkan maka akan ditinggalkan, ditelantarkan sehingga kebudayaan tersebut akan hilang.

Sejalan dengan pernyataan Kuntowijoyo tersebut, subak masih sangat diperlukan dalam mengelola air bagi sektor pertanian. Kebutuhan akan air merupakan syarat mutlak bagi keberlangsungan kehidupan tanaman sehingga subak tetap terjaga keberlangsungannya. Sistem irigasi subak yang dibangun secara pelan-pelan, satu demi satu, selama jangka waktu yang panjang dan terus-menerus secara baik dan rutin agar dalam keadaan baik. Kecil ataupun besar bangunan air itu memerlukan investasi modal yang tidak terhitung jumlahnya. Subak telah dibangun dan dirawat selama kurang lebih Sembilan abad, Subak juga telah terbukti mampu memberikan andil yang sangat berarti bagi pertanian di Bali tidak mungkin ditinggalkan begitu saja oleh masyarakat Bali.

 

Modernisasi.

 

Penelitian-penelitian oleh Akademisi.

Sejumlah ahli mancanegara pernah melakukan penelitian terhadap kearifan lokal yang terkandung dalam subak, organisasi pengairan tradisional dalam bidang pertanian di Bali. Peneliti asing tersebut antara lain Grader, Geertz, dan Lansing, di samping itu juga ada peneliti nasional dan lokal Bali yaitu: Prof Dr I Gusti Ngurah Bagus (1971), Prof Dr I Nyoman Sutawan (1989 dan 1991), Sushila (1987), Geriya (1985), Prof Dr I Gde Pitana (1993), Windia (2006), Norken (2007) dan Prof Dr I Wayan Windia (KOMPAS.com, Minggu, 21 Juni 2009). Dari penelitian-penelitian itu dapat memberikan manfaat bagi Subak antara lain:

Solusi-solusi Bagi Permasalahan Yang Dihadapi Subak.

Salah satu contohnya adalah masalah Bendung Kedewatan yang berlokasi di kawasan Desa Kedewatan-Kec.Ubud- Kab.Gianyar adalah salah satu bendung yang sangat strategis. Hal ini disebabkan karena bendung ini mengairi sawah-sawah yang terletak pada tiga kabupaten/kota, yakni di Kab. Gianyar, Badung dan Denpasar. Sementara itu, bendung ini berlokasi di kawasan Sungai Ayung, yang merupakan kawasan sungai yang sarat dengan kegiatan komponen pariwisata. Di tebing-tebing kawasan bagian hulu sungai, dibangun hotel-hotel internasional yang sangat mahal, dan pada bagian hilir aliran sungai dikembangkan beberapa aktivitas rafting. Hotel mengambil air dari aliran sungai ayung, dan rafting sangat memerlukan air yang cukup agar kegiatan rafting dapat berjalan dengan optimal.Belum lagi kebutuhan air untuk bahan baku PDAM Denpasar, hal ini menyebabkan masalah bagi pengaturan air dan menimbulkan konflik bagi petani subak.

Permasalahan di atas diteliti oleh  Wayan Windia dan Ketut Suamba dalam makalahnya “Pembentukan wadah Subak- Gde di Daerah Irigasi Kedewatan Kabupaten Gianyar”, Subak-Gde menjadi wadah koordinasi bagi 45 buah subak di Kab. Gianyar, 12 buah di Kab.Badung, dan 6 buah di Kota Denpasar. Dengan subak-Gde petani memiliki kedudukan kuat untuk menuntut haknya atas pemakaian air dari sungai Ayung, pihak sektor non-pertanian tidak akan semena-mena menutup bendungan untuk keperluan irigasi dan memudahkan melakukan advokasi terhadap petani-petani subak. Dengan penelitian yang dilakukan maka permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh subak dapat teratasi sehingga kelestarian subak dapat terjaga.

 

Melakukan Dokumentasi dan Publikasi bagi Subak.

Penelitian-penelitian yang dilakukan oleh sejumlah akademisi tentu telah tertuang dalam bentuk laporan, makalah, jurnal maupun buku-buku, yang jumlah sudah cukup banyak, hal tersebut telah memberikan andil bagi pelestarian subak. Dokumentasi dapat memberikan manfaat bagi penduduk Bali yang akan  meneruskan budaya Subak, kendala-kendala alih ilmu dapat teratasi. Ketidakadaan dokumentasi dapat menghambat proses alih ilmu dari generasi-generasi selanjutnya, hal ini disebabkan generasi tua yang memiliki ilmu tentang subak telah tiada sebelum sempat mengajarkan kepada yang muda. Generasi muda harus mencari ilmu tentang subak dengan proses trial and eror dari nol.

