Menu

Clifford Geertz.Penjaja dan Raja Perubahan Sosial dan modernisasi ekonomi di dua kota indonesia

Jun
19
2014
by : 1. Posted in : blog

Clifford Geertz.Penjaja dan Raja: Perubahan Sosial dan modernisasi ekonomi di dua kota indonesia,Pt. Gramedia, 1977, Jakarta

Struktur masyarakat pedesaan dan organisasi perekonomian___ Scr Umum lihat C. Geertz, “Form and Variation in Balinese Village Structure”, Amerika Anthropologist, LXI (1959) 991-1012.

Hal 88.

Organisasi desa bali pada umumnya, dan karena itu juga perekonomiannya- karena keduanya tidak dapat dipisahkan dengan tajam –barang kali sebaik-baiknya dipandang sebagai suatu rangkaian yang bertaut-tautan dan silang menyilangdari persekutuan-persekuktuan yang oleh orang bali disebut seka ( arti hurufiah : “menjadi satu”: “diersatukan”) seka adalah suatu kelompok social, dibentuk berdasarkan criteria yang tunggal dan eksklusif , criteria keanggotaan, dan dicurahkan untuk mencapai tujuan sosiala yang tertentu dan biasanya agak khusus.

 

Hal 90.

TIPE-TIPE PENGELOMPOKAN EKONOMI.

Secara gampangnya, tipe Seka itu dapat dibagi atas lima kategori utama; (1) Jemaah Kuil, (2) Kesatuan tempat tinggal, (3) masyarakat pengairan dan pertanian, (4) kelompok kekerabatan, (5) perkumpulan Sukarela.

 

Hal 94.

Tetapi kegiatan ekonomi yang paling penting artinya, yang di jawa dan hampir di seluruh daerah musim di asia secara langsung terbenam dalam struktur desa, yaitu pertanian padi, di Bali justru terletak diluar lingkungan banjar sama sekali. Di desa Bali, pertanian itu dilakukan dalam rangka umum suatu organisasi tipe seka yang terpisah dan independent yang memang dikhususkan untuk pertanian saja (yang dalam bahasa bali disebut subak); dalam bahasa Inggris istilah yang dipakai untuk menyebutnya “irrigation society” (masyarakat pengairan), meskipun agricultural association” persekutuan pertanian mungkinlebih tepat karena pengwasan air itu hanya merupakan salah satu fungsinya saja.

 

95

Yang termasuk warga subak adalah semua anggota yang sawahnya diairi dari satu salurn pengairan – satu bendungan dengan selokan penyalur air dari bendungan itu ke sawah. Karena pemilikan tanah di Bali itu sangat terpecah-pecah – milik sawah seseorang yang pada umumnya terdiri dari seribu atau dua ribu meter persegi itu mungkin tersebar di bebrapa tempat, bahkan sering agak jauh dari rumahnya – maka warga Subak itu tidak pernah berasal dari satu banjar semuanya, melainkan dari sepuluh atau lima belas banjar; dan jka dilihat dari segi banjar, maka Warga banjar biasanya memiliki sawah di berbagai subak, ada yang dekat ada yang jauh. Jadi subak itu adalah suatu organisasi kemasyarakatan yang sepenuhnya khusus dan otonom, yang keanggotannya sama sekali tidak sama dengan keanggotaan organisasi lain yang manapun juga di masyarakat, dan karena itu dapat dainggap sebagai contoh yang terpenting dari kolektivisme pluralitas di Bali – kecenderungan untuk menggarap masalah-masalah dengan bekerja sama sambil membagi-bagi kesetiaan kelompok atas bagian-bagian.

Fungsi subak yang terutama ialah mengatur air, mengkoordinasi penanaman dan menyelenggarakan upacara-upacara pertanian. Di bawah pimpinan seorang kepala yang biasanya dipilih secara demokratis, subak membangun dan memelihara bendungan dan saluran, dan menentukan jatah air ntuk masing-masing bidang sawah. Subak juga menentukan kapan orang memulai menanam dan untuk palawija, bahkan juga menetapkan tanaman apa yang boleh ditanam. Dan akhirnya subak biasanya memelihara dua buah kuil, yang satu dipersembahkan untuk dewi kesuburan, yang lain untuk dewa air; di kuil-kuil itu para anggota menjalankan upacara-upacara musiman. Perperincian yang sesungguhnya dari cara kerja subak – menetapkan dan menarik denda dan sumbangan wajib, membuat ratusan bendungan bambu kecil-kecil untuk mengatur penyaluran air, mengatur pajak, dan menyimpan catatan tanah – adalah sangat kompleks. Hal yang pokok dalam konteks ini ialah hampir setiap orang laki-laki Bali yang dewasa tentu sudah bekerja dalam suatu kelompok yang baik organisasinya dan yang mencurahkan segenap wktunya semata-mata ntuk tujuan ekonomis yang bersifat khusus dan hampir bersifat teknis. Memang betul bahwa pola itu sangat tradisionil – kita dengar tentang subak itu sejak abad kesebelas – tetapi bagaimanapun subak itu barangkali merupakan suatu bentuk yang paling dekat dengan firma dagang yang berdeferensiasi, suatu paradigma yang terbaik dari usaha ekonomis yang modern, yang terdapat di masyarakat desa.

