Menu

Contoh bab 1 penulisan skripsi pertanian subak di bali

Jun
19
2014
by : 1. Posted in : blog

berikut adalah contoh penulisan bab 1 pada skripsi Contoh bab 1 penulisan skripsi pertanian subak di bali. Semoga contoh ini berkenan dan bermanfaat.

 

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah.

Pertanian sebagai mata pencaharian utama dalam kehidupan manusia telah mengalami suatu proses perkembangan yang cukup panjang. Penemuan kepandaian dalam  bercocok tanam atau pertanian merupakan suatuperistiwa besar dalam perkembangan kebudayaan manusia, bahkan sering kali peristiwa itu disebut sebagai suatu “Revolusi” dalam peradaban manusia (Gordon Childe, 1953 dalam I Ketut Setiawan, 2003: 93). Masa ini amat penting dalam sejarah perkembangan masyarakat, karena pada masa ini beberapa penemuan baru berupa penguasaan sumber-sumber alam bertambah cepat. Berbagai macam tumbuh-tumbuhan mulai dipelihara, cara-cara untuk memanfaatkan  hutan belukar dengan menebang dan membakar pohon-pohon serta pemanfaatan lahan pertanian mulai dikembangkan, sehingga tercipta ladang-ladang dan persawahan yang memberi hasil pertanian (Soejono, 1975: 153 dalam I Ketut Setiawan, 2003: 93).

Kehidupan bercocok tanam mendorong manusia bertempat tinggal menetap dan membangun perkampungan dengan organisasi yang semakin teratur. Dapat dipahami bahwa masyarakat yang semakin berkembang, tumbuh pula berbagai kelompok sosial. Kelompok sosial terbentuk berdasarkan kriteria kesatuan wilayah, mata pencaharian dan ketrampilan, serta kedudukan dan peranan dalam bidang pemerintahan (I Ketut Setiawan dalam Etnografi, 2003: 93).

Organisasi petani yang mengelola air irigasi dapat ditemui di berbagai belahan dunia. Beberapa yang  terkenal dan mempunyai kekhasannya sendiri adalah Muang Fai di Thailand, Zangera di Filipina Utara dan Subak di Bali (I Ketut Setiawan dalam Etnografi, 2003: 93).

 

1

Data pada Prasasti-prasasti pada masa Bali Kuno menunjukan bahwa telah ada sosial berdasarkan kriteria jenis mata pencaharian. Kelompok ini adalah para petani, yang sekaligus menegaskan corak agraris kerajaan Bali Kuno. Dala bentuknya yang Formal, mereka terikat dalam satuan-satuan kelompok sosial yang disebut Kasukawan (dalam prasasti-prasasti Bali Kuno) serta dewasa ini bernama subak.

Subak adalah organisasi petani yang bergerak dalam usaha pengaturan air irigasi untuk lahan sawah (I Ketut Setiawan, 1995: 71). Melengkapi Definisi sebelumnnya I Ketut Setiawan, (2003: 97). Subak adalah organisasi petani lahan basah yang mendapat air irigasi dari suatu sumber bersama, memiliki satu atau lebih tempat suci/pura (untuk memuja Dewi Sri, manifestasi Tuhan sebagai Dewi Kesuburan) serta mempunyai kebebasan didalam mengatur rumah tangganya sendiri.

Subak telah ada sejak lama. Berdasarkan data arkeologis khususnya data epigrafi, organisasi ini setidak-tidaknya telah ada di Bali pada abad XI Masehi, pada masa pemerintahan Raja Anak Wungsu, Putra Raja Udayana Warmadewa (I Ketut Setiawan, 2003: 92).

Dalam kebudayaan Bali, subak tak hanya berperan sebagai organisasi yang mengatur sistem irigasi. Seorang pekaseh – kepala subak – juga berperan sebagai pemimpin ritual dan penegak hukum dalam melaksanakan awig-awig alias aturan subak.Aturan subak berpedoman pada falsafah Tri Hita Karana  (tiga penyebab kebahagiaan). Mereka meyakini kebahagiaan akan dicapai bila menjaga hubungan baik antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam. ‘Budidaya organik salah satu bentuk hubungan antara manusia dengan alam. Karena itu selain menghindari penggunaan pupuk sintetis kimia, mereka juga enggan menggunakan pestisida (Trubus Online, Rabu, Juli 01, 2009).

