Advertisement
loading...

BAB I

PENDAHULUAN

Advertisement

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Semakin canggihnya teknologi, khususnya yang berbasis komputer memiliki dampak positif pada efisiensi pelaksanaan program pendidikan dan dapat memberikan manfaat yang besar dalam dunia pendidikan. Misalnya, dalam hal pendistribusian informasi akademik bagi mahasiswa. Sebelum adanya komputer, lembaga-lembaga pendidikan dikontrol secara manual oleh petugasnya. Baru setelah adanya teknologi komputer, lembaga-lembaga pendidikan yang bersifat manual menjadi sebuah lembaga pendidikan yang berbasis komputerisasi. Bahkan pada saat ini telah mengalami kemajuan pesat dalam hal pendistribusian informasi akademik dengan teknologi informasi yang berbasis internet.

Internet adalah suatu komunikasi global yang berbentuk dari berbagai jaringan komputer yang satu sama lain saling berhubungan. Hubungan ini mampu menembus jarak dan waktu, tidak ada batasan jarak geografis, mengesampingkan perbedaan ras, suku, bangsa dan budaya.

Melalui internet, terbuka peluang bagi pengguna untuk menjelajahi sebanyak mungkin informasi dengan menggunakan berbagai aplikasi dalam jalur internet. Salah satu yang paling terkenal dan banyak digunakan adalah jalur World Wide Web atau disingkat WWW. Aplikasi ini didasarkan pada model hypertext, yaitu teks yang mengandung hyperlink atau frase yang digarisbawahi atau ditebalkan. Hyperlinks menyimpan informasi yang dapat memerintahkan komputer kita masuk ke komputer lain untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan dengan cara mengklik hyperlinks dengan mouse. WWW tidak hanya dapat menampilkan barisan kata-kata pada layar komputer, tetapi juga dapat mengeluarkan suara, menampilkan gambar dan animasi.

Dibandingkan dengan pesawat televisi yang paling banyak hanya mampu memiliki sekitar seratus saluran, maka WWW mempunyai saluran tanpa batas yang mengandung homepage dan situs, yaitu semacam pangkalan informasi khusus dengan segala informasi ada didalamnya, dari yang ringan seperti hiburan, musik, tempat belanja hingga ke pada hal yang bersifat serius seperti informasi sains dan teknologi, bisnis, indeks harga dibursa saham. Bahkan jika ada yang ingin memiliki informasi yang ingin diketahui oleh orang lain, dapat membuat homepage dan situs baru.

Selain itu internet juga dapat dijadikan sarana berkomunikasi langsung seperti halnya telepon. Bahkan jika komputer kedua belah pihak dilengkapi dengan fasilitas video conferencing (kamera, mikropon dan speaker), maka masing-masing dapat melihat kawan bicaranya. Dan meskipun komunikasi dilakukan antar kota, bahkan antar negara, biaya yang dikenakan tetap pulsa lokal, dan bukan pulsa interlokal atau internasional. Tentu saja hal ini dapat menekan biaya menjadi lebih rendah daripada menggunakan sambungan langsung jarak jauh. Fasilitas ini dapat digunakan jika telah mendaftar pada salah satu provider yang ada di Indonesia dan membayar iuran bulanan.

Pada tahun 1996, di Indonesia telah ada lima provider, yaitu perusahaan yang menyediakan jasa untuk mengakses internet atau saluran komunikasi lain. Kelima provider itu masing-masing PT. Indo Internet, PT. Indonesia Online Access, Radnet, PT. Sistelindo Mitralantas dan PT. Syberindo Aditama. Setelah terdaftar pada salah satu provider , maka akan mendapatkan password dan perangkat lunak Internet. Kemudian provider akan memasukan data base, dan hal ini merupakan tanda bahwa fasilitas internet telah dapat digunakan.

Di negara-negara maju, teknologi informasi berbasis internet bukanlah hal yang baru karena sistem informasi berbasis internet telah diterapkan di segala bidang dan terus berlangsung secara dinamis.

Negara dengan akses internet yang terbaik termasuk Korea Selatan (50% daripada penduduknya mempunyai akses jalur lebar – Broadband), dan Swedia. Terdapat dua bentuk akses internet yang umum, yaitu dial-up, dan jalur lebar. Di Indonesia, seperti negara berkembang dimana akses Internet dan penetrasi PC masih juga rendah lainnya sekitar 42% dari akses Internet melalui fasilitas Public Internet Access seperti warnet , cybercafe, hotspot dll. Tempat umum lainnya yang sering dipakai untuk akses internet adalah di kampus dan dikantor.

Penggunaan internet juga telah mengalami sebuah kemajuan yang luar biasa dengan ditemukannya Wi-fi (Wireless Fidelity).

Wi-fi (Wireless Fidelity) adalah koneksi tanpa kabel seperti handphone dengan mempergunakan teknologi radio sehingga pemakainya dapat mentransfer data dengan cepat dan aman. Wi-Fi tidak hanya dapat digunakan untuk mengakses internet, Wi-Fi juga dapat digunakan untuk membuat jaringan tanpa kabel di perusahaan.

Selain telah dipergunakannya Wi-fi, kesiapan sumber daya manusianya dinegara maju telah mencapai tingkat kematangan dalam hal penguasaan ilmu dalam hal teknologi informasi berbasis internet.

Di Indonesia sendiri, penggunaan Internet berbasis Wi-Fi sudah mulai menggejala di beberapa kota besar. Di Jakarta, misalnya, para maniak Internet yang sedang berselancar sambil menunggu pesawat take off di ruang tunggu bandara, sudah bukan merupakan hal yang asing.

Fenomena yang sama terlihat diberbagai kafe, seperti Kafe Starbuck dan La Moda Cafe di Plaza Indonesia, Coffee Club Senayan, dan Kafe Mister Bean Coffee di Cilandak Town Square, dimana pengunjung dapat membuka Internet untuk melihat berita politik atau gosip artis terbaru sembari menyeruput cappucino panas. Aktifitas tersebut dapat juga dilakukan ditempat-tempat yang bertanda ”Wi-fi Hotspot”.