Publikasi dapat mengenalkan ke kalayak ramai tentang subak, sehingga manfaat subak yang cukup besar dan sangat penting bagi pertanian di Bali dapat dipahami. Publikasi juga dapat memberi pembelajaran bagi publik tentang subak dan bisa menjadi salah satu penerus budaya subak. Bahkan subak telah diketahui oleh masyarakat internasional, seperti yang kutipan dari www.mediaindonesai.com, Kamis, 13 Maret 2008 22:36 WIB :

“ Eksistensi Subak atau sistem pengairan sawah masyarakat petani di Pulau Bali yang terbukti mampu menjaga harmoni antara manusia dan alam selama ratusan tahun diangkat Stasiun Televisi ABC ke dalam program acara Catalyst yang khusus mengupas isu perubahan iklim, Kamis (13/3) malam. Dalam tayangan program acara yang dibawakan Dr Graham Phillips itu, Subak digambarkan sebagai sebuah kearifan lokal masyarakat Bali yang berhasil menjaga harmoni antara kebutuhan para petani sawah di Pulau Dewata itu akan air dan kelestarian alam. Subak telah ada sejak 500 tahun lalu. Sistem pengairan ini merupakan yang tertua yang pernah ada di bumi. Kearifan masyarakat Hindu Bali dalam menghargai air seperti tecermin dalam sistem kerja sama pembagian air Subak ini digambarkan dengan sangat positif dan disandingkan dengan peran Bali sebagai tuan rumah Konferensi PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) dengan segala dinamika yang menyertai. Budaya sistem pengairan sawah terasiring di Pulau Bali yang sudah bertahan selama ratusan tahun itu dikontraskan dengan bagaimana para anggota delegasi dari 190 negara bertemu untuk merumuskan kesepakatan global tentang masalah pengurangan emisi karbon yang telah menyebabkan bumi semakin panas. Reporter Program Acara Catalyst Mark Horstman menggali pesan kearifan budaya Subak masyarakat Bali itu dan mengkontraskannya dengan dinamika di dalam UNFCCC yang sarat pertarungan antar kepentingan.”

AKTUALISASI SUBAK DALAM MASYARAKAT BALI.

Pengaturan Irigasi.

Koordinasi distribusi air sungai antar sistem irigasi dilaksanakan pada tingkat kabupaten. Pada awalnya koordinasi ini dilkakukan melalui Sedahan Agung, tetapi setelah pemerintah (PU) membangun bending-bendung permanen maka proses koordinasi juga melibatkan aparat PU pengairan di tingkat kabupaten, sehingga koordinasi harus melalui keduanya (Effendi Pasandaran, 1991: 88).

 

Pengaturan Penanaman.

Fluktuasi debit air menyebabkan petani di Subak memberikan respon berupa perbedaan jadwal tanam antara hulu dan hilir aliran sungai, semakin ke hilir letak sistem irigasi semakin jadwal tanam mundur/terakhir. Sejak diperkenalkan bibit unggul, jadwal tersebut cenderung tidak diikuti. Petani bertanam padi lebih sering dengan jadwal yang berbeda-beda, akibatnya terjadi serangan hama. Pemerintah daerah kemballi mengatur kembali jadwal tanam, dimana irigasi bagian hilir akan bertanam lebih belakangan satu bulan dari irigasi di sebelah hulu (Effendi Pasandaran, 1991: 87-88).

Penyelenggara Upacara Adat.

Usaha Pensejahateraan Petani dan Anggotannya.

Mengembangkan ke arah Agrobisnis dan Agrowisata.

Mengutip pernyataan Guru besar Fakultas Pertanian Universitas Udayana Prof Dr I Wayan Windia dalam antaranews.com (26 December 2009) :

“Organisasi pengairan tradisional dalam bidang pertanian (subak) di Bali dikembangkan sebagai bagian dari kegiatan agribisnis. Upaya tersebut untuk mendukung sektor pariwisata, tanpa menghilangkan warna sebagai organisasi sosio-religius. Bali memiliki potensi besar dalam bidang pengembangan agribisnis dan wisata agro. Pengembangan tersebut diharapkan mampu sebagai salah satu daya tarik wisatawan berliburan ke Pulau Dewata meskipun sudah berulang kali, disamping keindahan panorama alam serta keunikan seni budaya. “Agribisnis dan wisata agro dengan berbagai jenis tanaman lokal unggulan dapat dikemas sedemikian rupa menjadi paket wisata untuk menambah daya tarik Bali, pengembangan potensi unggulan tersebut tetap mempertahankan kelangsungan dan kesinambungan subak. Hal itu penting dilakukan mengingat subak memiliki kearifan lokal, yang merupakan bagian dari seni budaya Bali”.

nah diatas sudah kami tuliskan contoh penulisan latar belakang , tentunya Kalo kita sampai pada pembuatan skripsi bab ini ya bab IV kita akan diminta untuk memaparkan latar belakagnya, dalam kesempatan yang baik ini penulis akan memberikan contoh penulisan latar belakang skripsi dengan judul latar belakang pertanian subak di bali. Semoga bermanfaat adanya.

salam redaksi

 

artikel lainnya Contoh penulisan latar belakang obyek penelitian subak di bali

Sunday 1 February 2015 | blog

SILABUS MATA PELAJARAN KIMIA (Peminatan Bidang MIPA) Satuan Pendidikan       : SMA Kelas                           : X Kompetensi…

Friday 24 July 2015 | blog

MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR TELEMATIKA SUB SEKTOR COMPUTER TECHNICAL SUPPORT     MEMASANG HARDDISK TIK.CS02.008.01…

Friday 19 December 2014 | blog

  MODUL PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SUB BIDANG METODOLOGI PELATIHAN KERJA            …

Thursday 27 August 2015 | blog

Sejarah dari Kewirausahaan (The History of entrepreneurship). Awal mulanya adalah sebuah kegiatan Barter, adalah cara yang…