Sayangnya tak semua subak mempertahankan warisan nenek moyang itu. Sejak 1960-an, para petani dianjurkan menggunakan pupuk dan pestisida kimia untuk mendongkrak produksi padi. Menurut Prof Dr Wayan Windia, guru besar Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Universitas Udayana, Bali, intervensi teknologi hal yang tak dapat dihindari. ‘Subak organisasi yang terbuka terhadap teknologi selama tidak mengancam kelestarian subak,’ katanya. Pemakaian pestisida dan pupuk kimia buatan diperbolehkan selama tidak berlebihan agar tak merusak kondisi tanah.Kini beberapa subak dikelola dalam bentuk koperasi. Misalnya Subak Guama di Desa Selanbawak, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan. Selain menjamin ketersediaan air secara merata bagi anggota, koperasi juga menyediakan sarana produksi pertanian seperti modal, pupuk, pestida, dan benih. ‘Aset koperasi Subak Guama mencapai Rp2,7-miliar,’ ujar Ir ANB Kamandalu MSi, dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Bali yang membina Subak Guama (Trubus Online, Rabu, Juli 01, 2009).

Subak telah menjadi tradisi yang turun temurun hingga mampu bertahan sampai saat ini, menurut Ida Bagus Gde dalam Prof.DR. Nani Tuloli, 2003: 35, Tradisi sebagai suatu komitmen yang berlaku pada zamannya, bukanlah sesuatu a-historis dan tidak mengalami perubahan. Dari waktu ke waktu berbagai “kebutuhan baru” muncul yang dianggap sebagai sesuatu yang harus dipenuhi. Kebutuhan baru itu dalam perjalanannya sebagian telah diadaptasi, diakomodasi, dan dijadikan acuan bersama. Dalam kenyataannya, terdapat pula komitmen moral yang tadinya dirumuskan untuk tujuan baik, dalam implementasinya dewasa ini telah mengalami benturan malahan dianggap sebagai sesuatu yang tidak sesuai, sehingga perlu dilakukan peninjauan kembali terhadap substansi, konteks, dan relevansinya. Semua itu merupakan dorongan alamiah yang bersifat internal, yang menandakan bahwa tidak ada satu pihakpun terhindar dari proses perubahan. Perubahan semakin terasa kuat bersamaan dengan derasnya pengaruh faktor eksternal, yaitu modernisasi dan globalisasi. Karena itu, pengenalan terhadap nilai baru (modernisasi dan globalisasi) memerlukan tindakan strategis dalam menginterpretasi dan meresposisi tradisi agar tradisi itu tetap dapat menciptakan harmoni dan peradaban.

Meskipun dikelola secara modern, anggota subak teguh menjalankan awig-awig. Upacara-upacara keagamaan seperti ngewiwid – upacara penanaman pertama – tak pernah absen dilakukan setiap menjelang musim tanam. Kehadiran lumbung di setiap rumah yang menjadi ciri khas subak juga tetap dipelihara. Dalam aturan subak, padi harus disimpan dalam tempat khusus sebagai penghormatan terhadap Dewi Sri (Trubus Online, Rabu, Juli 01, 2009).

Di tengah isu pemanasan global dan seruan kembali ke alam “go green” yang menjadi perhatian utama setiap pemerintah di seluruh dunia. Beberapa subak telah berusaha menggunakan pupuk organik dan mengurangi pupuk kimia guna menghindari kerusakan tanah. Dengan menerapkan pertanian organik maka hasil pertanian tidak mengandung zat kimia/residu bahan unorganik, sehingga bagus untuk dikonsumsi dan harga jualnyapun lebih mahal daripada pertanian nonorganik.

Hasil pertanian organik banyak dicari oleh konsumen terutama konsumen yang sangat memperhatikan kesehatan. Pasar dinegara maju seperti Jepang dan Eropa sering memberikan permintaan hasil pertanian organik. Swalayan dan hotel berbintangpun mulai menerapkan bahan-bahan makanan yang digunakan adalah hasil pertanian organik.

Disamping kegiatan-kegiatan intern, subak merupakan organisasi yang boleh bergerak keluar, antara lain ia dapat berhubungan dengan pemerintah, upamannya dalam hal mengajukan usul-usul kepada pemerintah daerah yang menyangkut hal peningkatan kemajuan subak. Sebaliknya subak dapat pula menjadi perantara antara pemerintah dan petani dalam hal menyampaikan perintah-perintahnya, memajukan/menyampaikan penyuluhan, lebih-lebih pada masa kini, yang menuntut agar teknologi bidang pertanian harus segera diterapkan. Sebagai misal, dalam penggunana varietas unggul, insektisida dan pupuk di masa belakang ini, peranan subak terlihat dengan jelas. Dengan demikian subak merupakan jembatan yang efektif dalam melaksanakan modernisasi pertanian dari pihak pemerintah (dinas pertanian, dians koperasi, dan lain-lain) kepada para petani di desa-desa di Bali (Wiliiam E.Collier, 1988: 69-70).