Dengan perkembangan teknologi internet tersebut di atas memberi tanda bahwa kita telah memasuki sebuah era baru yang dinamakan era informasi. Penggunaan Wi-fi hotspot begitu menguntungkan, namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam hal penggunaan internet dengan basis Wi-fi hotspot.

Wi-Fi hanya dapat di akses dengan peralatan Wi-Fi certified Radio seperti komputer, laptop, PDA atau Cellphone. Untuk Laptop versi terbaru keluaran tahun 2007, sudah terdapat Wifi on Board. Bila belum tersedia pemakai dapat menginstall Wi-Fi PC Cards yang berbentuk kartu di PCMCIA Slot yang terdapat di laptop atau Wifi USB .

Penjelasan diatas menunjukan sebuah fakta bahwa penggunaan internet berbasis Wi-fi memerlukan sebuah perangkat yang harganya tidak murah. Walaupun telah nampak sebuah gejala bahwa Indonesia telah menggunakan teknologi informasi berbasis internet, namun secara fakta Indonesia masih jauh tertinggal dari Negara lain baik dalam hal teknologi informasi maupun dalam bidang sumber daya manusianya. Hal ini disebabkan karena kemampuan sumber daya manusia Indonesia yang kurang cepat dan tanggap dalam mengikuti perkembangan teknologi informasi, padahal kemajuan teknologi informasi terus berkembang dari jaman ke jaman.

Internet dengan segala kendalanya yang masih ada, nantinya berkembang menuju ke arah sebagaimana yang diramalkan Alvin Toffler dalam bukunya The Future Shock. Kantor masa depan, tidak akan membutuhkan bangunan fisik, mengingat nantinya segala infrastruktur yang ada tidak akan sanggup lagi mengikuti kebutuhan. Selain itu menurut Futurolog John Naisbitt dalam bukunya yang berjudul Global Paradox juga berpendapat, dengan kenyamanan yang ditawarkan, internet akan merupakan trend dimasa mendatang.

Oleh karena itu perkembangan teknologi informasi khususnya dengan adanya internet harus lebih disikapi dengan serius. Penggunaanyapun harus diarahkan pada sebuah tindakan yang mampu membangun dan menciptakan suatu kemajuan.

Hal tersebutlah yang mendorong Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta (UNS) untuk memasukan penggunaan internet dalam usaha menunjang kegiatan akademik bagi mahasiswanya. Usaha tersebut dilakukan dalam rangka untuk memberikan pelayanan yang cepat dalam bidang akademik seperti untuk melakukan pendaftaran SPMB, registrasi ulang, dan untuk sarana konsultasi matakuliah antara mahasiswa dengan dosennya. Segala bentuk persyaratan administrasi dapat dilakukan dengan menggunakan Internet, tentu saja hal ini memberikan begitu banyak kemudahan bagi para mahasiswa. Sehingga dalam pelaksanaan pendaftaran ulang tiap semesternya, mahasiswa tidak perlu menunggu antrean yang panjang.

UNS selalu berupaya mensikapi sebuah perkembangan teknologi informasi dengan bijak untuk memberikan kemudahan bagi mahasiswa. Bahkan UNS mengadakan fasilitas Wi-fi hotspot yang dilaksanakan oleh lembaga Pusat Komputer (PUSKOM). Wi-fi Hotspot adalah sebuah cara pengaksesan internet dengan menggunakan Wireless. Cara ini memungkinkan penggunanya untuk mengakses internet tanpa harus menggunakan kabel, tentunya dengan alat bantu yang disebut dengan Wireless. Sedangkan Wireless yang biasa digunakan adalah Wireless internal yang terdapat didalam Laptop atau Notebook. Sehingga penggunaan Hotspot tentunya tidak dapat dilakukan tanpa menggunakan Laptop ataupun Notebook. Fasilitas yang diberikan UNS ini bersifat cuma-cuma artinya tanpa dipungut biaya. Fasilitas ini sangat menguntungkan mahasiswa, sehingga para mahasiswa tidak perlu pergi ke Warnet dan mengeluarkan uang untuk menggunakan Internet.

Dengan diadakannya Hotspot, UNS mempunyai harapan agar para mahasiswa tidak mengalami kesulitan dikala melaksanakan kegiatan perkuliahannya, khususnya dalam hal pencarian informasi berkaitan dengan jurusan yang ditekuni oleh mahasiswa. Upaya ini sesungguhnya adalah sebuah program untuk meningkatkan prestasi mahasiswa. Karena dengan akses informasi tanpa batas sangat memungkinkan mahasiswa mencari referensi sebanyak mungkin ataupun mengikuti perkembangan terbaru terhadap bidang yang ditekuninya. Tidak dapat dipungkiri lagi, dengan adanya fasilitas ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para mahasiswanya. Namun, dalam perkembanganya, PUSKOM UNS masih menemui kendala dalam mensukseskan program Hotspot tersebut. Diantaranya kemampuan ekonomi mahasiswa tidak mendukung, yang menyebabkan tidak memungkinkannya seorang mahasiswa untuk menggunakan fasilitas Hotspot terserbut. Sejak diadakannya Hotspot, hanya segelintir mahasiswa yang mampu memanfaatkannya. Ditandai dengan belum begitu banyak aktifitas pengaksesan internet dengan menggunakan hotspot dilingkungan PUSKOM UNS.