Sesungguhnya, dengan pertumbuhan penduduk akhir-akhir ini, di samping meningkatnya urbanisasi, timbullah – lebih-lebih di subak yang besar – kecenderungan ke diferensiasi dan spesialisasi yang lebih besar contoh yang terbaik dari kecenderungan ini ialah apa yang disebut “seka air”. Seka air itu terdiri dri sebagian tertentu dari anggota subak seluruhnya, biasannya orang-orang yang berada, yang mengambil seluruh tanggung jawab untuk menjaga bendungan supaya tetap baik dan saluran tetap bersih – tugas yang menyangkut kerja yang hampr tak ada henti-hentinya – dengan mendapat upah dari warga subak yang besarnya ditetapkan berdasarkan luas masing-masing. Pada beberapa subak, bahkan empat atau lima orang yang tak bertanah bukan warga subak boleh menjadi anggota seka air, jadi sesunngguhnya seperti buruh sawah – suatu praktek yang tidak lazim di Bali. Karena itu seka air yang fungsinnya terbatas dalam urusan irigasi saja itu menandai munculnya suatu kelompok kerja yang khusus, yang diupah oleh subak sebagai keseluruhan, untuk menggantikan kerja gotong royong yang egaliter dari subak, dimana perhitungan masing-masing iuran dan keutungan kurang seksama dan kurang waspada. Tahap terakhir dari proses ini barangkali terwujud pada pembentukan (meskipun belum banyak) suatu kelompok seka air yang sepenuhnya professional dipimpin oelh pengusaha-pengusaha yang bersemangat; seka serupa ini hampir seluruhnya terdiri dari orang-orang desa tak bertanah yang tidak termasuk salah satu subak, dan mereka itu menyewakan diri secara borongan untuk menjalankan tugas pengaturan air di tiga atau empat subak – jelas bahwa usaha ini sudah amat mendekati usaha ekonomi “tak terbenam” yang non-tradisionil. Tetapi bagaimanapun juga, subak itu untuk sebagaian besar tetap merupakan seka yang bias: suatu kelompok, yang terdiri dari orang-orang yang mempunyai kepentingan yang sama, bekerja secara kolektif untuk melaksanakn tugas social yang umum, dalam hal ini produksi bahan pangan.

109.

Ada ikatan-ikatan priyayi-petani yang penting yang kurang lebih bersifat ekonomis yang sungguh-sungguh. Kita sudah membicarakan dengan singkat hubungan bagi hasil antara tuan tanah dengan penggarap, dan telah kita tunjukkan bagaiamana hubungan itu makin bertambah penting artinya setelah kerja paksa politis itu dihapuskan oleh pemerintah Belanda. Sebelum masa ini, kewajiban-kewajiban penggarap kepada tuan tanahnnya, sebagai penggarap, terdiri dari hampir seluruh sewanya, berbeda-beda antara setengah sampai tiga seperempat dari hasil panenan, tergantung pada kebiasaan setempat. Tetapi tanah milik para bangsawan yang sangat luas-luas, yan diperolehnnya dengan peperangan, dengan pengambilan tanah orang-orang yang punya waris laki-laki yang langsung atau yang pemiliknya melakukan kejahatan besar, dan kadang-kadang bahkan dengan jalan membeli dari bangsawan-bangsawan lain, berarti bahwa kehidupan ekonomis dari sebagaian besar kaum petani langsung bersangkut paut dengan kaum priyayi. Dalam soal pengairan, para bangsawan itu juga memainkan peranan penting untuk mengkoordinasi kegiatan-kegiat subak dan menyelesaikan perselisihan antara subak yang satu dengan subak yang lainnya, memberikan hak untuk membuka tanah baru, membuat bendungan, dan membentuk subak baru, dan sebaginya. Biasnnya, seorang warga keluarga raja diangkat sebagai pengawas umum pengairan seluruh daerah, dan msing-masing keluarga bengsawan punya seorang atu dua orang pegawai pengairan sendiri. Peranan pemerintah dalam soal-soal pengairan gampang sekali dibesar-besarkan – seperti yang telah dilakukan oleh Wittfogel, paling tidak untuk Bali, dalam pembicarannya mengenai “Depotisme Timur” akhir-akhir ini – Karena pada hakekatnya subak itu adalah persekutuan yang memimpin sendiri dari orang-orang yang secara langsung terlibat, dan bukan semata-mata sambungan dari pemerintah pusat, namun jelas bahwa “campur tangan” kasta atasan dalam soal-soal pertanian setempat bukan hanya terbatas pada pemungutan “upeti” belaka, tetapi juga memenuhi fungsi yang penting dan yang kadang-kadang bersifat inovatif.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

artikel lainnya Clifford Geertz.Penjaja dan Raja Perubahan Sosial dan modernisasi ekonomi di dua kota indonesia

Friday 2 December 2016 | blog

BENARKAH RUSH MONEY BERBAHAYA BAGI INDONESIA? Akhir-akhir ini, kita semakin santer mendengar istilah Rush Money. Kali…

Sunday 11 October 2015 | blog

SURAT PERJANJIAN TENTANG IKLAN KEMITRAAN HUT KE – 108 PT. BANK RAKYAT INDONESIA (Persero) YOGYAKARTA Nomor…

Saturday 14 February 2015 | blog

    MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR TELEMATIKA SUB SEKTOR COMPUTER TECHNICAL SUPPORT     MELAKUKAN…

Saturday 2 July 2016 | blog

Kumpulan foto alumni bisnis akademi iibf solo yang waktu itu sedang ada acara wisuda.dan kegiatan lainnya.…