Dalam rangka peningkatan produksi padi, pada tahun 1961 subak pernah ditunjuk oleh pemerintah sebagai proyek pelaksana SSBM (Swasembada Bahan Makanan). Pada tahun 1964 subak dijadikan proyek pelaksana Demas (demonstrasi masa ) dan selanjutnya dijadikan proyek pelaksana Bimas (bimbingan masa) sampai sekarang. Pada masa kini, ada subak yang telah berfungsi sebagai badan perkreditan, yang meminjamkan uang pada anggotannya dengan bunga rendah. Subak berkewajiban membuat dan memelihara jalan-jalan subak atau jalan desa yang sekaligus berfungsi sebagai jalan subak, sehingga komunikasi berjalan lancar (Wiliiam E.Collier.1988:69).

Walaupun pemerintah menetapkan aturan tata air dengan peraturan pemerintah No. 11 tahun 1982 tentang pengairan yang dilengkapi dengan PP No. 23 tahun 1982 tentang irigasi dan peraturan daerah No. 2 tahun 1972 tentang irigasi Bali, Subak tetap berperan di jaringan irigasi secara otonom di atur sendiri oleh subak yang bersangkutan (Gianyarkab.go.id, 2009).

Selama kurang lebih 9 abad telah bertahan dan terus tetap exis dalam dunia pertanian, tentu subak telah mengalami berbagai perkembangan dan perubahan mengikuti perkembangan teknologi pertanian yang saat ini berkembang pesat. Aktualisasi subak ini sangat menarik untuk diteliti dan upaya-upaya yang terus menerus dari anggota subak dan pemerintah Bali yang mampu melestarikan warisan leluhur merupakan prestasi yang luar biasa. Hingga subak dapat terus menjadi bagian sistem pertanian di Bali saat ini.

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penulis ingin meneliti lebih lanjut dalam sebuah skripsi yang berjudul ” SUBAK : PELESTARIAN BUDAYA DAN AKTUALISASI SISTEM PERTANIAN DI BALI”.

 

Perumusan Masalah.

Dari Latar Belakang Masalah diatas maka dapat dimabil Rumusan masalah yang sesuai yaitu:

Mengapa Sistem Subak ada di Bali?

Bagaimana pelestarian Subak?

Bagaimana Aktualisasi Subak?

 

Tujuan Penelitian.

Berdasarkan rumusan masalah yang telah dibuat, maka tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

Mengetahui system Subak di Bali.

Mengetahui cara pelestarian Subak.

Mengetahui aktualisasi Subak.

 

Manfaat Penelitian.

Manfaat Teoritis

Secara teoritis, hasil dari penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk:

Menambah pengetahuan serta wawasan ilmiah tentang Sejarah, pengembangan, serta upaya yang dilakukan dalam pelestarian Subak di Bali.

Hasil penelitian dapat memberikan masukan dan sumbangan bagi pembaca sebagai tambahan sumber data bagi penelitian selanjutnya.

Memberi masukan dan sumbangan terhadap pihak terkait sebagai acuan untuk pengembangan Subak.

Manfaat Praktis.

Secara praktis, hasil dari penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat guna :

Memenuhi salah satu syarat meraih gelar Sarjana Kependidikan Program Studi Pendidikan Sejarah Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Penelitian ini diharapkan dapat melengkapi koleksi penelitian ilmiah di perpustakaan khususnya mengenai Subak di Bali.

Sebagai bahan referensi bagi pemecahan permasalahan yang relevan dengan penelitian ini. nah begitulah contoh penulisan bab 1 untuk penulisan skripsi subak di bali. salam 2 jari.

 

 

artikel lainnya Contoh bab 1 penulisan skripsi pertanian subak di bali

Thursday 5 February 2015 | blog

Latihan Soal Internet :         Berilah tanda (X) pada salah satu alternatif jawaban…

Wednesday 25 March 2015 | blog

MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR TELEMATIKA SUB SEKTOR MULTIMEDIA       MENULIS ATAU MENYALIN ISI…

Friday 12 December 2014 | blog

  MODUL PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SUB BIDANG METODOLOGI PELATIHAN KERJA     MENENTUKAN TUJUAN, PRASYARAT, DAN…

Thursday 30 January 2014 | blog

  INDOKABANA, Indonesia Kain Batik Mempesona, Dapatkan Pesona Batik untuk tubuh indah anda dengan harga spesial,…