Dilain hal telah terjadi penyimpangan penggunaan internet dengan fasilitas Hotspot dikalangan mahasiswa. Pada awalnya Hotspot diadakan untuk mempermudah mahasiswa dalam memenuhi kebutuhan mahasiswa tentang kegiatan akademik, mata kuliah, perkembangan teknologi ataupun informasi tentang kebijakan-kebijakan yang dilakukan oleh UNS berkaitan dengan pelaksanaan program pendidikan mahasiswa. Harapan UNS kepada mahasiswa tersebut belum dapat dicapai, karena sebagian besar mahasiswa menggunakan Hotspot hanya untuk mendapatkan informasi berkaitan tentang perkembangan dunia hiburan. Selain dari hal tersebut telah terjadi penggunan hotspot oleh orang lain dari luar lingkungan UNS, dengan kata lain masyarakat sekitar UNS telah memanfaatkan fasilitas hotspot di UNS. Berdasarkan kegiatan pra riset dilingkungan PUSKOM UNS, sebagian besar mahasiswa menggunakan internet dengan fasilitas hotspot hanya untuk membuka situs-situs hiburan yang memuat informasi tentang musik, film, gambar, bahkan ada yang mempergunakan internet hanya untuk Chatting yaitu sebuah fasilitas internet yang memungkinkan penggunanya melakukan kirim-mengirim pesan singkat dalam waktu yang cepat. Biasanya kegiatan ini dilakukan dengan software mIRC ataupun yahoo messenger.

Dari pra riset yang dilakukan dilapangan, dalam hal ini dilingkungan PUSKOM UNS. Dari 40 orang responden didapatkan pernyataan yang menunjukan tentang kebutuhan informasi yang mendominasi para pengguna hotspot dalam menggunakan internet berfasilitas Hotspot yang diadakan oleh PUSKOM UNS sebagai berikut :

Responden yang menyukai atau sering mencari informasi dibidang akademik berjumlah 5 orang atau 12,5% dari total responden, untuk responden yang menyukai informasi hiburan berjumlah 32 orang atau 80% dari total responden, responden yang menyukai informasi olah raga berjumlah 1 orang atau 2,5% dari total responden, responden yang menyukai informasi tentang politik berjumlah 1 orang atau 2,5% dari total responden, sedangkan jumlah responden yang menyukai informasi agama berjumlah 1 orang atau sama dengan 2,5% dari total responden.

B. PERUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang tersebut diatas, maka perlu adanya pembatasan masalah supaya tidak terjadi kekaburan permasalahan. Dalam penelitian ini pokok permasalahan yang akan dikemukakan adalah sebagai berikut :

1. Bagaimana hubungan antara status ekonomi dengan kebutuhan informasi hiburan di kalangan pengguna hotspot PUSKOM Universitas Sebelas Maret Surakarta

2. Bagaimana hubungan antara status ekonomi dengan penggunaan media internet di kalangan pengguna hotspot PUSKOM Universitas Sebelas Maret Surakarta

3. Bagaimana hubungan antara kebutuhan informasi hiburan dengan penggunaan media internet di kalangan pengguna hotspot PUSKOM Universitas Sebelas Maret Surakarta

C. TUJUAN PENELITIAN

Dari pokok permasalahan yang dikemukakan, maka dibawah ini akan dideskripsikan tujuan penelitian sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui hubungan antara antara status ekonomi dengan kebutuhan informasi hiburan di kalangan pengguna hotspot PUSKOM Universitas Sebelas Maret Surakarta

2. Untuk mengetahui hubungan antara status ekonomi dengan penggunaan media internet di kalangan pengguna hotspot PUSKOM Universitas Sebelas Maret Surakarta

3. Untuk mengetahui hubungan antara kebutuhan informasi hiburan dengan penggunaan media internet di kalangan pengguna hotspot PUSKOM Universitas Sebelas Maret Surakarta

D. KERANGKA TEORI DAN PEMIKIRAN

1. Model Uses and Gratification

Kerangka dasar pemikiran adalah uraian dalam menjawab pertanyaan yang tertulis dalam perumusan masalah atau dengan kata lain, kerangka dasar pemikiran merupakan petunjuk mengenai jalan pikiran penelitian, dengan berdasarkan teori yang relevan, untuk menjelaskan kaitan logis antara variabel-variabel yang diangkat menjadi judul penelitian.

Adapun teori sendiri menurut para ahli adalah rangkaian logis dari suatu proposisi yaitu pernyataan tentang sifat dari realita. Disini peneliti maksudkan adalah teori komunikasi.

Untuk meneliti hubungan antara kebutuhan informasi tentang hiburan dalam hubungannya dengan status ekonomi terhadap penggunaan media internet di wilayah hotspot PUSKOM UNS digunakan penelitian motivasional yang disebut dengan model Uses and Gratifications.

Menurut pendirinya antara lain Elihu Katz, Jay G Blumer dan Michael Gurevitch, model ini meneliti asal mula kebutuhan sosial dan psikologis menimbulkan harapan-harapan tertentu dari media atau sumber lain, yang membawa terpaan media yang berlainan dan menimbulkan akibat-akibat lain. Dengan kata lain, penggunaan media tertentu dilandasi oleh kebutuhan atau motif-motif tertentu. Selanjutnya asumsi yang melandasi model ini, menurut Katz adalah sebagai berikut :

a. Khalayak dianggap aktif, artinya sebagian penting dari penggunaan media massa diasumsikan mempunyai tujuan.

b. Dalam proses komunikasi massa banyak inisiatif untuk mengkaitkan pemuasan kebutuhan dengan pemilikan media massa terletak pada anggota khalayak

c. Media massa harus bersaing dengan sumber-sumber lain untuk memuaskan kebutuhan khalayaknya.

d. Kebutuhan khalayak yang dipenuhi media massa hanyalah bagian dari rentang kebutuhan manusia yang lebih luas.

e. Bagaimana kebutuhan ini terpenuhi melalui media massa amat tergantung kepada perilaku khalayak yang bersangkutan.

f. Penilaian tentang arti-arti kultural dari media massa harus ditangguhkan sebelum diteliti lebih dahulu orientasi khalayak.

Dengan demikian, karena model ini memandang khalayak sebagai makhluk yang aktif, maka persoalan utama model ini bukanlah bagaimana media massa dapat merubah perilaku khalayak sebagai model penelitian konvensional tetapi bagaimana media massa memenuhi kebutuhan khalayak.

Di bawah ini adalah bentuk operasional dari model Uses and Gratification menurut Elihu Katz, Jay G Blumer dan Michael Gurevitch yang dirangkum oleh Jalaludin Rahmat :

Model Uses and Gratification

Anteseden Motif Penggunaan Media Efek

- Variabel Individual – Kognitif – Jumlah isi – Dependensi

- Variabel Lingkungan – Diversi – Macam isi – Pengetahuan

- Personal Identity – Hubungan dengan Isi – Kepuasan

Sumber : Rahmat, 1992, 205

Model tersebut bermula dari variabel individual dan lingkungan yang menentukan kebutuhan khalayak :

a. Variabel individual terdiri dari data demografis seperti : Usia, Jenis Kelamin, faktor Psikologis komunikan

b. Variabel lingkungan terdiri dari : Organisasi, Sistem sosial dan struktur sosial

Sedangkan motif dapat dikategorikan menjadi berbagai cara :

a. Unfungsional (hasrat melarikan diri, kontrak sosial dan bermain)

b. Bifungsional (informasi edukasi, fantasis eskapis)

c. Empatfungsional (diversi, hubungan personal, hiburan, hubungan transmisi budaya)

d. Multifungsional

Daftar motif memang tidak terbatas, tetapi operasionalisasi dari Blumler, seperti terlihat dalam diagram dimuka cukup praktis untuk digunakan dalam penelitian. Blumer menyebutkan 3 orientasi yakni :

a. Orientasi kognitif (kebutuhan informasi)

b. Orientasi diversi (kebutuhan pelepasan dari tekanan dan kebutuhan akan hiburan)

c. Orientasi identitas personal (menggunakan media untuk menonjolkan atau memperkuat sesuatu yang penting dalam kehidupan khalayaknya).

Penggunaan media terdiri dari jumlah waktu yang digunakan dalam berbagai media, jenis ini yang dikonsumsi dan hubungan antara individu konsumen media dengan isi medianya yang dikonsumsi atau media secara keseluruhan. Efek media dapat dioperasionalisasikan sebagai evaluasi kemampuan media untuk memberikan kepuasan. Berdasarkan operasionalisasi tersebut peneliti akan mencoba menemukan hubungan variabel yang akan diukur, seringkali hanya meneliti sebagian dari komponen-komponen dalam diagram diatas.

Beberapa variabel dalam penelitian ini adalah :

a. Variabel Anteseden (Status Ekonomi)

b. Variabel Independen (Kebutuhan Informasi Hiburan)

c. Variabel Dependen (Penggunaan Media Internet Hotspot)

2. Status ekonomi

Didalam kehidupan masyarakat sistem pelapisan adalah merupakan ciri yang tetap dan umum. Seperti halnya kehidupan masyarakat transisi yang sebagian besar penduduknya hidup diperkotaan, juga terdapat Status ekonomi.

Status menurut Soerjono Soekamto.

Status diartikan sama dengan kedudukan sosial. Status diartikan sebagai tempat atau posisi seseorang dalam suatu kelompok sosial, sehubungan dengan kelompok lainnya dalam kelompok tersebut atau tempat suatu kelompok sehubungan dengan kelompok lainnya yang lebih besar lagi. Kedudukan sosial artinya tempat seseorang secara umum dalam masyarakatnya sehubungan dengan orang-orang lain dalam arti lingkungan pergaulannya, prestisenya dan hak-hak serta kewajibannya. Sedangkan Ralph Linton mengatakan :

Status adalah keseluruhan posisi atau kedudukan yang dimiliki seseorang dalam pola-pola kelakuan secara timbal balik antara kedudukan yang diwariskan maupun kedudukan yang diusahakan.

Dari kedua pendapat diatas dapat disimpulkan, bahwa yang dimaksud dengan status adalah kedudukan seseorang dalam masyarakat, dalam lingkungan sosialnya dan kedudukan tersebut dapat diperoleh secara warisan atau diusahakan sendiri. Hal ini menunjukan bahwa status sosial hanya dapat dilihat dalam pergaulan dimasyarakat atau dalam hubungannya dengan masyarakat lain dan status sosial dapat memberikan hak dan kewajiban bagi pemegangnya.

Sedangkan status sosial ekonomi menurut Soerjono Soekamto adalah :

Posisi dalam suatu hirarki dan suatu wadah bagi hak dan kewajiban yang berhubungan dengan menentukan alokasi sumber-sumber daya yang terbatas, yang dikaitkan dengan suatu prestise.

Dari pendapat diatas, Soerjono Soekamto mengemukakan tentang adanya sesuatu yang dihargai masyarakat, yaitu yang menentukan prestise seseorang dalam masyarakat. Sementara itu, Paulus Wirutomo MSc mendifinisikan : Status ekonomi sebagai penilaian yang berhubungan dengan kesempatan untuk mendapatkan imbalan ekonomi seseorang.

Status ekonomi seseorang dalam masyarakat dapat dimengerti melalui apa yang dimiliki, oleh individu atau kepala keluarga untuk mengusahakannya.

Seperti halnya Sayogyo dan Pujiwati Sayogyo Mengatakan sebagai berikut :

Status ekonomi masyarakat dapat dilihat dari tingkat ekonomi keluarga yang diukur melalui tingkat pendidikan, lapangan pekerjaan, dan tingkat penghasilan .

Dengan begitu seseorang berada pada lapisan tertinggi jika memenuhi kriteria seperti diatas. Karena status ekonomi menyangkut pula pada pekerjaan, maka perlulah diketahui apa difinisi pekerjaan. Drs. Soeroto, MA menyatakan bahwa yang dimaksud dengan pekerjaan adalah setiap pekerjaan yang menghasilkan barang dan jasa bagi diri sendiri atau orang lain yang dilakukan, dengan dibayar atau tidak.

Adanya pekerjaan, berarti maka seseorang akan mengharapkan apa yang dinamakan pendapatan sebagai imbalan dari kerja seseorang dan merupakan penghasilan keluarga yang akan mengakibatkan adanya sejumlah barang yang dimilikinya. Dengan individu mau bekerja akan mendapatkan penghasilan bagi kehidupannya. Dengan demikian akan mempengaruhi status ekonominya dalam masyarakat.

Sondang P. Siagian Mengatakan :

Pendidikan yang merupakan hasil dari kemajuan manusia dimaksudkan untuk memperbaiki taraf penghidupan.

Berdasarkan kedua pendapat diatas dapat dikatakan bahwa pendidikan adalah suatu kegiatan yang direncanakan masak-masak guna memperoleh kemajuan bagi dirinya sendiri agar tercipta taraf penghidupan yang lebih baik. Dengan pendidikan, seseorang akan menambah pengetahuan. Dengan pengetahuan yang luas seseorang akan memperluas cakrawala pandangannya dan akan lebih mudah menerima informasi-informasi baru yang bersifat membangun dan dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari sehingga meningkatkan taraf hidupnya.

3. Kebutuhan Informasi

Disadari atau tidak dalam kehidupan manusia selalu membutuhkan informasi. Lebih-lebih manusia modern, sehingga para ahli menamakan abad ini sebagai era informasi. Untuk lebih jelasnya, pentingnya komunikasi tercermin pada pernyataan Norbert Wiener berikut ini :

Informasi adalah nama untuk kegiatan pengawasan terhadap apa yang ditukar-menukar dengan dunia luar, sehingga kita dapat menyesuaikan terhadapnya dan berdasarkan informasi tersebut memang merasakan bahwa penyesuaian terjadi karenanya . Selanjutnya ia mengatakan bahwa proses penyesuaian diri adalah proses penggunaan dan menerima informasi. Pentingnya penggunaan informasi bagi kehidupan manusia dikatakan sebagai berikut :

Untuk hidup efektif orang harus hidup dengan cukup informasi. Dengan demikian komunikasi dan pengawasan merupakan bagian yang hakiki dari hidup manusia. Sebagaimana manusia juga merupakan bagian dari manusia yang lain. Lebih menguatkan pendapat Wiener diatas, maka Charles R. Wright, menekankan pentingnya kegiatan komunikasi bagi manusia dalam upaya mencari informasi, ia mengatakan sebagai berikut :

Bahwa kegiatan komunikasi merupakan kegiatan yang sangat mendasar dan vital bagi manusia. Dikatakan vital karena setiap individu mempunyai kemampuan untuk berkomunikasi dengan manusia lain. Dengan demikian menetapkan kredibilitasnya sebagai anggota masyarakat, sehingga meningkatkan kesempatan individu tersebut untuk tetap hidup, sedangkan tidak adanya kemampuan itu pada dasarnya seseorang individu dianggap sebagai suatu patologi kepribadian yang serius .

Dalam kedudukannya yang demikian, maka informasi merupakan suatu kebutuhan, yang hampir disebut dengan kebutuhan pokok. Akan tetapi di dunia ini terdapat begitu banyak informasi yang menuntut individu melakukan pemilahan terhadap informasi tersebut. Sebelumnya akan dijelaskan pengertian tentang kebutuhan atau need, diberi arti sama juga dengan konsep ” motif ” yaitu menunjukan pada pengertian ”sebagai suatu kekuatan-kekuatan yang mendorong perilaku individu”.

Lebih jelasnya, I.L. Pasaribu dan B. Simanjuntak menerangkan sebagai berikut :

Kedalam konsep motif, tercermin suatu pengertian, bahwa perilaku individu tersebut diarahkan kepada suatu tujuan. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa ”motif” itu merupakan suatu tenaga (dorongan, alasan, kemauan) dalam diri individu yang menyebabkannya berbuat, bertindak, dimana perbuatannya atau tindakannya itu diarahkan pada tujuan yang hendak dicapainya . Jadi dalam segala tindakan individu, terdapat suatu dorongan dan tujuan yang hendak dicapai untuk memenuhi suatu kebutuhan.

Kemudian kebutuhan informasi itu sendiri didefinisikan sebagai suatu fungsi dari ketidakmenentuan ekstrinsik yang ditimbulkan dengan adanya perbedaan-perbedaan antara suatu tingkat kepastian individu tentang obyek lingkungan yang dianggap penting dengan suatu keadaan yang mendorongnya untuk berupaya mencari keadaan itu.

Ketidak menentuan terjadi manakala seseorang memandang pengetahuan yang dimilikinya tidak memadai, sehingga ia terdorong untuk mencari informasi. Untuk menjelaskan masalah hiburan atau informasi tentang hiburan dapat ditelusuri dari pengertian hiburan berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia

Nomor 65 Tahun 2001 tentang pajak daerah presiden republik indonesia, sebagai berikut : Hiburan adalah semua jenis pertunjukan, permainan, permainan ketangkasan, dan/atau keramaian dengan nama dan bentuk apapun, yang ditonton atau dinikmati oleh setiap orang dengan dipungut bayaran, tidak termasuk penggunaan fasilitas untuk berolah raga.

Jadi yang dimaksud dengan hiburan adalah sebuah pertunjukan atau tontonan dalam bentuk apapun baik suara, gambar, atau multimedia yang berfungsi untuk dinikmati seseorang. Dari beberapa penjelasan tentang pengertian kebutuhan informasi tentang hiburan diatas, dapat ditarik kesimpulan yaitu suatu kondisi psikologis seseorang yang merasakan adanya kekuranglengkapan pengetahuan atau informasi tentang hal-hal hiburan dan perkembangannya seperti musik, gambar-gambar, video, film, permainan dan sebagainya yang didapatkan seseorang dengan cara dan fasilitas tertentu. Dari keadaan tersebut maka timbul suatu motivasi untuk mencari kekuranglengkapan pengetahuan atau informasi.

4. Penggunaan Media Massa

Berdasarkan asumsi dari model Uses and Gratification, yang beranggapan bahwa khalayak media massa dianggap aktif, penggunaan media diarahkan untuk memperoleh tujuan yang hendak dicapai. Dengan demikian menurut Katz, bahwa pengguaan media massa didasarkan pada harapan-harapan tertentu yang dapat memuaskan kebutuhannya dan menjadi motifnya.

Bagaimana khalayak menaruh harapan-harapan pada media yang memuaskan kebutuhan itu, yakni berdasarkan penelitiannya terhadap media itu sendiri. Hal tersebut seperti dijelaskan MC. Quail berikut :

Walaupun batasan public tentang media lebih ditentukan secara langsung oleh media itu sendiri namun pengetahuan yang kita peroleh dari pengalaman pribadi tetap juga memegang peranan penting dan membentuk konsep kita tentang batasan media.

Maka khalayak akan terus menggunakan media selama media tersebut mampu memberikan kepuasan terhadap kebutuhannya akan informasi.

Seperti penjelasan teori low of effect sebagai berikut :

1. Jika suatu tindakan (act) atau reaksi (react) yang dilakukan seseorang berhasil memuaskan satu atau beberapa kebutuhannya maka tindakan tersebut cenderung untuk diulanginya berkali-kali dan menjadi pola tingkah lakunya.

2. Sebaliknya bila suatu tindakan atau reaksi dilakukan tidak berhasil menimbulkan suatu kepuasan terhadap kebutuhanya itu atau menimbulkan frustasi maka tindakan atau reaksinya tidak akan diulanginya lagi.

Sementara itu kemampuan media massa dalam memberikan dan menyebarkan berbagai informasi yang dibutuhkan khalayaknya, telah dibuktikan oleh beberapa penelitian komunikasi.

Sehubungan hal tersebut diatas, Marshall Mc. Luhan berpendapat demikian :

Media massa adalah alat perpanjangan indra kita. Dengan media massa kita memperoleh informasi tentang benda, orang atau tempat yang kita alami secara langsung. Dunia ini terlalu luas untuk kita masuki semuanya. Media massa datang untuk menyampaikan informasi tentang lingkungan sosial dan politik.

Seperti juga dengan pendapat Ball-Rokeah and Defleur. The social context that typifice the situation of exposure to the different media.

Dengan semakin rumitnya masyarakat, orang mempunyai sedikit peluang dan sumber daya untuk mengalaminya secara langsung, artinya mereka terus semakin tidak mengetahui apa yang terjadi diluar lingkungan sosial mereka yang langsung. Disini termasuk media komunikasi, termasuk media massa.

Dalam penelitian ini peneliti memfokuskan pada satu jenis media massa saja yaitu internet.

Internet adalah jaringan komputer yang dapat menghubungkan suatu komputer atau jaringan komputer dengan jaringan komputer lain, sehingga dapat berkomunikasi atau berbagi informasi tanpa melihat jenis komputer itu sendiri.

Sedangkan Arief Wibowo seorang dosen peneliti internet dari fakultas Budiluhur Jakarta menyatakan bahwa :

Internet adalah jaringan komunikasi global tanpa batas dimensi apapun. Internet lahir dari perkembangan perangkat Information Technology (IT) yang memungkinkan terjadinya komunikasi dalam area tak terbatas antar sumber daya di dalamnya. Internet melibatkan banyak sumber daya, mulai dari perangkat keras, perangkat lunak dan tentu saja penggunanya .

Dari dua pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa internet merupakan salah satu jenis media massa yang memungkinkan penggunanya memperoleh informasi tanpa batas baik dalam bentuk gambar digital, suara, dan suara beserta gambar.

Dengan demikian, pernyataan tersebut sesuai dengan asumsi-asumsi dalam Uses and Gratification. Khalayak yang membutuhkan informasi tergantung pada media yang menyajikan informasi tersebut. kebutuhan informasi timbul atas dorongan motifnya untuk memenuhi kebutuhannya dan apabila tidak terpenuhi, maka akan terjadi ketegangan psikologis. Dalam demikian media massa menawarkan sejumlah informasi dengan beragam bentuk. Termasuk internet yang mampu menyajikan informasi dengan berbagai bentuk yang berupa tulisan, gambar, gambar bergerak, dan suara.

Sedangkan penggunaan internet pada saat ini telah mengalami perkembangan yang pesat dengan diadakannya fasilitas hotspot. Hotspot adalah suatu jaringan Local Area Network nirkabel (Wireless LAN) yang tersedia untuk publik disuatu lokasi yang benar-benar hot untuk mengakses internet. Contoh lokasi hotspot seperti bandara, kafe, hotel, kampus, rumah sakit.

Penggunaan media massa yang berupa internet dengan fasilitas hotspot dapat memungkinkan penggunanya mendapatkan informasi yang dibutuhkan tanpa harus menggunakan kabel. Bahkan pengaksesan informasi dengan fasilitas tersebut bersifat gratis bagi seseorang yang mempunyai perangkat yang memungkinkan untuk digunakan seperti notebook.

Dengan landasan pemikiran diatas, dapat disusun sekema hubungan antara variabel sebagai berikut :

E. HIPOTESIS

Dengan adanya hipotesa dalam suatu penelitian membantu mengarahkan peneliti dalam pemecahan masalah sebelum data yang terkumpul membenarkan atau menyalahkan kesimpulan sementara tersebut. Dari hal tersebut dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

1. Ada hubungan signifikan antara antara status ekonomi dengan kebutuhan informasi hiburan di kalangan pengguna hotspot PUSKOM Universitas Sebelas Maret Surakarta

2. Ada hubungan signifikan antara status ekonomi dengan penggunaan media internet di kalangan pengguna hotspot PUSKOM Universitas Sebelas Maret Surakarta

3. Ada hubungan signifikan antara kebutuhan informasi hiburan dengan penggunaan media internet di kalangan pengguna hotspot PUSKOM Universitas Sebelas Maret Surakarta

F. DEFINISI KONSEPSIONAL DAN OPERASIONAL

1. Definisi Konsepsional

Devinisi Konseptual digunakan untuk menghindari perbedaan variabel penelitian yang akan diuji, antara konsep peneliti dan konsep pembaca, yaitu antara lain:

a. Status ekonomi

Status ekonomi adalah posisi atau kemampuan seseorang dalam masyarakat, lingkungan pergaulannya yang didasarkan oleh benda yang bernilai ekonomis atau sesuatu yang dihargai dalam masyarakat yang bersangkutan yang dimiliki .

b. Kebutuhan Informasi tentang hiburan

Kebutuhan diartikan sebagai suatu motif, yaitu suatu keadaan ketegangan dalam individu yang membangkitkan, memelihara, mengarahkan tingkah laku menuju pada suatu sasaran yang mendasari tingkah laku pada individu tersebut.

Informasi menurut Wilbur Schram didefinisikan sebagai segala sesuatu yang mengurangi ketidakpastian atau jumlah kemungkinan alternatif dalam situasi.

Jadi kebutuhan informasi hiburan adalah suatu keadaan yang membangkitkan diri seseorang untuk mengurangi segala ketidakpastian terhadap jenis pertunjukan apapun yang bersifat menghibur.

c. Penggunaan Internet Berfasilitas Hotspot

Penggunaan diartikan sebagai cara mempergunakan sesuatu atau pemakaian. Internet adalah suatu media komunikasi global yang terbuat dari beberapa jaringan komputer yang saling berhubungan. Hotspot adalah suatu jaringan internet tanpa kabel yang tersedia untuk publik di lokasi tertentu untuk mengakses internet.

Jadi penggunaan internet berfasilitas hotspot dalam penelitian ini adalah sebagai suatu aktifitas yang dilakukan masyarakat dalam memanfaatkan atau mempergunakan faslitas hotspot di PUSKOM UNS.

2. Definisi Operasional

Definisi operasional adalah unsur penelitian yang memberitahukan bagaimana caranya mengukur variabel, dengan kata lain definisi operasional merupakan semacam petunjuk pelaksanaan bagaimana caranya mengukur variabel.

Definisi operasional masing-masing variabel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

a. Status ekonomi

Dalam penelitian ini Status ekonomi adalah kemampuan/tingkatan secara ekonomis dari pengguna hotspot dalam hal keuangan yang diukur dengan tiga kategori sebagai berikut : tinggi, sedang, rendah.. Adapun indikator yang digunakan adalah :

- Tingkat pendidikan formal adalah lamanya pendidikan formal yang pernah dijalani responden diukur dalam tahun

- Pendapatan rata-rata adalah penerimaan responden dalam bentuk yang diuangkan dalam sebulan dalam rupiah

- Lapangan pekerjaan adalah setiap aktifitas yang dilakukan responden yang menghasilkan barang dan jasa yang diukur oleh aktifitas responden pada saat sekarang

- Kepemilikan barang adalah beberapa barang yang dimiliki oleh responden yang menunjukan tingkat kemampuan membeli

b. Kebutuhan Informasi Tentang Hiburan

Kebutuhan informasi tentang hiburan dioperasionalkan sebagai suatu motivasi yakni dorongan pada diri penguna hotspot untuk mendapatkan dan mengetahui masalah-masalah/informasi tentang hiburan yang dikategorikan dengan tinggi, sedang, rendah. Kemudian variabel ini diukur dengan indikator sebagai berikut :

- Kebutuhan untuk memperoleh informasi hiburan terbaru

- Kebutuhan untuk memperoleh informasi hiburan terinci yang dapat mempengaruhi responden

- Kebutuhan untuk memperoleh informasi hiburan untuk menambah wawasan atau pengetahuan hiburan

- Kebutuhan mencari informasi hiburan untuk meningkatkan kreatifitas dalam bersosialisasi dengan teman atau orang lain

- Kebutuhan untuk menghibur diri

- Kebutuhan untuk mendapatkan informasi tentang musik, film dll

- Kebutuhan untuk melatih humor

- Kebutuhan untuk memenuhi kepuasan atau kesenangan pribadi (hobi)

- Kebutuhan untuk bergabung dalam suatu komunitas yang disukai

- Kebutuhan untuk berkomunikasi dengan kelompok yang disukai

c. Penggunaan Internet Berfasilitas Hotspot

Adalah perilaku individu dalam menggunakan internet hotspot sebagai sumber informasi mengenai hiburan. Variabel ini diukur dari :

- Frekuensi responden menggunakan internet dikawasan hotspot dalam 1 bulan

- Intensitas keseriusan responden dalam mengikuti atau menggunakan media informasi internet

- Lama waktu responden dalam menggunakan internet dengan hotspot diukur dalam jam dalam hari

- Jumlah website tentang hiburan yang diakses atau diketahui responden (contoh : friendster.com, ketawa.com dll)

4. METODE PENELITIAN

1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah eksplanatori reseach (penelitian penjelasan). Masri Singarimbun dan Sofyan Effendy (1989) mengatakan bahwa penelitian eksplanatori dimaksudkan untuk menyoroti hubungan antara variable-variable penelitian dan menguji hipotesa yang telah dirumuskan. Dalam penelitian ini digunakan survey dengan kuesioner sebagai alat pengumpul data yang utama.

2. Lokasi penelitian

Penelitian ini mengambil lokasi dilingkungan PUSKOM UNS yang merupakan area hotspot UNS. Melalui pertimbangan bahwa semua aktifitas mengakses internet dengan fasilitas hotspot dilakukan ditempat tersebut. Karena tempat tersebut adalah Pusat Komputer di UNS.

3. Metode Penelitian

Metode penelitian yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode survei dengan model Uses and Gratification (pengunaan dan pemuasan). Data terutama diperoleh dari lapangan dengan menggunakan kuesioner dan wawancara sebagai pedoman dalam memperoleh data-data dari responden.

4. Populasi dan Sampel

a. Populasi

Populasi adalah keseluruhan obyek penelitian yang dapat terdiri dari manusia, benda, hewan, tumbuhan, gejala, nilai tes atau peristiwa sebagai sumber data yang memiliki karakteristik tertentu dalam suatu penelitian.

Dalam penelitian ini yang dijadikan populasi dengan karakteristik yang homogen yaitu orang yang sering melakukan aktifitas menggunakan internet dengan fasilitas Hotspot dilingkungan PUSKOM Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta yang beralamat di Jl. Ir. Sutami no 36 A Surakarta.

b. Sampel

”Adakalanya masalah penarikan sampel ditiadakan sama sekali dengan memasukkan seluruh populasi sebagai sampel, yakni selama jumlah populasi itu diketahui terbatas jumlahnya”. Dalam penelitian ini, sampel yang ditetapkan adalah seluruh populasi sehingga disebut ”sensus” atau all over sampling. Sehingga yang dijadikan sampel adalah 40 orang pengguna hotspot di PUSKOM UNS.

5. Teknik Pengumpulan Data

a. Data primer

Data ini diperoleh dari jawaban yang diberikan responden dari kuesioner yang telah disebarkan sebelumnya, wawancara dengan beberapa nara sumber dan lain-lain.

b. Data sekunder

Data ini diperoleh melalui studi kepustakaan, dokumentasi dan dari sumber-sumber lain yang mendukung penelitian ini.

6. Metode Analisis Data dan Pengujian Hipotesis

Data yang terkumpul nanti akan penulis analisa secara kuantitatif dan untuk menguji hipotesa yang diajukan dipergunakan metode statistik yaitu ”cara ilmiah yang dipersiapkan untuk mengumpulkan, menyusun, menyajikan dan menganalisa data penyelidikan yang berwujud angka-angka.”

Sedangkan data-data yang didapat digolongkan menjadi data ordinal yaitu data yang dibagi dalam golongan atau tingkatan rendah ketingkatan paling tinggi tanpa adanya petunjuk yang jelas berupa interval antara jenjang yang satu dengan jenjang yang lainnya.

Teknik analisa yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisa teknik korelasi dengan jenjang Spearman. Korelasi ini bermaksud untuk mengukur korelasi dua variabel yang masing-masing dinyatakan dalam sekala ordinal.

Adapun rumus korelasi rangking Spearman (rs) yang digunakan adalah sebagai berikut.

Sebelum rs dihitung maka dicari dulu kuadrat jumlah nilai kembarnya untuk masing-masing variabel sebagai berikut :

Dimana :

Keterangan :

= koefisien variabel xy

d2 = jumlah kuadrat seluruh antar jenjang

n = jumlah sampel

= jenjang kembar terhadap variabel x

= jenjang kembar terhadap variabel y

= jumlah jenjang kembar pada variabel x

= jumlah jenjang kembar pada variabel y

t = jumlah rangking kembar

12 = angka bilangan konstanta

Untuk menguji signifikansi dari suatu koefisien korelasi adalah dengan menghitung rasio t. Karena jumlah sampel dalam penelitian ini lebih dari 30 maka untuk menentukan signifikansinya dengan menggunakan rumus :

Keterangan :

n = Jumlah sampel

rs = koefisien jenjang Spearman

Kemudian hasil perhitungan t dapat dikonsultasikan dengan harga kritis, dengan memperhatikan derajat kebebasan dan batas kepercayaan 95% atau taraf signifikansi 0.05.

Apabila harga t hitung yang diperoleh lebih besar atau sama dengan harga t kritik, maka hipotesa diterima dan dapat disimpulkan ada hubungan yang signifikan antara variabel satu dengan variabel yang lainnya. Sebaliknya apabila harga t hitung lebih kecil daripada harga t kritik maka hipotesa ditolak dan dapat disimpulkan tidak ada hubungan yang signifikan antara variabel satu dengan variabel lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

Muppiare, Andi, Psikologi Remaja, Usaha Nasional, Surabaya, 1980

Wright, Charles R, Sosiologi Komunikasi. Penyunting Jalaludi Rahmat, Remaja

Rosdakarya, Bandung, 1975

Nimmo, Dann, Komunikasi Politik, Remaja Karya, Bandung, 1989

Katz, Elihu, Blumer, The Uses and Gratification Current Perspective on

Gratification Research, Sage Publication, London, 1982

Gati, Gayatri, Jurnal Penelitian dan Komunikasi Pembangunan, Surakarta, 1987

I.L. Pasaribu dan B. Simanjuntak, Teori Kepribadian, Tarsito, Bandung, 1994

Paulus Wirotomo, MSc. Drs, Pokok-pokok Pikiran Sosiologi, Rajawali, Jakarta,

1981

Drs. Hariwijaya dan Triton P.B. Ssi. Msi, Pedoman Penulisan Skripsi dan

Thesis, Yogyakarta, Tugu Publisher, 2005

Sayogyo dan Pujiwati Sayogyo, Sosiologi Pedesaan,jilid 1, Gajah mada

Unversitas Press, Yogayakarta, 1984.

Soekamto, Soerjono, Kamus Sosiologi, Rajawali, Jakarta, 1985.

P. Siagian S, Sistem Informasi Untuk Pengambilan Keputusan, Gunung Agung,

Jakarta, 1984

Website

http://www.bappenas.go.id

http://members.iinet.com.au

http://www.bl.ac.id

http://www.cert.or.id

http://id.wikipedia.org, akses 25 Juni 2007

Majalah

Tiara, no 156, Edisi 5 Mei 1996

Dharma Wanita, no 109, 1996

KEBUTUHAN INFORMASI DAN PENGGUNAAN MEDIA

(Studi Korelasi antara Kebutuhan Informasi Hiburan dengan Penggunaan Internet yang dipengaruhi oleh Status Ekonomi dikalangan Pengguna Hotspot PUSKOM Universitas Sebelas Maret Surakarta Tahun 2007)

Diajukan Untuk Melengkapi Tugas Dan Syarat Memperoleh

Gelar Sarjana Sosial Pada Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Sebelas Maret

SKRIPSI

Oleh :

BUDI PRIHONO

D 1205514

JURUSAN ILMU KOMUNIKASI NON REGULER

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2007

Testimoni

Filed under : blog, tags: , , ,
SLIDESERAGAMBATIK